Anda di halaman 1dari 11

Pada tahun 1956, Bloom telah mengklasifikasikan dimensi proses

kognitif dalam enam kategori yaitu, pengetahuan(knowledge),


pemahaman (comprehension), aplikasi (application), analisis (analysis),
sintesis (synthesis), dan evaluasi(evaluation). Model taksonomi ini dikenal
sebagai Taksonomi Bloom. Selanjutnya Anderson dan Krathwohl (2001)
melakukan revisi mendasar atas klasifikasi kognitif yang pernah dikembangkan
oleh Bloom, yang dikenal dengan Revised Blooms Taxonomy (Revisi Taksonomi
Bloom).
Taksonomi Bloom merujuk pada taksonomi yang dibuat untuk tujuan
pendidikan. Taksonomi ini pertama kali oleh Benjamin S Bloom pada tahun
1956. Dalam hal ini, tujuan pendidikan dibagi menjadi
beberapa domain (ranah, kawasan) dan setiap domain tersebut dibagi kembali
ke dalam pembagian yang lebih rinci berdasarkan hirarkinya.usun
Tujuan pendidikan dibagi ke dalam tiga domain, yaitu:
1. Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang
menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan
keterampilan berfikir.
2. Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan
aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara
penyesuaian diri.
3. Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang
menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik,
berenang, dan mengoperasikan mesin.
Revisi Taksonomi Bloom terdiri dari dua dimensi, yaitu dimensi proses
kognitif dan dimensi pengetahuan. Dimensi proses kognitif berkaitan dengan
proses yang digunakan siswa untuk mempelajari suatu hal, sedangkan dimensi
pengetahuan adalah jenis pengetahuan yang akan dipelajari oleh siswa (Amer,
2006 :214).
Menurut Krathwohl (2002: 215) tingkatan proses kognitif hasil belajar
berdasarkan Revisi Taksonomi Bloom ini bersifat hierarkis, yang berarti kategori
pada dimensi proses kognitif disusun berdasar tingkat
kompleksitasnya. Understand lebih kompleks daripada Remember, Apply lebih
kompleks daripada Understand, dan seterusnya. Namun, kategori proses
kognitif pada taksonomi Bloom, dimungkinkan untuk saling overlap dengan
kategori proses kognitif yang lain.
Pengertian C1, C2, C3, C4, C5, dan C6
1. Pengetahuan (C1)

Pengetahuan adalah aspek yang paling dasar dalam taksonomi Bloom.


Pengetahuan hafalan yang perlu diingat seperti rumus, batasan definisi, istilah
pasal dalam undang-undang, nama dan tokoh, nama-nama kota dan lain-lain.
Hafal menjadi prasyarat bagi pemahaman, misalnya hafal suatu rumus maka
kita akan paham bagaimana menggunakan rumus tersebut atau hafatl kata-kata
akan memudahkan membuat kalimat.
2. Pemaharnan (C2)
Pemahaman dapat dibedakan menjadi tiga yaitu tingkat rendah seperti
menterjemah. Tingkat
kedua yaitu pemahaman penafsiran yaitu
menghubungkan bagian-bagian terdahulu dengan yang diketahui berikutrya,
atau menghubungkan beberapa bagian dari grafik dengan kejadian. Pemahaman
tingkat ketiga, yaitu pemahaman ektrapolasi yang mengharapkan seseorang
mampu melihat dibalik yang tertulis, dapat membuat ramalan tentang
konsekuensi atau dapat memperluas.persepsi dalam arti waktu, dimensi, kasus,
ataupun masalahnya.
3. Aplikasi (C3)
Menerapkan aplikasi ke dalam situasi baru bila tetap terjadi proses pemecahan
masalah. Pada aplikasi ini siswa dituntun memiliki kemampuan untuk
menyeleksi atau memilih suatu abseksi tertentu (konsep, hukum, dalil, aturan,
gagasan, cara) secara tepat untuk diterapkan dalam situasi baru dan
menerapkannya secara benar.
4. Analisis (C4)
Dalam analisis, seseorang dituntut untuk dapat menguraikan suatu situasi atau
keadaan tertentu ke dalam unsur-unsur atau komponen-komponen
pembentuknya.
5. Sintesis (C5)
Pada jenjang ini seserang dituntut untuk dapat menghasilkan sesuatu yang baru
dengan jalan menggabungkan berbagai faktor yang ada.
6. Evaluasi (C6)
Seseorang dituntut untuk dapat mengevaluasi situasi, keadaan, pernyataan,
atau
konsep berdasarkam suatu kriteria tertentu.

Problematika Sarana dan Prasarana Pendidikan


Pendidikan sebagai proses pengubahan sikap dan tata laku/pembentukan
pribadi yang terarah pada diri peserta didik (manusia) dalam usaha mendewasakan
peserta didik melalui upaya pengajaran dan pelatihan, pendidikan sebagai kegiatan
pewarisan budaya, pendidikan sebagai proses penyiapan warga negara yang berjiwa
patriotik, serta pendidikan sebagai penyiapan tenaga kerja, menjadikan pendidikan
harus mendapatkan perhatian besar. Salah satu hal yang perlu diperhatikan dari sisi
pendidikan adalah sarana dan prasarana ppendidikan itu sendiri dimana sarana dan
prasarana pendidikan ini merupakan salah satu faktor yang mendukung keberhasilan
program pendidikan dalam proses pembelajaran.
Mutu sarana dan prasarana masih sangat bervariasi. Hal ini dapat kita
lihat dilingkungan kita dimana masih banyak sekolah-sekolah yang keadaan gedungnya
tidak aman dan kurang memadai untuk digunakan melaksanakan proses belajar
mengajar (lembab, gelap, sempit, rapuh). Sering juga dijumpai bahwa lahan/tanah
(status hukum) bukan milik sekolah atau dinas pendidikan; letaknya yang kurang
memenuhi persyaratan lancarnya proses pendidikan misalnya letak sekolah berada di
tempat yang ramai, terpencil, kumuh, dan lain-lain; perabotan berkenaan dengan
sarana yang kurang memadai bagi pelaksanaan proses pendidikan misalnya meja/kursi
yang kurang layak digunakan, alat peraga yang tidak lengkap, buku-buku paket yang
kurang memadai, dan lain-lain.
Di Indonesia sendiri sudah terdapat undang-undang yang berkaitan
dengan pengontrolan dan pemeliharaan administrasi pendidikan yang berupa sarana
dan prasarana pendidikan. Dengan adanya undang-undang tersebut, diharapkan dapat
melindungi administrasi pendidikan dari segala hambatan yang ada. Namun, jika kita
melihat kondisi pendidikan di Indonesia saat ini, sangat jauh dari perhatian
pemerintah. Terutama sarana dan prasarana yang banyak tidak sesuai standar atau
tidak layak seperti contoh-contoh diatas. Hal inilah yang akan dibahas lebih jauh pada
pembahasan berikutnya tentang problematika sarana dan prasarana pembelajaran
yang ada di Indonesia.
A. PERMASALAHAN SARANA DAN PRASARANA PENDIDIKAN
1. Fasilitas Yang Minim
Volume sarana dan prasarana yang minim masih mejadi permasalahan utama disetiap
sekolah di Indonesia. Terutama di daerah pedesaan yang jauh dari perkotaan. Kasus
seperti ini dapat menimbulkan kesenjangan mutu pendidikan. Banyak peserta didik
yang berada di desa tidak bisa menikmati kenyamanan dan kelengkapan fasilitas
seperti peserta didik di Kota. Oleh karena itu, kualitas pendidikan di desa semakin

2.

3.

B.

a.

b.

kalah bersaing dengan kualitas pendidikan di kota. Selain itu masih banyak fasilitas
yang belum memenuhi mutu standar pelayanan minimal. Hal seperti ini membuktikan
bahwa lembaga pendidikan kurang memfasilitasi bakat dan minat siswa dalam
mengembangkan diri. Akibat ketidak tersedianya fasilitas tersebut, para pelajar
mengalokasiakan kelebihan waktunya untuk hal-hal yang negatif.
Alokasi dana yang terhambat
Banyaknya kasus penyalahgunaan dana adminitrasi sekolah, membuat sarana dan
prasarana sekolah tidak terwujud sesuai dengan harapan, adanya permainan uang
dalam adminitrasi membuat pendidikan semakin tidak cepat mencapai titik
kebehasilan.
Perawatan yang Buruk
Ketidak pedulian dari sekolah terhadap perawatan fasilitas yang ada
menjadikan buruknya sarana dan prasarana. Sikap acuh tak acuh dan tidak adanya
pengawasan dari pemerintah, membuat banyak fasilitas sekolah yang terbengkalai.
Ketidaknyamanan menggunakan fasilitas yang ada, akibat kondisi yang banyak rusak,
membuat para pelajar enggan menggunakannya. Kasus seperti ini biasanya terjadi
karena tidak adanya kesadaran dari setiap guru, siswa, dan pengurus sekolah.
Dari ketiga point di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa sarana dan
prasarana pendidikan di Indonesia masih perlu dibenahi. Banyaknya permasalahan
sarana dan prasana akan menghambat proses pembelajaran, yang akibatnya
berpengaruh pada ketercapaian dari tujuan pendidikan.
DAMPAK YANG TIMBUL DARI PERMASALAHAN SARANA DAN PRASARANA PENDIDIKAN
Dengan keterbatasan sarana dan prasarana tersebut dapat dikatakan
bahwa lembaga pendidikan kurang memfasilitasi bakat dan minat siswa dalam
mengembangkan diri. Akibat tidak tersedianya fasilitas tersebut para pelajar
mengalokasikan kelebihan energinya tersebut untuk hal-hal yang negatif, misalnya
tawuran antar pelajar, kelompok-kelompok kriminal yang umumnya meresahkan
masyarakat. Setidaknya ada dua dampak dari kurangnya sarana dan prasaranan
pendidikan yaitu:
Rendahnya Mutu Output Pendidikan
Kurangnya sarana pendidikan ini berdampak pada rendahnya output pendidikan itu
sendiri, sebab di era globalisasi ini diperlukan transormasi pendidikan teknologi yang
membutuhkan sarana dan prasaranan yang sangat kompleks agar dapat bersaing
dengan pasar global. Minimnya sarana ini menyebabkan generasi muda hanya belajar
secara teoretis tanpa wujud yang praksis sehingga pelajar hanya belajar dalam anganangan yang keluar dari realitas yang sesungguhnya. Ironisnya pemerintah kurang
mendukung bahkan cenderung membiarkan tercukupinya fasilitas pendidikan.
Kerusakan sekolah, laboratorium, dan ketiadaan fasilitas penunjang pendidikan
lainnya menyebabkan gagalnya sosialisasi pendidikan berbasis teknologi ini. Kerusakan
sekolah merupakan masalah klasik yang cenderung dibiarkan berlarut-larut dan
celakanya lagi hal ini hanya sekedar menjadi permainan politik disaat pemilu saja.
Kenakalan Remaja dan Perilaku yang Menyimpang
Secara psikologis pelajar adalah masa transisi dari remaja menuju kedewasaan
dimana didalamnya terjadi gejolak-gejolak batin dan luapan ekspresi kretivitas yang
sagat tinggi. Jika lupan-luapan dan pencarian jati diri ini tidak terpenuhi maka

mereka akan cenderung mengekspresikanya dalam bentuk kekecewaan-kekecawaan


dalam bentuk negatif. Sarana pendidikan yang dimaksud disini, bukan hanya
laboratorium, perpustakaan, ataupun peralatan edukatif saja, tetapi juga saranasarana olahraga ataupun kesenian untuk mengekspresikan diri mereka. Kehidupan
remaja diera modern ini tentulah berbeda dengan kehidupan pada generasi
sebelumnya, pelajar saat ini membutuhkan ruang gerak dalam pengembangaan
kematangan emosi misalanya saja grup band, sepak bola, basket, otimotif dan
sebagainya. Jika hal ini tidak dipenuhi ataupun dihambat maka akan cenderung
membuat perkumpulan-perkumpulaan yang cenderung menyalahi norma. Di indonesia
sendiri masih banyak sekolah ataupun kampus yang tidak memiliki sarana penyaluran
emosi ini.
C. SOLUSI DARI PERMASALAHAN SARANA DAN PRASARANA PENDIDIKAN
Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan dalam memperbaiki anomali-anomali
pendidikan ini antara lain:
terorganisirnya koordinasi antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah, bahkan
hingga daerah terpencil sekalipun sehingga tidak terputusnya komunikasi antara
pemerintah pusat dengan daerah.
Dengan adanya koordinasi pemerintah pusat dengan pemerintah daerah maka
selanjutnya kita dapat meningkatkan Sarana dan Prasarana Pendidikan. Adapun sarana
dan prasarana pendidikan yang digunakan dalam rangka meningkatkan output
pendidikan tentunya kita harus menaikan cost (harga), menaikkan harga disini
maksudnya adalah meningkatkan sarana dan prasarana penunjang pendidikan. Adapun
sarana tersebut meliputi sarana fisik dan non fisik.
Sarana fisik
Pemenuhan sarana fisik sekolahan ini meliputi pembanguan gedung sekolahan,
laboratorium, perpustakaan, sarana-sarana olah raga, alat-alat kesenian dan fasilitas
pendukung lainnya. Dalam hal ini tentunya pemerintah memegang tanggung jawab
yang besar dalam pemenuhan ini, karena pemerintah berkepentingan dalam
memajukan pembangunan nasiaonal. Jika sarana belajar ini telah terpenuhi tentunya
akan semakin memudahkan transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi.
Sarana non fisik
Sarana non fisik ini diibaratkan software dalam komputer, jika software ini dapat
mengoprasikan perangkat komputer dengan baik maka pekerjaan akan cepat selesai.
Begitu juga dalam pendidikan jika sistem dan pengajarnya bermutu maka akan
mempercepat pembangunan nasional. Hal ini dapat dilakukan dengan cara:
a.

Peningkatan kualitas guru


Kualitas guru harus ditekankan demi berjalannya pendidikan itu sendiri, tugas guru
adalah merangsang kreativitas dan memberi pengajaran secara fleksibel, artinya
berkedudukan seperti siswa yang belajar tidak ada patron client. Peningkatan mutu
ini bukan hanya pada intelektual guru saja, melainkan juga mengembangkan

psikologis guru itu sendiri misalnya dengan memahami karakteristik siswa, psikologi
perkembangan dan sebagainya.Dengan adanya peningkatan ini tentunnya akan
berdampak pada membaiknya output pendidikan. Dikarenakan guru dapat
menempatkan dirinya sebagaimana mestinya dan bersifat fleksibel. Kenakalan remaja
biasanya terjadi justru karena prilaku guru itu sendiri misalnya melakukan hukuman
fisik kepada siswa ataupun penekanan psikologis.
b.

Pembentukan lembaga studi mandiri


Pembentukan lembaga studi mandiri ini berfungsi sebagai wadah pengembangan
kpribadian siswa.Jika lembaga studi ini dapat dibentuk tentunnya akan memperbaiki
kualitas fakultas maupun menambah pengalaman mahasiswa.

Diposkan oleh Rapika Anna Sari Tarigan di 21.00 1 komentar:


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
KAMIS, 21 NOVEMBER 2013

TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISME


Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat
pendidikan, Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata
susunan hidup yang berbudayamodern.
Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran
konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit
demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas
dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat
fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat.
Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna
melalui pengalaman nyata.
TUJUAN DARI KONSEP INI :
Adanya motivasi untuk siswa bahwa belajar adalah tanggung
jawab siswa itu sendiri.
Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengejukan pertanyaan
dan mencari sendiri pertanyaannya.
Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian dan pemahaman
konsep secara lengkap.
Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

mandiri.
Lebih menekankan pada proses belajar bagaimana belajar itu.
CIRI-CIRI PEMBELAJARAN SECARA KONSTUKTIVISME
Adapun ciri ciri pembelajaran secara kontruktivisme adalah
Memberi peluang kepada murid membina pengetahuan baru melalui
penglibatan dalam dunia sebenar
Menggalakkan soalan/idea yang dimul akan oleh murid dan
menggunakannya sebagai panduan merancang pengajaran.
Menyokong pembelajaran secara koperatif Mengambilkira sikap dan
pembawaan murid
Mengambilkira dapatan kajian bagaimana murid belajar sesuatu ide
Menggalakkan & menerima daya usaha & autonomi murid
Menggalakkan murid bertanya dan berdialog dengan murid & guru
Menganggap pembelajaran sebagai suatu proses yang sama penting
dengan hasil pembelajaran.
Menggalakkan proses inkuiri murid mel alui kajian dan eksperimen.
PRINSIP-PRINSIP KONSTRUKTIVISME
Secara garis besar, prinsip-prinsip Konstruktivisme yang diterapkan
dalam belajar mengajar adalah:
Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri
Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru kemurid, kecuali
hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar
Murid aktif megkontruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi
perubahan konsep ilmiah
Guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses
kontruksi berjalan lancar.
Menghadapi masalah yang relevan dengan siswa
Struktur pembalajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah
pertanyaan
Mmencari dan menilai pendapat siswa
Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan siswa.
Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal berkaitan
dengan teori belajar konstruktivisme adalah teori perkembangan
mental Piaget. Teori ini biasa juga disebut teori perkembangan
intelektual atau teori perkembangan kognitif. Teori belajar tersebut
berkenaan dengan kesiapan anak untuk belajar, yang dikemas dalam
tahap perkembangan intelektual dari lahir hingga dewasa. Setiap
tahap perkembangan intelektual yang dimaksud dilengkapi dengan
ciri-ciri tertentu dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan. Misalnya,
pada tahap sensori motor anak berpikir melalui gerakan atau
perbuatan (Ruseffendi, 1988: 132).

Selanjutnya, Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama


(Dahar, 1989: 159) menegaskan bahwa pengetahuan tersebut
dibangun dalam pikiran anak melalui asimilasi dan akomodasi.
Asimilasi adalah penyerapan informasi baru dalam pikiran. Sedangkan,
akomodasi adalah menyusun kembali struktur pikiran karena adanya
informasi baru, sehingga informasi tersebut mempunyai tempat
(Ruseffendi 1988: 133). Pengertian tentang akomodasi yang lain
adalah proses mental yang meliputi pembentukan skema baru yang
cocok dengan ransangan baru atau memodifikasi skema yang sudah
ada sehingga cocok dengan rangsangan itu (Suparno, 1996: 7).
Konstruktivis ini dikritik oleh Vygotsky, yang menyatakan bahwa
siswa dalam mengkonstruksi suatu konsep perlu memperhatikan
lingkungan sosial.
Konstruktivisme ini oleh Vygotsky disebut
konstruktivisme sosial (Taylor, 1993; Wilson, Teslow dan Taylor,1993;
Atwel, Bleicher & Cooper, 1998).
Ada dua konsep penting dalam teori Vygotsky (Slavin, 1997),
yaitu Zone of Proximal Development (ZPD) danscaffolding.
1.Zone of Proximal Development (ZPD) merupakan jarak antara tingkat
perkembangan sesungguhnya yang didefinisikan sebagai kemampuan
pemecahan masalah secara mandiri dan tingkat perkembangan
potensial yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah
di bawah bimbingan orang dewasa atau melalui kerjasama dengan
teman sejawat yang lebih mampu.
2.Scaffolding merupakan pemberian sejumlah bantuan kepada siswa
selama tahap-tahap awal pembelajaran, kemudian mengurangi
bantuan dan memberikan kesempatan untuk mengambil alih tanggung
jawab yang semakin besar setelah ia dapat melakukannya (Slavin,
1997). Scaffolding merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa
untuk belajar dan memecahkan masalah. Bantuan tersebut dapat
berupa petunjuk, dorongan, peringatan, menguraikan masalah ke
dalam langkah-langkah pemecahan, memberikan contoh, dan
tindakan-tindakan lain yang memungkinkan siswa itu belajar mandiri.
Pendekatan yang mengacu pada konstruktivisme sosial (filsafat
konstruktivis sosial) disebut pendekatan konstruktivis sosial. Filsafat
konstruktivis sosial memandang kebenaran matematika tidak bersifat
absolut dan mengidentifikasi matematika sebagai hasil dari
pemecahan masalah dan pengajuan masalah (problem posing) oleh
manusia (Ernest, 1991). Dalam pembelajaran matematika, Cobb,
Yackel dan Wood (1992) menyebutnya dengan konstruktivisme sosio
(socio-constructivism), siswa berinteraksi dengan guru, dengan siswa
lainnya dan berdasarkan pada pengalaman informal siswa

mengembangkan strategi-strategi untuk merespon masalah yang


diberikan. Karakteristik pendekatan konstruktivis sosio ini sangat
sesuai dengan karakteristik RME.
HAKIKAT ANAK MENURUT TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISME
Piaget mengemukakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara
pasif oleh seseorang, melainkan melalui tindakan. Bahkan,
perkembangan kognitif anak bergantung pada seberapa jauh mereka
aktif memanipulasi dan berinteraksi dengan lingkungannya.
Sedangkan, perkembangan kognitif itu sendiri merupakan proses
berkesinambungan tentang keadaan ketidak-seimbangan dan keadaan
keseimbangan (Poedjiadi, 1999: 61).
Dari pandangan Piaget tentang tahap perkembangan kognitif anak
dapat dipahami bahwa pada tahap tertentu cara maupun kemampuan
anak mengkonstruksi ilmu berbeda-beda berdasarkan kematangan
intelektual anak.
Berkaitan dengan anak dan lingkungan belajarnya menurut pandangan
konstruktivisme, Driver dan Bell (dalam Susan, Marilyn dan Tony, 1995:
222) mengajukan karakteristik sebagai berikut: (1) siswa tidak
dipandang sebagai sesuatu yang pasif melainkan memiliki tujuan, (2)
belajar mempertimbangkan seoptimal mungkin proses keterlibatan
siswa, (3) pengetahuan bukan sesuatu yang datang dari luar
melainkan dikonstruksi secara personal, (4) pembelajaran bukanlah
transmisi pengetahuan, melainkan melibatkan pengaturan situasi
kelas, (5) kurikulum bukanlah sekedar dipelajari, melainkan
seperangkat pembelajaran, materi, dan sumber.
Pandangan tentang anak dari kalangan konstruktivistik yang lebih
mutakhir yang dikembangkan dari teori belajar kognitif Piaget
menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dibangun dalam pikiran seorang
anak dengan kegiatan asimilasi dan akomodasi sesuai dengan skemata
yang dimilikinya. Belajar merupakan proses aktif untuk
mengembangkan skemata sehingga pengetahuan terkait bagaikan
jaring laba-laba dan bukan sekedar tersusun secara hirarkis (Hudoyo,
1998: 5).
Dari pengertian di atas, dapat dipahami bahwa belajar adalah suatu
aktivitas yang berlangsung secara interaktif antara faktor intern pada
diri pebelajar dengan faktor ekstern atau lingkungan, sehingga
melahirkan perubahan tingkah laku.
Berikut adalah tiga dalil pokok Piaget dalam kaitannya dengan tahap
perkembangan intelektual atau tahap perkembangan kognitif atau
biasa jugaa disebut tahap perkembagan mental. Ruseffendi (1988:
133) mengemukakan; (1) perkembangan intelektual terjadi melalui
tahap-tahap beruntun yang selalu terjadi dengan urutan yang sama.

Maksudnya, setiap manusia akan mengalami urutan-urutan tersebut


dan dengan urutan yang sama, (2) tahap-tahap tersebut didefinisikan
sebagai suatu cluster dari operasi mental (pengurutan, pengekalan,
pengelompokan, pembuatan hipotesis dan penarikan kesimpulan) yang
menunjukkan adanya tingkah laku intelektual dan (3) gerak melalui
tahap-tahap tersebut dilengkapi oleh keseimbangan (equilibration),
proses pengembangan yang menguraikan tentang interaksi antara
pengalaman (asimilasi) dan struktur kognitif yang timbul (akomodasi).
Berbeda dengan kontruktivisme kognitif ala Piaget, konstruktivisme
sosial yang dikembangkan oleh Vigotsky adalah bahwa belajar bagi
anak dilakukan dalam interaksi dengan lingkungan sosial maupun fisik.
Penemuan atau discovery dalam belajar lebih mudah diperoleh dalam
konteks sosial budaya seseorang (Poedjiadi, 1999: 62). Dalam
penjelasan lain Tanjung (1998: 7) mengatakan bahwa inti konstruktivis
Vigotsky adalah interaksi antara aspek internal dan ekternal yang
penekanannya pada lingkungan sosial dalam belajar.
Adapun implikasi dari teori belajar konstruktivisme dalam pendidikan
anak (Poedjiadi, 1999: 63) adalah sebagai berikut: (a) tujuan
pendidikan menurut teori belajar konstruktivisme adalah menghasilkan
individu atau anak yang memiliki kemampuan berfikir untuk
menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi, (b) kurikulum
dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi situasi yang
memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstruksi oleh
peserta didik. Selain itu, latihan memcahkan masalah seringkali
dilakukan melalui belajar kelompok dengan menganalisis masalah
dalam kehidupan sehari-hari dan (c) peserta didik diharapkan selalu
aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai bagi dirinya.
Guru hanyalah berfungsi sebagai mediator, fasilitor, dan teman yang
membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi
pengetahuan pada diri peserta didik.
KELEBIHAN DAN KELEMAHAN TEORI KONSTRUTIVISME
1. Kelebihan
1. Berfikir
alam proses membina pengetahuan baru, murid berfikir
untuk menyelesaikan masalah, menjana idea dan membuat keputusan.
2. Faham :Oleh kerana murid terlibat secara langsung dalam mebina
pengetahuan baru, mereka akan lebih faham dan boleh
mengapliksikannya dalam semua situasi.
3. Ingat :Oleh kerana murid terlibat secara langsung dengan aktif,
mereka akan ingat lebih lama semua konsep. Yakin Murid melalui
pendekatan ini membina sendiri kefahaman mereka. Justeru mereka

lebih yakin menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam situasi


baru.
4. Kemahiran sosial :Kemahiran sosial diperolehi apabila berinteraksi
dengan rakan dan guru dalam membina pengetahuan baru.
5. Seronok :Oleh kerana mereka terlibat secara terus, mereka faham,
ingat, yakin dan berinteraksi dengan sihat, maka mereka akan berasa
seronok belajar dalam membina pengetahuan baru.
2. Kelemahan
Dalam bahasan kekurangan atau kelemahan ini mungkin bisa kita lihat
dalam proses belajarnya dimana peran guru sebagai pendidik itu
sepertinya kurang begitu mendukung.
Nama : Rapika Anna Sari Tarigan
Jurusan : Kurtekpend
Nim
: 1304183