Anda di halaman 1dari 12

I.

IDENTITAS PASIEN
Nama
Umur
Status
Suku/ Bangsa
Agama
Pekerjaan
Alamat
Tanggal Pemeriksaan

II.

: An. NR
: 14 Tahun
: Belum menikah
: Jawa / Indonesia
: Islam
: Pelajar
: Karang Anyar A no 35
: 26 Desember 2014

ANAMNESA
1. Keluhan Utama :
Muncul bercak bercak putih pada pipi kanan dan kiri
2. Riwayat Penyakit Sekarang :
autoanamnesa
Pasien datang ke poli Kulit dan kelamin RS Husada dengan keluhan
muncul bercak putih pada bagian pipi kanan dan kiri. keluhan ini dirasakannya
sejak 3 hari yang lalu. Pasien mengatakan bahwa bercak tersebut tidak gatal
dan tidak nyeri. Pasien juga mengaku apabila di sekolah pasien senang
bermain bola voli bersama teman temannya sampai berkeringat dan basah
tapi setelah pulang langsung mandi dengan sabun
sehari pasien mandi sebanyak 3 kali saat berangkat ke sekolah, pulang
sekolah dan pada saat sore hari dengan air PDAM, tetapi pada bagian wajah
hanya dibilas dengan air saja. pasien mengatakan juga bahwa bercak putih
putih tersebut timbul secara mendadak dan belum pernah diberi obat . pasien
juga mengatakan bahwa dari kecil pasien tidak pernah sakit kulit dan disekitar
tempat tinggal dan sekolah paien tidak ada yang menderita seperti ini

III.

3. Riwayat Penyakit dahulu :


- Pasien tidak pernah mengalami penyakit seperti ini sebelumnya
- Riwayat asma dan alergi obat disangkal.
PEMERIKSAAN FISIK
1. Status Generalis
Keadaan Umum
: Baik
Kesadaraan
: Compos Mentis
Status gizi
: Baik
Kepala
: dalam batas normal
Leher
: Pembesaran KGB dalam batas normal

Thorax
Abdomen
Ekstremitas

: dalam batas normal


: dalam batas normal
: dalam batas normal

2. Status Dermatologis
Regio Facialis
Efloresensi : makula hipopigmentasi dengan diameter 2 4 centi meter
, berbatas tidak tegas dan tidak tertutup skuama. papul (-), vesikel (-),
krusta (-).
IV.
V.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak dilakukan
RESUME
Anak perempuan berusia 14 tahun datang dengan keluhan bercak bercak putih
pada pipi kanan + kiri sejak 3 hari yang lalu , gatal (-), nyeri (-). Pasien mengaku
suka bermain bola voli dengan temannya setelah pulang sekolah sampai
berkeringat dan basah. Pasien mandi teratur 3x sehari dengan sabun dan
menggunakan air PDAM, tetapi pada bagian wajah hanya dibilas dengan air saja.

Pemeriksaan Fisik :
Regio Facialis
Efloresensi : makula hipopigmentasi dengan diameter 2 4 centi meter
, berbatas tidak tegas dan tidak tertutup skuama. papul (-), vesikel (-),
krusta (-).

VI.

DIAGNOSA KERJA
Pitiriasis Alba

VII.

DIAGNOSA BANDING
Pitiriasis Versikolor
Morbus Hansen
Hipopigmentasi post inflamasi

VIII. PENATALAKSANAAN
Non Medikamentosa :
Edukasi :
memberikan pengertian kepada ibu pasien dan pasien untuk tidak
membiarkan anaknya bermain keluar rumah terlalu lama atau terlalu
sering dibawah sinar matahari.
memberikan pengertian kepada pasien dan ibu pasien apabila bermain
diluar rumah terutama yang terpapar dengan sinar matahari memakai
sunblock.
menjaga kebersihan diri ,dengan cuci tangan pakai sabun dan mandi

hingga bersih.
Medikamentosa :
menggunakan topikal steroid : Hidrocortison 1%

IX.PROGNOSIS
Ad vitam

: bonam

Ad fungtionam

: bonam

Ad kosmetikam

: dubia ad bonam

Ad sanationam

: dubia ad bonam

PITRIASIS ALBA
I. Pendahuluan
Pitiriasis alba merupakan bagian dari hipomelanosis yang bisa mengenai semua jenis ras, tapi
kebanyakan adalah orang kulit hitam. Pitiriasis alba merupakan suatu penyakit terdiri dari
bentuk asimptomatik, skuama halus, oval, bercak kemerahan, terkadang juga berupa makula
dari bentuk hipopigmentasi ringan sampai sedang yang akan menghilang serta meninggalkan
area yang depigmentasi. Penyakit ini pertama kali dilaporkan oleh fox pada tahun 1942 Oleh
OFarrel, pada tahun 1956 diberi nama Pitiriasis Alba, dalam bahasa latin berarti putih,
bercak bersisik.(1-5)

Nama lain dari penyakit ini adalah pitiriasis simpleks, pitiriasis makulata, impetigo sika, dan
impetigo pitiroides, eritema streptogenes, pitiriasis sicca faciei.(2,3,5)
II. Epidemiologi
Pitiriasis Alba biasanya muncul pada anak-anak dengan umur 3 -16 tahun. Untuk
perlangsungan pada kedua jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan tidak ada perbedaan.
Penyakit ini lebih banyak mengenai orang kulit hitam atau coklat. Penyakit ini menjadi
kelihatan lebih jelas pada musim panas. Pitiriasis Alba jarang ditemukan setelah umur 30
tahun.(2,6,7)
III. Etiologi
Menurut pendapat para ahli diduga adanya infeksi streptococcus, tetapi belum dapat
dibuktikan. Atas dasar riwayat penyakit dan distribusi lesi diduga impetigo dapat merupakan
faktor pencetus. Pitiriasis alba juga merupakan manifestasi dermatitis non spesifik, yang
belum diketahui penyebabnya. Sabun dan sinar matahari bukan merupakan faktor yang
berpengaruh. Kulit kering yang berlebihan yang disertai dengan paparan sinar matahari dapat
juga memberikan kontribusi. Meskipun etiologi dari penyakit ini belum diketahui secara
pasti, tetapi faktor pemicunya dapat sebagai berikut : (3,8,9)
1. panas
2. sistem imunitas
3. alergi deterjen dan sabun
4. rokok
5. Stress
IV. Patofisiologi
Patofisiologinya belum diketahui tetapi beberapa ahli percaya bahwa penyakit ini merupakan
suatu bentuk dari dermatitis eksematosa dengan hipomelanosis yang terjadi dari perubahan
setelah inflamasi dan efek penyinaran ultraviolet pada daerah epidermis yang hiperkeratotik
dan parakeratotik. Proses ini diperkirakan hasil transfer blok melanosom. Kepadatan
fungsional melanosit telah berkurang pada area yang dipengaruhi tanpa perubahan pada
aktivitas sitoplasmid. Melanosom cenderung untuk lebih sedikit dan lebih kecil, tetapi bentuk
penyebaran keratinosit adalah normal. Perubahan melanosom menjadi keratinosit umumnya
tidak terganggu. Penampakan histologinya tidak spesifik. Hiperkeratosis dan parakeratosis
selalu ada, dan tampaknya kedua hal tersebut tidak berperan penting dalam patogenesis

hipomelanosis. Derajat edema interseluler dan droplet intrasitoplasmik lemak terlihat.


Hipopigmentasi terjadi karena penurunan jumlah melanosit aktif dan penurunan jumlah dan
ukuran melanosom pada daerah yang terkena.(1,7,10)
V. Gejala klinis
Lesi yang ditemukan biasanya berbentuk bulat, oval, atau plakat yang teratur. Warna merah
muda atau sesuai warna kulit dengan skuama yang halus. Setelah eritema menghilang, lesi
yang dijumpai hanya depigmentasi dengan skuama halus. Pada stadium ini penderita datang
berobat terutama pada penderita dengan kulit berwarna. Bercak biasanya multipel 4 sampai
20 dengan diameter antara 1-2 cm, tapi dapat juga lebih besar terutama yang berada di daerah
badan. Pada anak-anak lokasi kelainan paling banyak di temukan di daerah muka (50-60%),
yaitu di sekitar mulut, dagu, pipi serta dahi. Lesi padat dijumpai pada ekstremitas dan badan.
Dapat simetris pada bokong, paha atas, punggung, dan ekstensor lengan tanpa keluhan. Lesi
umumnya menetap, terlihat sebagai leukoderma setelah skuama menghilang.(3,10,11)
Berdasarkan gejala klinis yang sering ditemukan, Pitiriasis Alba dapat di bagi atas 2 bentuk
antara lain :
- Bentuk lokal, merupakan bentuk yang paling sering ditemukan, lebih banyak mengenai
anak-anak, lesi terutama terdapat di wajah, biasanya ditemukan sampai 5 lesi yang berbentuk
plakat hipokrom disertai skuama. Bentuk ini memiliki respon yang lebih baik terhadap
pengobatan.
- Bentuk umum, memiliki insidens yang lebih jarang dan paling sering ditemukan pada orang
dewasa dan anak-anak. Bentuk ini di bagi lagi menjadi dua variasi klinik, antara lain :
1. Idiopatik, di tandai oleh adanya lesi berbatas tegas, simetris, dan tanpa skuama. Terdapat
pada badan dan memiliki respon yang jelek terhadap pengobatan
2. Dermatitis atopik, pada bentuk ini gatal merupakan gejala yang paling sering di keluhkan.
Berespon terhadap pemberian kortikosteroid topikal.
Selain bentuk yang sering di temukan, beberapa manifestasi klinis yang tidak umum juga di
temukan, seperti psoriasis dan bentuk pigmentasi. Pasien datang dengan lesi yang pada
bagian tengahnya terdapat hipopigmentasi. Disertai skuama halus, yang terutama terdapat di
daerah wajah, dan biasa di sertai dengan infeksi dermatofit.(12)
VI. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan histopatologi

Pada pemeriksaan ini biasanya di temukan achantosis, spongiosis ringan, dengan


hyperkeratosis sedang, dan lesi parakeratosis. Juga dapat ditemukan adanya atrofi glandula
sebasea, spongiosis, dan gangguan folikular. Pada mikroskop elektron, di temukan adanya
penurunan jumlah melanosit aktif dan melanosom di dalam kulit. Pada tahun 1993, vargasOcampo membagi manifestasi klinik Pitiriasis Alba ke dalam 3 tahap berdasarkan hasil
pemeriksaan histopatologinya. Antara lain tahap initial, intermediate, dan late. Pada tahap
initial dan intermediate terjadi perubahan dari aparatus pilosebaseus, folikuler, dan atropi
glandula sebasea. Pada tahap late perubahan menyerupai dermatitis kronik.(12,13)
2. Mikroskop Elektron
Pada mikroskop elektron ditemukan jumlah melanosit aktif menurun dan jumlah serta ukuran
dari melanosom menurun pada kulit yang terinfeksi.(10)
3. Pemeriksaan Laboratorium
Hasil diagnosa yang benar umumnya diusulkan berdasarkan umur pasien, skuama,
hipopigmentasi, dan distribusi luka. Pemeriksaan hidroksida kalium (KOH) dilakukan untuk
mengeliminasi tinea versikolor.(10)

VII. Diagnosis
Diagnosis pitiriasis Alba di tegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisis, dan
pemeriksaan mikroskopis. Anamnesis menggambarkan adanya riwayat bercak berwarna
merah terang pada kulit yang disertai adanya skuama dan depigmentasi setelah bercak
kemerahannya hilang.(11,12)
Berdasarkan pemeriksaan fisis ditemukan adanya lesi berukuran 1-2 cm yang berbentuk
bulat, oval, atau iregular yang berwarna merah muda, merah, atau sesuai warna kulit yang
biasanya disertai dengan skuama halus dan terjadi depigmentasi pada kulit.(11)

Berdasarkan pemeriksaan histopatologi ditemukan adanya achantosis, spongiosis ringan,


dengan hyperkeratosis sedang, dan lesi parakeratosis. Juga dapat ditemukan atrofi glandula
sebasea, spongiosis, dan gangguan folikular. Pada mikroskop elektron, ditemukan penurunan
jumlah melanosit aktif dan berkurangnya melanosom dalam kulit, akan tetapi belum
diketahui apakah terjadi perubahan fungsi dari melanosit.(11, 12)
Perubahan histopatologi hanya dijumpai pada akantosis ringan, spongiosis dengan
hyperkeratosis sedang dan parakeratosis setempat. Tidak adanya pigmen disebabkan karena
efek penyaringan sinar oleh stratum korneum yang menebal atau oleh kemampuan sel
epidermal mengangkut granula pigmen melanin berkurang. Pada pemeriksaan mikroskop
elektron terlihat penurunan jumlah serta berkurangnya ukuran melanosom.(12)
VIII. Diagnosis Banding
Diagnosis banding dari Pitiriasis alba adalah Tinea versikolor, vitiligo,dan kusta.
a. Tinea versikolor
Tinea versikolor merupakan infeksi jamur superficial pada lapisan korneum kulit yang
bersifat ringan, menahun, dan biasanya tidak terdapat keluhan subjektif, disebabkan oleh
Malassezia furfur. Gambaran klinis pitiriasis versikolor sangat khas sehingga mudah
didiagnosis, berupa bercak yang berbatas tegas disertai skuama halus. Warna lesi mulai dari
hipopigmentasi, merah muda, kuning kecoklatan, coklat muda atau hiperpigmentasi. Variasi
warna lesi tergantung dari pigmen kulit penderita, paparan sinar matahari dan lama penyakit.
Tempat predileksi penyakit ini terutama yang ditutupi pakaian seperti dada, punggung, perut,
lengan atas, paha, leher, muka, dan kulit yang berambut.(1,2,12,15)

b.Vitiligo
Vitiligo adalah gangguan berupa bintik-bintik keputihan yang muncul di kulit (bukan
bawaan). Berbeda dengan gangguan jamur, seperti panu misalnya, vitiligo tidak
menimbulkan rasa gatal. Vitiligo terjadi akibat rusaknya sel pigmen, , sehingga pigmen tidak
terbentuk. Umumnya, vitiligo muncul di muka, kulit, kepala serta leher. Awalnya hanya
bercak kecil, tapi makin lama tampak makin melebar dan menyebar. Vitiligo biasa muncul
pada orang-orang kulit hitam, bisa terjadi karena pemakaian kosmetik yang kurang tepat atau
faktor autoimun. Pigmen warna kulit(melanin) tidak terbentuk dan sel-sel pembuat warnanya
tidak bekerja karena diserang oleh tubuh sendiri.(2,12, 16)

c.Kusta (MH) tipe LL


Makula hipomelanosis mungkin merupakan penampakan awal dari kusta tipe lepromatosa.
Lesi biasanya kecil, banyak, halus, dan batas tegas. Lesi terdapat pada wajah, ekstremitas,
dan biasanya menyebar pada tubuh.(2)
IX. Pengobatan
Pengobatan dari Pitiriasis alba terutama terdiri dari memelihara kesehatan kulit dan
pendidikan orang tua mengenai penyakit ini yang dapat sembuh sendiri. Pasien sebaiknya
memakai pelindung dari sinar matahari. Karena penyakit ini biasanya sembuh sendiri dan
tidak bergejala maka terapi medis tidak selalu diperlukan. Jika kondisi dari penyakit ini
ringan dan tidak terlalu menarik perhatian, tidak ada pengobatan yang penting.(10, 13)
Terapi medikamentosa pada penderita Pitiriasis alba terdiri atas:
a.Kortikosteroid topikal
Steroid topikal kelas 5 atau 6 yang digunakan untuk mengobati Pitiriasis alba aman untuk
anak anak. Pemakaian jangka panjang pada wajah tidak dianjurkan.
Hidrokortison topikal merupakan suatu derivate adrenokortikosteroid dengan aktivitas
antiinflamasi ringan. Krim dan salap umumnya baik digunakan, tetapi salap mungkin lebih
efektif bila ada xerosis atau sisik. Cara pemakaiannya adalah dioleskan secara tipis pada
daerah yang terkena. Pada wanita hamil dapat digunakan jika manfaatnya lebih banyak
daripada resiko terhadap fetus. Kontraindikasinya berupa hipersensitivitas; infeksi kulit oleh
virus, jamur, dan bakteri.(10)
b.Imunosupresan
Takrolimus dapat digunakan untuk mengobati Pitiriasis alba dan aman untuk anak. Akan
tetapi, karena harganya mahal, takrolimus jarang digunakan untuk pengobatan Pitiriasis alba.
(10)
Mekanisme kerja dari takrolimus topikal pada dermatitis atopik belum diketahui. Pemakaian
obat ini dapat mengurangi gatal dan inflamasi dengan menekan pelepasan sitokin dari sel T
dapat digunakan pada pasien umur 2 tahun. Obat- obat dari kelas ini lebih mahal dari
kortikosteroid topikal. Tersedia dalam bentuk salap dengan konsentrasi 0,03% dan 0,1%.
Obat ini hanya digunakan bila cara pengobatan lain yang dipilih gagal.(10)
Pada orang dewasa digunakan takrolimus topikal dengan konsentrasi 0,1%. Caranya yaitu
dioleskan secara tipis pada daerah kulit yang terkena; pengobatan dilanjutkan selama satu

minggu setelah gejala dan tanda hilang. Anak umur kurang dari 2 tahun tidak dianjurkan.
Anak umur 2-15 tahun diberikan salap dengan konsentrasi 0,03% sedangkan anak umur lebih
dari 15 tahun aturan pakainya seperti pada orang dewasa. Kontraindikasi yang ditemukan
berupa hipersensitivitas.(10)
X. Prognosis
Pitiriasis alba adalah suatu penyakit yang dapat sembuh sendiri, setelah beberapa bulan
sampai beberapa tahun dan pasiennya tidak bergejala, tetapi umumnya pada wajah
berlangsung setahun atau lebih. Prognosis baik, pada akhirnya terjadi repigmentasi sempurna.
(3,11,12)
XI. Kesimpulan
Pitiriasis alba merupakan suatu keadaan yang umumnya terdiri dari skuama halus, oval,
bercak kemerahan, terkadang juga berupa makula dari bentuk hipopigmentasi ringan sampai
sedang yang akan menghilang serta meninggalkan area yang depigmentasi. Nama lain dari
penyakit ini adalah pitiriasis simpleks, pitiriasis makulata, impetigo sika, dan impetigo
pitiroides. Penyakit ini biasanya muncul pada anak-anak dengan umur 3 -16 tahun, dengan
frekuensi laki-laki dan perempuan sama. Penyakit ini jarang ditemukan pada usia di atas 30
tahun.
Menurut pendapat para ahli diduga adanya infeksi streptococcus, tetapi belum dapat
dibuktikan. Pitiriasis alba juga merupakan manifestasi dermatitis non spesifik, yang belum
diketahui penyebabnya. Meskipun etiologi dari penyakit ini belum diketahui secara pasti,
tetapi faktor pemicunya dapat sebagai berikut : panas, sistem imunitas, alergi deterjen dan
sabun, rokok , dan stress.
Patogenesisnya belum diketahui tetapi beberapa ahli percaya bahwa penyakit ini merupakan
suatu bentuk dari dermatitis eksematosa dengan hipomelanosis yang terjadi dari perubahan
setelah inflamasi dan efek penyinaran ultraviolet pada daerah epidermis yang hiperkeratotik
dan parakeratotik yang melibatkan hasil transfer blok melanosom.
Pemeriksaan penunjang yang dapat digunakan untuk mendiagnosis penyakit ini adalah
Pemeriksaan histopatologi, mikroskop elektron, dan pemeriksaan laboratorium.
Penyakit ini dapat didiagnosis banding dengan vitiligo, tinea versikolor, dan kusta (MH) tipe
lepromatosa.
Pada pengobatan penyakit ini digunakan kortikosteroid dan imunosupressan, meskipun
penyakit ini dapat sembuh dengan sendirinya.

DAFTAR PUSTAKA
1. Ortonne JP, Bahadoran P, Fitzpatrick TB, Mosher DB, Hory Y. Hypomelanoses and
hypermelanoses.In : Freedberg IM, Eisen AZ, Wolff K, Ausesten KF, Goldsmith LA, Katz
SI, editors. Fitzpatricks dermatology in general medicine.6th ed.New York : McGraw Hill
;2003.p.836-80.
2. Fritsch PO, Reider N. Other Eczematous Eruption. In : bolognia JL, Jorizzo JL, Rapini RP,
editors:Dermatology.Edinburgh:Mosby;2003.p.215-26.
3. Soepardiman L. Penyakit Kulit yang lain. In : Djuanda A. Hamzah, M Aisah S. Ilmu
Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ketiga. Jakarta : Penerbit FK-UI ; 1999.
4. Habif TP. Light related disease ang disorders of pigmentation in infant and children. In :
Clinic in dermatology. New York : Elsevier science Inc. 2002. p. 4-9
5. Kabulrahman. Kelainan Pigmen. In : Harahap M, editor. Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta :
Hipokrates.2004.p.145-58.
6. Parikh A Deepak. Ptyriasis Alba (online). 1999 (cited 2008 march 2) ; available from :
URL:http://www.ijdvl.com/
7. Kane KSM, Ryder JB, Johnson RA, Baden HP, Stratigos A. Disorders Of Pigmentation. In
:Color Atlas& Synopsis og Pediatric dermatology. New York : McGraw Hill.2002.p.25860.
8. James WD, Berger TG, Elston DM, editors. Atopic dermatitis, eczema, and noninfectious
immunodeficiency disorders. In : Andrews diseases of the skin clinical dermatology. 10th
ed.London:Blackwell science publication, 1992. p. 538-71.
9. Visualdx Health. Pityriasis Alba : child (online). 18 oct 2007 (cited 2008 march 3)
Available from : URL :http: // http://www.visualdxhealth.com/

10. Crowe MA. Pitiriasis Alba (online). 20 Januari 2007 (cited 2008 March 3) ; Available
from:URL:http:// http://www.emedicine.com/
11. Burton JL, Holder CA. Eczema, Lichenification, prurigo and erythroderma. In :
Champion RH, Burton JL, Ebling FJG, editors. Rook/Wilkinson/ebling. Textbook of
Dermatology. 5th ed. London : BlackwellScinece Publication,1992.p.538-71
12. Magda Blessman Weber, Pityriasis alba: epidemiological, clinical, and therapeutic
aspects (online) 8 June 2007 (cited 2008 march 2) Available from :URL : http:
// http://www.anaisdedermatologia.org/
13. Wikipedia. Pityriasis Alba (online) 9 july 2007 (cited 2008 march 2) Available from :
URL:http://http://www.wikipedia.com/
14. Samuel L. Mochella, Harry J.Hurley, MD, editors. Ptyrisis Alba. In : Dermatology 2nd
Edition Vol.1.London : W.B. Sauders Company, 1985. p. 376-77.
15. Amiruddin MD. Ilmu Penyakit Kulit. Makassar : UNHAS Press ; 2003
16. Sheung-kyung han MD. Vitiligo (online). 14 april 2005 (cited 2008 maret 2) ; Available
from:http://http://www.emedicine.com/
17. Redbook online.Ptyriasis Versikolor (online). 18 july 2005 (cited 2008 maret 14) ;
Available from:http:// http://www.google.com/
18. Leprosy lepromatous. (online). (cited 2008 maret 14). Available from : http :
//http://www.google.com/