Anda di halaman 1dari 22

A.

STRUKTUR ATOM
1). Model Atom Dalton
a) Atom digambarkan sebagai bola pejal yang sangat kecil.
b) Atom merupakan partikel terkecil yang tidak dapat dipecah lagi.
c) Atom suatu unsur sama memiliki sifat yang sama, sedangkan atom unsur berbeda,
berlainan dalam massa dan sifatnya.
d) Senyawa terbentuk jika atom bergabung satu sama lain.
e) Reaksi kimia hanyalah reorganisasi dari atom-atom, sehingga tidak ada atom yang
berubah akibat reaksi kimia.

Gambar Model Atom Dalton


Teori atom Dalton ditunjang oleh 2 hukum alam yaitu :
1.

Hukum Kekekalan Massa (hukum Lavoisier) : massa zat sebelum dan


sesudah reaksi adalah sama.

2.

Hukum Perbandingan Tetap (hukum Proust) : perbandingan massa unsurunsur yang menyusun suatu zat adalah tetap.

Kelemahan Model Atom Dalton :


Menurut teori atom Dalton, tidak ada atom yang berubah akibat reaksi kimia.
Kini ternyata dengan reaksi kimia nuklir, suatu atom dapat berubah menjadi atom lain.
Contoh :
238

234

92

90

14
7

N +

Th +

4
2

He

He

1
17
O + H
8
1

2). Model Atom Thomson


1

a) Setelah ditemukannya elektron oleh J.J Thomson, disusunlah model atom Thomson
yang merupakan penyempurnaan dari model atom Dalton.
b) Atom terdiri dari materi bermuatan positif dan di dalamnya tersebar elektron
bagaikan kismis dalam roti kismis.
3). Model Atom Rutherford
a) Rutherford menemukan bukti bahwa dalam atom terdapat inti atom yang bermuatan
positif, berukuran lebih kecil daripada ukuran atom tetapi massa atom hampir
seluruhnya berasal dari massa intinya.
b) Atom terdiri dari inti atom yang bermuatan positif dan berada pada pusat atom serta
elektron bergerak melintasi inti (seperti planet dalam tata surya).
Kelemahan Model Atom Rutherford :
Ketidakmampuan untuk menjelaskan mengapa elektron tidak jatuh ke inti atom akibat
gaya tarik elektrostatis inti terhadap elektron.
Menurut teori Maxwell, jika elektron sebagai partikel bermuatan mengitari inti yang
memiliki muatan yang berlawanan maka lintasannya akan berbentuk spiral dan akan
kehilangan tenaga/energi dalam bentuk radiasi sehingga akhirnya jatuh ke inti.
4). Model Atom Niels Bohr

Model atomnya didasarkan pada teori kuantum untuk menjelaskan spektrum gas
hidrogen.

Menurut Bohr, spektrum garis menunjukkan bahwa elektron hanya menempati


tingkat-tingkat energi tertentu dalam atom.

Menurutnya :
a) Atom terdiri dari inti yang bermuatan positif dan di sekitarnya beredar elektronelektron yang bermuatan negatif.
b) Elektron beredar mengelilingi inti atom pada orbit tertentu yang dikenal sebagai
keadaan gerakan yang stasioner (tetap) yang selanjutnya disebut dengan tingkat
energi utama (kulit elektron) yang dinyatakan dengan bilangan kuantum utama (n).

c) Selama elektron berada dalam lintasan stasioner, energi akan tetap sehingga tidak ada
cahaya yang dipancarkan.
d) Elektron hanya dapat berpindah dari lintasan stasioner yang lebih rendah ke lintasan
stasioner yang lebih tinggi jika menyerap energi. Sebaliknya, jika elektron berpindah
dari lintasan stasioner yang lebih tinggi ke rendah terjadi pelepasan energi.
e) Pada keadaan normal (tanpa pengaruh luar), elektron menempati tingkat energi
terendah (disebut tingkat dasar = ground state).
Kelemahan Model Atom Niels Bohr :
1. Hanya dapat menerangkan spektrum dari atom atau ion yang mengandung satu
elektron dan tidak sesuai dengan spektrum atom atau ion yang berelektron banyak.
2. Tidak mampu menerangkan bahwa atom dapat membentuk molekul melalui ikatan
kimia.
5). Model Atom Modern
Dikembangkan berdasarkan teori mekanika kuantum yang disebut mekanika gelombang;
diprakarsai oleh 3 ahli :
a) Louis Victor de Broglie
Menyatakan bahwa materi mempunyai dualisme sifat yaitu sebagai materi dan
sebagai gelombang.
b) Werner Heisenberg
Mengemukakan prinsip ketidakpastian untuk materi yang bersifat sebagai partikel
dan gelombang. Jarak atau letak elektron-elektron yang mengelilingi inti hanya dapat
ditentukan dengan kemungkinan kemungkinan saja.
c) Erwin Schrodinger (menyempurnakan model Atom Bohr)
Berhasil menyusun persamaan gelombang untuk elektron dengan menggunakan
prinsip mekanika gelombang. Elektron-elektron yang mengelilingi inti terdapat di
dalam suatu orbital yaitu daerah 3 dimensi di sekitar inti dimana elektron dengan
energi tertentu dapat ditemukan dengan kemungkinan terbesar.
3

Orbit

Orbital

Gambar Perbedaan antara orbit dan orbital untuk elektron


Orbital digambarkan sebagai awan elektron yaitu : bentuk-bentuk ruang
dimana suatu elektron kemungkinan ditemukan.
Semakin rapat awan elektron maka semakin besar kemungkinan elektron
ditemukan dan sebaliknya.
PARTIKEL DASAR PENYUSUN ATOM

Partikel

Notasi

Massa
Sesungguhny
Relatif thd

Muatan
Sesungguhny
Relatif thd

proton

proton

Proton

+1 p
1

1,67 x 10-24 g

1 sma

1,6 x 10-19 C

+1

Neutron

1
n
0

1,67 x 10-24 g

1 sma

Elektron

0
e
-1

-1,6 x 10-19 C

-1

9,11 x 10

-28

1
1836

sma
Catatan : massa partikel dasar dinyatakan dalam satuan massa atom ( sma ).

1 sma = 1,66 x 10-24 gram

NOMOR ATOM

Menyatakan jumlah proton dalam atom.

Untuk atom netral, jumlah proton = jumlah elektron (nomor atom juga
menyatakan jumlah elektron).
Diberi simbol huruf Z

Atom yang melepaskan elektron berubah menjadi ion positif, sebaliknya yang

menerima elektron berubah menjadi ion negatif.


Contoh : 19K
NOMOR MASSA

Menunjukkan jumlah proton dan neutron dalam inti atom.

Proton dan neutron sebagai partikel penyusun inti atom disebut Nukleon.
Jumlah nukleon dalam atom suatu unsur dinyatakan sebagai Nomor Massa

(diberi lambang huruf A), sehingga :


A

= nomor massa
= jumlah proton ( p ) + jumlah neutron ( n )

= p+n=Z+n
Penulisan atom tunggal dilengkapi dengan nomor atom di sebelah kiri bawah dan

nomor massa di sebelah kiri atas dari lambang atom tersebut. Notasi semacam ini disebut
dengan Nuklida.
A
Z

Keterangan :
X = lambang atom

A = nomor massa

Z = nomor atom
Contoh :
238

92

SUSUNAN ION
5

Suatu atom dapat kehilangan/melepaskan elektron atau mendapat/menerima

elektron tambahan.

Atom yang kehilangan/melepaskan elektron, akan menjadi ion positif (kation).

Atom yang mendapat/menerima elektron, akan menjadi ion negatif (anion).

Dalam suatu Ion, yang berubah hanya jumlah elektron saja, sedangkan jumlah
proton dan neutron nya tetap.

Contoh :
Spesi
Atom Na
Ion
Ion

Na

Proton
11

Elektron
11

Neutron
12

11

10

12

11

12

12

Na

Rumus umum untuk menghitung jumlah proton, neutron dan elektron :


1). Untuk nuklida atom netral :
AX
Z

: p=Z
e=Z
n = (A-Z)

2). Untuk nuklida kation :


A X y
Z

: p=Z
e = Z (+y)
n = (A-Z)

ISOTOP, ISOBAR DAN ISOTON


1). ISOTOP
Adalah atom-atom dari unsur yang sama (mempunyai nomor atom yang sama) tetapi berbeda
nomor massanya.

Contoh :

12 C 13 C 14 C
6
6
6
;

2). ISOBAR
Adalah atom-atom dari unsur yang berbeda (mempunyai nomor atom berbeda) tetapi
mempunyai nomor massa yang sama.

Contoh :

14 C
6

dengan

14 N
7

3). ISOTON
Adalah atom-atom dari unsur yang berbeda (mempunyai nomor atom berbeda) tetapi
mempunyai jumlah neutron yang sama.

Contoh :

31 P
15

dengan

32 S
16

3). Untuk nuklida anion :


A X y
Z

: p=Z
e = Z (-y)
n = (A-Z)

KONFIGURASI ELEKTRON

Persebaran elektron dalam kulit-kulit atomnya disebut konfigurasi.

Kulit atom yang pertama (yang paling dekat dengan inti) diberi lambang K, kulit
ke-2 diberi lambang L dst.
Jumlah maksimum elektron pada setiap kulit memenuhi rumus 2n2 (n = nomor

kulit).
Contoh :

Kulit K (n = 1) maksimum 2 x 12 = 2 elektron


Kulit L (n = 2) maksimum 2 x 22 = 8 elektron
7

Kulit M (n = 3) maksimum 2 x 32 = 18 elektron


Kulit N (n = 4) maksimum 2 x 42 = 32 elektron
Kulit O (n = 5) maksimum 2 x 52 = 50 elektron
Catatan :
Meskipun kulit O, P dan Q dapat menampung lebih dari 32 elektron, namun kenyataannya
kulit-kulit tersebut belum pernah terisi penuh.

Langkah-Langkah Penulisan Konfigurasi Elektron :


1.

Kulit-kulit diisi mulai dari kulit K, kemudian L dst.

2.

Khusus untuk golongan utama (golongan A) :


Jumlah kulit = nomor periode
Jumlah elektron valensi = nomor golongan
3.

Jumlah maksimum elektron pada kulit terluar (elektron valensi) adalah 8.


Elektron valensi berperan pada pembentukan ikatan antar atom dalam

membentuk suatu senyawa.


Sifat kimia suatu unsur ditentukan juga oleh elektron valensinya. Oleh

karena itu, unsur-unsur yang memiliki elektron valensi sama, akan memiliki sifat
kimia yang mirip.
Contoh :
Nomor

Unsur

Atom
2
3
18
20
38

He
Li
Ar
Ca
Sr

2
2
2
2
2

1
8
8
8

8
8
18

2
8

Catatan :

Konfigurasi elektron untuk unsur-unsur golongan B (golongan transisi) sedikit


berbeda dari golongan A (golongan utama).

Elektron tambahan tidak mengisi kulit terluar, tetapi mengisi kulit ke-2 terluar;
sedemikian sehingga kulit ke-2 terluar itu berisi 18 elektron.

Contoh :
Unsur
Sc
Ti
Mn
Zn

Nomor Atom
21
22
25
30

K
2
2
2
2

L
8
8
8
8

M
9
10
13
18

N
2
2
2
2

ELEKTRON VALENSI
Elektron valensi adalah elektron yang terdapat pada kulit terluar. Elektron valensi berperan
pada pembentukan ikatan antar atom dalam membentuk senyawa. Oleh karena itu, sifat kimia
unsur banyak ditentukan oleh elektron valensinya. Unsur yang mempunyai electron valensi
sama, ternyata mempunyai sifat yang mirip
B.

MASSA ATOM RELATIF (Ar)


Massa atom relative (Ar) adalah perbandingan massa antar atom yang 1 terhadap atom yang
lainnya. Pada umumnya, unsur terdiri dari beberapa isotop maka pada penetapan massa atom
relatif (Ar) digunakan massa rata-rata dari isotop-isotopnya. Menurut IUPAC, sebagai
1

pembanding digunakan atom C-12 yaitu

12

dari massa 1 atom C-12; sehingga dirumuskan :

mas s arata rata 1 atom uns ur X


1

Ar unsur X =

12

mas s a1 atom C 12

(1)

Karena :

12

massa 1 atom C-12 = 1 sma ; maka :


ma s s arata ra ta 1 a tom uns ur X
1 s ma

Ar unsur X =

(2)

C.

MASSA MOLEKUL RELATIF (Mr)


Massa molekul relative (Mr) adalah perbandingan massa antara suatu molekul dengan
suatu standar. Besarnya massa molekul relatif (Mr) suatu zat = jumlah massa atom relatif
(Ar) dari atom-atom penyusun molekul zat tersebut. Khusus untuk senyawa ion digunakan
istilah Massa Rumus Relatif (Mr) karena senyawa ion tidak terdiri atas molekul.
Mr = Ar
Contoh :
Diketahui : massa atom relatif (Ar) H = 1; C = 12; N = 14 dan O = 16.
Berapa massa molekul relatif (Mr) dari CO(NH2)2
Jawab :
Mr CO(NH2)2 = (1 x Ar C) + (1 x Ar O) + (2 x Ar N) + (4 x Ar H)
= (1 x 12) + (1 x 16) + (2 x 14) + (4 x 1)
= 60

D.

KONSEP MOL DAN BILANGAN AVOGADRO


Apabila kita mereaksikan satu atom Karbon (C) dengan satu molekul Oksigen (O 2), maka
akan terbentuk satu molekul CO2. Tetapi sebenarnya yang kita reaksikan bukan satu atom
Karbon dengan satu molekul Oksigen, melainkan sejumlah besar atom Karbon dan sejumlah
besar molekul Oksigen. Oleh karena itu jumlah atom atau jumlah molekul yamg bereaksi begitu
besarnya, maka untuk menyatakannya, para ahli kimia menggunakan mol sebagai satuan
jumlah partikel (molekul, atom, atau ion).
Satu mol didefinisikan sebagai jumlah zat yang mengandung partikel zat
itu sebanyak atom yang terdapat dalam 12,000 gram atom Karbon - 12
Jadi dalam satu mol suatu zat terdapat 6,022 x 10 23 partikel. Nilai 6,022 x 10 23 partikel
/ mol disebut sebagai tetapan Avogadro, dengan lambang L atau N.

10

Tabel 06.6 Jumlah partikel dalam beberapa zat.

Rumus kimia suatu senyawa menunjukkan perbandingan jumlah atom yang ada dalam senyawa
tersebut.
Tabel 06.7 Perbandingan atom-atom dalam H2SO4

1 mol zat mengandung 6,022 x 10 23 partikel


Contoh:
Satu molekul air (H2O) terdapat 6,022 x 10 23 molekul H2O.
Ada berapa atom dalam 1 mol air tersebut?
Jawab :
Satu molekul air (H2O) tersusun oleh 2 atom H dan 1 atom O.
Jadi 1 molekul air tersusun oleh 3 atom.
1 mol H2O mengandung 6,022 x 10 23 molekul atau
3 x 6,022 x 10 23 atom = 1,806 x 10 23 atom
HUBUNGAN MOL DENGAN PARTIKEL
11

Rumus :
Keterangan :
n = jumlah mol
= jumlah partikel
MASSA MOLAR ( M )
Massa satu mol zat dinamakan massa molar (lambang M).
Besarnya massa molar zat adalah massa atom relatif atau massa molekul
relatif zat yang dinyatakan dalam satuan gram
Tabel 06.8 Massa molar beberapa zat

Massa suatu zat merupakan perkalian massa molarnya (g/mol) dengan mol zat tersebut (n).
Contoh soal :
1.

Jika diketahui Ar H = 1 ; Ar O = 16
Berapa massa 2 mol H2O?
Jawab :
Mr H2O = ( 2 . Ar H ) + ( 1 . Ar O )
= ( 2 x 1 ) + ( 1 x 16 )
= 18
Massa molar H2O = 18 g/mol
Jadi massa 2 mol H2O = 2 mol x 18 g/mol
= 36 gram

VOLUM MOLAR GAS (V)


12

Volum molar gas adalah volum 1 mol gas. Menurut Avogadro, pada suhu dan
tekanan yang sama, gas-gas bervolum sama akan mengandung jumlah molekul yang
sama pula. Artinya, pada suhu dan tekanan yang sama, gas-gas dengan jumlah molekul
yang sama akan mempunyai volum yang sama pula. Oleh karena 1 mol setiap gas
mempunyai jumlah molekul sama yaitu 6,02 x 10

23

molekul, maka pada suhu dan

tekanan yang sama, 1 mol setiap gas mempunyai volum yang sama. Jadi, pada suhu dan
tekanan yang sama, volum gas hanya bergantung pada jumlah molnya.
rumus :
keterangan :
V = volum gas
n = jumlah mol
Vm = volum molar

E.

PERSEN MASSA
Menghitung persen massa:

% massa =
F.

jumlah atom x Ar
Mr

x 100%

RUMUS EMPIRIS DAN RUMUS MOLEKUL


Rumus Empiris
Rumus empiris adalah rumus kimia yang menyatakan perbandingan terkecil
jumlah atom-atom pembentuk senyawa. Misalnya, senyawa etena yang memiliki rumus
molekul C2H4, maka rumus empiris senyawa tersebut adalah CH2.
Dalam menentukan rumus empiris yang dicari terlebih dahulu adalah massa
atau persentase massa dalam senyawa, kemudian dibagi dengan massa atom relatif (Ar)
masing-masing unsur. artinya untuk menentukan rumus empiris yang perlu dicari adalah
perbandingan mol dari unsur-unsur dalam senyawa tersebut.
13

Contoh : Suatu senyawa mengandung 64,6 gr Na, 45,2 gr S dan 90 gr O. Jika diketahui
Ar.Na = 23, Ar.S = 32, dan Ar.O = 16. Maka tentukan rumus empiris senyawa tersebut?

Jawab : Mol Na =

64,6
23

Mol S =

45,2
32

Mol O =

90
16

= 2,8

= 1,4

= 5,6

Jadi rumus empiris senyawa tersebut adalah Na2SO4.


Rumus Molekul
Rumus molekul adalah rumus kimia yang menyatakan jenis dan jumlah atom
yang menyusun suatu senyawa. Misalnya: C 2H4 (etena), CO(NH2)2 (urea) dan asam asetat
atau asam cuka (CH3COOH). Rumus molekul dapat didefinisikan sebagai rumus kimia
yang menyatakan perbandingan jumlah dan jenis atom sesungguhnya dari suatu senyawa.
Dari rumus molekul asam cuka diketahui bahwa rumus molekul tersebut tidak
ditulis C2H4O2. Beberapa alasan rumus molekul asam cuka tidak ditulis demikian yaitu :
1. Untuk membedakan dengan senyawa lain yang memiliki jumlah atom penyusun yang
sama misalnya metil format (HCOOCH3).
2. Rumus molekul menggambarkan struktur molekul. Artinya dari rumus molekul kita
dapat menunjukan atom-atom saling berikatan. Pada molekul asam cuka atom C yang
pertama mengikat 3 atom H dan 1 atom C berikutnya dan atom C berikunya mengikat
2 atom O kemudian 1 atom O mengikat 1 atom H.
Contoh soal menentukan rumus molekul dari rumus empiris

14

200 g senyawa organik mempunyai massa molekul relatif = 180, senyawa ini
terdiri dari 40% karbon, 6,6% hidrogen dan sisanya adalah oksigen. Jika diketahui Ar.C =
12, Ar.H = 1, dan Ar.O = 16. Maka tentukan rumus molekul senyawa ini?
Jawab :

massa Karbon =

massa Hidrogen =

40
x 200=80 gr
100

6,6
x 200=13,2 gr
100

massa Oksigen = 200 (80 + 13,2) = 106,8 gr

mol C : mol H : mol O =

80 13,2 106,8
:
:
=6,67 :13,2 :6,67=1:2 :1
12 1
16

Jadi rumus empiris senyawa tersebut adalah CH2O


Dari rumus molekul yang telah diperoleh maka rumus molekul dapat ditentukan sebagai
berikut :
(CH2O)n
(Ar C x n) + (2.Ar H x n) + (Ar.O) = Mr senyawa
12n + 2n + 16n = 180
30n = 180
n=6
jadi rumus molekulnya adalah C6H12O6.
Menentukan Rumus Empiris dan Rumus Molekul Berdasarkan Ar dan Mr
15

Tentukan rumus molekul yang dimiliki senyawa dengan umus empiris CH, jika
diketahui Mr senyawa tersebut adalah 78?
Jawab :
Mr senyawa = (CH)n
78 = (12 + 1)n
78 = 13n
n=6
jadi rumus molekul yang dimiliki senyawa tersebut adalah (CH)n = C6H6
Contoh Soal :
Massa molekul relatif suatu senyawa organik yang memiliki rumus empiris CH 2O
adalah 180, jika diketahui Ar.C= 12, Ar.H =1 Ar.O = 16, tentukan rumus molekul
senyawa tersebut?
Jawab :
Mr senyawa = (CH2O)n
180 = (12 + 2+ 16)n
180 = 30n
n=6
jadi rumus molekul yang miliki senyawa tersebut adalah (CH2O)n = C6H12O6
G.

STOIKIOMETRI REAKSI KIMIA


Reaksi Kimia dan Persamaan Reaksi
Langkah-langkah menyetarakan persamaan reaksi kimia:
16

Langkah 1: Tulis persamaan reaksi tak seimbang, perhatikan rumus molekulnya yang benar.
Langkah 2: Persamaan reaksi dibuat seimbang dengan cara menyesuaikan koefisien yang
dijumpai pada rumus bangun pereaksi dan hasil reaksi, sehingga diperoleh jumlah setiap macam
atom sama pada kedua sisi anak panah.
Contoh soal:
Larutan asam klorida (HCl) ditambahkan ke dalam larutan Na2CO3 hsil reaksinya adalah
natrium klorida (NaCl), gas karbon dioksida
Langkah 1:
Tuliskan persamaan reaksi yang belum setara dengan cara menuliskan rumus molekul pereaksi
dan hasil reaksi yang benar.
Na2CO3 HCl

NaCl

H
2O CO2

Langkah 2:
Tempatkan koefisien di depan rumus molekul agar reaksinya seimbang. Kita mulai dengan
Na2CO3. Dalam rumus molekul hanya ada dua atom Na, untuk membuat seimbang kita
tempatkan koefisien 2 di depan NaCl. Dengan demikian diperoleh:
Na2CO3 HCl

2 NaCl

H
2O CO2

Meskipun jumlah Na sudah seimbang, tetapi Cl belum seimbang, hal ini dapat diperbaiki dengan
cara menempatkan koefisien 2 di depan HCl. Ternyata penempatan angka ini menyebabkan
hidrogen juga menjadi seimbang.
Na2CO3 2 HCl

2 NaCl

H
2O CO2

Perhatikan bahwa tindakan ini juga menyeimbangkan hidrogen dan perhitungan dengan cepat
tiap unsur menunjukkan bahwa persamaan tersebut sekarang telah seimbang.
Perhitungan Berdasarkan Persamaan Reaksi
Persamaan reaksi dapat diartikan bermacam-macam. Sebagai contoh kita ambil
pembakaran etanol, C2H5OH.
C2 H 5OH 3O
2

2CO2 3H 2O

17

Pada tingkat molekul yang submikroskopik, kita dapat memandang sebagai reaksi antara
molekul-molekul individu.
1 molekul C2H5OH + 3 molekul O2 2 molekul CO2 + 3 molekul H2O.
Kita bisa menuliskan persamaan reaksi di atas sbb:
2 molekul C2H5OH + 6 molekul O2 4 molekul CO2 + 6 molekul H2O.
Asalkan perbandingan koefisiennya tetap yaitu 1:3:2:3.
Contoh soal:
Berapa jumlah molekul oksigen yang dibutuhkan untuk pembakaran 1,80 mol C2H5OH.
Persamaan reaksi yang terjadi adalah :
C2 H 5OH 3O
2

2CO2 3H 2O

Jawab :
Koefisien dari persamaan reaksi ini memperlihatkan hubungan:
Mol O2 = 3 x mol C2H5OH = 3 x 1,80 = 5,40 mol.

Perhitungan Pereaksi Pembatas


Jika kita mereaksikan senyawa kimia, biasanya kita tidak memperhatikan berapa jumlah
reagen yang tepat supaya tidak terjadi kelebihan reagen-reagen tersebut. Seringkali terjadi satu
atau lebih reagen berlebih dan dan bila hal ini terjadi maka suatu reagen sudah habis digunakan
sebelum yang lainnya habis. Sebagai contoh, 5 mol H2 dan 1 mol O2 dicampur dan terjadi reaksi
dengan persaman reaksinya.
2 H 2 O
2

2 H 2O

Koefisien reaksi itu menyatakan bahwa dalam persamaan tersebut 1 mol O2 akan mampu
bereaksi seluruhnya karena kita mempunyai lebih dari 2 mol H2 yang diperlukan. Dengan kata
lain, terdapat lebih dari cukup H2 untuk bereaksi sempurna dengan semua O2. Pada akhir reaksi
kita akan memperoleh sisa H2 yang tidak bereaksi sebersar 3 mol.
Dalam contoh ini O2 diacu sebagai pereaksi pembatas karena bila habis tidak ada reaksi
lebih lanjut yang dapat terjadi dan tidak ada lagi produk (H2O) yang dapat terbentuk.
Contoh soal :

18

Seng dan belerang direaksikan membentuk seng sulfida, suatu zat yang digunakan untuk
melapisi permukaan bagian dalam tube monitor TV. Persamaan reaksinya adalah:

Zn S ZnS
Dalam percobaan 12 g Zn dicampur dengan 6,5 g S dan dibiarkan bereaksi:
a. reaktan mana yang menjadi pereaksi pembatas?
b. Berapa gram ZnS yang terbentuk, berdasarkan pereaksi pembatas yang ada dalam campuran.
c. Berapa gram sisa pereaksi yang lain, yang akan tetap tidak bereaksi dalam eksperimen ini?
Jawab :
12
0,183mol
65, 4

a.

mol Zn =
6,5
32,1

mol S =

=0,202 mol

untuk menentukan mana yang menjadi pereaksi pembatas, kita bagi reaktan dengan
koefisiennya masing-masing. Harga yang paling kecil akan menjadi pereaksi pembatas.
Mol Zn/koefisen = 0,183/1=0,183
Mol S/koefisien = 0,202/1=0,202
Kesimpulan : Zn yang menjadi pereaksi pembatas.
b. mol Zn S= mol Zn =0,183mol.
massa ZnS = 0,183 x 97,5 g = 17,8 g.
c. mol sisa S = 0,202 -0,183 = 0,019 mol
massa S = 0,019 x 32,1 = 0,61 g
Contoh soal :
Etilena, C2H4, terbakar di udara membentuk CO2 dan H2O menurut persamaan reaksi:
C2 H 4 3O
2

2CO2

2 H 2O

Berapa gram CO2 yang terbentuk jika campuran ini mengandung 1,93 g C2H4 dan 5,92 g O2 yang
terbakar.
Jawab :
19

Mol C2H4 = 1,93/28 = 0,0689 mol


Mol O2 = 5,92/32 = 0,185 mol
Mol C2H4/ koefisien = 0,0689/1 = 0,0689
Mol O2/koefisien = 0,185/3 = 0,0617 mol
Mol O2/koefisien < Mol C2H4/ koefisien
Pereaksi pembatas adalah O2. Mol CO2 =2/3 x mol O2 =2/3 x 0,185 mol = 0,1233 mol
Massa CO2 = 0,1233 x 44 = 5,43 g.
Reaksi dalam Larutan
Konsentrasi Molar
Kemolaran adalah suatu cara untuk menyatakan konsentrasi (kepekatan) larutan.
Menyatakan jumlah mol zat terlarut dalam tiap liter larutan, atau jumlah mmol zat terlarut
dalam tiap mL larutan .
Rumus :
Keterangan:
M = kemolaran larutan
n = jumlah mol zat terlarut
V = volum larutan
Misalnya : larutan NaCl 0,2 M artinya, dalam tiap liter larutan terdapat 0,2 mol (= 11,7
gram) NaCl atau dalam tiap mL larutan terdapat 0,2 mmol (= 11,7 mg) NaCl.
Pengenceran
Dalam pekerjaan sehari-hari di laboratorium, biasanya kita menggunakan larutan yang
lebih rendah konsentrasinya dengan cara menambahkan pelarutnya, misalnya banyak
laboratorium kimia membeli larutan senyawa kimia dalam konsentrasi yang pekat. Biasanya
senyawa kimia yang dibeli ini demikian pekatnya, sehingga larutan ini harus diencerkan. Proses
pengenceran adalah mencampur larutan pekat (konsentrasi tinggi) dengan cara menambahkan
20

pelarut agar diperoleh volume akhir yang lebih besar. Proses pengenceran dapat dirumuskan
secara singkat sbb:
M 1V1 M 2V2

Contoh soal :
Berapa mL H2SO4 pekat (18,0 M) yang dibutuhkan untuk membuat 750 ml larutan larutan H2SO4
3,00 M?
Jawab :
M 1V1 M 2V2
18V1 3(750)

V1

H.

3(750)
125ml
18

Stoikiometri Reaksi dalam Larutan


Hubungan kuantitatif suatu reaksi dalam larutan tepat sama dengan reaksi ini bila terjadi
dimana saja. Koefisien dalam persamaan reaksi merupakan perbandingan mol yang dibutuhkan
untuk menyelesaikan soal stoikiometrinya.
Contoh Soal:
Alumunium hidroksida, Al(OH)3, salah satu komponen antasida, dapat dibuat dari reaksi
alumunium sulfat, Al2(SO4)3 dengan natrium hidroksida, NaOH. Persamaan reaksinya adalah:
Al2 ( SO4 )3 (aq ) 6 NaOH (aq
)

2 Al (OH )3 ( s ) 3Na2 SO4 (aq )

Berapa mililiter larutan NaOH 0,200 M dibutuhkan untuk direaksikan dengan 3,50 g Al2(SO4)3?
Jawab :
Mr Al2(SO4)3 = 342,2 g/mol
Mol Al2(SO4)3 = 3,5 /342,2 = 1,02 x 10-2 mol
Mol NaOH = 6/1 x mol Al2(SO4)3 =6 x1,02 x 10-2 mol=6,12 x 10-2 mol
V NaOH = mol/Molaritas = 6,12 x 10-2 mol/0,200 M =0,306 l = 306 ml

21

I.

Stoikiometri Reaksi Fasa Gas


Menurut Avogadro, pada suhu dan tekanan yang sama gas-gas bervolume sama
mengandung jumlah molekul yang sama pula. Hal itu juga berarti bahwa pada suhu dan tekanan
yang sama gas-gas dengan jumlah molekul yang sama akan mempunyai volume yang sama. Pada
kondisi tekanan 1 atm dan temperatur 0o C atau disebut juga dengan keadaan standar (Standard
Temperature and Pressure) volum 1 mol gas adalah 22,4 liter.
PV
nT

= R atau PV = nRT

Keterangan:
P : tekanan (atm)
V : volume (liter)
n : jumlah mol (mole)
T : suhu (Kelvin/K)
R : konstanta gas universal = 0,082 .atm.mol-1K-1

22