Anda di halaman 1dari 15

PROPOSAL

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK)


A. TOPIK
Terapi Aktivitas Kelompok : Perilaku kekerasan
Sesi III : Mengontrol PK dengan latih bicara/ komunikasi verbal
dengan orang lain

B. LATAR BELAKANG
Umumnya klien dengan perilaku kekerasan dibawa dengan paksa
ke rumah sakit jiwa. Sering tampak klien diikat secara tidak manusiawi
disertai bentakan dan pengawalan oleh sejumlah anggota keluarga
bahkan polisi. Perilaku kekerasan seperti memukul anggota keluarga/
orang lain, merusak alat rumah tangga dan marah-marah merupakan
alasan utama yang paling banyak dikemukakan oleh keluarga.
Penanganan yang dilakukan oleh keluarga belum memadai sehingga
selama perawatan klien seyogyanya sekeluarga mendapat pendidikan
kesehatan

tentang

cara

merawat

klien

(manajemen

perilaku

kekerasan).
Asuhan keperawatan yang diberikan di rumah sakit jiwa terhadap
perilaku kekerasan perlu ditingkatkan serta dengan perawatan intensif
di rumah sakit umum. Asuhan keperawatan perilaku kekerasan (MPK)
yaitu asuhan keperawatan yang bertujuan melatih klien mengontrol
perilaku kekerasannya dan pendidikan kesehatan tentang MPK pada
keluarga. Seluruh asuhan keperawatan ini dapat dituangkanmenjadi
pendekatan proses keperawatan.
Perilaku kekerasan merupakan salah satu jenis gangguan jiwa.
WHO (2001) menyatakan, paling tidak ada satu dari empat orang di
dunia mengalami masalah mental. WHO memperkirakan ada sekitar
450 juta orang di dunia mengalami gangguan kesehatan jiwa. Pada
masyarakat umum terdapat 0,2 0,8 % penderita skizofrenia dan dari
120 juta penduduk di Negara Indonesia terdapat kira-kira 2.400.000
orang anak yang mengalami gangguan jiwa (Maramis, 2004 dalam
Carolina, 2008). Data WHO tahun 2006 mengungkapkan bahwa 26
juta penduduk Indonesia atau kira-kira 12-16 persen mengalami
gangguan jiwa. Berdasarkan data Departemen Kesehatan, jumlah
penderita gangguan jiwa di Indonesia mencapai 2,5 juta orang (WHO,
2006).
C. TUJUAN

1. Tujuan Umum
Klien dapat megontrol perilaku kekerasan
2. Tujuan Khusus / Kriteria Evaluasi
a.
b.
c.
d.
e.

Klien dapat menyebutkan pengertian perilaku kekerasan


Klien dapat menyebutkan penyebab perilaku kekerasan
Klien dapat menyebutkan tanda dan gejala perilaku kekerasan
Klien dapat menyebutkan akibat dari perilaku kekerasan
Klien dapat menyebutkan cara mengontrol pk dengan cara
latihan III : melakukan interaksi social dengan orang lain secara
verbal
D. LANDASAN TEORI

1. Pengertian
Perilaku

kekerasan

adalah

suatu

keadaan

dimana

seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara


fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun lingkungan. Hal
tersebut dilakukan untuk mengungkapkan perasaan kesal atau
marah yang tidak konstruktif. (Stuart dan Sundeen, 1995)
Perilaku kekerasan/amuk dapat disebabkan karena frustasi,
takut, manipulasi atau intimidasi. Perilaku kekerasan merupakan
hasil konflik emosional yang belum dapat diselesaikan. Perilaku
kekerasan juga menggambarkan rasa tidak aman, kebutuhan akan
perhatian dan ketergantungan pada orang lain.
2. Penyebab
Faktor predisposisi
Berbagai pengalaman yang dialami tiap orang mungkin
menjadi faktor predisposisi yang mungkin/ tidak mungkin terjadi jika
faktor berikut dialami oleh individu :
a.

Psikologis;

kegagalan

yang

dialami

dapat

menimbulkan frustasi yang kemudian dapat timbul agresif atau


amuk.
b.

Perilaku,
melakukan

reinforcement

kekerasan,

sering

yang

diteima

mengobservasi

ketika

kekerasan,

merupakan

aspek yang

menstimuli mengadopsi

perilaku

kekerasan
c.

Sosial budaya; budaya tertutup, control sosial yang


tidak pasti terhadap perilaku kekerasan menciptakan seolaholah perilaku kekerasan diterima

d.

Bioneurologis;

kerusakan

sistem

limbic,

lobus

frontal/temporal dan ketidakseimbangan neurotransmiser


Faktor presipitasi
Bersumber dari klien (kelemahan fisik, keputusasaan,
ketidak berdayaan, percaya diri kurang), lingkungan (ribut, padat,
kritikan

mengarah

penghinaan,

kehilangan

orang

yang

dicintai/pekerjaan dan kekerasan) dan interaksi dengan orang


lain( provokatif dan konflik). (Budiana Keliat, 2004)
3. Tanda dan Gejala
Fisik
a. Mata melotot/ pandangan tajam
b. Tangan mengepal
c. Rahang mengatup
d. Wajah memerah
e. Postur tubuh kaku

Verbal
a. Mengancam
b. Mengumpat dengan kata-kata kotor
c. Suara keras
d. Bicara kasar, ketus
Perilaku
a.

Menyerang orang lain

b.

Melukai diri sendiri/ orang lain

c.

Merusak lingkungan

d.

Amuk/ agresif

Faktor yang berhubungan


a.

Ketidakmampuan mengendalikan dorongan marah

b.

Stimulus lingkungan

c.

Konflik interpersonal

d.

Status mental

e.

Putus obat

f.

Penyalahgunaan narkoba/ alkoholik


Untuk menegakkan diagnosa ini perlu didapatkan data utama

a.

Sikap bermusuhan

b.

Melukai diri/ orang lain

c.

Merusak lingkungan

d.

Perilaku amuk/ agresif

4. Rentang Respon Marah


Adaptif
Maladaptif
Asertif

Frustasi

Agresif
Klien
an

Amuk/PK

mampu Klien

mengungkapk

Pasif

gagal Klien

mencapai

marah tujuan

tidak

merasa Klien
dapat mengekspresik

an diri secara bermusuha

an

fisik, tapi masih n

kepuasan/sa

menyalahkan

at marah dan perasaannya,

dan tidak

marah dan

mengungkapk

tanpa
orla

Perasaan

dapat tidak

terkontrol,

kuat

berdaya mendorong orla hilang

yang
dan

memberikan

menemukan

kelegaan

alternatif

dan menyerah

dengan

control,

ancaman

disertai
amuk,
merusak
lingkungan

5. Akibat
Klien dengan perilaku kekerasan dapat melakukan tindakantindakan

berbahaya

bagi

dirinya,

orang

lain

maupun

lingkungannya, seperti menyerang orang lain, memecahkan


perabot, membakar rumah dll.
E. KLIEN
1. Karakeristik / Kriteria
Klien dengan gangguan sensori persepsi: perilaku kekerasan
dengan karakteristik :

Klien berbicara mengancam dengan suara keras

Klien dengan mata melotot, tangan mengepal, wajah memerah,


dan postur tubuh kaku

Klien yang mengamuk, menyerang orang lain, melukai diri


sendiri, atau merusak lingkungan

2. Proses Seleksi
a.

Pengkajian
Perawat

mengidentifikasi

jumlah

pasien

dan

masalah

keperawatan yang ada di ruangan. Pasien di ruang garuda


berjumlah 5 orang.
b.

Perawat mengidentifikasi jenis terapi aktivitas kelompok


yang akan dilakukan, yaitu Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) :
Prilaku Kekerasan

c.

Perawat mengidentifikasi pasien yang akan mengikuti Terapi


Aktivitas Kelompok (TAK) : Perilaku kekerasan. Dimana pasien
yang akan mengikuti TAK perilaku kekerasan tersebut adalah
pasien dengan masalah keperawatan perilaku kekerasan,
dengan ketentuan sebagai berikut :

Klien tidak disorientasi

Klien tidak inkoheren

Sehat fisik

Klien cukup kooperatif (kerjasama)

Dapat memahami pesan yang diberikan atau mampu


berkonsentrasi lebih dari 15 menit

d.

Mengklarifikasi pasien sesuai kriteria dan bekerjasama


dengan perawat di ruangan

e.
3.

Mengadakan kontrak dengan klien


Jumlah klien

Klien perilaku kekerasan yang mengikuti TAK berjumlah 5 orang


yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
F.

Tn. A
Tn. C
Tn. D
Tn. U
Tn. A

PENGORGANISASIAN
1. Uraian Struktur Kelompok
a.

Tempat Pertemuan : Ruang Kasuari

b.

Hari / Tanggal

: Kamis/ 15 januari 2015

c.

Waktu

: 11.00-11.45 WIB

d.

Lama

: 45 Menit

e.

Perilaku yang diharapkan : Klien mampu mengenal perilaku


kekerasan yang biasa dilakukan dan mengontrol PK.

2. Metode
1. Dinamika Kelompok
2. Diskusi dan tanya jawab
3. Simulasi, berkenalan, memperkenalkan diri
3. Alat yang digunakan
1. Kertas HVS
2. Spidol
3. Bola
4. MP3 player handphone dan speaker power
4. Tim Terapis
a. Pimpinan Kelompok (Leader) : Mariana Jenes E. Sigakole
Tugas :
-

Menyusun rencana aktivitas kelompok (proposal)

Mengarahkan kelompok dalam mencapai tujuan

Memfasilitasi

setiap

anggota

untuk

mengekspresikan

perasaan, mengajukan pendapat dan memberikan umpan


balik
-

Sebagai role model

Memotivasi kelompok untuk mengemukakan pendapat dan


memberikan umpan balik, mengungkapkan perasaan dan
pikiran

Menciptakan suasana dimana anggotanya dapat menerima


perbedaan dalam perasaan dan perilaku dengan anggota
lain

Membuat tata tertib bagi kelompok demi kelancaran diskusi

b. Pembantu pimpinan kelompok (Co Leader) : Rahmiati


Tugas :
-

Membantu leader dalam mengorganisir anggota kelompok

Menyampaikan informasi dari fasilitator kepimpinan

Mengingatkan pimpinan bila diskusi menyimpang

Bersama leader menjadi contoh untuk kerjasama yang baik

c. Fasilitator :
Olivia Salindeho
Mery Tania
Tugas :
-

Membantu leader memfasilitasi dan memotivasi anggota


untuk berperan aktif

Menjadi aktif bagi klien selama proses kegiatan

d. Observer : Maria F. Evlyn


Tugas :
-

Mengobservasi setiap respon klien

Mencatat semua proses yang terjadi dan semua perubahan


perilaku klien

5.

Memberikan umpan balik pada kelompok

Setting Tempat
-

Peserta dan terapis duduk bersama dalam lingkaran

Tempat tenang dan nyaman.

CL

F
Observer
pasien

Observer
waktu

Keterangan :
L

: Leader

CL

: Co-Leader

: Fasilitator

Obs

: Observer
: Peserta

G. TATA TERTIB DAN PROGRAM ANTISIPASI


Tata tertib :
1. Peserta bersedia mengikuti kegiatan TAK
2. Berpakaian rapid an bersih
3. Peserta tidak diperkenankan makan, minum dan merokok
selama kegiatan TAK
4. Peserta tidak boleh meninggalkan ruangan sebelum tata tertib
dibacakan selama 5 menit, dan bila peserta tidak kembali ke
ruangan maka peserta tersebut diganti peserta cadangan.
5. Peserta tidak diperkenankan meninggalkan ruangan setelah
tata tertib dibacakan. Bila peserta meninggalkan ruangan dan
tidak bisa mengikuti kegiatan lain setelah dibujuk oleh fasilitator,
maka peserta tersebut tidak dapat diganti oleh peserta
cadangan.
6. Peserta hadir 5 menit sebelum kegiatan dimulai
7. Peserta yang ingin mengajukan pernyataan, mengangkat
tangan terlebih dahulu dan berbicara setelah dipersilahkan.
Program Antisipasi
1.
Usahakan dalam keadaan terapeutik
2.
Anjurkan kepada terafis agar dapat menjaga
perasaan anggota kelompok, menahan diri untuk tertawa atau
sikap yang menyinggung.

3.

Bila ada peserta yang direncanakan tidak bisa hadir,


maka diganti oleh cadangan yang telah disiapkan dengan cara

4.

ditawarkan terlebih dahulu kepada peserta.


Bila ada peserta yang tidak menaati tata tertib,
diperingatkan dan jika tidak bisa diperingatkan, dikeluarkan dari

5.

kegiatan setelah dilakukan penawaran.


Bila ada anggota cadangan yang ingin keluar,

bicarakan dan dimintai persetujuan dari peserta TAK yang lain.


6.
Bila ada peserta TAK yang melakukan kegiatan
yang tidak sesuai dengan tujuan, leader memperingatkan dan
mengarahkan

kembali

bila

tidak

bisa,

dikeluarkan

dari

kelompok.
7.

Bila peserta pasif, leader memotivasi dibantu oleh


fasilitator.

H.

PROSES PELAKSANAAN
1. Tahap Persiapan
o Memilih klien perilaku kekerasan yang sudah kooperatif
o Membuat kontrak dengan klien
o Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
2. Fase Orientasi
a. Salam Terapeutik
-

Salam terapeutik
Selamat pagi semuanya?.

Perkenalkan nama dan panggilan terapis (pakai

papan nama)
Memperkenalkan co leader, fasilitator dan observer
Menanyakan nama dan panggilan semua klien (beri
papan nama)

b. Evaluasi / Validasi

Menanyakan perasaan klien pada saat ini


Bagaimana kabarnya hari ini? Bagaimana perasaan hari
ini?

c. Kontrak
-

Menjelaskan tujuan kegiatan


Hari ini kita berkumpul untuk saling membicarkan tentang
perilaku kekerasan yang biasa bapak-bapak lakukan.

Menjelaskan aturan main yaitu :

Jika ada peserta yang akan meninggalkan kelompok,


harus minta izin pada pimpinan TAK

Lama kegiatan 45 menit

Setiap klien harus mengikuti kegiatan dari awal sampai


akhir

3. Fase Kerja
o Menjelaskan kegiatan, yaitu MP3 player akan dihidupkan dan
bola diedarkan berlawanan dengan arah jarum jam (yaitu ke
arah kiri).
o Pada saat MP3 player dimatikan maka anggota kelompok yang
memegang bola untuk mengenal perilaku kekerasan yang biasa
dilakukan, dengan cara :
-

Menyebutkan pengertian perilaku kekerasan


Menyebutkan penyebab perilaku kekerasan
Menyebutkan tanda dan gejala perilaku kekerasan
Menyebutkan akibat dari perilaku kekerasan
Menyebutkan cara mengontrol pk dengan cara latihan III :

interaksi verbal
o Ulangi sampai semua anggota kelompok mendapat giliran dan beri
pujian.
o Untuk tiap keberhasilan anggota kelompok dengan memberi tepuk
tangan.

4.

Fase Terminasi
a. Evaluasi
Menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK perilaku
kekerasan
Memberi pujian atas keberhasilan kelompok
b. Rencana Tindak Lanjut
Menganjurkan klien menilai dan mengevaluasi jika terjadi
penyebab marah, yaitu tanda dan gejala, perilaku kekerasan
yang terjadi, serta akibat perilaku kekerasan
Menganjurkan klien mengingat penyebab, tanda dan gejala,
perilaku kekerasan yang terjadi, dan akibatnya yang belum
diceritakan

c. Kontrak
Menyepakati kegiatan berikutnya yaitu cara mencegah
perilaku kekerasan fisik
Menyepakati tempat dan waktu TAK berikutnya
I. Evaluasi dan Dokumentasi
Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung khususnya
pada tahap kerja.Aspek yang dievaluasi adalah kemempuan klien
dengan

tujuan

kekerasan
mengetahui

TAK.Untuk

Sesi

1,

perilaku,

TAK

kemampuan
mengenal

stimulasi

persepsi

perilaku

yang

diharapkan

adalah

tanda

dan

gejala,

perilaku

kekerasan yang dilakukan dan akibat perilaku kekerasan.Formulir


evaluasi sebagai berikut :
Sesi 1 TAK
Stimilasi perilaku Kekerasan

Kemampuan Psikologi
Memberi Tanggapan Tentang
No
.

Nama
klien

Penyeba
b PK

Tanda &
gejala PK

Perilaku
kekerasan

Akibat
PK

Mempraktekkan
cara mengontrol PK
dengan nafas
dalam

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Petunjuk :
1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama
klien.
2. Untuk tiap klien, beri penilaian tentang kemampuan mengetahui
penyebab perilaku kekerasan, tanda dan gejala yang dirasakan,
perilaku

kekerasan

yang

dilakukan

dan

akibat

perilaku

kekerasan, serta mempraktekkan cara mengontrol perilaku


kekerasan dengan nafas dalam. Beri tanda + jika mampu dan
beri tanda - jika tidak mampu.

Dokumentasi
Dokumentasikan kemempuyan yang dimiliki klien saat TAK
pada

catatan

proses

keperawatan

tiap

klien.Contoh:

Klien

mengikuti Sesi 3, TAK stimulus persepsi perilaku kekerasan.Klien


mampu menyebutkan penyebab perilaku kekerasannya( disalahkan
dan tidak diberi uang), mengenal tanda dan gejala yang dirasakan
(gregeten dan deg-degan), perilaku kekerasan yang dilakukan
(memukul meja), akibat yang dirasakan (tangan sakit dan dibawa
ke rumah sakit jiwa), dan cara mengontrol perilaku kekerasan
dengan latihan tarik nafas dalam. Anjurkan klien mengingat dan
menyampaikan jika semua dirasakan selama di rumah sakit.