Anda di halaman 1dari 13

IMPLEMENTASI KEPEMIMPINAN SEKOLAH YANG

DEMOKRATIS

MAKALAH INDIVIDU

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Manajemen Pendidikan

Oleh :
Fitri Kurniasih
NIM. 11511244010

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK BOGA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2015

K AT A P E NG ANT AR
Assalamualaikum, Wr. Wb
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat, hidayah dan karuniaNya, sehingga penyusunan makalah individu yang berjudul Implementasi Kepemimpinan
Sekolah yang Demokratis untuk memenuhi tugas mata kuilah Manajemen Pendidikan dapat
saya selesaikan dengan tepat waktu.
Tugas ini saya buat tidak lepas dari bantuan beberapa pihak. Untuk itu saya selaku penyusun
mengucapkan terima kasih kepada pihk-pihak yang telah membantu dalam penyusunan tugas ini.
Penyusun menyadari bahwa tugsas ini terdapat kekurangan maka dari itu, kami selaku penulis
mengharap saran serta kritik yang membangun sehingga tugas berikutnya dapat tersusun lebih
baik. Harapan penyusun dengan terselesaikannya tugas ini semoga dapat bermanfaat bagi pihak
lain dan dapat diterima dengan baik.
Walaikumsalam, Wr. Wb
Yogyakarta, Desember 2015

Penyusun
(Fitri Kurniasih)

DAFTAR ISI

HALAMAN J UDUL
KATA PENGANTAR .....................
DAFTAR ISI ..
BAB I. PENDADULUAN .
A.
Latar
Belakang
Masalah
..
B.
Rumusan
Masalah

C.
Tujuan
Masalah
........
BAB II. PEMBAHASAN .
A.
Kepemimpinan
..............................
1. Pengertian Kepemimpinan...
2. Teori Kepemimpinan .......
3. Tipe dan Gaya Kepemimpinan ...
B.
Kepemimpinan
dalam
Pendidikan
.....................
1. Kepemimpinan Pendidikan
2. Kompetensi Seorang Pemimpin ..
3. Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin .
C.
Kepemimpinan
Pendidikan
yang
Demokratis
...
BAB III. PENUTUP
A.
Simpulan
.
.....................
B.
Saran
..................................................
DAFTAR PUSTAKA

Halaman
i
ii
iii

1
1
2
2

3
3
3
4
4
5
5
6
7
7

9
9
9
10

ii

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan baik secara formal, non-formal dan in-formal dan sangat dibutuhkan dalam
kehidupan manusia. Pendidikan merupakan salah satu sarana yang paling utama dalam
pengembangan sumber daya dalam mencerdaskan anak bangsa dan membentuk manusia
yang terampil pada bidangnya.
Dilihat dari segi pendidikan, didalamnya terkandung secara jelas ujuan pendidikan secara
nasional dan secara institusional. Tujuan institusional adalah tujuan yang hendak dicapai oleh
suatu lembaga pendidikan atau satuan pendidikan tertentu. Hamalik (1999:5) dari pengertian
tersebut terdapat beberapa kata kunci yaitu, pertama, tujuan; suatu lembaga pendidikan atau
satuan pendidikan wajib hukumnya memiliki tujuan yang hendak dicapai dan tentunya tujuan
tersebut sudah disepakati terlebih dahulu, suatu lembaga tanpa tujuan yang jelas akan
menimbulkan kebingungan dari setiap stakeholders, sehingga tujuan dari pendidikan
merupakan pokok utama yang harus ditentukan terlebih dahulu
Kedua, lembaga pendidikan atau satuan pendidikan; lembaga merupakan suatu komunitas
orang-orang yang berkompeten yang satu sama lain saling mempengaruhi dan saling
membutuhkan untuk mencapai tujuan bersama, untuk mencapai tujuan tersebut tentu adanya
materi yang bergerak dan yang menggerakan artinya dalam suatu lembaga pendidikan sudah
barang tentu adanya pimpinan dan bawahan atau kepala dan rekan kerja yang lebih spesifik
disebut kepala sekolah dan guru beserta staf.
Sebuah satuan pendidikan bisa maju atau lumpuh bergantung pada skill pemimpin dan
cara kerja guru dalam melayani peserta didik, dua unsur pokok dalam pendidikan adalah
kepala sekolah dan guru yang bisa memberikan warna dan menciptakan skenario
pembelajaran yang mampu mengantarkan peserta didik mencapai tujuan yang mereka
harapkan.
Kepala sekolah merupakan figur sentral dalam pencapaian tujuan pendidikan baik dalam
skala mikro (sekolah) maupun makro (nasional). Karenanya kepala sekolah diharapkan
mampu menterjemahkan peran dan fungsinya dalam kapasitasnya yang kompleks. Suksesnya
kepemimpinan seorang kepala sekolah ditandai oleh adanya sikap kepengikutan dari
bawahannya untuk menjalankan visi dan misinya.
Dalam menjalankan peran dan fungsinya, kepala sekolah (pemimpin) harus memiliki
gaya kepemimpinan yang mengayomi atau human oriented namun tanpa mengesampingkan
hasil kerja bawahannya (task oriented). Hubungan antara kepala sekolah dengan bawahannya
harus menunjukkan sebuah realitas mutualisme, kepala sekolah harus memperlakukan
bawahan layaknya manusia bukan robot.
Dalam makalah ini akan dibahas tentang kepemimpinan kepala sekolah yang demokratis
konteks masa kini yang sesuai dengan realitas dunia pendidikan kita.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang ini adalah:
1. Apa arti kepemimpinan?
2. Bagimana implementasi kepemimpinan pendidikan yang demokratis?
3. Apa peran kepala sekolah sebagi pemimpin pendidikan ?
C. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah:
1. Dapat mengetahui pengertian kepemimpinan, teori kepemimpinan dan berbagai tipe/gaya
kepemimpinan.
2. Dapat mengetahui implementasi kepemimpinan pendidikan yang demokratis.
3. Dapat mengetahui peran kepala sekolah sebagi pemimpin pendidikan.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Kepemimpinan
1. Penger tian Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah terjemahan dari kata leadership yang berasal dari kata leader .
Pemimpin (leader ) ialah orang yang memimpin sedangkan pimpinan merupakan
jabatanya. Dalam pengertian lain, secara etimologi istilah kepemimpinan berasal dari kata
dasar pimpin yang artinya bimbing atau tuntun. Dari kata pimpin lahirlah kata kerja
mempimpin yang artinya membimbing dan menuntun. Berikut adalah beberapa definisi
mengenai pemimpin:
1.
Menurut Robbins (1991), kepemimpinan adalah kemampuan untuk
mempengaruhi sekelompok anggota agar bekerja mencapai tujuan dan sasaran.
2.
Fiedler berpendapat, Leader as the individual in the group given the task of
directing and coordinating task relevant group activities. Pengertian tersebut
menunjukkan bahwa seorang pemimpin adalah anggota kelompok yang memiliki
kemampuan untuk mengarahkan anggota kelompok yang memiliki kemampuan untuk
mengarahkan dan mengoordinasikan kinerja dalam rangka mencapai tujuan.
3.
Kotter berpendapat bahwa kepemimpinan adalah seperangkat proses yang
terutama ditujukan untuk menciptakan organisasi menyesuaikan terhadap keadaankeadaan yang jauh berubah seperti apa seharusnya masa depan itu, mengarahakan
kepada visi, dan memberikan inspirasi untuk mewujudkannya.
4.
Locke (1997) melukiskan kepemimpinan sebagai suatu proses membujuk
(inducing) orang-orang lain menuju sasaran bersama. Definisi ini mencakup tiga hal
yaitu, kepemipinan merupakan suatu konsep relasi, kepemimpinan merupakan suatu
proses, dan kepemimpinan harus membujuk orang-orang lain untuk mengambil
tindakan.
Berdasarkan penjelasan tersebut, pengertian kepemimpinan (leadership) adalah
kemampuan untuk menggerakkan, mempengaruhi, memotivasi, mengajak, mengarahkan,
menasihati, membina, menghukum (kalau perlu) dengan maksud agar manusia sebagai
bagian dari organisasi mau bekerja dalam rangka mencapai tujuan dirinya sendiri maupun
organisasi secara efektif dan efisien. Pengertian ini menunjukkan bahwa dalam
kepemimpinan terdapat tiga unsur, yaitu pemimpin (leader ), anggota (followers) dan
situasi (situation).
Dalam konteks lembaga pendidikan, peran kepemimpinan dilaksanakan oleh kepala
sekolah. Dengan demikian, kepemimpinan pendidikan adalah proses mempengaruhi
semua personel yang mendukung pelaksanaan aktivitas pembelajaran dalam mencapai
tujuan pendidikan.

2. Teor i Kepemimpinan
Studi dan rumusan kepemimpinan yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh
pandangan dan pendekatan yang digunakan sehingga teori-teori dihasilkan. Adapun teoriteori kepemimpinan, yaitu:
a)
Teori Otokaratis dan Pemimpin Otokratis : kepemimpinan didasarkan atas
perintah-perintah, paksaan, dan tindakan-tindakan yang arbiter (sebagai wasit) yang
berorientasi pada sruktur organisasi dan tugas-tugas.
b)
Teori Psikologis : fungsi seorang pemimpin adalah memunculkan dan
mengembangkan sistem motivasi terbaik, untuk merangsang kesediaan bekerja para
pengikut dan anak buah.
c)
Teori Sosiologi : kepemimpinan adalah usaha melancarkan antar-relasi dalam
organisasi dan sebagai usaha menyelesaikan setiap konflik organisatoris antara para
pengikutnya agar tercapai kerja sama yang baik.
d)
Teori Suportif : para pengikut harus berusaha sekutat mungkin dan bekerja
dengan penuh gairah, sedangkan pemimpin akan membimbing dengan sebaikbaiknya melalui kebijakan tertentu.
e)
Teori Laissez Faire : kepemimpinan Laissez Faire ditampilkan seorang tokoh
ketua dewan yang sebenarnya tidak mampu mengurus dan dia meyerahkan
tanggung jawab serta pekerjaan kepada bawahan atau kepada semua anggota.
f)
Teori Kelakuan Pribadi : kepemimpinan jenis ini akan muncul berdasarkan
kualitas-kualitas pribadi atau pola-pola kelakukan para pemimpinnya.
g)
Teori Sifat Orang-orang besar (Traits of great men) : seorang pemimpin dapat
diprediksi dan dilihat dengan melihat sifat, karakter dan perilaku orang-orang besar
yang terbukti sudah sukses dalam menjalankan kepemimpinannya.
h)
Teori Situasi : muculnya seorang pemimpin bersamaan masa pergolakan, kritis
seperti revolusi, pemberontakan, dan lain-lain.
i)
Teori Humanisti/Populistik : fungsi kepemimpinan dengan merealisasi kebebasan
manusia dan memnuhi setiap kebutuhan insani, yang dicapai melalui interaksi
pemimpin dengan rakyat.
3. Tipe dan Gaya Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan adalah sekumpulan ciri yang digunakan pimpinan untuk
memengaruhi bawahan agar sasaran organisasi tercapai atau dapat pula dikatakan bahwa
gaya kepemimpinan adalah pola perilaku dan strategi yang sering disukai dan diterapkan
oleh seorang pemimpin.
a)
Tipe Kepemimpinan Karismatis : kepemimpinan karismatik memiliki energi,
daya tarik, dan pembawaan yang luar biasa untuk mempengaruhi orang lain sehingga
ia mempunyai pengikut yang sangat besar jumlahnya dan bisa dipercaya.
b)
Tipe kepemimpinan paternalistis : kepemimpinan kebapakan dengan sifat-sifat
4

c)

d)
e)
f)

g)
h)

menganggap bawahanya sebagai manusia, melindungi, selalu bersikap maha-tahu dan


maha-benar.
Tipe kepemimpinan Militeristis : sifatnya dengan lebih banyak menggunakan
sistem perintah, kepatuah mutlak dari bawahan, menuntut disiplin, dan tidak
menghendaki saran.
Tipe Kepemimpinan Otokratis : mendasarkan diri pada kekuasaan dan paksaan
yang mutlak harus dipenuhi.
Tipe Kepemimpinan Laissez Faire: seorang pemimpin praktis tidak memimpin
dia membiarkan kelompoknya dan setiap orang berbuat semaunya diri.
Tipe Kepemimpinan Populatis : kepemimpinan yang dapat membangunkan
solidaritas rakyat, misalnya Soekarno dengan ideologi marhaenisme-nya, yang
menekankan masalah kesatuan nasional.
Tipe Kepemimpinan Administratif atau Esekutif : kepemimpinan yang mampu
menyelenggarakan tugas-tugas administrasi secara efektif.
Tipe kepemimpinan Demokratis : kepemimpinan yang berorientasi pada manusia
dan memberikan bimbingan yang efisien kepada pengikutnya.

B. Kepemimpinan dalam Pendidikan


1. Kepemimpinan Pendidikan
Kepemimpinan pendidikan berperan sangat penting dalam rangka mengarahkan dan
menggerakkan organisasi pendidikan untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Saunders
mendefinisikan kepemimpinan pendidikan sebagai, Any act which facilities the
achievement of educational objectives. Definisi tersebut memberikan pengertian bahwa
kepemimpinan pendidikan merupakan setiap tidakan yang dilakukan terhadap fasilitas
pendidikan untuk meraih prestasi dari sasaran pendidikan yang telah ditentukan.
Dalam pengembangan lembaga pendidikan, kepemimpinan pendidikan mempunyai
dua fungsi sebagai berikut:
a)
Mengusahakan keefektifan organisasi pendidikan, ang meliputi adanya etos kerja
yang baik, manajemen terkelola dengan baik, mengusahkan tenaga pendidik yang
memiliki ekspektasi yang tertinggi, mengembangkan tenaga pendidik sebagai model
peran yang positif, memberikan perlakuan balikan positif pada anak didik,
menyediakan kondisi kerja yang baik bagi tenaga pendidik dan staf tata usaha,
memberikan tanggung jawab pada peserta didik dan saling berbagi aktivitas antara
pendidik dan anak didik.
b)
Mengusahakan lembaga pendidikan atau sekolah berhasil (successful school)
yang meliputi melaksanakan fungsi kepemimpinan dengan menekankan pada kualitas
pengajaran dan pembelajaran, memiliki tujuan yang jelas dan ekspektasi yang tinggi
pada tenaga pendidik maupun peserta didik, mengembangkan iklim organisai yang
baik dan kondusif, melakukan monitoring dan evaluasi sebagai bagian dari budaya
organisasi pendidikan di lebaganya, mengelola pengembangan staf, serta melibatkan
5

dukungan stakeholder (masyarakat) dalam pengembangannya.


2. Kompetensi Seor ang Pemimpin
Di samping ketermampilan ini pimpinan lembaga pendidikan juga diwajibkan
memehuhi atau memiliki kompetensi sebagai berikut:
a)
Komitmen terhadap misi lembaga. Pimpinan berkepentingan untuk menjadikan
glambaran bagi lembaganya, membantu mengidentifikasi perilaku yang konsisten
dengan nilai-nilai, dan mendorong staf dan anak didik melaksanakan gambaran yang
pisitif tentang lembaganya baik ke dalam maupun keluar.
b)
Orientasi kepemimpinan proaktif. Adanya kebebasan untuk menyampai-kan atau
berinisiatif ususlan (proposal), rencana, dan kegiatan-kegiatan yang bersifat pribadi
maupun kelompok dalam rangka pencapaian tugas, berperilaku dengan anggapan
sepenuhnya bahwa ia dapat merupakan timbulnya penyebab.
c)
Ketegasan (decisiveness). Pimpinan menunjukkan dirinya selalu siap untuk
mengambil suatu keputusan dan mimilki kemampuan utntuk mengambi suatu
keputusan dan mimiliki kemampuan untuk mengetahui sebelumnya, bahwa suatu
keputusan diperlukan.
d)
Sensitive terhadap buhungan. Baik yang bersifat interpersonal dan organisaasi
(mencari hubungan interpersonal). Pempinan mempertimbang-kan dan
memperhatikan perasaan orng lain.
e)
Pimpinan mengumpulkan informasi, menganalisis pembentukan konsep
f)
Flesibilitas intelektual (flesitibitas kosepsi). Pimpinan mampu mempergunakan
berbagai konsep dan pandangan-pandangan jika memecahakan masalah atau sedang
mengamil suatu keputusan.
g)
Persuasive dan memanajemen interasi. Pimpinan menunjukkan atau
mendomentrasikan keterampilan proses pembentukan keompok yang baik dan
keterampilan fasilitas.
h)
Kepemimpinan beradaptasi secara taktis. Pimpinan mampu menentukan dan
memverbalkan rasional yang digunakan untuk memilih suatu trategi terhadap
pendengar, maupun menyesuaikan dan menerima strategi yang berbeda jika sati
pendekatan khusus tidak brhasil.
i)
Motivasi dan perhatian terhadap pengembangan (motivasi keberhasilan). Mampu
mewudkan tujuan perorangan menstimlasi pengajar dan sisa untuk mencapai prestasi
yang tinggi.
j)
Control dan evaluasi (manajemen control). Paimpinan mengatur pemberikan
balikan terhdap hasi ekerjaannya ssecara periodi dan perencanaan yang tepat,
penjadwalan dan memonitor semua tugas-tugasyang didelegasiakan.
k)
Komuikasi (penyampaian gagasan secara pribaadi). Pimpinan mampu
menyampaikan gagasan secara jelasm, baik melalui tulisan maupun lisam. Pimpinan
mampu menyampaikan gagan secara tebuka, genius dan tidak mengancam.
6

3. Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin


Kepala sekolah dalam satuan pendidikan merupakan pemimpin. Ia mempunyai dua
jabatan dan peran penting adalam melaksanakan proses pendidikan. Pertama. kepala
sekolah adalah pengelola pendidikan yang artinya di sekolah kepala sekolah bertanggung
jawab terhadap keberhasilan penelenggaraan kegiatan pendidikan dengan cara
melaksanakan administrasi sekolah dengan seluruh substansinya;
Kedua, kepala sekolah adalah pemimpin formal pendidikan di sekolahnya yang
artinya kepala sekolah bertanggung jawab terhada kualitas sumber daya manusia yang
ada agar merka mampu menjalankan tugas-tugas pendidikan. Oleh karena itu, sebagai
pengelola, kepala sekolah memiliki tugas untuk mengembangkan kinerja para personal
(terutama para guru) kearah profesionalisme yang diharapkan.
Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan stidaknya harus memili kompetensi
dasar manajerial sebagai berikut:
1.
Keterampilan Tekniks (Technical Skill) : keterampilan yang berhubungan dengan
pengetahan, metode dan teknik-teknik tertentu dalam menyelesaikan suatu tugas
tertentu.
2.
Keterampilan Manusiawi (Human Skill) : keterampilan yang menunjukkan
kemampuan seorang pemimpin di dalam bekrja melalui orang lain secara efektif dan
utnuk membina kerja sama.
3.
Keterampilan Konseptual (Conceptual Skill) : keterampilan yang menunukkan
kemampuan dalam berfikir, seperti menganalisis suatu masalah, memutuskan dan
memecahkan masalah tersebut dengan baik.
C. Kepemimpinan Pendidikan yang Demokr atis
Kepemimpinan demokratis adalah kepemimpinan yang berorientasi pada manusia dan
memberikan bimbingan yang efiseien kepada para pengikutnya. Terdapat koordinasi
pekerjaan pada semua bawahan, dengan penekanan pada rasa tanggung jawab internal (pada
diri sendiri) dan kerja sama yang baik. Kekuatan kepemimpinan demokratis ini bukan
terletak pada person atau individu pemimpin, melainkan kekuatan justru terletak pada
partisipasi aktif setiap kelompok.
Kepemimpinan demokratis menghargai potensi setiap individu maupun mendengarkan
nasihat dan sugesti bawahan. Juga, bersedia mengakui keahlian para spesialis dengan
bidangnya masing-masing mampu memanfaatkan kapasitas setiap anggota seefektif mungkin
pada saat-saat dan kondisi yang tepat. Kepemimpinan demokratis sering disebut sebagai
kepemimpinan group developer.
Dalam kepemimpinan demokratis ini seorang kepala sekolah akan berperan dalam
pembentukan dan pembangunan iklim dan budaya sekolah, agar tercipta sekolah yang
efektif. Kepemimpinan demokratis dalam bidang pendidikan, mempunyai tanggungjawab
tersendiri artinya kepemimpinan demokratis dalam pendidikan mempunyai sifat
7

tanggungjawab yang berbeda dari kepemimpinan yang lain. Kepemimpinan demokratis


dalam sekolah harus bertanggungjawab terhadap pengalaman-pengalaman di sekolah dalam
membentuk sikap dan perilaku siswa. Tanggung jawab tersebut merupakan satu aspek
penting dalam sistem sekolah, dan merupakan fungsi yang mendasar dalam pelaksanaan
manajemen pendidikan. Menjadi demokratis membutuhkan norma dan rujukan praktis serta
teoritis dari masyarakat yang telah maju dalam berdemokrasi (Abdul Rozak, 2010:36).
Dalam keadaan yang demikian pemimpin-pemimpin pendidikan menghadapi 2 macam
tekanan:
1. Tekanan metoda dan tuntutan penyesuaian untuk melaksanakan tugas kewajiban
2. Tekanan sebagai akibat dari pendapat-pendapat baru dalam berbagai bidang ilmu
pengetahuan.
Seorang pemimpin berkewajiban untuk memperluas penyelidikannya untuk memperoleh
gambaran yang lebih jelas tentang nilai-nilai demokratis dan artinya bagi penghidupan
manusia. Dalam masa perjuangan seperti sekarang ini kita berkewajiban untuk meningkatkan
kepemimpinan demokratis dalam educational enterprise.
Di lingkungan sekolah untuk menjadikan siswa bersikap perilaku demokratis diperlukan
norma yang harus dipahami, diresapi dan dibiasakan melakukan sikap demokratis. Dalam
lingkungan sekolah siswa juga diharapkan sesuai dengan porsinya dibiasakan dapat
menyampaikan pendapat/suaranya.
Kepala sekolah merupakan motor penggerak bagi sumber daya yang ada di sekolah
terutama bagi guru dan karyawan serta siswa. Karena begitu besarnya peranan kepala
sekolah dalam pengelolaan sekolah, maka dapat dikatakan bahwa sebagian besar
keberhasilan sekolah dipengaruhi oleh kualitas dari kepemimpinan kepala sekolah. Peran
kepemimpinan kepala sekolah member pengaruh kuat dalam perencanaan anggaran dan
keberhasilan secara keseluruhan (Mulinda, 2010: 13).
Apa yang harus dilakukan oleh kepala sekolah dalam menanamkan sikap dan perilaku
demokratis kepada para anak didiknya, merupakan program kegiatan yang sesuai dengan
kebutuhan para anak didik, di samping itu juga merupakan program kegiatan yang
mendukung tercapainya tujuan pendidikan nasional, dan mendukung terwujudnya visi
pembangunan nasional

BAB III
PENUTUP
A. SIMPULAN
Kepemimpinan merupakan hasil interaksi antar individu dalam kelompok, bukan sesuatu
yang timbul dari status atau kedudukan seseorang. Status dapat meningkatkan atau merusak
efektivitas sikap pemimpin. Potensi kepemimpinan tidak terpusat pada seorang dua orang
anggota dalam kelompok tetapi semua anggota berperan.
Sifat dan sikap seseorang untuk menjadi seorang pemimpin yang baik adalah dengan
dapat mengambil keputusan dengan bijaksama dan tanggung jawab. Seorang pemimpin
selalu dituntut untuk memperhatikan tujuan bersama. Pencapaian kepemimpinan yang
demokratis harus mampu meningkatkan interaksi kelompoknya dan mampu menciptakan
iklim yang sehat untuk perkembangan anggota kelompoknya. Semuanya akan berjalan
dengan baik apabila anggota kelompok dapat berperan secara aktif.
Di sekolah pelaksanaan kepemimpinan pendidikan yang demokratis meruakan hasil
interaksi kelompok yaitu, kepala sekolah dengan guru, siswa dan juga tata usaha, dimana
setiap anggota dipandang memiliki potensi dapat memberikan sumbangan pemikiran yang
dapat dimanfaatkan. Kepala sekolah harus mampu mengusahakan perbaikan dalam
pengajaran akan selalu mencari jalan untuk mengembangkan potensi-potensi kepemimpinan
yang terdapat pada orang-orang lain.
Kepemimpinan pendidikan di sekolah adalah tugas yang sulit bagi seorang kepala
sekolah, penuh dengan tantangan, dan mengandung pesan moral. Kepala-kepala organisasi
termasuk sekolah yang demokratis adalah mereka yang memiliki keinginan untuk melibatkan
staf dan siswa dalam proses pendidikan di sekolah, tidak hanya untuk menghasilkan nilai
yang baik dan tidak untuk membuat staf dan siswa senang, tetapi untuk mendidik anggotaanggota sekolah dalam hal hak dan tanggung jawab mereka.
B. SARAN
Memang tidak mudah menjadi kepala sekolah, banyak hal yang harus dipahami, banyak
masalah yang harus dipecahkan,dan banyak startegi yang harus dikuasai. Karena dalam hal
ini kepala sekolah harus benar-benar memperhatikan semua elemen yang terdapat pada
sekolah, sebut saja perkembangan kinerja guru, administrasi, murid-murid dan pasilitaspasilitas yang dimiliki sekolah..
Dalam hal ini kepala sekolah harus menjadi orang yang demokratis yang selalu siap
berbagi dengan para bawahannya karena dengan demikian seluruh system akan berjalan
dengan sesuai yang diinginkan oleh semua pihak.

DAFTAR PUSTAKA
Abdul Rozak dan A. Ubaedillah, 2010, Demokrasi Hak Asasi Manusia dan MasyarakatMadani,
Jakarta: Prenada Media Group.
Didin Kurniadin dan Imam Machali. 2013. Manajemen Pendidikan: Konsep dan Prinsip
Pengelolaan Pendidikan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
R Iyeng Wiraputra. 1976. Beberapa Aspek Dalam Kepemimpinan Pendidikan. Institut Keguruan
dan Ilmu Pendidikan Bandung: Bangung.
Soegito, 2011, Kepemimpinan Manajemen Berbasis Sekolah , Semarang: UNNES Press
Wahjosumidjo. 2010. Kepemimpinan Kepala Sekolah: Tinjauan Teoritik dan Permasalahannya .
PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta

10

Beri Nilai