Anda di halaman 1dari 15

BIJI LABU MERAH UNTUK MENGOBATI CACING PITA

DISUSUN OLEH :
1. ELFRIZA.RIZKI KARTIKA G1F007020
2. FIQIH NURKHOLIS G1F007024
3. HOIRUL MUSTAKIM G1F007062
4. ASRARAHAMA A.P G1F007098

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS JENDRAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN FARMASI
PURWOKERTO
2008

www.hoirulblog.co.cc
BAB I
PENDAHULUAN

Telah dibicarakan secara global diagnosis dan terapi taeniasis maupun


sistiserkosis beserta masalahnya. Diagnosis taeniasis ditegakkan dengan
menemukan telur atau proglotidnya di dalam tinja penderita. Sedangkan diagnosis
untuk sistiserkosis berupa biopsi kista subkutan dan pemeriksaan penunjang
diagnosis seperti foto rontgen, funduskopi, dan uji serologik serta gejala-gejala
klinik yang menyokong. Pengobatan taeniasis yang dianggap paling baik hingga
saat ini ialah dengan nikrosamid, di samping mebendazol yang masih
diperdebatkan. Sedangkan sistiserkosis ditangani dengan pembedahan dan
kemoterapi Praziquantel yang keampuhannya masih perlu diteliti.
Taeniasis adalah infeksi oleh cacing pita genus Taenia di dalam usus. Ada
dua spesies yang sering sebagai penyebabnya, yaitu Taenia solium dan Taenia
saginata. Sedangkan sistiserkosis ialah infeksi oleh larva taenia (cysticercus) di
dalam jaringan atau organ. Manifestasi klinik sistiserkosis pada umumnya lebih
berat daripada taeniasis, dan tidak jarang berakibat fatal.
Biji labu merah dapat digunakan sebagai obat pencahar dan lunak. Air
perasan buah biasanya dipakai untuk mengobati luka akibat racun binatang.
Sekitar 500-800 buah biji dalam bentuk benih segar tanpa kulit bisa digunakan
sebagai obat cacing pita untuk orang dewasa. Kadang-kadang diberikan sebagai
emulsi (diminum beserta obat pencahar), setelah dicampur dengan air. Pengobatan
demikian amat berkhasiat dan aman tanpa efek sampingan. Bubuk benih halus
telah dipakai dalam schistosomiasis akut (diberikan 3 hari sekali pada pasien
selama sebulan) dan ternyata penderita berhasil mendapatkan kemajuan sebanyak
75%. Biji-biji itu dikenal sebagai Semen Cucurbitae (Biji Waluh; Biji Labu
Merah), yang kaya akan minyak dan dianjurkan sebagai obat cacing pita.

www.hoirulblog.co.cc
BAB II
PEMBAHASAN

Taeniasis adalah infeksi oleh cacing pita genus Taenia di dalam usus. Ada
dua spesies yang sering sebagai penyebabnya, yaitu Taenia solium
dan Taenia saginata. Sedangkan sistiserkosis ialah infeksi oleh larva taenia
(cysticercus) didalam jaringan atau organ. Manifestasi klinik sistiserkosis pada
umumnya lebih berat daripada taeniasis, dan tidak jarang berakibat fatal. Menurut
penelitian di beberapa desa di Indonesia, angka infeksi taenia tercatat 0,8--23%.
Begitu pula sistiserkosis, frekuensinya tidak begitu tinggi. Namun demikian, cara
penanganannya perlu mendapat perhatian, terutama kasus-kasus taeniasis Taenia
solium yang sering menyebabkan komplikasi sistiserkosis. Maksud tulisan ini
ialah untuk membahas cara cara diagnosis dan terapi taeniasis dan sistiserkosis
serta beberapa masalahnya serta pengobatan secara herbal yaitu dengan biji labu
merah (Cucurbitae semen).
LABU MERAH (Cucurbita moschata)
Latin : Cucurbita moschata / Pepo indicus
Indonesia : Labu Merah / Waluh / Labu Manis
English : Pumpkin
Familia : Cucurbitaceae
Cucurbitae Semen terdiri atas biji yang berasal dari buah tanaman
Cucurbitae moshata (Duch) Poir, familia Cucurbitaceae yang masak dan telah
dikeringkan. Tidak berbau, rasa seperti minyak, warna putih kotor atau putih
kekuningan. Biji berbentuk pipih, bentuk bundar telur sampai bundar
memanjang, bagian ujung membulat, bagian pangkal runcing, permukaan biji
buram, licin. Pada sebelah menyebelah permukaan terdapat rusuk yang menebal
lebih kurang 1 mm pada tepi biji dan melintasi bagian sempit dari biji. Panjang
biji 12 mm sampai 25 mm, lebar 7 mm sampai 15 mm, tebal di bagian tengah
tidak kurang dari 2 mm. Kulit biji rapuh, mudah dikelupas, bagian terdalam
berwarna kehijauan, berlekatan dengan inti biji, embrio kecil , terdapat di antara 2
keping biji sempurna, pipih, cembung, kenyal warna putih dan banyak berisi
minyak. Inti biji tanpa endosperm.

www.hoirulblog.co.cc
Tanaman ini dianggap berasal dari Ambon (Indonesia), kini ditanam di
Cina dan di seluruh kepulauan melayu dan bahkan di negara lainnya. Di Indonesia
biasanya ditemukan tumbuh liar di halaman dan di ladang sebagai tanaman untuk
sayur.
Efek Farmakologi, percobaan in vitro menunjukan bahwa dekok 40%
Cucurbitae Semen yang telah dihilangkan lemaknya atau larutan 30% kristal yang
diperoleh dari hasil ekstrasi dan dilarutkan dalam larutan garam fisiologis
memiliki efek paralisis pada bagian tengah dan terminal cacing pita dari sapi dan
babi (Taenia saginata dan Taenia solium). Dekok menyebabkan penipisan,
pelebaran dan kerusakan ujung dan terutama bagian tengah pita. Walaupun
demikian, dekok tidak aktif terhadap scolex dan cacing pita muda. Percobaan in
vitro yang lain menunjukan bahwa 0,2 % kukurbitin tidak memberikan efek
paralisis pada cacing pita dari anjing, tetapi dari aktifitas stimulan yang dimiliki
kukurbitin menyebabkan kontarksi kekejangan pada cacing. Senyawa aktif ini
berefek sinergin dengan arekolin hidrobromida. Efek antelmitik terhadap Taenia
marginata , T. pisiformis dan T. mansoni dilaporkan setelah pemberian 1-5 gram
kukurbitin, kukurbitin perklorat atau kukurbitin hidrobromida secara intragastrik
pada anjing. Pada uji klinis, efektifitas pengobatan sebesar 70% dilaporkan pada
85 kasus setelah pemberian ekstrak hanya satu dari 9 penderita infeksi taenia
saginata dapat disembuhkan oleh pemberian dosis tunggal 120 g Cucurbitae
semen, sementara efektifitas pengobatan sebesar 95.19% dicapai pada 96 kasus
setelah diberi Cucurbitar semen (biji labu merah ) yang dikombinasi dengan
Arecae Semen (biji pinang). Demikian pula, 2 kasus infeksi T.solium tidak
disembuhkan oleh pemberian Cucurbitae Semen sementara 4 kasus dapat
disembuhkan oleh kombinasi Cucurbitae semen dan Arecae Semen. Berdasarkan
hai itu penggunaan Cucurbitae Semen selalu dikombinasikan dengan Arecae
Semen.
Kontraindikasi dan interaksi obat belum diketahui secara jelas.
Karsinogenitas, mutagenitas, teratogenitas dan gangguan fertilitas, penggunaan
pada masa kehamilan, penggunaan pada masa menyusui, penggunaan pada masa
anak-anak belum diketahui secara jelas. Yang penting untuk diketahui, LD50
kukurbitin dan kukurbitin hidroklorida pada mencit adalah 1,25 dan 1,10 g/kg per

www.hoirulblog.co.cc
oral atau kurang lebih 50kg kukurbitin untuk manusia, sedangkan Cucurbitae
Semen lebih besar dari 5 kg.
Efek yang Tidak Diinginkan, pada sedikit penderita dari percobaan klinis
timbul pusing, mual, muntah, kembung, hilang nafsu makan dan diare, tetapi
semua gejala tersebut dapat segera hilang jika pemberian obat dihentikan.
Posologi , 120 g Cucurbitae semen dan 120 g Arecae Semen (Biji Pinang)
direbus dalam panci infus denganb120 ml air selam a 30 menit, saring dalam
keadaan panas. Diminum 3 kali sehari tiap kali 400 ml.
Di sejumlah daerah nama tanaman yang dalam bahasa latin dikenal dengan
Cucurbita moschata yang termasuk suku Cucurbiaceae ini berbeda-beda. Di Jawa
Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat, buah ini dikenal dengan nama waluh atau
labu merah. Di Madura disebut labuh, sedangkan di Malaysia disebut dengan labu
metah. Ada pula yang menyebutnya labu parang.
Labu sudah dikenal sejak ratusan tahun lalu dengan varietas cukup
beragam. Secara umum, berdasarkan warnanya, buah labu dibedakan menjadi dua,
yaitu labu merah dan labu kuning. Menurut Gembong Tjitrosoepomo (1994), ada
dua jenis labu merah, yaitu Duch ex Poir dan Cucurbita pepo L. Keduanya sangat
mudah dijumpai di berbagai daerah di tanah air.
Biji labu (yang merah atau kuning) banyak mengandung zat yang
berguna bagi kesehatan. Dalam biji labu yang berwarna merah, ditemukan
sejumlah asam amino yang langka, seperti m-karboksifenilalanina, pirazoalanina,
asam aminobutirat, etilasparagina, dan strulina.
Biji labu merah juga mengandung mineral Zn (seng) dan Mg
(magnesium), yang sangat penting untuk kesehatan organ reproduksi, termasuk
kelenjar prostat. Ada juga kandungan lemak utama, seperti asam linoleat, asam
oleat dan sedikit asam linolenat. Juga vitamin E (tokoferol) dan karotenoid, yaitu
lutein dan beta-karoten.
Labu juga mengandung sejumlah asam amino penting yang diperlukan
kelenjar prostat, yaitu alanina, glisina dan asam glutamat. Asam amino ini
ditemukan baik di labu merah maupun labu kuning. Dari berbagai literatur
ditemukan asam amino ini memiliki khasiat bisa mencegah atau mengatasi
hipertrofi atau pembesaran prostat jinak (begin prostatic hyperplasia) pada kaum

www.hoirulblog.co.cc
pria. Hipertrofi adalah salah satu penyakit yang ditakuti kaum pria dewasa karena
di sinilah diproduksi cairan prostat yang akan menyediakan makanan bagi sperma.
Kerusakan kelenjar prostat yang ditandai ketidakmampuan memproduksi cairan
prostat akan berujung pada kemandulan.
Pemanfaatan biji labu untuk pengobatan hipertrofi sudah dikenal sejak
jaman dahulu. Dr. W. Devrient dari Berlin Jerman menganjurkan kepada
pasiennya agar mengonsumsi biji labu, terutama labu merah, secara teratur untuk
menghambat pembesaran kelenjar prostat. Bahkan, biji labu merah diyakini punya
khasiat memudakan kembali daya seksualitas pria. Di Eropa dan Amerika, biji
labu merah juga populer sebagai obat pencegah gangguan prostat. Terbukti,
berdasarkan penelitian, para pria yang terbiasa mengonsumsi biji labu merah
dilaporkan tidak mengalami gangguan kelenjar prostat selama hidupnya. Biji labu
bisa dikonsumsi dalam bentuk kolak, kuaci, direbus atau disangrai. Tidak ada
batasan berapa banyak yang harus dimakan.
1. Uraian :
Tanaman merambat ini memiliki daun yang besar, berbentuk jantung di
bagian kaki daun, berbulu panjang dan memiliki keIenjar di bagian bawah. Bunga
jantan, terutama bunga betina terbagi 5 bagian dan berwarna hijau muda atau
kuning. Buahnya besar dan warnanya bervariasi (buah muda berwarna hijau
sedangkan yang lebih tua kuning pucat); daging buahnya bentuknya tebal sekitar
3 cm dan rasanya agak manis. Biji yang masak dapat dimakan sebagai kwaci
setelah dipanggang.
2. Kandungan kimia :
Buah pada tanaman ini mengandung zat-zat : lemak dan zat yang dapat
mematikan cacing pita. Biji labu merah juga mengandung mineral Zn (seng) dan
Mg (magnesium), yang sangat penting untuk kesehatan organ reproduksi,
termasuk kelenjar prostat. Berbagai penggunaan minyak labu menawarkan alasan
phytochemical analisis biji makan pewarna karoten. Kromatografi kolom
dilakukan pada MgO Adsorben, Celite dan CaCO3 dengan hexane dan bensol
sebagai eluents. Komponen utama lutein [3,3 '-dihydroxy-alpha-karoten = (3R,
3'R, 6'R)-beta, Epsilon-karoten-3, 3'-diol; 52,5%] dan beta-karoten (beta, Epsilon-
karoten; 10,1%). Di samping yang disebutkan di atas pewarna itu berhasil

www.hoirulblog.co.cc
mengungkapkan keberadaan violaxanthin, luteoxanthin, auroxanthin epimers,
lutein epoxide, flavoxanthin, chrysanthemaxanthin, 9 (9 ')-CIS-lutein, 13 (13')-
CIS-lutein,15-CIS-lutein(pusat-CIS)-lutein,alpha-cryptoxanthin,betacryptoxanthin
dan alpha-karoten (beta, Epsilon-karoten) dalam jumlah kecil.
3. Kegunaan :
Buahnya dipakai sebagai obat pencahar dan lunak. Air perasan buah
biasanya dipakai untuk mengobati luka akibat racun binatang. Sekitar 500-800
buah biji dalam bentuk benih segar tanpa kulit bisa digunakan sebagai obat cacing
pita untuk orang dewasa. Kadang-kadang diberikan sebagai emulsi (diminum
beserta obat pencahar), setelah dicampur dengan air. Pengobatan demikian amat
berkhasiat dan aman tanpa efek sampingan. Bubuk benih halus telah dipakai
dalam schistosomiasis akut (diberikan 3 hari sekali pada pasien selama sebulan)
dan ternyata penderita berhasil mendapatkan kemajuan sebanyak 75%. Biji-biji itu
dikenal sebagai Semen Cucurbitae (Biji Waluh; Biji Labu Merah), yang kaya akan
minyak dan dianjurkan sebagai obat cacing pita.
Kegunaan lain :
1. Digigit serangga berbisa (daging buah dan getahnya)
2. Disentri
3. Sembelit
4. Herba untuk memberantas Cacingan
Selain dengan obat modern, cacingan juga dapat dilawan dengan obat
alami dari herba/tumbuhan obat yang berkhasiat sebagai anthelminthik (anti-
cacing), antara lain adalah biji pinang (Areca catechu), biji wudani (Quisqualis
indica), kulit dan akar delima (Punica granatum), biji labu kuning (Cucurbita
moschata), temu giring (Curcuma heyneana), biji dan akar pepaya (Carica
papaya), bawang putih (Alium sativum), ketepeng (Cassia alata), mindi kecil
(Melia azedarach). Secara empiris (pengalaman) berbagai tumbuhan obat tersebut
efektif mengatasi cacingan, diantaranya juga telah dilakukan penelitian dan
terbukti mengandung senyawa aktif yang berkhasiat anthelminthik.
Pada biji pinang mengandung arekolin yaitu salah satu alkaloid yang
berfungsi sebagai obat cacing. Kulit buah dan akar delima mengandung alkaloid
dan tanin yang berkhasiat anthelminthik terutama pada cacing gelang dan cacing

www.hoirulblog.co.cc
pita. Senyawa potassium quisqualata yang terkandung pada buah wudani dapat
membunuh cacing usus. Komponen aktif lainnya yang berkhasiat anthelminthik
adalah glukosida cacirin yang terkandung dalam buah pepaya, cucurbitin pada biji
labu kuning, diallil disulfida pada bawang putih, serta toosendanin yang
terkandung pada kulit batang dan kulit akar mindi.
A. Taeniasis
Cara infeksinya melalui oral karena memakan daging babi atau sapi yang
mentah atau setengah matang dan mengandung larva cysticercus. Di dalam usus
halus, larva itu menjadi dewasa dan dapat menyebabkan gejala gasterointestinal
seperti rasa mual, nyeri di daerah epigastrium, nafsu makan menurun atau
meningkat, diare atau kadang-kadang konstipasi. Selain itu, gizi penderita bisa
menjadi buruk sehingga terjadi anemia malnutrisi. Pada pemeriksaan darah tepi
didapatkan eosinofilia. Semua gejala tersebut tidak spesifik bahkan sebagian besar
kasus taeniasis tidak menunjukkan gejala (asimtomatik).
Diagnosis
Dapat ditegakkan berdasarkan atas anamnesis dan pemeriksaan
laboratorium.
a.1. Anamnesis
Penderita pernah mengeluarkan benda pipih berwarna putih seperti ampas
nangka bersama tinja atau keluar sendiri dan bergerak gerak. Benda itu tiada lain
adalah potongan cacing pita (proglotid). Cara keluarnya proglotid Taenia solium
berbeda dengan Taenia saginata. Proglotid Taenia solium biasanya keluar bersama
tinja dalam bentuk rangkaian 5-6 segmen. Sedangkan Taenia saginata,
proglotidnya keluar satu-satu bersama tinja dan bahkan dapat bergerak sendiri
secara aktif.
a.2. Pemeriksaan laboratorium
Secara makroskopis (melihat tanpa menggunakan alat), yang
diperhatikan dalam hal ini adalah bentuk proglotidnya yang keluar bersama tinja.
Bentuknya cukup khas, yaitu segiempat panjang pipih dan berwarna putih keabu-
abuan. Pemeriksaan secara mikroskopis untuk mendeteksi telurnya dapat
dikerjakan dengan preparat tinja langsung (directsmear) memakai larutan eosin.
Cara ini paling mudah dan murah, tetapi derajat positivitasnya rendah. Untuk

www.hoirulblog.co.cc
mendapatkan hasil positivitas yang lebih tinggi, pemeriksaan dikerjakan dengan
metode konsentras (centrifugal flotation) atau dengan cara perianal swab memakai
cellophane tape. Jika hanya menemukan telur dalam tinja, tidak bisa dibedakan
taeniasis Taenia solium dan taeniasis Taenia saginata. Agar dapat
membedakannya, perlu mengadakan pemeriksaan scolex dan proglotid gravidnya.
Scolex dan proglotid gravid dibuat preparat permanen diwarnai dengan borax
carmine atau trichrome, kemudian dilihat dibawah mikroskop. Dengan
memperhatikan adanya kait-kait (hooklet) pada scolex dan jumlah percabangan
lateral uterusnya, maka dapat dibedakan spesies Taenia solium dan Taenia
saginata. Pada scolex Taenia solium terdapat rostellum dan hooklet, sedangkan
pada Taenia saginata tidak terdapat.
Percabangan lateral uterus Taeniasolium jumlahnya 7-12 buah
padasatusisi, dan Taenia saginata 15-30 buah. Ada cara yang lebih sederhana
untuk memeriksa proglotid gravid, yaitu dengan memasukkan proglotid itu ke
dalam larutan Carbolxylol 75%. Dalam waktu satu jam, proglotid menjadi jernih
dan percabangan uterusnya tampak jelas. Cara lainnya yang paling sederhana dan
gampang dikerjakan ialah dengan menjepitkan proglotid yang masih segar di
antara dua objek gelas secara pelan dan hati-hati. Proglotid akan tampak jernih
dan percabangan uterusnya yang penuh berisi telur tampak keruh. Pemeriksaan
bisa gagal apabila percabangan uterusnya robek dan semua telurnya keluar.
Pengobatan obat-obat untuk memberantas cacing pita dapat digolongkan menjadi
dua, yaitu taeniafuge dan taeniacide.
Taeniafuge ialah golongan obat yang menyebabkan relaksasi otot
cacingsehingga cacing menjadi lemas. Contohnya: kuinakrin hidro-klorid
(atabrin), bitionol dan aspidium oleoresin. Pemakaian obat ini mutlak memerlukan
purgativa untuk mengeluarkan cacingnya.
Taeniacide adalah golongan obat yang dapat membunuh cacing.
Contohnya: niklosamid (yomesan), mebendazol dan diklorofen. Pemakaian obat
ini tidak mutlak memerlukan purgativa. Tujuan pengobatan taeniasis ialah untuk
mengeluarkan semua cacing beserta scolexnya dan juga mencegah terjadinya
sistiserkosis, terutama pada kasus taeniasis Taenia solium. Obat-obat yang kini
lazim dipakai adalah niklosamid dan mebendazol. Sedangkan kuinakrin

www.hoirulblog.co.cc
hidroklorid dan aspidiumoleoresin walaupun cukup efektif, tetapi karena bersifat
toksik maka sekarang jarang dipakai. Selain itu, ada beberapa obat tradisional
yang cukup ampuh untuk membasmi cacing pita, yaitu biji labu merah dan getah
buah manggis muda.
Niklosamid hingga saat ini masih dianggap obat paling baik untuk
taeniasis dari segi efektivitasnya. Obat tersedia dalam bentuk tablet 500 miligram.
Dosis dan cara pemberian: 2 gram dibagi dua dosis dengan interval pemberian 1
jam. Obat harus dikunyah sebelum diminum. Dua jam setelah pemberian obat,
penderita diberi minum purgativa magnesium-sulfat 30 gram untuk mencegah
terjadinya sistiserkosis. Keuntungan dari obat ini ialah tidak memerlukan
persiapan diet ataupun puasa, dan efek sampingnya juga ringan. Namun menurut
pengalaman penulis, efektivitas obat ini akan lebih baik apabila penderita
dipuasakan sebelum meminumnya. Angka kesembuhan tercatat 95% lebih.
Kerugiannya: obat ini tidak beredar resmi di pasaran sehingga sulit didapatkan. Di
samping itu harganya pun mahal. Agaknya mebendazol merupakah salah satu
taeniacide yang mempunyai masa depan cerah dan kini masih dalam
penyelidikan.
Mebendazol adalah anthelmintik berspektrum lebar. Dosisnya 300
miligram dua kali sehari selama tiga hari berturut-turut. Dua hari setelah
pengobatan, penderita diberi minum purgativa magnesium sulfat 30 gram,
terutama pada kasus taeniasis Taenia solium untuk mencegah terjadinya
sistiserkosis. Menurut beberapa hasil penelitian, angka kesembuhan tercatat 50-
100%. Dilaporkan pula bahwa efek samping obat ini sangat ringan. Untuk
memperoleh hasil yang lebih baik, beberapa peneliti menganjurkan dosis lebih
tinggi (sampai 1200 miligram per hari selama lima hari). Pengalaman penulis
dalam praktek pengobatan taeniasis dengan mebendazol cukup memuaskan.
Namun beberapa peneliti masih menyangsikan keampuhan mebendazol, bahkan
ada yang melaporkan gagal sama sekali. Dengan demikian, efektivitas
mebendazol pada taeniasis masih perlu diselidiki lebih lanjut.
B. Sistiserkosis
Larva Taenia solium (cysticercus cellulosae) sering menginfeksi jaringan
atau organ dan menyebabkan penyakit yang disebut sistiserkosis selulosa.

www.hoirulblog.co.cc
Sedangkan larva Taenia saginata (cysticercus bovis) sangat jarang menginfeksi
jaringan. Cara infeksinya melalui oral oleh karena menelan makanan atau
minuman yang terkontaminasi telur taenia. Juga bisa karena autoinfeksi interna,
yaitu infeksi yang berlangsung dengan sendirinya. Hal ini disebabkan oleh
gerakan batik peristaltic usus, misalnya pada keadaan muntah-muntah sehingga
proglotid atau telur cacing naik ke lambung lalu pecah dan isinya keluar
menembus dinding lambung masuk ke peredaran darah dan pada akhirnya
menjadi cysticercus di dalam organ-organ. Cysticercus yang berbentuk kista dapat
tumbuh hampir pada semua organ clan sering multipel. Organ yang paling sering
kena adalah otot bergaris dan otak. Ukuran diameter kista pada umumnya 5-10
milimeter. Namun kista yang mengenai otak dan mata, diameternya bisa mencapai
20 milimeter bahkan pernah ditemukan cysticercus
Berdiameter 60 milimeter di dalam otak. Kista di dalam jaringan dapat
menimbulkan reaksi radang, penekanan pada organ sekitarnya, mengeluarkan
toksin. Sedangkan kista yang telah mati akan menimbulkan jaringan fibrotik dan
kalsifikasi.
b.1. Diagnosis
Pada prinsipnya, diagnosis sistiserkosis dapat ditegakkan berdasarkan atas
gejala klinik, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium.Gejala kliniknya
tergantung kista menyerang otak dan mata. Sistiserkosis otak, gejalanya bisa
beraneka ragam. Gejala awal ketika kista masih hidup dan berkembang pada
umumnya menyerupai meningitis, ensefalitis, hidrosefalus dan gejala seperti
tumor serebri. Selain itu, bisa timbul sakit kepala, sukar tidur dan gangguan
psikis. Sedangkan gejala lanjut setelah kista mati dan mengalami kalsifikasi di
korteks serebri menyebabkan gejala epilepsi sekunder.
Manifestasi klinik sistiserkosis serebri yang berupa bangkitan epilepsy ini
pada umumnya baru muncul setelah 8-20 tahun sejak infestasi parasitnya.
Penderita dengan sistiserkosis otak, pada pemeriksaan fisik sering ditemukan
nodul subkutan (sistiserkosis dalam saginata tidak terdapat).
Percabangan lateral uterus Taenia solium jumlahnya 7-12 buah pada satu
sisi, dan Taenia saginata 15-30 buah. Ada cara yang lebih sederhana untuk
memeriksa proglotidvgravid, yaitu dengan memasukkan proglotid itu ke dalam

www.hoirulblog.co.cc
larutan carbolxylol 75%. Dalam waktu satu jam, proglotid menjadi jernih dan
percabangan uterusnya tampak jelas. Cara lainnya yang paling sederhana dan
gampang dikerjakan ialah dengan menjepitkan proglotid yang masih segar di
antaradua objek gelas secara pelan dan hati-hati. Proglotid akan tampak jernih dan
percabangan uterusnya yang penuh berisitelur tampak keruh. Pemeriksaan bisa
gagal apabila percabangan uterusnya robek dan semua telurnya keluar.
Sistiserkosis dalam jaringan kulit dan otot biasanya hanya menimbulkan
gejala ringan bahkan kebanyakan tidak menunjukkan gejala. Jika kista menyerang
mata (sistiserkosis oftalmikus) dapat menimbulkan gejala cukup berat, yaitu
iridosiklitis, penglihatan kabur dan yang paling berat bisa sampai buta.
Pemeriksaan laboratorium buat menegakkan diagnosis sistiserkosis terdiri atas
pemeriksaan untuk mencari parasit penyebabnya dan pemeriksaan penunjang
diagnosis. Dalam usaha mencari parasit penyebabnya, paling rnudah dengan me-
lakukan biopsi nodul subkutan yaitu kista dalam jaringan dibawah kulit.
Sedangkan sebagai penunjang diagnosis dapat dikerjakan pemeriksaan foto
rontgen, funduskopi, pemeriksaan hapus darah dan uji serologik. Diagnosis dapat
dipastikan jika ditemukan parasit penyebabnya, yakni kista cysticercus dari hasil
biopsi tersebut. Biopsi dari nodul subkutan itu dibuat preparat permanent dengan
pewarnaan secara histopatologik. Di bawah mikroskop, ciri-ciri kista itu dapat
dikenal. Berdasarkan bentuk dan struktur scolexnya,kista bias dibedakan antara
cysticercus cellulosa dan cysticercus bovis maupun dengan larva cacing pita
lainnya di dalam jaringan. Sebagai penunjang diagnosis, dikerjakan pemeriksaan
foto rontgen seperti angiografi, ataupun computed tomography (CT scan). Dengan
pemeriksaan ini dapat dilihat kista di dalam organ, baik yang masih hidup maupun
yang sudah mati dan mengalami kalsifikasi. Dalam foto ini perlu diperhatikan
peranjakan bayangan arteri-arteri maupun bayangan opaque dari kista di dalam
organ tersebut. Funduskopi gunanya untuk melihat kista didalam mata. Sedangkan
pemeriksaan hapus darah tepi tujuannya untuk mengetahui eosinofilia.
Pemeriksaan serologik sebagai penunjang diagnosis antara lain dengan intracutan
test, complement fixation test (CFT), indirect haemagluttination test(IHT) dan
enzym linked immunosorbent assay (ELISA). Meskipun pada uji serologik ini
terdapat positif palsu ataupun negatif palsu, tetapi peranannya dalam epidemilogi

www.hoirulblog.co.cc
cukup besar. Dikatakan bahwa tes ELISA paling dapat dipercaya, yang sekarang
sering dipakai dalam riset-riset di lapangan.
b.2. Pengobatan
Obat-obat untuk memberantas cacing pita dapat digolongkan menjadi dua,
yaitu taeniafuge dan taeniacide. Taeniafuge ialah golongan obat yang
menyebabkan relaksasi otot cacing sehingga cacing menjadi lemas. Contohnya:
kuinakrin hidroklorid (atabrin), bitionol dan aspidium oleoresin. Pemakaian obat
ini mutlak memerlukan purgativa untuk mengeluarkan cacingnya. Sedangkan
taeniacide adalah golongan obat yang dapat membunuh cacing. Contohnya:
niklosamid (yomesan), mebendazol dan diklorofen. Pemakaian obat ini tidak
mutlak memerlukan purgativa.
Tujuan pengobatan taeniasis ialah untuk mengeluarkan semua cacing
beserta scolexnya dan juga mencegah terjadinya sistiserkosis, terutama pada kasus
taeniasis Taenia solium. Obat-obat yang kini lazim dipakai adalah niklosamid dan
mebendazol. Sedangkan kuinakrin hidroklorid dan aspidium oleoresin walaupun
cukup efektif, tetapi karena bersifat toksik maka sekarang jarang dipakai. Selain
itu, ada beberapa obat tradisional yang cukup ampuh buat membasmi cacing pita,
yaitu biji labu merah dan getah buah manggis muda. Niklosamid hingga saat ini
masih dianggap paling baik untuk taeniasis dari segi efektivitasnya. Obat tersedia
dalam bentuk tablet 500 miligram. Dosis dan cara pemberian, 2 gram dibagi dua
dosis dengan interval pemberian 1 jam. Obat harus dikunyah sebelum diminum.
Dua jam setelah pemberian obat, penderita diberi minum purgativa magnesium
sulfat 30 gram untuk mencegah terjadinya sistiserkosis. Keuntungan dari obat ini
ialah tidak memerlukan persiapan diet ataupun puasa, dan efek sampingnya juga
ringan. Namun menurut pengalaman penulis, efektivitas obat ini akan lebih baik
apabila penderita dipuasakan sebelum meminumnya. Angka kesembuhan tercatat
95% lebih. Kerugiannya: obat ini tidak beredar resmi di pasaran sehingga sulit
didapatkan. Di samping itu harganya pun mahal.

www.hoirulblog.co.cc
BAB III
KESIMPULAN

Taeniasis adalah infeksi oleh cacing pita genus Taenia di dalam usus. Ada
dua spesies yang sering sebagai penyebabnya, yaitu Taenia solium dan Taenia
saginata. Sedangkan sistiserkosis ialah infeksi oleh larva taenia (cysticercus) di
dalam jaringan atau organ.
Cucurbitae Semen terdiri atas biji yang berasal dari buah tanaman
Cucurbitae moshata (Duch) Poir, familia Cucurbitaceae yang masak dan telah
dikeringkan. Percobaan in vitro menunjukan bahwa dekok 40% Cucurbitae Semen
yang telah dihilangkan lemaknya atau larutan 30% kristal yang diperoleh dari
hasil ekstrasi dan dilarutkan dalam larutan garam fisiologis memiliki efek paralisis
pada bagian tengah dan terminal cacing pita dari sapi dan babi (Taenia saginata
dan Taenia solium). Dekok menyebabkan penipisan, pelebaran dan kerusakan
ujung dan terutama bagian tengah pita. Tetapi, dekok tidak aktif terhadap scolex
dan cacing pita muda. Kontra indikasi dan interaksi obat belum diketahui secara
jelas.

www.hoirulblog.co.cc
DAFTAR PUSTAKA
Simanjuntak. 1972. An Investigation on Taeniasis and Cysticer-
cosis in Bali. Southeast Asian J Trop Med Pub H1th.
4. Gunawan S. Aspek Sosio Budaya Taeniasis dan Sistiserkosis di
Daerah Pegunungan Irian Jaya. Kumpulan Naskah Seminar Para-
sitologi Nasionla ke-2, Jakarta, 1981.
6. Widjana DP dkk. Beberapa Aspek Taeniasis di Kecamatan Abian-
semal. Kumpulan Naskah Ilmiah Pertemuan Ilmiah Mikrobiologi
dan Parasitologi Kedokteran Indonesia kedua, Surabaya, 1983.
7. Bakta IM dkk. Taeniasis di Banjar Saba Desa Penatih Bali. Naskah
Lengkap KOPAPDI VI, Jakarta, 1984.
8. Hadidjaja P. Beberapa Kasus Taeniasis di Jakarta, Cara Diagnosis
dan Pengobatannya. Madjalah Kedokteran Indonesia, 1984; 214:
173178.
9. Ngurajh K. Beberapa Aspek Terapi Taeniasis. Media Hospitalia,
1984; 83: 3436.
10. Brown HW. 1979. Dasar Parasitologi Klinis Edisi
Ketig. Jakarta : Gramedia
13. Rai T dkk. Pengobatan Taenia solium Taeniasis dengan Mebenda-
zole. Kumpulan Naskah Ilmiah Pertemuan Ilmiah Mikrobiologi
dan parasitologi Kedokteran Indonesia kedua, Surabaya, 1983..
16. Soebroto FX dkk. Cysticercosis di Bawah Kulit pada Manusia.

www.hoirulblog.co.cc