Anda di halaman 1dari 40

ANTIBIOTIKA

www.hoirulblog.co.cc

Antibiotika adalah zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba, terutama fungi/jamur,
yang dapat menghambat atau dapat membasmi mikroba jenis lain. Banyak antibiotika
saat ini dibuat secara semisintetik atau sintetik penuh. Namun dalam prakteknya
antibiotika sintetik tidak diturunkan dari produk mikroba (misalnya kuinolon).Antibiotika
yang akan digunakan untuk membasmi mikroba, penyebab infeksi pada manusia, harus
mememiliki sifat toksisitas selektif setinggi mungkinArtinya, antibiotika tersebut
haruslah bersifat sangat toksik untuk mikroba, tetapi relatif tidak toksik untuk manusia.
Antibiotika adalah obat yang sangat ampuh dan sangat bermanfaat jika digunakan secara
benar. Namun, jika digunakan tidak semestinya antibiotika justru akan mendatangkan
berbagai mudharat. Yang harus selalu diingat, antibiotika hanya ampuh dan efektif
membunuh bakteri tetapi tidak dapat membunuh virus. Karena itu, penyakit yang dapat
diobati dengan antibiotika adalah penyakit-penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri.

Gambar. Resistensi antibiotika

Penyebab timbulnya resistensi antibiotika yang terutama adalah karena


penggunaan antibiotika yang tidak tepat, tidak tepat sasaran, dan tidak tepat dosis.Tidak
tepat sasaran, salah satunya adalah pemberian antibiotika pada pasien yang bukan
menderita penyakit infeksi bakteri. Walaupun menderita infeksi bakteri, antibiotika yang

www.hoirulblog.co.cc
diberikan pun harus dipilih secara seksama. Tidak semua antibiotika ampuh terhadap
bakteri tertentu.Setiap antibiotika mempunyai daya bunuh terhadap bakteri yang berbeda-
beda. Karena itu, antibiotika harus dipilih dengan seksama. Ketepatan dosis sangat
penting diperhatikan. Tidak tepat dosis dapat menyebabkan bakteri tidak terbunuh,
bahkan justru dapat merangsangnya untuk membentuk turunan yang lebih kuat daya
tahannya sehingga resisten terhadap antibiotika. Karena itu, jika dokter memberikan obat
antibiotika, patuhilah petunjuk pemakaiannya dan harus diminum sampai habis.
Pemakaian antibiotika tidak boleh sembarangan, baik untuk anak-anak maupun orang
dewasa. Itu sebabnya, antibiotika tidak boleh dijual bebas melainkan harus dengan resep
dokter. Terlalu sering mengonsumsi antibiotika juga berdampak buruk pada ''bakteri-
bakteri baik'' yang menghuni saluran pencernaan kita. Bakteri-bakteri tersebut dapat
terbunuh, padahal mereka bekerja membuat zat-zat yang bermanfaat bagi kesehatan kita.

A. PEMBUATAN ANTIBIOTIK
Lazimnya antibiotika dibuat secara mikrobiologi, yaitu fungsi dibiakkan dalam
tangki – tangki besar bersama zat – zat gizi khusus oksigen atau udara steril disalurkan
ke dalam cairan pembiakkan guna mempercepat pertumbuhan fungi dan meningkatkan
produksi antibiotiknya. Setelah diisolasi dari cairan kuiltur, antibiuotikum dimurnikan
dan aktivitasnya ditentukan .
 Antibiotika semisintetik, yaitu apabila pada persemaian (culture substrate)
dibubuhi zat – zat pelopor tertentu, maka zat - zat ini diinkorporasi ke dalam
antibiotikum dasarnya. Hasilnya disebut senyawa semisintetis, misalnya
Penisillin -V
 Antibiotika sintetis, misalnya Penisillin – V .
Antibiotik sintetis idak dibuat lagi dengan jalan biosintetis tersebut , melainkan
dengan sintesa kimiawi, misalnya Kloramfeniko

www.hoirulblog.co.cc
B. MEKANISME KERJA

Cara kerja yang terpenting adalah perintangan sintesa protein, sehingga musnah
atau tidak berkembang lagi, misalnya Kloramfenikol, Tetrasiklin, Aminoglikosida, dan
Klinklomisin. Selain itu beberapa antibiotika bekerja terhadap dinding sel (Penissilin dan
Cepalosporin) atau membran sel (Polimiksin, zat–zat polyen dan Imidazol). Antibiotika
tidak aktif terhadap kebanyakan virus kecil, mungkin karena virus tidak memiliki proses
metabolisme sesunngguhnya, melainkan tergantung seluruhnya dari proses tuan – rumah .

C. EFEK SAMPING ANTIBIOTIKA

1. SENSITASI / HIPERSENSITIF
Banyak obat setelah di gunakan secara lokal dapat mengakibatkan kepekaan yang
berlebihan, kalau obat yang sama kemudian diberikan secara oral atau suntikan maka
ada kemungkinan terjadi reaksi hipersensitif atau alergi seperti gatal-gatal kulit
kemerah-merahan, bentol-bentol atau lebih hebat lagi dapat terjadi sok contohnya
penisilin dan kloramfenikol
2. RESISTENSI
Jika obat digunakandengan dosis yang terlalu rendah, atau waktu terapi kurang
lama,maka hal ini dapat menyebabkan terjadinya resistensi artinya bakteri tidak peka
lagi terhadap obat yang bersangkutan.
3. SUPER INFEKSI
Yaitu infeksi sekunder yang timbul selam pengobtan dimana sifat dan penyebab
infeksi berbeda dengan penyebab infeksi yang pertama.Super infeksi teutama terjadi
pada penggunaan antibiotika broad spectrum yang dapat menggangu keseimbangan
antara bakteri didalam usus saluran pernafasan dan urogenital.

www.hoirulblog.co.cc
D. AKTIVITAS ANTIBIOTIK

Pada umumnya aktivitasnya dinyatakan dengan satuan berat ( mg ). Kecuali,


zat– zat yang diperoleh 100 % murni dan terdiri dari campuran beberapa zat. Misal nya,
polimiksin B, Basitrasin dan Nistatin yang aktifitasnya selalu dinyatakan dengan. satuan
Internasional (I.U). Begitu pula senyawa komplek dari penissilin yakni prokain dan
Benzatin – Penissilin.

E. GOLONGAN ANTIBIOTIKA BERDASAR AKTIVITASNYA

Berdasarkan luas aktivitas kerjanya antibiotika digolongkan atas:


1. Narrow Spectrum
Zat yang aktif terutama terhadap satu atau beberapa jenis bakteri saja. Contohnya:
eritromycin. kanamicin, clindamisin, sterptomisin, gentamisin
2. Broad Spectrum
Zat yang berkasiat terhadap semua jenis bakteri baik gram positif maupun bakteri
gram negatif. Contohnya: amisilin, sefalosporin dan cloramfenikol

F. GOLONGAN / KELOMPOK ANTIBIOTIKA

Antibiotika dapat digolongkan sebagai berikut :

1. Antibiotika golongan aminoglikosid, bekerja dengan menghambat sintesis


protein dari bakteri.
2. Antibiotika golongan sefalosforin, bekerja dengan menghambat sintesis
peptidoglikan serta mengaktifkan enzim autolisis pada dinding sel bakteri.
3. Antibiotika golongan klorampenikol, bekerja dengan menghambat sintesis
protein dari bakteri.
4. Antibiotika golongan makrolida, bekerja dengan menghambat sintesis protein
dari bakteri.

www.hoirulblog.co.cc
5. Antibiotika golongan penisilin, bekerja dengan menghambat sintesis
peptidoglikan.
6. Antibiotika golongan beta laktam golongan lain, bekerja dengan menghambat
sintesis peptidoglikan serta mengaktifkan enzim autolisis pada dinding sel
bakteri.
7. Antibiotika golongan kuinolon, bekerja dengan menghambat satu atau lebih
enzim topoisomerase yang bersifat esensial untuk replikasi dan transkripsi DNA
bakteri.
8. Antibiotika golongan tetrasiklin, bekerja dengan menghambat sintesis protein
dari bakteri.
9. Kombinasi antibakteri
10. Antibiotika golongan lain

1. Antibiotika golongan aminoglikosid,


AMINOGLIKOSID
Aminoglikosid merupakan senyawa yang terdiri dari 2 atau lebih gugus gula
amino yang terikat lewat ikatan glikosidik pada inti heksosa.

www.hoirulblog.co.cc
Aminoglikosid merupakan produk streptomises atau fungus lainnya. Seperti
Streptomyces griseus untuk Streptomisin, Streptomyses fradiae untuk Neomisin,
Streptomyces kanamyceticus untuk Kanamisin, Streptomyces tenebrarius untuk
Tobramisin, Micromomospora purpures untuk Gentamisin dan Asilasi kanamisin A untuk
Amikasin. Aminoglikosid dari sejarahnya digunakan untuk bakteri gram negatif.
Aminoglikosid pertama yang ditemukan adalah Streptomisin. Antibiotika lain untuk
bakteri gram negatif adalah golongan Sefalosporin generasi 3 yang lebih aman, akan
tetapi karena harganya masih mahal banyak dipakai golongan Aminoglikosid. Aktivitas
bakteri Aminoglikosid dari Gentamisin, Tobramisin, Kanamisin, Netilmisin dan
Amikasin terutama tertuju pada basil gram negatif yang aerobik (yang hidup dengan
oksigen). Masalah resistensi merupakan kesulitan utama dalam penggunaan Streptomisin
secara kronik; misalnya pada terapi Tuberkulosis atau endokarditis bakterial subakut.
Resistensi terhadap Streptomisin dapat cepat terjadi, sedangkan resistensi terhadap
Aminoglikosid lainnya terjadi lebih berangsur-angsur.

Sediaan dari Aminoglikosid


Sediaan dari Aminoglikosid dapat dibagi dalam dua kelompok :

a. Sediaan Aminoglikosid sistemik untuk pemberian IM atau IV yaitu Amikasin,


Gentamisin, Kanamisin dan Streptomisin
b. Sediaan Aminoglikosid topikal terdiri dari Aminosidin, Kanamisin, Neomisin,
Gentamisin dan Streptomisin. Dalam kelompok topikal termasuk juga semua
Aminoglikosid yang diberikan per oral untuk mendapatkan efek lokal dalam
lumen saluran cerna.

Sediaan Aminoglikosid pada umumnya tersedia sebagai garam sulfat.

1. Streptomisin

Untuk suntikan tersedia bentuk bubuk kering dalam vial yang mengandung 1 atau
5 g zat. Kadar larutan tergantung dari cara pemberian yang direncanakan; dan
cara penyuntikan tergantung dari jenis dan lokasi infeksi.

www.hoirulblog.co.cc
Suntikan IiM merupakan cara yang paling sering diberikan. Dosis total sehari
berkisar 1-2 g (15-25 mg/kg BB); 500 mg - 1 g disuntikkan setiap 12 jam. Untuk
infeksi berat dosis harian dapat mencapai 2-4 g dibagi dalam 2-4 kali pemberian.
Dosis untuk anak ialah 20-30 mg/kgBB sehari, dibagi untuk dua kali
penyuntikkan.

2. Gentamisin

Tersedia sebagai larutan steril dalam vial atau ampul 60mg/1,5 ml; 80 mg/2 ml;
120 mg/3 ml dan 280 mg/2 ml. Salep atau krim dalam kadar 0,1 and 0,3 % salep
mata 0,3 %. Sediaan parenteral ada di pasar tidak boleh digunakan untuk suntikan
intratekal atau intraventrikular (otak) karena mengandung zat pengawet.

3. Kanamisin

Untuk sediaan tersedia larutan dan bubuk kering. Larutan dalam vial ekuivalen
dengan basa Kanamisin 500 mg/2 ml dan 1 g/3 ml untuk orang dewasa; serta 75
mg/2 ml untuk anak. Vial bubuk kering berisi 1 g dan 0,5 g. Untuk pemberian oral
tersedia bentuk kapsul/tablet 250 mg dan sirup 50 mg/ml.

4. Amikasin

Obat ini tersedia untuk suntikan IM dan IV dalam vial berisi 100; 250; 500;
1.000; da 2.000 mg. Dosis total sehari umumnya tidak lebih dari 1,5 gram sehari.
Penyesuaian dosis perlu dipertimbangkan pada berbagai keadaan. Adanya
gangguan faal ginjal memerlukan pengurangan dosis dan perpanjangan interval
waktu antara dosis, dengan berpedoman pada kadar efektif dalam darah yang
berkisar antar 5-10 ug/ml sampai 20-25 ug/ml.

5. Tobramisin

Obat ini tersedia sebagai larutan 80 mg/2 ml untu suntikan IM. Untuk infus
Tobramisin dilarutkan dalam Dekstrose 5% atau larutan NaCl isotonis dan
diberikan dalam 30-60 menit. Jangan diberikan lebih dari 10 hari.

www.hoirulblog.co.cc
6. Netilmisin

Obat ini boleh diberikan IM atau IV, dan tersedia sebagai larutan 50 dan 100, 150
mg/2 ml. Dosisnya ialah 4-6,5 mg/kg BB sehari yang dibagi dalam 2-3 dosis.
Untuk penggunaan intravena dosis tunggal diencerkan dalam 50 sampai 200 ml
pelbagai larutan.

7. Neomisin

Neomisin tersedia untuk penggunan topikal dan oral, penggunaan parenteral tidak
lagi dibenarkan karena toksisitasnya. Salep mata dan kulit mengandung 5 mg/g
untuk digunakan 2-3 kali sehari. Untuk oral tersedia tablet 250 mg. Dosis oral
neomisin dapat mencapai 4-8 g sehari, dalam dosis terbagi; misalnya yang
digunakan pada pengendalian koma hepatik atau pembersihan lumen usus

2. Antibiotika golongan sefalosforin,

SEFALOSFORIN

Sefalosporin termasuk golongan antibiotika Betalaktam. Seperti antibiotik


Betalaktam lain, mekanisme kerja antimikroba Sefalosporin ialah dengan menghambat
sintesis dinding sel mikroba. Yang dihambat adalah reaksi transpeptidase tahap ketiga
dalam rangkaian reaksi pembentukan dinding sel.Sefalosporin aktif terhadap kuman gram
positif maupun garam negatif, tetapi spektrum masing-masing derivat bervariasi.

Penggolongan Sefalosporin

Hingga tahun 2006 golongan Sefalosporin sudah menjadi 4 generasi, pembedaan


generasi dari Sefalosporin berdasarkan aktivitas mikrobanya dan yang secara tidak
langsung sesuai dengan urutan masa pembuatannya.

www.hoirulblog.co.cc
Berikut pembagian generasi Sefalosporin :

Aktivitas
No. Nama Generasi Cara Pemberian
Antimikroba

1. Cefadroxil 1 Oral Aktif terhadap

2. Cefalexin 1 Oral kuman gram positif


dengan keunggulan
3. Cefazolin 1 IV dan IM
dari Penisilin
4. Cephalotin 1 IV dan IM
aktivitas nya
terhadap bakteri
5. Cephradin 1 Oral IV dan IM penghasil
Penisilinase

6. Cefaclor 2 Oral Kurang aktif

7. Cefamandol 2 IV dan IM terhadap bakteri


gram postif
8. Cefmetazol 2 IV dan IM
dibandingkan
9. Cefoperazon 2 IV dan IM
dengan generasi
10. Cefprozil 2 Oral pertama, tetapi
lebih aktif terhadap
kuman gram
negatif; misalnya
11. Cefuroxim 2 IV dan IM
H.influenza, Pr.
Mirabilis, E.coli,
dan Klebsiella

12. Cefditoren 3 Oral Golongan ini

13. Cefixim 3 Oral umumnya kurang


efektif
14. Cefotaxim 3 IV dan IM
dibandingkan
15. Cefotiam 2 IV dan IM
dengan generasi
16. Cefpodoxim 3 Oral pertama terhadap
17. Ceftazidim 3 IV dan IM kuman gram

www.hoirulblog.co.cc
18. Ceftizoxim 3 IV dan IM positif, tetapi jauh
lebih efektif
terhadap
Enterobacteriaceae,
19. Ceftriaxon 3 IV dan IM
termasuk strain
penghasil
Penisilinase.

20. Cefepim 4 Oral IV dan IM Hampir sama


dengan generasi
21. Cefpirom 4 Oral IV dan IM
ketiga

Indikasi Klinik

Sediaan Sefalosporin seyogyanya hanya digunakan untuk pengobatan infeksi


berat atau yang tidak dapat diobati dengan antimikroba lain, sesuai dengan spektrum
antibakterinya. Anjuran ini diberikan karena selain harganya mahal, potensi
antibakterinya yang tinggi sebaiknya dicadangkan hanya untuk hal tersebut diatas.

Adapun indikasi dari masing Sefalosporin sebagai berikut :

1. Cefadroxil dan Cefalexin

Obat golongan Cefalosporin ini yang digunakan untuk mengobati infeksi tertentu
yang disebabkan oleh bakteri pada kulit, tenggorokan, dan infeksi kandung
kemih. Antibiotik ini tidak efektif untuk pilek, flu atau infeksi lain yang
disebabkan virus.

2. Cefazolin

Cefazolin digunakan untuk mengobati infeksi bakteri dan penyakit pada infeksi
pada kandung empedu dan kandung kemih, organ pernafasan, genito urinaria
(infeksi pada organ seksual dan saluran kencing), pencegahan infeksi pada proses
operasi dan infeksi kulit atau luka.

www.hoirulblog.co.cc
3. Cephalotin

Obat golongan Sefalosporin ini yang digunakan untuk mengobati infeksi bakteri
dan penyakit pada infeksi kulit dan jaringan lunak, saluran nafas, genito-urinaria,
pasca operasi, otitis media dan septikemia.

4. Cefaclor dan Cefixim

Cefalosporin ini menghilangkan bakteri yang menyebabkan berbagai macam


penyakit seperti pneumonia dan infeksi pada telinga, paru-paru, tenggorokan,
saluran kemih dan kulit.

5. Cefamandol, Ceftizoxim dan Ceftriaxon

Cefalosporin ini menghilangkan bakteri yang menyebabkan berbagai macam


penyakit pada paru-paru, kulit, tulang, sendi, perut, darah dan saluran kencing.

6. Cefmetazol

Cefmetazol lebih aktif daripada Sefalosporin golongan pertama terhadap gram


positif Proteus, Serritia, kuman anaerobik gram negatif (termasuk B. fragilis) dan
beberapa E.coli, Klebsiella dan P. mirabilis, tetapi kurang efektif dibandingkan
Cefoxitin atau Cefotetan melawan kuman gram negatif.

7. Cefoperazon dan Ceftazidim

Obat Sefalosporin ini menghilangkan bakteri yang menyebabkan berbagai macam


infeksi termasuk paru-paru, kulit, sendi, perut, darah, kandungan, dan saluran
kemih.

8. Cefprozil

Obat Sefalosporin ini mengobati infeksi seperti Otitis Media, infeksi jaringan
lunak dan saluran nafas.

www.hoirulblog.co.cc
9. Cefuroxim

Cefuroxim digunakan untuk mengobati infeksi tertentu yang disebabkan oleh


bakteri seperti; bronkitis, gonore, penyakit limfa, dan infeksi pada organ telinga,
tenggorokan, sinus, saluran kemih, dan kulit.

10. Cefotaxim

Cefotaxime digunakan untuk mengobati Gonore, infeksi pada ginjal


(pyelonephritis), organ pernafasan, saluran kemih, meningitis, pencegahan infeksi
pada proses operasi dan infeksi kulit dan jaringan lunak.

11. Cefotiam

Memiliki aktivitas spetrum luas terhadap kuman gram negatif dan positif, tetapi
tidak memiliki aktivitas terhadap Pseudomonas aeruginosa.

12. Cefpodoxim

Obat Sefalosporin ini menghilangkan bakteri yang menyebabkan berbagai macam


infeksi seperti Pneumonia, Bronkitis, Gonore dan infeksi pada telinga, kulit,
tenggorokan dan saluran kemih.

13. Cefepim

Obat Sefalosporin ini menghilangkan bakteri yang menyebabkan berbagai macam


infeksi seperti Pneumonia, kulit, dan saluran kemih.

14. Cefpirom

Obat Sefalosporin ini menghilangkan bakteri yang menyebabkan berbagai macam


infeksi pada darah atau jaringan, paru-paru dan saluran nafas bagian bawah, serta
saluran kemih.

www.hoirulblog.co.cc
3. Antibiotika golongan klorampenikol

KLORAMFENIKOL

Kloramfenikol diisolasi pertama kali pada tahun 1947 dari Streptomyces venezuelae.
Karena ternyata Kloramfenikol mempunyai daya antimikroba yang kuat maka
penggunaan Kloramfenikol meluas dengan cepat sampai pada tahun 1950 diketahui
bahwa Kloramfenikol dapat menimbulkan anemia aplastik yang fatal.

1. Efek antimikroba

Kloramfenikol bekerja dengan jalan menghambat sintesis protein kuman. Yang


dihambat adalah enzim peptidil transferase yang berperan sebagai katalisator
untuk membentuk ikatan-ikatan peptida pada proses sintesis protein kuman. Efek
toksis Kloramfenikol pada sel mamalia terutama terlihat pada sistem
hemopoetik/darah dan diduga berhubungan dengan mekanisme kerja
Kloramfenikol.

2. Efek samping
a. Reaksi hematologik

Terdapat dalam 2 bentuk yaitu;

i. Reaksi toksik dengan manifestasi depresi sumsum tulang.


Kelainan ini berhubungan dengan dosis, menjadi sembuh dan pulih
bila pengobatan dihentikan. Reaksi ini terlihat bila kadar
Kloramfenikol dalam serum melampaui 25 mcg/ml.
ii. Bentuk yang kedua bentuknya lebih buruk karena anemia yang
terjadi bersifat menetap seperti anemia aplastik dengan
pansitopenia. Timbulnya tidak tergantung dari besarnya dosis atau
lama pengobatan. Efek samping ini diduga disebabkan oleh adanya
kelainan genetik.

www.hoirulblog.co.cc
b. Reaksi alergi

Kloramfenikol dapat menimbulkan kemerahan kulit, angioudem, urtikaria


dan anafilaksis. Kelainan yang menyerupai reaksi Herxheimer dapat
terjadi pada pengobatan demam Tifoid walaupun yang terakhir ini jarang
dijumpai.

c. Reaksi saluran cerna

Bermanifestasi dalam bentuk mual, muntah, glositis, diare dan


enterokolitis.

d. Sindrom gray

Pada bayi baru lahir, terutama bayi prematur yang mendapat dosis tinggi
(200 mg/kg BB) dapat timul sindrom Gray, biasanya antara hari ke 2
sampai hari ke 9 masa terapi, rata-rata hari ke 4.
Mula-mula bayi muntah, tidak mau menyusui, pernafasan cepat dan tidak
teratur, perutkembung, sianosis dan diare dengan tinja berwarna hijau dan
bayi tampak sakit berat.
Pada hari berikutnya tubuh bayi menjadi lemas dan berwarna keabu-
abuan; terjadi pula hipotermia (kedinginan).

e. Reaksi neurologik

Dapat terlihat dalam bentuk depresi, bingung, delirium dan sakit kepala.

3. Penggunaan klinik

Banyak perbedaan pendapat mengenai indikasi penggunaan


kloramfenikol, tetapi sebaiknya obat ini hanya digunakan untuk mengobati
demam tifoid, salmonelosis lain dan infeksi H. influenzae. Infeksi lain sebaiknya
tidak diobati dengan kloramfenikol bila masih ada antimikroba lain yang lebih

www.hoirulblog.co.cc
aman dan efektif. Kloramfenikol tidak boleh digunakan untuk bayi baru lahir,
pasien dengan gangguan hati dan pasien yang hipersensitif terhadapnya.

4. Sediaan
a. Kloramfenikol

Terbagi dalam bentuk sediaan :

i. Kapsul 250 mg,

Dengan cara pakai untuk dewasa 50 mg/kg BB atau 1-2 kapsul 4


kali sehari.

Untuk infeksi berat dosis dapat ditingkatkan 2 x pada awal terapi


sampai didapatkan perbaikan klinis.

ii. Salep mata 1 %


iii. Obat tetes mata 0,5 %
iv. Salep kulit 2 %
v. Obat tetes telinga 1-5 %
Keempat sediaan di atas dipakai beberapa kali sehari.
b. Kloramfenikol palmitat atau stearat

Biasanya berupa botol berisi 60 ml suspensi (tiap 5 l mengandung


Kloramfenikol palmitat atau stearat setara dengan 125 mg kloramfenikol).
Dosis ditentukan oleh dokter.

c. Kloramfenikol palmitat atau stearat

Vial berisi bubuk kloramfenikol natrium suksinat setara dengan 1 g


kloramfenikol yang harus dilarutkan dulu dengan 10 ml aquades steril atau
dektrose 5 % (mengandung 100 mg/ml).

www.hoirulblog.co.cc
d. Tiamfenikol

Terbagi dalam bentuk sediaan :

i. Kapsul 250 dan 500 mg.


ii. Botol berisi pelarut 60 ml dan bubuk Ttiamfenikol 1.5 g yang
setelah dilarutkan mengandung 125 mg Tiamfenikol tiap 5 ml

4. Antibiotika golongan makrolida

MAKROLIDA

Antibiotika golongan Makrolida mempunyai persamaan yaitu terdapatnya cincin


Lakton yang besarnya dalam rumus molekulnya. Sebagai contoh terlihat pada struktur
dari golongan Makrolida , Eritromisin di bawah ini.

Golongan Makrolida menghambat sintesis protein kuman dengan jalan berikatan


secara reversibel dengan Ribosom subunit 50S, dan bersifat bakteriostatik atau bakterisid
tergantung dari jenis kuman dan kadar obat Makrolida. Sekarang ini antibiotika
Makrolida yang beredar di pasaran obat Indonesia adalah Eritomisin, Spiramisin,
Roksitromisin, Klaritromisin dan Azithromisin.

www.hoirulblog.co.cc
1. Eritromisin

Eritromisin dighasilkan oleh suatu strain Streptomyces erythreus. Aktif terhadap


kuman gram positif seperti Str. Pyogenes dan Str. Pneumoniae. Yang biasa
digunakan untuk infeksi Mycloplasma pneumoniae, penyakit Legionnaire, infeksi
Klamidia, Difter, Pertusis, iInfeksi Streptokokus, Stafilokokus, infeksi
Camylobacter, Tetanus, Sifilis, Gonore. Sediaan dari Eritromisin berupa kapsul/
tablet, sirup/sspensi, tablet kunyah dan obat tetes oral.

Dapat mengalami resistensi dalam 3 mekanisme :

a. Menurunnya permeabilitas dinding sel kuman.


b. Berubahnya reseptor obat pada Ribosom kuman dan
c. Hidrolisis obat oleh esterase yang dihasilkan oleh kuman tertentu.

Efek samping yang berat akibat pemakaian Eritromisin dan turunannya jarang
terjadi. Reaksi alergi mungkin timbul dalam bentuk demam, eosinofilia dan
eksantem yang cepat hilang bila terapi dihentikan. Ketulian sementara dapat
terjadi bila Eritromisin diberikan dalam dosis tinggi secara IV. Eritromisin
dilaporkan meningkatkan toksisitas Karbamazepin, Kortikosteroid, Siklosporin,
Digosin, Warfarin dan Teofilin.

2. Spiramisin

Spiramisin adalah antibiotika golongan Makrolida yang dihasilkan oleh


Streptomyces ambofaciens. Secara in vitro (tes laboratorium) aktivitas antibakteri
Spiramisin lebih rendah daripada Eritromisin. Sediaan yang tersedia dari
spiramisin adalah bentuk tablet 500 mg.
Seperti Eritromisin, Spiramisin digunakan untuk terapi infeksi rongga mulut dan
saluran nafas. Spiramisin juga digunakan sebagai obat alternatif untuk penderita
Toksoplasmosis yang karena suatu sebab tidak dapat diobati dengan Pirimentamin
dan Sulfonamid (misalnya pada wanita hamil, atau ada kontra indikasi lainnya).

www.hoirulblog.co.cc
Efeknya tidak sebaik Pirimentamin dan Sulfonamid. Pemberian oral kadang-
kadang menimbulkan iritasi saluran cerna.

3. Roksitromisin

Roksitromisin adalah derivat Eritromisin yang diserap dengan baik pada


pemberian oral. Obat ini lebih jarang menimbulkan iritasi lambung dibandingkan
dengan Eritromisin. Juga (bioavailabilitas) kadar obat yang tersedia tidak banyak
terpengaruh oleh adanya makanan dalam lambung. Kadar obat dalam darah dan
plasma lebih tinggi dari Eritromisin. Bentuk sediaan yang beredar adalah tablet
atau kapsul 150 mg dan 300 mg.
Indikasinya diperuntukkan untuk infeksi THT, saluran nafas bagian atas dan
bawah seperti bronkitis akut dan kronik, penumonia, uretritis (selain Gonore) akut
dan kronis, infeksi kulit seperti pioderma, impetigo, dermatitis dengan infeksi,
ulkus pada kaki.

4. Klaritromisin

Klaritromisin juga digunakan untuk indikasi yang sama denga Eritromisin. Secara
in vitro (di laboratorium), obat ini adalah Makrolida yang paling aktif terhadap
Chlamydia trachomatis. Absorpsinya tidak banyak dipengaruhi oleh adanya
makanan dalam lambung.
Efek sampingnya adalah iritasi saluran cerna (lebih jarang dibandingkan dengan
iritasi saluran cerna dan peningkatan enzim sementara di hati). Klaritromisin juga
meningkatkan kadar Teofilin dan Karbamazepin bila diberikan bersama obat-obat
tersebut.

5. Azitromisin

Azitromisin digunakan untuk mengobati infekti tertentu yang disebabkan oleh


bakteri seperti bronkitis, pneumonia, penyakit akibat hubungan seksual dan
infeksi dari telinga, paru-paru, kulit dan tenggorokan. Azitromisin tidak efektif
untuk pilek, flu atau infeksi yang disebabkan oleh virus.

www.hoirulblog.co.cc
Bentuk sediaan dari Azitromisin adalah tablet atau suspensi oral (cairan).
Biasanya digunakan dengan atau tanpa makanan satu kali sehari selama 1-5 hari.
Agar membantu anda ingat minum Azitromisin, minumlah pada jam yang sama
setiap harinya. Minumlah azitromisin sesuai dosis yang ada. Jangan lebih atau
kurang dari dosis yang ditentukan oleh dokter. Kocok sirup dengan baik sebelum
dipakai untuk mencampur obat dengan baik. Gunakan syringe yang tersedia untuk
mengukur dengan tepat dosis yang anda gunakan. Setelah itu bersihkan syringe
dengan air. Untuk tablet harus diminum dengan segelas air penuh. Habiskan obat
yang diresepkan, walaupun anda merasa sudah baik atau sembuh. Hal ini untuk
menghindari bakteri menjadi resistensi bila pengobatan tidak diselesaikan.

5. Antibiotika golongan penisilin

PENISILIN

Penisilin merupakan kelompok antibiotika Beta Laktam yang telah lama dikenal.
Pada tahun 1928 di London, Alexander Fleming menemukan antibiotika pertama yaitu
Penisilin yang satu dekade kemudian dikembangkan oleh Florey dari biakan Penicillium
notatum untuk penggunaan sistemik. Kemudian digunakan P. chrysogenum yang
menghasilkan Penisilin lebih banyak. Penisilin yang digunakan dalam pengobatan terbagi
dalam Penisilin alam dan Penisilin semisintetik. Penisilin semisintetik diperoleh dengan
cara mengubah struktur kimia Penisilin alam atau dengan cara sintesis dari inti Penisilin.
Beberapa Penisilin akan berkurang aktivitas mikrobanya dalam suasana asam sehingga
Penisilin kelompok ini harus diberikan secara parenteral. Penisilin lain hilang
aktivitasnya bila dipengaruhi enzim Betalaktamase (Penisilinase) yang memecah cincin
Betalaktam.

1. Aktivitas dan Mekanisme Kerja Penisilin

Penisilin menghambat pembentukan Mukopeptida yang diperlukan untuk sintesis


dinding sel mikroba. Terhadap mikroba yang sensitif, Penisilin akan
menghasilkan efek bakterisid (membunuh kuman) pada mikroba yang sedang
aktif membelah. Mikroba dalam keadaan metabolik tidak aktif (tidak membelah)

www.hoirulblog.co.cc
praktis tidak dipengaruhi oleh Penisilin, kalaupun ada pengaruhnya hanya
bakteriostatik (menghambat perkembangan). Oleh karenanya penting untuk
menghabiskan antibiotika yang diresepkan dokter anda.

2. Absorbsi Penisillin

Peroral

Penicilin-G dan garam-garamnya di dalam lambung mamalia berlambung tunggal


mengalami inaktifasi oleh asam lambung sampai 70%. Pada individu tua yang
produksi asam lambung sangat menurun atau bahkan achlorhidri, pemberian
penicillin dapat memberikan hasil yang lebih baik dalam proses absorbsinya di
duodenum. Pemberian phenoxy-methil dan phenoxy aethyl penicillin (penicillin
V) absorbsinya juga baik, karena tidak dirusak oleh asam lambung hewan
kesayangan, kadar penicillin dalam plasma meningkat dengan cepat..

Intramusculer

Garam-garam Na dan K-penicillin diserap cukup cepat, dengan puncak kadar


penicillin di dalam plasma segera dicapai, begitu pula ekskresinya lewat ginjal.
Dengan dosis baku efek baktersidal berlangsung selama 4 jam. Kadar minimal di
dalam plasma adalah 2,5 ppm dan untuk mencapainya dosis penicillin-G
diberikan antara 10.000-40.000 IU/kg (kuda). Untuk memperlambat absorsi nya
dapat dilakukan dengan jalan antara lain :
Penicillin dijadikan garam dengan procain hingga terjadi garam procain-penicillin
yang berupa suspensi dalam air. Partikel yang tidak larut akan memperlambat
penyerapan sampai 18-24 jam setelah disuntikan.
procain-penicillin-G diemulsikan di dalam minyak nabati atau 2% aluminium
monostearat. Penyerapan penicillin dengan emulsi ini berlangsung selama 36-72
jam. Biasanya suntikan intramuskuler menyebabkan radang lokal (myositis)
<Penicillin dijadikan garam benzathine-penicilin-G. Efek terapi yang diperoleh
dapat diperpanjang sampai 7-14 hari pasca penyuntikan.
Intravena

www.hoirulblog.co.cc
Penyuntikan secara intravena menghasilkan kadar tinggi di dalam plasma, yang
segera diikuti eliminasi yang cepat pula selama 4-6 jam. Penyuntikan ini harus
dilakukan berulang kali dengan interval pendek. Penicillin yang digunakan hanya
garam Na dan K, karena keduanya mudah larut dalam air.
Intratracheal
Cara ini banyak dilakukan untuk penderita radang paru-paru infeksi, dan kadar
yang tinggi diperlukan di dalam jaringan paru-paru.
Intrauterin
Absorbsi penicillin terjadi setelah infusi interauterin,dengan dosis 1,5 juta IU
procain penicillin yang diberikan secara intrauterin,ekskresi melalui kelenjar susu
berlangsung selama 60-48 jam pasca infusi,infusi intrauterin dilakukan untuk
pengobatan metritis dan pyometra pada sapi.
Intramamari
Absorbsi obat yang diinfusikan intramamer berlangsung secara difusi jaringan
lokal. Penicillin untuk mengobati mastitis dapat berupa garam penicillin, dan
tergantung pada vehikelnya, penicillindapat efektif dalam beberapa jam sampai
hari atau minggu (penicillin intramamer retard)
Distribusi dalam Jaringan
Dalam keadaan normal penicillin didistribusikan dengan cepat dari plasma ke
dalam jaringan tubuh . persentase volume disribusi (apparent volume distribotion,
AVD) sebesar 50% memperlihatkan cepat dan mudahnya didistribusi penicillin ke
dalam jaringan .
Ekskresi
Penicillin diekskresikan mlalui ginjal,kelenjar susu, hati dan usus. Melalui ginjal
penicillin diekskresikan dengan cepat, serta mencapai 60-80% dari obat yang
dimasukkan. Ekskresi renal tersebut terdiri dari ekskresi glomerular (20%) dan
ekskresi tubuler (80%). Eksresi lewat kelenjar susu,dalam keadaan seimbang, atau
Equilibrium state, jumlah yang diekskresikan mencapai 16% dari yang ada di
dalam plasma, waktu bebas obat, atau withfrawal time, penicillin dari air susu
adalah 96 jam.

www.hoirulblog.co.cc
Ekskresi penicillin lewat keringat, empedu, tinja dll cairan tubuh jumlahnya tidak
berarti.

2. Efek Samping Penisilin


o Reaksi hipersensitif, mulai ruam dan gatal sampai serum sickness dan
reaksi alergi sistemik yang serius.
o Nyeri tenggorokan atau lidah, lidah terasa berbulu lembut, muntah, diare.
o Mudah marah, halusinasi, kejang
3. Sediaan dari Penisilin

Antibiotika golongan penisilin yang beredar di pasaran untuk penggunaan oral


adalah :

a. Amoksisilin dan campurannya (asam klavulamat)


 Bentuk tablet atau kapsul dengan kandungan Amoksisilin 250mg,
500 mg dan 875 mg. Agar Amoksisilin tidak rusak oleh asam
lambung, Amoksisilin ada yang dikombinasi dengan asam
Klavulamat 125 mg. Untuk sediaan ini tidak boleh dibagi/diracik
karena kandungan optimum Asam Klavulamat untuk bentuk
sediaan tablet 125 mg.
 Bentuk sediaan sirup dengan kandungan Amoksisilin 125 dan 250
mg / 5 ml. Bila dikombinasi dengan Asam Kavulamat, 31,25 mg
Asam Klavulamat dan 125 mg Amoksisilin atau 62,5 mg Asam
Klavulamat dan 250 mg Amoksisilin.
 Untuk sediaan injeksi biasa dalam bentuk vial 1.000 mg, dengan
kombinasi Asam Klavulamat 200 mg.
b. Ampisilin
 Bentuk sediaan kapsul atau tablet dengan kandungan 250 mg, 500
mg atau 1000 mg.
 Bentuk sediaan sirup dengan kandungan 125 mg atau 250 mg/5 ml
sirup.

www.hoirulblog.co.cc
 Untuk sediaan injeksi biasa dalam bentuk vial dengan kandungan
200 mg, 500 mg dan 1.000 mg Ampisilin. Dan ada kombinasi
1.000 mg Ampisilin dan 500 mg Sulbactam atau 500 mg Ampisilin
dan 250 mg Sulbactam
c. Flucloxacilin

Di pasaran terdapat dalam bentuk kapsul dengan kandungan 250 mg dan


500 mg zat aktif juga dalam bentuk sirup dengan kandungan zat aktif 125
mg / 5 ml.

d. Cloxacilin

Di pasaran terdapat dalam bentuk kapsul dengan kandungan 250 mg dan


500 mg zat aktif juga dalam bentuk vial dengan kandungan zat aktif 250
mg, 500 mg dan 1.000 mg /vial.

e. Piperacilin

Di pasaran terdapat dalam kombinasi; 4 gram Piperacilin dengan 500 mg


Tazobactam dalam bentuk vial.

f. Sulbenicilin

Di pasaran terdapat dalam bentuk vial dengan kandungan 1 gram dan 2


gram zat aktif.

g. Derivat penisilin lainnya

Seperti Phenoxymethyl Penicillin dan Benzathine Penicillin dalam bentuk


vial untuk pemakaian injeksi.

www.hoirulblog.co.cc
4. Penggunaan Klinik

a. Infeksi kuman gram positif

Kuman dalam bentuk kokus seperti Pneumonia, Meningitis, Endokarditis,


Otitis Media akut dan Mastoiditis, juga infeksi Stafilokokus. Kuman dalam
bentuk batang seperti Difteria, Klostridia, Antraks, Listeria, Erisipeloid.

b. Infeksi kuman gram negatif

Kuman dalam bentuk kokus seperti infeksi Meningokokus, Gonore, infeksi


Gonokokus di ekstragenital, juga Sifilis. Kuman dalam bentuk batang seperti
pada infeksi Salmonella dan Shigelia, Haemophilus influenzae, P. multocida.

Hal yang perlu diperhatikan sewaktu menggunakan antibiotika Penisilin :

 Amati tanda-tanda alergi Penisilin, seperti ruam atau gatal, yang timbul dalam
waktu 20 menit (atau setelah beberapa hari). Waspadalah terutama bila terjadi
kesulitan bernafas, rasa tercekik, pusing, cemas, lemah, dan berkeringat.
Laporkan segera pada dokter gejala-gejala tersebut.
 Minumlah semua obat anda, walaupun anda sudah merasa sembuh, menghentikan
pengobatan lebih awal dapat menyebabkan kekambuhan.
 Jika anda lupa minum obat satu dosis, minumlah segera mungkin. Lalu jarak
minum dosis obat yang tersisa pada hari itu diperpendek semuanya untuk
memperbaiki dosis yang terlupa. Penisilin bekerja efektif bila kadar Penisilin
dalam tubuh anda tetap.
 Hindari makanan yang asam (jeruk asam, vitamin c) yang akan mengurangi
keefektifan Penisilin.
 Hubungi dokter anda jika gejala-gejala penyakit anda tidak membaik dalam waktu
beberapa hari setelah menggunakan Penisilin.

www.hoirulblog.co.cc
6. Antibiotika golongan beta laktam golongan lain,

7. Antibiotika golongan kuinolon

KUINOLON

Asam Nalidiksat adalah prototip antibiotika golongan Kuinolon lama yang


dipasarkan sekitar tahun 1960. Walaupun obat ini mempunyai daya antibakteri yang baik
terhadap kuman gram negatif, tetapi eliminasinya melalui urin berlangsung terlalu cepat
sehingga sulit dicapai kadar pengobatan dalam darah. Karena itu penggunaan obat
Kuinolon lama ini terbatas sebagai antiseptik saluran kemih saja. Pada awal tahun 1980,
diperkenalkan golongan Kuinolon baru dengan atom Fluor pada cincin Kuinolon ( karena
itu dinamakan juga Fluorokuinolon). Perubahan struktur ini secara dramatis
meningkatkan daya bakterinya, memperlebar spektrum antibakteri, memperbaiki
penyerapannya di saluran cerna, serta memperpanjang masa kerja obat.

Golongan Kuinolon ini digunakan untuk infeksi sistemik. Yang termasuk


golongan ini antara lain adalah Spirofloksasin, Ofloksasin, Moksifloksasin,
Levofloksasin, Pefloksasin, Norfloksasin, Sparfloksasin, Lornefloksasin, Flerofloksasin
dan Gatifloksasin.

1. Mekanisme Kerja Kuinolon

Pada saat perkembang biakkan kuman ada yang namanya replikasi dan
transkripsi dimana terjadi pemisahan double helix dari DNA kuman menjadi 2
utas DNA. Pemisahan ini akan selalu menyebabkan puntiran berlebihan pada
double helix DNA sebelum titik pisah.

Hambatan mekanik ini dapat diatasi kuman dengan bantuan enzim DNA
girase. Peranan antibiotika golongan Kuinolon menghambat kerja enzim DNA
girase pada kuman dan bersifat bakterisidal, sehingga kuman mati.

www.hoirulblog.co.cc
2. Efek Samping dan Interaksi Obat

Golongan antibiotika Kuinolon umumnya dapat ditoleransi dengan baik.


Efek sampingnya yang terpenting ialah pada saluran cerna dan susunan saraf
pusat.
Manifestasi pada saluran cerna,terutama berupa mual dan hilang nafsu
makan, merupakan efek samping yang paling sering dijumpai. Efek samping pada
susunan syaraf pusat umumnya bersifat ringan berupa sakit kepala, vertigo, dan
insomnia.
Efek samping yang lebih berat dari Kuinolon seperti psikotik, halusinasi,
depresi dan kejang jarang terjadi. Penderita berusia lanjut, khususnya dengan
arteriosklerosis atau epilepsi, lebih cenderung mengalami efek samping ini.
Enoksasin menghambat metabolisme Teofilin dan dapat menyebabkan
peningkatan kadar Teofilin. Siprofloksasin dan beberapa Kuinolon lainnya juga
memperlihatkan efek ini walaupun tidak begitu dramatis.

3. Penggunaan Klinik
a. Infeksi saluran kemih

Seperti Prostatitis, Uretritis, Servisitis dan Pielonfritis.

b. Infeksi saluran cerna

Seperti demam Tifoid dan Paratifoid

c. Infeksi saluran nafas bawah

Seperti Bronkitis, Pneumonia, Sinusitis

d. Penyakit yang ditularkan melalui hubungan kelamin

Gonore

www.hoirulblog.co.cc
e. Infeksi jaringan lunak dan tulang

Seperti Osteomielitis. Untuk infeksi pasca bedah oleh kuman enterokokus


Ps. aeroginosa atau stafilokokus yang resisten terhadap Beta Laktam atau
Aminoglikosid.

4. Sediaan di Pasaran

a. Spirofloksasin

A. Absorpsi

Siprofloksasin oral diserap dengan baik melalui saluran cerna. Bioavailabilitas


absolut adalah sekitar 70%, tanpa kehilangan yang bermakna dari metabolisme fase
pertama. Berikut ini adalah konsentrasi serum maksimal dan area di bawah kurva
(area under the curve, AUC) dari siprofloksasin yang diberikan pada dosis 250 ~
1000 mg.

Tabel 1. Konsentrasi serum maksimum dan area di bawah kurva dari


siprofloksasin

Dosis Konsentrasi serum Area di bawah kurva


(mg) maksimal (ug/mL)
(mg.hr/mL)
250 1.2 4.8
500 2.4 11.6
750 4.3 20.2
1000 5.4 30.0

www.hoirulblog.co.cc
Konsentrasi serum maksimal dicapai 1 sampai 2 jam setelah dosis oral.
Konsentrasi rata-rata 12 jam setelah dosis 250, 500 dan 750 mg adalah 0,1; 0,2 dan
0,4 mg/mL.14

B. Distribusi

Ikatan siprofloksasin terhadap protein serum adalah 20-40% sehingga tidak cukup
untuk menyebabkan interaksi ikatan protein yang bermakna dengan obat lain.

Setelah administrasi oral, siprofloksasin didistribusikan ke seluruh tubuh.


Konsentrasi jaringan seringkali melebihi konsentrasi serum, terutama di jaringan
genital, termasuk prostat. Siprofloksasin ditemukan dalam bentuk aktif di saliva,
sekret nasal dan bronkus, mukosa sinus, sputum cairan gelembung kulit, limfe, cairan
peritoneal, empedu dan jaringan prostat.14,15 Siprofloksasin juga dideteksi di paru-
paru, kulit, jaringan lemak, otot, kartilago dan tulang. Obat ini berdifusi ke cairan
serebro spinal, namun konsentrasi di CSS adalah kurang dari 10% konsentrasi serum
puncak. Siprofloksasin juga ditemukan pada konsentrasi rendah di aqueous humor
dan vitreus humor.

C. Metabolisme

Empat metabolit siprofloksasin yang memiliki aktivitas antimikrobial yang lebih


rendah dari siprofloksasin bentuk asli telah diidentifikasi di urin manusia sebesar 15%
dari dosis oral.

D. Ekskresi

Waktu paruh eliminasi serum pada subjek dengan fungsi ginjal normal adalah
sekitar 4 jam. Sebesar 40-50% dari dosis yang diminum akan diekskresikan melalui
urin dalam bentuk awal sebagai obat yang belum diubah. Ekskresi siprofloksasin
melalui urin akan lengkap setelah 24 jam . Dalam urin semua fluorokuinolon
mencapai kadar yang melampaui konsentrasi hambat minimal (KHM) untuk
kebanyakan kuman patogen selama minimal 12 jam. Klirens ginjal dari

www.hoirulblog.co.cc
siprofloksasin, yaitu sekitar 300 mL/menit, melebihi laju filtrasi glomerulus yang
sebesar 120 mL/menit. Oleh karena itu, sekresi tubular aktif memainkan peran
penting dalam eliminasi obat ini. Pemberian siprofloksasin bersama probenesid
berakibat pada penurunan 50% klirens renal siprofloksasin dan peningkatan 50%
pada konsentrasi sistemik.

E. Interaksi Obat

Siprofloksasin sediaan tablet bila diberikan bersama makanan, akan mengalami


terjadi keterlambatan absorpsi, sehingga konsentrasi puncak baru akan dicapai 2 jam
setelah pemberian. Pada siprofloksasin sediaan suspensi, tidak terjadi keterlambatan
absorpsi bila diberikan bersama makanan sehingga konsentrasi puncak dicapai dalam
1 jam. Bila diberikan bersama dengan antasid yang mengandung magnesium
hidroksida atau aluminium hidroksida dapat mengurangi bioavailabilitas
siprofloksasin secara bermakna.

F. Spektrum Antibakteri Siprofloksasin

Siprofloksasin bersifat bakterisid, terutama aktif terhadap bakteri gram negatif


dan memiliki aktivitas lemah terhadap gram positif.

G. Mekanisme Resistensi Siprofloksasin


Siproflokasin merupakan generasi pertama golongan fluorokuinolon. Berikut ini
akan dibahas mekanisme resistensi fluorokuinolon secara umum.
Fluorokuinolon (dan kuinolon pertama) merupakan antimikroba yang unik karena
secara langsung menghambat sintesis DNA. Inhibisi ini tampaknya terjadi oleh
interaksi antara obat dengan kompleks yang terdiri dari DNA dan salah satu dari
kedua enzim target: DNA gyrase dan topoisomerase IV.
Pada semua spesies, mekanisme resistensi fluorokuinolon mencakup satu atau
dua dari tiga kategori utama, yaitu: perubahan dalam target obat dan perubahan dalam
penetrasi obat untuk mencapai target. Enzim yang dapat mendegradasi atau
memodifikasi kuinolon tidak ditemukan.

www.hoirulblog.co.cc
A. Perubahan pada enzim target

Kebanyakan studi mempelajari perubahan pada enzim target, yang secara umum
terletak pada domain spesifik dari setiap tipe subunit. Perubahan ini terjadi akibat
mutasi spontan dari gen yang mengkode subunit enzim sehingga dapat dapat terjadi
dalam jumlah kecil (1 dalam 106 sampai 1 dalam 10 9 sel) di populasi bakteri yang
besar. Dengan subunit GyrA dan ParC dari bakteri resisten, perubahan asam amino
secara umum terlokalisasi pada regio amino terminal yang mengandung tempat aktif,
yaitu tirosin yang terkait pada rantai DNA yang putus sewaktu enzim bekerja.
Perubahan asam amino yang mengakibatkan resistensi terkelompok dalam tiga
dimensi, didasarkan pada struktur fragmen GyrA yang telah dipecah.

Perbedaan pada Target dan Resistensi Fluorokuinolon. Interaksi


fluorokuinolon dengan kompleks baik DNA gyrase atau topoisomerase IV dengan
DNA dapat menghambat sintesis DNA dan berakibat pada kematian sel. Potensi
antibakteri dari kuinolon didefinisikan sebagai potensi dalam berikatan dengan dua
target enzim. Banyak fluorokuinolon memiliki potensi berbeda dalam mengikat DNA
gyrase dan topoisomerase IV. Langkah pertama resistensi mutasi pada target obat
biasanya terjadi melalui perubahan asam amino pada enzim target primer, dengan
peningkatan KHM pada sel yang ditentukan oleh efek mutasi atau oleh derajat
sensitivitas intrinsik dari target obat sekunder. Derajat resistensi yang lebih tinggi
dapat terjadi melalui langkah mutasi kedua, dimana perubahan asam amino terjadi
pada enzim target sekunder. Mutasi lebih lanjut mengakibatkan tambahan perubahan
asam amino di salah satu enzim. Pola mutasi ini pada enzim target yang berubah-ubah
mengimplikasikan bahwa baik potensi intrinsik yang tinggi terhadap target primer
maupun kesamaan potensi melawan kedua target akan mempengaruhi kemungkinan
pemilihan mutan resisten pertama.

B. Perubahan pada Penetrasi Obat

Untuk mencapai target pada sitoplasma sel, fluorokuinolon harus melewati


membran sitoplasma dan juga membran luar pada bakteri gram negatif. Molekul

www.hoirulblog.co.cc
fluorokuinolon cukup kecil dan memiliki karakterisitik yang memungkinkan untuk
melewati membran luar melalui protein porin. Resistensi flurokuinolon pada bakteri
gram negatif dikaitkan dengan reduksi porin dan penurunan akumulasi obat pada
bakteri, tetapi pengukuran angka difusi menyatakan bahwa reduksi porin sendiri
secara umum tidak cukup untuk mengakibatkan resistensi.

Penemuan yang lebih baru menyatakan bahwa resistensi yang diisebabkan oleh
pengurangan akumulasi membutuhkan adanya suatu sistem efluks endogen yang
secara aktif memompa obat dari sitoplasma. Pada bakteri gram negatif, sistem ini
secara khas memiliki tiga komponen: pompa efluks yang berlokasi di membran
sitoplasma, protein membran luar dan protein fusi membran yang menyatukan
keduanya. Obat ini secara aktif dikeluarkan dari sitoplasma atau membran sitoplasma
melewati periplasma dan membran luar ke lingkungan luar sel. Energi untuk proses
ini didapat dari gradien proton yang melalui membran. Sistem efluks ini secara khas
mampu menyebabkan resistensi terhadap gabungan dari berbagai jenis struktur
sehingga dikenal dengan istilah pompa multi drug resistance (MDR pumps). Pompa
ini ditemukan pada banyak bakteri. Di antara bakteri patogen, Escherichia coli,
Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus dan Streptococcus pneumoniae
merupakan yang paling banyak dipelajari dalam hal sistem efluks yang menyebabkan
resistensi fluorokuinolon. Pada beberapa kasus, ekspresi komponen dari sistem efluks
ini telah terkendali. Resistensi disebabkan oleh mutasi kromosom yang
mengakibatkan peningkatan ekspresi komponen pompa.

Gambaran struktural dari fluorokuinolon yang menentukan apakah ia akan


dipengaruhi oleh sistem efluks masih belum dapat dijelaskan, tetapi berkorelasi
dengan hidrofilisitas pada pompa NorA dari S. aureus. Risiko terjadinya resistensi
lebih kecil pada kuinolon yang merupakan substrat lemah bagi pompa efluks, karena
ekspresi berlebih dari pompa semacam itu tampaknya tidak efektif sebagai
mekanisme resistensi.

www.hoirulblog.co.cc
Mekanisme Resistensi Lainnya

Mekanisme dominan resistensi fluorokuinolon yang telah diidentifikasi adalah :


1) mutasi kromosom yang menyebabkan penurunan afinitas terhadap DNA gyrase dan
topoisomerasi IV dan 2) ekspresi berlebih pompa MDR endogen. Pernah dilaporkan
resistensi fluorokuinolon yang diperantarai plasmid pada isolat klinis Klebsiella
pneumoniae, yang dapat ditransfer pada E. coli di laboratorium. Baik mekanisme
resistensi yang dapat ditransfer ini, maupun prevalensi dari resistensi fluorokuinolon
yang diperantarai plasmid tidak diketahui.

b. Ofloksasin

Antibiotika Kuinolon ini tersedia dalam bentuk tablet dengan kandungan


Ofloksasin 200 mg dan 500 mg. Juga tersedia dalam bentuk infus dengan
kandungan Ofloksasin 200 mg/100 ml.

c. Moksifloksasin

Antibiotika Kuinolon ini tersedia dalam bentuk tablet dengan Moksifloksasin


kandungan 400 mg. Juga tersedia dalam bentuk infus dengan kandungan
Moksifloksasin 400 mg/250 ml.

d. Levofloksasin

Antibiotika Kuinolon ini tersedia dalam bentuk tablet dengan kandungan


Levofloksasin 250 mg dan 500 mg. Juga tersedia dalam bentuk infus dengan
kandungan Levofloksasin 500 mg/100 ml.

e. Pefloksasin

Antibiotika Kuinolon ini tersedia dalam bentuk tablet dengan kandungan


Pefloksasin 400 mg. Juga tersedia dalam bentuk infus dengan kandungan
Pefloksasin 400 mg/125 ml dan ampul dengan kandungan Pefloksasin 400 mg/5
ml.

www.hoirulblog.co.cc
f. Norfloksasin

Antibiotika Kuinolon ini tersedia dalam bentuk tablet dengan kandungan 400 mg.

g. Sparfloksasin

Antibiotika Kuinolon ini tersedia dalam bentuk tablet dengan kandungan 200 mg.

h. Lornefloksasin

Antibiotika Kuinolon ini tersedia dalam bentuk tablet dengan kandungan 400 mg.

i. Flerofloksasin

Antibiotika Kuinolon ini tersedia dalam bentuk tablet dengan kandungan 400 mg.
Juga tersedia dalam bentuk infus dengan kandungan 400 mg/100 ml.

j. Gatifloksasin

Antibiotika Kuinolon ini tersedia dalam bentuk tablet dengan kandungan 400 mg.
Juga tersedia dalam bentuk vial untuk ijeksi dengan kandungan 400 mg/40 ml.

8. Antibiotika golongan tetrasiklin,

TETRASIKLIN

Tetrasiklin pertama kali ditemukan oleh Lloyd Conover. Berita tentang Tetrasiklin
yang dipatenkan pertama kali tahun 1955. Tetrasiklin merupakan antibiotika yang memberi
harapan dan sudah terbukti menjadi salah satu penemuan antibiotika penting. Antibiotika
golongan tetrasiklin yang pertama ditemukan adalah Klortetrasiklin yang dihasilkan oleh
Streptomyces aureofaciens. Kemudian ditemukan Oksitetrasiklin dari Streptomyces
rimosus. Tetrasiklin sendiri dibuat secara semisintetik dari Klortetrasiklin, tetapi juga dapat
diperoleh dari spesies Streptomyces lain.

www.hoirulblog.co.cc
1. Mekanisme Kerja Tetrasiklin

Golongan Tetrasiklin termasuk antibiotika yang bersifat bakteriostatik dan bekerja


dengan jalan menghambat sintesis protein kuman. Golongan Tetrasiklin
menghambat sintesis protein bakteri pada ribosomnya. Paling sedikit terjadi 2
proses dalam masuknya antibiotika Tetrasiklin ke dalam ribosom bakteri gram
negatif; pertama yang disebut difusi pasif melalui kanal hidrofilik, kedua ialah
sistem transportasi aktif.
Setelah antibiotika Tetrasiklin masuk ke dalam ribosom bakteri, maka antibiotika
Tetrasiklin berikatan dengan ribosom 30s dan menghalangi masuknya komplek
tRNA-asam amino pada lokasi asam amino, sehingga bakteri tidak dapat
berkembang biak.
Pada umumnya efek antimikroba golongan Tetrasiklin sama (sebab mekanisme
kerjanya sama), namun terdapat perbedaan kuantitatif dari aktivitas masing-
masing derivat terhadap kuman tertentu. Hanya mikroba yang cepat membelah
yang dipengaruhi antibiotika Tetrasiklin.

2. Efek Samping dan Interaksi Obat Tetrasiklin

Iritasi lambung pada pemberian oral. Tromboflebitis pada pemberian injeksi (IV).
Tetrasiklin terikat pada jaringan tulang yang sedanag tumbuh dan membentuk
kompleks. Pertumbuhan tulang akan terhambat sementara pada janin sampai anak
tiga tahun.
Pada gigi susu atau gigi tetap, Tetrasiklin dapat merubah warna secara permanen
dan cenderung mengalami karies. Dapat menimbulkan superinfeksi oleh kuman
resisten dan jamur, dengan gejala adalah diare akibat terganggunya keseimbangan
flora normal dalam usus.
Absorbsi Tetrasiklin dihambat oleh antasida, susu, Koloidal bismuth,
Fenobarbital, Fenitoin dan Karbamazepin sehingga mengurangi kadar dalam
darah karena metabolismenya dipercepat.
Tetrasiklin dapat mempengaruhi kerja Penisilin dan Antioagulan.

www.hoirulblog.co.cc
3. Penggunaan Klinik Tetrasiklin
a. Tetrasikin

Tetrasiklin terutama digunakan untuk pengobatan acne vulgaris dan


rosacea. Tetrasikin juga dapat digunakan untuk pengobatan infeksi pada
saluran pernafasan, sinus, telinga bagian tengah, saluran kemih, usus dua
belas jari dan juga Gonore.

b. Doksisiklin

Kegunaan Doksisiklin selain seperti Tetrasiklin juga digunakan untuk


pencegahan pada infeksi Antraks. Dan digunakan untuk pengobatan dan
pencegahan Malaria, serta perawatan infeksi Kaki Gajah.

c. Oksitetrasiklin

Oksitetrasiklin berguna dalam pengobatan infeksi karena Ricketsia dan


Klamidia, pada saluran nafas, saluran cerna, kulit dan jaringan lunak dan
infeksi karena hubungan kelamin.

d. Minosiklin

Minosiklin digunakan untuk mengobati infeksi bakteri seperti Pneumonia


dan infeksi saluran nafas lain, jerawat dan infeksi kulit, kelamin dan
saluran kemih. Minosiklin juga dapat membunuh bakteri dari hidung dan
tenggorokan anda yang dapat menyebabkan meningitis.

4. Sediaan Antibiotika Tetrasiklin di Pasaran


a. Tetrasikin

Tetrasiklin dipasaran dalam bentuk kapsul dengan kandungan 250 mg dan


500 mg. Juga ada yang dalam bentuk buffer untuk mengurangi efek
sampingnya mengritasi lambung.

www.hoirulblog.co.cc
b. Doksisiklin

Doksisiklin di pasaran tersedia dalam bentuk sediaan tablet da kapsul


dengan kanduungan 50 mg dan 100 mg.

c. Oksitetrasiklin

Oksitetrasiklin di pasaran tersedia dalam bentuk sediaan kapsul 500 mg


dan vial 50 mg/ml untuk injeksi.

d. Minosiklin

Minosiklin dipasaran dalam bentuk kapsul dengan kandungan 50 mg dan


100 mg.

9. Kombinasi antibakteri
10. Antibiotika golongan lain

ANTIBIOTIKA GOLONGAN LAIN

Antiobiotika golongan lain yang ada di Indonesia adalah : Klindamisin, metronidazol,


colistin, tinidazol, fosfomycin, teicoplanin, vancomycin dan linezolid. Berikut informasi
detail dari antibiotika golongan lain :

1. Klindamisin

Klindamisin digunakan untuk infeksi bakteri anaerob. Seperti infeksi pada


saluran nafas, septikemia, dan peritonitis. Untuk pasien yang sensitif terhadap
penisilin Klindamisin juga dapat digunkan untuk infeksi bakteri aerobik.
Klindamisin juga dapat digunakan untuk infeks pada tulang yang disebabkan
staphylococcus aureus. Sediaan topikalnya dalam bentuk Klindamisin posfat
digunkan untuk jerawat yang parah. Klindamisin efektif untuk infeksi yang
disebabkan mikroba sebagai berikut :

www.hoirulblog.co.cc
o Bakteri aerobik gram positif seperti golongan Staphylococus dan
Streptococus (pneumococcus)
o Bakteri anaerobik gram negatif termasuk golongan Batericoides dan
Fusobacterium
2. Metronidazol

Metronidazol efektif untuk bakteri anaerob dan protozoa yang sensitif


karena beberapa organisme memiliki kemampuan untuk mengurangi bentuk aktif
metronidazol di dalam selnya. Secara sistemik metronidazol digunakan untuk
infeksi anaerobik, trikomonasis, amubiasis, lambiasis dan amubiasis hati.

3. Colistin

Colistin digunakan dalam bentuk sulfat atau kompleks sulfomethyl,


colistimetate. Tablet Colistin sulfat digunakan untuk mengobati infeksi usus atau
untuk menekan flora di kolon. Colistin sulfat juga digunakan dalam bentuk krim
kulit, bubuk dan tetes mata. Colistimethat digunakan untuk sedian parenteral dan
dalam bentuk aerosol untuk pengobatan infeksi paru-paru.

4. Tinidazol

Tinidazol merupakan kelompok antibiotika azol. Mekanisme kerjanya


dengan cara masuk ke dalam sel mikroba dan berikatan dengan DNA.Dengan cara
ini mikroba tidak dapat berkembang biak. Tinidazol adalah antibiotika khusus
yang digunakan untuk menghentikan penyebaran bakteri anaerob. Bakteri ini
biasanya menginfeksi lambung, tulang, otak dan paru-paru.

5. Teicoplanin

Teicoplanin merupakan kelompok antibiotika dari glikopeptida. Bakteri


memiliki dinding sel luar yang dipertahankan oleh molekul peptidoglikan.
Dinding sel sangat vital untuk mempertahankan pada lingkungan normal di dalam
tubuh di mana bakteri hidup.Teicoplanin bekerja dengan mengunci formasi dari

www.hoirulblog.co.cc
peptidoglikan. Dengan cara tersebut dinding bakteri menjadi lemah sehingga
bakteri mati. Teicoplanin digunakan untuk infeksi serius pada hati dan darah.
Teicoplanin tidak dapat diserap di lambung sehingga hanya diberikan dengan cara
infus atau injeksi.

6. Vancomycin

Vancomycin bekerja dengan membunuh atau menghentikan


perkembangan bakteri.Vancomycin digunakan untuk mengobati infeksi pada
beberapa bagian tubuh. Kadangkala digabung dengan antibiotika
lain.Vancomycin juga digunakan untuk penderita dengan gangguan hati (mis
demam rematik) atau prosthetic (artificial) hati yang alergi dengan
penisilin.Dengan kondisi khusus, antibiotika ini juga dapat digunakan untuk
mencegah endocarditis pada pasien yang telah melakukan operasi gigi atau
operasi saluran nafas atas (hidung atau tenggorokan).Vancomycin diberikan
dalam bentuk injeksi untuk infeksi serius kalau obat lain tidak berguna. Walaupun
demikian, obat ini dapat menimbulkan beberapa efek samping yang serius,
termasuk merusak pendengaran dan ginjal. Efek samping ini akan sering terjadi
pada pasien yang berumur lanjut.

7. Linezolid

Linezolid digunakan untuk mengobati infeksi termasuk pneumonia,infeksi


saluran kemih dan infeksi pada kulit dan darah. Linezolid termasuk golongan
antibiotika oxazolidinon.Cara kerja dengan menghentikan perkembang biakan
bakteri.Linezolid dapat berupa tablet atau suspensi oral. Biasanya diminum
sesudah atau sebelum makan dua kali sehari (setiap 12 jam) untuk 10 sampai 28
hari. Jangan minum kurang atau lebih dari yang diresepkan dokter anda.
Sebelum minum suspensi oral, bulak balik botol dengan baik tiga hingga lima
kali. Jangan dikocok.
Lanjutkan minum obat hingga habis walau anda merasa sudah sembuh.Jangan
hentikan minum obat tanpa bicara ke dokter anda.

www.hoirulblog.co.cc
G. SPESIALITE OBAT – OBAT ANTIBIOTIKA
Golongan Penicillinum
 Ampicillinum : Penbritin ” beecham ”
 Kloksasilin : Ikaclox ” IkaPharmindo ”
 Peniccilinum V : Penocin ” Dumex Alpharma”
 Bensil Peniccilin : Panadur LA ”Sunthi Sepuri”
 Ammoxcicilin : Amoxcil “ Beecham “
 Co- Amoxyclav : Clavamox “ Kalbe Farma “
Golongan Sefalosporin
 Sefadroksil : Cefat “ Sanbe farma “
 Sefotaksim : Clacef “ Dexa medika “
 Sefaleksim :Tepaxin “ Takeda “
 Seftriaxone : Rocephin “Roche “
 Sefradin : Ceficin “ Kalbe Farma “
 Sefazolin : Cefacidal “ Squib”
 Sefaklor : ceclor “ Tempo”
 Sefuroksim : Kalcef “ Kalbe Farma “
 Seftazidim ; Ceftum ” Dexa Medika ”
Golongan Aminoglikosida
 Kanamisin Sulfat : Kanabiotik ” Bernofarma”
 Kanoxin ” Dumex ”
 Gentamisin : Pyogenta ” Kalbe Farma”
 Tobromisin Sulfat : Togryne ” Fahrenheit ”
 Neomisin Sulfat : Neobiotic ” Bernofarma”
 Framisetin : Sofratule ” Darya Varya ”
 Steptomisin : Steptomisin Meiji ” Meiji ”
 Amokasin : Amigin ” BMS”
Golongan Clromphenicol
 Kloramphenicol : Kloramex ” Dumex ”
Golongan Tetraciklin

www.hoirulblog.co.cc
 Tetrasiklin : Tetra Sanbe ” Sanbe farma ”
 Doxycycline : Dotur “ Novartis Indonesia “
 Oxytetracikline : Teramycin “ Pfizer “
 Minosiklin : Minocin “ Phapros “
Golongan Makrolida
 Erytromycin : Erysanbe “ Sanbe “
 Spyramicin : Spiradan ” Dankos ”
 Trocystromicin : Rulid ” Roochst”
 Azytromicin : Zycin” Interbat”
Golongan Rifampicin dan Asam Fusidat
 Rifampicin : Kalrifam ” Kalbe Farma ”
 Asam fusidat : Fusidin ” Leopharmaceutikal”
Golongan Quinolon
 Cyprofloksasin : Cyprocin ” Bayer”
 Ofloxacin : Tarivid ” Kalbe ”
 Lincomycin : Lincocin ” Up john”

www.hoirulblog.co.cc