Anda di halaman 1dari 11

EMULSI

(www.hoirulblog.co.cc)
A. Pengertian
Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau cairan obat
terdispersi dalam cairan pembawa distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan
yang cocok. Merupakan sistem dua fase, yang salah satu cairannya terdispersi dalam
cairan yang lain, dalam bentuk tetesan kecil. yang berukuran 0,1-100 mm, yang
distabilkan dengan emulgator/surfaktan yang cocok.
Emulsi berasal dari kata emulgeo yang artinya menyerupai milk, warna emulsi
adalah putih.Emulsi dapat dibedakan dalam 2 bentuk yaitu: Emulsi Vera (emulsi
alam), dibuat dari biji atau buah, dimana terdapat disamping minyak lemak juga
emulgator yang biasanya merupakan zat seperti putih telur. Dan emulsi spuria (emulsi
buatan) yang terbentuk karena penambahan emulgator dari luar.
Emulsi dibuat untuk diperoleh suatu preparat yang stabil dan rata dari campuran
dua cairan yang saling tidak bisa bercampur. Tujuan pemakaian emulsi adalah :
1. Dipergunakan sebagai obat dalam/ peroal. Umumnya emulsi tipe O/W.
2. Dipergunakan sebagai obat luar. Bisa tipe O/W maupun W/O tergantung
banyak faktor misalnya sifat zat atau jenis efek terapi yang dikehendaki.
Semua emulsi memerlukan bahan antimikroba karena fase air mempermudah
pertumbuahn mikroorganisme. Adanya pengawet sangat epnting dalam emulsi
minyak dalam air karena kontaminasi fase eksternal mudah terjadi.
B. Tipe Emulsi
Berdasarkan macam zat cair yang berfungsi sebagai fase internal ataupun
eksternal, maka emulsi digolongkan menjadi dua macam yaitu :
1. Emulsi tipe O/W (oil in water) atau M/A (minyak dalam air).
Adalah emulsi yang terdiri dari butiran minyak yang tersebar kedalam air.
Minyak sebagai fase internal dan air fase eksternal.
2. Emulsi tipe W/O (water in oil) atau A/M (air dalam minyak).
Adalah emulsi yang terdiri dari butiran air yang tersebar kedalam minyak. Air
sebagai fase internal sedangkan fase minyak sebagai fase eksternal..
C. Teori Terjadinya Emulsi
1. Teori Tegangan Permukaan (Surface Tension)
Daya kohesi suatu zat selalu sama, sehingga pada permukaan suatu zat cair akan
terjadi perbedaan tegangan karena tidak adanya keseimbangan daya kohesi. Tegangan

www.hoirulblog.co.cc
yang terjadi pada permukaan tersebut dinamakan tegangan permukaan. Semakin
tinggi perbedaan tegangan yang terjadi pada bidang mengakibatkan antara kedua zat
cair itu semakin susah untuk bercampur. Tegangan yang terjadi pada air akan
bertambah dengan penambahan garam-garam anorganik atau senyawa-senyawa
elektrolit, tetapi akan berkurang dengan penambahan senyawa organik tetentu antara
lain sabun.
Didalam teori ini dikatakan bahwa penambahan emulgator akan menurunkan
dan menghilangkan tegangan permukaan yang terjadi pada bidang batas sehingga
antara kedua zat cair tersebut akan mudah bercampur.
2. Teori Orientasi Bentuk Baji (Oriented Wedge)
Setiap molekul emulgator dibagi menjadi dua kelompok yakni :
Kelompok hidrofilik yaitu bagian dari emulgator yang suka pada air, dan kelompok
lipofilik yaitu bagian yang suka pada minyak.
3. Teori Interparsial Film
Teori ini mengatakan bahwa emulgator akan diserap pada batas antara air dan
minyak, sehingga terbentuk lapisan film yang akan membungkus partikel fase dispers.
Dengan terbungkusnya partikel tersebut maka usaha antara partikel yang sejenis untuk
bergabung menjadi terhalang. Dengan kata lain fase dispers menjadi stabil. Untuk
memberikan stabilitas maksimum pada emulsi, syarat emulgator yang dipakai adalah :
a. Dapat membentuk lapisan film yang kuat tapi lunak.
b. Jumlahnya cukup untuk menutup semua permukaan partikel fase dispers.
c. Dapat membentuk lapisan film dengan cepat dan dapat menutup semua
permukaan partikel dengan segera.
4. Teori Electric Double Layer (lapisan listrik ganda)
Jika minyak terdispersi kedalam air, satu lapis air yang langsung berhubungan
dengan permukaan minyak akan bermuatan sejenis, sedangkan lapisan berikutnya
akan bermuatan yang berlawanan dengan lapisan didepannya. Dengan demikian
seolah-olah tiap partikel minyak dilindungi oleh dua benteng lapisan listrik yang
saling berlawanan. Benteng tersebut akan menolak setiap usaha dari partikel minyak
yang akan menggandakan penggabungan menjadi satu molekul besar. Karena susunan
listrik yang menyelubungi sesama partikel akan tolak menolak dan stabilitas emulsi
akan bertambah. Terjadinya muatan listrik disebabkan oleh salah satu dari ketiga cara
dibawah ini.
 Terjadinya ionisasi dari molekul pada permukaan partikel.

www.hoirulblog.co.cc
 Terjadinya absorpsi ion oleh partikel dari cairan disekitarnya.
 Terjadinya gesekan partikel dengan cairan disekitarnya.
D. Bahan Pengemulsi (Emulgator)
Terbagi menjadi dua yaitu emulgator alam dan emulgator buatan.
Emulgator buatan, seperti:
1. Sabun
2. Tween 20; 40; 60; 80
3. Span 20; 40; 80
Emulgator alam adalah emulgator yang diperoleh dari alam tanpa proses yang
rumit. Dapat digolongkan menjadi tiga golongan :
1. Emulgator alam dari tumbuh-tumbuhan
Bahan-bahan karbohidrat: bahan-bahan alami seperti akasia (gom),
tragakan, agar, kondrus dan pectin. Bahan-bahan ini membentuk koloid
hidrofilik bila ditambahkan kedalam air dan umumnya menghasilkan emulsi
m/a.
a. Gom arab
b. Tragacanth
c. Agar-agar
d. Chondrus
e. Emulgator lain, seperti: pektin, metil selulosa, CMC 1-2 %.
2. Emulgator alam dari hewan
Zat-zat protein seperti: gelatin, kuning telur, kasein, dan adeps lanae.
Bahan-bahan ini menghasilkan emulsi tipe m/a. kerugian gelatin sebagai suatu
zat pengemulsi adalah sediaan menjadi terlalu cair dan menjadi lebih cair pada
pendiaman.
3. Emulgator alam dari tanah mineral
Zat padat yang terbagi halus, seperti: tanah liat koloid termasuk bentonit,
magnesium hidroksida dan aluminium hidroksida. Umumnya membentuk
emulsi tipe m/a bila bahan padat ditambahkan ke fase air jika jumlah volume
air lebih besar dari minyak. Jika serbuk bahan padat ditambahkan dalam inyak
dan volume fase minyak lebih banyak dari air, suatu zat seperti bentonit
sanggup membentuk suatu emulsi a/m. Selain itu juga terdapat Veegum /
Magnesium Aluminium Silikat

www.hoirulblog.co.cc
E. Cara Pembuatan Emulsi
Dikenal 3 metode dalam pembuatan emulsi yaitu :
1. Metode gom kering
Disebut pula metode continental dan metode 4;2;1. Emulsi dibuat
dengan jumlah komposisi minyak dengan ½ jumlah volume air dan ¼ jumlah
emulgator. Sehingga diperoleh perbandingan 4 bagian minyak, 2 bagian air
dan 1 bagian emulgator. Pertama-tama gom didispersikan kedalam minyak,
lalu ditambahkan air sekaligus dan diaduk /digerus dengan cepat dan searah
hingga terbentuk korpus emulsi.
2. Metode gom basah
Disebut pula sebagai metode Inggris, cocok untuk penyiapan emulsi
dengan musilago atau melarutkan gum sebagai emulgator, dan menggunakan
perbandingan 4;2;1 sama seperti metode gom kering. Metode ini dipilih jika
emulgator yang digunakan harus dilarutkan/didispersikan terlebuh dahulu
kedalam air misalnya metilselulosa. 1 bagian gom ditambahkan 2 bagian air
lalu diaduk, dan minyak ditambahkan sedikit demi sedikit sambil terus diaduk
dengan cepat.
3. Metode botol
Disebut pula metode Forbes. Metode inii digunakan untuk emulsi dari
bahan-bahan menguap dan minyak-minyak dengan kekentalan yang rendah.
Metode ini merrupakan variasi dari metode gom kering atau metode gom
basah. Emulsi terutama dibuat dengan pengocokan kuat dan kemudian
diencerkan dengan fase luar.
Dalam botol kering, emulgator yang digunakan ¼ dari jumlah minyak.
Ditambahkan dua bagian air lalu dikocok kuat-kuat, suatu volume air yang
sama banyak dengan minyak ditambahkan sedikit demi sedikit sambil terus
dikocok, setelah emulsi utama terbentuk, dapat diencerkan dengan air sampai
volume yang tepat.
4. Metode Penyabunan In Situ
a. Sabun Kalsium
Emulsi a/m yang terdiri dari campuran minyak sayur dan air
jeruk,yang dibuat dengan sederhana yaitu mencampurkan minyak dan

www.hoirulblog.co.cc
air dalam jumlah yang sama dan dikocok kuat-kuat. Bahan
pengemulsi, terutama kalsium oleat, dibentuk secara in situ disiapkan
dari minyak sayur alami yang mengandung asam lemak bebas.
b. Sabun Lunak
Metode ini, basis di larutkan dalam fase air dan asam lemak
dalam fase minyak. Jika perlu, maka bahan dapat dilelehkan,
komponen tersebut dapat dipisahkan dalam dua gelas beker dan
dipanaskan hingga meleleh, jika kedua fase telah mencapai
temperature yang sama, maka fase eksternal ditambahkan kedalam fase
internal dengan pengadukan.
c. Pengemulsi Sintetik
Secara umum, metode ini sama dengan metode penyabunan in
situ dengan menggunakan sabun lunak dengan perbedaan bahwa bahan
pengemulsi ditambahkan pada fase dimana ia dapat lebih melarut.
Dengan perbandingan untuk emulsifier 2-5%. Emulsifikasi tidak
terjadi secepat metode penyabunan.
F. Cara Membedakan Tipe Emulsi
 Test Pengenceran Tetesan
Metode ini berdasarkan prinsip bahwa suatu emulsi akan bercampur dengan
yang menjadi fase luarnya. Misalnya suatu emulsi tipe m/a, maka emulsi ini
akan mudah diencerkan dengan penabahan air. Begitu pula sebaliknya dengan
tipe a/m.
 Test Kelarutan Pewarna
Metode ini berdasarkan prinsip keseragaman disperse pewarna dalam emulsi ,
jika pewarna larut dalam fase luar dari emulsi. Misalnya amaranth, adalah
pewarna yang larut air, maka akan terdispersi seragam pada emulsi tipe m/a.
Sudan III, adalah pewarna yang larut minyak, maka akan terdispersi seragam
pada emulsi tipe a/m.
 Test Creaming (Arah Pembentukan Krim)
Creaming adalah proses sedimentasi dari tetesan-tetesan terdispersi
berdasarkan densitas dari fase internal dan fase eksternal. Jika densitas relative
dari kedua fase diketahui, pembentukan arah krim dari fase dispers dapat
menunjukkan tipe emulsi yang ada. Pada sebagian besar system farmasetik,
densitas fase minyak atau lemak kurang dibandingkan fase air; sehingga, jika

www.hoirulblog.co.cc
terjadi krim pada bagian atas, maka emulsi tersebut adalah tipe m/a, jika
emulsi krim terjadi pada bagian bawah, maka emulsi tersebut merupakan tipe
a/m.
 Test Konduktivitas Elektrik
Metode ini berdasarkan prinsip bahwa air atau larutan berair mampu
menghantarkan listrik, dan minyak tidak dapat menghantarkan listrik. Jika
suatu elektroda diletakkan pada suatu system emulsi, konduktivitas elektrik
tampak, maka emulsi tersebut tipe m/a, dan begitu pula sebaliknya pada
emulsi tipe a/m.
 Test Fluorosensi
Sangat banyak minyak yang dapat berfluorosensi jika terpapar sinar ultra
violet. Jika setetes emulsi di uji dibawah paparan sinar ultra violet dan diamati
dibawah mikroskop menunjukkan seluruh daerah berfluorosensi maka tipe
emulsi itu adalah a/m, jika emulsi tipe m/a, maka fluorosensi hanya berupa
noda.
G. Kestabilan Emulsi
Emulsi dikatakan tidak stabil bila mengalami hal-hal seperti dibawah ini :
1. Creaming yaitu terpisahnya emulsi menjadi dua lapisan, dimana yang satu
mengandung fase dispers lebih banyak daripada lapisan yang lain. Creaming
bersifat reversibel artinya bila dikocok perlahan-lahan akan terdispersi
kembali.
2. Koalesen dan cracking (breaking) yaitu pecahnya emulsi karena film yang
meliputi partikel rusak dan butir minyak akan koalesen (menyatu). Sifatnya
irreversibel (tidak bisa diperbaiki).

www.hoirulblog.co.cc
SUSPENSI

A. Pengertian
Suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus
dan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa. Zat yang terdispersi harus halus,
tidak boleh cepat mengendap, dan bila digojog perlahan-lahan endapan harus segera
terdispersi kembali. Dapat ditambahkan zat tambahan untuk menjaminb stabilitas
suspensi tetapi kekentalan suspensi harus menjamin sediaan mudah digojog dan
dituang.
Suspensi terdiri dari beberapa jenis yaitu :
1. Suspensi Oral adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat yang
terdispersi dalam pembawa cair dengan bahan pengaroma yang sesuai dan
ditujukkan untuk penggunaan oral.
2. Suspensi Topikal adalah sediaan cair mengandung partikel padat yang
terdispersi dalam pembawa cair yang ditujukkan untuk penggunaan pada
kulit.
3. Suspensi Optalmik adalah sediaan cair steril yang mengandung partikel-
partikel yang terdispersi dalam cairan pembawa yang ditujukkan untuk
penggunaan pada mata. Suspensi obat mata harus steril dan zat yang
terdisprsi harus sangat halus, bila untuk dosis ganda harus mengandung
bakterisida.
4. Suspensi tetes telinga adalah sediaan cair yang mengandung partikel-
partikel halus yang ditujukkan untuk diteteskan pada telinga bagian luar.
5. Suspensi untuk injeksi adalah sediaan berupa suspensi serbuk dalam
medium cair yang sesuai dan tidak disuntikan secara intravena atau
kedalam saluran spinal. Suspensi harus steril, mudah disuntikkan dan tidak
menyumbat jarum suntik.
6. Suspensi untuk injeksi terkontinyu adalah sediaan padat kering dengan
bahan pembawa yang sesuai untuk membentuk larutan yang memenuhi
semua persyaratan untuk suspensi steril setelah penambahan bahan
pembawa yang sesuai.

www.hoirulblog.co.cc
B. Stabilitas Suspensi
Salah satu problem yang dihadapi dalam proses pembuatan suspensi adalah cara
memperlambat penimbunan partikel serta menjaga homogenitas dari pertikel. Cara
tersebut merupakan salah satu tindakan untuk menjaga stabilitas suspensi. Beberapa
faktor yang mempengaruhi stabiltas suspensi adalah :
1.Ukuran Partikel
Ukuran partikel erat hubungannya dengan luas penampang partikel tersebut
serta daya tekan keatas dari cairan suspensi itu. Hubungan antara ukuran partikel
merupakan perbandingan terbalik dengan luas penampangnya. Sedangkan antar
luas penampang dengan daya tekan keatas merupakan hubungan linier. Artinya
semakin besar ukuran partikel maka semakin kecil luas penampangnya.
2.Kekentalan / Viskositas
Kekentalan suatu cairan mempengaruhi pula kecepatan aliran dari cairan
tersebut, makin kental suatu cairan kecepatan alirannya makin turun (kecil).
Apabila didalam suatu ruangan berisi partikel dalam jumlah besar, maka
partikel tersebut akan susah melakukan gerakan yang bebas karena sering terjadi
benturan antara partikel tersebut. Benturan itu akan menyebabkan terbentuknya
endapan dari zat tersebut, oleh karena itu makin besar konsentrasi partikel, makin
besar kemungkinan terjadinya endapan partikel dalam waktu yang singkat.
4.Sifat/Muatan Partikel
Dalam suatu suspensi kemungkinan besar terdiri dari beberapa macam
campuran bahan yang sifatnya tidak terlalu sama. Dengan demikian ada
kemungkinan terjadi interaksi antar bahan tersebut yang menghasilkan bahan yang
sukar larut dalam cairan tersebut. Karena sifat bahan tersebut sudah merupakan
sifat alami, maka kita tidak dapat mempengruhi.
Ukuran partikel dapat diperkecil dengan menggunakan pertolongan mixer,
homogeniser, colloid mill dan mortir. Sedangkan viskositas fase eksternal dapat
dinaikkan dengan penambahan zat pengental yang dapat larut kedalam cairan
tersebut. Bahan-bahan pengental ini sering disebut sebagai suspending agent
(bahan pensuspensi), umumnya besifat mudah berkembang dalam air
(hidrokoloid).

www.hoirulblog.co.cc
C. Bahan Pensuspensi
Bahan pensuspensi atau suspending agent dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu:
1. Bahan pensuspensi dari alam.
Bahan pensuspensi dari alam yang biasanya digunakan adalah jenis gom/
hidrokoloid. Gom dapat larut atau mengembang atau mengikat air sehingga
campuran tersebut membentuk mucilago atau lendir. Dengan terbentuknya
mucilago maka viskositas cairan tersebut bertambah dan akan menambah
stabilitas suspensi. Kekentalan mucilago sangat dipengaruhi oleh panas, PH, dan
proses fermentasi bakteri.
a. Termasuk golongan gom, antara lain:
Acasia ( Pulvis gummi arabici), Chondrus, Tragacanth , Algin
b. Golongan bukan gom, antara lain:
Bentonit, Hectorit dan Veegum.
2. bahan pensuspensi sintesis
a. Derivat Selulosa, antara lain:
Metil selulosa, karboksi metil selulosa (CMC), hidroksi metil selulosa.
b.Golongan organk polimer, antara lain:
Carbaphol 934.
D. Cara Mengerjakan Obat Dalam Suspensi
1. Metode pembuatan suspensi :
Suspensi dapat dibuat dengan cara :
 Metode Dispersi
 Metode Precipitasi
2. Sistem pembentukan suspensi :
 Sistem flokulasi
 Sistem deflokulasi
Secara umum sifat-sifat dari partikel flokulasi dan deflokulasi adalah :
a. Deflokulasi
 Partikel suspensi dalam keadaan terpisah satu dengan yang lain.
 Sedimentasi yang terjadi lambat masing-masing patikel
mengendap terpisah dan ukuran partikel adalah minimal.
 Sediaan terbentuk lambat.
 Diakhir sedimen akan membentuk cake yang keras dan sukar
terdispersi lagi.

www.hoirulblog.co.cc
b.Flokulasi
 Partikel merupakan agregat yang basa
 Sedimentasi terjadi begitu cepat
 Sedimen tidak membentuk cake yang keras dan padat dan
mudah terdispersi kembali seperti semula.
E.Penilaian Stabilitas Suspensi
1. Volume sedimentasi
Adalah Suatu rasio dari volume sedimentasi akhir (Vu) terhadap volume mula
mula dari suspensi (Vo) sebelum mengendap.
2. Derajat flokulasi.
Adalah Suatu rasio volume sedimentasi akhir dari suspensi flokulasi (Vu)
terhadap volume sedimentasi akhir suspensi deflokulasi (Voc).
3.Metode reologi
Berhubungan dengan faktor sedimentasi dan redispersibilitas, membantu
menemukan perilaku pengendapan, mengatur vehicle dan susunan partikel untuk
tujuan perbandingan.
4.Perubahan ukuran partikel
Digunakan cara Freeze-thaw cycling yaitu temperatur diturunkan sampai titik
beku, lalu dinaikkan sampai mencair kembali. Dengan cara ini dapat dilihat
pertumbuhan kristal, yang pokok menjaga tidak terjadi perubahan ukuran partikel
dan sifat kristal.

www.hoirulblog.co.cc
Daftar Pustaka

Anonim. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Depkes RI


Anief., Moh. 2000. Farmasetika. Yogyakarta: UGM Press
Lahman. L, dkk.1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri Edisi III. Jakarta:
UI Press
Soetopo, Seno. 2001. Teori Ilmu Resep. Jakarta

www.hoirulblog.co.cc