Anda di halaman 1dari 6

Penanganan Diare:

Cara pengobatan diare di rumah :

Tingkatkan pemberian cairan (dewasa dan anak)


Balita-anak:
Pemberian ASI (Air Susu Ibu) karena dapat meningkatkan daya tahan tubuh. ASI
tetap diberikan untuk mencegah terjadinya kekurangan gizi dan mempertahankan
pembentukan ASI oleh ibu. Jika bayi tidak disusui oleh ibunya, sebaiknya segera

setelah dehidrasinya teratasi, diberikan susu formula yang tidak mengandung laktosa.
Pemberian cairan lain, seperti : air teh, sop, air tajin dari pemasakan nasi, LGG
(Larutan Gula Garam), larutan oralit.

Beri larutan oralit


Takaran pemberian Oralit (Umur Jumlah Cairan)
Di bawah 1 tahun 3 jam pertama 1,5 gelas selanjutnya 0.5 gelas setiap kali
mencret
Di bawah 5 tahun (anak balita) 3 jam pertama 3 gelas, selanjutnya 1 gelas
setiap kali mencret.
Anak diatas 5 tahun 3 jam pertama 6 gelas, selanjutnya 1,5 gelas setiap kali
mencret
Anak diatas 12 tahun & dewasa 3 jam pertama 12 gelas, selanjutnya 2 gelas

setiap kali mencret (1 gelas : 200 cc).


Jika bayi tampak sakit berat, cairan biasanya diberikan melalui infus. Jika
penyakitnya ringan, bisa diberikan cairan yang mengandung elektrolit melalui botol

susu atau gelas.


Berikan cairan
Jumlah cairan yang diberikan adalah 100ml/kgBB/hari sebanyak 1 kali setiap
2 jam, jika diare tanpa dehidrasi. Sebanyak 50% cairan ini diberikan dalam 4
jam pertama dan sisanya adlibitium
a) <2 tahun diberikan gelas.
b) 2-6 tahun diberikan 1 gelas.
c) >6 tahun diberikan 400cc (2 gelas).
Apabila dehidrasi ringan dan diarenya 4 kali sehari, maka diberikan cairan
25-100 ml/kgBB dalam sehari atau setiap 2 jam.
Oralit diberikan sebanyak lebih kurang 100 ml/kgBB setiap 4-6 jam pada
kasus dehidrasi ringan sampai berat.

Teruskan makanan dengan memberikan makanan yang mudah dicerna, yang

mengandung kalium (sari buah, sayur).


Jangan berikan makanan yang pedas.
Berikan makanan yang sering.
Bila diare tidak dapat diatasi dengan pemberian oralit atau LGG, bahkan tambah
berat, segera bawa penderita ke Puskesmas atau rumah sakit terdekat.

Obat-obatan:
1. Racecordil
Anti diare yang ideal harus bekerja cepat, tidak menyebabkan konstipasi, mempunyai
indeks terapeutik yang tinggi, tidak mempunyai efek buruk terhadap sistem saraf pusat,
dan yang tak kalah penting, tidak menyebabkan ketergantungan. Racecordil yang pertama
kali dipasarkan di Perancis pada 1993 memenuhi semua syarat ideal tersebut.
Berdasarkan uji klinis didapatkan bahwa anti diare ini memberikan hasil klinis yang baik
dan dapat ditoleransi oleh tubuh. Produk ini juga merupakan anti diare pertama yang cara
kerjanya mengembalikan keseimbangan sistem tubuh dalam mengatur penyebaran air dan
elektrolit ke usus. Selain itu, Hidrasec pun mampu menghambat enkephalinase dengan
baik. Dengan demikian, efek samping yang ditimbulkannya sangat minimal.
2. Loperamide
Loperamide merupakan golongan opioid yang bekerja dengan cara emeperlambat
motilitas saluran cerna dengan mempengaruhi otot sirkuler dan longitudinal usus. Obat
diare ini berikatan dengan reseptor opioid sehingga diduga efek konstipasinya
diakibatkan oleh ikatan loperamid dengan reseptor tersebut. Efek samping yang sering
dijumpai ialah kolik abdomen, sedangkan toleransi terhadap efek konstipasi jarang sekali
terjadi.

3. Nifuroxazide
Nifuroxazide adalah senyawa nitrofuran memiliki efek bakterisidal terhadap Escherichia
coli, Shigella dysenteriae, Streptococcus, Staphylococcus dan Pseudomonas aeruginosa.
Nifuroxazide bekerja lokal pada saluran pencernaan.

Aktifitas antimikroba Nifuroxazide lebih besar dari obat anti infeksi intestinal
biasa seperti kloroyodokuin.

Pada konsentrasi encer (1 : 25.000) Nifuroxazide masih memiliki daya


bakterisidal.

Obat diare ini diindikasikan untuk dire akut, diare yang disebabkan oleh E. coli &
Staphylococcus, kolopatis spesifik dan non spesifik, baik digunakan untuk anak-anak
maupun dewasa.
4. Dioctahedral smectite
Dioctahedral smectite (DS), suatu aluminosilikat nonsistemik berstruktur filitik, secara in
vitro telah terbukti dapat melindungi barrier mukosa usus dan menyerap toksin, bakteri,
serta rotavirus. Smectite mengubah sifat fisik mukus lambung dan melawan mukolisis
yang diakibatkan oleh bakteri. Zat ini juga dapat memulihkan integritas mukosa usus
seperti yang terlihat dari normalisasi rasio laktulose-manitol urin pada anak dengan diare
akut.
Obat antibiotik yang sering digunakan adalah amoksisilin (Kalmoxilin, Amoxsan),
Sulfonamide (Sulcolon), Ciprofloxacin (Baquinor, Renator), Nifuroxazide (Nifural).
Kedua adalah obstipansia. Obat ini akan menghambat peristaltik usus dan bersifat
spasmolitik. Termasuk dalam golongan ini adalah Racecadotril (Hidrasec), Loperamide
(Imodium, Inamid, Motilex) dan obat anti kolinergik (Buscopan). Obat ini akan
"menenangkan usus" sehingga rasa mulas akan hilang. Ketiga adalah obat penyerap dan
adstringensia. Beberapa obat penyerap, seperti carbo adsorben (Norit), adstringensia
seperti tannin, kaolin dan pectin (Kaopectate, Kaotin, Kaolana, Entrostop) dapat juga
untuk meringankan diare.
Komplikasi diare:
a. Dehidrasi (ringan, sedang, berat)
b. Renjatan hipovolemik
c. Hipoglikemia
d. Kejang
e. Malnutrisi energi protein

f. Sepsis
g. Nafsu makan menurun
h. Balita biasanya muntah, karena ada rangsangan mual.
Dehidrasi Ringan
Muka memerah, rasa haus yang sangat, kulit hangat dan kering, tidak
buang air atau volume urine berkurang atau berwarna lebih gelap, pusing dan
lemah, kram pada otot kaki dan tangan, menangis dengan sedikit atau tidak ada
air mata, mengantuk, mulut dan lidah disertai berkurangnya air liur.
Dehidrasi Sedang
Tekanan darah menurun, pingsan, kontraksi yang kuat pada otot lengan,
kaki, perut dan punggung, kejang, perut kembung, gagal jantung, dan ubun-ubun
cekung, denyut nadi cepat dan lemah.
Dehidrasi Berat
Gejala-gejala dehidrasi ringan terlihat semakin jelas dan mengarah pada
keadaan yang lebih berat dengan tanda dan gejala sebagai berikut : Berkurangnya
kesadaran, tidak buang air kecil, tangan teraba dingin dan lembab, denyut nadi
yang semakin cepat dan lemah hingga tidak teraba, tekanan darah yang menurun
hingga tidak terukur, kebiruan pada ujung kuku, mulut, dan lidah. Jika tidak
diatasi keadaan ini dapat mengancam jiwa atau kematian.
Prognosis: Dubia et malam pada balita, dubia et bonam pada dewasa.
Daftar pustaka:
Harrison. 1999. Prinsip Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: EGC.
Davy, patrick. 2005. At a glance medicine. Jakarta: Erlangga
Herry gerna,Emelia Suroto-Hamzah, Heda melinda D, Nataprawira, Dwi P.Kejang demam. 2000.
Pedoman diagnosis dan therapi Ilmu kesehatan Anak. Edisi ke 2. Bandung : SMF Ilmu
Kesehatan anak FKUP.