Anda di halaman 1dari 24

PERAWATAN PERIOPERATIF

KELOMPOK III
Lidia Tohandi
Lidiawaty P
Mukson
Ni Putu Suci Diantari
Nomi Ayunda Risa Saputri
Novita Tina Anggraeni

PENGERTIAN PERIOPERATIF
Merupakan tahapan dalam proses
pembedahan yang dimulai dari pra
bedah, bedah, dan pasca bedah.

JENIS PEMBEDAHAN
A. JENIS PEMBEDAHAN
BERDASARKAN LOKASI
1. Bedah thorak kardiovaskuler
2. Bedah neurologi
3. Bedah ortopedi
4. Bedah Urologi
5. Bedah kepala leher
6. Bedah digestive

B. JENIS PEMBEDAHAN
BERDASARKAN TUJUAN
1. Pembedahan diagnostik
2.Pembedahan kuratif
3. Pembedahan restoratif
4.Pembedahan paliatif
5. Pembedahan kosmetik

JENIS ANASTESI

1.
2.
3.
4.
5.

Anastesi umum
Anastesi regional
Anastesi lokal
Hipoanastesi
Akupuntur

PRA OPERATIF
PENGKAJIAN KEPERAWATAN
Hal yang perlu dikaji adalah
1. Pengetahuan tentang persiapan
pembedahan
2. Kesiapan psikologis
3. Pengobatan yang mempengaruhi
kerja obat anastesi

Pemeriksaan yang dilakukan sebelum


pelaksanaan bedah :
1. Radiografi thorak
2. Fungsi paru
3. Analisa Gas Darah
4. EKG
5. Darah lengkap

DIAGNOSIS KEPERAWATAN
1. Cemas b/d ancaman terhadap
kematian
2. Takut b/d damapak dari tinfdakan
pembedahan/ anastesi
3. Resiko terjadi infeksi b/d
kurangnya pengetahuan atau
menurunnya nutrisi
4. Resiko terjadi cedera b/d defisit
penginderaan atau motorik

PERENCANAAN KEPERAWATAN
Tujuan:
1. Memperlihatkan tanda-tanda tidak
ada kecemasan
2. Memperlihatkan tanda-tanda tidak
ada ketakutan
3. Resiko infeksi dan cedera tidak
terjadi

RENCANA TINDAKAN
1. Untuk mengatasi rasa cemas dan takut
dapat dilakukan persiapan psikologis pada
pasien melalui pendidikan kesehatan,
penjelasan tentang peristiwa yang mungkin
akan terjadi dst.
2. Untuk mengatasi masalah resiko infeksi
dan cedera lainnya dapat dilakukan dengan
persiapan pra operatif seperti diet,
persiapan pencernaan, pernapasan.

PELAKSANAAN (TINDAKAN) KPERAWATAN

1.Pemberian pendidikan kesehatan pra


operatif
2. Persiapan diet
3. Persiapan kulit
4. Latihan bernapas dan latihan batuk
5. Latihan kaki
6. Latihan mobilitas
7.Pencegahan cedera

EVALUASI KEPERAWATAN
SCARA UMUM DAPAT DINILAI DARI:
1. Adanya kemampuan dalam
memahami masalah atau
kemungkinan yang terjadi pada intra
dan pasca operatif
2. Tidak ada tanda kecemasan dan
ketakutan
3. Tidak ditemukannya resiko
komplikasi pada infeksi atau cedera
lainnya

INTRA OPERATIF

A. PENGKAJIAN
1. Pengaturan posisi pasien
2. Pemantauan fisiologis
3. Perubahan tanda vital
4. Sistem kardiovaskuler
5. Keseimbangan cairan
6. Pernapasan

B. DIAGNOSIS KEPERAWATAN
Resiko terjadinya cedera
berhubungan dengan prosedur
pembedahan
C. PERENCANAAN KEPERAWATAN
Tujuan: Mencegah terjadinya
cedera/resiko lainnya sebagai
dampak dari tindakan pembedahan.

Rencana Tindakan:
1. Gunakan semua alat/ instrumen untuk
tindakan pembedahan seperti pemakaian
baju bedah, tutup kepala, masker, penutup
sepatu,celemek, sarung tangan, serta
pencucian tangan.
2. Lakukan persiapan pelaksanaan anastesi
sebelum tindakan pembedahan
3. Lakukan pemantauan selama masa
tindakan pembedahan

D. PELAKSANAAN (TINDAKAN)
KEPERAWATAN
1. Penggunaan Baju Seragam Bedah
2. Mencuci tangan sebelum pembedahan
3.Menerima pasien di daerah bedah
4. Pengiriman dan pengaturan posisi ke
kamar bedah
5. Pemebersihan dan persiapan kulit
6. Penutupan daerah steril

7. Pelaksanaan Anastesi
8. Pelaksanaan Pembedahan

E. EVALUASI KEPERAWATAN
Secara umum dapat dinilai dari
adanya kemampuan dalam
mempertahankan status kesehatan,
seperti normalnya perubahan tanda
ital, kardiovaskuler, pernapasan,
ginjal, dll

PASCA OPERATIF

A. PENGKAJIAN
1. Status kesadaran
2. Kualitas jalan napas
3. Sirkulasi
4. Perubahan tanda vital
5. Keseimbangan elektrolit
6. Kardiovaskuler
7. Lokasi daerah pembedahan dan sekkitarnya
8. Alat yang digunakan dalam pembedahan

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri b/d terputusnya kontinuitas jaringan akibat luka
pembedahan
2. pola napas tidak efektif b/d peningkatan sekresi sebagai
dampak anastesi
3. Resiko terjadi retensio urine b/d dampak anastesi
4. Perubahan kebutuhan nutrisi ( kuarang dari kebutuhan)
b/d penurunan nafsu makan
5. Konstipasi b/d dampak anastesi
6. Resiko cedera b/d adanya kelemahan
7. Gangguan mobilitas fisik b/d nyeri dan ketahanan yang
menurun
8. Cemas b/d ancaman perubahan status kesehatan

C. PERENCANAAN DAN PELAKSANAAN


Tujuan:
1. Meningkatkan proses penyembuhan luka
2. Mempertahankan respirasi yang sempurna
3. Mempertahankan sirkulasi
4. Mempertahankan keseimbangan dan
elektrolit
5.Mempertahankan aktivitas
6. Mempertahankan eliminasi
7. Mengurangi kecemasan

D. RENCANA TINDAKAN
1. Meningkatkan proses penyembuhan luka untuk
mengurangi rasa nyeri dengan cara merawat luka
dan memeperbaiki asupan makanan yang tinggi
protein dan vitamin C.
2. Mempertahankan respirasi yang sempurna dengan
cara latihan napas, yakni tarik napas dalam dengan
mulut terbuka, tahan 3 detik kemudian hembuskan.
3.Mempertahankan sirkulasi dengan cara pasien
dilatih agar tidak duduk terlau lama dan harus
meninggikan kaki pada tempat duduk untuk
memperlancar vena balik.

4. Mempertahankan keseimbangan cairan dan


elektrolit dengan cara memberikan cairan
sesuai kebutuhan pasien.
5. Mempertahankan eliminasi dengan cara
mempertahankan asupan dan output serta
mencegah terjadinya retensi urine.
6. Mempertahankan aktivitas dengan cara
latihan memperkuat otot sebelum ambulatory
7. Mengurangi kecemasan dengan cara
melakukan komunikasi secara terapeutik.

E, EVALUASI
Secara umum dapat dinilai dari adanya
kemampuan dalam mempertahankan
status kesehatan seperti adanya
peningkatan proses penyembuhan luka,
sistem respirasi yang sempurna, sistem
sirkulasi, keseimbangan cairan dan
elektrolit, sistem eliminasi, aktivitas, serta
tidak ditemukan tanda kecemasan
lanjutan