Anda di halaman 1dari 24

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN HIV/AIDS

Dibuat Untuk Memenuhi Nilai Tugas Mata Kuliah


System Imun dan Hematologi

OLEH:
1. ADRIANUS WOKA MAKIN
2. IGNASIA GLORIA LOE
3. INTAN T. TANESAB
4. THERESIA ABUK

KEPERAWATAN A
SEMESTER III
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
CITRA HUSADA MANDIRI KUPANG
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
2012
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
melimpahkan rahmat-Nya yang besar kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan
pembuatan makalah dengan

judul Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan

HIV/AIDS.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini. Oleh
karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan
di masa yang akan datang.
Akhirnya, penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi semua pihak,
khususnya mahasiswa keperawatan STIKes Citra Husada Mandiri Kupang.

Kupang, Oktober 2012


Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sindrom imunodefisiensi didapat (acquired immunodeficiency syndrome,
AIDS) adalah suatu penyakit virus yang menyebabkan kolapsnya sistem imun dan
bagi

kebanyakan

penderita, kematian dalam 10 tahun

setelah

diagnosis.

Bagaimanapun, kemajuan pengobatan pada pasien AIDS memungkinkan pasien


bertahan hidup lebih lama. Ketika AIDS pertama kali dikenali pada awal 1980an,
sebagian besar telah mengerti cara kerja virus ini dan virus lain serta pentingnya peran
sel darah putih pada pertahanan pejamu,
AIDS disebabkan oleh infeksi human

immunodeficiency virus, HIV.

Diketahui terdapat dua jenis virus HIV yaitu HIV 1 dan HIV 2. HIV 1 sering
ditemukan di Amerika Serikat, sedangkan HIV 2 ditemukan terutama di Afrika Barat.
HIV 1 pertama kali diidentifikasi pada awal 1980an. Virus ini adalah suatu retrovirus
yang berarti terdiri atas untai tunggal RNA virus yang masuk ke dalam inti sel pejamu
ketika menginfeksi pejamu. Transkripsi virus ke dalam DNA pejamu berlangsung
melalui kerja suatu enzim spesifik yang disebut reverse transcriptase yang dibawah
oleh virus ke dalam inti sel pejamu. Setelah menjadi bagian dari DNA pejamu, virus
bereplikasi dan bermutasi selama beberapa tahun dan secara perlahan tetap
menghancurkan sistem imun.
Belum ada penyembuhan bagi AIDS, sehingga pencegahan infeksi HIV perlu
dilakukan. Pencegahan berarti tidak berkontak dengan cairan tubuh yang tercemar
HIV. Karena mustahil diketahui sebelumnya apakah suatu cairan tubuh tercemar oleh
HIV, seseorang harus menganggapnya tercemar sampai terbukti sebaliknya.

B. Tujuan Penulisan

Tujuan umum: untuk memenuhi tugas mata kuliah Sistem Imun dan

Hematologi
Tujuan khusus:
Menyebutkan penyebab HIV/AIDS
Menjelaskan proses penyebaran Virus HIV
Menjelaskan tanda dan gejala penyakit AIDS
Menjelaskan proses pemeriksaan fisik pasien HIV/AIDS
Menjelaskan pemeriksaan penunjang pasien HIV/AIDS
Menjelaskan pencegahan dan pengobatan pada penderita
HIV/AIDS
Menjelaskan asuhan keperawatan klien dengan HIV/AIDS
C. Metode Penulisan
Dalam makalah ini kelompok menggunakan metode penulisan deskritif
melalui pendekatan studi kepustakaan atau literatur dengan mencari sumber-sumber
data dan melakukan pengkajian dari berbagai referensi mengenai gangguan sistem
Imun.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. KONSEP DASAR PENYAKIT

1. Pengertian
Sindrom imunodefisiensi didapat (acquired immunodeficiency syndrome,
AIDS) adalah suatu penyakit virus yang menyebabkan Kolapsnya sistem imun
dan, bagi kebanyakan penderita, kematian dalam 10 tahun setelah diagnosis.
(Crown Elizabeth, 2009 Hal: 169).
AIDS adalah orang yang mengalami infeksi oportunistik, dimana orang
tersebut mengalami penurunan sistem imun yang mendasar (sel-T berjumlah 200
atau kurang) dan memiliki anti body positev terhadap HIV. (Dongoes, 1999)
2. Epidemiologi
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31

Provinsi
DKI Jakarta
Jawa Timur
Jawa Barat
Papua
Bali
Kalimantan Barat
Jawa Tengah
Sulawesi Selatan
Sumatera Utara
DI Yogyakarta
Riau
Sumatera Barat
Banten
Kepulauan Riau
Jambi
Nusa Tenggara Timur
Sumatera Selatan
Maluku
Sulawesi Utara
Lampung
Nusa Tenggara Barat
Bangka belitung
Bengkulu
Papua Barat
Kalimantan Tengah
NAD/Aceh
Kalimantan Selatan
Sulawesi Tenggara
Maluku Utara
Sulawesi Tengah
Kalimantan Timur

AIDS AIDS/ID

Mati/

Death

3995
3775
3728
3712
1747
1125
1030
591
507
542
477
410
401
383
284
376
219
192
173
144
142
120
137
58
63
57
28
22
17
12
12

2802
1046
2706
1
269
197
182
266
222
146
135
268
249
31
160
26
104
79
40
112
50
41
68
5
16
20
10
1
5
6
5

576
779
665
590
311
138
314
62
94
114
132
99
67
147
65
49
38
70
62
42
69
18
30
19
4
14
5
5
8
6
10

32
33

Gorontalo
Sulawesi Barat
Jumlah

3
0
24482

2
0
9270

1
0
4603

Sumber Ditjen PPM dan PL Depkes RI / Maret 2011


3. Etiologi
AIDS disebabkan oleh virus HIV (Human immunodeficiency virus). Diketahui
terdapat dua jenis virus HIV, yaitu HIV 1 dan HIV 2. HIV 1 sering ditemukan di
Amerika Serikat, sedangkan HIV 2 ditemukan terutama di Afrika Barat. HIV 1
pertama kali diidentifikasikan pada awal 1980an. Virus ini adalah suatu retrovirus,
yang berarti terdiri atas untai tunggal RNA virus yang masuk kedalam inti sel
penjamu dan ditranskripsikan ke dalam DNA pejamu ketika menginfeksi pejamu.
Transkripsi virus ke dalam DNA pejamu berlangsung melalui kerja suatu
enzimspesifik yang disebut reverse transcriptase yang dibawa oleh virus kedalam
inti sel pejamu. Setelah menjadi bagian dari DNA pejamu, virus bereplikasi dan
bermutasi selama beberapa tahun dan secara perlahan tetapi tetap menghancurkan
sistem imun.

4. Pathway
Resti infeksi silang

HIV
Limfosit

Virus tidak aktif virus


Resti perluasan infeksi

Virus memperbanyak diri

imunodefisiensi

limfosit pecah

HIV memasuki limfosit T4 lain


Jumlah limfosit T4 menurun
Infeksi oportunistik

Penderita meninggal

Gastrointestinal
Diare

Pernapasan : pneumonia pneumocystis

Mual, muntah anoreksia

Gangguan pola BAB


Kekurangan volume
Cairan dan elektrolit

Penigkatan sekresi bronchial

Penurunan berat badan

Meekspansi paru

Tidak efektifnya bersihan jalan nafas

Gangguan nutrisi; < keb. Tubuh

Tidak efektifnya pola napas

Kelemahan
Intoleransi aktivitas

5. Komplikasi
1. Paru-paru : infiltrate
2. Sistem saraf pusat : meningitis / ensefalitis atau tanda-tanda local progressive
multifocal leucoencephalotahy.
3. Saluran gastrointestinal : disfagis, diare profus, diare dengan darah / colitis.
4. Demam yang tidak di ketahui sebabnya.
6. Gejala Klinik
Gejala mirip flu, termasuk demam ringan, nyeri badan, menggigil, dapat
muncul beberapa minggu sampai bulan setelah infeksi. Gejala menghilang
setelah respon imun awal menurunkan jumlah partikel virus, walaupun virus

tetap dapat bertahan pada se-sel lain yang terinfeksi.


Selama periode laten, orang yang terinfeksi

HIV

mungkin

tidak

memperlihatkan gejala, atau pada sebagian kasus mengalami limfadenopati

(pembengkakan kelenjar getah bening) persisten.


Antara 2 sampai 10 tahun setelah infeksi HIV, sebagian besar pasien mulai
mengalami berbagai infeksi oportunistik, bila tidak ditangani. Penyakitpenyakit ini mengisyaratkan munculnya AIDS dan berupa infeksi ragi pada
vagina atau mulut , dan berbagai infeksi virus misalnya varisela zoster (cacar

air dan cacar ular), sitomegalovirus, atau herpes simpleks persisten. Wanita

dapat menderita infeksi ragi kronik atau penyakit radang panggul.


Setelah terbentuk AIDS, sering terjadi infeksi saluran napas, oleh organisme
oportunistik pneumocytis carinii. Dapat timbul tuberkolosis yang resisten
bermacam-macam obat karena pasien AIDS tidak mampu melakukan respon
imun yang efektif untuk melawan bakteri, walaupun dibantu antibiotik. Pasien
AIDS yang mengidap tuberkolosis biasanya mengalami perjalanan penyakit
yang cepat memburuk yang menyebabkan kematian dalam beberapa bulan.

Penyakit biasanya cepat menyebar ke luar paru termasuk otak otak dan tulang.
Gejala pada susunan saraf pusat adalah sakit kepala, defek motorik, kejang,
perubahan kepribadian, dan demensia. Pasien dapat menjadi buta dan
aakhirnya koma. Banyak dari gejala tersebut timbul karena infeksi bakteri dan
virus oportunistik pada SSP, yang menyebabkan peradangan otak. HIV juga

dapat secara langsung merusak sel-sel otak.


Diare dan berkurangnya lemak tubuh sering terjadi pada pasien AIDS. Diare
terjadi akibat infeksi virus dan protozoa. Infeksi jamur (thrush) di mulut dan
esofagus menyebabkan nyeri hebat sewaktu menelan dan mengunyah, dan ikut

berperan menyebabkan berkurangnya lemak dan gangguan pertumbuhan.


Berbagai kanker muncul pada pasien AIDS akibat tidak adanya respon imun
selular terhadap sel-sel neoplastik. Kanker yang sebenarnya jarang dijumpai ,
sarkoma kaposi sering terjadi pada pasien AIDS. Sarkoma kaposi adalah
kanker sistem vaskular

yang ditandai oleh lesi kulit berwarnah merah.

Sebagian besar individu pengidap sarkoma kaposi terinfeksi melalui hubungan


homoseks. Hasil riset terkini menunjukan bahwa ko-infeksi disertai virus
herpes yang unik, human herpesvirus 8, memicu munculnya sarkoma kaposi.
Human herpesvirus 8 jarang terjadi kecuali dikalangan homoseks Amerika
Serikat. (Crown Elizabeth, 2009 Hal: 174 - 175).
7. Pemeriksaan Diagnostik dan Hasil
Segera setelah infeksi, jumlah sel CD4 (sel T helper) dapat menurun, tetapi
hal ini segera pulih ke normal karena respons imun awal dapat menahan

infeksi.
Antibodi terhadap HIV biasanya muncul 4-6 minggu setelah infeksi, tetapi
pada beberapa kasus memerlukan waktu lebih dari 6 bulan. Apabila
sampel serum teridentifikasi sebagai positif HIV (memiliki titer antibodi
positif), dilakukan uji western blot untuk memastikan infeksi. Bayi tidak

terinfeksi yang lahir dari ibu yang terinfeksi dapat memperlihatkan hasil
pemeriksaan positif HIV selama lebih dari setahun setelah lahir karena

adanya antibodi ibu.


Hitung sel T helper menurun secara progresif selama periode laten infeksi.
Sewaktu kadar mencapai kurang dari 200-300 sel T helper per ml darah,
timbul infeksi oportunistik. Perkembangan penyakit dan keberhasilan
berbagai pengobatan dapat diikuti dengan mengukur sel T helper pasien

secara berkala.
Uji darah pada pengidap HIV untuk mengukur beban virus telah memiliki
keakuratan yang tinggi dalam memprediksi adanya gejala, prognosis, dan
status kesehatan individu. Penderita dengan jumlah virus yang besar
menderita penyakit dengan perkembangan pesat tanpa memperhatikan
kadar sel T helper. Semakin besar jumlah partikel virus yang terdapat pada
individu, semakin tinggi penularan infeksi selama berhubungan kelamin

dan antara ibu dan bayi.


Uji untuk mengukur RNA HIV juga menjadi prediktor status pejamu.
Kadar RNA HIV sering kali dilakukan untuk mengevaluasi keberhasilan
pengobatan AIDS.

8. Penatalaksanaan/Medikal Manajemen
Belum ada penyembuhan bagi AIDS, sehingga pencegahan infeksi HIV perlu
dilakukan. Pencegahan berarti tidak berkontak dengan cairan tubuh yang tercemar
HlV. Karena mustahil diketahui sebelumnya apakah suatu cairan tubuh tercemar
oleh HIV, seseorang harus menganggapnya tercemar sampai terbukti sebaliknya.
Untuk mecegah terpajan HIV, seseorang harus:

Melakukan abstinensi seks atau hubungan kelamin monogami bersama

dengan pasangan yang tidak terinfeksi.


Diperiksa untuk mengetahui ada tidaknya virus paling sedikit 6 bulan setelah
hubungan kelamin terakhir yang tidak terlindung, karena pembentukan
antibodi mungkin memerlukan waktu paling sedikit 6 bulan setelah pajanan

ke virus untuk membentuk antibodi. Seks oral juga dapat menularkan virus.
Menggunakan kondom lateks apabila terjadi hubungan ke dengan orang yang

status HIVnya tidak diketahui.


Tidak melakukan tukar menukar jarum dengan siapapun untuk alasan apa
pun.

Mencegah infeksi ke janin atau bayi baru lahir. Seseorang wanita harus
mengetahui status HIV-nya dan pasangannya sebelum hamil apabila wanita
hamil positif HIV, obat-obat atau antibodi anti HlV dapat diberikan selama
kehamilan dan kepada bayinya setelah lahir. Terapi in utero (di daiam rahim)
juga efektif dalam mencegah penularan virus ke bayi atau bayi baru lahir. Ibu
yang terinfeksi jangan menyusui bayinya. Pompa payudara jangan

ditukarpakaikan.
Pengobatan profilaktik

pascapajanan

dengan

penghambat

reverse

transcriptase setelah pajanan ke jarum suntik yang tidak disengaja atau


berhubungan kelamin menurunkan keganjilan infeksi HIV primer yang
didapat.
Apabila terinfeksi oleh HIV, pengobatan yang tersedia untuk secara dramtis
mengubah perjalanan infeksi adalah:

HlV atau AIDS diobati dengan mengikuti program pengobatan'yang dikenal


dengan terapi retrovirus sangat aktif (highly active retroviral theraphy,
HAART). HAART meliputi kombinasi obat-obat yang termasuk satu atau
lebih obat berikut ini:
o Nucleoside reverse transcription inhibitor (NRTI). Obat ini (misalnya,
azidotimidin atau AZT) mengganggu transkripsi virus ke dalam DNA
pejamu dengan menghambat kerja enzim reverse transcriptase dengan
mengganggu ketersediaan nukleosida (timidin).
o Non-nucleoside reverse transcription inhibitor (NRTI). Obat ini
bekerja melalui pengikatan non-kompetitif untuk menghambat tempat
aktif pada enzim reverse transcriptase. Obat ini bekerja efekiif bila
dikombinasikan dengan obat lain seperti NRTI.
o Inhibitor protease, yang menghambat kerja protease yang diperlukan
untuk pembentukan partikel virus matang. Selain efektif, terapi
inhibitor protease berhubungan dengan kondisi yang disebut
lipodistrofi terkait HIV. Hal ini ditandai oleh hiperlipidemia, resistensi
insulin, dan re-distribusi lemak tubuh pada abdomen, payudara, dan
punggung. Etiologi sindrom ini multifaktor, dan meliputi efek inhibitor
protease terhadap penurunan lemak dari jaringan adiposa dan terhadap

diferensiasi pra-adiposit.
Terapi HAART tidak menyembuhkan AIDS, tetapi dapat secara dramatis
memperpanjang usia dan meningkatkan kualitas hidup penderita AIDS.

Pertanyaan muncul seputar kapan terapi dimulai, dengan pertimbangan efek


samping dan potensial resistensi virus terhadap obat. Hasil riset menunjukkan
bahwa terapiyang dimulai lebih dini selama perjalanan infeksi dapat
mencegah efek samping yang sangat parah dan meningkatkan kelangsungan

hidup.
HAART aman dan efektif bila diberikan pada wanita hamil, meski efek
teratogenesis masih dipertanyakan. Rekomendasi terkini adalah terapi
dihentikan selama trimester pertama dan kemudian kembali dilakukan bila

perlu.
HAART aman digunakan pada bayi yang lahir dari ibu terinfeksi HIV.
Selain efek samping dari inhibitor protease, terdapat pula efek samping obatobat NRTI dan NNRTI, termasuk mual, sakit kepala dan supresi sumsum
tulang yang mengarah pada anemia dan keletihan. Kepatuhan terhadap obat
HAART sulit dan bahkan tidak mungkin dilakukan pada beberapa pasien.
Obat harus dikonsumsi secara sering dan pada saat-saat tertentu dalam sehari.
Biaya terapi kombinasi jangka panjang sangat tinggi dan HIV berdampak
pada kemiskinan. Oleh karena itu, terapi ini tidak mungkin di gunakan pada

beberapa negara dan penderita yang tidak terjamin asuransi.


Diet sehat dan gaya hidup bebas stres adalah faktor yang penting. Terapi
harus meliputi pendidikan untuk menghindari mengonsusmi alkohol,
merokok, dan obat-obat terlarang. Stres, gizi buruk alkohol, dan obat-obat

lain diketahui mengganggu fungsi imun.


Menghindari infeksi lain, karena infeksi tersebut dapat mengaktifkan sel T
dan dapat mempercepat replikasi HIV Untuk mencegah infeksi, harus

diberikan vaksin yang ada sepanjang tidak digunakan vaksin virus hidup.
Terapi untuk kanker dan infeksi spesifik apabila penyakit tersebut muncul
(Crown Elizabeth, 2009).

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
B. KONSEP PROSES ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian Keperawatan
1) Anamnese
a. Identitas:
Umur: semua usia
JK: lebih rentan pada pria
b. Keluhan utama: Gejala mirip flu, termasuk demam ringan, nyeri
badan, menggigil, dapat muncul beberapa minggu sampai bulan
setelah infeksi. Gejala menghilang setelah respon imun awal
menurunkan jumlah partikel virus, walaupun virus tetap dapat
bertahan pada se-sel lain yang terinfeksi.
c. Riwayat penyakit sekarang: Gejala mirip flu, termasuk demam
ringan, nyeri badan, menggigil, dapat muncul beberapa minggu
sampai bulan setelah infeksi. Gejala menghilang setelah respon
imun awal menurunkan jumlah partikel virus, walaupun virus tetap
dapat bertahan pada se-sel lain yang terinfeksi.
d. Riwayat penyakit dahulu: adanya infeksi human immunodeficiency
virus (HIV).
e. ADL:
Nutrisi: tidak napsu makan, perubahan dalam kemampuan
mengenali

makanan,

mual/muntah.

Disfagia,

nyeri

retrosternal saat menelan.


Eliminasi:diare yang intermitan, terus menerus, sering
dengan atau tanpa disertai kram abdominal. Nyeri panggul,

rasa terbakar saat miksi.


Aktivitas: mudah lelah, berkurangnya toleransi terhadap
aktivitas biasanya, progesi kelelahan/malaise. Perubahan

pola tidur.
Hygiene perorangan: tidak dapat menyelesaikan AKS
f. Psikososial: faktor stres yang berhubungan dengan kehilangan
misalnya dukungan keluarga, hubungan dengan orang lain,
penghasilan, gaya hidup tertentu dan distres spiritual.
2) Pemeriksaan fisik:

B1 : takipnea
B2 : takikardi
B3 : co menurun, hipoksia
B4 : oliguri
B5 : tidak napsu makan
B6 : turgor kulit buruk, kelemahan otot
3) Pemeriksaan penunjang:
Segera setelah infeksi, jumlah sel CD4 (sel T helper) dapat
menurun, tetapi hal ini segera pulih ke normal karena respons imun

awal dapat menahan infeksi.


Antibodi terhadap HIV biasanya muncul 4-6 minggu setelah
infeksi, tetapi pada beberapa kasus memerlukan waktu lebih dari 6
bulan. Apabila sampel serum teridentifikasi sebagai positif HIV
(memiliki titer antibodi positif), dilakukan uji western blot untuk
memastikan infeksi. Bayi tidak terinfeksi yang lahir dari ibu yang
terinfeksi dapat memperlihatkan hasil pemeriksaan positif HIV

selama lebih dari setahun setelah lahir karena adanya antibodi ibu.
Hitung sel T helper menurun secara progresif selama periode laten
infeksi. Sewaktu kadar mencapai kurang dari 200-300 sel T helper
per ml darah, timbul infeksi oportunistik. Perkembangan penyakit
dan keberhasilan berbagai pengobatan dapat diikuti dengan

mengukur sel T helper pasien secara berkala.


Uji darah pada pengidap HIV untuk mengukur beban virus telah
memiliki keakuratan yang tinggi dalam memprediksi adanya
gejala, prognosis, dan status kesehatan individu. Penderita dengan
jumlah virus yang besar menderita penyakit dengan perkembangan
pesat tanpa memperhatikan kadar sel T helper. Semakin besar
jumlah partikel virus yang terdapat pada individu, semakin tinggi
penularan infeksi selama berhubungan kelamin dan antara ibu dan

bayi.
Uji untuk mengukur RNA HIV juga menjadi prediktor status
pejamu.

Kadar

RNA

HIV

sering

kali

dilakukan

untuk

mengevaluasi keberhasilan pengobatan AIDS.


4) Terapi : Apabila terinfeksi oleh HIV, pengobatan yang tersedia untuk
secara dramtis mengubah perjalanan infeksi adalah:
HlV atau AIDS diobati dengan mengikuti program pengobatan'yang
dikenal dengan terapi retrovirus sangat aktif (highly active retroviral

theraphy, HAART). HAART meliputi kombinasi obat-obat yang


termasuk satu atau lebih obat berikut ini:
Nucleoside reverse transcription inhibitor (NRTI). Obat ini
(misalnya, azidotimidin atau AZT) mengganggu transkripsi
virus ke dalam DNA pejamu dengan menghambat kerja enzim
reverse transcriptase

dengan mengganggu ketersediaan

nukleosida (timidin).
Non-nucleoside reverse transcription inhibitor (NRTI). Obat
ini

bekerja

melalui

pengikatan

non-kompetitif

untuk

menghambat tempat aktif pada enzim reverse transcriptase.


Obat ini bekerja efekiif bila dikombinasikan dengan obat lain
seperti NRTI.
Inhibitor protease, yang menghambat kerja protease yang
diperlukan untuk pembentukan partikel virus matang. Selain
efektif, terapi inhibitor protease berhubungan dengan kondisi
yang disebut lipodistrofi terkait HIV. Hal ini ditandai oleh
hiperlipidemia, resistensi insulin, dan re-distribusi lemak
tubuh pada abdomen, payudara, dan punggung. Etiologi
sindrom ini multifaktor, dan meliputi efek inhibitor protease
terhadap penurunan lemak dari jaringan adiposa dan terhadap

diferensiasi pra-adiposit.
Terapi HAART tidak menyembuhkan AIDS, tetapi dapat secara
dramatis memperpanjang usia dan meningkatkan kualitas hidup
penderita AIDS. Pertanyaan muncul seputar kapan terapi dimulai,
dengan pertimbangan efek samping dan potensial resistensi virus
terhadap obat. Hasil riset menunjukkan bahwa terapiyang dimulai
lebih dini selama perjalanan infeksi dapat mencegah efek samping

yang sangat parah dan meningkatkan kelangsungan hidup.


HAART aman dan efektif bila diberikan pada wanita hamil, meski
efek teratogenesis masih dipertanyakan. Rekomendasi terkini adalah
terapi dihentikan selama trimester pertama dan kemudian kembali

dilakukan bila perlu.


HAART aman digunakan pada bayi yang lahir dari ibu terinfeksi HIV.
Selain efek samping dari inhibitor protease, terdapat pula efek
samping obat-obat NRTI dan NNRTI, termasuk mual, sakit kepala dan

supresi sumsum tulang yang mengarah pada anemia dan keletihan.


Kepatuhan terhadap obat HAART sulit dan bahkan tidak mungkin
dilakukan pada beberapa pasien. Obat harus dikonsumsi secara sering
dan pada saat-saat tertentu dalam sehari. Biaya terapi kombinasi
jangka panjang sangat tinggi dan HIV berdampak pada kemiskinan.
Oleh karena itu, terapi ini tidak mungkin di gunakan pada beberapa

negara dan penderita yang tidak terjamin asuransi.


Diet sehat dan gaya hidup bebas stres adalah faktor yang penting.
Terapi harus meliputi pendidikan untuk menghindari mengonsusmi
alkohol, merokok, dan obat-obat terlarang. Stres, gizi buruk alkohol,

dan obat-obat lain diketahui mengganggu fungsi imun.


Menghindari infeksi lain, karena infeksi tersebut dapat mengaktifkan
sel T dan dapat mempercepat replikasi HIV Untuk mencegah infeksi,
harus diberikan vaksin yang ada sepanjang tidak digunakan vaksin

virus hidup.
Terapi untuk kanker dan infeksi spesifik apabila penyakit tersebut
muncul (Crown Elizabeth, 2009).

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan
Data subjektif
Risiko
kekurangan Klien mengeluh haus,
volume cairan b.d diare

kulit

dan

Data objective

membran

mukosa kering, turgor


kulit menurun.
Klien mengeluh Klien

Ketidakseimbangan
nutrisi:
kebutuhan

kurang
tubuh

dari
b.d

ketidakmampuan menelan
makanan
Risiko

infeksi

rongga mulut
makan
nyeri retrosternal

b.d
b.d Klien mengatakan mudah Kelemahan otot
lelah

lemah,

napsu penurunan BB, lesi pada

saat menelan

imunnodefisiensi
Intoleran aktivitas
kelemahan

tidak

tampak

Isolasi sosial b.d takut Klien


penolakan

mengatakan Cemas,

sekunder kehilangan

deperesi,

hubungan perilaku marah, kontak

akibat penyakit menular dengan orang lain

mata yang kurang

(AIDS)
3. Perencanaan Keperawatan
Diagnosa

Tujuan (goal,

Intervensi

Rasional

keperawatan
objective, outcomes)
Risiko Kekurangan Goal:
klien
akan Ajarkan pasien cara Tindakan ini dapat
volume cairan b.d meningkatkan volume mempertahankan
diare

cairan yang adekuat asupan cairan


selama

dalam benar,

perawatan.
Outcomes:

mendorong
yang partisipasi

termasuk dan pemberi asuhan

mencatat BB setiap dalam


dalam hari, mengukur asupan dan

waktu 2x24 jam :

pasien

dan

perawatan
meningkatkan

haluaran, kontrol pasien.

Membran

mengenali tanda-tanda

mukosa lembab
Tidak demam
TD normal
Pengeluaran

dehidrasi
Periksa

urine normal
Turgor
kulit

baik
Tidak lemah
BB normal
Tidak haus
Nadi normal
Pernapasan

hari

normal

pencatatan asupan dan perkiraan

membran Membran

mukosa

mukosa mulut setiap yang


giliran jaga

kering

merupakan

suatu

tanda dehidrasi.
Ukur BB pasien setiap Pengukuran
BB
dan

catat setiap

hasilnya.

hari

dapat

membantu
memperkirakan
status cairan tubuh.
Untuk
membantu

Pertahankan
haluaran yang akurat
Pantau

turgor

keseimbangan

cairan pasien.
kulit Turgor kulit buruk

setiap giliran jaga dan merupakan


catat penurunannya.

tanda dehidrasi

suatu

Pantau TTV setiap 4 Takikardia,


jam

hipotensi,

dispnea

atau demam dapat


mengindikasikan
defisit

volume

cairan
Berikan dan pantau Untuk

mencegah

pengobatan

seperti kehilangan cairan.

antiemetik
Ketidakseimbanga
n

nutrisi

dari
tubuh

Goal:

dan

antidiare
akan Ajarkan pasien dan Tindakan ini dapat

klien

kurang meningkatkan

nutrisi anggota keluarga atau mendorong

kebutuhan yang adekuat selama pasangan


b.d dalam perawatan

dalam dan

prosedur

pasien
anggota

pemberian keluarga

untuk

ketidakmampuan

Objective: klien akan makan melalui selang. berpartisipasi dalam

menelan makanan

meningkatkan
kemampuan

Awasi

saat

mereka perawatan.

menelan mendemonstrasikan

makanan selama dalam kembali


perawatan.
Outcomes:

dalam

waktu 2x24 jam:

kompetesi tercapai
Timbang dan catat BB Untuk mendapatkan
pasien pada jam yang pembacaan

sama seriap hari


BB normal
Tinggikan
bagian
Bising
usus
kepala tempat tidur
normal
pasien
selama
Membran
mukosa lembab penginfusan
Mulai
dengan
Mampu
mencerna

sejumlah

makanan
Tidak

makanan

mengeluh

diencerkan
Pantau asupan

adanya
gangguan

sampai

sensasi rasa
Tidak

paling akurat
Untuk menurunkan
risiko aspirasi

Untuk menurunkan

kecil diare

dan

dalam meningkatkan

konsentrasi

haluaran pasien
Pantau

yang

dan

yang absorbsi
dan BB dapat meningkat
sebagai akibat dari
retensi cairan.
catat Untuk
memantau

bising usus pasien satu peningkatan

dan

mengalami

kali setiap pergantian penurunannya.

sariawan
tugas jaga
Risiko infeksi b.d Goal : klien tidak akan Lakukan teknik isolasi

mencegah transmisi

imunnodefisiensi

virus ke orang lain.

mengalami

perluasan untuk infeksi enterik

infeksi selama dalam dan pernapasan sesuai


perawatan.
Outcomes:

dalam

waktu 2x24 jam:

kebijakan RS.
Lakukan cuci tangan

mencegah tranmisi

efektif

virus.

Batasi pengunjung

resiko komplikasi

sesuai indikasi.

sekunder akibat

terpajan innfeksi
kontak.
Jelaskan prosedur

mengurangi

isolasi pada pasien/

perasaan akibat

orang terdekat.

isolasi dan untuk

Kolaborasi/ atur

perlindunga diri.
mencegah infeksi

pemberian obat sesuai

sekunder.

indikasi seperti
zidofudine
( azidothycytidine /
AZT), didanosine
(dideoxynisine/ddl),
zalcitabine
(dideoxycytidine/ddC)
Intoleran aktivitas Goal:
b.d kelemahan

klien

akan Ajarkan kepada pasien Dapat meningkatkan

meningkatkan toleransi latihan

yang

aktivitas yang adekuat meningkatkan


selama

dalam kekuatan

perawatan.
Objective: klien tidak

dapat pernapasan
secara

dan
bertahap

dan meningkatkan

ketahanan
Diskusikan

aktivitas.
dengan Untuk

pasien

tentang mengkomunikasika

akan

mengalami perlunya beraktivitas

kelemahan

selama

kepada

bahwa

pasien
aktivitas

dalam perawatan.

akan meningkatkan

Outcomes:

kesejahteraan

waktu

dalam

2x24

jam

perawatan:

Respon

TD

normal
terhadap

dan psikososial
Instruksikan dan bantu Untuk menurunkan
pasien

untuk kebutuhan

oksigen

beraktivitas

diselingi tubuh dan mencegah

istirahat
Identifikasi

keletihan
dan Untuk
membantu

aktivitas
minimalkan
faktorMerasa nyaman
faktor yang dapat
setelah
menurunkan toleransi
beraktivitas
Napas normal latihan pasien
Beri dukungan dan
setelah
dorongan pada tingkat
melakukan
aktivitas pasien yang
aktivitas
dapat ditoleransi
Tidak letih
Pantau
respon
Tidak lemah
fisiologis
terhadap

meningkatkan
aktivitas

Untuk

membantu

pasien membangun
kemandirian.
Untuk meyakinkan
bahwa frekuensinya

peningkatan aktivitas kembali


(termasuk
denyut

situasional

klien

dan

irama setelah

diri

penghargaan

selama

yang

melakukan

latihan.

harga mengungkapkan
adekuat perasaan

mendorong

pasien

tentang untuk

dalam dirinya(masa lalu dan mempertimbangkan

perawatan

sekarang)

Objective: klien tidak


akan merasa kurang
penghargaan

menit

akan Dorong pasien untuk Eksplorasi diri dapat

b.d meningkatkan

kurang

normal

respirasi, beberapa

jantung, TD)

Harga diri rendah Goal:

fisik

selama

dalam perawatan

perubahan

dimasa

Sediakan

yang akan datang


waktu Sikap
saling

khusus

diluar menghormati

perawatan yang tidak membantu


terganggu

dengan mengambil

akan
pasien

Outcomes: dalm waktu aktivitas


2x24 jam perawatan:

lain

jawab

berbicara secara sosial akhir

tidak atau

Klien

untuk tanggung

untuk

profesional meningkatkan

mengungkapka

dengan pasien.

koping.
Berikan umpan balik Untuk menyatakan

diri

yang

negatif
Tidak

keterampilan

positif ketika pasien persetujuan

malu/merasa

menunjukkan

bersalah
Mampu

peningkatan harga diri merasa

menangani

atau perilaku

melalui

kejadian
Bisa

dan

membantu

pasien

bahwa

ia

pernyataan mampu melakukan


koping

secara

efektif dalam situasi

mengambil

penuh stres.
Libatkan pasien dalam Ungkapkan

keputusan

proses

harga

pengambilan diri rendah meliputi

ungkapan keputusan

ambivalensi

dan

penundaan
Pantau status mental Bila ansietas akibat
pasien
wawancara
observasi

melalui penolakan

diri

dan menjadi

berat,

minimal pasien

sekali sehari.

dapat

mengalami
disorientasi

atau

gejala-gejala
psikotik.
Dorong pasien untuk Dengan

Isolasi sosial b.d Goal: jective


takut
sekunder
penyakit
(AIDS)

penolakan Klien

akan mengkomunikasikan

akibat meningkatkan
menular sosial

yang

selama

isolasi kebutuhan

asertif,

pasien

secara bertanggung jawab

adekuat asertif kepada orang untuk


dalam lain

menjadi

memenuhi

kebutuhannya

perawatan

dengan jujur, tanpa

Objective: klien tidak

marah,

akan

bersalah

ketakutan
akibat

mengalami
penolakan
penyakit

atau

rasa
yang

biasanya menyertai
perasaan

menular

keputusasaan

Outcomes:

dalam Bantu pasien dalam Untuk


waktu
2x24
jam mengidentifikasi
menumbuhkan
perawatan:
aktivitas sosial yang perasaan
kontrol

Klien

tidak dapat

ia

lakukan dan kontak dengan

merasa

secara mandiri, seperti orang lain

kesepian,

menelpon

teman-

penolakan
teman
Merasa aman Bantu

pasien Stigma

dalam

bahwa berkaitan

situasi menerima

sosial
orang lain mungkin
Tidak deperesi,
melihatnya
berbeda
cemas
karena penyakitnya,
Tidak menarik
dan eksplorasi caradiri
Tidak
larut cara untuk mengatasi
dengan pikiran reaksi mereka
Dukung
interaksi
dan
ingatan
sosial. Mulai dengan
sendiri
mendorong kunjungan
singkat
yang

yang
dengan

penyakit adalah hal


nyata , dan pasien
harus

belajar

mengatasinya.

Untuk
menumbuhkan
perasaan

pada

orang penerimaan

tidak

akan dukungan.

dan

menolaknya.
Luangkan waktu yang Untuk
cukup untuk bersama menumbuhkan
pasien(mis. 10 menit kepercayaan
setiap pergantian tugas
jaga)

untuk

memungkinkan pasien
mengungkapkan
keluhan tentang efek
penyakitnya terhadap
kehidupan sosialnya.
Tawarkan rujukan ke Untuk
kelompok pendukung

membantu

pasien
meningkatkan

kemandirian sosial.

4. Tindakan Keperawatan
Tindakan keperawatan dilakukan dengan mengacu kepada rencana tindakan /
intervensi keperawatan yang telah ditetapkan/dibuat.
5. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi keperawatan dilakukan untuk menilai apakah masalah keperawatan telah
teratasi, tidak teratasi, atau teratasi sebagian dengan mengacu pada kriteria
evaluasi.
6. Pendidikan Pasien
Karena HIV pada wanita biasanya terjadi dalam usia reproduktif, masalah
keluarga berencana harus dibicarakan. Upaya mendapatkan kehamilan oleh
pasangan yang slah satu pasangannya menderita HIV harus dibahas agar partner
yang lain tidak terkena virus tersebut. Meskipun penularan HIV lewat inseminasi
buatan dengan semen yang sudah dicuci dari pasangan yang terinfeksi HIV pernah
tercatat, namun penelitian pendahuluan dengan menggunakan semen yang sudah
diproses memberikan hasil yang cukup menggembirakan. Kendati demikian HIV
ditemukan spermatozoa penderita dan bahkan virus HIV dapat mngadakan
replikasi dalam sel benih pria. Wanita yang berencana untuk hamil perlu
mendapatkan informasi yang memadai tentang resiko penularan infeksi HIV pada
dirinya sendiri, pasangannya dan calon anak-anaknya. ( brunner & suddart, hal
1732 )

BAB IV

PENUTUP
A. Kesimpilan
Sindrom imunodefisiensi didapat (acquired immunodeficiency syndrome,
AIDS) adalah suatu penyakit virus yang menyebabkan Kolapsnya sistem imun dan,
bagi kebanyakan penderita, kematian dalam 10 tahun setelah diagnosis.
AIDS disebabkan oleh virus HIV (Human immunodeficiency virus). Diketahui
terdapat dua jenis virus HIV, yaitu HIV 1 dan HIV 2. HIV 1 sering ditemukan di
Amerika Serikat, sedangkan HIV 2 ditemukan terutama di Afrika Barat. HIV 1
pertama kali diidentifikasikan pada awal 1980an. Virus ini adalah suatu retrovirus,
yang berarti terdiri atas untai tunggal RNA virus yang masuk kedalam inti sel
penjamu dan ditranskripsikan ke dalam DNA pejamu ketika menginfeksi pejamu.
Transkripsi virus ke dalam DNA pejamu berlangsung melalui kerja suatu
enzimspesifik yang disebut reverse transcriptase yang dibawa oleh virus kedalam inti
sel pejamu. Setelah menjadi bagian dari DNA pejamu, virus bereplikasi dan bermutasi
selama beberapa tahun dan secara perlahan tetapi tetap menghancurkan sistem imun.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, L.J (2001): Buku Saku Diagnosa Keperawatan, vol. 8. Jakarta: EGC
Corwin, Elisabeth.2009.Patofisiologi, Ed. 3.Jakarta: EGC
Doenges, M.E. dkk (2000): Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan
Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Ed.3.Jakarta: EGC. hal 826-858.
Grimes, D (1991) : Infectious Diseas, Mosby Year Book, St. Louis, p. 155-184.
Long, B.C (1996) : Perawatan Medical Bedah : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan, vol.
3, Bandung: Yayasan IAPK Pajajaran, hal. 527-579.
Smeltzer, S.C & Bare, B.G (2002) : Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah, Ed.8. vol.3.
Jakarta: EGC hal. 1714-1752.