Anda di halaman 1dari 66

LAPORAN PRAKTEK

PENGUKURAN

DISERAHKAN KEPADA
Rabiatul Adawiyah, ST.,MT

DISUSUN OLEH

Bambang Oktavianto
M031 00007
Kelas III A

JURUSAN TEKNIK MESIN


PENDIDIKAN NASIONAL
POLITEKNIK NEGERI BANJARMASIN
BANJARMASIN 2011

KATA

PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT karena


hanya atas limpahan karunia dan hidayah-Nya, laporan praktek
pengukuran ini dapat diselesaikan sesuai waktu yang ditentukan.
Saya mengucapkan terima kasih kepada Ibu Rabiatul Adawiyah
sebagai dosen pengajar yang telah memberikan bimbingan dan
arahan dalam pembuatan laporan. Penulis juga menghaturkan terima
kasih kepada semua pihak yang telah ikut membantu dalam
pembuatan laporan ini.
Tiada manusia yang lepas dari kesalahan, demikian pula
penulis

menyadari

bahwa

laporan

ini

belumlah

sepenuhnya

sempurna seperti yang diharapkan. Tetapi penulis sudah berusaha


semaksimal mungkin menyelesaikannya hanya sebatas ini saja
sesuai kemampuan penulis. Oleh karena itu, segala saran dan kritik
yang membangun sangat diharapkan untuk perbaikan di masa
mendatang.
Harapan penulis semoga laporan ini dapat bermanfaat dan
berguna bagi pembaca serta semua pihak.

Banjarmasin, Desember 2010

Penulis

DAFTAR ISI
LEMBAR JUDUL
KATA
PENGANTAR
ii
DAFTAR
ISI
iii-iv
BAB I.
PENDAHULUAN....................................................................
..

1
1.1 Latar
Belakang.........................................................................................
1
1.2 Maksud

dan

Tujuan.................................................................................

BAB II.

LANDASAN

TEORI...................................................................
2.1 Pengertian

Singkat

Ukuran.....................................................
2.2 Jenis

Alat

2
Mengenai

Ukur

Pengukuran......................................................

BAB III.

dan

Cara

PELAKSANAAN

PRAKTIKUM................................................... 7

3.1 Pengukuran

Diameter

Luar.............................
3.2 Mengontrol

Luar

dengan

7
Ketegaklurusan

Penyiku..........................................
3.3 Pengukuran

Mikrometer

Diameter

Luar

dengan

dengan

Jangka

Sorong

Milimeter................ 10
3.4 Pengukuran

Block

Milimeter........................
3.5 Pengukuran

dengan

Jangka

11
dengan

Mikrometer

Dalam
3.6 Pengukuran

Sudut

Pahat

Protektor )................................
3.7 Pengukuran

Celah

13

Bubut

Bevel

15

Busi

Gauge
3.8 Pengukuran

Sorong

dengan

Feeler

16

kebulatan

dengan

Dial

Indikator18
3.9 Pengukuran

Kelurusan

dengan

Indikator.

BAB IV.

Dial

19

PENGOLAHAN DATA DAN

ANALISA........................................ 20
4.1 Data

Hasil
Pengukuran.........................................................................
....

21

4.1.1 Pengukuran

Diameter

Poros

Bertingkat

Dengan

lurusan

dengan

Mikrometer........ 21
4.1.2 Pengukur

sudut

ketegak

penyiku....................... 21
4.1.3 pengukuran sudut mata pahat bubut menggunakan
bevel..... 21
4.1.4 pengukuran

V block

menggunakan

jangka

sorong

milimeter....22
4.1.5 Pengukuran lubang pada plat menggunakan micrometer
4

dalam
(lubang)..............................................................................
..

22

4.1.6 Pengukuran

celah

gauge......................
4.1.7 Pengukuran

busi

menggunakan

Feleer

22
Kebulatan

benda

menggunakan

Dial

Indikator
(Dial
Gauge)................................................................................
....

23

4.1.8 Pengukuran kelurusan benda menggunakan Dial Indikator


(Dial
Gauge)....................................................................................
23
4.2 Perhitungan
data.....................................................................................
4.2.1 Pengukuran
Mikrometer.......

Diameter

Poros

Bertingkat

24
Dengan

24

4.2.2 Pengukuran sudut ketegak lurusan Dengan


Penyiku................28
4.2.3

Pengukuran Diameter poros dengan Jangka Sorong

Manual........

28

4.2.4 pengukuran
Sorong....................

block

menggunakan

Jangka

32

4.2.5 Pengukuran lubang pada plat menggunakan micrometer


dalam
(lubang)..............................................................................
.

38

4.2.6 Pengukuran

Sudut

Bubut.....................................................

Pahat
44

4.2.7 Pengukuran lingkaran benda menggunakan Dial Indikator

(Dial
Gauge)................................................................................
....

47

4.2.8 Pengukuran kelurusan benda menggunakan Dial Indikator


(Dial
Gauge)....................................................................................
53

BAB V.

PENUTU

P...........................................................................

58

5.1
Kesimpulan................................................................................
.............. 58
5.2
Saran.........................................................................................
............... 58

DAFTAR
PUSTAKA..............................................................................
. 59

BAB I
PENDAHULUAN
1.3 Latar Belakang

Metrologi

adalah

ilmu

tentang

ukur

memgukur

dan

memegang peran yang penting dalam produksi. Kontrol mesin


dan

penanganan

pengukuran.

mesin

untuk

Produksi-besaran

sebagian

yang

tergantung

merupakan

sendi

pada
dari

industri modern dilandaskan pada ketetapan dan kemampuan


tukar bagian-bagian. Hanya bagian atau suKu cadang yang
dibuat mengikuti gambar teknik dan standar akan mempunyai
kemampuan tukar.
1.4 Maksud dan Tujuan
Adapun maksud dan tujuan dari penyusunan laporan ini antara
lain adalah :
a. Sebagai bentuk tanggung jawab tertulis mahasiswa terhadap
praktek yang diikuti sekaligus melengkapi rangkaian tugas
yang diberikan oleh dosen pembimbing.
b. Mengevaluasi dan merealisasikan ilmu yang telah didapat dari
praktek secara teoritis, sistimatis dan terperinci dalam bentuk
penjabaran umum.
c. Sebagai bahan penelitian dan perbandingan.
Maksud dan tujuan pelaksanaan praktek pengukuran adalah:
a. Memilih ukuran yang benar seperti micrometer metric sesuai
dengan ukuran luar yang telah ditentukan.
b. Membaca skala micrometer millimeter.
c. Mengetahui kegunaan, bisa membaca dan dapat mengukur
pada alat-alat ukur yang digunakan pada praktek.
d. Mengecek dan mengetahui apakah sudut tersebut <90 o atau
>90o.
e. Menganalisa hasil pengukuran.

BAB II
7

LANDASAN TEORI
2.3 Pengertian Singkat Mengenai Ukuran
Pengukuran dalam arti yang luas adalah membandingkan suatu
besaran standar. Besaran standar tersebut harus memenuhi
syarat-syarat sebagai berikut :
a. Dapat didefinisikan secara fisik.
b. Jelas dan tidak berubah dengan waktu.
c. Dapat digunakan sebagai pembanding.
Memang dalam prakteknya pengukuran tidak dilakukan
dengan secara langsung membandingkan dengan standar meter,
melainkan digunakan alat pembanding yaitu alat ukur.
Adapun beberapa jenis-jenis alat ukur yang dilengkapi
sekala pengukuran yaitu :
Micrometer, Vernier Caliper, Bevel (pengukur sudut), Feeler
Gauge, Dial Indicator, Penyiku, dan lain-lain.
2.4 Jenis Alat Ukur dan Cara Pengukuran
a. Micrometer
Micrometer digunakan untuk mendapatkan hasil pengukuran
yang lebih teliti dari hasil pengukuran yang dilakukan dengan
Vernier Caliper. Karna pada umumnya micrometer mempunyai
ketelitian sampai 0,01 mm.

Gambar 2.1 Micrometer dalam

Gambar 2.2 Micrometer Luar


Pada umumnya micrometer yang dipergunakan adalah
micrometer luar. Maksudnya adalah micrometer yang dapat
dipergunakan untuk melakukan pengukura diameter / panjang,
pada bagia luar saja.
Micrometer

tersedia

dalam

berbagai

type

yang

berbeda

tergantung dari kebutuhan sesuai ukuran benda yang akan


diukur. Micrometer dapat dipergunakan untuk mengukur bagian
luar yang sangat akurat, misalnya ukuran diameter piston atau
ukuran diameter pin piston.
b. Vernier Caliper
Vernier Caliper (Mistar Geser) adalah suatu alat ukur yang
paling mudah untuk melaksanakan pengukuran. Alat ukur ini
banyak dipakai di bengkel-bengkel
Vernier Caliper dapat digunakan untuk melakukan pengukuran :

Diameter bagian dalam.

Diameter bagian luar.

Kedalaman (ketinggian).

Ketebalan (panjang).

Gambar 2.3 Vernier Caliper


Pada Vernier Caliper dibuat rahang ukur tetap dan rahang
ukur gerak yang berfungsi sebagai sensor untuk menjepit benda
ukur sewaktu melakukan pengukuran. Permukaan kedua rahang

ukur ini dibuat sejajar dan relative kuat untuk menghindari


kesalahan ukur. Batang ukurnya dibuat kaku dengan permukaan
keras sehingga tidak mudah lentur dan tahan aus, sebab rahang
ukur gerak harus menggeser pada batang. Dimana Vernier
Caliper

ini

mempunyai

ketelitian

maksimum

yang

dapat

dicapainya sebesar 0,02 mm.


c. Bevel (pengukur sudut)
Alat pengukur sudut ini termasuk alat pengukur sudut yang
sudah

sempurna.

Konstruksinya

sangat

baik

dan

penampakkannya sangat menarik


Penggunaan alat ini sangat flelksibel (0o 360o), dan
mempunyai skala ukuran yang presisi hingga pada skala dapat
dibaca sampai menit. Cara membacanya sama seperti membaca
jangka sorong/ micrometer.

Gambar 2.4 Bevel (pengukur sudut)


Alat ini juga praktis jika digunakan untuk :

Memeriksa / mengukur sudut.

Menarik garis atau beberapa garis.

Memeriksa kerataan suatu permukaan.


Alat ini terdiri dari sebuah rumah yang terbuat dari besi

tuang dan sebuah mistar baja yang berskala. Pada rumah ini
terdapat garis-garis pembagi yang menunjukkan besarnya sudut
dalam derajat, dan pada bagian ini daopat diputar setelah
dikendorkan baut penjepitnya. Demikian juga mistar dapat

10

dipasang dan dilepas dari rumahnya dengan mengendorkan /


mengeraskan baut penjepitnya.

d. Feeler Gauge
Feleer Gauge adalah suatu alat ukur yang dapat digunakan
untuk mengukur kerenggangan antara satu benda ke benda
lain. Misalnya : platina, Clereance cylinder ke piston, gap ujung
ring piston, gap busi dan lain-lain.

Gambar 2.5 Feeler gauge


Feeler gauge ini terdiri dari bilah baja yang dikeraskan,
bilah-bilah tersebut digabungkan menjadi satu. Setiap bilah
mempunyai ukuran yang tertera pada bilah tersebut.
e. Dial Indicator
Dial Indicator adalah alat ukur yang strukturnya berdasarkan
pada gerakan lurus (batang) dan bergerak secara mekanis. Naik
turunnya

batang

bergerak

diproyeksikan

kelayar

pembaca

dengan memperhatikan gerak jarum yang terdapat pada layer


baca.

11

Gambar 2.6 Dial Indikator


Untuk menggunakan alat ini harus selalu melengkapi
dengan

peralatan

sebagai

pendukung

melaksanakan

pengukuran, antara lain :

Magneto Satand

Surface Plate

V Block

Alat

ini

biasanya

digunakan

untuk

mengukur

kelurusan

Crankshaft, kelurusan AS dan lain-lain.


f. Penyiku
Penyiku digunakan sebagai alat pengecek yang bersudut 90 o
(tegak lurus).Dengan menggunakan alat ini akan daoat diperiksa
kesikuan antara dua bidang atau dua sisi.

Gambar2.7 Penyiku

12

BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIKUM
3.10 Pengukuran Diameter Luar dengan Mikrometer Luar
Tujuan :
Setelah melaksanakan kegiatan praktikum ini diharapkan dapat :
1. Memilih ukuran yang benar untuk micrometer metric sesuai
dengan ukuran luar yang akan diukur.
2. Mengecek micrometer luar pada pembacaan nol 0 yang
benar.
3. Membaca skala micrometer millimeter.
4. Mengukur bermacam-macam ukuran luar yang termasuk
dalam jangkauan micrometer misalnya untuk pengukuran
diameter luar poros bertingkat.
5. Menganalisa data hasil pengukuran
Peralatan dan Bahan yang digunakan :
1. Jangka sorong millimeter dengan ketelitian 0,02 mm atau 0,05
mm
2. Satu set v block sebagai benda ukur
3. Poros bertingkat
4. Meja perata
Faktor Pendukung Kegiatan Praktikum :
1. Sistem pembacaan vernier
2. Kerja jangka sorong
3. Desimal-desimal tambahan
4. Desimal-desimal pecahan
Tindakan Keamanan :

13

1. Berhati-hati bekerja karena peralatan mempunyai kepresisian


tinggi
2. Hati-hati alat ukur mudah rusak dan sensitive
3. Bersihkan tangan dan bahan yang diukur sebelummelekukan
pengukuran
Langkah Kerja :
1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Periksa peralatan sebelum digunakan jika perlu dikalibrasi
terlebih dahulu
3. Bersihkan peralatan dan bahan dari kotoran
4. Kalibrasi jangka sorong sebelum digunakan
5. Lakukan pengukuran bagian luar, bagian dalam dan bagian
kedalaman pada sebuah v block
6. Lakukan pengukuran bagian luar untuk mengukurdiameter
luar poros bertingkat
7. Ulangi pengukuran sampai 5 10 kali untuk mendapatkan
data yang akurat
8. Catatlah data hasil pengamatan pada kolom yag telah
disediakan
Pengukuran Diameter Luar

Gambar 3.8 Pengukuran micrometer luar (outside micrometer)

14

Gambar 3.9 Poros bertingkat


3.11 Mengontrol Ketegaklurusan dengan Penyiku
Tujuan :
Setelah

melaksanakan

kegiatan

praktikum

ini

diharapkan

dapat :
1. Mengecek sudut siku-siku (90O) pada benda kerja
2. Mengetahui apakah sudut tersebut < 90O atau > 90O

Peralatan dan Bahan yang digunakan :


1. Penyiku
2. Benda kerja (v block)
3. Meja perata
Faktor Pendukung Kegiatan Praktikum :
1. Pengertian alat ukur langsung dan alat ukur pembanding
2. Penggunaan alat ukur pembanding
Tindakan Keamanan :
1. Bersihkan penyiku dengan bersih dan letekkan pada tempat
yang disediakan
2. Jangan menaruh penyiku pada tempat yang mudah jatuh
Keterangan Singkat :
1. Penyiku terdiri dari bilah sejajar yang dipasang pada tangkai
sejajar . Bilah dan tangkai dipasang tagak lurus satu dama
lain membentuk sudut 90O pada bagian dalam dan bagian
luar
2. Pada ujung bilah dari penyiku dipasang dengan baik sedikit
diatas alas tangkai, untuk menghindari agar tidak membenuk
sudut,

untuk

mencegah

agar

bilah

tidak

langsung

bersinggungan dengan permukaan benda kerja yang dicek


3. Sebelum menggunakan penyiku, periksa bahwa bilah dan
tangkai dalam keadaan tidak rusak dan bersih.
Langkah Kerja :
15

1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan


2. Periksa peralatan sebelum digunakan jika perlu dikalibrasi
terlebih dahulu
3. Bersihkan peralatan dan bahan dari kotoran
4. Mengontrol permukaan luar
5. Lakukan pengukuran untuk mengukur diameter lubang

Pegang benda kerja dengan satu tangan dan tempelkan


tangkai penyiku pada sisi permukaan tegak

Geser tangkai kebawah sepanjang permukaan tegak,


sampai bilah menyentuh benda kerja

Posisikan sedemikian rupa hingga cahaya yang dating dari


lampu atau sinar luar dapat terlihat

6. Lakukan pengukuran untuk siku bagian yang lain


7. Ulangi pengukuran sampai 5 10 kali untuk mendapatkan
data yang akurat
8. Catatlah data hasil pengamatan pada kolom yang telah
disediakan.
Mengontrol Dengan Penyiku

Gambar 3.10 Posisi penyiku

Gambar 3.11 V Block

16

3.12 Pengukuran

Diameter

Luar

dengan

Jangka

Sorong

Milimeter
Tujuan :
Setelah

melaksanakan

kegiatan

praktikum

ini

diharapkan

dapat :
1. Memeriksa Jangka sorong (Vernier Caliper) untuk pembacaan
yang betul
2. Membaca skala jangka sorong
3. Mengukur benda kerja untuk ukuran luar (out side), ukuran
dalam (ijnside) dan ukuran kedalaman

(dept) untuk benda

rata (segi empat)


4. Mengukur benda kerja untuk ukuran luar (out side) untuk
benda silinder
5. Menganalisa data hasil pengukuran
Peralatan dan Bahan yang digunakan :
1. Jangka sorong millimeter dengan ketelitian

0,02 mm atau

0,05 mm
2. Satu set V block sebagai benda ukur
3. Poros bertingkat
4. Meja perata
Faktor Pendukung Kegiatan Praktikum :
1. Sistem pembacaan vernier
2. Kerja jangka sorong
3. Desimal-desimal tambahan
4. Desimal-desimal pecahan
Tindakan Keamanan :
1. Berhati-hati

bekerja

karena

peralatan

mempunyai

kepresiasian tinggi
2. Hati-hati alat ukur mudah rusak dan sensitive
3. Bersihkan tangan dan bahan yang diukur sebelum melakukan
pengukuran
Langkah Kerja :
17

1. Siapka alat dan bahan yang akan digunakan


2. Periksa peralatan sebelum digunakan jika perlu dikalibrasi
terlebih dahulu
3. Bersihkan peralatan dan bahan dari kotorsn
4. Kalibrasi jangka sorong sebelum digunakan
5. Lakukan pengukuran bagian luar, bagian dalam dan bagian
kedalaman pada sebuah V block
6. Lakukan pengukuran bagian luar untuk mendapatkan data
yang akurat
7. Ulangi pengukuran sampai 5 10 kali untuk mendapatkan
data yang akurat
8. Catatlah data hasil pengamatan pada kolom yang telah
disediakan
Pengukuran Diameter Luar

Gambar 3.12 Poros bertingkat


3.13 Pengukuran V Block dengan Jangka Sorong Milimeter
Tujuan :
Setelah

melaksanakan

kegiatan

praktikum

ini

diharapkan

dapat :
1. Memeriksa Jangka sorong (Vernier Caliper) untuk pembacaan
yang betul
2. Membaca skala jangka sorong
3. Mengukur benda kerja untuk ukuran luar (out side), ukuran
dalam (ijnside) dan ukuran kedalaman

(dept) untuk benda

rata (segi empat)


4. Mengukur benda kerja untuk ukuran luar (out side) untuk
benda silinder
5. Menganalisa data hasil pengukuran

18

Peralatan dan Bahan yang digunakan :


1. Jangka sorong millimeter dengan ketelitian

0,02 mm atau

0,05 mm
2. Satu set V block sebagai benda ukur
3. Poros bertingkat
4. Meja perata
Faktor Pendukung Kegiatan Praktikum :
1. Sistem pembacaan vernier
2. Kerja jangka sorong
3. Desimal-desimal tambahan
4. Desimal-desimal pecahan
Tindakan Keamanan :
1. Berhati-hati

bekerja

karena

peralatan

mempunyai

kepresiasian tinggi
2. Hati-hati alat ukur mudah rusak dan sensitive
3. Bersihkan tangan dan bahan yang diukur sebelum melakukan
pengukuran
Langkah Kerja :
1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Periksa peralatan sebelum digunakan jika perlu dikalibrasi
terlebih dahulu
3. Bersihkan peralatan dan bahan dari kotoran
4. Kalibrasi jangka sorong sebelum digunakan
5. Lakukan pengukuran bagian luar, bagian dalam dan bagian
kedalaman pada sebuah V block
6. Lakukan pengukuran bagian luar untuk mendapatkan data
yang akurat
7. Ulangi pengukuran sampai 5 10 kali untuk mendapatkan
data yang akurat
8. Catatlah data hasil pengamatan pada kolom yang telah
disediakan

19

Pengukuran V Block

Gambar 3.13 V Block


3.14 Pengukuran dengan Mikrometer Dalam
Tujuan :
Setelah

melaksanakan

kegiatan

praktikum

ini

diharapkan

dapat :
1. Memilih ukuran yang benar untuk micrometer metric sesuai
dengn ukuran luar yang akan diukur.
2. Mengecek micrometer luar pada pembacaan nol 0 yang
besar.
3. Membaca skala micrometer millimeter
4. Mengukur bermacam-macam ukuran dalam (lubang) yang
termasuk dalam jangkauan mikromater misalnya pengukuran
diameter lubang.
5. Menganalisa data hasil pengukuran.
Peralatan dan Bahan yang digunakan :
1. Mikrometer dalam dengan ketelitian 0,01 mm.
2. Plat berlubang.
3. Meja perata.
Faktor Pendukung Kegiatan Praktikum :
1. Sistem pembacaan micrometer
2. Prinsip kerja micrometer
3. Desimal-desimal tambahan
4. Desimal-desimal pecahan
20

Tindakan Keamanan :
1. Berhati-hati bekerja karena peralatan mempunyai kepresisian
tinggi
2. Berhati-hati alat ukur mudah rusak dan sensitive
3. Bersihkan tangan dan bahan yang akan diukur sebelum
melakukan pengukuran.
Langkah Kerja :
1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Periksa peralatan sebelum digunakan jika perlu dikalibrasi
terlebih dahulu
3. Bersihkan peralatan dan bahan dari kotoran
4. Kalibrasi micrometer dalam sebelum digunakan
5. Lakukan pengukuran untuk mengukur diameter lubang
6. Ulangi pengukuran sampai 5 10 kali untuk mendapatkan
data yang akurat
7. Catatlah data hasil pengamatan pada kolom yang telah
disediakan.
Pengukuran Dengan Mikrometer Dalam

Gambar 3.14 Peralatan micrometer dalam

Gambar 3.15 Plat berlubang


21

3.15 Pengukuran Sudut Pahat Bubut ( Bevel Protektor )


Tujuan :
Setelah

melaksanakan

kegiatan

praktikum

ini

diharapkan

dapat :
1. Mengetahui kegunaan bevel protector
2. Membaca bevel protector dengan benar
3. Dapat mengukur dengan bevel protector
Peralatan dan Bahan yang digunakan :
1. Bevel protector
2. Benda kerja pahat bubut
3. Meja kerja
Faktor Pendukung Kegiatan Praktikum :
1. Pengertian alat ukur langsung dan alat ukur pembanding
2. Penggunaan alat ukur pembanding
3. Penggunaan alat ukur langsung
4. Dapat membaca skala nonius pada sudut
Tindakan Keamanan :
1. Bersihkan bevel dengan bersih dan letakkan pada tempat
yang disediakan
2. Jangan menaruh feeler gauge pada tempat yang mudah jatuh
Keterangan Singkat :
Alat ini sangat praktis jika digunakan untuk :
1. Memeriksa atau mengukur sudut
2. Menarik garis atau beberapa garis
3. Memeriksa keataan suatu permukaan
Alat ini terdiri dari sebuah rumah yang terbuat dari besi tuang
dan sebuah mistar baja yang berskala. Pada rumah ini terdapat
garis-garis pembagi yang menunjukkan besarnya sudut dalam
derajat dan pada bagian ini dapat diputar setelah dikendorkan
baut penjepitnya demikian juga mistar dapat dipasang dan
22

dilepas dari rumahnya dengan mengendorkan atau mengeraskan


baut penjepitnya.
Langkah Kerja :
1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Periksa peralatan sebelum digunakan jika perlu dikalibrasi
terlebih dahulu.
3. Bersihkan peralatan dan dari kotoran.
4. Mengukur sudut-sudut pada pahat bubut :
Sudut potong
Sudut tatal
Sudut bebas
5. Ulangi pengukuran sampai 5 10 kali untuk mendapatkan
data yang akurat.
6. Catatlah data hasil pengamatan pada kolom yang telah
disediakan.
Mengukur Sudut Pahat Bubut

Gambar 3.16 Bevel protekter

Gambar 3.17 Pahat bubut


3.16 Pengukuran Celah Busi dengan Feeler Gauge
23

Tujuan :
Setelah

melaksanakan

kegiatan

praktikum

ini

diharapkan

dapat :
1. Mengetahui kegunaan feeler gauge
2. Dapat mengukur dengan feeler gauge
Peralatan dan Bahan yang digunakan :
1. Feeler gauge
2. Benda kerja busi
3. Meja perata
Keterangan Singkat :
Feeler gauge digunakan dibengkel untuk :

Setting posisi peralatan

Mengatur kelonggaran (Clereance) pada gunting

Mengontrol celah diantara dua benda yang bersinggungan


(backlash roda gigi)

Mengukur slot atau alur yang kecil


Faktor Pendukung Kegiatan Praktikum :
1. Pengertian alat ukur langsung dan alat ukur pembanding
2. Penggunaan alat ukur pembanding
Tindakan Keamanan :
1. Bersihkan alat ukur langsung dan alat ukur pembanding
2. Jangan menaruh feeler gauge pada tempat yang mudah jatuh
Langkah Kerja :
1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Periksa peralatan sebelum digunakan jika perlu dikalibrasi
terlebih dahulu
3. Bersihkan peralatan dan bahan dari kotoran
4. Mengukur jarak antara pada busi (gap)
5. Mengukur kelonggaran gunting
6. Ulangi pengukuran sampai 5 10 kali untuk mendapatkan
data yang akurat.

24

7. Catatlah data hasil pengamatan pada kolom yang telah


disediakan.
Mengukur Celah Busi / Clerence Guntin

Gambar 3.18 Feeler gauge

Gambar 3.19 Cara pengukuran dengan feeler gauge


3.17Pengukuran Kebulatan dengan Dial Indikator
Tujuan :
Setelah

melaksanakan

kegiatan

praktikum

ini

diharapkan

dapat :
1. Memeriksa jam (dial indikator) untuk pembacaan yang betul
2. Membaca skala pada jam ukur (dial indikator) yang berbedabeda
3. Mengatur

jam

ukur

untuk

mengukur

penyimpangan-

penyimpangan yang kecil dan mencatat dalam kolom data


4. Menganalisa data hasil pengukuran
Peralatan dan Bahan yang digunakan :
1. Dial indikator dengan skala 0,01 pembacaan 0 10 mm
2. Pemegang dan dudukan yang sesuai dial indicator
3. Satu set V block digunakan untuk mendudukan benda kerja
4. Meja perata
25

5. Benda kerja silinder


Faktor Pendukung Kegiatan Praktikum :
1. Sistem satuan luas
2. Sistem decimal
3. Desimal-desimal tambahan
4. Desimal-desimal pecahan
Tindakan Keamanan :
1. Berhati-hatilah

bekerja

karena

peralatan

mempunyai

kepresisian tinggi
2. Hati-hati alat ukur mudah pecah dan sensitive
3. Bersihkan tangan dan bahan yang diukur sebelum melakukan
pengukuran
Langkah Kerja :
1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Periksa peralatan sebelum digunakan, jika perlu dikalibrasi
terlebih dahulu
3. Bersihkan peralatan dan bahan dari kotoran
4. Pasanglah

dial

indicator

pada

pemegang

yang

telah

disediakan
5. Letakkan benda kerja silinder diatas dua buah V block yang
telah tersedia
6. Lakukan pengukuran kelurusan dengan menggerakkan dial
indicator dari kiri kekanan atau sebaliknya
7. Ulangi pengukuran sampai 5 10 kali untuk mendapatkan
data yang akurat.
8. Catatlah data hasil pengamatan pada kolom yang telah
disediakan.
Pemeriksaan Kebulatan

26

Gambar 3.20 Posisi dial indikator


3.18 Pengukuran Kelurusan dengan Dial Indikator
Tujuan :
Setelah

melaksanakan

kegiatan

praktikum

ini

diharapkan

dapat :
1. Memeriksa jam (dial indikator) untuk pembacaan yang betul
2. Membaca skala pada jam ukur (dial indikator) yang berbedabeda
3. Mengatur

jam

ukur

untuk

mengukur

penyimpangan-

penyimpangan yang kecil dan mencatat dalam kolom data


4. Menganalisa data hasil pengukuran
Peralatan dan Bahan yang digunakan :
1. Dial indikator dengan skala 0,01 pembacaan 0 10 mm
2. Pemegang dan dudukan yang sesuai dial indicator
3. Satu set V block digunakan untuk mendudukan benda kerja
4. Meja perata
5. Benda kerja silinder
Faktor Pendukung Kegiatan Praktikum :
1. Sistem satuan luas
2. Sistem decimal
3. Desimal-desimal tambahan
4. Desimal-desimal pecahan
Tindakan Keamanan :
1. Berhati-hatilah

bekerja

karena

peralatan

mempunyai

kepresisian tinggi
2. Hati-hati alat ukur mudah pecah dan sensitive
3. Bersihkan tangan dan bahan yang diukur sebelum melakukan
pengukuran
27

Langkah Kerja :
1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Periksa peralatan sebelum digunakan, jika perlu dikalibrasi
terlebih dahulu
3. Bersihkan peralatan dan bahan dari kotoran
4. Pasanglah

dial

indicator

pada

pemegang

yang

telah

disediakan
5. Letakkan benda kerja silinder diatas dua buah V block yang
telah tersedia
6. Lakukan pengukuran kelurusan dengan menggerakkan dial
indicator dari kiri kekanan atau sebaliknya
7. Ulangi pengukuran sampai 5 10 kali untuk mendapatkan
data yang akurat.
8. Catatlah data hasil pengamatan pada kolom yang telah
disediakan.
Pemeriksaan Kelurusan

Gambar 3.21 Posisi dial indikator

BAB IV
PENGOLAHAN DATA DAN ANALISA
4.1

Data Hasil Pengukuran

4.1.1
Pengukuran
Mikrometer
Pengulang
an
1
2
3
4

Diameter

Poros

Bertingkat

Dengan

Pengukuran pada diameter poros (dalam mm)


B
A
C
D
8,30
8,32
8,32
8,32

10,24
10,24
10,24
10,24

12,23
12,23
12,22
12,23

18,21
18,20
18,20
18,20

28

8,28
10,24
5
8,28
10,24
6
8,29
10,24
7
8,29
10,24
8
8,30
10,25
9
8,30
10,25
10
Tabel 4.1 Pengukuran Diameter Poros
Mikrometer

4.1.2

12,23
12,22
12,24
12,21
12,23
12,24

18,18
18,18
18,21
18,18
18,19
18,18

Bertingkat Dengan

Pengukuran Dengan Penyiku


Bagian
yang
diukur
1

Sudut
90o

> 90o

< 90o

Alasan

Ya

Tidak

Ya

Ya

Tidak

Ya

Ya

Tidak

Ya

Ya

Tidak

Ya

Ya

Tidak

Ya

Ya

Tidak

Ya

Tidak

Ya

Benda
kerja
cekung
Benda kerja tegak
lurus
Benda
kerja
cembung
Benda
kerja
cembung
Benda
kerja
cembung
Benda kerja tegak
lurus
Benda
kerja
cekung
Benda
kerja
cekung
Benda
kerja
cekung
Benda kerja tegak
lurus

Ya

Ya

Tidak

Ya

Ya

Ya

Tidak

10

Ya

Tidak

Ya

Tabel 4.2 Pengukuran sudut


4.1.3
Manual

Pengukuran

Diameter

Poros

Pengulang Pengukuran pada


an
(dalam mm)
A
B
18,72
12,76
1
18,72
12,76
2
18,72
12,76
3
18,72
12,76
4
18,72
12,76
5
18,71
12,76
6
18,71
12,76
7
18,71
12,76
8
18,71
12,76
9

Dengan

Jangka

diameter

poros

10,79
10,79
10,79
10,79
10,79
10,78
10,78
10,78
10,78

8,37
8,37
8,37
8,36
8,36
8,36
8,35
8,35
8,35

Sorong

29

18,70
12,76
10,78
8,34
10
Tabel 4.3 Pengukuran Diameter Poros Dengan Jangka Sorong
Manual

4.1.4

Pengukuran V Block dengan Jangka Sorong


Pengulang Pengukuran pada permukaan (dalam mm)
an
A
B
C
D
E
F
50
50
7.5
19,01
46,00
46,00
1
50
46,00
50
46,00
7.5
19
2
50
46,00
50
46,00
7.5
19
3
50
46,00
50
46,00
7.5
19
4
50
46,00
50
46,00
7.5
19,01
5
50
46,00
50
46,00
7.5
19
6
50
46,00
50
46,00
7.5
19
7
50
46,00
50
46,00
7.5
19
8
50
46,00
50
46,00
7.5
19,01
9
50
46,00
50
46,00
7.5
19
10
Tabel 4.4 Pengukuran V Block dengan Jangka Sorong

4.1.5

Pengukuran Lubang dengan Mikrometer Dalam


Pengulang Pengukuran lubang pada plat berlubang
an
(dalam mm)
A
B
C
D
E
F
10,21
10,19
10,20
10,24
10,25
10,24
1
10,27
10,16
10,22
10,25
10,26
10,22
2
10,25
10,21
10,21
10,21
10,28
10,33
3
10,22
10,22
10,26
10,22
10,21
10,21
4
10,26
10,21
10,21
10,21
10,19
10,20
5
10,28
10,20
10,20
10,20
10,20
10,22
6
10,36
10,21
10,26
10,25
10,21
10,19
7
10,27
10,22
10,25
10,21
10,22
10,26
8
10,26
10,21
10,27
10,22
10,24
10,22
9
10,25
10,20
10,22
10,19
10,19
10,25
10
Tabel 4.5 Pengukuran Lubang Mikrometer Dalam

4.1.6 Pengukuran Dengan Pengukur Sudut


Pengulang Sudut
Sudut
an
potong
tatal
o
81
102 o
1
81 o
102 o
2
82 o
102 o
3
o
80
102 o
4
81 o
102 o
5
o
81
102 o
6
79 o
102 o
7
81 o
102 o
8
o
81
102 o
9

(Bevel Protector)
Sudut
bebas
134 o
134 o
134 o
134 o
134 o
134 o
134 o
134 o
134 o

30

81 o
102 o
134 o
10
Tabel 4.6 Pengukuran Dengan Pengukur Sudut (Bevel Protector)

4.1.7

Pengukuran Gap Busi Dengan Feeler Gauge


Pengulang Celah busi
an
0,50
1
Tabel 4.7 Celah gap busi

Pemeriksaan Kebulatan Dengan Dial Indikator


Pengulang Penyimpangan pada daerah (dalam mm)
an
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

0,01

0,00

0,00

0,01

0,01

0,04

0,00

0,00

0,00

0,01

0,01

0,04

0,00

0,00

0,00

0,01

0,01

0,03

0,00

0,00

0,00

0,01

0,01

0,03

0,01

0,01

0,00

0,01

0,01

0,02

0,01
0,00
0,00
0,01
0,00

0,01
0,00
0,00
0,00
0,00

0,00
0,00
0,00
0,00
0,00

0,01
0,01
0,01
0,01
0,01

0,01
0,02
0,01
0,01
0,01

0,02
0,02
0,02
0,02
0,02

Tabel 4.8 Pemeriksaan Kebulatan Dengan Dial Indikator


4.1.9 Pemeriksaan Kelurusan Dengan Dial Indikator
Pengulang Penyimpangan pada daerah (dalam
an
mm)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

0,01

0,00

0,04

0,01

0,02

0,01

0,02

0,03

0,01

0,00

0,01

0,01

0,03

0,02

0,01

0,01

0,00

0,01

0,02

0,01

0,01

0,01

0,01

0,01

0,02

0,01
0,02
0,03
0,03
0,04

0,00
0,00
0,00
0,01
0,01

0,02
0,01
0,00
0,02
0,01

0,01
0,01
0,02
0,03
0,02

0,01
0,02
0,02
0,03
0,02

Tabel 4.9 Pemeriksaan Kelurusan Dengan Dial Indikator


4.2 Pengolahan Data
4.2.1
Pengukuran
Diameter
Poros
Bertingkat
Dengan
Mikrometer

31

Untuk Diameter Poros A :


Pengulang A
X
XX
Tabel an
8,35
0
1
8,35
0
2
8,35
0
3
8,35
0
4
8,35
0
5
8,35
0
6
8,35
0
7
8,35
0
8
8,35
0
9
8,35
0
10
X = 83,5

(X X)2
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
(X X)2 = 0

4.10

Diameter poros A
Setelah diperoleh nilai rata-rata perkolom, maka akan
didapatkan nilai-nilai yaitu :
Nilai rata-rata ( X )
X 83,5
X

8,35mm
n
10
Standart deviasi (Sd)
Sd

Standart Deviasi Rata-rata (SD)


SD

Sd
n

0
10

0mm

Kesalahan Relative (KR)


KR

( X X ) 2
0

0mm
n 1
10 1

SD
x100%
X
0
x100% 0%
8,35

Keseksamaan (K)
K
= 100 % - KR
= 100 % - 0 = 100 %
Hasil pengukuran (Hp)
Hp = X SD
= 8,35 0 mm
Hp1 = 8,35 + 0 = 8,35 mm
Hp2 = 8,35 0 = 8,35 mm
Untuk Diameter Poros B :
Pengulang B
X
XX
an
10,28
0
1
10,28
0
2

(X X)2
0
0

32

3
4
5
6
7
8
9
10

10,28
10,28
10,28
10,28
10,28
10,28
10,28
10,28
X = 102,8

0
0
0
0
0
0
0
0

0
0
0
0
0
0
0
0
(X X)2 = 0

Tabel 4.11 Diameter poros B


Setelah diperoleh nilai rata-rata perkolom, maka akan
didapatkan nilai-nilai yaitu :
Nilai rata-rata ( X )

X 102,8

10,28mm
n
10
Standart deviasi (Sd)
X

Sd

Standart Deviasi Rata-rata (SD)


SD

Sd
0

0mm
n
10

Kesalahan Relative (KR)


KR

( X X ) 2
0

0mm
n 1
10 1

SD
x100%
X

0
x100% 0%
10

Keseksamaan (K)
K
= 100 % - KR
= 100 % - 0 % = 100 %
Hasil pengukuran (Hp)
Hp = X SD
= 10,28 0 mm
Hp1 = 10,28 + 0 = 10,28mm
Hp2 = 10,28 0 = 10,28 mm

Untuk Diameter Poros C :


Pengulang C
X
XX
an
12,25
0
1
12,25
0
2
12,25
0
3
12,25
0
4

(X X)2
0
0
0
0

33

5
6
7
8
9
10

12,25
12,25
12,25
12,25
12,25
12,25
X = 122,5

0
0
0
0
0
0

0
0
0
0
0
0
(X X)2 = 0

Tabel 4.12 Diameter poros C


Setelah diperoleh nilai rata-rata perkolom, maka akan
didapatkan nilai-nilai yaitu :
Nilai rata-rata ( X )
X 122,5
X

12,25mm
n
10
Standart deviasi (Sd)
Sd

Standart Deviasi Rata-rata (SD)


SD

Sd
0

0mm
n
10

Kesalahan Relative (KR)


KR

( X X ) 2
0

0mm
n 1
10 1

SD
x100%
X
0
x100% 0%
12,25

Keseksamaan (K)
K
= 100 % - KR
= 100 % - 0 % = 100 %
Hasil pengukuran (Hp)
Hp = X SD
= 12,25 0 mm
Hp1 = 12,25 + 0 = 12,25 mm
Hp2 = 12,25 0 = 12,25 mm

Untuk Diameter Poros D :


Pengulang D
X
XX
an
17,23
0
1
17,23
0
2
17,23
0
3
17,23
0
4
17,23
0
5
17,23
0
6

(X X)2
0
0
0
0
0
0

34

7
8
9
10

17,23
17,23
17,23
17,23
X = 172,3

0
0
0
0

0
0
0
0
(X X)2 = 0

Tabel 4.12 Diameter poros C


Setelah diperoleh nilai rata-rata perkolom, maka akan
didapatkan nilai-nilai yaitu :
Nilai rata-rata ( X )
X 172,3
X

17,23mm
n
10
Standart deviasi (Sd)
Sd

Standart Deviasi Rata-rata (SD)


SD

Sd
0

0mm
n
10

Kesalahan Relative (KR)


KR

( X X ) 2
0

0mm
n 1
10 1

SD
x100%
X
0
x100% 0%
17,23

Keseksamaan (K)
K
= 100 % - KR
= 100 % - 0 = 100 %
Hasil pengukuran (Hp)
Hp = X SD
= 17,23 0 mm
Hp1 = 17,23 + 0 = 17,23 mm
Hp2 = 17,23 0, = 17,23 mm

4.2.2 Pengukuran Dengan Penyiku


Bagian
yang
diukur
1

Sudut
90o

> 90o

< 90o

Alasan

Tidak

Ya

Tidak

Ya

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Ya

Tidak

Tidak

Ya

Benda
kerja
cekung
Benda kerja tegak
lurus
Benda
kerja
cembung
Benda
kerja

35

Tidak

Tidak

Ya

Ya

Tidak

Tidak

Tidak

Ya

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Ya

Tidak

10

Ya

Tidak

Tidak

cembung
Benda
kerja
cembung
Benda kerja tegak
lurus
Benda
kerja
cekung
Benda
kerja
cekung
Benda
kerja
cekung
Benda kerja tegak
lurus

Tabel 4.2 Pengukuran sudut


4.2.3 Pengukuran Diameter Poros Dengan Jangka Sorong Manual
Untuk Diameter Poros A :
Pengulang A
X
XX
an
18,10
0,01
1
18,10
0,01
2
18,10
0,01
3
18,10
0,01
4
18,10
0,01
5
18,10
0,01
6
18,05
-0,04
7
18,10
0,01
8
18,10
0,01
9
18,10
0,01
10
X = 180,95

(X X)2
0,0001
0,0001
0,0001
0,0001
0,0001
0,0001
0,0016
0,0001
0,0001
0,0001
(X X)2
0,0025

Tabel 4.14 Diameter poros A


Setelah diperoleh nilai rata-rata perkolom, maka akan
didapatkan nilai-nilai yaitu :
Nilai rata-rata ( X )
X 180,95
X

18,09mm
n
10
Standart deviasi (Sd)
Sd

Sd
0,017

0,005mm
n
10

Kesalahan Relative (KR)


KR

0,0025
0,017 mm
10 1

Standart Deviasi Rata-rata (SD)


SD

( X X ) 2

n 1

SD
x100%
X

0,005
x100% 0,027%
18,09

Keseksamaan (K)
36

K
= 100 % - KR= 100 % - 0,027% = 99,973 %
Hasil pengukuran (Hp)
Hp = X SD
= 18,09 0,005 mm
Hp1 = 18,09+ 0,005 = 18,095 mm
Hp2 = 18,09 0,005 = 18,085 mm
Untuk Diameter Poros B :
Pengulang B
X
XX
an
12,05
0
1
12,05
0
2
12,05
0
3
12,05
0
4
12,05
0
5
12,05
0
6
12,05
0
7
12,05
0
8
12,05
0
9
12,05
0
10
X = 120,5

(X X)2
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
(X X)2 = 0

Tabel 4.15 Diameter poros B


Setelah diperoleh nilai rata-rata perkolom, maka akan
didapatkan nilai-nilai yaitu :

Nilai rata-rata ( X )
X 120,5
X

12,05mm
n
10
Standart deviasi (Sd)
Sd

Standart Deviasi Rata-rata (SD)


SD

Sd
0

0mm
n
10

Kesalahan Relative (KR)


KR

( X X ) 2
0

0mm
n 1
10 1

SD
x100%
X

0
x100% 0%
9,955

Keseksamaan (K)
K
= 100 % - KR
= 100 % - 0% = 100 %
Hasil pengukuran (Hp)
Hp = X SD
= 12,05 0 mm
Hp1 = 12,05 + 0 = 12,05 mm
Hp2 = 12,05 0 = 12,05 mm

37

Untuk Diameter Poros C :


Pengulang C
X
an
10,05
1
10,05
2
10,05
3
10,05
4
10,05
5
10,00
6
10,05
7
10,05
8
10,05
9
10,05
10

XX
0,005
0,005
0,005
0,005
0,005
-0,045
0,005
0,005
0,005
0,005

X = 100,45

(X X)2
0,000025
0,000025
0,000025
0,000025
0,000025
0,002025
0,000025
0,000025
0,000025
0,000025
(X X)2 =
0,00225

Tabel 4.16 Diameter poros C


Setelah diperoleh nilai rata-rata perkolom, maka akan
didapatkan nilai-nilai yaitu :

Nilai rata-rata ( X )
X 100,45
X

10,045mm
n
10
Standart deviasi (Sd)
Sd

Sd
0,0158

0,005mm
n
10

Kesalahan Relative (KR)


KR

0,00225
0,0158mm
10 1

Standart Deviasi Rata-rata (SD)


SD

( X X ) 2

n 1

0,005
SD
x100% 0,05%
x100%
10,045
X

Keseksamaan (K)
K
= 100 % - KR= 100 % - 0,05 % = 99,95 %
Hasil pengukuran (Hp)
Hp = X SD
= 10,045 0,005 mm
Hp1 = 10,045 + 0,005 = 10,05 mm
Hp2 = 10,045 0,005 = 10,04 mm

Untuk Diameter Poros D :


Pengulang D
X
XX
an
0
8,00
1
0
8,00
2

(X X)2
0
0

38

3
4
5
6
7
8
9
10

8,00
8,00
8,00
8,00
8,00
8,00
8,00
8,00
X = 80,0

0
0
0
0
0
0
0
0

0
0
0
0
0
0
0
0
(X X)2 = 0

Tabel 4.17 Diameter poros D


Setelah diperoleh nilai rata-rata perkolom, maka akan
didapatkan nilai-nilai yaitu :

Nilai rata-rata ( X )
X 80,0
X

8,00mm
n
10
Standart deviasi (Sd)
Sd

Standart Deviasi Rata-rata (SD)


SD

Sd
0

0mm
n
10

Kesalahan Relative (KR)


KR

( X X ) 2
0

0mm
n 1
10 1

SD
x100%
X

0
x100% 0%
8,00

Keseksamaan (K)
K
= 100 % - KR
= 100 % - 0% = 100 %
Hasil pengukuran (Hp)
Hp = X SD
= 8,00 0 mm
Hp1 = 8,00+ 0 = 8,00 mm
Hp2 = 8,00 0 = 8,00 mm

4.2.4
Pengukuran V Block dengan Jangka Sorong
Untuk tebal bagian A :
Pengulang A
X
XX
(X X)2
an
50
0
0
1
50
0
0
2
50
0
0
3
39

4
5
6
7
8
9
10

50
50
50
50
50
50
50
X = 500

0
0
0
0
0
0
0

0
0
0
0
0
0
0
(X X)2 = 0

Tabel 4.18 Diameter poros A


Setelah diperoleh nilai rata-rata perkolom, maka akan
didapatkan nilai-nilai yaitu :
Nilai rata-rata ( X )
X 500
X

50mm
n
10
Standart deviasi (Sd)
Sd

Standart Deviasi Rata-rata (SD)


SD

Sd
0

0mm
n
10

Kesalahan Relative (KR)


KR

( X X ) 2
0

0mm
n 1
10 1

0
SD
x100% x100% 0%
0
X

Keseksamaan (K)
K
= 100 % - KR
= 100 % - 0% = 100 %
Hasil pengukuran (Hp)
Hp = X SD
= 50 0 mm
Hp1 = 50 + 0 = 50 mm
Hp2 = 50 0 = 50 mm

Untuk tebal bagian B :


Pengulang B
X
an
46
1
46,02
2
46
3
46
4
46
5
46,02
6

XX
0
0,016
0
0
0
0,016

(X X)2
0
0,000256
0
0
0
0,000256

40

7
8
9
10

46
46
46
46
X = 460,04

0
0
0
0

0
0
0
0
(X X)2
0,000512

Tabel 4.18 Diameter poros B


Setelah diperoleh nilai rata-rata perkolom, maka akan
didapatkan nilai-nilai yaitu :
Nilai rata-rata ( X )
X 460,04
X

46,004mm
n
10
Standart deviasi (Sd)
Sd

Sd
n

0,000000000323
10

0,0000000000323mm

Kesalahan Relative (KR)


KR

0,000512
0,000000000323mm
10 1

Standart Deviasi Rata-rata (SD)


SD

( X X ) 2

n 1

0,0000000000323
SD
x100% 0,00000000702%
x100%
46,004
X

Keseksamaan (K)
K
= 100 % - KR
= 100 % - 0,00000000702% = 99,99999298 %
Hasil pengukuran (Hp)
Hp = X SD
= 46,004 0,000000000323mm
Hp1 = 46,004 + 0,000000000323 = 46,00400032mm
Hp2 = 46,004 0,000000000323 = 46,00399968mm

Untuk tebal bagian C :


Pengulang C
an
1
2
3
4
5
6
7
8

X
50
50
50
50
50
50
50
50

XX
0
0
0
0
0
0
0
0

(X X)2
0
0
0
0
0
0
0
0

41

9
10

50
50
X = 500

0
0

0
0
(X X)2 = 0

Tabel 4.18 Diameter poros C


Setelah diperoleh nilai rata-rata perkolom, maka akan
didapatkan nilai-nilai yaitu :
Nilai rata-rata ( X )
X 500
X

50mm
n
10
Standart deviasi (Sd)
Sd

Standart Deviasi Rata-rata (SD)


SD

Sd
0

0mm
n
10

Kesalahan Relative (KR)


KR

( X X ) 2
0

0mm
n 1
10 1

0
SD
x100% x100% 0%
0
X

Keseksamaan (K)
K
= 100 % - KR
= 100 % - 0% = 100 %
Hasil pengukuran (Hp)
Hp = X SD
= 50 0 mm
Hp1 = 50 + 0 = 50 mm
Hp2 = 50 0 = 50 mm

Untuk tebal bagian D :


Pengulang D
X
an
7,5
1
7,5
2
7,5
3
7,7
4
7,5
5
7,6
6
7,5
7
7,5
8
7,5
9
7,5
10
X = 75,3

XX
0
0
0
0,17
0
0,07
0
0
0
0

(X X)2
0
0
0
0,289
0
0,049
0
0
0
0
(X X)2

42

0,338

Tabel 4.18 Diameter poros D


Setelah diperoleh nilai rata-rata perkolom, maka akan
didapatkan nilai-nilai yaitu :
Nilai rata-rata ( X )
X 75,3
X

7,53mm
n
10
Standart deviasi (Sd)
Sd

Sd
n

0,194
10

0,613mm

Kesalahan Relatif (KR)


KR

0,338
0,194mm
10 1

Standart Deviasi Rata-rata (SD)


SD

( X X ) 2

n 1

0,0613
SD
x100% 0,814%
x100%
7,53
X

Keseksamaan (K)
K
= 100 % - KR
= 100 % - 0,814% = 99,186 %
Hasil pengukuran (Hp)
Hp = X SD
= 7,53 0,613 mm
Hp1 = 7,53 + 0,613 = 8,143mm
Hp2 = 7,53 0,613 = 6,92mm

Untuk tebal bagian E :


Pengulang E
X
an
46
1
46,02
2
46
3
46
4
46
5
46,02
6
46
7
46
8
46
9
46
10
X = 460,04

XX
0
0,016
0
0
0
0,016
0
0
0
0

(X X)2
0
0,000256
0
0
0
0,000256
0
0
0
0
(X X)2
0,000512

Tabel 4.18 Diameter poros E


43

Setelah diperoleh nilai rata-rata perkolom, maka akan


didapatkan nilai-nilai yaitu :
Nilai rata-rata ( X )
X 460,04
X

46,004mm
n
10
Standart deviasi (Sd)
Sd

Sd
0,000000000323

0,0000000000323mm
n
10

Kesalahan Relative (KR)


KR

0,000512
0,000000000323mm
10 1

Standart Deviasi Rata-rata (SD)


SD

( X X ) 2

n 1

0,0000000000323
SD
x100% 0,00000000702%
x100%
46,004
X

Keseksamaan (K)
K
= 100 % - KR
= 100 % - 0,00000000702% = 99,99999298 %
Hasil pengukuran (Hp)
Hp = X SD
= 46,004 0,000000000323mm
Hp1 = 46,004 + 0,000000000323 = 46,00400032mm
Hp2 = 46,004 0,000000000323 = 46,00399968mm

Untuk tebal bagian F :


Pengulang F
X
Tabel an
19,01
1
19
2
19
3
19
4
19,01
5
19
6
19
7
19
8
19,01
9
19
10

XX
0,007
-0,003
-0,003
-0,003
0,007
-0,003
-0,003
-0,003
0,007
-0,003

X = 190,03

(X X)2
0,000049
0,000009
0,000009
0,000009
0,000049
0,000009
0,000009
0,000009
0,000049
0,000009
(X X)2
0,000161

4.18

Diameter poros F

44

Setelah diperoleh nilai rata-rata perkolom, maka akan


didapatkan nilai-nilai yaitu :
Nilai rata-rata ( X )
X 190,03
X

19,003mm
n
10
Standart deviasi (Sd)
Sd

Sd
0,00422

0,00133mm
n
10

Kesalahan Relative (KR)


KR

0,000161
0,00422mm
10 1

Standart Deviasi Rata-rata (SD)


SD

( X X ) 2

n 1

0,00133
SD
x100% 0,0069%
x100%
19,003
X

Keseksamaan (K)
K
= 100 % - KR
= 100 % - 0,0069% = 99,9931 %
Hasil pengukuran (Hp)
Hp = X SD
= 19,003 0,00133
Hp1 = 19,003 + 0,00133 = 19,0163mm
Hp2 = 19,003 0,00133 = 18,9897mm

4.2.5
Pengukuran Lubang dengan Mikrometer Dalam
Lubang A :
Pengulang A
X
XX
(X X)2
an
10,21
- 0,053
0,002809
1
10,27
- 0,007
0,000049
2
10,25
- 0,013
0,000169
3
10,22
0,043
0,001849
4
10,26
0,003
0,000009
5
10,28
0,017
0,000289
6
10,36
0,097
0,009409
7
10,27
0,007
0,000049
8
10,26
0,003
0,000009
9
10,25
- 0,013
0,000169
10
X = 102,63

(X X)2 =
0,01481

45

Setelah diperoleh nilai rata-rata perkolom, maka akan


didapatkan nilai-nilai yaitu :
Nilai rata-rata ( X )
X 102,63
X

10,263mm
n
10
Standart deviasi (Sd)
Sd

Sd
0,0406

0,0128mm
n
10

Kesalahan Relative (KR)


KR

0,01481
0,0406mm
10 1

Standart Deviasi Rata-rata (SD)


SD

( X X ) 2

n 1

SD
x100%
X

0,0128
x100% 0,125%
10,263

Keseksamaan (K)
K
= 100 % - KR
= 100 % - 0,125 = 99,875 %
Hasil pengukuran (Hp)
Hp = X SD
= 10,263 0,0128 mm
Hp1 = 10,263 + 0,0128 = 10,2758 mm
Hp2 = 10,263 0,0128 = 10,2502 mm

Lubang B :
Pengulang B
X
an
10,19
1
10,16
2
10,21
3
10,22
4
10,21
5
10,20
6
10,21
7
10,22
8
10,21
9
10,20
10
X = 102,03

XX
-0,013
-0,043
0,007
0,017
0,007
-0,003
0,007
0,017
0,007
-0,003

(X X)2
0,000169
0,001849
0,000049
0,000289
0,000009
0,000009
0,000049
0,000289
0,000049
0,000009
(X X)2 =
0,00279

Setelah diperoleh nilai rata-rata perkolom, maka akan


didapatkan nilai-nilai yaitu :
Nilai rata-rata ( X )

46

X 102,3

10,23mm
n
10
Standart deviasi (Sd)
X

Sd

Sd
0,0176

0,00556mm
n
10

Kesalahan Relative (KR)


KR

0,00279
0,0176mm
10 1

Standart Deviasi Rata-rata (SD)


SD

( X X ) 2

n 1

SD
x100%
X

0,00556
x100% 0,545%
10,203

Keseksamaan (K)
K
= 100 % - KR
= 100 % - 0,545 = 99,455 %
Hasil pengukuran (Hp)
Hp = X SD
= 10,203 0,0176 mm
Hp1 = 10,203 + 0,0176 = 10,2206 mm
Hp2 = 10,203 0,0176 = 10,1854 mm

Lubang C :
Pengulang C
X
Tabel an
10,20
1
10,22
2
10,21
3
10,26
4
10,21
5
10,20
6
10,26
7
10,25
8
10,27
9
10,22
10

XX
-0,03
-0,01
0,02
0,03
0,02
-0,03
0,03
0,02
0,04
-0,01

X = 102,3

(X X)2
0,0009
0,0001
0,0004
0,0009
0,0004
0,0009
0,0009
0,0004
0,0016
0,0001
(X X)2 =
0,0066

4.10

Diameter poros C
Setelah diperoleh nilai rata-rata perkolom, maka akan
didapatkan nilai-nilai yaitu :
Nilai rata-rata ( X )
X 102,3
X

10,23mm
n
10
Standart deviasi (Sd)
47

Sd

Sd
0,0271

0,00857 mm
n
10

Kesalahan Relative (KR)


KR

0,0066
0,0271mm
10 1

Standart Deviasi Rata-rata (SD)


SD

( X X ) 2

n 1

SD
x100%
X

0,00857
x100% 0,0837%
10,23

Keseksamaan (K)
K
= 100 % - KR
= 100 % - 0,837 = 99,163 %
Hasil pengukuran (Hp)
Hp = X SD
= 10,23 0,00857 mm
Hp1 = 10,23 + 0,00857 = 10,23857 mm
Hp2 = 10,23 0,00857 = 10,22143 mm

Lubang D :
Pengulang D
X
an
10,24
1
10,25
2
10,21
3
10,22
4
10,21
5
10,20
6
10,25
7
10,21
8
10,22
9
10,20
10

XX
-0,019
-0,029
-0,011
-0,001
-0,011
-0,021
0,029
0,011
-0,001
-0,021

X = 102,21

(X X)2
0,000361
0,000841
0,000121
0,000001
0,000121
0,000441
0,000841
0,000121
0,000001
0,000441
(X X)2 =
0,00329

Setelah diperoleh nilai rata-rata perkolom, maka akan


didapatkan nilai-nilai yaitu :
Nilai rata-rata ( X )
X 102,21
X

10,221mm
n
10
Standart deviasi (Sd)
Sd

( X X ) 2

n 1

0,00329
0,0191mm
10 1

48

Standart Deviasi Rata-rata (SD)


SD

Kesalahan Relative (KR)


KR

Sd
0,0191

0,00604mm
n
10

SD
x100%
X

0,00604
x100% 0,059%
10,221

Keseksamaan (K)
K
= 100 % - KR
= 100 % - 0,59 = 99,41 %
Hasil pengukuran (Hp)
Hp = X SD
= 10,221 0,00604 mm
Hp1 = 10,221 + 0,00604 = 10,2704 mm
Hp2 = 10,221 0,00604 = 10,2149 mm

Lubang E :
Pengulang E
an
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

X
10,25
10,26
10,28
10,21
10,19
10,20
10,21
10,22
10,24
10,19
X = 102,25

XX
0,025
0,035
0,055
-0,015
-0,035
-0,025
-0,015
-0,005
0,015
-0,035

(X X)2
0,000625
0,001225
0,004225
0,000225
0,001225
0,000625
0,000225
0,000025
0,000225
0,001225
(X X)2 =
0,00785

Setelah diperoleh nilai rata-rata perkolom, maka akan


didapatkan nilai-nilai yaitu :
Nilai rata-rata ( X )
X 102,25
X

10,225mm
n
10
Standart deviasi (Sd)
Sd

( X X ) 2

n 1

0,00785
0,0295mm
10 1

Standart Deviasi Rata-rata (SD)

49

SD

Kesalahan Relative (KR)


KR

Sd
0,0295

0,00933mm
n
10

SD
x100%
X

0,00556
x100% 0,933%
10,203

Keseksamaan (K)
K
= 100 % - KR
= 100 % - 0,933 = 90,067 %
Hasil pengukuran (Hp)
Hp = X SD
= 10,225 0,0933 mm
Hp1 = 10,225 + 0,0933 = 10,3183 mm
Hp2 = 10,225 0,0933 = 10,1317 mm

Lubang F :
Pengulang F
an
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

X
10,24
10,22
10,33
10,21
10,20
10,22
10,19
10,26
10,22
10,25
X = 102,34

XX
0,006
0,014
0,096
0,024
-0,034
0,014
-0,044
0,026
0,014
0,016

(X X)2
0,000036
0,000196
0,009216
0,000576
0,001156
0,000196
0,001936
0,000676
0,000196
0,000256
(X X)2 =
0,01444

Setelah diperoleh nilai rata-rata perkolom, maka akan


didapatkan nilai-nilai yaitu :
Nilai rata-rata ( X )
X 102,34
X

10,234mm
n
10
Standart deviasi (Sd)
Sd

0,01444
0,040mm
10 1

Standart Deviasi Rata-rata (SD)


SD

( X X ) 2

n 1

Sd
0,040

0,0126mm
n
10

Kesalahan Relative (KR)


KR

SD
x100%
X

50

0,0126
x100% 0,123%
10,234

Keseksamaan (K)
K
= 100 % - KR
= 100 % - 0,123 = 99,9877 %
Hasil pengukuran (Hp)
Hp = X SD
= 10,234 0,0126 mm
Hp1 = 10,234 + 0,0126 = 10,2466 mm
Hp2 = 10,234 0,0126 = 10,2214 mm

Pengukuran Sudut Pahat Bubut


Sudut Potong
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

X
81 o
81 o
82 o
80 o
81 o
81 o
79 o
81 o
81 o
81 o
X =8080

XX
0,20
0,20
1,20
-0,80
0,20
0,20
-1,80
0,20
0,20
0,20

(X X)2
0,040
0,040
1,440
0,640
0,040
0,040
3,24
0,040
0,040
0,040
(X X)2 =5,60

Setelah diperoleh nilai rata-rata perkolom, maka akan


didapatkan nilai-nilai yaitu :
Nilai rata-rata ( X )
X 8080
= 80,80
X

n
10
Standart deviasi (Sd)
Sd

5,60
0
0,788
10 1

Standart Deviasi Rata-rata (SD)


SD

( X X ) 2

n 1

Sd
0,788

0,2490
n
10

Kesalahan Relative (KR)


SD
x100%
X
0,249

x100% 0,31%
80,8

KR

Keseksamaan (K)
51

= 100 % - KR
= 100 % - 0,31 = 99,69 %
Hasil pengukuran (Hp)
Hp = X SD
= 80,8 0,2490
Hp1 = 80,8 + 0,249 = 81,0490
Hp2 = 80,8 0,249 = 80,5510

Sudut Tatal
X
1020
1020
1020
1020
1020
1020
1020
1020
1020
1020
X =10200

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

XX
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

(X X)2
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
(X X)2 =00

Setelah diperoleh nilai rata-rata perkolom, maka akan


didapatkan nilai-nilai yaitu :
Nilai rata-rata ( X )
X 10200
= 1020
X

n
10
Standart deviasi (Sd)
Sd

00
0
0
10 1

Standart Deviasi Rata-rata (SD)


SD

( X X ) 2

n 1

Sd
0

00
n
10

Kesalahan Relative (KR)


SD
x100%
X
0
x100% 0%
0

KR

Keseksamaan (K)
K
= 100 % - KR
= 100 % - 0 = 100 %
Hasil pengukuran (Hp)
Hp = X SD
= 1020 0 = 1020
52

Sudut Bebas
X
1340
1340
1340
1340
1340
1340
1340
1340
1340
1340
X =13400

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

XX
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

(X X)2
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
(X X)2 =00

Setelah diperoleh nilai rata-rata perkolom, maka akan


didapatkan nilai-nilai yaitu :
Nilai rata-rata ( X )
X 13400
= 1340
X

n
10
Standart deviasi (Sd)
Sd

00
0
0
10 1

Standart Deviasi Rata-rata (SD)


SD

( X X ) 2

n 1

Sd
0

00
n
10

Kesalahan Relative (KR)


SD
x100%
X
0
x100% 0%
0

KR

Keseksamaan (K)
K
= 100 % - KR
= 100 % - 0 = 100 %
Hasil pengukuran (Hp)
Hp = X SD
= 1340 0 = 1340
= 1340 + 0 = 1340
= 1340 - 0 = 1340

53

Pengukuran Kebulatan dengan dial indicator


Kebulatan A
X
0,01
0,00
0,00
0,00
0,01
0,01
0,00
0,00
0,01
0,00
X =0,04

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

XX
0,006
-0,004
-0,004
-0,004
0,006
0,006
-0,004
-0,004
0,006
-0,004

(X X)2
0,000036
0,000016
0,000016
0,000016
0,000036
0,000036
0,000016
0,000016
0,000036
0,000016
(X X)2 =
0,00024

Setelah diperoleh nilai rata-rata perkolom, maka akan


didapatkan nilai-nilai yaitu :
Nilai rata-rata ( X )
X 0,04
X

0,004mm
n
10
Standart deviasi (Sd)
Sd

Sd
n

0,00516
10

0,00163mm

Kesalahan Relative (KR)


KR

0,0024
0,00516mm
10 1

Standart Deviasi Rata-rata (SD)


SD

( X X ) 2

n 1

SD
x100%
X

0,00163
x100% 4,075%
0,004

Keseksamaan (K)
K
= 100 % - KR
= 100 % - 4,075 = 95,925 %
Hasil pengukuran (Hp)
Hp = X SD
= 0,004 0,00163 mm
Hp1 = 0,004 + 0,00163 = 0,0563 mm
Hp2 = 0,004 - 0,00163 = 0,00237mm

Kebulatan B
54

X
0,00
0,00
0,00
0,00
0,01
0,01
0,00
0,00
0,00
0,00
X =0,02

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

XX
-0,002
-0,002
-0,002
-0,002
0,008
0,008
-0,002
-0,002
-0,002
-0,002

(X X)2
0,000004
0,000004
0,000004
0,000004
0,000064
0,000064
0,000004
0,000004
0,000004
0,000004
(X X)2 =
0,00016

Setelah diperoleh nilai rata-rata perkolom, maka akan


didapatkan nilai-nilai yaitu :
Nilai rata-rata ( X )
X 0,02
X

0,002mm
n
10
Standart deviasi (Sd)
Sd

Sd
n

0,00421
10

0,00133mm

Kesalahan Relative (KR)


KR

0,00016
0,00421mm
10 1

Standart Deviasi Rata-rata (SD)


SD

( X X ) 2

n 1

SD
x100%
X

0,00133
x100% 6,65%
0,002

Keseksamaan (K)
K
= 100 % - KR
= 100 % - 6,65 = 93,35 %
Hasil pengukuran (Hp)
Hp = X SD
= 0,004 0,00163 mm
Hp1 = 0,004 + 0,00163 = 0,0563 mm
Hp2 = 0,004 - 0,00163 = 0,00237mm

Kebulatan C

55

X
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
X =0,00

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

XX

(X X)2

(X X)2 =
0,00016

Setelah diperoleh nilai rata-rata perkolom, maka akan


didapatkan nilai-nilai yaitu :
Nilai rata-rata ( X )
X 0,00
X

0,0mm
n
10
Standart deviasi (Sd)
Sd

Standart Deviasi Rata-rata (SD)


SD

Sd
n

0,00
10

0,00mm

Kesalahan Relative (KR)


KR

( X X ) 2
0,00

0,00mm
n 1
10 1

SD
x100%
X
0,00
x100% 0%
0,00

Keseksamaan (K)
K
= 100 % - KR
= 100 % - 0 = 100 %
Hasil pengukuran (Hp)
Hp = X SD
= 0,00

Kebulatan D

56

X
0,01
0,01
0,01
0,01
0,01
0,01
0,01
0,01
0,01
0,01
X =0,01

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

XX
0,009
0,009
0,009
0,009
0,009
0,009
0,009
0,009
0,009
0,009

(X X)2
0,000081
0,000081
0,000081
0,000081
0,000081
0,000081
0,000081
0,000081
0,000081
0,000081
(X X)2 =
0,00081

Setelah diperoleh nilai rata-rata perkolom, maka akan


didapatkan nilai-nilai yaitu :
Nilai rata-rata ( X )
X 0,1
X

0,001mm
n
10
Standart deviasi (Sd)
Sd

Sd
n

0,00948
10

0,00299mm

Kesalahan Relative (KR)


KR

0,00081
0,00948mm
10 1

Standart Deviasi Rata-rata (SD)


SD

( X X ) 2

n 1

SD
x100%
X
0,00299
x100% 2,99%
0,001

Keseksamaan (K)
K
= 100 % - KR
= 100 % - 2,9 = 97,1 %
Hasil pengukuran (Hp)
Hp = X SD
= 0,001 0,00299mm
= 0,001 + 0,00299 = 0,00399
= 0,001 - 0,00299 = -0,00199

Kebulatan E

57

X
0,01
0,01
0,01
0,01
0,01
0,01
0,02
0,01
0,01
0,01
X =0,11

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

XX
0,089
0,089
0,089
0,089
0,089
0,089
0,089
0,089
0,089
0,089

(X X)2
0,007921
0,007921
0,007921
0,007921
0,007921
0,007921
0,007921
0,007921
0,007921
0,007921
(X X)2 =
0,07921

Setelah diperoleh nilai rata-rata perkolom, maka akan


didapatkan nilai-nilai yaitu :
Nilai rata-rata ( X )
X 0,11
X

0,011mm
n
10
Standart deviasi (Sd)
Sd

Sd
n

0,0938
10

0,0297 mm

Kesalahan Relative (KR)


KR

0,07921
0,0938mm
10 1

Standart Deviasi Rata-rata (SD)


SD

( X X ) 2

n 1

SD
x100%
X
0,0297
x100% 2,97%
0,0011

Keseksamaan (K)
K
= 100 % - KR
= 100 % - 2,97 = 97,03 %
Hasil pengukuran (Hp)
Hp = X SD
= 0,11 0,0297
= 0,11 + 0,0297 =0,01397mm
= 0,11 0,0297 = 0,0803mm

Kebulatan F

58

X
0,04
0,04
0,03
0,03
0,02
0,02
0,02
0,02
0,02
0,02
X =0,26

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

XX
0,374
0,374
0,004
0,004
-0,006
-0,006
-0,006
-0,006
-0,006
-0,006

(X X)2
0,139876
0,139876
0,000016
0,000016
0,000036
0,000036
0,000036
0,000036
0,000036
0,000036
(X X)2 = 0,28

Setelah diperoleh nilai rata-rata perkolom, maka akan


didapatkan nilai-nilai yaitu :
Nilai rata-rata ( X )
X 0,26
X

0,026mm
n
10
Standart deviasi (Sd)
Sd

Standart Deviasi Rata-rata (SD)


SD

Sd
n

0,0176
10

0,00556mm

Kesalahan Relative (KR)


KR

( X X ) 2
0,28

0,0176mm
n 1
10 1

SD
x100%
X
0,00556
x100% 2,153%
0,026

Keseksamaan (K)
K
= 100 % - KR
= 100 % - 2,153 = 97,847 %
Hasil pengukuran (Hp)
Hp = X SD
= 0,026 0,00556
= 0,026 + 0,0556 = 0,0756mm
= 0,026 0,0556 = -0,0296mm

4.2.8 Pemeriksaan Kerataan Dengan Dial Indikator


Kerataan A

59

X
0,01
0,01
0,01
0,01
0,01
0,01
0,02
0,03
0,03
0,04
X =0,18

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

XX
-0,008
-0,008
-0,008
-0,008
-0,008
-0,008
0,002
0,012
0,012
0,022

(X X)2
0,000064
0,000064
0,000064
0,000064
0,000064
0,000064
0,000004
0,000144
0,000144
0,000484
(X X)2
=0,00116

Setelah diperoleh nilai rata-rata perkolom, maka akan


didapatkan nilai-nilai yaitu :
Nilai rata-rata ( X )
X 0,18
X

0,018mm
n
10
Standart deviasi (Sd)
Sd

Sd
0,0114

0,060mm
n
10

Kesalahan Relative (KR)


KR

0,00116
0,0114 mm
10 1

Standart Deviasi Rata-rata (SD)


SD

( X X ) 2

n 1

SD
x100%
X

0,060
x100% 0,333%
0,018

Keseksamaan (K)
K
= 100 % - KR
= 100 % - 0,333 = 99,667 %
Hasil pengukuran (Hp)
Hp = X SD
= 0,018 0,060 mm
Hp1 = 0,018 + 0,060 = 0,078 mm
Hp2 = 0,018 0,006 = -0,042 mm

Kerataan B

60

X
0,00
0,02
0,01
0,00
0,01
0,00
0,00
0,00
0,01
0,01
X =0,06

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

XX
-0,006
0,014
0,004
-0,006
0,004
-0,006
-0,006
-0,006
0,004
0,004

(X X)2
0,000036
0,000196
0,000016
0,000036
0,000016
0,000036
0,000036
0,000036
0,000016
0,000016
(X X)2
=0,00044

Setelah diperoleh nilai rata-rata perkolom, maka akan


didapatkan nilai-nilai yaitu :
Nilai rata-rata ( X )
X 0,06
X

0,006mm
n
10
Standart deviasi (Sd)
Sd

Sd
0,00699

1,165mm
n
10

Kesalahan Relative (KR)


KR

0,00044
0,00699mm
10 1

Standart Deviasi Rata-rata (SD)


SD

( X X ) 2

n 1

SD
x100%
X

0,006
x100% 0,515%
1,165

Keseksamaan (K)
K
= 100 % - KR
= 100 % - 0,515 = 99,485 %
Hasil pengukuran (Hp)
Hp = X SD
= 0,006 1,165 mm
Hp1 = 0,006 + 1,165 = 1,171 mm
Hp2 = 0,006 - 1,165 = -1,159 mm

Kerataan C

61

X
0,04
0,03
0,03
0,01
0,01
0,02
0,01
0,00
0,02
0,01
X =0,18

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

XX
0,022
0,012
0,012
-0,008
-0,008
0,002
-0,008
-0,018
0,002
-0,008

(X X)2
0,000484
0,000144
0,000144
0,000064
0,000064
0,000004
0,000064
0,000324
0,000004
0,000064
(X X)2
=0,00136

Setelah diperoleh nilai rata-rata perkolom, maka akan


didapatkan nilai-nilai yaitu :
Nilai rata-rata ( X )
X 0,18
X

0,018mm
n
10
Standart deviasi (Sd)
Sd

Sd
0,0123

0,00389 mm
n
10

Kesalahan Relative (KR)


KR

0,00136
0,0123mm
10 1

Standart Deviasi Rata-rata (SD)


SD

( X X ) 2

n 1

SD
x100%
X

0,00389
x100% 21,61%
0,018

Keseksamaan (K)
K
= 100 % - KR
= 100 % - 21,61 = 78,39 %
Hasil pengukuran (Hp)
Hp = X SD
= 0,018 0,00389 mm
Hp1 = 0,018 + 0,00389 = 0,02189 mm
Hp2 = 0,018 0,00389 = 0,01411 mm
Kerataan D
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

X
0,01
0,01
0,02
0,02
0,01
0,01
0,01
0,02
0,03
0,02
X =0,16

XX
-0,006
-0,006
0,004
0,004
-0,006
-0,006
-0,006
0,004
0,014
0,004

(X X)2
0,000036
0,000036
0,000016
0,000016
0,000036
0,000036
0,000036
0,000016
0,000196
0,000064
(X X)2
=0,000488

62

Setelah diperoleh nilai rata-rata perkolom, maka akan


didapatkan nilai-nilai yaitu :
Nilai rata-rata ( X )
X 0,16
X

0,016mm
n
10
Standart deviasi (Sd)
Sd

Sd
0,0154

0,00487 mm
n
10

Kesalahan Relative (KR) V


KR

0,000488
0,0154mm
10 1

Standart Deviasi Rata-rata (SD)


SD

( X X ) 2

n 1

SD
x100%
X

0,00487
x100% 30,43%
0,016

Keseksamaan (K)
K
= 100 % - KR
= 100 % - 30,43 = 69,57 %
Hasil pengukuran (Hp)
Hp = X SD
= 0,016 0,00487 mm
Hp1 = 0,016 + 0,00487 = 0,0647 mm
Hp2 = 0,016 0,00487 = 0,01113 mm

Kerataan E
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

X
0,02
0,00
0,01
0,01
0,02
0,01
0,02
0,02
0,03
0,02
X =0,16

XX
0,004
-0,016
-0,006
-0,006
0,004
-0,006
0,004
0,004
0,014
0,004

(X X)2
0,000016
0,000256
0,000036
0,000036
0,000016
0,000036
0,000016
0,000016
0,000196
0,000016
(X X)2
=0,000624

Setelah diperoleh nilai rata-rata perkolom, maka akan


didapatkan nilai-nilai yaitu :
Nilai rata-rata ( X )
63

X 0,16

0,016mm
n
10
Standart deviasi (Sd)
X

Sd

0,000624
0,00833mm
10 1

Standart Deviasi Rata-rata (SD)


SD

( X X ) 2

n 1

Sd
0,00833

0,00263mm
n
10

Kesalahan Relative (KR) V


SD
x100%
X
0,00263

x100% 16,3475%
0,016

KR

Keseksamaan (K)
K
= 100 % - KR
= 100 % - 16,3475 = 83,6525 %
Hasil pengukuran (Hp)
Hp = X SD
= 0,0016 0,00833 mm
Hp1 = 0,016 + 0,00833 = 0,02433 mm
Hp2 = 0,016 0,00833 = 0,00767 mm

BAB V
PENUTUP
5.1

Kesimpulan
Setiap

proses

pengukuran

akan

menghasilkan

data

pengukuran data pengukuran, yaitu : kesimpulan harga hasil


pengukuran.

Berdasarkan

disimpulkan

sehingga

data

hasil

tersebut

pengukuran

seharusnya
dapat

dapat

disimpulkan

sehingga hasil pengukuran menjadi lebih berarti, yaitu mengalami


variasi, yang berarti bahwa hasilnya juga mungkin lain jika proses
pengukuran diulangi. Sesungguhnya menghitung harga rata-rata
adalah merupakan usaha untuk mencari harga yang dapat
dianggap sebagai wakil dari beberapa harga yang bervariasi. Akan
tetapi

dalam

beberapa

hal

harga

rata-rata

saja

bukanlah

64

merupakan suatu informasi yang lengkap, karena variasi atau


perbadaan diantara harga-harga tersebut tidak diterangkan.
Setelah

didapat

hasil

dari

pengolahan

data

maka

dapat

disimpulkan hasil pengukuran dari berbagai macam alat ukur.


5.2

Saran
Sangat

penting

bagi

setiap

mahasiswa

untuk

memperhatikan arahan dari dosen pembimbing serta mengikuti


langkah langkah perkerjaan pada job sheet yang telah disiapkan
dan di pelajari sebelumnya. Konsentrasi dan kesungguhan adalah
hal yang harus selalu di perhatikan oleh setiap peserta praktek.
Setiap mahasiswa harus selalu mengutamakan keselamatan kerja
sebagai point penting dalam pekerjaan teknik.Sebaiknya alat
pengukuran lebih di perhatikan dalam hal keakuratannya/di
kalibrasi agar hasil praktek yang dihasilkan benar benar sesuai
dengan standard bahan yang digunakan.
Akhir kata, penulis mohon maaf atas segala kekurangan
dan kesalahan dalam penulisan laporan ini. Masukan berharga
sangat penulis harapkan demi kesempurnaan penulisan laporan
pengukuran bahan ini di masa mendatang.Semoga laporan ini
bermanfaat bagi kita semua. Amiiin.

DAFTAR PUSTAKA
-

Diklat Metrologi Industri POLITEKNIK NEGERI BANJARMASIN.

Job shet POLITEKNIK NEGERI BANJARMASIN

Rohyana, solih Drs, 1999. Pekerjaan Permesinan Tingkat II.


Bandung ; Armico.

65

66