Anda di halaman 1dari 2

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hasan tahun 2012 menunjukkan bahwa a

da hubungan
yang bermakna antara riwayat ASSI ekslusif, Pencahayaan, jenis dinding, kelembab
an, dan suhu
denga kejadian ISPA pada balita. Dimana variabel yang paling dominan menyebabkan
ISPA adalah
kelembaban.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Fitrah tahun 2007 yang menyelidiki fa
ktor-faktor
berisiko terhadap terjadinya ISPA pada balita di daerah Kejadian Luar Biasa (KLB
) ISPA di
pulau Jawa menunjukkan bahwa balita dengan jenis kelamin perempuan, balita yang
mendapat
imunisasi DPT maupun campak, balita yang tinggal di kota, balita yang memiliki s
tatus ekonomi
menengah dan menengah ke bawah, dan umur balita yang masih muda lebih cenderung
untuk menderita ISPA.
Fitrah, Rani Aulia. 2007. Analisis Faktor Resiko Kejadian Infeksi Saluran Pernap
asan Akut (ISPA)
Pada Balita di Daerah Kejadian Luar Biasa (KLB) di Pulau Jawa 2007. Jakarta : Un
iversitas Indonesia
Hasan, Nani Rusdawati. 2012. Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian ISPA
Pada Balita di Wilayah Kerja UPTD Kesehatan
Luwuk Timur, Kabupaten Banggal, Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2012. Jakrta : Un
iversitas Indonesia

Penyakit infeksi saluran pernafasan akut atau ISPA , bersama -sama dengan
malnutrisi dan diare merupakan penyebab kesakitan dan kematian
utama pada anak Balita di negara berkembang (Sharma et al., 1998).
Sharma, Sangeeta., Gulshan Rai Sethi., ashish Rohtagi., Anil
Chaudhary., Ravi Shankar., Jawahar Sigh Bapna., Veena
Joshi., Debarati ghua Sapir. (1998). Indoor Air Quality and
Acute Lower Respiratory Infection in Indian. Environmental
Health Perspective Journal: Vol 106 p 291 -297.
http://ehp.niehs.nih.gov/docs/1998/106p291 297sharma/abstract.html
World Health Organization (WHO) memperkirakan angka kematian
balita di negara berkembang adalah di atas 40 per 1000 kelahiran hidup di
mana jumlah insiden Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada balita
adalah sekitar 15%-20% dari jumlah kematian balita pertahun. Menurut WHO
sekitar 13 juta anak balita di dunia meninggal setiap tahun dan sebagian
besar kematian tersebut terdapat di negara berkembang, di mana ISPA
merupakan salah satu penyebab utama kematian yang menewaskan sekitar
4 juta anak balita setiap tahun (Depkes RI, 2006).
ISPA, khususnya pneumonia masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di
Indonesia terutama pada balita. Menurut hasil Riskesdas 2007, pneumonia merupaka
n
penyebab kematian nomor dua pada balita (13,2%) setelah diare (17,2%)

Pneumonia merupakan penyebab utama kematian balita di dunia, terutama di negara


berkembang, di mana 1 orang balita meninggal tiap 20 detik atau 3 orang per meni
t
(Unicef, 2006). Riskesdas 2007 menunjukkan bahwa proporsi kematian pada bayi (po
st
neonatal) karena pneumonia sebesar 12,7% dan pada anak balita sebesar 13,2%.