Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH METABOLISME ZAT GIZI

(METABOLISME MINERAL MAKRO)

OLEH:
KELOMPOK V

ANGGOTA:
NURUH HUDATI
SEFRILA DEVY
YAYIN AMALIA

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES) BINAWAN


JAKARTA

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Mineral adalah elemen inorganic. Sekitar 4% dari total massa tubuh adalah mineral dan
konsentrasi terbanyak terdapat pada tulang rangka. Mineral diperlukan untuk membangun tubuh
dan mengatur aktivitas jaringan. Secara umum fungsi mineral bagi tubuh adalah
mempertahankan keseimbangan asam basa dalam tubuh, membantu beberapa proses biologis
tubuh, komponen senyawa tubuh yang penting, memelihara keseimbangan air dalam tubuh,
transmisi impuls saraf, mengatur kontraktilitas otot dan pertumbuhan jaringan.
Tubuh mempunyai beberapa cara untuk mengontrol kadar mineral, yaitu dengan cara
mengatur jumlah mineral yang diserap dalam saluran pencernaan dan mengatur jumlah mineral
yang ditahan oleh tubuh (Niman, 2013).
Ketersediaan biologik mineral walaupun bahan makanan mengandung berbagai mineral
untuk keperluan tubuh, namun tidak semua dapat dimanfaatkan. Hal ini bergantung pada
ketersediaan biologiknya adalah tingkatan jumlah zat gizi yang dimakan yang dapat diabsorpsi
oleh tubuh. Sebagian zat gizi mungkin tidak mudah dilepaskan saat makanan dicerna atau tidak
diabsorpsi dengan baik.
Mineral digolongkan ke dalam mineral makro dan mineral mikro. Mineral makro adalah
mineral yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah lebih dari 100 mg sehari, sedangkan mineral mikro
dibutuhkan kurang dari 100 mg sehari. Yang termaksuk mineral makro adalah Natrium (Na),
Kalsium (Ca), Klorida (Cl), Magnesium (Mg), Kalium (K), Sulfur (S) dan Fosfor (P). Fungsi
dari mineral makro adalah sebagai bagian dari zat yang aktif dalam metabolisme atau sebagai
bagian penting dari struktur sel dan jaringan. Ada pula yang memegang fungsinya didalam cairan
tubuh, baik intraseluser maupun ekstraseluler. K, Na, S, dan Cl terutama berfungsi dalam
keseimbangan cairan dan elektrolit, sedangkan Ca, Mg, dan P terutama terdapat sebagai bagian
penting dari stuktur sel dan jaringan.
1.2 Tujuan
1. Mengetahui pengaturan metabolisme kalsium fosfat
2. Mengetahui pengaturan keseimbangan natrium, klorida dan kalium

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengaturan Metabolisme Kalsium Fosfat
Pengertian Kalsium
Kalsum merupakan mineral yang paling banyak dalam tubuh yang berada dalam jaringan
keras yaitu tulang dan gigi. Di dalam cairan ekstraseluler dan intraseluler, kalsium berperan
penting dalam mengatur fungsi sel, seperti untuk transmisi saraf, kontraksi otot, penggumpalan
darah dan menjaga permebialitas membrane sel. Kalsium mengatur kerja hormon dan faktor
pertumbuhan.
Sumber kalsium terutama pada susu dan hasilnya, seperti keju. Ikan dimakan dengan tulang,
termasuk ikan kering merupakan sumber kalsium yang baik,udang, kerang, kepiting, kacangkacangan dan hasil olahanannya, daun singkong,daun lamtoro.
Fungsi Kalsium
Fungsi dari kalsium adalah untuk pembentukan tulang dan gigi, kalsium dalam tulang
berguna sebagai bagian integral dari struktur tulang dan sebagai tempat menyimpan kalsium,
mengatur pembekuan darah, katalisator reaksi biologik, seperti absorpsi vitamin B12, tindakan
enzim pemecah lemak, lipase pancreas, eksresi insulin oleh pankreas, pembentukan dan
pemecahan asetilkolin, relaksasi dan kontraksi otot dengan interaksi protein yaitu aktin dan
myosin, berperan dalam fungsi saraf, tekanan darah dan fungsi kekebalan, meningkatkan fungsi
transport membran sel, stabilisator membrane, dan transmisi ion melalui membran organel sel.
Absorpsi dan Eksresi Kalsium
Absorpsi dan Eksresi Kalsium Sebanyak 30-50 % kalsium yang dikonsumsi diabsorpsi
tubuh yang terjadi di bagian atas usus halus yaitu duodenum. Kalsium membutuhkan pH 6 agar
dapat berada dalam kondisi terlarut. Absorpsi kalsium terutama dilakukan secara aktif dengan
menggunakan alat angkut protein, pengikat kalsium. Absorpsi pasif terjadi pada permukaan
saluran cerna. Kalsium hanya bisa diabsorpsi bila terdapat dalam bentuk larut air dan tidak
mengendap karena unsur makanan lain. Kalsium yang tidak diabsorpsi dikeluarkan melalui

feses. Kehilangan kalsium dapat terjadi melalui urin, sekresi cairan yang masuk saluran cerna
serta keringat.

Gambar 1. Sintesis Vitamin D aktif


Kalsium diabsorpsi dari usus melalui pengangkutan aktif. Vitamin D dalam bentuk 1,25(OH)2D dibutuhkan untuk pengangkutan aktif kalsium tersebut. Protein pengikat kalsium
tersebut yang diinduksi oleh vitamin D, demikian juga ATPase yang diaktifkan oleh kalsium,
mungkin terlibat dalam modulasi vitamin D terhadap absorpsi kalsium. Pengakutan aktif kalsium
diatur dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan kalsium tubuh dan paling aktif pada saat ada
pembatasan terhadap jumlah kalsium didalam makanan atau pada saat kebutuhan kalsium
meningkat, misalnya pada periode pertumbuhan, kehamilan dan laktasi. Walaupun kalsium dapat
juga diserap secara difusi ion pasif, suatu proses yang mungkin bergantung pada vitamin D,
komponen aktif untuk absorbsi kalsium barangkali lebih menonjol pada tingkat fisiologis
kalsium didalam usus. Duodenum merupakan bagian dari usus yang menunjukan kemampuan
terbesar untuk mengangkut kalsium persatuan panjang. Namun demikian, absorbsi kalsium in
Vivo juga bergantung pada panjangnya segmen usus, lamanya makanan berada pada segmen
tersebut, dan konsentrasi kalsium. Beberapa penelitian dengan berbagai jenis hewan menunjukan
absorpsi kalsium terbesar berlangsung di ileum, kemudian jejunum dan duodenum.

Jalur Metabolisme Kalsium Dalam Tubuh


Untuk bisa diserap oleh tubuh, kalsium harus berbentuk cair. Namun, jika mengkonsumsi
kalsium dalam bentuk padat. Adanya asam pada lambung akan mengubah bentuk kalsium padat
menjadi cair. Setelah itu, barulah perjalanan kalsium di tubuh dimulai.
Dari lambung, kalsium akan diserap oleh usus. Setelah itu, apabila kalsium tersedia di
dalam jumlah yang banyak, kalsium akan langsung diedarkan ke pembuluh darah melalui proses
difusi. Namun, apabila jumlah kalsium yang tersedia hanya sedikit maka metabolisme kalsium
akan dilakukan melalui proses transport aktif. Di dalam proses transport aktif,kalsium harus
dibantu oleh vitamin D. Itulah mengapa kita memerlukan vitamin D untuk kesehatan tulang.
Melalui aliran cairan tubuh termasuk aliran darah, kalsium akan dibawa untuk disimpan di
tulang. Tetapi, perjalanan ini belum berakhir karena kalsium masih dapat terlepas lagi dari
tulang. Proses ini sebenarnya terjadi secara alami, namun proses ini juga perlu diantisipasi agar
kalsium yang tersusun harus seimbang dengan kalsium yang terlepas dari tulang. Mengapa?
Karena bila yang tersusun lebih sedikit dari yang terlepas, maka tulang akan dapat mengalami
kerapuhan, mudah patah, dan tingkat yang lebih parah lagi yakni osteoporosis.
Proses penyusunan dan pelepasan kalsium dari tulang ternyata tidak berlangsung
sesederhana seperti yang kita bayangkan. Ada dua macam hormon pengatur kadar kalsium dalam
darah, yaitu hormon PTH (Parathyroid Hormone) dan Calcitonin.
Apabila tingkat kadar kalsium dalam darah terlalu rendah, hormon PTH akan dilepaskan.
Hormon PTH ini akan memicu pelepasan kalsium dari tulang ke aliran darah. Sebaliknya,
apabila tingkat kadar kalsium dalam darah terlalu tinggi, kerja hormon PTH akan dihentikan dan
digantikan dengan calcitonin. Hormon calcitonin bekerja berlawanan dengan PTH, yakni
menghambat terjadinya pelepasan kalsium dari tulang ke darah. Kadar kalsium di dalam darah
itu penting karena kalsium juga memiliki peranan penting dalam pengaturan tekanan darah
dengan cara membantu kontraksi otot-otot pada dinding pembuluh darah serta memberi sinyal
untuk

pelepasan

hormon-hormon

yang

berperan

dalam

pengaturan

tekanan

darah.

Kondisi fisiologi mempengaruhi seiring dengan proses penuaan, tingkat penyerapan kalsium
pada tubuh manusia akan menurun. Hal ini disebabkan karena produksi asam lambung untuk
melarutkan kalsium ikut berkurang. Padahal, asam lambung ini sangat berperan untuk
melarutkan kalsium agar bisa diserap. Pada wanita, peredaran kalsium dapat terjadi lebih ekstrim

pada saat kehamilan dan menyusui. Bayi manusia yang baru lahir mengandung 25 gr kalsium,
dan selama 6 bulan masa menyusui sebanyak 50 gram kalsium disalurkan dari sang Ibu ke bayi.
Selain itu, wanita yang mencapai masa menopause cenderung mengalami pengurangan
penyerapan kalsium sebanyak 20-25%, yang tak lain disebabkan pengurangan hormon estrogen
pada tubuh mereka secara alami. Hormon khusus pada kaum wanita ini secara langsung
menstimulasi penyerapan kalsium oleh usus dan pencernaan.
Pengendalian Kalsium dalam Darah
Kalsium di dalam serum berada dalam tiga bentuk, yaitu bentuk ion bebas (50%), bentuk
anion-kompleks terikat dengan fosfat, bikarbonat atau sitrat (5%), dan dalam bentuk terikat
dengan protein terutama dengan albumin atau globulin (45%). Jumlah kalsium di dalam serum
agar berada pada konsentrasi 9-10,4 mg/dl. Yang mengatur konsentrasi kalsium dalam cairan
tubuh ini adalah hormon-hormon paratiroid/PTH dan tirokalsitonin dan kelenjar tiroid serta
vitamin D.
Hormon paratiroid dan vitamin d meningkatkan kalsium darah dengan cara sebagai berikut :
a) Vitamin D merangsang absorpsi kalsium oleh saluran cerna
b) Vitaimin D dan hormon paratroid merangsang pelepasan kalsium dari tulang ke dalam darah
c) Vitamin D dan hormon paratroid menunjang reabsorpsi kalsium di dalam ginjal
Pengaruh kalsitonin diduga terjadi dengan cara merangsang pengendapan kalsium pada
tulang. Hal ini terutama terjadi dalam keadaan stres, seperti pada masa pertumbuhan dan
kehamilan. Dalam hal ini kalsitonin menurunkan kalsium darah. bila darah kalsium terlalu tinggi,
kelenjar tiroid mengeluarkan kalsitonin. Sebaliknya, bila darah kalsium terlalu rendah, kelenjar
paratroid mengeluarkan hormon paratroid. Sistem pengendalian kalsium ini akan menjaga
kalsium darah dalam keadaan normal. Bila terjadi kegagalan dalam sistem pengendalian, kalsium
darah akan berubah. Bila kalsium darah lebih tinggi dari normal akan terjadi kekakuan otot.
Sebaliknya, bila kalsium darah lebih rendah dari normal, akan terjadi kejang otot.kegagalan
sistem kendali ini tidak disebabkan kekurangan atau kelebihan kalsium dari makanan, akan tetapi
oleh kekurangan vitamin D atau gangguan sekresi hormon-hormon yang berperan.

Kalsium dalam Tulang


Kalsium tulang tersebar di antara pool (cadangan) yang relatif tidak berubah/stabil dan
tidak dapat digunakan untuk pengaturan jangka pendek keseimbangan kalsium, dan pool yang
cepat dapat berubah yang terlibat dalam kegiatan metabolisme kalsium ( 1% kalsium tulang).
Komponen yang berubah ini dapat dianggap sebagai cadangan yang menumpuk bila makanan
mengandung cukup kalsium. Cadangan kalsium ini terutama disimpan pada bagian ujung tulang
panjang dalam bentuk kristal yang dinamakan trabekula dan dapat dimobilisasi untuk memenuhi
kebutuhan yang meningkat pada masa pertumbuhan, kehamilan, dan menyusui. Kekurangan
konsumsi kalsium untuk jangka panjang menyebabkan struktur tulang yang tidak sempurna.
Tulang senantiasa berada dalam keadaan dibentuk dan diabsorpsi. Aspek mana yang
dominan bergantung pada umur dan keadaan faal tubuh. Sintesis tulang dominan pada anakanak, ibu hamil dan menyusui ; pada orang dewasa kedua proses berada dalam keadaan
seimbang di mana kurang lebih 600 hingga 700 mg kalsium dipertukarkan tiap hari. Pada proses
menua proses resorpsi dominan sehingga tulang secara berangsur menyusut dan menjadi rapuh.
Penyusutan tulang pada umumnya terjadi setelah usia 50 tahun, baik pada laki-laki
maupun perempuan tetapi pada peremapuan dengan lecepatan lebih tinggi. Seperti telah
dijelaskan, kalsium di dalam tulang terdapat dalam bentuk hidroksiapatit, suatu struktur kristal
yang terdiri atas kalsium fosfat dan disusun di keliling matriks organik berupa protein kolagen
untuk memberikan kekuatan dan kekakuan pada tulang. Di damping itu, tersapat ion-ion lain
termasuk, flour, magnesium, seng, dan natrium. Melalui matriks dan di antara struktur kristal
terdapat pembuluh darah dan limfe, saraf, dan sumsum tulang. Melalui pembuluh darah ion-ion
mineral berdifusi ke dalam cairan ekstraselular, mengelilingi kristal dan memungkinkan
pengendapan mineral baru atau penyerapan kembali mineral dari tulang. Kalsium dalam tulang
merupakan sumber kalsium darah. walaupun makanan kurang mengandung kalsium,
konsentrasinya dalam darah akan tetap normal.
Penyerapan Dan Pembuangan Kalsium
Kemampuan absorpsi (penyerapan) kalsium lebih tinggi pada masa pertumbuhan dan
menurun pada proses menua. Absorpsi pada laki-laki lebih tinggi dari pada perempuan pada
semua golongan usia. Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi absorbsi kalsium, di antaranya
kelarutan kalsium dalam air dan jenis makanan yang dimakan bersama dengan kalsium.

Makanan tertentu menyebabkan pengendapan kalsium sehingga kalsium menjadi sulit


diabsorpsi. Kalsium yang tidak diabsorpsi akan dikeluarkan dari tubuh. Pengeluaran ini melalui
lapisan kulit, kuku, rambut, keringat, urine dan feses.
Pengertian Phospor
Fosfor merupakan zat penting dari semua jaringan tubuh. Fosfor
penting untuk fungsi otot dan sel-sel darah merah, pembentukan adenosine
trifosfat

(ATP)

keseimbangan

dan

2,3-difosfogliserat

asam-basa,

juga

untuk

(DPG),
sistem

dan
saraf

pemeliharaan
dan

perantara

metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak. Kadar normal serum fosfor


berkisar 2,5 dan 4,5 mg/dl dan dapat setinggi 6 mg/dl pada bayi dan anakanak.
Fosfor adalah anion utama dari cairan intraseluler (CIS). Kira-kira 85%
fosfor tubuh terdapat didalam tulang dan gigi, 14% adalah jaringan lunak,
dan kurang dari 1% dalam cairan ekstraseluler (CES). Karena simpanan
intraseluler besar, pada kondisi alkut tertentu, fosfor dapat bergerak ke
dalam atau ke luar sel, menyebabkan perubahan dramatik pada fosfor
plasma. Secara kronis, peningkatan subtansial atau penurunan dapat terjadi
dalam kadar fosfor intraseluler tanpa perubahan kadar bermakna. Jadi, kadar
fosfor plasma tidak selalu menunjukan kadar intraselular.

Meskipun

kebanyakan laboratorium dan laporan elemen fosfor, hampir semua fosfor


yang ada dalam tubuh berbentuk fosfat (PO43-) dan istilah fosfor dan fosfat
sering digunakan secara bertukaran.
Fosfor adalah senyawa penting dari semua jaringan tubuh yang
mempunyai variasi luas dalam fungsi vital, termasuk pembentukan subtansi
penyimpangan energi ( misal, adenosintrifosfat (ATP)), pembentukan sel
darah merah 2,3 difosfogliserat (DPG), yang memudahkan pengiriman
oksigen ke jaringan-jaringan, metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak,
dan pemeliharaan keseimbangan asam basa. Selain itu, fosfor adalah
penting untuk saraf normal dan fungsi otot dan memberi strultur penyokong
untuk tulang dan gigi. Kadar PO43- plasma bervariasi sesuai usia, dengan

pengecualiaan sedikit peningkatan pada PO43- wanita setelah menopause.


Makanan yang mengandung glikosa, insulin atau gula menyebabkan
penurunan sementara pada PO43- karena perpindahan PO43- serum ke
dalam sel-sel.
Status asam basa juga akan mempengaruhi keseimbangan fosfor.
Alkalosis, terutama alkalosis pernafasan, dapat menyebabkan fosfatemia
karena perpindahan fosfor intraseluler. Mekanisme pasti untuk perpindahan
ini tidak sepenuhnya dipahami tapi mungkin berhubungan dengan glikolisis
seluler

karena

mengandung

alkalosis

fosfor

dengan

sedang.

peningkatan pembentukan metabolik

Asidosis

respiratori

dapat

menyebabkan

perpindahan fosfor keluar dari sel-sel dan memperberat hiperfosfatemia.


Kadar fosfat CES diatur oleh kombinasi faktor-faktor, termasuk
masukan diet, absropsi usus, ekresi ginjal, dan secara hormonal terikat
secara erat pada kalsium. Rentang normal untuk fosfor serum 2,5-4,5 mg/dl
(1.7-2,6 mEq/L).
Fosfor merupakan mineral kedua terbanyak di dalam tubuh, yaitu 1% dari berat badan.
Kurang lebih 85% fosfor di dalam tubuh terdapat sebagai garam kalsium fosfat, yaitu bagian dari
kristal hidroksiapatit di dalam tulang dan gigi yang tidak dapat larut. Hidroksipatit memberi
kekuatan dan kekakuan pada tulang. Fosfor di dalam tulang berada dalam perbandingan 1:2
dengan kalsium. Fosfor selebihnya terdapat di dalam semua sel tubuh, separuhnya di dalam otot
dan di dalam cairan ekstraseluler. Fosfor merupakan bagian dari asam nukleat DNA dan RNA
yang terdapat dalam tiap inti sel dan sitoplasma tiap sel hidup. Sebagai fosfolipid, fosfor
merupakan komponen struktural dinding sel. Sebagai fosfat organik, fosfor memegang peranan
penting dalam reaksi yang berkaitan dengan penyimpanan atau pelepasan energi dalam bentuk
Adenin Trifosfat (ATP).
Absorpsi dan Metabolisme Fosfor
Fosfor dapat diabsorpsi secara efisien sebagai fosfor bebas di dalam usus setelah
dihidrolisis dan dilepas dari makanan. Bayi dapat menyerap 85-90% fosfor berasal dari Air Susu
Ibu/ ASI. Sebanyak 65-70% fosfor berasal dari susu sapi dan 50-70% fosfor berasal dari susunan

makanan normal dapat diabsorpsi oleh anak dan orang dewasa. Bila konsumsi fosfor rendah,
taraf absorpsi dapat mencapai 90% dari konsumsi fosfor.
Fosfor dibebaskan dari makanan oleh enzim alkalin fosfatase di dalam mukosa usus halus
dan diabsorpsi secara aktif dan difusi pasif. Absorpsi aktif dibantu oleh bentuk aktif vitamin D.
Sebagian besar fosfor di dalam darah terutama terdapat sebagai fosfat anorganik atau sebagai
fosfolipida. Kadar fosfor di dalam darah diatur oleh hormon paratiroid (PTH) yang dikeluarkan
oleh kelenjar paratiroid dan hormon kalsitonin. Kedua hormon tersebut berinteraksi dengan
vitamin D untuk mengontrol jumlah fosfor yang diserap, jumlah yang ditahan oleh ginjal, serta
jumlah yang dibebaskan dan disimpan di dalam tulang. PTH menurunkan reabsorpsi fosfor oleh
ginjal. Kalsitonin meningkatkan ekskresi fosfat oleh ginjal. Konsumsi fosfor yang relatif tinggi
terhadap kalsium sehingga diperoleh perbandingan P : Ca yang tinggi dalam serum akan
merangsang pembentukan PTH yang mendorong pengeluaran fosfor dari tubuh.
Fosfor sebagai bagian dari asam fosfat yang terutama terdapat di dalam serealia tidak
dapat dihidrolisis, oleh karena itu tidak dapat diabsorpsi. Faktor-faktor makanan lain yang meng
halangi absorpsi fosfor adalah Fe++, Mg++, asam lemak tidak jenuh dan antasid yang
mengandung alumunium, karena membentuk garam yang tidak larut air.

Gambar 2. Pengaturan metabolisme kalsium fosfat


2.2 Pengaturan Keseimbangan Natrium, Klorida dan Kalium
Pengertian Natrium

Natrium merupakan kation utama dalam cairan ekstraseluler . 35-40 % terdapat dalam
kerangka tubuh. Cairan saluran cerna, sama seperti cairan empedu dan pancreas mengandung
banyak natrium.
Sumber-Sumber utama Natrium adalah garam dapur (NaCl). Sumber natrium yang lain
berupa monosodium glutamate (MSG), kecap dan makanan yang diawetkan dengan garam
dapur. Makanan yang belum diolah, sayur dan buah mengandung sedikit natrium. Sumber
lainnya seperti susu, daging, telur, ikan, mentega danmakanan laut lainnya.

Absorbsi dan Metabolisme Natrium


Hampir seluruh natrium yang dikonsumsi (3 hingga & gram sehari) diabsorbsi, terutama di
dalam usus halus. Natrium diabsorpsi secara aktif (membutuhkan energi). Natrium yang
diabsorbsi dibawa oleh aliran darah ke ginjal. Di sini natrium disaring dan dikembalikan ke
aliran darah dalam jumlah yang cukup untuk mempertahankan taraf natrium dalam darah.
Kelebihan natrium dalam jumlahnya mencapai 90-99% dari yang dikonsumsi, dikeluarkan
melalui urine. Pengeluaran natrium ini diatur oleh hormon aldosteron, yang dikeluarkan kelenjar
adrenal bila kadar natrium darah menurun. Aldosteron merangsang ginjal untuk mengabsorpsi
kembali natrium. Dalam keadaan normal, natrium yang dikeluarkan melalui urine sejajar dengan
natrium yang dikonsumsi. Jumlah natrium dalam urine tnggi bila konsumsi tinggi dan rendah
bila konsumsi rendah.

Fungsi Natrium
Sebagai kation utama dalam cairan ekstraselular, natrium menjaga keseimbangan cairan
dalam kompartemen tersebut. Natriumlah yang sebagian besar mengatur tekanan tekanan
osmosis yang menjaga cairan tidak keluar dari darah dan masuk ke dalam sel-sel. Di dalam sel
tekanan osmosis diatur oleh kalium guna menjaga cairan tidak keluar dari sel. Secara normal
tubuh dapat menjaga keseimbangan antara natrium di luar sel dan kalium di dalam sel. Bila
seseorang memakan terlalu banyak garam, kadar natrium darah akan meningkat. Rasa haus yang
ditimbulkan akan menyebabkan minum sedemikian banyak sehingga konsentrasi natrium darah
akan kembali normal. Ginjal kemudian akan mengeluarkan kelebihan cairan natrium tersebut
dari tubuh. Hormon aldosteron menjaga agar konsentrasi natrium di dalam darah berada pada
nilai normal.
Bila jumlah natrium di dalam sel meningkat secara berlebihan, air akan masuk ke dalam
sel, akibatnya sel akan membengkak. Inilah yang menyebabkan terjadinya pembengkakan atau
oedema dalam jaringan tubuh. Keseimbangan cairan juga akan terganggu bila seseorang
kehilangan natrium. Air akan memasuki sel untuk mengencerkan natrium dalam sel. Cairan
ekstraselular akan menurun. Perubahan ini dapat menurunkan tekanan darah.
Natrium menjaga keseimbangan asam basa di dalam tubuh dengan mengimbangi zat-zat
yang membentuk asam. Natrium berperan dalam transmisi saraf dan konsentrasi oto. Natrium

berperan pula dalam absorpsi glukosa dan sebagai alat angkut zat-zat gizi lain melalui membran,
terutama melalui dinding usus sebagai pompa natrium.
Pengertian Klor
Klor merupakan kation utama cairan ekstraselular. Klor merupakan 0,15% berat badan.
Konsentrasi klor tertinggi adalah dalam cairan serebrospinal (otak dan sum-sum tulang
belakang), lambung, dan pangkreas. Bila reaksi dengan natrium atau hidrogen,klor akan
membentuk ion klor yang bermutan negatif (Cl-).
Absorbsi dan Ekskresi Klor
Klor hampir seluruhnya diabsorpsi di dalam usus halus dan diekskresi melalui urine dan
keringat. Kehilangan klor mengikuti kehilangan natrium. Kebanyakan keringat dihalangi oleh
aldosteron yang secara langsung berpengaruh terhadap kelenjar keringat.
Fungsi Klor
Sebagai anion utama dalam cairan ekstraselular, klor berperan dalam memelihara
keseimbangan cairan dan elektrolit. Klor akan bergerak secara bebas melintasi membran sel dan
berasosiasi dengan natrium dan kalium.
Di dalam lambung klor merupakan bagian dari asam klorida (HCl) yang deperlukan
untuk memelihara suasana asam di dalam lambung. Suasana asam ini diperlukan untuk
bekerjanya enzim-enzim pencernaan. Bersama unsur-unsur pembentuk asam lainnya, seperti
fosfor dan sulfur, sebagai anion klor membantu memelihara keseimbangan asam basa. Ion klor
dengan mudah dapat keluar dari sel darah merah dan masuk ke dalam plasma darah guna
membantu mengengkut karbon dioksida ke paru-paru dan keluar dari tubuh. Pada muntahmuntah banyak asam klorida dikeluarkan dari lambung, hal mana mengganggu keseimbangan
asam basa di dalam tubuh. Diduga klor mengatur sistem renin-angiotensin-aldosteron yang
mengatur keseimbangan cairan tubuh.
Pengertian Kalium
Seperti halnya natrium, kalium merupakan ion positif, akan tetapi berbeda dengan
natrium, kalium terutama terdapat di dalam sel. Perbandingan natrium dan kalium di dalam

cairan intraselular adalah 1:10, sedangkan di dalam cairan ekstraselular 28:1. Sebanyak 95%
kalium tubuh berada di dalam cairan intraselular.
Absorbsi dan Ekskresi Kalium
Kalium diabsorpsi dengan mudah dalam usus halus. Sebanyak 80-90% kalium yang
dimakan diekskresikan melalui urine, selebihnya dikeluarkan melalui feses dan sedikit melalui
keringat dan cairan lambung. Taraf kalium normal darah dipelihara oleh ginjal melalui
kemampuannya menyaring, mengabsorpsi kembali dan mengeluarkan kalium di bawah pengaruh
aldosteron. Kalium dikeluarkan dalam bentuk ion dengan menggantikan ion natrium melalui
mekanisme pertukaran di dalam tubula ginjal.
Fungsi Kalium
Bersama natrium, kalium memegang peranan dalam pemeliharaan keseimbangan cairan
dan elektrolit serta keseimbangan asam basa. Bersama kalsium, kalium berperan dalam transmisi
saraf dan relaksasi otot. Di dalam sel, kalium berfungsi sebagai katalisator dalam banyak reaksi
biologik, terutama dalam metabolisme energi dan sintetis glikogen dan protein. Kalium berperan
dalam pertumbuhan sel. Taraf kalium dalam otot berhubungan dengan massa otot dan simpanan
glikogen. Oleh karena itu, bila otot berada dalam pembentukan dibutuhkan kalium dalam jumlah
yang cukup. Tekanan darah normal memerlukan perbandingan antara natrium dan kalium yang
sesuai di dalam tubuh.
Perkiraan kebutuhan kalium
Karena merupakan bagian esensial semua sel hidup, kalium banyak terdapat dalam bahan
makanan, baik tumbuh-tumbuhan maupun hewan. Kekurangan kalium jarang terjadi. Kebutuhan
minimum akan kalium ditaksir sebanyak 2000 mg sehari.
2.3 Ketidakseimbangan Mineral Makro
2.3.1 Ketidakseimbangan Kalsium
Akibat Kekurangan Kalsium
Kekurangan

kalsium

pada

masa

pertumbuhan

dapat

menyebabkan

gangguan

pertumbuhan. Tulang kurang kuat, mudah bengkok dan rapuh. Semua orang dewasa, terutama

sesudah usia 50 tahun, kehilangan kalsium dari tulang. Tulang menjadi rapuh dan mudah patah.
Hal ini dinamakan osteoporosis yang dapat dipercepat oleh keadaan stres sehari-hari.
Osteoporosis banyak terjadi pada wanita daripada laki-laki dan lebih banyak pada orang kulit
putih daripada kulit berwarna.
Kekurangan kalsium dapat pula menyebabkan osteomalasia, yang dinamakan juga
riketsia pada orang dewasa dan biasa terjadi karena kekurangan vitamin D dan ketidak
seimbangan konsumsi kalsium terhadap fosfor. Mineralisasi matriks tulang terganggu, sehingga
kandungan kalsium di dalam tulang menurun.
Kadar kalsium darah yang sangat rendah dapat menyebabkan tetani atau kejang.
Kepekaan serabut saraf dan pusat saraf terhadap rangsangan meningkat, sehingga terjadi kejang
otot misalnya pada kaki. Tetani dapat terjadi pada ibu hamil yang makannya terlalu sedikit
mengandung kalsium atau terlalu tinggi mengandung fosfor. Tetani kadang terjadi pada bayi baru
lahir yang diberi minuman susu sapi yang tidak diencerkan yang mempunyai rasio kalsium :
fosfor rendah.
Akibat Kelebihan Kalsium
Konsumsi kalsium hendaknya tidak melebihi 2500 mg sehari. Kelebihan kalsium dapat
menimbulkan batu ginjal atau gangguan ginjal. Di samping itu, dapat menyebabkan konstipasi
(susah buang air besar). Kelebihan kalsium bisa terjadi bila menggunakan supleman kalsium
berupa tablet atau bentuk lain.
2.3.2 Ketidakseimbangan Fosfor
Akibat Kekurangan Fosfor
Karena fosfor banyak terdapat di dalam makanan, jarang terjadi kekurangan. Kekurangan
fosfor bisa terjadi bila menggunakan obat antasid untuk menetralkan asam lambung, seperti
aluminium hidroksida untuk jangka lama. Aluminium hidroksida mengikat fosfor, sehingga tidak
dapat diabsorpsi. Kekurangan fosfor juga bisa terjadi pada penderita yang kehilangan banyak
cairan melalui urine. Kekurangan fosfor menyebabkan kerusakan tulang. Gejalanya adalah rasa
lelah, kurang nafsu makan dan kerusakan tulang. Bayi prematur juga dapat menderita
kekurangan fosfor, karena cepatnya pembentukan tulang sehingga kebutuhan fosfor tidak bisa
dipenuhi oleh ASI.

Akibat Kelebihan Fosfor


Kelebihan fosfor karena makanan jarang terjadi. Bila kadar fosfor darah terlalu tinggi, ion
fosfat akan mengikat kalsium sehingga dapat menimbulkan kejang.
2.3.3 Ketidakseimbangan Natrium
Akibat Kekurangan Natrium
Kekurangan natrium dapat menyebabkan kejang, apatis, dan kehilangan nafsu makan.
Kekurangan natrium dapat terjadi sesudah muntah, diare, keringat berlebihan dan bila
menjalankan diet yang sangat terbatas dalam natrium. Bila kadar natrium dalam darah turun,
perlu diberikan natrium dan air untuk mengembalikan keseimbangan. Pemberian tablet garam
sesudah latihan berat tidak dianjurkan, karena dapat menyebabkan kebanyakan garam, terutama
bila dimakan dengan air terbatas. Hal ini dapat menimbulkan dehidrasi.
Akibat Kelebihan Natrium
Kelebihan natrium dapat menimbulkan keracunan yang dalam keadaan akut
menyebabkan edema dan hipertensi, hal ini dapat diatasi dengan banyak minum. Kelebihan
konsumsi natrium secara terus-menerus terutama dalam bentuk garam dapur dapat menimbulkan
hipertensi.
2.3.4 Ketidakseimbangan Klorida
Akibat Kekurangan Klor
Dalam keadaan normal kekurangan klor jarang terjadi. Kekurangan hanya bisa terjadi
oleh kesalahan manusia. ASI mengandung lebih banyak kloroda daripada susu sapi. Bila klorida
tidak ditambahkan dalam pembuatan formula bayi, akan terjadi kekurangan klor yang dapat
membawa kematian. Kekurangan klor dapat pula terjadi pada muntah-muntah, diare kronis, dan
keringat normal
2.3.5 Ketidakseimbangan Kalium
Akibat Kekurangan Kalium
Kekurangan kalium karena makanan jarang terjadi, sepanjang seseorang cukup makan
sayuran dan buah segar. Kekurangan kalium dapat terjadi karena kebanyakan kehilangan melalui
saluran cerna atau ginjal. Kehilangan banyak melalui saluran cerna dapat terjadi karena muntahmuntah, diare kronis atau kebanyakan menggunakan laksan (obat pencuci perut). Kebanyakan

kehilangan melalui ginjal adalah karena penggunaan obat-obat diuretik terutama untuk
pengobatan hipertensi. Dokter sering memberi sulemen kalium bersamaan dengan obat ini.
Kekurangan kalium menyebabkan lemah, lesu, kehilangan nafsu makan, kelumpuhan, mengigau,
dan konstipasi. Jantung akan berdebar detaknya, dan menurunkan kemampuannya untuk
memompa darah.
Akibat kelebihan kalium
Kelebihan kalium akut dapat terjadi bila konsumsi melalui saluran cerna (enteral) atau
tidak melalui saluran cerna (parenteral) melebihi 12,0 g/m2 permukaan tubuh sehari 918 g untuk
orang dewasa) tanpa diimbangi oleh kenaikan ekskresi. Hiperkalemia akut dapat menyebabkan
gagal jantung yang berakibat kematian. Kelebihan kalium juga dapat terjadi bila ada gangguan
fungsi ginjal

BAB III
KESIMPULAN
1. Pengaturan metabolisme kalsium fosfat dipengaruhi oleh hormone PTH dan kalsitonin
dengan bantuan vitamin D. Apabila tingkat kadar kalsium dalam darah terlalu rendah,
hormon PTH akan dilepaskan. Hormon PTH akan memicu pelepasan kalsium dari tulang
ke aliran darah. Sebaliknya, apabila tingkat kadar kalsium dalam darah terlalu tinggi,
kerja hormon PTH akan dihentikan dan digantikan dengan calcitonin. Hormon calcitonin
bekerja berlawanan dengan PTH, yakni menghambat terjadinya pelepasan kalsium dari
tulang ke darah. Sedangkan pada fosfor, PTH menurunkan reabsorpsi fosfor oleh ginjal.
Kalsitonin meningkatkan ekskresi fosfat oleh ginjal
2. Natrium dan klor merupakan anion dan kation cairan ekstraseluler, sementara kalium
terletak pada cairan intraseluler. Bersama natrium, kalium memegang peranan dalam
pemeliharaan keseimbangan cairan dan elektrolit serta keseimbangan asam basa

Pengaturan keseimbangan natrium, klorida dan kalium dipengaruhi oleh ADH dan
aldosteron

DAFTAR PUSTAKA
Harti, AS. 2014. Biokimia Kesehatan. Jakarta: Nuha Medika
Niman, Susanti. 2013. Anatomi dan Fisiologi Sitem Pencernaan. Jakarta: CV Trans Info Media
Almatsier, Sunita. 2001. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT GramediaPustaka Utama
ployulinda.blogspot.com/2013/02/mineral-makro.html?m=1 , diunduh tanggal 1 November
pukul 12:00
kahar-spombob.blogspot.com/2011/03/mineral-makro.html?m=1
November pukul 12:00

diunduh

tanggal