Anda di halaman 1dari 3

Difusi adalah peristiwa mengalirnya/berpindahnya suatu zat dalam pelarut dari bagian

berkonsentrasi tinggi ke bagian yang berkonsentrasi rendah. Perbedaan konsentrasi yang ada
pada dua larutan disebut gradien konsentrasi. Difusi akan terus terjadi hingga seluruh partikel
tersebar luas secara merata atau mencapai keadaan kesetimbangan dimana perpindahan molekul
tetap terjadi walaupun tidak ada perbedaan konsentrasi. Contoh dari difusi dapat dilihat pada
contoh berikut. Sirup yang kental dan konsentrasinya
-

Ukuran partikel

Semakin besar ukuran partikel,maka semakin lambat partikel itu akan bergerak, sehingga
kecepatan difusi semakin rendah dan berlaku juga sebaliknya.
-

Ketebalan membran.

Semakin tebal membran, maka semakin lambat kecepatan difusi.


Semakin luas areanya, maka semakin cepat kecepatan difusinya.
-

Jarak

Semakin besar perbedaan dua konsentrasi, maka semakin lambat kecepatan difusinya.
-

Suhu

Semakin tinggi suhu, partikel akan mendapatkan energi sehingga bergerak dengan lebih cepat.
dan kecepatan difusi menjadi lebih cepat Berdasarkan prosesnya, Difusi dapat dibedakan
menjadi dua, yaitu difusi sederhana dan difusi terbantu (facilitated diffusion). 1. Difusi
Sederhana Molekul zat dapat berdifusi secara spontan hingga dicapai kerapatan yang sama dalam
suatu ruangan. Contoh Difusi sederhana antara lain adalah: Sirup yang kental dan konsentrasinya

Dan setetes parfum akan menyebar ke seluruh ruangan (difusi gas di dalam medium udara).
Arah perpindahan molekul seperti halnya pada difusi biasa yaitu dari konsentrasi tinggi ke
konsentrasi rendah, hanya saja protein pembawa membantu proses perpindahan molekul ini.

Difusi terbantu merupakan transpor melalui media pembawa. Difusi khusus ini biasanya terjadi
pada sistem transfortasi sel.
Konsep kulit sebagai membran pasif dan adanya keyakinan bahwa viabilitas kulit kurang
penting dalam absorpsi perkutan, telah memandu dominasi studi absorpsi perkutan oleh hukum
aksi masa dan difusi secara fisika. Sebuah konsekwensi dari konsep kulit sebagai membran pasif
merupakan tanda-tanda yang jelas dari stratum corneum sebagai barrier terhadap absorpsi
perkutan. Bagian kulit yang hidup akan menentukan metabolisme, distribusi dan ekskresi dari
senyawa melalui kulit dan tubuh.
Absorbsi per kutan suatu obat pada umumnya disebabkan oleh penetrasi obat melalui
stratum korneum yang terdiri dari kurang lebih 40% protein (pada umumnya keratin) dan 40%
air dengan lemak berupa trigliserida, asam lemak bebas, kolesterol dan fosfat lemak. Stratum
komeum sebagai jaringan keratin akan berlaku sebagai membran buatan yang semi permeabel,
dan molekul obat mempenetrasi dengan cara difusi pasif,

jadi jumlah obat yang pindah

menyebrangi lapisan kulit tergantung pada konsentrasi obat. Bahan-bahan yang mempunyai sifat
larut dalam minyak dan air, merupakan bahan yang baik untuk difusi melalui stratum korneum
seperti juga melalui epidermis dan lapisan-lapisan kulit. Prinsip absorbsi obat melalui kulit
adalah difusi pasif yaitu proses di mana suatu substansi bergerak dari daerah suatu sistem ke
daerah lain dan terjadi penurunan kadar gradien diikuti bergeraknya molekul.
Difusi pasif merupakan bagian terbesar dari proses trans-membran bagi umumnya obat.
Tenaga pendorong untuk difusi pasif ini adalah perbedaan konsentrasi obat pada kedua sisi
membran sel. Menurut hukum difusi Fick, molekul obat berdifusi dari daerah dengan konsentrasi
obat tinggi ke daerah konsentrasi obat rendah.

Keterangan:
Dq/Dt = Laju difusi
D = Koefisien difusi
K = Koefisien partisi
A = luas permukaan membran

h = tebal membran
Cs-C = perbedaan antara konsentrasi obat dalam pembawa dan medium

Difusi obat berbanding lurus dengan konsentrasi obat, koefisien difusi, viskositas dan ketebalan
membran. Di samping itu difusi pasif dipengaruhi oleh koefisien partisi, yaitu semakin besar
koefisien partisi maka semakin cepat difusi obat.
Salah satu metode yang digunakan dalam uji difusi adalah metode flow through. Adapun
prinsip kerjanya yaitu pompa peristaltik menghisap cairan reseptor dari gelas kimia kemudian
dipompa ke sel difusi melewati penghilang gelembung sehingga aliran terjadi secara
hidrodinamis, kemudian cairan dialirkan kembali ke reseptor. Cuplikan diambil dari cairan
reseptor dalam gelas kimia dengan rentang waktu tertentu dan diencerkan dengan pelarut
campur. Kemudian diukur absorbannya dan konsentrasinya pada panjang gelombang maksimum,
sehingga laju difusi dapat dihitung berdasarkan hukum Fick di atas.
Shargel, Leon. 2005. Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan Edisi II. Surabaya:
Airlangga University Press.
Martin, Alfred dkk. 1990. Farmasi Fisik. Jakarta: UI Press.
Campbell. 2002. Biologi Jilid 1. Erlangga: Jakarta