Anda di halaman 1dari 11

Gunung Gede-Pangrango adalah satu-satunya gunung yang paling sering di daki di

Indonesia, kurang lebih 50.000 pendaki per tahun, meskipun peraturan dibuat seketat
mungkin, bisa jadi karena lokasinya yang berdekatan dengan Jakarta dan Bandung.
Untuk mengembalikan habitatnya biasanya tiap bulan Agustus ditutup untuk pendaki juga
antara bulan Desember hingga Maret. Untuk mengurangi kerusakan alam maka dibuatlah
beberapa jalur pendakian, namun jalur yang populer adalah melalui pintu Cibodas.
Untuk mendaki Gunung Gede- Gn. Pangrango diberlakukan sistem booking, 3-30 hari
sebelum pendakian harus booking dahulu. Jumlah pendaki dibatasi hanya 600 orang per
malam, 300 melalui Cibodas, 100 melalui Selabintana, 200 melalui Gunung Putri.
PINTU CIBODAS
Cibodas (1.425 mdpl) dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan umum jurusan
Jakarta - Bandung. Turun di pertigaan Cibodas, disambung dengan mobil angkutan kecil
ke Kebun Raya Cibodas.Di sekitar Kebun Raya Cibodas terdapat tempat parkir yang luas,
banyak terdapat pedagang makanan dan oleh-oleh di sepanjang jalan. Ada juga lokasi
untuk berkemah di dekat kantor Taman Nasional. Lebatnya hutan tropis di lereng gunung
Gede-Pangrango ini sudah terasa di Cibodas, namun suasana hutannya terpotong oleh
padang golf yang sangat luas hingga ke arah puncak gunung pangrango.
Di Pintu masuk Cibodas pendaki wajib melapor dan
menunjukkan surat - surat perijinan dan akan dilakukan
peme riksaan terhadap barang-barang bawaan. Untuk
barang yg dilarang seperti pisau, radio, sabun, odol, dll.
akan diminta oleh petugas. Pada saat keluar Taman
Nasional juga akan dilakukan pemeriksaan kembali serta
wajib memperlihatkan sampah yang dibawa turun sisasisa pemakaian kita sendiri. Di setiap pintu taman ada
tempat untuk membuang sampah.
Dari jalur Cibodas ini terdapat beberapa pos peristirahatan yang berupa bangunan beratap
yang sangat bermanfaat untuk berteduh dan menghangatkan badan. Sebaiknya tidak
mendirikan tenda di dalam pos karena mengganggu para pendaki lainnya yang ingin
berteduh. Awal pendakian dimulai dengan menyusuri jalan setapak berbatu, melintasi
kawasan hutan tropis yang lebat. Kicauan burung dan suara monyet menyambut para
pendaki sejak dari pos penjagaan. Karena memang di Pos pendakian Cibodas banyak
terdapat monyet.
Setelah berjalan sejauh 1,5 km melintasi kawasan hutan yang
sangat asri, terdapat sebuah rawa yang disebut Telaga Biru pada
ketinggian 1.500 mdpl. Telaga Biru warna airnya bisa berubahubah disebabkan oleh tanaman ganggang yang tumbuh didasar
danau. Dengan melintasi jembatan kayu sepanjang jalur
selanjutnya akan sampai di Pos Rawa Gayang Agung (1.600

mdpl). Jalur jembatan kayu ini sudah mulai rusak, banyak kayu-kayu yang lepas sehingga
pendaki bila kurang berhati-hati bisa terperosok jatuh.
Setelah berjalan di atas jembatan kayu sepanjang kurang lebih 1 km, jalur kembali
menapaki jalan berbatu hingga sampai di Pos Panyancangan Kuda. Pos ini berada
diketinggian 1.628 mdpl, terdapat bangunan beratap yang dapat dipergunakan untuk
berlindung dari hujan dan angin, namun pendaki-pendaki yang egois sering membuka
tenda di dalam bangunan ini. Di lokasi ini terdapat persimpangan jalur (pertigaan). ke
kanan ke arah air terjun Ciberem, sedangkan arah ke puncak ambil jalur lurus. Bila
pendaki ingin mampir ke air terjun mungkin tas dan bawaan lainnya bisa ditinggal di pos
ini, dan ada salah satu rekannya yang menunggu.
Berjalan sekitar 30 menit dengan lintasan berbatu yang
sedikit menurun, dan di beberapa tempat digenangi air
sehingga sepatu bisa basah, maka kita akan sampai di
Air Terjun Ciberem yang berada di ketinggian 1.675
mdpl).
Air terjun Ciberem ini terdiri dari tiga buah yakni; curug
Cidendeng, curug Cikundul, dan curug Ciwalen.
Wisatawan umum bisa datang ke lokasi air terjun ini
cukup dengan membayar tiket masuk di pos penjagaan. Untuk melanjutkan pendakian
pendaki harus balik lagi ke Pos Panyancangan Kuda (pertigaan).
Dari pertigaan, jalur pendakian mulai menanjak dan berliku-liku melewati jalan setapak
dari batuan yang terjal. Gemuruh air terjun yang berada jauh di bawah terdengar dengan
jelas. Suara-suara satwa sering terdengar terutama di sore dan di pagi hari. Sejenak kita
bisa beristirahat di Pos Batu Kukus (1.820 mdpl). Di tempat ini terdapat bangunan untuk
duduk istirahat, dahulu ada atapnya yang disangga oleh sebuah tiang kayu di tengahnya.
Lintasan kembali menanjak, jalan setapak berbatu mulai berganti dengan jalan tanah yang
lebih alami. selanjutnya jalur mulai landai dan bonus-bonus turunan akan mempercepat
kita sampai di Pos Pondok Pemandangan (2.150 mdpl). Pada musim pendakian, karena
ramainya pengunjung maka kita bisa beristirahat di pos ini sambil menunggu antrian
melewati air panas.
Air panas berupa lereng curam yang sangat berbahaya, yang
dialiri air panas dengan suhu yang mencapai 70C, pendaki
perlu ekstra hati-hati karena sempit dan licin. Sebaiknya jalan
satu persatu dan menunggu bila ada pendaki yang melintas dari
arah berlawanan. Karena bila dua orang pendaki bertemu maka
pendaki di sisi jurang akan sulit mendapatkan pegangan bila
terpeleset dan kesenggol akan fatal akibatnya, meskipun ada
rantai besi pengaman namun kondisinya kurang aman untuk
dijadikan pegangan.

Batuan di Air Panas terasa panas bila disentuh. Namun banyak juga pendaki yang
berhenti untuk menghangatkan badan. Sebaiknya tidak berhenti di sini karena sangat
menggangu pendaki lainnya, selain itu sebaiknya menggunakan sepatu, panasnya air
sangat terasa bila kita hanya menggunakan sandal.
Mandi di sungai di Pos Kandang Batu (2.220 mdpl) ini yang berair hangat sangat
menyegarkan badan, menghilangkan capek dan membantu melancarkan aliran darah yang
beku kedinginan. Jangan gunakan sabun, odol, shampoo, karena banyak pendaki
mengambil air minum di sungai ini. Membuka tenda di Pos ini sangat mengganggu
perjalanan pendaki lainnya.
Meninggalkan Pos Kandang Batu kita akan melewati sungai yang kadang airnya deras
sehingga hati-hati dengan sendal yang dipakai. Celana panjang mungkin perlu digulung,
namun bila air sungai sedang tenang (tidak ada hujan di puncak) kita bisa melompat di
atas batu-batu. Selanjutnya kita akan sampai di tanah lapang yang cukup untuk
mendirikan beberapa tenda.
Mendekati Kandang Badak, kita akan mendengar suara deru air
terjun yang cukup menarik di bawah jalur pendakian. Kita bisa
memandang ke bawah menyaksikan air terjun tersebut, atau
turun ke bawah untuk mandi bila air tidak terlalu dingin. Di
sekitar air terjun ini lintasan terjal dan sempit sehingga harus
menunggu antrian satu per satu untuk melewatinya. Setelah itu
jalur mulai landai dan sedikit menurun hingga Pos Kandang
Badak (2.395 mdpl).
Bagi pendaki sebaiknya mengisi persediaan airnya di pos Kandang Badak, karena
perjalanan berikutnya akan susah memperoleh air. Setelah kandang Badak perjalanan
menuju puncak sangat menanjak dan melelahkan disamping itu udara sangat dingin
sekali. Disini terdapat persimpangan jalan, untuk menuju puncak Gn.Gede ambil arah ke
kiri namun jangan salah jalan menuju ke kawah, dan untuk menuju puncak Gn.Pangrango
ambil arah kanan. Persiapan fisik, peralatan dan perbekalan harus diperhitungkan,
sebaiknya beristirahat di pos ini dan memperhitungkan baik buruknya cuaca.
Menuju puncak Pangrango waktu yang dibutuhkan sekitar 3 jam dengan jarak tempuh
lebih kurang 3 km, dengan melintasi kawasan hutan lebat yang sangat terjal. Dari puncak
gunung Pangrango pendaki tidak bisa menikmati pemandangan
sekitar karena masih banyak pohonan. Sedikit turun ke arah
barat terdapat areal terbuka seluas 5 ha yang dipenuhi dengan
tanaman bunga edelweis. Tempat ini di sebut Alun Alun
Mandalawangi.
Untuk menuju puncak gunung gede pendaki menyusuri
punggungan gunung yang terjal. Terdapat sebuah tempat yang
disebut Tanjakan Setan, tempat ini sangat terjal dan dilengkapi

dengan tali baja untuk berpegangan. Dari atas tanjakan ini pendaki bisa
memandang panorama puncak gunung Pangrango yang sangat indah.
Hempasan angin kencang sangat terasa di tempat ini. Pendakian di musim hujan tempat
ini terasa sangat dingin karena hembusan angin kencang yang bercampur dengan air.
Pendaki yang belum makan biasanya akan mudah sakit ketika tiba di tempat ini. Bahkan
bisa terkena kram bila tidak menggunakan pakaian yang cukup tebal. Hingga puncak
Gunung Gede angin kencang akan selalu menemani pendaki.
Puncak gunung gede memanjang, berbeda dengan puncak gunung pangrango yang
runcing sempurna. Pendaki biasanya menikmati pemandangan Kawah Gunung Gede
yang sangat luar biasa. Tercium aroma bau belerang yang kadang kala sangat menyengat
hidung. Kawah gunung Gede terdiri dari Kawah Ratu dan Kawah Wadon.
Puncak gunung Gede sangat indah namun perlu hati-hati, kita dapat berdiri dilereng yang
sangat curam, memandang ke kawah Gede yang mempesona. Dibawah lereng-lereng
puncak ditumbuhi bunga-bunga edelweis yang mengundang minat untuk memetiknya,
hal ini dilarang dan sangat berbahaya bagi kelestariannya.
Dari puncak Gede kita bisa kebawah menuju alun-alun
SuryaKencana, dengan latar belakang gunung Gumuruh.
Terdapat mata air yang jernih dan tempat yang sangat luas
untuk mendirikan kemah.
Bila berkemah di alun-alun Surya Kencana di pagi hari
sekitar jam 5 pagi pendaki akan dibangunkan oleh para
pedagang yang menawarkan nasi uduk dan rokok, Gunung
apa pasar !!?? Dari sini kita belok ke kiri (timur) bila ingin melewati jalur Gunung Putri,
dan untuk melewati jalur Selabintana kita berbelok ke kanan (barat).
JALUR GUNUNG PUTRI
Untuk menuju Gunung Putri dari Jakarta naik bus jurusan Bandung / Cianjur turun di
Pasar Cipanas. Dari belakang Pasar yang merangkap terminal ini kita naik mobil angkot
ke Gunung Putri. Sebelum melakukan pendakian kita harus booking terlebih dahulu 3-30
hari sebelum hari pendakian di Kantor Pusat Taman Nasional yang terletak di Cibodas.
Di Pos Penjagaan Gunung Putri (1.450 mdpl), pendaki wajib melapor dan menunjukkan
surat - surat perijinan dan akan dilakukan pemeriksaan terhadap barang-barang bawaan.
Untuk barang yg dilarang seperti pisau, radio, sabun, odol, dll. akan diminta oleh petugas.
Pada saat keluar Taman Nasional juga akan dilakukan pemeriksaan kembali serta wajib
memperlihatkan sampah yang dibawa turun sisa-sisa pemakaian kita sendiri. Di setiap
pintu taman ada tempat untuk membuang sampah
Pendakian awal berupa jalan setapak yang melintasi kebun penduduk, yang selanjutnya
akan menyeberangi sungai kecil. Setelah melewati sungai jalur mulai menanjak dan kita

akan menemukan pipa air minum yang disalurkan untuk keperluan


penduduk sekitar.
Satu jam perjalanan dari pipa air pendaki akan sampai di Pos Tanah Merah yang berupa
bangunan bekas kantor Taman Nasional yang sudah tidak terpakai di ketinggian 1.850
mdpl. Beberapa dinding kayu sudah hilang dan lantai kayunyapun sudah pada berlobang,
namun atapnya masih bagus sehingga dapat digunakan untuk berteduh.
Jalur semakin menanjak dan melintasi akar-akar pepohonan, suasana hutan semakin lebat
dan mencekam, setelah berjalan sekitar 1,5 jam akan sampai di Pos Legok Lenca
diketinggian 2.150 mdpl.
Jalur berikutnya semakin curam dan licin terutama di musim penghujan, di beberapa
tempat medan sempit sehingga pendaki harus ke pinggir bila berjumpa dengan pendaki
dari arah berlawanan. Pos berikutnya adalah Buntut
Lutung yang berada di ketinggian 2.300 mdpl. Tempat
ini agak lega sehingga bisa beristirahat rame-rame
setelah melintasi jalur sempit. Jarang sekali ada pendaki
yang membuka tenda di pos-pos di sepanjang jalur
gunung putri. Selain tempatnya sempit dan tidak ada
sumber air, pendaki lebih suka bersusah payah sekuat
tenaga untuk sampai di Alun-Alun Surya kencana dan
berkemah di sana.
Sebelum sampai di lapangan terbuka Surya Kencana kita masih harus melewati dua pos
lagi yakni Pos Lawang Seketeng (2.500 mdpl) dengan medan
yang semakin terjal dan semakin menguras tenaga, serta Pos
Simpang Maleber (2.625 mdpl).
Pos yang ada berupa bangunan untuk duduk yang dilengkapi
dengan atap yang disangga satu tiang seperti payung. Seperti
pos-pos yang lainnya tiang penyangga atap sudah roboh semua.
Dari Pos Simpang Maleber lintasan sudah landai alun-alun
Surya Kencana sudah nampak di depan mata. Untuk menuju Pusat Keramaian Alun-Alun
( Kilometer Nol ) kita harus berjalan ke arah kanan mengikuti aliran sungai kecil yang
berada tepat di tengah-tengah lapangan.
Selanjutnya dari Km-0 kita ke kanan mendaki bukit terjal berbatu yang banyak ditumbuhi
edelweis untuk menuju puncak Gn. Gede. Sedangkan untuk turun kembali lewat jalur
Selabintana kita harus berjalan lurus.
JALUR SELABINTANA
Selabintana (960 mdpl) adalah kawasan wisata yang sangat menarik. Hotel, penginapan,
tempat bermain, air terjun dan bumi perkemahan menjadikan kawasan ini ramai
dikunjungi siapa saja. Kaum Remaja dari Bandung dan Jakarta sering mengadakan

camping di lokasi ini. Kaum Muda Sukabumi menjadikannya sebagai tempat


istimewa untuk berpacaran.
Di Selabintana terdapat air terjun Ciberem yang memiliki ketinggian hingga 70
meter. Percikan dan kabut yang tercipta oleh air terjun sudah terasa dari kejauhan
ketika pengunjung hendak mendekatinya. Untuk menuju air terjun pengunjung
harus melewati jalan berbatu yang panjang dan terjal. Lokasi yang sulit dijangkau
ini tidak mengurangi niat orang untuk menuju ke sana. Banyak orang tua yang sengaja
ingin memanfaatkan suasana alam dan jalur yang menantang ini untuk proses
penyembuhan atau melatih badan.
Jalur pendakian Selabintana kurang diminati oleh para pendaki. Banyak hal yang menjadi
alasan yakni: 1.membutuhkan waktu yang lebih lama baik dalam pendakian maupun
dalam perjalanan di kendaraan umum, 2.akses kendaraan umum yang susah dan lebih
jauh, 3.jalurnya lebih berat, berlumpur dan banyak pacet.
Setelah melakukan booking beberapa hari sebelumnya di Cibodas pendakian baru bisa
dilakukan. Di Pos Pemeriksaan dilakukan pemeriksaan barang bawaan dan surat
perijinan, kemudian pendaki bisa langsung "ngetrek" atau berkemah terlebih dahulu di
Selabintana.
Dari Pos Pemeriksaan kita berjalan menyusuri tepi
sungai yang aliran airnya jernih dan sangat dingin
memasuki kawasan hutan lebat yang banyak dihuni
satwa liar. Lintasan berupa jalan berbatu yang ditata rapi
menyusuri punggungan gunung. Monyet-monyet
bergelantungan di atas pohon, aneka burung berkicauan
di atas dahan.
Setelah berjalan sekitar 1/2 jam kita akan berjumpa dengan menara pengamatan burung.
Selanjutnya akan sampai di Pos Citingar (1.000mdpl). Di sepanjang jalur banyak terdapat
sampah dedaunan. Di musim penghujan banyak pacet dan di musim kemaraupun masih
ada pacet. Medan yang berupa tanah gembur dilapisi guguran dedaunan semakin
menanjak dan licin.
Bila ingin beristirahat sebaiknya tidak duduk di atas pohon
tumbang atau di tanah berhumus karena banyak pacet, cukup
berdiri mengambil nafas panjang. Masih dalam kondisi jalur
yang sama kita akan sampai di Pos Citingar Barat (1.175 mdpl).
Sekitar 2-3 jam kita berjalan dikawasan hutan yang banyak
pacetnya ini. Untuk itu gunakan sepatu gunung jangan pakai
sendal, untuk menghindari puluhan pacet nempel di kaki.
Selanjutnya jalur masih berupa tanah gembur dilapisi dedaunan.
1 jam kemudian jalur agak landai sedikit turun dari punggungan
gunung menghindari lintasan lama yang longsor (di atas lintasan

baru). Di lokasi ini lintasan baru dilapisi dengan batu yang ditata rapi danPacet sudah
jarang dijumpai. Kemudian kita akan sampai di Pos Cigeber (1.300 mdpl).
Bila lintasan sebelumnya langit tertutup oleh rimbunya pepohonan (canopy), maka
lintasan berikutnya kita mulai bisa melihat langit karena pohon-pohon yang sangat tinggi
sudah jarang. Tanah yang diinjak mulai agak keras. Kita akan melewati pinggiran jurang
yang banyak ditumbuhi rumput-rumput yang agak tinggi. Selanjutnya tiba di Pos Cileutik
(1.500 mdpl).
Sedikit turun di bawah Pos yang sudah roboh ini
terdapat sungai yang aliran air nya kecil dan membentuk
air terjun mini. Bila tidak terlalu dingin bisa mandi di
sungai ini. Di lokasi ini beberapa pendaki bisa
beristirahat bersama namun tidak cukup untuk
mendirikan 2-3 tenda.
Setelah menyeberangi sungai kecil, medan kembali
menanjak dan memasuki kawasan hutan yang lebat. Di
beberapa tempat tanah yang diinjak agak lembek. sekitar
2 jam berjalan pendaki akan sampai di Pos yang banyak dikelilingi pohon-pohon yang
memiliki bentuk yang aneh, sehingga bisa menimbulkan fantasi yang bermacam-macam.
Selanjutnya kita berjalan sekitar 2 jam maka kita akan sampai di Pos yang hanya bisa
digunakan untuk duduk beristirahat sekitar 8 orang. Lintasan berikutnya makin terjal, di
beberapa tempat kita bisa berpegangan pada akar-akar dan selanjutnya pendaki akan
melewati jalur yang banyak di tumbuhi rumput-rumput yang sangat tinggi.
Sekitar satu jam kita akan sampai di Pos Pertigaan, di tempat ini terdapat persimpangan
jalur, bila ke kanan menuju puncak gunung Gumuruh, bila ke kiri menuju alun-alun
Surya Kencana. Sekitar lima menit dari lokasi Pos ini kita akan sampai di tempat yang
terbuka, ke kanan kita bisa melihat ALun-alun Surya Kencana dan Puncak Gunung Gede.
Untuk menuju pusat Alun-alun (Kilometer Nol) kita
berjalan ke kanan sekitar 15 menit. Di lapangan luas ini
kita bisa beristirahat mendirikan tenda. Untuk
melanjutkan perjalanan lewat jalur Cibodas kita harus
mendaki puncak gunung Gede terlebih dahulu.
Sedangkan untuk melewati jalur Gunung Putri kita
berjalan lurus mengikuti pinggiran sungai.
Untuk menuju puncak Gunung Gede dari Km-0 kita
masih harus mendaki batuan terjal yang banyak ditumbuhi Edelweis, dengan waktu
tempuh sekitar 30 menit.

PERATURAN PENDAKIAN
1. Semua pengunjung wajib membayar tiket masuk taman dan asuransi. Para wisatawan
dapat membelinya di ke empat pintu masuk. Ijin khusus diperlukan bagi pendaki gunung
atau wisatawan yang dari Cibodas menuju Air terjun Cibeureum melanjutkan ke Air
Panas. Wisatawan yang menuju Air terjun Cibeureum lewat Selabintana. Dari
perkemahan Bobojong memasuki Taman Nasional lewat Gunung Putri.
2. Bagi para pendaki gunung harus minta ijin ke kantor pusat taman di Cibodas, 3-30 hari
sebelum pendakian harus booking dahulu. Jumlah pendaki dibatasi hanya 600 orang per
malam.
Jam buka kantor pengurusan ijin:
Senin - Kamis jam 07.30 - 14.30
Jumat jam 07.30 - 11.00
Pendaki harus menyerahkan photo copy KTP atau Surat ijin Orang Tua bagi yang belum
memiliki KTP.
3. Penjaga akan memeriksa barang-barang bawaan dan perijinan sebelum memasuki
taman.
4. Dilarang membawa binatang ke dalam taman.
5. Dilarang membawa senjata tajam termasuk pisau dan peralatan berburu.
6. Dilarang membawa perlengkapan radio dan bunyi-bunyian ke dalam taman, ijin
khusus diperlukan bagi pengguna "walkie-talkie".
7. Dilarang membuat api unggun yang beresiko tinggi penyebab kebakaran hutan.
8. Dilarang mengganggu, memindahkan, atau merusak barang-barang milik taman.
Termasuk mencorat-coret batu atau pohon.
9. Dilarang memetik bunga atau mencabut tanaman.
10. Mendakilah mengikuti jalur utama. Memotong jalur dapat merusak taman dan juga
sangat berbahaya.
11. Jangan tinggalkan sampah, sangat sulit dan lama untuk membersihkan sampah dan
botol-botol di gunung. Bawa kembali semua sampah ke luar taman.
12. Jangan mecemari atau mengotori sungai, pada saat mandi jangan gunakan sabun atau
bahan pencemar lainnya.
13. Melapor kembali ke penjaga taman ketika meninggalkan taman dan menyerahkan
surat ijin masuk.
14. Dilarang membawa minumam beralkohol ke dalam taman.
KEBUTUHAN MINIMAL
Bagi para pendaki kebutuhan utama yang harus dipenuhi adalah:
1.Perlengkapan minim pendakian: pakaian hangat, sleeping bag bila ingin menginap di
gunung, jas hujan atau pakaian tahan air, perlengkapan obat-obatan.
2. Bawalah bekal makanan dan minuman yang cukup (non- alkohol).

3. Dilarang mendaki sendirian, sedikitnya harus tiga orang dalam suatu kelompok dan
sebisa mungkin dibimbing oleh orang yang sudah hafal betul dengan jalurnya.

JALUR CIBODAS
Naik bus jur Jakarta-Bandung lewat puncak, turun di pertigaan Cibodas. Mobil angkot ke
Kebun Raya Cibodas.
JALUR GUNUNG PUTRI
Naik bus jur Jakarta-Bandung lewat puncak, turun di pasar Cipanas. Mobil Angkot ke
gunung Putri.
JALUR SELABINTANA
Dari Sukabumi naik mobil angkot ke Selabintana. Jalan kaki/carter angkot ke Pondok
Halimun

legenda
Kadangkala pendaki yang berada dikawasan alun-alun Suryakencana, akan mendengar
suara kaki kuda yang berlarian, tapi kuda tersebut tidak terlihat wujudnya. Konon,
kejadian ini pertanda Pangeran Suryakencana datang ke alun-alun dengan dikawal oleh
para prajurit. Selain itu para pendaki kadang kala akan melihat suatu bangunan istana.
Alun-alun Surya Kencana berupa sebuah lapangan datar dan luas pada ketinggian 2.750m
dpl yang berada disebelah timur puncak Gede, merupakan padang rumput dan padang
edelweiss. Suryakencana adalah nama seorang putra Pangeran Aria Wiratanudatar
(pendiri kota Cianjur) yang beristrikan seorang putri jin. Pangeran Suryakencana
memiliki dua putra yaitu: Prabu Sakti dan Prabu Siliwangi.
Kawasan Gunung Gede merupakan tempat bersemayam Pangeran Suryakencana. Beliau
bersama rakyat jin menjadikan alun2 sebagai lumbung padi yang disebut Leuit Salawe,
Salawe Jajar, dan kebun kelapa salawe tangkal, salawe manggar. Petilasan singgasana
Pangeran Suryakencana berupa sebuah batu besar berbentuk pelana. Hingga kini,
petilasan tersebut masih berada di tengah alun-alun, dan disebut Batu Dongdang yang
dijaga oleh Embah Layang Gading.
Sumber air yang berada ditengah alun-alun, dahulu merupakan jamban untuk keperluan
minum dan mandi. Di dalam hutan yang mengitari Alun-alun Surya Kencana ini ada
sebuah situs kuburan kuno tempat bersemayam Prabu Siliwangi. Pada masa
pemerintahan Prabu Siliwangi yang menguasai Jawa Barat, terjadi peperangan melawan
Majapahit. Selain itu Prabu Siliwangi juga harus berperang melawan Kerajaan
Kesultanan Banten. Setelah menderita kekalahan yang sangat hebat Prabu Siliwangi
melarikan diri bersama para pengikutnya ke Gunung Gede.
Sekitar gunung Gede banyak terdapat petilasan peninggalan bersejarah yang dianggap
sakral oleh sebagian peziarah, seperti petilasan Pangeran Suryakencana, putri jin dan
Prabu Siliwangi. Kawah Gunung Gede yang terdiri dari, Kawah Ratu, Kawah Lanang,
dan Kawah Wadon, dijaga oleh Embah Kalijaga.
Embah Serah adalah penjaga Lawang Seketeng (pintu jaga) yang terdiri atas dua buah
batu besar. Pintu jaga tersebut berada di Batu Kukus, sebelum lokasi air terjun panas yang
menuju kearah puncak.

Eyang Jayakusumah adalah penjaga Gunung Sela yang berada disebelah utara puncak
Gunung Gede. Sedangkan Eyang Jayarahmatan dan Embah Kadok menjaga dua buah
batu dihalaman parkir kendaraan wisatawan kawasan cibodas. Batu tersebut pernah
dihancurkan, namun bor mesin tidak mampu menghancurkannya. Dalam kawasan Kebun
Raya Cibodas, terdapat petilasan/ makam Eyang Haji Mintarasa.
Pangeran Suryakencana menyimpan hartanya dalam sebuah gua lawa/walet yang berada
di sekitar air terjun Cibeureum. Gua tersebut dijaga oleh Embah Dalem Cikundul. Tepat
berada di tengah-tengah air terjun Cibeureum ini terdapat sebuah batu besar yang konon
adalah perwujudan seorang pertapa sakti yang karena bertapa sangat lama dan tekun
sehingga berubah menjadi batu. Pada hari kiamat nanti barulah ia akan kembali berubah
menjadi manusia.