Anda di halaman 1dari 4

Pola Curah Hujan Indonesia

Pembagian pola iklim di Indonesia berdasarkan metode korelasi ganda. (diambil dari disertasi
Dr.Edvin Aldrian)

Region atau daerah A, pola curah hujannya berbentuk huruf U ( paling kiri), sedang pola Region
B, pola curah hujannya berbentuk huruf M ( tengah) dengan dua puncak curah hujan.Sedangkan
pola Region C berbentuk huruf U terbalik ( kanan) atau berkebalikan dengan Region A. Garis
merah merupakan curah hujan dalam milimeter sedangkan garis hitam merupakan deviasinya.
Region A: region monsoon tengara/Australian monsoon
Region B: region semi-monsoon/NE Passat monsoon
Region C :region anti-monsoon/Indonesian throughflow
Dalam literatur lain:

(Bayong,1999)
Region A :Type monsoon
Region B :Type ekuatorial
Region C : Type lokal
BMG Berdasarkan distribusi data rata-rata curah hujan bulanan, umumnya wilayah Indonesia
dibagi menjadi 3 (tiga) pola hujan, yaitu :
1. Pola hujan monsun, yang wilayahnya memiliki perbedaan yang jelas antara periode musim
hujan dan periode musim kemarau kemudian dikelompokan dalam Zona Musim (ZOM), tipe
curah hujan yang bersifat unimodial (satu puncak musim hujan,DJF musim hujan,JJA musim
kemarau).

2. Pola hujan equatorial, yang wilayahnya memiliki distribusi hujan bulanan bimodial dengan dua
puncak musim hujan maksimum dan hampir sepanjang tahun masuk dalam kreteria musim
hujan. Pola ekuatorial dicirikan oleh tipe curah hujan dengan bentuk bimodial (dua puncak
hujan) yang biasanya terjadi sekitar bulan Maret dan Oktober atau pada saat terjadi ekinoks.
3. Pola hujan lokal, yang wilayahnya memiliki distribusi hujan bulanan kebalikan dengan pola
monsun. Pola lokal dicirikan oleh bentuk pola hujan unimodial (satu puncak hujan), tetapi
bentuknya berlawanan dengan tipe hujan monsun.
Pa Pada kondisi normal, daerah yang bertipe hujan monsun akan mendapatkan jumlah curah
hujan yang berlebih pada saat monsun barat (DJF) dibanding saat monsun timur (JJA).P
Pengaruh monsun di daerah yang memiliki pola curah hujan ekuator kurang tegas akibat
pengaruh insolasi pada saat terjadi ekinoks, demikian juga pada daerah yang memiliki pola
curah hujan lokal yang lebih dipengaruhi oleh efek orografi .
Gambar dibawah ini merupakan pola curah hujan dari BMG:

Share
Artikel
indonesia/

dari: http://klastik.wordpress.com/2006/12/03/pola-umum-curah-hujan-di-

Pola umum curah hujan di Indonesia antara lain dipengaruhi oleh letak geografis. Secara rinci
pola umum hujan di Indonesia dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Pantai sebelah barat setiap pulau memperoleh jumlah hujan selalu lebih banyak daripada pantai
sebelah timur.
2. Curah hujan di Indonesia bagian barat lebih besar daripada Indonesia bagian timur. Sebagai
contoh, deretan pulau-pulau Jawa, Bali, NTB, dan NTT yang dihubungkan oleh selat-selat
sempit, jumlah curah hujan yang terbanyak adalah Jawa Barat.
3. Curah hujan juga bertambah sesuai dengan ketinggian tempat. Curah hujan terbanyak umumnya
berada pada ketinggian antara 600 900 m di atas permukaan laut.
4. Di daerah pedalaman, di semua pulau musim hujan jatuh pada musim pancaroba. Demikian juga
halnya di daerah-daerah rawa yang besar.
5. Bulan maksimum hujan sesuai dengan letak DKAT.
6. Saat mulai turunnya hujan bergeser dari barat ke timur seperti:
Pantai barat pulau Sumatera sampai ke Bengkulu mendapat hujan terbanyak pada bulan
November.
Lampung-Bangka yang letaknya ke timur mendapat hujan terbanyak pada bulan Desember.
Jawa bagian utara, Bali, NTB, dan NTT pada bulan Januari Februari.

7. Di Sulawesi Selatan bagian timur, Sulawesi Tenggara, Maluku Tengah, musim hujannya berbeda,
yaitu bulan Mei-Juni. Pada saat itu, daerah lain sedang mengalami musim kering. Batas daerah
hujan Indonesia barat dan timur terletak pada kira-kira 120( Bujur Timur. Grafik perbandingan
empat pola curah hujan di Indonesia dapat Anda lihat pada gambar dibawah ini.
Rata-rata curah hujan di Indonesia untuk setiap tahunnya tidak sama. Namun masih tergolong
cukup banyak, yaitu rata-rata 2000 3000 mm/tahun. Begitu pula antara tempat yang satu
dengan tempat yang lain rata-rata curah hujannya tidak sama.
Ada beberapa daerah yang mendapat curah hujan sangat rendah dan ada pula daerah yang
mendapat curah hujan tinggi:
1. Daerah yang mendapat curah hujan rata-rata per tahun kurang dari 1000 mm, meliputi 0,6%
dari luas wilayah Indonesia, di antaranya Nusa Tenggara, dan 2 daerah di Sulawesi (lembah Palu
dan Luwuk).
2. Daerah yang mendapat curah hujan antara 1000 2000 mm per tahun di antaranya sebagian
Nusa Tenggara, daerah sempit di Merauke, Kepulauan Aru, dan Tanibar.
3. Daerah yang mendapat curah hujan antara 2000 3000 mm per tahun, meliputi Sumatera
Timur, Kalimantan Selatan, dan Timur sebagian besar Jawa Barat dan Jawa Tengah, sebagian
Irian Jaya, Kepulauan Maluku dan sebagaian besar Sulawesi.
4. Daerah yang mendapat curah hujan tertinggi lebih dari 3000 mm per tahun meliputi dataran
tinggi di Sumatera Barat, Kalimantan Tengah, dataran tinggi Irian bagian tengah, dan beberapa
daerah di Jawa, Bali, Lombok, dan Sumba.
Hujan terbanyak di Indonesia terdapat di Baturaden Jawa Tengah, yaitu curah hujan mencapai
7,069 mm/tahun. Hujan paling sedikit di Palu Sulawesi Tengah, merupakan daerah yang paling
kering dengan curah hujan sekitar 547 mm/tahun.
Sebagai bahan perbandingan curah hujan di daerah lain :540 mm/tahun di Eropa sedangkan
dipedalaman 1250 mm/tahun, di Pegunungan Rocky 3400 mm/tahun, di pedalaman Amerika 400
mm/tahun. Daerah yang memiliki curah hujan tertinggi di Cherrapunji 10820 mm/tahun
( selama 1860-Juli 1861 memiliki curah hujan 2646,12 mm/tahun dan selama 5 hari berturutturut dibulan Agustus 1841 sebesar 38000 mm/tahun atau setara dengan curah hujan selama 4
tahun di New York), sedangkan di Puncak Gunung Waialeale di Kanai Tengah, Kepulauan Hawaii
sebesar 1175,84 mm/tahun.
Berdasarkan terjadinya, hujan dibedakan menjadi :
a. Hujan siklonal, yaitu hujan yang terjadi karena udara panas yang naik disertai dengan angin
berputar.
b. Hujan zenithal, yaitu hujan yang sering terjadi di daerah sekitar ekuator, akibat pertemuan
Angin Pasat Timur Laut dengan Angin Pasat Tenggara. Kemudian angin tersebut naik dan
membentuk gumpalan-gumpalan awan di sekitar ekuator yang berakibat awan menjadi jenuh
dan turunlah hujan.
c. Hujan orografis, yaitu hujan yang terjadi karena angin yang mengandung uap air yang bergerak
horisontal. Angin tersebut naik menuju pegunungan, suhu udara menjadi dingin sehingga
terjadi kondensasi. Terjadilah hujan di sekitar pegunungan.
d. Hujan frontal, yaitu hujan yang terjadi apabila massa udara yang dingin bertemu dengan massa
udara yang panas. Tempat pertemuan antara kedua massa itu disebut bidang front. Karena lebih
berat massa udara dingin lebih berada di bawah. Di sekitar bidang front inilah sering terjadi
hujan lebat yang disebut hujan frontal.

e. Hujan muson, yaitu hujan yang terjadi karena Angin Musim (Angin Muson). Penyebab terjadinya
Angin Muson adalah karena adanya pergerakan semu tahunan Matahari antara Garis Balik Utara
dan Garis Balik Selatan. Di Indonesia, secara teoritis hujan muson terjadi bulan Oktober sampai
April. Sementara di kawasan Asia Timur terjadi bulan Mei sampai Agustus.
Berikut merupakan rata-rata curah hujan Indonesia selama 32 tahun ( 1961-1993), pola curah
hujan ini sangat lengkap mengingat data yang digunakan sangat memadai 32 tahun (gambar
curah hujan ini merupakan hasil riset Dr.Edvin Aldrian).

Dari gambar tersebut dapat kita analisis bahwa:


Desember-Januari-Februari merupakan musim hujan yang ditandai dengan meningkatnya ratarata curah hujan. Sedangkan bulan Juni-Juli-Agustus merupakan musim kering yang ditandai
dengan berkurangnya rata-rata curah hujan.Bulan-bulan lainnya disebut sebagai musim
peralihan. Maju atau mundurnya musim hujan dan musim kemarau sangat di pengaruh oleh
berbagai fenomena meteorologi diantaranya: El Nino, dan La Nina .