Anda di halaman 1dari 19

Laporan Pendahuluan

Konstipasi

Konstipasi atau sembelit adalah terhambatnya defekasi (buang air besar) dari kebiasaan
normal. Dapat diartikan sebagai defekasi yang jarang, jumlah feses (kotoran) kurang, atau
fesesnya keras dan kering. Semua orang dapat mengalami konstipasi, terlebih pada lanjut usia
(lansia) akibat gerakan peristaltik (gerakan semacam memompa pada usus, red) lebih lambat dan
kemungkinan sebab lain. Kebanyakan terjadi jika makan kurang berserat, kurang minum, dan
kurang olahraga. Kondisi ini bertambah parah jika sudah lebih dari tiga hari berturut-turut.
Kasus konstipasi umumnya diderita masyarakat umum sekitar 4-30 persen pada
kelompok usia 60 tahun ke atas. Ternyata, wanita lebih sering mengeluh konstipasi dibanding
pria dengan perbandingan 3:1 hingga 2:1. Insiden konstipasi meningkat seiring bertambahnya
umur, terutama usia 65 tahun ke atas. Pada suatu penelitian pada orang berusia usia 65 tahun ke
atas, terdapat penderita konstipasi sekitar 34 persen wanita dan pria 26 persen. Konstipasi bisa
terjadi di mana saja, dapat terjadi saat bepergian, misalnya karena jijik dengan WC-nya, bingung
caranya buang air besar seperti sewaktu naik pesawat dan kendaraan umum lainnya.
Penyebab konstipasi bisa karena faktor sistemik, efek samping obat, faktor neurogenik
saraf sentral atau saraf perifer. Bisa juga karena faktor kelainan organ di kolon seperti obstruksi
organik atau fungsi otot kolon yang tidak normal atau kelainan pada rektum, anak dan dasar
pelvis dan dapat disebabkan faktor idiopatik kronik. Mencegah konstipasi secara umum ternyata
tidaklah sulit. Lagi-lagi, kuncinya adalah mengonsumsi serat yang cukup. Serat yang paling

mudah diperoleh adalah pada buah dan sayur. Jika penderita konstipasi ini mengalami kesulitan
mengunyah, misalnya karena ompong, haluskan sayur atau buah tersebut dengan blender.
1.2 Rumusan Masalah
Apa konsep teori dari konstipasi dan bagaimana asuhan keperawatan dalam menangani kasus
konstipasi?
1.3 Tujuan
Tujuan umum :
Mengetahui dan memahami konsep teori konstipasi dan asuhan keperawatan dalam menangani
kasus konstipasi
Tujuan khusus :
1.

Memahami definisi konstipasi

2.

Memahami patofisiologis konstipasi

3.

Memahami faktor- faktor risiko konstipasi pada usia lanjut

4.

Memahami manifestasi klinis konstipasi

5.

Memahami komplikasi konstipasi pada usia lanjut

6.

Memahami penatalaksanaan konstipasi

7.

Memahami web of causes konstipasi

8.

Memahami asuhan keperawatan pada konstipasi

1.4 Manfaaat
Memberikan konsep dasar teori tentang gangguan sistem gastrointestinal, yaitu diare dan
konstipasi pada lansia berdasarkan pertimbangan gerontik, beserta asuhan keperawatannya.
2.1 Definisi
Pada umumnya konstipasi sulit didefinisikan secara tegas karena sebagai suatu keluhan
terdapat variasi yang berlainan antara individu. Penggunaan istilah konstipasi secara keliru dan
belum adanya definisi yang universal menyebabkan lebih kaburnya hal ini. Biasanya konstipasi
berdasarkan laporan pasien sendiri atau konstipasi anamnestik dipakai sebagai data pada
penelitian-penelitian. Batasan dari konstipasi klinis yang sesungguhnya adalah ditemukannya
sejumlah besar feses memenuhi ampul rektum pada colok dubur, dan atau timbunan feses pada
kolon, rektum, atau keduanya yang tampak pada foto polos perut.
Studi epidemiologis menunjukkan kenaikan pesat dari konstipasi terkait dengan usia
terutama berdasarkan keluhan pasien dan bukan karena konstipasi klinis. Banyak orang mengira
dirinya konstipasi bila tidak buang air besar (BAB) tiap hari sehingga sering terdapat perbedaan
pandang antara dokter dan pasien tentang arti konstipasi itu sendiri.
Frekuensi BAB bervariasi dari 3 kali per hari sampai 3 kali per minggu. Secara umum,
bila 3 hari belum BAB, massa feses akan mengeras dan ada kesulitan samapi rasa sakit saat
BAB. Konstipasi sering diartikan sebagai. kurangnya frekuensi BAB, biasanya kurang dari 3 kali
per minggu dengan feses yang kecil-kecil dan keras, serta kadangkal disertai kesulitan sampai
rasa sakit saat BAB.

Orang usia lanjut seringkali terpancang dengan kebiasaan BABnya. Hal ini mungkin
merupakan kelanjutan dari pola hidup semasa kanak-kanak dan saat masih muda, dimana setiap
usaha dikerahkan untuk BAB teratur tiap hari, kalau perlu dengan menggunakan pencahar untuk
mendapatkan perasaan sudah bersih. Ada anggapan umum yang salah bahwa kotoran yang
tertimbun dalam usus besar akan diserap lagi, berbahaya untuk kesehatan, dan dapat
memperpendek usia. Ada pula yang mengkhawatirkan keracunan dari fesesnya sendiri bila dalam
jangka waktu tertentu tidak dikeluarkan.
Suatu batasan dari konstipasi diusulkan oleh Holson, meliputi paling sedikit 2 dari
keluhan di bawah ini dan terjadi dalam waktu 3 bulan :
a. konsistensi feses yang keras;
b. mengejan dengan keras saat BAB;
c. rasa tidak tuntas saat BAB, meliputi 25% dari keseluruhan BAB;
d. frekuensi BAB 2 kali seminggu atau kurang.
International Workshop on Constipation berusaha lebih jelas memberikan batasan
konstipasi. Berdasarkan rekomendasinya, konstipasi dikategorikan dalam dua golongan : 1)
konstipasi fungsional, 2) konstipasi karena penundaan keluarnya feses pada muara
rektisigmoid.Konstipasi fungsional disebabkan waktu perjalanan yang lambat dari feses,
sedangkan penundaan pada muara rektosigmoid menunjukkan adanya disfungsi anorektal. Yang
terakhir ditandai adanya perasaan sumbatan pada anus.

Definisi Konstipasi sesuai international workshop on constipation


No

Tipe

Kriteria

1.

Konstipasi FungsionalDua atau lebih dari keluhan ini ada paling sedikit dalam 12 bulan :

1. hambatan pada anus lebih dari 25%


1.
2.
3.
4.

mengedan keras 25% dari BAB


feses yang keras 25% dari BAB
rasa tidak tuntas 25% dari BAB
BAB kurang dari 2 kali per minggu

BAB
2. Penundaan pada muara rectum
3. waktu untuk BAB lebih lama
4. perlu bantuan jari-jari untuk
mengeluarkan feses

Model tinja atau feses 1 (konstipasi kronis), 2 (konstipasi sedang) dan 3 (konstipasi ringan) dari
Bristol Stool Chart yang menunjukkan tingkat konstipasi atau sembelit.

2.2 Patofisiologi
Defekasi seperti juga pada berkemih adalah suatu proses fisiologis yang menyertakan
kerja otot-otot polos dan serat lintang, persarafan sentral dan perifer, koordinasi dari sistem
refleks, kesadaran yang baik dan kemampuan fisis untuk mencapai tempat BAB. Kesukaran
diagnosis dan pengelolaan dari konstipasi adalah karena banyaknya mekanisme yang terlibat
pada proses BAB normal. Gangguan dari salah satu mekanisme ini dapat berakibat konstipasi.
Defekasi dimulai dari gerakan peristaltik usus besar yang menghantakan feses ke rektum
untuk dikeluarkan. Feses masuk dan meregangkan ampula dari rektum diikuti relaksasi dari

sfingter anus interna. Untuk meghindarkan pengeluaran feses yang spontan, terjadi refleks
kontraksi dari sfingter anus eksterna dan kontraksi otot dasar pelvis yang depersarafi oleh saraf
pudendus. Otak menerima rangsang keinginan untuk BAB dan sfingter anus eksterna
diperintahkan untuk relaksasi, sehingga rektum mengeluarkan isinya dengan bantuan kontraksi
otot dinding perut. kontraksi ini akan menaikkan tekanan dalam perut, relaksasi sfingter dan otot
elevator ani. Baik persarafan simpatis maupun parasimpatis terlibat dalam proses BAB.
Patogenesis dari konstipasi bervariasi, penyebabnya multipel, mencakup beberapa faktor
yang tumpang tindih. Walaupun konstipasi merupakan keluhan yang banyak pada usia lanjut,
motilitas kolon tidak terpengaruh oleh bertambahnya usia. Proses menua yang normal tidak
mengakibatkan perlambatan dari perjalanan saluran cerna. perubahan patofisiologi yang
menyebabkan konstipasi bukanlah karena bertambahnya usia tapi memang khusus terjadi pada
mereka dengan konstipasi.
Penelitian dengan petanda radioopak yang ditelan oleh orang usia lanjut yang sehat tidak
mendapatkan adanya perubahan dari total waktu gerakan usus, termasuk aktivitas motorik dari
kolon. Tentang waktu pergerakan usus dengan mengikuti petanda radioopak yang ditelan,
normalnya kurang dari 3 hari sudah dikeluarkan. Sebaliknya, penelitian pada orang usia lanjut
yang menderita konstipasi menunjukkan perpanjangan waktu gerakan usus dari 4-9 hari. Pada
mereka yang dirawat atau terbaring di tempat tidur, dapat lebih panjang lagi sampai 14 hari.
Petanda radioaktif yang dipakai terutama lambat jalannya pada kolon sebelah kiri dan paling
lambat saat pengeluaran dari kolon sigmoid.
Pemeriksaan elektrofisiologis untuk mengukur aktivitas motorik dari kolon pasien
dengan konstipasi menunjukkan berkurangnya respons motorik dari sigmoid akibat

berkurangnya inervasi intrinsic karena degenerasi plexus mienterikus. Ditemukan juga


berkurangnya rangsang saraf pada otot polos sirkuler yang dapat menyebabkan memanjangnya
waktu gerakan usus.
Individu di atas usia 60 tahun jug aterbukti mempunyai kadar plasma beta-endorfin yang
meningkat, disertai peningkatan ikatan pada reseptor opiate endogen di usus. Hal ini dibuktikan
dengan efek konstipatif dari sediaan opiate yang dapat menyebabkan relaksasi tonus kolon,
motilitas berkurang, dan menghambat refleks gaster-kolon.
Selain itu, terdapat kecenderungan menurunnya tonus sfingter dan kekuatan otot-otot
polos berkaitan dengan usia, khususnya pada perempuan. pasien dengan konstipasi mempunyai
kesulitan lebih besar untuk mengeluarkan feses yang kecil dan keras sehingga upaya mengejan
lebih keras dan lebih lama. Hal ini dapat berakibat penekanan pada saraf pudendus sehingga
menimbulkan kelemahan lebih lanjut.
Sensasi dan tonus dari rektum tidak banyak berubah pada usia lanjut. Sebaliknya, pada mereka
yang mengalami konstipasi dapat mengalami 3 perubahan patologis pada rektum :
1.

Diskesia Rektum
Ditandai dengan penurunan tonus rektum, dilatasi rektum, gangguan sensasi rektum, dan

peningkatan ambang kapasitas. Dibutuhkan lebih besar regangan rektum untuk menginduksi
refleks relaksasi dari sfingter eksterna dan interna. Pada colok dubur pasien dengan diskesia
rektum sering didapatkan impaksi feses yang tidak disadari karena dorongan untuk BAB sering
sudah tumpul. Diskesia rektum juga dapat diakibatkan karena tanggapnya atau penekanan pada
dorongan untuk BAB seperti yang dijumpai pada penderita demensia, imobilitas, atau sakit
daerah anus dan rektum

1.

Dis-sinergis Pelvis
Terdapatnya kegagalan untuk relaksasi otot pubo-rektalis dan sfingter anus eksterna saat

BAB. Pemeriksaan secara manometrik menunjukkan peningkatan tekanan pada saluran anus saat
mengejan.
1.

Peningkatan Tonus Rektum


Terjadi kesulitan mengeluarkan feses yang bentuknya kecil. Sering ditemukan pada kolon

yang spastik seperti pada penyakit Irritable Bowel Syndrome, dimana konstipasi merupakan hal
yang dominan.

2.3 Faktor- faktor risiko konstipasi pada usia lanjut


Dibutuhkan pengenalan faktor-faktor resiko yang berkaitan dengan konstipasi pada usia
lanjut untuk memahami masalah ini. Sebagai contoh, polifarmasi dapat menyebabkan konstipasi
karena beberapa golongan obat mempunyai potensi untuk hal ini. Beberapa kelainan neurologis
dan endokrin-metabolik juga dapat mengakibatkan konstipasi yang berat.
Faktor-faktor resiko konstipasi pada usia lanjut :

1.

Obat-obatan

yaitu golongan obat-obatan :

1.

Antikolinergik

2.

Narkotik

3.

Analgesik

4.

Diuretik

5.

NSAID

6.

Kalsium antagonis

7.

Preparat kalsium

8.

Preparat besi

9.

Antasida alumunium

10.

Penyalahgunaan pencahar

11.

Kondisi neurologis

1.

Stroke

2.

Penyakit Parkinson

3.

Traauma medulla spinalis

4.

Neorupati diabetik

12.

Gangguan metabolik

1.

Hiperkalsemia

2.

Hipokalemia

3.

Hipotiroid

13.

Kausa Psikologis

1.

Psikosis depresi

2.

Demensia

3.

Kurang privasi untuk BAB

4.

mengabaikan dorongan BAB

5.

konstipasi imajiner

14.

Penyakit-penyakit saluran cerna

1.

Kanker kolon

2.

Divertikel

3.

Illeus

4.

Hernia

5.

Volvulus

6.

Irritable Bowel Syndrome

7.

Rektokel

8.

Wasir

9.

Fistula atau Fissura ani

10.

Inersia kolon

15.

Lain-lain

1.

Diet rendah serat

2.

Kurang cairan

3.

Imobilitas atau kurang olahraga

4.

Bepergian jauh

5.

Pasca tindakan bedah perut

2.4 Manifestasi klinis


Anamnesis yang terperinci merupakan hal terpenting untuk mengungkapkan adakah
konstipasi dan faktor resiko penyebabnya. Konstipasi merupakan suatu keluhan klinis yang
umum dengan berbagai tanda dan keluhan lain yang berhubungan.
Pasien yang mengeluh konstipasi tidak selalu sesuai dengan patokan-patokan yang
obyektif. Misalnya jika dalam 24 jam belum BAB atau ada kesulitan dan harus mengejan serta
perasaan tidak tuntas untuk BAB sudah mengira dirinya menderita konstipasi.

Beberapa keluhan yang mungkin berhubungan dengan konstipasi adalah :


1.

Kesulitan memulai dan menyelesaikan BAB

2.

mengejan keras saat BAB

3.

Massa feses yang keras dan sulit keluar

4.

Perasaan tidak tuntas saat BAB

5.

Sakit pada daerah rektum saat BAB

6.

Rasa sakit pada perut saat BAB

7.

Adanya perembesen feses cair pada pakaian dalam

8.

Menggunakan jari-jari untuk mengeluarkan feses

9.

Menggunakan obat-obatan pencahar untuk bisa BAB


Pemeriksaan fisis pada konstipasi sebagian besar tidak didapatkan kelainan yang jelas.

Walaupun demikian, pemeriksaan fisis yang teliti dan menyeluruh diperlukan untuk menemukan
kelainan-kelainan yang berpotensi mempengaruhi khususnya fungsi usus besar. Diawali dengan
pemerikssaan rongga mulut meliputi gigi gerigi, adanya lesi selaput lendir mulut dan tumor yang
dapat mengganggu rasa pengecap dan proses menelan.
Pemeriksaan daerah perut dimulai dengan inspeksi adakah pembesaran abdomen,
peregangan atau tonjolan. Selanjutnya palpasi pada permukaan perut untuk menilai kekuatan
otot-otot perut. Palpasi lebih dalam dapat meraba massa feses di kolon, adanya tumor atau
aneurisma aorta. Pada perkusi dicari antara lain pengumpulan gas berlebihan, pembesaran organ,

asietes, atau adanya massa feses. Auskultasi antara lain untuk mendengarkan suara gerakan usus
besar, normal atau berlebihan misalnya pada jembatan usus. Pemeriksaan daerah anus
memberikan petunjuk penting, misalnya adakah wasir, prolaps, fisur, fistula, dan massa tumor di
daerah anus dapat mengganggu proses BAB.
Pemeriksaan colok dubur harus dikerjakan antara lain untuk mengetahui ukuran dan kondisi
rektum serta besar dan konsistensi feses.
Colok dubur dapat memberikan informasi tentang :
1.

Tonus rektum

2.

Tonus dan kekuatan sfingter

3.

Kekuatan otot pubo-rektalis dan otot-otot dasar pelvis

4.

Adakah timbunan massa feses

5.

Adakah massa lain (misalnya hemoroid)

6.

Adakah darah

7.

Adakah perlukaan di anus


Pemeriksaan laboratorium dikaitkan dengan upaya mendeteksi faktor-faktor resiko

penyebab konstipasi, misalnya glukosa darah, kadar hormon tiroid, elektrolit, anemia yang
berhubungan dengan keluarnya darah dari rektum, dan sebagainya. Prosedur lain misalnya
anuskopi dianjurkan dikerjakan secara rutin pada semua pasien dengan konstipasi untuk
menemukan adakah fisura, ulkus, wasir dan keganasan.

Foto polos perut harus dikerjakan pada penderita konstipasi, terutama yang terjadinya
akut. Pemeriksaan ini dapat mendeteksi adakah impaksi feses dan adanya massa feses yang keras
yang dapat menyebabkan sumbatan dan perforasi kolon. Bila diperkirakan ada sumbatan kolon,
dapat dilanjutkan dengan barium Enema untuk memastikan tempat dan sifat sumbatan.
Pemeriksaan intensif ini dikerjakan secara selektif setelah 3-6 bulan pengobatan konstipasi
kurang berhasil dan dilakukan hanya pada pusat-pusat pengelolaan konstipasi tertentu.
Uji yang dikerjakan dapat bersifat anatomik (enema, proktosigmoidoskopi, kolonoskopi)
atau fisiologik (waktu singgah di kolon, cinedefecografi, menometri, dan elektromiografi).
Proktosigmoidoskopi bisanya dikerjakan pada konstipasi yang baru tejadi sebagai pprosedur
penapisan adanya keganasan kolon-rektum. Bila ada penurunan berat badan, anemia, keluarnya
darah dari rektum atau adanya riwayat keluarga dengan kanker kolon perlu dikerjakan
kolonoskopi.
Waktu persinggahan suatu bahan radio-opak di kolon dapat diikuti dengan melakukan
pemeriksaan radioologis setelah menelan bahan tersebut. Bila timbunan zat ini terutama
ditemukan di rektum menunjukkan kegagalan fungsi ekspulsi, sedangkan bila di kolon
menunjukkan kelemahan yang menyeluruh.
Sinedefecografi adalah pemeriksaan radiologis daerah anaorektal untuk menilai evakuasi
feses secara tuntas, mengidentifikasi kelainan anorektal dan mengevaluasi kontraksi serta
relaksasi otot rektum. Uji ini memakai semacam pasta yang konsistensinya mirip feses,
dimasukkan ke dalam rektum. Kemudian penderita duduk pada toilet yang diletakkan dalam
pesawat sinar X. Penderita diminta mengejan untuk mengeluarkan pasta tersebut. Dinilai
kelainan anorektal saat proses berlangsung.

Uji manometri dikerjakan untuk mengukur tekanan pada rektum dan saluran anus saat
istirahat dan pada berbagai rangsang untuk menilai fungsi anorektal. pemerikasaan
elektromiografi dapat mengukur misalnya tekanan sfingter dan fungsi saraf pudendus, adakah
atrofi saraf yang dibuktikan dengan respon sfingter yang terhambat. Pada kebanyakan kasus
tidak didapatkan kelainan anatomik maupun fungsional, sehingga penyebab dari konstipasi
disebut sebagai non-spesifik.

2.5 Komplikasi Konstipasi Pada Usia Lanjut


Walaupun untuk kebanyakan orang usia lanjut, konstipasi hanya sekedar mengganggu,
tetapi untuk untuk sebagian kecil dapat berakibat komplikasi yang serius, misalnya impaksi
feses. Impaksi feses merupakan akibat dari terpaparnya feses pada daya penyerapan dari kolon
dan rektum yang berkepanjangan. Feses dapat menjadi sekeras batu, di rektum (70%),
sigmoid(20%), dan kolon bagian proksimal(10%).
Impaksi feses penyebab penting dari morbiditas pada usia lanjut, menigkatkan resiko
perawatan di rumah sakit dan mempunyai potensi terjadinya komplikasi yang fatal.
penampilannya sering hanya berupa kemunduran klinis yang tidak spesifik. kadang-kadang dari
pemeriksaan fisis didapatkan panas sampai 39,5 o, delirium perut yang tegang, suara usus
melemah, aritmia serta takipnia karena karena peregangan dari diafragma. pemeriksaan
laboratorium didapatkan leukositosis. peristiwa ini dapat disebabkan ulserasi sterkoraseus dari
suatu fecaloma yang keras menyebabkan ulkus dengan tepi yang nekrotik dan meradang. dapat
terjadi perforasi dan penderita datang dengan sakit perut berat yang mendadak.

Impaksi feses yang berat pada daerah rektosigmoid dapat menekan leher kandung kemih
menyebabkan retensio urin, hidronefrosis bilateral, dan kadangh-kadang gagal ginjal yang
membaik setelah impaksi dihilangkan titik. Inkontinensia alvi juga sering didapatkan, karena
impaksi feses di daerah kolorektal.
Volvulus daerah sigmoid juga sering terjadi sebagai komplikasi dari konstipasi. Mengejan
berlebihan dalam jangka waktu lama pada penderita dengan konstipasi dapat berakibat prolaps
dari rektum.

2.6 Penatalaksanaan
Banyaknya macam-macam obat yang dipasarkan untuk mengatasi konstipasi,
merangsang upaya untuk memberikan pengobatan secara simptomatik. Sedangkan bila mungkin,
pengobatan harus ditujukan pada penyebab dari konstipasi. Penggunaan obat pencahar jangka
panjang terutama yang bersifat merangsang peristaltik usus, harus dibatasi. Strategi pengobatan
dibagi menjadi :
1. Pengobatan non-farmakologis
1. Latihan usus besar : melatih usus besar adalah suatu bentuk latihan perilaku yang
disarankan pada penderita konstipasi yang tidak jelas penyebabnya. Penderita dianjurkan
mengadakan waktu secara teratur setiap hari untuk memanfaatkan gerakan usus besarnya.
dianjurkan waktu ini adalah 5-10 menit setelah makan, sehingga dapat memanfaatkan
reflex gastro-kolon untuk BAB. Diharapkan kebiasaan ini dapat menyebabkan penderita

tanggap terhadap tanda-tanda dan rangsang untuk BAB, dan tidak menahan atau
menunda dorongan untuk BAB ini.
2. Diet : peran diet penting untuk mengatasi konstipasi terutama pada golongan usia lanjut.
data epidemiologis menunjukkan bahwa diet yang mengandung banyak serat mengurangi
angka kejadian konstipasi dan macam-macam penyakit gastrointestinal lainnya, misalnya
divertikel dan kanker kolorektal. Serat meningkatkan massa dan berat feses serta
mempersingkat waktu transit di usus. untuk mendukung manfaa serat ini, diharpkan
cukup asupan cairan sekitar 6-8 gelas sehari, bila tidak ada kontraindikasi untuk asupan
cairan.
3. Olahraga : cukup aktivitas atau mobilitas dan olahraga membantu mengatasi konstipasi
jalan kaki atau lari-lari kecil yang dilakukan sesuai dengan umur dan kemampuan pasien,
akan menggiatkan sirkulasi dan perut untuk memeperkuat otot-otot dinding perut,
terutama pada penderita dengan atoni pada otot perut
2. Pengobatan farmakologis
a. Jika modifikasi perilaku ini kurang berhasil, ditambahkan terapi farmakologis,
dan biasnya dipakai obat-obatan golongan pencahar. Ada 4 tipe golongan obat
pencahar :
1.
2.

memperbesar dan melunakkan massa feses, antara lain : Cereal,


Methyl selulose, Psilium.
melunakkan dan melicinkan feses, obat ini bekerja dengan
menurunkan tegangan permukaan feses, sehingga mempermudah

3.

penyerapan air. Contohnya : minyak kastor, golongan dochusate.


golongan osmotik yang tidak diserap, sehingga cukup aman untuk
digunakan, misalnya pada penderita gagal ginjal, antara lain :
sorbitol, laktulose, gliserin

4.

merangsang peristaltik, sehingga meningkatkan motilitas usus besar. Golongan ini yang

banyak dipakai. Perlu diperhatikan bahwa pencahar golongan ini bisa dipakai untuk jangka
panjang, dapat merusak pleksusmesenterikus dan berakibat dismotilitas kolon. Contohnya
:Bisakodil, Fenolptalein.
Bila dijumpai konstipasi kronis yang berat dan tidak dapat diatasi dengan cara-cara
tersebut di atas, mungkin dibutuhkan tindakan pembedahan. Misalnya kolektomi sub total
dengan anastomosis ileorektal. Prosedur ini dikerjakan pada konstipasi berat dengan masa transit
yang lambat dan tidak diketahui penyebabnya serta tidak ada respons dengan pengobatan yang
diberikan. Pasa umumnya, bila tidak dijumpai sumbatan karena massa atau adanya volvulus,
tidak dilakukan tindakan pembedahan.

Daftar Pustaka
Mansjoer arif dkk, 2001 .kapita selecta kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius
Muhammad AS, 2010 . konstipasi lansia. Jakarta : In Books