Anda di halaman 1dari 5

Kamis, 14 Januari 2010

Sistem Perencanaan dan Pengendalian manajemen


Sistem Perencanaan dan Pengendalian manajemen
Era globalisasi ekonomi sekarang ini, perusahaan memasuki lingkungan bisnis yang sangat
berbeda dengan lingkungan bisnis sebelumnya. Pasar tidak lagi hanya dimasuki oleh pesaingpesaing domestik, namun telah didatangi oleh pesaing-pesaing mancanegara yang membawa
produk dan jasa yang sarat dengan kandungan persaingan. Selain membawa perubahan yang kita
secara nilai secara postif, globalisasi ekonomi ternyata membawa permasalahan yaitu
perusahaan-perusahaan yang tidak mempunyai struktur sistem pengendalian manajemen yang
baik akan tersisih, banyak sistem manajemen perusahaan yang tidak mampu beradaptasi dengan
arus perubahan dalam globalisasi ekonomi
.
Sistem pengendalian manajemen pada dasarnya suatu sistem yang digunakan oleh manajemen
untuk membangun masa depan organisasi. untuk membangun masa depan organisasi, perlu
ditentukan lebih dahulu dalam bisnis apa organisasi akan berusaha. Jabawan atas pertanyaan
tersebut merupakan misi organisasi dengan demikian misi organisasi merupakan the chosen track
untuk membawa organisasi mewujudkan masa depannya. Diharapkan dengan dilaksanakannnya
struktur sistem manajemen akan tercipta visi dan misi organisasi perusahaan kemudian
mengimplementasikannya.
Permasalahan yang timbul dalam implementasi struktur sistem pengendalian manajemen yang
dapat diidentifikasikan sekarang ini adalah terletak pada kelemahan struktur dan kelemahan
proses. Sistem pengendalian manajemen tidak dapat mewujudkan tujuan sistem kemungkinan
karena strukturnya tidak pas dengan lingkungan yang dihadapi perusahaan, dapat juga terjadi
tujuan sistem pengendalian manajemen tidak tercapai karena proses sistem pengendalian
manajemennya lemah.
Dampak yang timbul dikarenakan perusahaan tidak memberlakukan struktur sistem
pengendalian manajemen antara lain organisasi perusahaan akan kesulitan menghadapi berbagai
perubahan tajam radikal, konstan, pesat, serentak sehingga roda organisasi tidak akan jalan dan
tidak dapat membuat berbagai perencanaan, tidak dapat memprediksi target organisasi ke
depannya
Untuk menghadapinya diperlukan struktur sistem pengendalian manajemen dimulai dari
pengamatan dan pengindetifikasian memacu perubahan (change drivers) yang berdampak
terhadap karakteristik lingkungan yang akan dimasuki perusahaan.) Struktur sistem merupakan
komponen-komponen yang berkaitan erat satu dengan lainnya yang secara bersama-sama
digunakan untuk mewujudkan tujuan sistem seperti yang dikatakan Mulyadi, Johny (2001 : 8)
bahwa struktur pengendalian manajemen terdiri dari tiga komponen yaitu Struktur organisasi,
Jejaring informasi dan Sistem penghargaan. Rerangka pendesainan struktur sistem pendesainan
pengendalian manajemen mempergunakan pendekatan contigency approach dan human resource
leverage.

Permasalahan struktur sistem pengendalian manajemen penting untuk dikaji karena memberikan
harapan yaitu kemampuan bagi manajemen perusahaan untuk memetakan secara komprehensif
lingkungan bisnis yang akan dimasuki oleh organisasi perusahaan di masa depan, melakukan
perubahan dengan cepat peta perjalanan tersebut sesuai dengan tuntutan perubahan yang
diperkirakan akan terjadi dan melipatgandakan kinerja perusahaan sebagai institusi pencipta
kekayaan, sehingga perusahaan memiliki kemampuan yang luar biasa besarnya untuk senantiasa
melakukan perubahan yang diperlukan.
Struktur Sistem Pengendalian Manajemen
Struktur sistem pengendalian manajemen merupakan komponen-komponen yang berkaitan
dengan lainnya yang secara bersama-sama membentuk sistem. Setiap komponen dalam struktur
memiliki fungsi tertentu untuk mencapai tujuan sistem. Struktur yang sehat adalah struktur
sistem yang setiap komponennya didesain sesuai dengan tuntutan lingkungan bisnis yang akan
diterapi sistem tersebut.
Dalam membangun struktur organisasi dibangun berdasarkan fungsi yang dituntut dari organisasi
yang bersangkutan, jika organisasi dibangun untuk memasuki lingkungan bisnis yang menuntut
kecepatan pengambilan keputusan yang di dalamnya costumer memegang kendali bisnis dan
yang mempekerjakan knowlegde workes, struktur organisasi yang pas dengan fungsi organisasi
tersebut adalah yang memiliki karakteristik, cepat respon, fleksibel dan inovatif.
Struktur sistem pengendalian manajemen diperlukan oleh organisasi perusahaan karena menuntut
semua perusahaan yang memasukil lingkungan tersebut memiliki kekuatan lebih untuk bersaing.
Agar dapat dipilih oleh costumer, produk dan jasa perusahaan harus memiliki keunggulan tidak
akan bertahan lama, karena pesaing akan mencari berbagai cara untuk menghasilkan value
terbaik bagi costumer. Oleh karena itu, untuk tetap bertahan dan bertumbuh di lingkungan bisnis
yang kompetitif, perusahaan dituntut untuk secara berkelanjutan menemukan kembali
keunggulan daya saing.
Untuk dapat bertahan dan bertumbuh dalam lingkungan bisnis yang kompetitif, organisasi
perusahaan tidak cukup hanya mampu menjadi pencipta kekayaan (wealth-creating institution)
namun, dituntut untuk memiliki kemampuan jauh lebih dari itu, perusahaan dituntut untuk
menjadi institusi pelipatgandaan kekayaan (wealth-multiplying institution) untuk membangun
kemampuan perusahaan sebagai pelipat gandaan kekayaan,
manajemen perlu memanfaatkan sistem manajemen yang khusus didesain untuk tujuan
pelipatgandaan kekayaan.
Sistem pengendalian yang efektif adalah sistem yang diarahkan kepada dua penyebab,
diperlukannya pengendalian ketidakmampuan personel dalam mencapai tujuan organisasi
melalui perilaku yang diharapkan, ketidak mampuan personel di dalam mencapai tujuan dapat
dtingkatkan melalui pendidikan dan pelatihan, serta penyediaan teknologi memadai, ketidak
mampuan personel dalam mencapai tujuan organisasi melalui prilaku yang diharapkan dapat
dikurangi atau dihilangkan melalui :
1.Perumusan Misi, visi, keyakinan dasar dan nilai dasar organisasi secara jelas.

2.Pengkomunikasian misi, visi, keyakinan dasar dan nilai dasar organisasi kepada personel
perusahaan melalui
personal behaviors para leaders organisasi dan operational behavior.
Melalui proses internalisasi, misi, visi, keyakinan dasar dan nilai dasar organisasi dapat tertanam
di dalam diri seluruh personel menjadi shared mission, shared vision, shared beliefs dan shared
values.Shared mission, shared vision, shared belief dan shared values menjadikan karyawan
berdaya untuk mengendalikan perilakunya sesuai dengan yang diharapkan di dalam mencapai
tujuan yang telah ditetapkan.
Sistem pengendalian manajemen juga menyediakan berbagai sistem untuk melaksanakan proses
perencanaan dan implementasi rencana. Melalaui sistem pengendalian manajemen, keseluruhan
kegiatan utama untuk menjadikan perusahaan sebagai institusi pencipta kekayaan dapat
dilaksanakan secara terstruktur, terkoordinasi, terjadwal dan terpadu sehingga menjanjikan
tercapainya tujuan perusahaan-perusahaan bertambahnya kekayaan dalam jumlah yang memadai
Proses Struktur Sistem Pengendalian Manajemen
Proses sistem pengendalian manajemen terdiri dari enam tahap utama berikut ini :
1.Perumusan Strategi
Tahap perumusan strategi adalah tahap yang sangat menentukan kelangsungan hidup dan
pertumbuhan organisasi. Dalam tahap ini dilakukan pengamatan terhadap tren perubahan
lingkungan makro dan lingkungan industri. Berdasarkan hasil pengamatan terhadap tren tersebut
dilakukan perumusan, misi, visi, tujuan, keyakinan dasar, dan nilai organisasi.
2.Perencanaan Strategik
Setelah perusahaan merumuskan tentang strategi yang dipilih untuk mewujudkan visi dan misi
melalui organisasi, strategi tersebut kemudian perlu diimplementasikan. Langkah pertama adalah
melaksanakan perencanaan strategik, dalam langkah ini strategi yang telah dirumuskan
diterjemahkan ke dalam neraca strategik yang komprehensif dan koheren, yang terdiri dari tiga
komponen : sasaran strategik, target, inisiatif strategic
3.Penyusun Program
Penyusunan program adalah proses penyusunan rencana jangka panjang untuk menjabarkan
inisiatif strategik yang dipilih untuk mewujudkan sasaran strategik. Pelaksanaan inisiatif
strategik memerlukan perencanaan sistematik langkah-langkah yang akan ditempuh oleh
perusahaan dalam jangka panjang ke depan beserta taksiran sumber daya yang diperlukan untuk
program, suatu rencana jangka panjang yang berisi langkah-langkah strategik yang dipilih untuk
mewujudkan sasaran strategik tertentu beserta taksiran sumberdaya yang diperlukan
.
4.Penyusunan Anggaran
Penyusunan program adalah proses penyusunan rencana jangka panjang untuk menjabarkan
inisiatif strategik yang dipilih untuk mewujudkan sasaran strategik. Pelaksanaan inisiatif
strategik memerlukan perencanan sistematik langkah-langkah yang akan ditempuh oleh
perusahaan dalam jangka panjang ke depan beserta taksiran sumberdaya yang diperlukan untuk
menjalankan langkah-langkah tersebut. penyusunan program menghasilkan program, suatu

rencana jangka panjang yang berisi langkah-langkah strategik yang dipilih untuk mewujudkan
sasaran strategik tertentu beserta taksiran sumberdaya yang diperlukan untuk itu.
Penyusunan anggaran adalah proses penyusunan rencana jangka pendek (biasanya untuk jangka
waktu satu tahun) yang berisi langkah-langkah yang ditempuh oleh perusahaan dalam
melaksanakan sebagian dari program dalam penyusunan anggaran dijabarkan program tertentu
ke dalam rencana kegiatan yang akan dilaksanakan dalam tahun anggaran, ditunjukkan manajer
dan karyawan yang bertanggung jawab dan dialokasikan sumberdaya untuk melaksanakan
kegiatan tersebut.
5.Implementasi
Setelah rencana menyeluruh selesai disusun, langkah berikutnya adalah implementasi rencana.
Dalam tahap implementasi rencana ini, manajemen dan karyawan melaksanakan rencana yang
tercantum dalam anggaran ke dalam kegiatan nyata. Oleh karena anggaran adalah bagian dari
program, dan program merupakan penjabaran sasaran strategik dipilih sebagai penjabaran
strategi yang dirumuskan, maka dalam implementasi rencana, manajemen dan karyawan harus
senantiasa menyadari keterkaitan erat diantara implementasi, anggaran, program, inisiatif,
sasaran strategik dan strategi. Kesadaran demikian akan mempertahankan langkah-langkah rinci
yang dilaksanakan dalam tahap implementasi tetap dalam rerangka yang dipilih untuk
mewujudkan visi organisasi.
6.Pemantauan
Implementasi rencana memerlukan pemantauan, hasil setiap langkah yang direncanakan perlu
diukur untuk memerlukan umpan balik bagi pemantauan pelaksanaan anggaran, program, dan
inisiatif strategik. Hasil implementasi rencana juga digunakan untuk memberikan informasi bagi
pelaksana tentang seberapa jauh target telah berhasil dicapai, sasaran strategik telah berhasil
diwujudkan dan visi organisasi dapat dicapai.

LAPORAN SUMBER DAYA MANUSIA DALAM LAPORAN KEUANGAN

Tujuan laporan sumber daya manusia dalam laporan keuangan bertujuan untuk
menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi
keuangan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan
ekonomi. Laporan keuangan juga merupakan apa yang telah dilakukan manajemen atau
pertanggungjawaban manjemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya.
Pada saat ini laporan keuangan yang disusun sesuai dengan Akuntansi yang berlaku
umum (GAAP/General Accepted Accounting Principle), yang di Indonesia dinamakan PrinsipPrinsip Akuntansi Indonesia tidak menunjukkan nilai manusia dalam organisasi. Laporan
keuangan melaporkan biaya yang didepresiasi dari aktiva sebagai suatu pengganti untuk nilai dan
laporan keuangan tidak memberikan informasi pada pihak luar yang berkepentingan misalnya
investor dari suatu organisasi mengenai investasi dalam aktiva manusia. Akuntansi konvensional
memperlakukan investasi dalam sumber daya manusia sebagai biaya (cost) dari pada aktiva
(asset), berakibat pada perhitungan laba rugi dan neraca menjadi tidak akurat, karena akuntansi
memperlakukan semua pengeluaran yang dilakukan untuk memperoleh atau mengembangkan
sumber daya manusia sebagai biaya selama periode terjadi, dari pada mengkapitalisasi dan
mengamortisasi biaya-biaya tersebut selama masa manfaatnya. Neraca menjadi tidak akurat
karena nominal yang diberi nama Aktiva Total tidak termasuk aktiva manusia organisasi.
Sebab tidak ada indikasi dari investasi actual organisasi dalam aktiva manusia.
Ketidakakuratan dalam penyajian informasi laporan keuangan diatas menyebabkan tidak
akuratnya pengukuran ROI (Return On Investment). Konsep ROI adalah variabel yang krusial
dalam keputusan rasio laba bersih terhadap aktiva total. Laba bersih dalam analisis ROI
mencerminkan kamampuan pihak manajemen dalam mengelola biaya, penjualan dan perubahan
investasi Helfert (Tunggal, Akuntansi Sumber Daya Manusia, Human Resource Accounting,
Jakarta, 1994). ROI menjadi tidak akurat dapat menyebabkan investor melakukan penilaian
yang keliru dalam melihat kinerja pihak manajemen.