Anda di halaman 1dari 25

FISIKA MATERIAL

KARAKTERISTIK, APLIKASI, DAN PROSES PEMBUATAN POLIMER

OLEH :
Kelompok: 12
1.

Mochamad Fatchur Rozi

(120322402573 )

2.

Muhammad Syawaluddin A. (120322420484)

3.

Muhammad Ali Zain

(120322420495)

JURUSAN FISIKA
FAKULATAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
November 2014

1. Grafik Karakteristik Tegangan (Stress) Regangan (Strain) untuk Tiga Macam Polimer
Sifat mekanik polimer ditandai dengan menggunakan parameter yang sama dengan logam, yaitu
modulus elastisitas, yield, dan tensile strength. Kebanyakan material polimer diuji dengan tes sederhana
untuk mengetahui karakteristik stress-stain untuk beberapa parameter yang sama. Sifat mekanik polimer
sebagian besar memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap deformasi (laju starin), suhu, dan sifat alami
lingkungan ( kesediaan unsur oksigen dan pelarut organik). Beberapa modifikasi untuk pengujian dan
spesimen yang biasa digunakanuntuk logam juga digunakan untuk polimer khususnya untuk material yang
memilikielastisitas tinggi seperti karet.

Untuk mengetahui karakteristik stress-stain dapat dilakukan dengan uji tarik. Dari uji tarik, data yang
diperoleh adalah plot tegangan-regangan, dengan persamaan:
tegangan (stress): s = F / A0, dan
regangan (strain) : e = (L - L0) / L0
keterangan:
s

: tegangan atau stress (N/mm2 atau MPa)

F : beban atau load (Newton, N)


A0 : luas penampang (mm2)
e

: regangan atau strain (mm/mm atau persentase)

L : panjang setelah ditarik (mm), dan


L0 : panjang awal (mm).
Kurva tegangan-regangan dapat digunakan mendeskripsikan sifat-sifat mekanik suatu bahan. Salah
satu sifat yang dapat ditentukan dalam uji tarik ini adalah ukuran kekuatan dari suatu bahan, yaitu dengan
memperhatikan pernyataan hukum Hooke:
s = Ee

Dimana E = modulus elastisitas, yaitu suatu besaran yang mendiskripsikan ukuran kekakuan dari satu
bahan.
Berikut ini merupakan prosedur dalam uji tarik:
Ketika dilakukan uji tarik, benda uji akan bertambah panjang, sementara diameternya mengecil.

A0 = luas penampang awal


L0 = panjang awal
A = luas penampang setelah ditarik
L = panjang setelah ditarik

spesimen memanjang [stretches] :(2) (3)


timbul takikan [neck] : (4)
lalu putus (fractures) : (5)
Modulus elastisitas adalah konstanta yang nilainya berbeda untuk setiap bahan. Makin kuat suatu bahan,
makin tinggi nilai E-nya, karena untuk membuatnya bertambah panjang, diperlukan beban yang lebih besar.
Berikut ini adalah kurva karakteristik tegangan-regangan untuk 3 polimer, yaitu polimer rapuh,
polimer plastis serta polimer yang sangat elastis:

Grafik A untuk polimer rapuh, grafik B untuk polimer plastik., serta grafik C untuk polimer sangat
elastis (elastomer).
Penjelasan untuk masing-masing kurva:

kurva A

kurva A merupakan kurva karakteristik tegangan-regangan untuk polimer yang rapuh. Terlihat bahwa
kurva A merupakan kurva linier yang mendekati garis lurus (vertikal), ini menunjukkan bahwa gradien
dari kurva ini sangat kecil. Berdasarkan hukum hooke yang telah dibahas sebelumnya gradien dari
kurva tegangan-regangan merupakan modulus elastisitas, yaitu besaran yang menunjukkan ukuran
kekakuan suatu bahan. Dari sini dapat disimpulkan bahwa modulus elastisitas bahan A sangat kecil
atau tingkat kekakuannya sangat rendah. Pada polimer rapuh terjadi fraktur selama deformasi elastis.

Kurva B
Kurva B merupakan kurva karakteristik tegangan-regangan untuk polimer plastis. Karakteristik pada
polimer ini hampir mirip dengan kebanyakan karakteristik pada logam.

Pada elastic region, hubungan s dan e, yaitu:


bersifat linier
Ketika beban dilepaskan, panjang bahan akan kembali ke panjang asal
Pada plastic region:
ketika beban dilepaskan, panjang bahan tidak kembali ke asal, jadi tetap sama posisinya seperti
ketika ditarik terakhir.

Batas antara elastic region dan plastic region adalah titik y (yield point, yield stress, yield
strength). Ketika beban mencapai maksimum, tegangan mencapai yangdisebut tensile strength (TS).
Setelah itu, akan terjadi necking, lalu fracture.

Ductility adalah kemampuan bahan untuk menahan regangan, tanpa mengalami fracture. Sifat
ini perlu diperhatikan sebelum melakukan proses manufaktur.
Kurva C
Kurva C merupakan kurva karakteristik tegangan-regangan untuk polimer yang benar-benar elastis
(plastis). pada polimer jenis ini strain yang besar dapat dipulihkan pada tingkat stress yang rendah.
Polimer dengan elastisitas tabg tinggi ini juga disebut elastomer.

Karakteristik mekanik dari polimer jauh lebih sensitif terhadap perubahan suhu mendekati suhu kamar.
Berikut

ini

(gambar

15.3)

merupakan

kurva

karakteristik

tegangan-regangan

untuk

poli(metilmetaklirat)(kaca) antara suhu 4 dan 60 C (40 sampai 140 F). Kenaikan temperatur menghasilkan:
a) Penurunan modulus elastisitas
b) Penurunan kekuatan tarik
c) Kenaikan ductility
Pada temperatur 4 C
(40 F) bahan benar-banar rapuh, sedangkan pada suhu 50 dan 60 C (122 dan
140 F) ada deformasi plastis yang cukup besar.

Pengaruh laju regangan juga penting untuk sifat mekanik bahan. Secara umum, penurunan laju
deformasi memiliki pengaruh yang sama pada karakteristik tegangan-regangan seperti peningkatan suhu,
yaitu, material menjadi lebih lembut dan lebih ulet.
2. Tahapan Deformasi Elastis dan Deformasi Plastis pada Semicrystalline Suatu (Spherulitic) Polimer.
Tahapan deformasi elastis dan deformasi plastis pada semikristalin suatu polimer pada suatu bahan
didiskripsikan melalui grafik tegangan-regangan seperti berikut ini:

Beberapa aspek makroskopik deformasi polimer semikristal patut kita perhatikan. Kurva tarik antara
tegangan dan regangan untuk bahan semikristal pada awalnya tidak mengalami deformasi. Diatas titik yeald,
bentuk leher kecil di dalam bagian alat ukur. Rantai mengalami orientasi yaitu rantai sumbu menjadi sejajar
dengan arah pemanjangan yang mengarah pada penguatan lokal (dapat dilihat pada gambar 15.13d).
Akibatnya, ada perlawanan untuk mengalami deformasi pada titik ini dan hasil pemanjangan spesimen oleh
propagasi daerah leher ini sepanjang panjang ukur, fenomena orientasi rantai menyertai ekstensi pada leher.

3. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SIFAT MEKANIK DARI SUATU BAHAN


POLIMER (sub bab 15.8)
Sifat mekanik dari sebuah bahan polimer dapat dipengaruhi oleh beberapa hal yang struktural atau
pemrosesan. Sifat mekanik yang dimaksud disini adalah tentang sifat kekuatan dan modulus dari bahan
polimer itu sendiri. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi sifat mekanik dari polimer antara lain:
Berat Molekul
Berat molekul dari polimer tidak terlihat secara langsung mepengaruhi sifat modulusnya. Namun,
beberapa penelitian telah membuktikan bahwa kekuatan suatu polimer akan bertambah seiring
bertambahnya berat molekul. Hal ini dikarenakan Panjang rata-rata dari rantai polimer dapat dilihat
dari berat molekul (molecular weight) polimer. Berat molekul dari polimer pada dasarnya adalah
penjumlahan dari berat molekul-molekul mer-nya. Jadi semakin tinggi berat molekul dari suatu
polimer tertentu, semakin besar panjang rata-rata dari rantai polimernya. Makin bertambahnya panjang
rantai, maka jumlah tempat (sites) yang berinteraksi di anatara berbagai rantai tersebut juga akan

bertambah. Hal ini menyebabkan sifat kimia, fisika, dan mekanik dari suatu polimer akan bervariasi.
Manfaat dari mengetahui berat molekul polimer antara lain:

Menentukan aplikasi polimer tersebut

Sebagai indikator dalam sintesa dan proses pembuatan produk polimer

Studi kinetika reaksi polimerisasi

Studi ketahanan produk polimer dan efek cuaca terhadap kualitas produk
Secara matematis kekuatan tarik dari sebuah polimer dapat dituliskan sebagai berikut :

Dimana,
merupakan keuatan tarik berat molekul tak terbatas
merupakan jumlah molekul rata-rata
A

merupakan ksebuah konstanta

Derajat Kristalinitas
Untuk polimer tertentu, derajat kristalinitas dapat memiliki pengaruh yang signifikan terhadap
sifat mekanik, karena mempengaruhi sejauh mana ikatan antarmolekul sekunder. Untuk daerah kristal
di mana rantai molekul yang dikemas/ tersusun erat dalam suatu pengaturan teratur dan paralel, ikatan
sekunder ekstensif biasanya ada antara segmen rantai yang berdekatan. Sebagai akibatnya, untuk
polimer semicrystalline, modulus tariknya akan meningkat secara signifikan dengan derajat
kristalinitas. Selain itu, meningkatkan kristalinitas dari polimer umumnya akan meningkatkan
kekuatan namun material cenderung menjadi lebih rapuh.
Pre-Deformasi Dengan Penarikan (drawing)
Salah satu cara yang paling sering digunakan untuk meningkatkan kekuatan mekanik dan modulus
tarik dari suatu bahan polimer adalah dengan deformasi permanen pada polymer. Metode ini biasa
disebut dengan penarikan (Drawing). Proses ini sesuai dengan proses perpanjangan leher yang
tegambar sebagai berikut :

Selama proses penarikan(Drawing) rantai-rantai molekular menyelinap melewati satu sama lain dan
menjadi sangat berorientasi, karena rantai bahan semicrystalline mengasumsikan konformasi yang
sama dengan Gambar

Derajat kekuatan dan kekakuan dari suatu polimer bergantung pada tingkat deformasi (ekstensi)
dari bahan itu sendiri. Sifat bahan yang telah mengalami proses drawing sangatlah anisotropic. Untuk
bahan yang ditarik dalam ketegangan uniaksial, modulus tarik dan nilai-nilai kekuatan secara
signifikan lebih besar dalam arah deformasi dibandingkan lainnya. Untuk polimer amorf pada suhu
tinggi, struktur molekul terorientasi dipertahankan hanya ketika material didinginkan dengan cepat ke
ambient, prosedur ini menimbulkan efek penguatan dan kaku dijelaskan dalam paragraf sebelumnya.
Di sisi lain, jika, setelah peregangan, polimer ini tempatkan pada suhu drawing, rantai molekul akan
relaks sebagai akibatnya, proses penarikan tidak akan berpengaruh pada karakteristik mekanik
material.
Perlakuan Panas
Perlakuan panas (anniling) pada polymer semikristalin dapat menyebabkan adanya peningkatan persen
kristalinitas, ukuran kristal, dan kesempurnaan serta struktur sferulit.
Untuk bahan undrawn (tidak ditarik ) yang diberi perlakuan panas pada waktu konstan, peningkatan
suhu anniling dapat memicu beberapa hal antara lain :
Meningkatnya modulus tarik

Meningkatnya yield strenght


Penurunan duktilitas (keuletan)
Untuk beberapa serat polimer yang telah ditarik, peningkatan suhu anniling memberikan dampak yang
berlawanan dengan bahan polimer yang tidak mengalami penarikan, yaitu turunnya nilai modulus tarik
bahan karena bahan kehilangan orientasi rantai dan mengalami keregangan yang diakibatkan
kristalinitas.
4. DEFORMATION OF ELASTOMERS (Describe the molecular mechanism by which elastomeric
polymers deform elastically.)
Salah satu sifat menarik dari material elastomeric adalah karet, karena bersifat elastisitas. Artinya,
mereka memiliki kemampuan untuk mengubah bentuk cukup besar dan kemudian secara elastis kembali ke
bentuk aslinya. Ini merupakan hasil dari persilangan dalam polimer yang memberikan gaya untuk
mengembalikan rantai ke bentuk asal.
Dalam keadaan tanpa tekanan, elastomer tidak akan terbentuk dan menyusun rantai silang molekul
yang rangkaiannya sangat membelit, tertekuk, dan melingkar. Deformasi elastis,merupakan aplikasi dari
regangan sebuah beban. Setelah pelepasan tekanan, rangakaian kembali ke posisi atau keadaan saat sebelum
mendapatkan tekanan, dan bagian makroskopik kembali ke bentuk aslinya.
Bagian dari gaya pendorong untuk deformasi elastis merupakan parameter termodinamika, yang
disebut entropi (merupakan ukuran dari tingkat keadaan yang tidak teratur dalam sistem). Entropi dapat
meningkat dengan meningkatnya tingkat keadaan yang tidak teratur. Sebagai sebuah elastomer peregangan
dan pelurusan rangkaian menjadi lebih selaras, sehingga sistem menjadi lebih teratur. Dua fenomena menarik
hasil dari efek entropis. Pertama, ketika meregang, elastomer mengalami kenaikan suhu, kedua, modulus
elastisitas meningkat dengan meningkatnya suhu, yang berlawanan dengan perilaku yang ditemukan dalam
bahan lainnya. Beberapa kriteria yang harus dipenuhi untuk menjadi polimer elastomer:
(1) Tidak mudah mengkristal, bahan elastomer tidak berbentuk, memiliki rantai molekul alami yang
menggulung dan tertekuk pada keadaan tanpa tekanan.
(2) Rantai ikatan rotasi harus relatif bebas untuk rantai yang menggulung agar siap bereaksi terhadap
gaya yang diterapkan.
(3) Elastomer mengalami deformasi elastis relatif besar yang pada awalnya deformasi plastik harus
tertunda.
(4) Elastomer harus berada di atas suhu transisi kaca (antara 50 C dan 90 C.)

5. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PELEBURAN DAN TRANSISI SUHU GLASS


Peleburan pada sebuah kristal polimer sama dengan transformasi dari solid
material,yang memiliki struktur molekul selaras dan berantai,sedangkan

untuk sebuah cairan kental

strukturnya sangat acak. Fenomena ini terjadi, saat pemanasan, pada suhu leleh (Tm). Sehingga jelaslah
bahwa peleburan (melting) merupakan fungsi dari laju pemanasan, peningkatan suhu leleh.
Transisi kaca terjadi dalam polimer amorf (atau glass) dan semicrystalline dan karena pengurangan
gerak segmen besar rantai molekul dengan penurunan temperatur. Setelah pendinginan, transisi kaca sesuai

dan bertahap dari transformasi suatu cairan dengan bahan karet dan akhirnya menjadi padat dan kaku. Suhu
di mana polimer mengalami transisi dari karet untuk
kembali kaku disebut suhu transisi gelas, Tg.
Peleburan dan transisi suhu glass dipengaruhi oleh empat karakteristik atau komponen struktural dari
polimer yaitu:
1. Sisi kelompok berukuran besar
Ukuran dan jenis kelompok side mempengaruhi rantai rotasi kebebasan dan fleksibilitas, sisi kelompok
yang besar cenderung untuk membatasi rotasi molekul dan meningkatkan Tm serta Tg.
2.

Gugus polar
Keberadaan gugus polar (Cl, OH, dan CN), meskipun tidak terlalu besar,akan tetapi menyebabkan
gaya ikat antarmolekul yang signifikan dan Tms yang relatif tinggi

3. Ikatan ganda dan kelompok aromatik pada polimer, yang cenderung menyebabkan rantai polimer kaku
dan polimer menurunkan kekuatan fleksibilitas rantai serta menyebabkan peningkatan Tm an Tg.
4. Peningkatan berat molekul juga cenderung menaikkan suhu transisi gelas (Tg) dan juga suhu peleburan
(Tm).
Yaitu jika berat molekulnya meningkat,maka suhu transisi glass akan meningkat pula,begitu juga
sebaliknya.

6. Tujuh Aplikasi Polimer


a. Plastik
Plastik

merupakan

polimer yang dapat dicetak menjadi berbagai bentuk yang berbeda. Berdasarkan sifat termal,
plastik dibedakan menjadi 2, yaitu:
Termoplastik
Polimer termoplastik adalah polimer yang mempunyai sifat tidak tahan terhadap panas. Jika
polimer jenis ini dipanaskan, maka akan menjadi lunak dan didinginkan akan mengeras. Proses
tersebut dapat terjadi berulang kali, sehingga dapat dibentuk ulang dalam berbagai bentuk melalui
cetakan yang berbeda untuk mendapatkan produk polimer yang baru.
Polimer yang termasuk polimer termoplastik adalah jenis polimer plastik. Jenis plastik ini tidak
memiliki ikatan silang antar rantai polimernya, melainkan dengan struktur molekul linear atau
bercabang.
Polimer termoplastik memiliki sifat sifat khusus sebagai berikut:

Berat molekul kecil

Tidak tahan terhadap panas

Jika dipanaskan akan melunak

Jika didinginkan akan mengeras

Mudah untuk diregangkan

Fleksibel

Titik leleh rendah

Dapat dibentuk ulang (daur ulang)

Mudah larut dalam pelarut yang sesuai

Memiliki struktur molekul linear/bercabang

Contoh: Polyethylene (PE), polyvinylchloride (PVC), polypropylene (PP), polystyrene (PS),


dan nylon.
Termoset
Polimer termosetting adalah polimer yang mempunyai sifat tahan terhadap panas. Jika polimer
ini dipanaskan, maka tidak dapat meleleh. Sehingga tidak dapat dibentuk ulang kembali. Susunan
polimer ini bersifat permanen pada bentuk cetak pertama kali (pada saat pembuatan). Bila polimer
ini rusak/pecah, maka tidak dapat disambung atau diperbaiki lagi.
Polimer termosetting memiliki ikatan-ikatan silang yang mudah dibentuk pada waktu
dipanaskan. Hal ini menyebabkan polimer menjadi kaku dan keras. Semakin banyak ikatan silang
pada polimer ini, maka semakin kaku dan mudah patah. Bila polimer ini dipanaskan untuk kedua
kalinya maka akan menyebabkan rusak atau lepasnya ikatan silang antar rantai polimer.
Sifat polimer termosetting sebagai berikut:

Keras dan kaku (tidak fleksibel)

Jika dipanaskan akan mengeras

Tidak dapat dibentuk ulang (sukar didaur ulang)

Tidak dapat larut dalam pelarut apapun

Jika dipanaskan akan meleleh

Tahan terhadap asam basa

Mempunyai ikatan silang antarrantai molekul

Contoh: PU (Poly Urethene), UF (Urea Formaldehyda), MF (Melamine Formaldehyde),


polyester, epoksi dll).

Trade Names, Characteristics, and Typical Applications for a Number of Plastic Materials

b. Elastomer
Elastomer merupakan maaterial yang mampu memanjang secara elastis ketika dikenakan
tegangan mekanis yang relatif rendah. Elastomer Lebih umum dikenal sebagai karet (rubber).
Beberapa elastomer dapat diregangkan hingga 10 kali lipat dan masih mampu kembali sempurna ke
ukuran asal. Meskipun perilakunya cukup berbeda dengan termoset, namun elastomer memiliki
struktur yang lebih mirip dengan termoset, dibandingkan dengan termoplastik.
Karet dibedakan menjadi karet alam dan karet sintesis. Keunggulan yang dimiliki karet alam
sulit ditandingi oleh karet sintetis. Adapun keunggulan keunggulan yang dimiliki karet alam
dibanding karet sintetis adalah :
1. Memiliki daya elastis atau daya lenting yang sempurna,
2. Memiliki plastisitas yang baik sehingga pengolahannya mudah,
3. Mempunyai daya aus yang tinggi,
4.

Tidak mudah panas (low heat build up), dan

5. Memiliki daya tahan yang tinggi terhadap keretakan (groove cracking resistance).
Walaupun demikian, karet sintetis memiliki kelebihan seperti tahan terhadap berbagai zat
kimia dan harganya yang cenderung bisa dipertahankan supaya tetap stabil. Karet sintetis sebagian
besar dibuat dengan mengandalkan bahan baku minyak bumi. Biasanya tiap jenis memiliki sifat
tersendiri yang khas. Ada yang tahan tehadap panas atau suhu tinggi, minyak, pengaruh udara, dan
bahkan ada yang kedap gas. Contoh karet alam: vulcanized natural rubber. Sedangkan karet sintetis:
Styrene-Butadiene (SBR), Nitrile butadiene rubber (NBR), Silicone rubber. Elastomer silikon
memiliki tingkat fleksibilitas yang tinggi pada suhu rendah -90, tahan terhadap pelapukan dan
minyak pelumas.
c. Fiber (serat)
Serat adalah polimer yang perbandingan panjang terhadap diameter molekulnya kira-kira
100:1. Serat dapat mengalami berbagai mekanik deformasi-peregangan, memutar, geser, dan abrasi.
Akibatnya , harus memiliki kekuatan tarik tinggi (pada rentang suhu yang relatif lebar) dan modulus
elastisitas yang tinggi, serta tahan abrasi.
Berat molekul bahan serat harus relatif tinggi atau bahan cair akan terlalu lemah dan akan
hancur selama drawing process. Juga karena kekuatan tarik meningkat dengan derajat kristalinitas,
struktur dan konfigurasi dari rantai harus memungkinkan produksi polimer yang sangat kristal. Yang
menerjemahkan ke dalam persyaratan untuk rantai linier dan bercabang yang simetris dan memiliki
unit ulangi secara teratur. Gugus polar dalam polimer juga meningkatkan serat pembentuk sifat baik
dengan meningkatkan kristalinitas dan gaya antarmolekul antara rantai.
Sifat Mekanika nylon (serat):
1. Secara umum nylon bersifat keras, berwarna cream, sedikit tembus cahaya.
2. Berat molekul nylon bervariasi dari 11.000-34.000

3. Nylon merupakan polimer semi kristalin dengan titik leleh 350-570 oF. titik leleh erat kaitannya
dengan jumlah atom karbon. Jumlah atom karbon makin besar, kosentrasi amida makin kecil, titik
lelehnyapun menurun.
4.

Sedikit higroskopis : oleh karena itu perlu dikeringkan sebelum dipakai, karena sifat mekanis
maupun elektriknya dipengaruhi juga oleh kelembaban relative dari admosfir.

5. Nylon relative tidak dipengaruhi oleh waktu simpan yang lama pada suhu kamar. Tetap pada suhu
yang lebih tinggi akan teroksidasi menjadi berwarna kuning dan rapuh. Demikian juga sinar
matahari yang kuat akan kurang baik terhadap sifat mekanikalnya.
6. Penambahan aditif dalam nylon dimaksud untuk memperbaiki sifat-sifat nylon.
Penggunaan:
Mobil : pelampung tangki bahan baker, blok bantalan, komponen motor, speedometer, gear,
pengisi udara karburator, kerangka kaca, penutup tangki bahan baker, reflector lampu depan,
penutup stir, dop roda mobil, dll.
Tekstil : bobbin (gelondong benang), perkakas tenun, ring yang dapat dipindah-pindah, gear,
dll.
Peralatan rumah tangga : furniture, peralatan dapur, folding door, komponen mesin jahit,
kancing, pegangan pisau, kerangka pencukur elektrik.
Mesin- mesin industri : gear, bantalan (bearing), pulley, impeller pompa motor, sprocket, rol,
tabung, alat pengukur pada pompa bensin.
d.

Pelapisan (Coatings)

Fungsi :
1. untuk melindungi item dari lingkungan yang dapat menghasilkan korosif
2. untuk meningkatkan penampilan item
3. untuk memberikan isolasi listrik

Contoh : cat, pernis, enamel, lak, lateks.

Lateks banyak digunakan karena tidak mengandung pelarut organik dalam jumlah besar tetapi
memiliki senyawa organik volatil rendah (VOC) emisi. VOC bereaksi di atmosfer menghasilkan kabut
asap sehingga penggunaan emisi VOC dikurangi untuk mematuhi peraturan lingkungan.

e.

Perekat

Perekat adalah zat yang digunakan untuk obligasi bersama-sama permukaan dari dua bahan padat.

Ada dua jenis mekanisme ikatan: mekanik dan kimia. Dalam ikatan mekanik ada penetrasi perekat
dalam pori-pori dan celah-celah permukaan. Ikatan kimia melibatkan gaya antarmolekul antara perekat
dan adherend, ikatan yang mungkin kovalen atau van der Waals, ikatan van der Waals meningkat
ketika bahan perekat mengandung gugus polar.

Contoh perekat:
1. Alami yaitu lem hewan, kasein, pati dan damar.
2. Sintetik yaitu poliuretan, polisiloksan (silikon), epoxies, poliimida, akrilik, dan bahan karet

Faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaann perekat:


1. material yang akan terikat dan porositas
2. sifat perekat yang dibutuhkan (sementara atau permanen)
3. temperatur yang maksimum atau minimum
4. kondisi pengolahan

Keunggulan perekat :
1. ketahanan lelah yang lebih baik
2. manufaktur lebih rendah biaya
3. komponen tipis

Kelemahan :
1. polimer menjaga integritas mekanik mereka hanya pada suhu relatif rendah
2. kekuatan menurun dengan cepat dengan meningkatnya temperatur

Aplikasi perekat pada otomotif, dan industri konstruksi dan beberapa barang rumah tangga.

f. Film
-

Ciri-ciri:
1. Film memiliki ketebalan antara 0,025 dan 0,125 mm (0,001 dan 0,005 in)
2. Film memiliki kepadatan rendah
3. Tingkat fleksibilitas yang tinggi
4. Kekuatan tarik dan sobek yang tinggi
5. Ketahanan terhadap kelembaban dan bahan kimia lainnya,
6. Permeabilitas yang rendah untuk beberapa gas terutama air

Aplikasi pada tas untuk kemasan produk makanan, produk tekstil

Beberapa polimer yang memenuhi kriteria dan dapat diproduksi dalam bentuk film adalah polietilena,
polipropilena, plastik, dan selulosa asetat.

g. Karet Busa (Foams)


Busa adalah bahan plastik yang mengandung persentase volume yang relatif tinggi kecil pori-pori dan
gelembung gas terperangkap. Kedua bahan termoplastik dan termoset yang digunakan sebagai busa,
ini termasuk poliuretan, karet, plastik, dan poli (vinil klorida). Busa biasanya digunakan sebagai bantal
di mobil dan furnitur serta seperti dalam kemasan dan insulasi termal.
7. Proses Pembentukan Polimer (polimerisasi)
Proses pembentukan rantai molekul raksasa polimer dari unit-unit molekul
terkecilnya (mer atau meros) melibatkan reaksi yang kompleks. Proses
polimerisasi tersebut yang secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua
jenis reaksi, yaitu:

a. Polimer adisi (Addition)


polimerisasi adisi adalah polimer yang terbentuk dari reaksi polimerisasi disertai dengan pemutusan
ikatan rangkap diikuti oleh adisi dari monomermonomernya yang membentuk ikatan tunggal. Dalam
reaksi ini tidak disertai terbentuknya molekul-molekul kecil seperti H2O atau NH3.
Dalam reaksi polimerisasi adisi, umumnya melibatkan reaksi rantai. Mekanisme polimerisasi adisi
dapat dibagi menjadi tiga tahap yaitu:

Sebagai contoh mekanisme polimerisasi adisi dari pembentukan polietilena

Inisiasi, untuk tahap pertama ini dimulai dari penguraian inisiator dan adisi molekul
monomer pada salah satu radikal bebas yang terbentuk. Bila kita nyatakan radikal bebas
yang terbentuk dari inisiator sebagai R, dan molekul monomer dinyatakan dengan CH2 =
CH2, maka tahap inisiasi dapat digambarkan sebagai berikut:

Propagasi, dalam tahap ini terjadi reaksi adisi molekul monomer pada radikal monomer
yang terbentuk dalam tahap inisiasi

Bila proses dilanjutkan, akan terbentuk molekul polimer yang besar, dimana ikatan rangkap
C= C dalam monomer etilena akan berubah menjadi ikatan tunggal C C pada polimer
polietilena

Terminasi yaitu tahap deaktivasi pusat aktif sehingga menghentikan pertumbuhan tiap
rantai.

contoh polimer yang terbentuk dari polimerisasi adisi dan reaksinya antara lain:

Polivinil klorida
n CH2 = CHCl [ - CH2 - CHCl - CH2 - CHCl - ]n

Poliakrilonitril
n CH2 = CHCN [ - CH2 - CHCN - ]n

Polistirena

b. Polimer Kondensasi
Polimer kondensasi terjadi dari reaksi antara gugus fungsi pada monomer yang sama atau
monomer yang berbeda. Dalam polimerisasi kondensasi kadang-kadang disertai dengan terbentuknya
molekul kecil seperti H2O, NH3, atau HCl.
Di dalam jenis reaksi polimerisasi yang kedua ini, monomer-monomer bereaksi secara adisi
untuk membentuk rantai. Namun demikian, setiap ikatan baru yang dibentuk akan bersamaan dengan
dihasilkannya suatu molekul kecil biasanya air dari atom-atom monomer. Pada reaksi semacam
ini, tiap monomer harus mempunyai dua gugus fungsional sehingga dapat menambahkan pada tiap
ujung ke unit lainnya dari rantai tersebut. Jenis reaksi polimerisasi ini disebut reaksi kondensasi.
Dalam polimerisasi kondensasi, suatu atom hidrogen dari satu ujung monomer bergabung
dengan gugus-OH dari ujung monomer yang lainnya untuk membentuk air. Reaksi kondensasi yang
digunakan untuk membuat satu jenis nilon ditunjukkan pada:

Gambar diatas merupakan kondensasi terhadap dua monomer yang berbeda yaitu 1,6
diaminoheksana dan asam adipat yang umum digunakan untuk membuat jenis nylon. Nylon diberi
nama menurut jumlah atom karbon pada setiap unit monomer. Dalam gambar ini, ada enam atom
karbon di setiap monomer, maka jenis nylon ini disebut nylon 66.
Contoh lain, mempertimbangkan pembentukan poli poliester (etilena tereftalat) (PET), dari
reaksi antara etilena glikol dan asam tereftalat, reaksi antarmolekul adalah sebagai berikut:

Proses bertahap ini berturut-turut diulang, menghasilkan molekul linier. Selain itu, waktu
reaksi untuk kondensasi umumnya lebih lama dibandingkan polimerisasi adisi.Untuk reaksi
kondensasi sebelumnya, baik etilena glikol dan asam tereftalat adalah bifunctional. Namun, reaksi
kondensasi dapat meliputi monomer fungsional trifunctional atau lebih tinggi mampu membentuk
silang dan polimer jaringan.
Monomer yang dapat mengalami reaksi polimerisasi secara kondensasi adalah monomermonomer yang mempunyai gugus fungsi, seperti gugus -OH; -COOH; dan NH3.
8. Lima jenis polimer aditif (15.21)
a. Pengisi (Filler)
-

Tujuan penambahan bahan pengisi pada polimer adalah untuk meningkatkan kekuatan tarik dan
tekan, ketahanan abrasi, ketangguhan, stabilitas dimensi dan termal.

Bahan yang digunakan sebagai pengisi termasuk tepung kayu (halus bubuk serbuk gergaji), silika
tepung dan pasir, kaca, tanah liat, bedak, kapur dan beberapa polimer sintetik.

Ukuran partikel berkisar dari 10 nm.

b. Plasticizers
-

Plasticizers umumnya cairan yang memiliki tekanan uap rendah dan berat molekul rendah.

Tujuan penambahan plasticizers pada polimer adalah


1. untuk meningkatkan fleksibilitas (kelenturan), keuletan, dan ketangguhan polimer
2. untuk mengurangi kekerasan dan kekakuan

Plasticizers yang umum digunakan dalam polimer secara intrinsik rapuh pada suhu kamar, seperti
poli (vinil klorida) dan beberapa asetat copolymers.

Aplikasi dari plasticizers: lembaran atau film tipis, tabung, jas hujan, dan tirai.

c. Penyeimbang (Stabilizer)
-

Aditif yang melawan proses yang memburuk (cepat mengalami kerusakan) disebut stabilisator.

Contoh :
UV/LIGHT STABILIZER
Bahan yang digunakan untuk mengantisipasi terjadinya reaksi akibat photo oxidation
oleh sinar ultra ungu dan sinar tampak terhadapmaterial plastik
Radiasi ultraviolet menyebabkan pemutusan dari beberapa ikatan kovalen sepanjang rantai molekul,
yang juga dapat mengakibatkan terjadinya polimer silang.

Fungsi UV-Stabilizer:
Melindungi polimer dari radiasi sinar UV dan sinar lain yang
d a p a t menyebabkan polimer terdegradasi
Makin pendek panjang gelombang, makin besar kerusakan yang
d a p a t ditimbulkan, karena energi radiasi yang dihasilkan pun semakin besar
Ada dua pendekatan utama untuk stabilisasi UV:
# Yang pertama adalah dengan menambahkan bahan penyerap UV.
Bahan penyerap UV pada dasarnya bertindak sebagai tabir surya dan menghalangi radiasi UV
sebelum dapat menembusn ke dalam dan merusak polimer.
# Pendekatan kedua adalah dengan menambahkan bahan-bahan yang
bereaksi dengan obligasi rusak oleh radiasi UV sebelum mereka dapat bereaksi yang menyebabkan
kerusakan polimer tambahan.
d. Pewarna (Colorants)
-

Pewarna memberikan warna tertentu untuk polimer, mereka dapat ditambahkan dalam bentuk
pewarna atau molekul pigments.

Pigmen adalah pengisi bahan yang tidak larut, namun tetap sebagai fase terpisah; biasanya
mereka memiliki ukuran partikel kecil dan indeks bias dekat yang dari polimer induk.

e. Flame retardants (Ketahanan terhadap kebakaran)


-

Flame Retardant: bahan yang dapat membantu plastik agar tidak mudah terbakar
Kebanyakan polimer mudah terbakar dalam bentuk murni kecuali didalamnya yang mengandung
klorin dan fluor, seperti poli(vinil klorida) dan polytetrafluoroethylene.

Retardants dapat berfungsi dengan mengganggu proses pembakaran melalui fase gas, atau dengan
memulai reaksi pembakaran yang berbeda menghasilkan lebih sedikit panas
sehingga mengurangi suhu, ini menyebabkan perlambatan atau penghentian terbakar.

Flame retardant biasanya ditambahkan dalam produk plastik,khususnya plastik untuk fasilitas umum
seperti Bahan bangunan & konstruksi, Barang-barang elektronik (kulkas, TV), Transportasi (mobil, pesawat,
kapal, KA).

Fungsi flame retardant:


Mencegah terjadinya kebakaran
Memperlambat pembakaran dan perusakan polimer
Mengurangi emisi asap
Mencegah terjadinya percikan api

Sumber :
Callister, William D and David G.2010.Materials Science And Engineering An Introduction, 8th edition.The
United States of America: John Willey and Sons,Inc.

http://www.scribd.com/doc/66776472/Aditif-Dalam-Material-Plastik-MC-2011-Compatibility-Mode
9. LIMA TEKNIK FABRIKASI UNTUK PEMBUATAN POLYMER PLASTIS (sub bab 15.22)
Dalam pembuatan bahan polymer terdapat beberapa teknik yang digunakan. Teknik-teknik ini bergantung
pada beberapa faktor antara lain :
1. Jenis material, termasuk termoplastis atau termoseting
2. Jika termoplastik, suhu dipilih yang dapat melunakan bahan
3. Stabilitas atmosfer dari material yang terbentuk
4. Geometri dan ukuran produk yang dihasilkan
Molding merupakan metode yang paling umum untuk membentuk polimer plastik. Molding sendiri dibagi
dalam beberapa teknik lagi yaitu dengan molding kompresi, transfer, pukulan, injeksi, juga ekstrusi. Namun
pada umumnya semua teknik itu sama yaitu butir atau granula bahan plastik di tekan atau diberi gaya pada
suhu tinggi dengan tekanan untuk memasukan kedalam rongga cetakan lalu mengisi dan membentuk sesuai
dengan bentuk rongga cetakan.
Molding Kompresi Dan Transfer
Dalam proses Molding kompresi dibutuhkan campuran yang tepat antara Polimer dan aditif yang
kemudian ditempatkan antara Mold Plunger dan Mold Cavity sperti yang ditunjukkan pada gambar
berikut:

Kedua bagian pada cetakan tersebut telah dipanaskan, namun hanya satu saja yang dapat digerakkan.
Kemudian cetakan ditutup kemudian bahan diberikan tekanan pada saat suhu tinggi, seingga plastik
menjadi kental lalu mengalir mengisi rongga cetakan dan membentuk sesuai bentuk cetakan yang
digunakan. Sebelum pencetakan bahan dapat melalui proses Preform (proses pencampuran bahan
bakudan ditekan dingin pada sebuah disc (potongan). Proses ini akan mengakibatkan berkurangnya
waktu molding dan tekanan, memperluas die life-time, serta dapat menghasilkan potongan yang lebih
seragam. Teknik cetakan ini cocok untuk pembuatan polimer termoplastik dan termoset baik, namun
penggunaannya dengan termoplastik lebih memakan waktu dan mahal daripada ekstrusi yang lebih
umum digunakan atau teknik injeksi molding. Dalam

molding transfer (variasi dari Molding

kompresi), pada awalnya bahan padatan terlebih dahulu dilelehkan dalam sebuah wadah perpindahan
panas. Setelah itu, bahan yang sudah berubah menjadi cairan disuntikan ke dalam ruangan cetak,
kemudian diberikan tekanan yang merata pada seluruh permukaaannya. Teknik ini digunakan dengan
polimer-polimer termoseting yang memiliki geometri yang kompleks.

Molding Injeksi
Molding Injeksi adalah teknik yang paling banyak digunakan untuk fabrikasi bahan termoplastik.
Sebuah

penampang

skematik

dari

alat

yang

digunakan

diilustrasikan

pada

Gambar

Bijih plastik (pellet) dimasukan pada feed hopper kemudian bahan akan masuk dalam silinder dengan
gerakan pendorong atau ram. Bahan didorong maju ke dalam ruang pemanas yang mana diberikan
tekanan di sekitar spreader sehingga dapat melakukan kontak yang lebih baik dengan dinding yang
telah dipanaskan. Akibatnya, bahan termoplastik meleleh membentuk cairan kental. Selanjutnya,
plastik cair didorong lagi oleh gerak ram, melalui mulut pipa ke dalam rongga cetakan tertutup;
tekanan dipertahankan sampai molding telah dipadatkan. Akhirnya, cetakan dibuka, potongan
dikeluarkan, cetakan ditutup, dan seluruh siklus diulang. Mungkin fitur yang paling menonjol dari
teknik ini adalah kecepatan produksi potongan. Untuk termoplastik, pemadatan muatan disuntikkan
sesegera mungkin, akibatnya, siklus untuk proses ini sangatlah singkat (biasanya dalam kisaran 10
sampai 30 s). Thermosetting polimer mungkin jugadibentuk melalui teknik ini, namun dibutuhkan
waktu siklus lebih lama dibandingkan proses thermoplastics karena harus ada proses curing pada

bahan setelah berada dibawah tekanan dalam cetakan yang dipanaskan. Proses ini kadang-kadang
disebut reaksi injection molding (RIM) dan umumnya digunakan untuk bahan seperti polyurethane.

Molding Ekstrusi
Proses ekstrusi merupakan teknik pencetakan termoplastik kental di bawah tekanan melalui cetakan
terbuka, mirip dengan ekstrusi logam (Gambar 11.8c).

Sebuah sekrup mekanis atau auger (gurdi) mendorong bahan pelet (bijih plastik) melalui ruang, yang
berturut-turut dipadatkan, meleleh , dan dibentuk menjadi muatan kontinu cairan kental (Gambar
15,25).

Ekstrusi terjadi karena massa cair dipaksa melalui lubang cetakan. Pemadatan dari bahan yang
diekstrusi dipercepat oleh blower, semprotan air, atau bath. Teknik ini biasa digunakan dalam
memproduksi bahan yang berbentuk panjang yang memiliki penampang geometri konstan misalnya,
batang, tabung, selang saluran, lembaran, dan filamen.
Blow Molding
Proses blow-molding untuk pembuatan wadah plastik mirip dengan yang digunakan untuk meniup
botol kaca, seperti yang digambarkan dalam Gambar 13.8.

Gambaran proses blow molding secara umum


Pertama parison atau pipa panjang polimer, diekstrusi. Ketika masih dalam keadaan semileleh,
parison ditempatkan dalam cetakan dua potong memiliki konfigurasi (bentuk) kontainer yang
diinginkan. Bentuk bahan yang berongga dibentuk dengan meniupkan udara atau uap di bawah
tekanan ke parison, sehingga mendorong dinding tabung agar sesuai dengan kontur cetakan. Suhu
dan viskositas parison harus diatur dengan cermat.
Casting (Cetakan)
Layaknya pada logam, polymer pun juga dapat dibentuk melalui teknik cetakan (casting), seperti
bahan plastik cair yang dituangkan dalam cetakan dan dibiarkan mengeras. Baik polymer
termoplastis atau termoseting dapat digunakan dalam metode ini. Untuk bahan termoplastis
pembekuan terjadi pada pendinginan dari keadaan cair. Sedangkan untuk bahan yang termoseting
pengerasan adalah konsekuensi dari polimerisasi yang sebenarnya atau proses curing, yang biasanya
dilakukan pada suhu tinggi.

Sumber :
Callister, William D and David G.2010.Materials Science And Engineering An Introduction, 8th
edition.The United States of America: John Willey and Sons,Inc.)