Anda di halaman 1dari 10

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Dasar Teori
Proses ketika dua fasa berkontak yakni gas dan liquid, maka unit operasi terseubut
disebut absorption. Sebuah solute A atau beberapa solute terabsorbed dari fase gas
kedalam fase liquid didalam absorption. Proses ini melibatkan molecular dan difusi
turbulen atau perpindahan massa dari solute A melalui gas B yang difusinya tidak
stagnant kedalam sebuah stagnant liquid C. Contoh dari absorpsion adalah ammonia
dari udara kedalam liquid air. Biasanya yang dihasilkan adalah ammonia-air solution
lalu didistilasi untuk mendapatkan ammonia murni. Sedangkan perpindahan massa
suatu solute pada liquid nonvolatil ke suatu steam disebut stripping. Ketika as adalah
udara murni dan liquid adalah air murni, proses itu disebut humidification,
dehumidification melibatkn pengurangan uap air dari udara (Geankoplis, 1997).
Absorbsi merupakan salah satu proses separasi dalam industri kimia dimana suatu
campuran gas dikontakkan dengan suatu cairan penyerap tertentu sehingga satu atau
lebih komponen gas tersebut larut dalam cairannya. Absorbsi dapat terjadi melalui dua
mekanisme, yaitu absorbsi fisik dan absorbsi kimia.
Absorbsi fisik merupakan suatu proses yang melibatkan peristiwa pelarutan gas
dalam larutan penyerap, namun tidak disertai dengan reaksi kimia. Contoh proses ini
adalah absorbsi gas H2S dengan air, methanol, propilen karbonase. Penyerapan terjadi
karena adanya interaksi fisik. Mekanisme proses absorbsi fisik dapat dijelaskan dengan
beberapa model, yaitu: teori dua lapisan (two films theory) oleh Whiteman (1923), teori
penetrasi oleh Dankcwerts dan teori permukaan terbaharui.
Absorbsi kimia merupakan suatu proses yang melibatkan peristiwa pelarutan gas
dalam larutan penyerap yang disertai dengan reaksi kimia. Contoh peristiwa ini adalah
absorbsi gas CO2 dengan larutan MEA, NaOH, K2CO3 dan sebagainya. Aplikasi dari
absorbsi kimia dapat dijumpai pada proses penyerapan gas CO 2 pada pabrik Amonia
seperti yang terlihat pada gambar II.1.

Gambar II.1. Proses absorpsi dan desorpsi CO2 dengan pelarut MEA di pabrik
Amonia

Penggunaan absorbsi kimia dalam fase cair sering digunakan untuk mengeluarkan
zat pelarut secara lebih sempurna dalam campuran gasnya.Suatu keuntungan dalam
absorbsi kimia adalah meningkatkan harga koefisien perpindahan massa(kga). Sebagian
dari perubahan ini disebabkan makin besarnya luas efektif antar muka karena absorbsi
kimia dapat juga berlangsung di daerah hamper stagnan di samping perangkapan
dinamik.
Komponen gas yang dapat membentuk ikatan kimia akan dilarutkan lebih dahulu
dan juga dengan kecepatan yang lebih tinggi. Karena itu absorpsi kimia mengungguli
absorpsi fisik. Absorben adalah cairan yang dapat melarutkan bahan yang akan
diabsorpsi pada permukaannya, baik secara fisik maupun secara reaksi kimia. Absorben
sering juga disebut sebagai cairan pencuci.
Menurut Endang (2000), terdapat beberapa persyaratan absorben yang harus
dipenuhi, antara lain:
1. Memiliki daya melarutkan bahan yang akan diabsorpsi yang sebesar mungkin
(kebutuhan akan cairan lebih sedikit, volume alat lebih kecil).
2. Selektif
3. Memiliki tekanan uap yang rendah
4. Tidak korosif.
5. Mempunyai viskositas yang rendah
6. Stabil secara termis.
7. Murah
Jenis-jenis bahan yang dapat digunakan sebagai absorben adalah air (untuk gas-gas
yang dapat larut, atau untuk pemisahan partikel debu dan tetesan cairan), natrium
hidroksida (untuk gas-gas yang dapat bereaksi seperti asam) dan asam sulfat (untuk gasgas yang dapat bereaksi seperti basa (Anonim,2011).
Syarat mutlak dalam suatu proses absorbsi adalah kelarutan solute dalam solven
harus lebih besar daripada kelarutannya dalam carrier. Beberapa pertimbangan yang
perlu diperhatikan dalam pemilihan pelarut agar proses absorbsi berlangsung antara lain
yaitu :
1. Kelarutan Gas
Kelarutan gas harus tinggi, sehingga menaikkan rate absorbsi dan mengurangi
jumlah solvent yang dibutuhkan. Umumnya suatu solvent yang memiliki sifat kimia
hampir sama dengan solute yang diabsorbsi akan memberikan kelarutan yang baik.
Reaksi kimia antara solvent dan solut akan terjadi pada kelarutan gas yang sangat
tinggi.
2. Volatilitas
Pelarut atau solvent harus memiliki tekanan uap yang rendah dimana gas saat
meninggalkan suatu proses absorbsi biasanya saturated dengan solvent dan mungkin
banyak yang mungkin hilang.

3. Korosivitas
Pelarut hendaknya memiliki korosivitas kecil, sehingga material konstruksi alat
tidak terlalu mahal.
4. Harga pelarut harus murah, dan mudah untuk didapat.
5. Viskositas
Pelarut harus mempunyai harga viskositas yang rendah sehingga proses absorbsi
berjalan cepat, presure drop kecil pada saat pemompaan, memberikan sifat
perpindahan panas yang baik dan meningkatkan karakteristik floading dalam
menara absorbsi.
6. Hal-hal lain yang meliputi : solvent harus nontoxic, nonflammable, memiliki
komposisi kimia yang stabil dan titik bekunya rendah.
Ada tiga teori dasar yang menjelaskan tentang peristiwa absorbsi, yaitu antara lain :
1. Teori Dua Film (Double Film Theory)
Pada berbagai proses pemisahan, materi berdifusi dari satu fase ke fase lainnya, dan
laju difusi di dalam kedua fase tersebut mempengaruhi laju perpindahan massa
keseluruhan. Dalam teori ini Whitman menyatakan bahwa kesetimbangan diasumsikan
terjadi pada permukaan batas (interface) antara fase gas dan cairan sehingga tahanan
perpindahan massa pada kedua fase ditambahkan untuk memperoleh tahanan
keseluruhan. Model ini menggambarkan tentang adanya lapisan difusi. Perpindahan
massa yang terjadi ditentukan oleh konsentrasi dan jarak perpindahan massa, yaitu
ketebalan film tersebut.
Jika cairan mempunyai komposisi tetap, konsentrasi pada bagian film akan menurun
dari A* pada permukaan sampai Ao pada cairan bagian ruah. Di sini tidak terjadi
konveksi pada film dan gas terlarut melewati film tersebut hanya oleh difusi molekuler.
Konsentrasi
Tekanan gas
Pada

solut
P

A*

Gambar II.I.1 Profil Model Dua Film


pi

Gambar II.2. Profil Model Dua Film

Proses difusi berlangsung efektif bila lapisan film tipis. Lapisan film yang tipis
akan meniadakan terjadinya tahanan dari lapisan itu (tahanan makin kecil), sehingga
proses perpindahan massa tidak terganggu. Untuk mendapatkan lapisan yang tipis,
kondisi dari kedua aliran fase harus diatur yaitu diusahakan membuat aliran yang
turbulen, karena pada lapisan film yang tipis akan diperoleh gradien konsentrasi yang
kecil, sehingga proses absorpsi berjalan sangat cepat dengan keadaan menjadi steady
state.
Ketika suatu zat ditranfer dari satu fase ke fase yang lain melalui suatu interface
diantara keduanya maka resistance di kedua fase tersebut menyebabkan gradien
konsentrasi yang dapat dilihat sebagai berikut :
Interface
Gas Phase

Direction of
transfer
Liquid
Phase

yi

xi
x

Gambar II.3. 2 Gradien konsentrasi di dekat Interface Gas-Liquid


(Geankoplis, 1997)
Untuk sistem dimana konsentrasi solute dalam gas dan liquid adalah kecil, maka
laju transfer massa dapat dinyatakan oleh persamaan yang memperkirakan laju transfer
massa yang sebanding dengan perbedaan diantara konsentrasi bulk dan konsentrasi
dalam interface gas-liquid.
NA = kG(p-pi) = kL(ci-c)
Dimana : NA
kG
p
pi
kL

= laju transfer massa


= koefisien laju transfer massa fase gas
= tekanan parsial solute dalam bulk gas
= tekanan parsial solute dalam interface
= koefisien transfer massa pada fase liquid

(1)

ci = konsentrasi solute pada interface


c = konsentrasi solute pada bulk liquid.
Secara definisi, koefisien transfer massa kG dan kL adalah perbandingan antara flux
massa molal NA terhadap driving forse konsentrasi (p-pi) dan (ci-c). suatu alternatif
untuk menyatakan laju transfer dalam sistim yang encer adalah sebagai berikut :
NA = kG(y-yi) = kL(xi-x)

(2)

keterangan:
NA = laju transfer massa,
kG = koefisien laju transfer massa fase gas,
y = fraksi mol solute dalam bulk gas,
yi = fraksi mol solute dalam interface,
kL = koefien transfer massa pada fase liquid,
xi = fraksi mol solute pada interface,
x = fraksi mol solute pada bulk liquid.
Perbandingan harga koefisien transfer massa pada fase liquid dengan fase gas akan
didapatkan:
kL / kG = (y-yi) / (xi-x)

( 3)

dan apabila diplot secara grafis dengan melibatkan komposisi kesetimbangan


antara uap dan cair dan operating line akan didapatkan hubungan kesetimbangan
y* = F(x)
(4)
*
dimana y adalah fraksi mol solute yang berkesetimbangan dengan fraksi mol
solute x.
Jika hubungan kesetimbangan merupakan grafik sederhana (yang pada umumnya
mendekati garis lurus karena konsentrasi solute yang rendah) maka laju transfer massa
akan sebanding dengan perbedaan konsentrasi bulk di fase pertama dengan konsentrasi
bulk di fase kedua yang berada di fase pertama. Sehingga penyelesaian laju transfer
massa akan menjadi :
NA = KG(y-y*) = kL(xi-x) = kG(y-yi) = KL(x*-x)

(5)

Dengan KG = koefisien transfer massa overall dalam fase gas, sedang KL =


koefisien transfer massa overall dalam fase liquid.

2.

Teori Penetrasi
Teori penetrasi ini dikemukakan oleh Higbie. teori menyatakan mekanisme
perpindahan massa melalui kontak antara dua fasa, yaitu fasa gas dan fasa liquid. Dalam
pernyataannya, Higbie menekankan agar waktu kontak lebih lama. Higbie, untuk
pertama kalinya menerapkan teori ini untuk absorpsi gas dalam liquida yang
menunjukkan bahwa molekul-molekul yang berdifusi tidak akan mecapai sisi lapisan
tipis yang lain jika waktu kontaknya pendek.
Teori Higbie ini menyebutkan bahwa turbulensi akan menaikkan difusivitas
pusaran, hal ini akan menentukan waktu kontak perpindahan massa yang terjadi untuk
setiap keadaan massa. Difuivitas pusaran ini terjadi dalam keadaan setimbang antara
fase gas dan liquid.
3. Teori Danckwerts
Teori penetrasi juga dikembangkan oleh Danckwerts yang menyatakan bahwa
unsur-unsur fluida pada permukaan secara acak akan diganti oleh fluida lain yang lebih
segar dari aliran tindak. Teori ini digunakan dalam keadaan khusus di mana dianggap
massa difusivitas pusaran berlangsung dalam waktu yang bervariasi dan dianggap laju
perpindahan massa tidak tergantung dari waktu perpindahan unsur dalam fase cairan
tindak pada keadaan stagnan. Sehingga perpindahan massa yang terjadi di
interfacemerupakan harga dari jumlah zat yang terabsorpsi. Jadi dianggap bahwa
perpindahan unsur secara tindak fase cairan menuju interface tidak akan mempengaruhi
kecepatan perpindahan massanya.
Dalam laboratorium , koofisien perpindahan massa overall absorbsi CO2 oleh
larutan NaOH , didasarkan pada persamaan :
Na
KGa
(7)
ht. S. PT . Ylm
dimana

Ylm a2-Y a2*Y a1-Y a1*Y


a2-Y a2*Y
ln
a1-Y a1*Y

(8)

Bila absorbant yang digunakan memiliki konsentarsi rendah, maka akan diperoleh
kurva kesetimbangan yang memenuhi hukum Henry yaitu :
Ya1* = He . Xa1
(9)
Ya2* = He. Xa2
(10)
Konstanta Henry untuk larutan elektrolit dapat diperoleh dari persamaan Van
Krevelen dan Hoftijer, yaitu
(11)
Log He
o = h. I
He
h = h+ + h- + hg

I = Ci . Zi2
Keterangan :
He
Heo
I
h

= harga karakteristik ion-ion dari larutan elektrolit


= konstanta Henry untuk air murni
= kekuatan ionik larutan elektrolit
= jumlah kontribusi yang menunjukkan adanya ion positif dan
negatif dari unsur gas (Danckwertz, hal 19-20)
Packed column digunakan untuk proses absorpsi pada kontak antara liquid dan gas
secara countercurrent ataupun kontak antara vapor dengan liquid dalam proses distilasi.
Dalam tower-nya terdiri dari column silinder yang berisikan gas masuk dari bagian
bawah dan liquid masuk pada bagian atas. Di packed dalam tower memungkinkan
permukaan yang luas untuk kontak liquid dengan gas sehingga efektifitas absorpsi
semakin besar (Geankoplis, 1997).
V1; y1

L1, x1

V2; y2
L2, x2
Gambar II.I.3 Proses Absorpsi di Dalam Packed Column
Menurut perry,1997 bahwa Kecepatan absorpsi yang terjadi pada packed tower
yang dipengaruhi oleh ukuran packing-nya, dengan koefisien perpindahan massa
keseluruhan ditentukan berdasarkan luasan bagian dalam atau bagian luar dari film.
Dengan demikian laju perpindahan massa pada proses absorbsi yang dipengaruhi oleh
packed tower adalah:
d(GMy) = NA a dh
(12)
dengan :
dNA = kecepatan absorpsi (kgmol/s)
a
= luas kontak interface per volume packing
dh
= tinggi:
Pada proses absorpsi, perpindahan massa hanya terjadi dari fase gas ke fase ciran
(difusi stagnan). Perpindahan massa dari fase gas adalah G M dy, yang dapat dinyatakan
sebagai :
dh = GM dy
(13)
NAa(1-y)
maka volume packing setinggi menara, dz adalah S.dz, sehingga dA = a.S.dz, dan
persamaan (2) menjadi :
dh =

GM dy
NAa(1-y) (y-yi)

(14)

Packing
Jenis-jenis bentuk isian menara yang lazim dipakai adalah pelana berl, pelana
intalox, cincin rasching dan cincin pill.
Syarat-syarat untuk isian menara :
1. Tidak bereaksi dengan fluida dalam menara
2. Kuat, tetapi tidak terlalu berat
3. Mengandung cukup banyak laluan untuk kedua arus tanpa terlalu banyak zat cair
yang terperangkap atau menyebabkan penurunan tekanan terlalu tinggi.
4. Memungkinkan terjadinya kontak yang memuaskan antara zat cair dengan gas.
5. Tidak mahal harganya.
Gas CO2 yang terkandung di dalam campurannya dengan udara diabsorpsi secara
kimia oleh larutan NaOH, dan mengikuti reaksi di bawah ini :
CO2 (g) + 2NaOH (aq)
Na2CO3 (aq) + H2O ( l )

dengan tahap-tahapan reaksi sebagai berikut:


CO2 (g)
CO2
+ NaOH (aq)
NaHCO3 (aq) + NaOH (aq)
CO2 (g) + 2NaOH (aq)

CO2
NaHCO3 (aq)
Na2CO3 (aq) + H2O
Na2CO3 (aq) + H2O

(l)
(l)

Jenis Menara Absorpsi


a. Sieve Tray
Bentuknya mirip dengan peralatan distilasi. Pada Sieve Tray, uap
menggelembung ke atas melewati lubang-lubang sederhana berdiameter 3-12 mm
melalui cairan yang mengalir. Luas penguapan atau lubang-lubang ini biasanya sekitar
5-15% luas tray. Dengan mengatur energi kinetik dari gas dan uap yang mengalir, maka
dapat diupayakan agar cairan tidak mengalir melaui lubang-lubang tersebut. Kedalaman
cairan pada tray dapat dipertahankan dengan limpasan (overflow) pada tanggul (outlet
weir).
b. Valve Tray
Valve Tray adalah modifikasi dari Sieve Tray dengan penambahan katup-katup
untuk mencegah kebocoran atau mengalirnya cairan ke bawah pada saat tekanan uap
rendah. Dengan demikian alat ini menjadi sedikit lebih mahal daripada Sieve Tray, yaitu
sekitar 20%. Namun demikian alat ini memiliki kelebihan yaitu rentang operasi laju alir
yang lebih lebar ketimbang Sieve Tray.
c. Spray Tower
Jenis ini tidak banyak digunakan karena efisiensinya yang rendah.
d. Bubble Cap Tray
Jenis ini telah digunakan sejak lebih dari seratus tahun lalu, namun
penggunaannya mulai digantikan oleh jenis Valve Tray sejak tahun 1950. Alasan utama
berkurangnya penggunaan Bubble Cap Tray adalah alasan ekonomis, dimana desain
alatnya yang lebih rumit sehingga biayanya menjadi lebih mahal. Jenis ini digunakan
jika diameter kolomnya sangat besar.
e. Packed Bed
Jenis ini adalah yang paling banyak diterapkan pada menara absorpsi. Packed
Column lebih banyak digunakan mengingat luas kontaknya dengan gas. Packed Bed
berfungsi mirip dengan media filter, dimana gas dan cairan akan tertahan dan berkontak
lebih lama dalam kolom sehingga operasi absorpsi akan lebih optimal.
Beragam jenis packing telah dikembangkan untuk memperluas daerah dan efisiensi
kontak gas-cairan. Ukuran packing yang umum digunakan adalah 3-75 mm. Bahan yang
digunakan dipiluh berdasarkan sifat inert terhadap komponen gas maupun cairan solven

dan pertimbangan ekonomis, antara lain tanah liat, porselin, grafit dan plastik. Packing
yang baik biasanya memenuhi 60-90% dari volume kolom (Muhammad, 2011).