Anda di halaman 1dari 20

PROGRAM KEAHLIAN

TEKNIK MANAJEMEN LINGKUNGAN


DIREKTORAT PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010

Kata Pengantar
Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat rahmatNYA lah saya
dapat menyelesaikan Tugas Akhir Pengelolaan dan Pemanfaatan Limbah ini dengan sebaik-baiknya.
Tugas akhir ini berjudul Pengolahan dan Pemanfaatan Limbah Pada Industri Pulp dan
Kertas, yang diajukan sebagai salah satu syarat memeperoleh nilai dari mata kuliah Pengelolaan dan
Pemanfaatan Limbah.
Dalam pembuatan Tugas akhir ini, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Ibu Haruki
Agustina selaku dosen dan pembimbing mata kuliah Pengolaan dan Pemanfaatan Limbah, serta semua
pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini.
Saya yakin makalah yang diajukan sebagai tugas akhir ini masih jauh dari kesempurnaan,
oleh karena itu saya mengharapkan saran dan kritik untuk perbaikan makalah ini.
Terima kasih

Bogor, 25 Januari 2010

Penulis

Daftar Isi

Kata Pengantar....................................................................................................... i
Daftar Isi................................................................................................................ ii
BAB I...................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN....................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang............................................................................................. 1
1.2 Tujuan........................................................................................................... 5
1.3 Permasalahan............................................................................................... 5
BAB II..................................................................................................................... 6
PEMBAHASAN........................................................................................................ 6
2.1 Bahan Baku.................................................................................................. 6
2.3 Bahan Pembantu.......................................................................................... 6
2.3 Proses Produksi Pulp dan Kertas...................................................................7
2.3.1 Proses Produksi Pulp............................................................................... 7
2.3.2 Proses Produksi Kertas............................................................................8
2.4 Limbah Yang Dihasilkan................................................................................ 8
2.5 Pengolahan dan Pemanfaatan Limbah..........................................................9
2.5.1 Pengolahan Limbah................................................................................ 9
a. Fisik.......................................................................................................... 9
b. Kimia...................................................................................................... 10
c. Biologi..................................................................................................... 11
2.5.2 Instalasi Pengolahan Air Limba.............................................................11
2.5.3 Pemanfaatan limbah...........................................................................12
2.6

Baku Mutu Limbah Cair...........................................................................12

2.6.1 Kelebihannya........................................................................................ 14
2.6.2

Kekurangan....................................................................................... 14

BAB III.................................................................................................................. 15
KESIMPULAN DAN SARAN.................................................................................... 15
3.1

Kesimpulan.............................................................................................. 15

3.2

Saran....................................................................................................... 15

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................. 16

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Gas rumah kaca adalah suatu efek, dimana molekul-molekul yang ada di atmosfer kita bersifat seperti
memberi efek rumah kaca. Efek rumah kaca sendiri, seharusnya merupakan efek yang alamiah untuk menjaga
temperatur permukaaan Bumi berada pada temperatur normal, sekitar 30C, atau kalau tidak, maka tentu saja
tidak akan ada kehidupan di muka Bumi ini.
Pada sekitar tahun 1820, bapak Fourier menemukan bahwa atmosfer itu sangat bisa diterobos
(permeable) oleh cahaya Matahari yang masuk ke permukaan Bumi, tetapi tidak semua cahaya yang
dipancarkan ke permukaan Bumi itu bisa dipantulkan keluar, radiasi merah-infra yang seharusnya terpantul
terjebak, dengan demikian maka atmosfer Bumi menjebak panas (prinsip rumah kaca).
Atmosfer tidaklah sesederhana model perhitungan biasa, kenyataannya peningkatan temperatur bisa
lebih dari 1C karena ada faktor-faktor seperti, sebut saja, perubahan jumlah awan, pemantulan panas yang
berbeda antara daratan dan lautan, perubahan kandungan uap air di udara, perubahan permukaan Bumi, baik
karena pembukaan lahan, perubahan permukaan, atau sebab-sebab yang lain, alami maupun karena perbuatan
manusia. Bukti-bukti yang ada menunjukkan, atmosfer yang ada menjadi lebih panas, dengan atmosfer
menyimpan lebih banyak uap air, dan menyimpan lebih banyak panas, memperkuat pemanasan dari perhitungan
standar.
Sejak tahun 2001, studi-studi mengenai dinamika iklim global menunjukkan bahwa paling tidak, dunia
telah mengalami pemanasan lebih dari 3C semenjak jaman pra-industri, itu saja jika bisa menekan konsentrasi
gas rumah kaca supaya stabil pada 430 ppm CO 2e (ppm = part per million = per satu juta ekivalen CO 2 yang
menyatakan rasio jumlah molekul gas CO2 per satu juta udara kering). Yang pasti, sejak 1900, maka Bumi telah
mengalami pemanasan sebesar 0,7C.

.
Sumber terutama peningkatan konsentrasi karbon-dioksida adalah penggunaan bahan bakar fosil,
ditambah pengaruh perubahan permukaan tanah (pembukaan lahan, penebangan hutan, pembakaran hutan,
mencairnya es). Peningkatan konsentrasi metana (CH4), dari 715 ppb (part per billion= satu per milyar) di
jaman pra-industri menjadi 1732 ppb di awal 1990-an, dan 1774 pada tahun 2005. Ini melebihi angka yang
berubah secara alamiah selama 650 ribu tahun (320 790 ppb). Sumber utama peningkatan metana pertanian
dan penggunaan bahan bakar fosil. Konsentrasi nitro-oksida (N 2O) dari 270 ppb 319 ppb pada 2005. Seperti
juga penyumbang emisi yang lain, sumber utamanya adalah manusia dari agrikultural. Kombinasi ketiga
komponen utama tersebut menjadi penyumbang terbesar pada pemanasan global.
Kontribusi antropogenik pada aerosol (sulfat, karbon organik, karbon hitam, nitrat and debu)
memberikan efek mendinginkan, tetapi efeknya masih tidak dominan dibanding terjadinya pemanasan,
disamping ketidakpastian perhitungan yang masih sangat besar. Demikian juga dengan perubahan ozon
troposper akibat proses kimia pembentukan ozon (nitrogen oksida, karbon monoksida dan hidrokarbon)
berkontribusi pada pemanasan global. Kemampuan pemantulan cahaya Matahari (albedo), akibat perubahan
permukaan Bumi dan deposisi aerosol karbon hitam dari salju, mengakibatkan perubahan yang bervariasi, dari

pendinginan sampai pemanasan. Perubahan dari pancaran sinar Matahari (solar irradiance) tidaklah memberi
kontribusi yang besar pada pemanasan global.
Dengan demikian, maka dapat dipahami bahwa memang manusia yang berperanan bagi nasibnya
sendiri, karena pemanasan global terjadi akibat perbuatan manusia sendiri. Lalu bagaimana dampak Global
Warming bagi kehidupan? Alur waktu prediksi dan dampak dari perspektif sains dapat dibaca pada bagian kedua
tulisan ini.
Revolusi industri adalah start awal dari global warming. Dimana dampak jangka pendeknya pun terasa,
seperti kesenjangan ekonomi dan kerusakan organ-organ tubuh, tapi alasan itu tidak cukup untuk mengubah
revolusi ini karena memang ini menguntungkan beberapa pihak(pengusaha). Asap-asap hitam kelam dan berbau
keluar dari cerobong pabrik, orang dulu mungkin berfikiran wah sepertinya nanti akan menjadi masalah besar
di bumi ini, langit akan menjadi gelap, sesak, dan cahaya matahari tidak akan mencapai bumi
Tidak salah jika sekarang global warming menjadi masalah besar, masalah besar di bumi ini, tapi bumi
ini makin terang(panas) saja, dan cahaya matahari sekarang tidak nyaman
Berikut ini data dari pemanasan global:
1. Temperatur udara di permukaan bumi naik sekitar 0,74 derajat celcius dari 100 tahun yang lalu
2. Pada abad ke-20, kecepatan kenaikan air laut sekitar 1,7 mm per tahun dan dengan percepatan kenaikan air
laut 0,013 mm per tahun per tahun.
3. Perubahan cuaca/bencana cuaca(extreme weather) dimana terjadinya karena kesenjangan suhu yang sangat
jauh,biasanya angin besar.
4. diramalkan akan terjadi wabah penyakit, dimana penyakit-penyakit yang dulu terisolasi(isolasi suhu) menjadi
terbebas, dan memulai wabah.
5. masih banyak lagi dampak dari global warming.
Dengan begitu banyak dampak yang terjadi oleh global warming, kita seharusnya sudah memerangi
permasalahan ini dengan pernyataan sikap terhadap solusi-solusi yang disarankan oleh ahli-ahli lingkungan
Kepedulian sebuah industri terhadap lingkungan sangatlah diperlukan, dimana pada era sekarang ini
daya dukung lingkungan semakin berkurang, untuk itu di perlukan tekad dalam pemanfaatan limbah yang masih
bisa dipergunakan. Salah satu teknik pengoahan limbah adalah Instalasi Pengolahat Air Limbah yang
peruntukannya dikhususkan untuk limbah cair saja. Teknologi pengolahan limbah cair industri adalah salah satu
alat unutk memisahkan, menghilangkan dan/ atau mengurangi unsur pencemar dalam limbah.
Pulp adalah hasil pemisahan serat dari bahan baku berserat (kayu maupun non kayu) melalui berbagai
proses pembuatannya ( mekanis, semikimia, kimia). Pulp terdiri dari serat - serat (selulosa dan hemiselulosa)
sebagai bahan baku kertas. Kertas adalah bagian yang tak terpisahkan dari peradapan manusia, maka tidak heran
bila industri kertas merupakan salah satu sektor yang tingkat pertubuhannya sangat pesat, baik di indonesia
maupun di dunia. Saat ini, produksi kertas di indonesia menduduki peringkat ke-12 dunia, dengan dengan
jumlah 2,2% dari total produksi dunia yang mencapai 318,2 juta ton per tahun. Proses pembuatan kertas secara
konvensional menghasilkan banyak air dengan kandungan zat padat tersuspensi yang tinggi dan kadar COD

yang cukup penting. Mesin pembuat kertas, seperti Fourdrinier konvensional, dirancang untuk menggunakn air
untuk mencuci produk yang terdapat pada ayakan kawat secara kontinu. Tanpa sistem konservasi akan terjadi
kehilangan bahan serat.
Industri pulp dan kertas merupakan salah satu industri yang mempunyai peranan penting dalam
perekonomian Indonesia. Ada tiga alasan utama yang melatarbelakangi pentingnya sumbangan industri ini,
pertama produk pulp dan kertas harganya banyak ditentukan dalam nilai dolar; kedua komponen impor yang
digunakan dalam proses produksi nilainya tidak lebih dari 30% dan terakhir produk pulp dan kertas cenderung
banyak yang ditujukan untuk pasar luar negeri 2 . Sehingga dalam masa krisis ekonomi yang dihadapi
Indonesia, industri ini masih dapat diandalkan dalam membantu penerimaaan devisa negara.
Pentingnya industri pulp dan kertas yang besar tidak terlepas dari kondisi yang dimilikinya. Sampai
saat ini industri pulp dan kertas Indonesia memiliki keunggulan komparatif dibandingkan dengan negara lain.
Keunggulan yang lebih banyak mengandalkan sumber bahan baku yang berlimpah dengan harga yang relatif
murah serta tenaga kerja dengan upah buruh yang relatif rendah.
Dalam hal bahan baku, misalnya, Indonesia termasuk negara penyedia bahan baku pulp terbesar karena
mempunyai hutan terluas kedua di dunia. Sehingga bahan baku (kayu) untuk pembuatan pulp dan kertas tersedia
banyak di Indonesia.
Begitu juga dalam hal tenaga kerja, angkatan kerja produktif di Indonesia mencapai puluhan juta orang.
Keunggulan komparatif tersebut sebagai akibat dari kondisi alam dan demografi. Tetapi keuntungan komparatif
belum merupakan syarat cukup untuk bisa bersaing di masa mendatang. Untuk mampu berkompetisi dengan
industri sejenis dari negara lain di masa mendatang, maka keunggulan komparatif harus ditingkatkan menjadi
keunggulan kompetitif. Keunggulan kompetitif ini akan lebih mengandalkan pada inovasi produk, proses dan
jasa, penggunaan teknologi yang ramah lingkungan, perluasan pasar serta benchmarking dengan perusahaan
bereputasi internasional.
Pertumbuhan industri pulp dan kertas di Indonesia sungguh menakjubkan. Kapasitas produksi industri
kertas pada tahun 1987 sebesar 980.000 ton, kemudian tahun 1997 meningkat tajam menjadi 7.232.800 ton. Bila
memperhitungkan rencana perluasan dan investasi baru pada tahun 1998-2005 maka kapasitas produksi industri
kertas sampai dengan akhir tahun 2005 dapat bertambah menjadi 13.696.170 ton (APKI Direktori, 1997).
Demikian juga halnya dengan industri pulp. Pada tahun 1987 kapasitas produksi industri pulp baru
mencapai 515.000 ton, kemudian tahun 1997 meningkat menjadi 3.905.600 ton. Sementara itu, pada tahun
1998-1999 telah direncanakan penambahan kapasitas produksi sebesar 1.390.000 ton. Dengan demikian, pada
akhir tahun 1999 total kapasitas produksi industri pulp dapat mencapai 5.295.600 ton. Penambahan kapasitas
produksi oleh industri pulp yang sudah ada dan adanya rencana investasi baru pada tahun 2000 - 2005 akan
menambah kapasitas produksi industri pulp pada akhir tahun 2005 menjadi total 12.745.600 ton.

Seiring dengan meningkatnya kapasitas produksi, ekspor pulp dan kertas Indonesia terus meningkat.
Bila sebelumnya Indonesia selalu menjadi net importir pulp maka sejak tahun 1995 berbalik menjadi net
eksportir pulp. Angka pertumbuhan ekspor pulp tidak kurang dari 96 % antara tahun 1994-1996. Sebagai net
eksportir kertas Indonesia sudah tidak asing lagi. Data APKI (Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia) menunjukkan
bahwa antara tahun 1987-1996 jumlah ekspor kertas Indonesia selalu lebih besar dari jumlah impornya, dengan
tingkat

pertumbuhan

tahunan

sebesar

26,11

%.

Meningkatnya kapasitas produksi industri pulp dan kertas juga diikuti oleh kenaikan jumlah
konsumsi kertas per kapita. Konsumsi kertas per kapita di Indonesia pada tahun 1992 baru mencapai 10 kg,
kemudian meningkat menjadi 15,5 kg pada tahun 1996. Kenaikan konsumsi kertas per kapita di Indonesia
utamanya dipicu oleh bertambahnya industri pers dan percetakan, meningkatnya kebutuhan kertas industri,
kemajuan teknologi informasi yang membutuhkan media keluaran berupa kertas dan diversifikasi penggunaan
kertas

yang

semakin

melebar.

Konsumsi kertas per kapita di Indonesia dipastikan akan terus meningkat. Kendati konsumsi kertas
sebesar 15,5 kg per kapita pada tahun 1996 lebih besar dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, ternyata
masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Pada tahun 1996, Konsumsi kertas per
kapita di Malaysia telah mencapai 87,4 kg per tahun, Singapura 161,2 kg dan Amerika Serikat sebesar 334,6
kg.
Harga pulp yang tinggi di pasar internasional (saat ini harganya US$ 680 - 700 per ton) dan konsumsi
kertas yang terus meningkat merupakan dua faktor utama yang merangsang pertumbuhan industri pulp dan
kertas di Indonesia. Meskipun harga pulp dan kertas di pasar internasional berfluktuasi dari waktu ke waktu,
produsen pulp dan kertas di Indonesia sulit untuk rugi. Biaya produksi pulp di Indonesia sebelum krisis ekonomi
terjadi hanya US$ 217 per ton (saat ini US$ 250-300), jauh lebih rendah dibandingkan biaya pembuatan pulp di
kawasan Asia/Pasifik, Amerika Latin, Amerika Utara, Eropa Barat dan Jepang, yaitu masing-masing US$ 250,
260, 300, 420, dan 590. Brazil dan Chile merupakan saingan kuat Indonesia, dengan biaya produksi pulp per ton
masing-masing US$ 231 dan 241.
Dengan diambilnya bahan baku kayu untuk industri pulp dari hutan alam maka tekanan terhadap hutan
alam semakin besar. Sebelumnnya, sejak adanya kebijakan larangan ekspor kayu bulat pada tahun 1980, di
Indonesia telah terjadi booming pembangunan industri kayu lapis, industri kayu gergajian dan kemudian industri
pengolahan kayu hilir. Perkembangan industri perkayuan yang sangat pesat menyebabkan kapasitas total
industri perkayuan Indonesia melampaui kemampuan hutan produksi untuk menyediakan bahan baku secara
lestari.
Berdasarkan data Departemen Kehutanan (1997), total kapasitas produksi industri perkayuan
Indonesia setara dengan 68 juta m3 kayu bulat. Kapasitas produksi tersebut lebih 3 kali lipat dibandingkan
dengan kemampuan hutan produksi Indonesia untuk menghasilkan kayu bulat secara lestari. Menurut Mantan
Menteri Kehutanan Djamaludin Surjohadikusumo, pada awal tahun 1998 hutan alam produksi Indonesia hanya

mampu menghasilkan 18 juta m3 kayu bulat. Jika ditambah dengan kayu dari hutan rakyat, HTI dan hutan
konversi (kayu IPK) sebesar 12 juta m3 maka jumlahnya baru mencapai 30 juta m3. Ketimpangan antara
kapasitas industri perkayuan dengan kemampuan hutan untuk menyediakan bahan baku secara lestari telah
menyebabkan pengurasan (pengrusakan) sumberdaya hutan. Hal ini bertambah buruk dengan aktifitas
penjarahan hutan (pencurian kayu, illegal logging) yang semakin marak. Akibatnya, kualitas dan kuantitas hutan
Indonesia dari tahun ke tahun semakin menurun. Laju deforestasi hutan Indonesia pada periode tahun 19851998

tidak

kurang

dari

1,6

juta

hektar

pertahun

(Dephutbun,

200).

Bila untuk menghasilkan 1 ton pulp diperlukan 4,5 m3 kayu bulat, maka industri pulp di Indonesia
pada tahun 1999 memerlukan 24 juta m3 kayu bulat. Dengan asumsi potensi kayu bulat pada areal hutan
konversi rata-rata 80 m3 per hektar, maka untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri pulp harus ditebang
sekitar 300.000 ha hutan alam. Areal hutan alam yang dirusak dengan tebang habis akan semakin bertambah
seiring dengan bertambahnya kapasistas industri pulp dan kertas, sementara realisasi tanaman HTI-pulp masih
sekitar 20%.
Tidak dapat dipungkiri bahwa peran industri pulp dan kertas bagi perekonomian Indonesia sangat
strategis, pengusahanya mendapatkan keuntungan besar. Dengan tidak mengimpor pulp dan kertas tentu akan
menghemat cadangan devisa yang belakangan ini surut akibat krisis ekonomi. Selain itu, industri pulp mampu
menciptakan lapangan kerja baru. Namun demikian, apakah arti semuanya itu bila kehidupan kita terancam
akibat semakin rusaknya hutan alam Indonesia? Apakah berbagai kerugian yang terjadi (biaya lingkungan dan
biaya

sosial

yang

timbul)

dapat

dibayar

dengan

keuntungan

yang

diperoleh?

Penulis merekomendasikan kepada pemerintah agar pabrik pulp dan kertas hanya diijinkan beroperasi bila
sudah ada kepastian sumber bahan baku kayu pulp yang berasal dari Hutan tanaman. Oleh karena itu,
keberhasilan pembangunan HTI harus diwujud-nyatakan. Pasokan bahan baku kayu untuk industri pulp dari
hutan alam (kayu IPK) harus segera dihentikan. Untuk industri pulp yang telah beroperasi bahan bakunya harus
diimpor (misalnya dari Australia atau New Zealand), sampai panen HTI-pulp mencukupi. Dengan demikian,
ancaman kerusakan hutan alam Indonesia dapat dikurangi.

1.2 Tujuan
Tujuan dari pembuatan tugas akhir ini adalah:

Mengetahui Bahan baku dan proses produksi dalam Industri Pulp dan paper
Mengetahui limbah yang dihasilkan dari proses produksi pulp dan kertas
Mengetahui dan memahami proses pengolahan dan pemanfaatan limbah produksi pulp dan

kertas
Megetahui kelebihan dan kekurangan proses IPAL pada produksi pulp dan kertas

1.3 Permasalahan

Apa Bahan Baku yang digunakan dalam proses produksi Pulp dan kertas
Bagaiman proses produksi dalam industri pulp dan kertas
Bagaimana Pengolahan dam Pemanfaatan Limbah Pulp dan Paper
Apa kelebihan dan kekurangan dari proses IPAL nya

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Bahan Baku
Pada proses pembuatan pulp, ada beberapa bahan baku yang dapat digunakan, yakni merang, bagas,
bambu, kertas bekas dan kayu bulat. Namun pada umumnya, banyak industri pulp masih menggunakan kayu
bulat sebagai bahan bakunya. Kayu yang digunakan di Indonesia umumnya jenis Akasia. Kayu jenis ini berserat
pendek sehingga kertas menjadi rapuh. Di mesin pembuat kertas (paper machine), serat kayu ini biasanya
dicampur dengan kayu yang berserat panjang contohnya pohon pinus.

Bubur Kertas

Bubur kertas sendiri berasala dari kayu gelondongan yang biasa didapat dari hutan dikawasan
riau, Kalimantan. Pasokan potongan bahan baku kayu berupa potongan(chip)semua kayu-kayu akan
didapatkan dari lahan-lahan perkebunan yang dikelola secara berkesinambungan.

Selulosa (terdapat dalam tumbuhan berupa serat)

Sifat penting pada selulosa yang penting untuk pembuatan kertas :


1. gugus aktif alkohol (dapat mengalami oksidasi)
2. derajat polimerisasi (serat menjadi panjang)
Makin panjang serat, kertas makin kuat dan tahan terhadap degradasi (panas, kimia dn
biologi)Karakteristik beberapa serat, Jenis-jenis kertas Kertas bungkus : untuk semen, kertas llilin
Kertas tisu : sigaret, karbon, tisu muka Kertas cetak : untuk buku cetak Kertas tulis : HVS Kertas
Koran Kertas kartons

2.3 Bahan Pembantu


Pada pembuatan pulp (pulping) terdapat bahan-bahan tambahan yang digunakan untuk membantu
proses tersebut. Bahan bahan tersebut diantaranya ialah :

Larutan Cl2. Larutan ini digunakan sebagai bahan pemutih pada tahap bleaching (proses pemutihan

pulp)
Oksigen. Digunakan untuk menghilangkan lignin pada proses pemutihan. Namun pulp kimia tidak
dapat diputihkan hanya dengan oksigen untuk memperoleh derajat putih yang tinggi tanpa merusak

polisakarida.
Hidrogen peroksida atau natrium peroksida, atau kombinasi keduanya. Digunakan dalam salah satu

tahap proses pemutihan pulp.


Gas Ozon. Digunakan juga dalam salah satu tahap proses pemutihan. Khususnya digunakan untuk

mengoksidasi semua ikatan rangkap pada semua gugus alipatik dan aromatik.
Asam parasetat. Digunakan dalam proses pemutihan dan pulping. Tujuan penggunaannya ialah untuk
delignifikasi (mendegradasi lignin) dan peningkatan nilai derajat putih kertas.

Hipoklorit (H), Klordioksida (D), dan Nitrogen Dioksida (N). Digunakan sebagai oksidator untuk

mendegradasi dan menghilangkan lignin dari gugus kromoform.


NaOH. Sebagai basa kuat untuk mendegradasi lignin dengan cara hidrolisa dan melarutkan gugus gula

sederhana yang masih bersatu di dalam pulp.


Enzim hemiselulase (xylanase dan mannase). Bahan tambahan ini berfungsi meningkatkan
bleachability pulp dan mendegradasi lignin. Bahan ini merupakan teknologi bio-pulping yang
aplikasinya baru dapat dilakukan saat pre-treatment pada kayu yang akan dimasak.

2.3 Proses Produksi Pulp dan Kertas


2.3.1 Proses Produksi Pulp
Industri pulp dan kertas mengubah bahan baku serat menjadi pulp, kertas dan kardus. Urutan proses
pembuatannya adalah persiapan bahan baku, pembuatan pulp (secara kimia, semikimia, mekanik atau limbah
kertas), pemutihan, pengambilan kembali bahan kimia, pengeringan pulp dan pembuatan kertas.
Proses yang membutuhkan energi paling tinggi adalah proses pembuatan pulp dan proses pengeringan kertas.

ProsesPulping
Proses pulping atau pembuatan bubur kertas dapat diuraikan menjadi 9 bagian atau tahapan,

sebagai berikut;
Woodyard Dimana sebuah lapangan luas umumnya terbuka tempat menerima dan menyimpan
kayu gelondongan yang selanjutnya proses pengkulitan, pemotongan kecil-kecil & penyaringan

potongan kayu.
Barker dalam proses penghilangan kulit kayu ini grlondongan kayu dimasukkan dalam
"debarking drums", gelondongan silinder berputar mengakibatkan gelondongan kayu ikut berputar

dan bergesekan satu dengan yang lain melucuti kulit kayunya.


Chipper mesin pemotong gelondongan kayu menjadi ukuran kecil yaitu kurang dari 2 cm dan

setipis 1/2 cm.


Screen diperlukan filter penyaring untuk memisahkan potongan kayu yang lebih besar dari target

ukuran diatas, dan menghilangkan debu mesin potong yang tidak perlu.
Digester prinsipnya seperti panci masak didapur tempat ibu atau istri anda masak. Potongan kayu
yang disebut chips dimasak dengan suhu dan tekanan yang tinggi dalam suatu larutan kimia
penghancur. Larutan dan proses masak ini akan melembutkan dan akhirnya memisahkan serat
kayu yang diinginkan dari "lignin" yaitu unsur kayu semacam lem yang menahan serat kayu

bersatu.
Chemical Recovery and Regeneration proses sampingan kimia inorganik yang diolah ulang dari
proses "memasak" sebelumnya, untuk memasak kembali. Bahan kimia buangan dari proses

memasak sebelumnya masih dapat diproses ulang, tidak dibuang begitu saja.
Blow Tank ibaratnya setelah selesai dimasak maka makanan disimpan dalam panci penyimpan
untuk disajikan kemudian sesuai selera masing-masing individu, apa mau sedikit asin, manis,
indah didekorasi dan lain sebagainya. Disini serat kayu sudah terpisah satu sama lain, secara resmi
mereka sudah disebut pulp atau bubur kertas.

Washing "mesin cuci" ini akan membersihkan sisa-sisa larutan kimia dan ligin yang masih
tertinggal, yang dikirim keproses nomor 6 yaitu chemical recovery process. Ibaratnya saat anda
masak nasi, maka beberapa kali anda mentiriskan air beras yang anda cuci sebelum dimasak
supaya kotoran hilang. Harap diingat disini anda bukan bertujuan membuatnya menjadi putih
bersih! Pada tahap ini bubur kertas secara alami berwarna coklat dan umunya digunakan untuk

membuat kertas kantong dan corrugated box yang coklat.


Bleaching proses pemutihan bubur kertas menggunakan kimia pemutih atau bleach, yang tujuan
utamanya khusus untuk membuat kertas cetak atau kertas budaya. Jadi proses pemutihan sangat
relatif tergantung pada jenis kertas yang akan dibuat.

2.3.2 Proses Produksi Kertas


Kertas adalah bahan tipis dan rata dihasilkan dengan kompresi serat yang berasal dari pulp. Serat yang
digunakan biasanya adalah alami, dan mengandung selulosa dan semiselulosa. Proses pembuatan kertas
merupakan suatu proses pengolahan bubur serat ditambah dengan zat-zat penolong (filler) untuk menambah
kekiatan kertas, menjadi lembaran-lembaran kertas yang diproses disuatu alat yang disebut mesin kertas (paper
machine). Secara garis besar proses pembuatan kertas terdiri dari tiga tahapan, yaitu :

Stok Preparation (Proses Penyiapan bahan baku).


Pada bagian ini, bahan baku berupa kertas (pulp) dicampur dengan bahan penolong (filler) dan air

sebelum masuk ke mesin kertas (paper machine).


Forming (Proses Pembentukan)
Preoses ini sudah ada pada paper machine, diman bahan baku dari stock preparation dibentuk menjadi

lembaran kertas dengan cara menyebarkan bubur kertas secara merata pada paper machine
Proses pembuangan Air
Kertas yang telah dibentuk kemudian dikeringkan (kadar air kira-kira 5%) sehingga menjadi lembaran
kertas. Proses ini berada di paper machine.

2.4 Limbah Yang Dihasilkan


Limbah yang dihasilkan dari proses produksi pulp adalah sebagai berikut :
Efluen limbah cair, berupa :
- Padatan tersuspensi yang terdiri dari partikel kayu, serat, pigmen, debu dan sejenisnya.
- Senyawa organik koloid terlarut serat hemisellulosa, gula, lignin, alkohol, terpentin, zat pengurai serat, perekat
pati dan zat sintetis yang menghasilkan BOD tinggi.
- Limbah cair berwarna pekat yang berasal dari lignin dan pewarna kertas.
- Bahan anorganik terlarut seperti NaOH, Na2SO4, klorin dan lain-lain.
- Limbah panas.

- Mikroorganisme seperti golongan bakteri coliform.


Partikulat, berupa :
- Abu dari pembakaran kayu bakar dan sumber energi lain.
- Partikulat zat kimia terutama yang mengandung Na dan Ca.
Gas, berupa :
- Gas sulfur yang berbau busuk seperti merkaptan dan H2S yang dilepaskan dari berbagai tahap dalam proses
kraft pulping dan proses pemulihan bahan kimia.
- Oksida sulfur dari pembakaran bahan bakar fosil, kraft recovery furnace dan lime Kiln.
- Uap yang akan membahayakan karena mengganggu jarak pandangan.
Solid waste, berupa :
- Sludge dari pengolahan limbah primer dan sekunder.
- Limbah padat seperti potongan kayu dan limbah pabrik lainnya.

2.5 Pengolahan dan Pemanfaatan Limbah

2.5.1 Pengolahan Limbah


Limbah yang dihasilkan dari proses produksi pulp dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu cair, padat, dan emisi
udara. Limbah cair yang dihasilkan dari proses produksi diolah dengan menggunakan Instalasi Pengelolaan Air
Limbah (IPAL). Sistem pengelolaan limbah cair berdasarkan unit operasinya dibedakan menjadi tiga, yaitu :

a. Fisik
Pada unit operasi ini, salah satu hal yang ditangani ialah proses screening (penyaringan). Screening
merupakan cara yang efisien dan murah untuk menyisihkan bahan tersuspensi yang berukuran besar. Screening
dilakukan pada sisa-sisa potongan kayu yang masih berukuran besar sehabis diolah pada proses chipper. Setelah
dilakukan penyaringan, umumnya kayu yang masih berukuran besar akan dikembalikan lagi ke proses chipper,
untuk diolah lagi dan mendapatkan ukuran kayu yang dikehendaki.
Bahan tersuspensi yang mudah mengendap dapat disisihkan secara mudah dengan proses
pengendapan. Pengendapan primer biasanya terjadi di bak pengendapan atau bak penjernih. Bak pengendap
yang hanya berfungsi atas dasar gaya berat, tidak memberi keluwesan operasional. Karena itu memerlukan
waktu tinggal sampai 24 jam. Parameter desain yang utama untuk proses pengendapan ini adalah kecepatan
mengendap partikel dan waktu detensi hidrolis di dalam bak pengendap. Bak penjernih bulat yang dirancang

dengan baik dapat menghilangkan 80% zat padat yang tersuspensi dan 50-995 BOD. Beberapa contoh Limbah
atau proses-proses yang menggunakan pengolahan unit ini ialah :
Hasil pemasakan merupakan serat yang masih berwarna coklat dan mengandung sisa cairan pemasak
aktif. Serat ini masih mengandung mata kayu dan serat-serat yang tidak dikehendaki (reject). Sisa cairan
pemasak dalam serat dibersihkan dengan mengguna- kan washer, sedangkan pemisahan kayu dan reject dipakai
screen.
Larutan hasil pencucian bubur pulp di brown stock washers dinamai weak black liquor yang disaring
sebelum dialirkan ke unit pemekatan.

b. Kimia
Pengolahan air buangan secara kimia biasanya dilakukan untuk menghilangkan partikel-partikel yang
sukar mengendap, senyawa fosfor, logam-logam berat, dan zat organik beracun. Dinamakan secara kimia karena
pada proses ini dibutuhkan bahan kimia yang akan mengubah sifat bahan terlarut tersebut dari sangat terlarut
menjadi tidak terlarut atau dari ukuran sangat halus menjadi gumpalan (flok) yang dapat diendapkan maupun
dipisahkan dengan filtrasi.
Beberapa limbah-limbah atau proses-proses yang menggunakan pengolahan unit ini ialah :
Cairan sisa dari hasil proses pemutihan yang menggunakan bahan kimia chlorine dioksida, ekstraksi
caustic soda, hidrogen peroksida. Dalam proses pemutihan, setiap akhir satu langkah dilakukan pencucian untuk
meningkatkan efektivitas proses pemutihan. Sebelum bubur kertas yang diputihkan dialirkan ke unit pengering,
sisa klorin dioksida akan dinetralkan dengan injeksi larutan sulfur dioksida.
Jika pengambilan air dilakukan dari sungai, maka biasanya industri pulp seharusnya memberikan bahan
pengendap secukupnya dan sedikit larutan hypo untuk membunuh bakteri dan jamur sebelum mengalami proses
pengendapan di dalam settling basin dan penyaringan sehingga dihasilkan air proses yang bersih dan bebas
jamur.
Pemasakan menggunakan bahan larutan kimia, seperti NaOH (sodium hidroksida) dan NaS (sodium
sulfida) yang berfungsi untuk memisahkan serat selulosa dari bahan organik. Cairan yang dihasilkan dari proses
pemasakan diolah dan menghasilkan bahan kimia, dengan daur ulang. Pada proses daur ulang terjadi limbah
cair.
Proses pemutihan menggunakan zat-zat kimia, utamanya ClO2 dan cairan yang masih tertinggal
berubah menjadi limbah dengan kandungan berbagai bahan kimia berupa organoklorin yang umumnya beracun.

10

c. Biologi
Tujuan utama dari pengolahan limbah cair secara biologi adalah menggumpalkan dan
menghilangkan/menguraikan padatan organik terlarut yang biodegradable dengan memanfaatkan aktivitas
mikroorganisme. Pengolahan secara biologis mengurangi kadar racun dan meningkatkan mutu estetika buangan
(bau, warna, potensi yang menggangu dan rasa air). Apabila terdapat lahan yang memadai, laguna fakultatif dan
laguna aerasi bisa digunakan. Laguna aerasi akan mengurangi 80% BOD buangan pabrik dengan waktu tinggal
10 hari.
Pabrik-pabrik di Amerika Utara sekarang dilengkapi dengan laguna aerasi bahkan dengan waktu
tinggal yang lebih panjang, atau kadang-kadang dilengkapi dengan kolam aerasi pemolesan dan penjernihn
akhir untuk lebih mengurangi BOD dan TSS sampai di bawah 30mg/1.
Prinsip dasar pengolahan secara biologi sebetulnya mengadopsi proses pertumbuhan mikroorganisme
di alam, mikroorganisme yang tumbuh membutuhkan energi berupa unsure karbon (C) dimana unsure karbon
(C) tersebut dengan mudah diperoleh dari senyawa organic dalam air limbah, sehingga senyawa organic tersebut
terurai menjadi CO2 dan H2O. Salah satu limbah yang menggunakan pengolahan unit ini ialah hasil perasan
sludge yang berasal dari primary clarifier yang berupa larutan. Larutan ini didinginkan di 6 unit menara
pendingin sebelum dialirkan ke deep tank air activated sludge untuk mengurangi kandungan organik secara
biologi dengan memanfaatkan bakteri dan gas oksigen dari udara yang diinjeksikan dan bantuan dari pupuk
fosfor dan nitrogen.
Setelah penjelasan mengenai tiga unit operasi Instalasi Pengelolaan Air Limbah diatas, maka satu hal
yang penting untuk diketahui ialah standar baku mutu limbah cair yang telah ditetapkan pemerintah untuk
pabrik pulp. Standar baku mutu limbah cair yang telah ditetapkan pemerintah berdasarkan Keputusan Menteri
LH No 51 Tahun 1995 untuk pabrik pulp, yakni toleransi PH dikisaran 6,0-9,0, BOD5: 150 mg/l, COD: 350
mg/l, dan TSS 150 mg/l.

2.5.2 Instalasi Pengolahan Air Limba


Dasar-Dasar Teknologi Pengolahan Limbah Cair

11

Teknologi pengolahan air limbah adalah kunci dalam memelihara kelestarian lingkungan. Apapun
macam teknologi pengolahan air limbah domestik maupun industri yang dibangun harus dapat dioperasikan dan
dipelihara oleh masyarakat setempat. Jadi teknologi pengolahan yang dipilih harus sesuai dengan kemampuan
teknologi masyarakat yang bersangkutan.
Berbagai teknik pengolahan air buangan untuk menyisihkan bahan polutannya telah dicoba dan
dikembangkan selama ini. Teknik-teknik pengolahan air buangan yang telah dikembangkan tersebut secara
umum terbagi menjadi 3 metode pengolahan:

Pengolahan Secara Fisika

Pengolahan Secara Kimia

Pengolahan secara biologi

2.5.3 Pemanfaatan limbah


Cara pemanfaatan limbah hasil dari produksi yaitu dengan 3R (Reuse, Recycle, Recovery). Limbah
yang dapat imanfaatkan kembali adalah abu hasil pembakaran pada incinerator. Abu tersebut dapat dibedakan
menjadi dua, yaitu fly ash dan bottom ash. Fly ash dapat dimanfaatkan menjadi batako, dan bahan baku semen
karena kandungan SI yang tinggi dan CO rendah.

2.6

Baku Mutu Limbah Cair


Baku mutu limbah cair . menunjukkan teknologi intern dan ekstern terbaik yang tersedia di Indonesia .

baku mutu limbah yang baru pada kedua telah diterapkan pada semua pengoperasian yang baru dan diperluas

12

serta harus diterapkan pada semua pengoperasian mulai tahun 1995. baku mutu ini terbagi dalam berbagai
proses pembuatan pulp dan kertas untuk mencerminkan mutu buangan dari proses-proses ini.
Tabel 3.2.1. Baku mutu limbah cair industri pulp dan kertas, berlaku bagi industri baru atau yang diperluas dan
bagi semua industri mulai tahun 1995.

Parameter
Proses

Debit m3/t
M3/t

BOD5
mg/1

kg/1

TSS
mg/1

COD
g/1

mg/1

kg/1

A. Pulp
1. Kraft dikelantang
70
60
3,9
60
3,9
300
21,0
2. Pulp parut
95
75
7,0
7,0
6,7
300
28,5
3. Kraft tidak
35
50
1,8
60
2,1
180
6,3
dikelantang
4. Sulfit dikelantang
100
100
10
80
8,0
400
40
5. Mekanik (CMP)
65
50
3,3
70
4,6
120
7,8
dan Groundwood
6. Semi-Kimia
60
60
3,6
60
3,6
180
10,8
7. Pulp Soda
80
65
3,6
60
3,6
180
10,8
8.Deink Pulp (dari
60
80
4,8
85
5,1
250
15,0
Kertas bekas)
B. Kertas
1.
Halus 40
90
3,6
80
3,2
190
7,6
( dikelantang)
2. Kasar
20
70
1,4
80
1,6
170
3,4
3.Kertas lain yang
35
75
2,6
80
2,8
160
5,6
dikelantang
Sumber : Limbah cair berbagai industri di Indonesia ; Pengendalian dan Baku Mutu
EMDIBAPEDAL 1994
Baku mutu pabrikm pulp dengan proses sulfit akan sukar dipenuhi dengan teknologi yang terbaik yang
ada pada saat ini. Dengan pengambilan kembali bahan kimia secara efisien, pengambilan kembali bahan organic
sebagai bahan bakar, proses pengelantangan terkendali dengan efisien, konservasi air yang baik pada mesinmesin kertas dan teknologi pengolahan buangan yang diterapkan secara luas, baku mutu semua proses yang lain
dapat dengan mudah dipenuhi. Baku mutu limbah cair ditetapkan sesudah dilakukan peninjauan secara ekstensif
mengenai teknologi baru proses pulp dan kertas, kemampuan peninjauan secara ekstern dan baku mutu limbah
cair untuk pabrik yang sudah beroperasi dan yang baru di Finlandia, Swedia, Jerman, Jepang, Thailand, Kanada,
Belgia, Norwegia, Amerika Serikat, Spanyol, Perancis, Inggris, dan yunani.

2.6.1 Kelebihannya

Industri pulp dan kertas Indonesia memiliki keunggulan komparatif dibandingkan dengan
negara lain. Keunggulan yang lebih banyak mengandalkan sumber bahan baku yang
berlimpah dengan harga yang relatif murah serta tenaga kerja dengan upah buruh yang relatif
rendah.

13

Dalam hal bahan baku, misalnya, Indonesia termasuk negara penyedia bahan baku pulp
terbesar karena mempunyai hutan terluas kedua di dunia. Sehingga bahan baku (kayu) untuk
pembuatan pulp dan kertas tersedia banyak di Indonesia

2.6.2

Kekurangan

Dalam proses pemutihan digunakan klorin maka dari unit ini dihasilkan limbah cair yang
mengandung Clorinated Organic Compouns yang diketahui sangat berbahaya bagi
lingkungan.

Industri pulp dan kertas telah melakukan pengolahan limbah cair, tetapi pada akhir proses
masih ada limbah padat berupa serat yang perlu dicari pemanfaatanya.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1

Kesimpulan
Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan pulp dan kertas ini adalah bubur kertas dan selulosa.

Dalam proses produksinya terdapat tiga tahapan. Limbah-limbah yang dihasilkan dari proses produksi harus

14

diolah terlebih dahulu agar tidak mencemari lingkungan. Limbah pulp dan kertas dapat dibedakan menjadi tiga
yaitu padat, cair dan emisi. limbah padat diolah dengan menggunakan insenerator dengan menggunakan proses
thermal, sedangkan limbah cair diolah dengan menggunakan instalasi pengelolaan air limbah (IPAL) Dampak
negatif dari pembangunan akan selalu muncul, untuk itu dampak ini harus dikelolah dengan sebaik-baiknya agar
tidak menimbulkan efek yang lebih besar lagi.Badan air/sungai akan selalu menanggung beban pencemaran,
apabila setiap industri yang membuang limbahnya tidak sesuai dengan persyaratan/baku mutu yang telah
ditetapkan.Kegiatan pengelolah limabah dapat dilakukan dengan 2 (dua) metode yaitu dengan pengelolaan
limbah itu sendiri dan minimisasi limbah.

3.2

Saran

Pemanfaatan limbah dari suatu industri harus lebih ditingkatkan

Kemajuan teknologi pengolahan limbah dapat dimanfaatkan sebagai alternatif menekan efek negatif
yang mungkin saja timbul.

Pembangunan instalasi pengolahan air limbah sudah mutlak dan harus dimiliki oleh setiap industri atau
badan pengolah yang ditunjuk agar setiap air limbah yang dibuang ke badan air sudah masuk dalam
baku mutu yang telah ditetapkan oleh pemrintah.

DAFTAR PUSTAKA
Azhary M, global-warming-dari-isu-jadi-masalah, //rezanurrahman1988.files.wordpress.com/2007/12/
( 5 Januari 2010)
Djatmiko, Margono, 2000 Wahyono, Pendayagunaan Industri Managemen, Bandung : PT. Citra Aditya
Bakti,
http://www.pulp.multiply.com/reviews/item/1 (15 Januari 2010)
http://www.kertasgrafis.com (15 Januaro 2010)

15

Muladi, S. 2004. Kimia Kayu, Teknologi Pulp dan Kertas. Fakultas kehutanan universitas
munawarman. Samarinda.
Sumber enggieng, http://langitselatan.com/2008/02/09/global-warming-apa-dan-mengapa (15 Januari
2010)

16

17