Anda di halaman 1dari 42

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Neraca Penatagunaan Tanah adalah perimbangan antara ketersediaan tanah dan
kebutuhan penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan tanah menurut fungsi kawasan
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Neraca Penatagunaan Tanah meliputi neraca
perubahan penggunaan tanah, neraca kesesuaian penggunaan tanah terhadap RTRW,
dan prioritas ketersediaan tanah. Penyusunan Neraca merupakan amanat Peraturan
Pemerintah No. 16 Tahun 2004 tentang Penatagunaan Tanah Pasal 23 ayat (3) dan
Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Pasal 33 ayat (2).
Sejalan dengan tupoksi Badan Pertanahan Nasional RI yaitu melaksanakan
pengelolaan pertanahan secara nasional, regional dan sektoral di seluruh wilayah tanah
air, penyusunan Neraca Penatagunaan Tanah dilaksanakan secara nasional, regional
(provinsi, kabupaten/kota) serta sektoral (neraca sawah, perkebunan, perumahan, industri
dan sektor lainnya). Penyusunan Neraca Penatagunaan Tanah Kabupaten/Kota telah
dilaksanakan disejumlah Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi dengan
tingkat kedalaman yang bervariasi dan dikerjakan dengan menggunakan teknis dan
substansi materi yang telah distandarkan.
Atas dasar itu, dipandang perlu adanya suatu panduan dalam Penyusunan Neraca
Penatagunaan Tanah Kabupaten/Kota dalam bentuk Tata Cara Kerja (TCK), agar
diperoleh standarisasi hasil yang baik dan dapat dimanfaatkan bagi stakeholder yang
membutuhkannya. Untuk itu, TCK ini akan dievaluasi dan disempurnakan dari waktu ke
waktu sesuai kebutuhan dan perkembangan yang terjadi.
1.2. Tujuan
Penyusunan Tata Cara Kerja (TCK) Neraca Penatagunaan Tanah Kabupaten/Kota
ini bertujuan untuk memberikan pedoman teknis dalam penyusunan Neraca Penatagunaan
Tanah Kabupaten/Kota.
1.3. Ruang Lingkup
Penyusunan neraca penatagunaan tanah kabupaten/kota meliputi metodologi,
klasifikasi, penyajian dan sistematika penulisan laporan neraca penatagunaan tanah.

BAB II
METODOLOGI
Pelaksanaan kegiatan penyusunan neraca penatagunaan tanah kabupaten/kota
meliputi Persiapan, Inventarisasi Data, Up dating data/Pengolahan Data, Analisa
Penatagunaan Tanah, Kontrol Kualitas, Konsultasi/Koordinasi dan Pelaporan.
2.1 Persiapan
2.1.1

Penetapan Lokasi Kegiatan


Penetapan lokasi dilakukan melalui Surat Keputusan Kepala Kantor Wilayah

Badan Pertanahan Nasional Provinsi berdasarkan usulan dari Kepala Bidang Pengaturan
dan Penataan Pertanahan/Kepala Seksi Penatagunaan Tanah. Dalam penetapan lokasi
penyusunan neraca penatagunaan tanah, perlu diperhatikan bahwa penyusunan Neraca
Penatagunaan Tanah dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu (1) Penyusunan baru (pertama kali)
dan (2) revisi.
a)

Penetapan Lokasi Penyusunan neraca penatagunaan tanah baru (pertama kali).


Dalam penetapan lokasi penyusunan neraca penatagunaan tanah kabupaten/kota
baru, yang perlu diperhatikan adalah :
1.

Kabupaten/Kota

yang

belum

pernah

dilakukan

penyusunan

neraca

2.

penatagunaan tanah
Memiliki data dan peta Penggunaan Tanah dalam 2 (dua) kurun waktu yang
berbeda antara 3 sampai 5 tahun.

3.

Memiliki data dan peta Gambaran Umum Penguasaan Tanah

4.

Memiliki Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota, apabila belum ada


RTRW Kab/Kota menggunakan RTRW provinsi

5.

Terhadap

wilayah

(kab./kota)

hasil

pemekaran,

penyusunan

neraca

penatagunaan tanah bisa dilakukan apabila telah memiliki RTRW yang sudah
ditetapkan melaluii Perda. Apabila Perda RTRW yang bersangkutan belum
diterbitkan dapat mengacu pada RTRW Kabupaten induk.
b)

Penetapan lokasi kegiatan untuk neraca penatagunaan tanah revisi.


Revisi neraca penatagunaan tanah kabupaten/kota dapat dilaksanakan dalam kurun
waktu antara 3 sampai 5 tahun. Kondisi ideal untuk dapat dilakukan revisi neraca
penatagunaan tanah adalah 3 tahun untuk kota dan 5 tahun untuk kabupaten. Namun

demikian apabila dalam suatu wilayah kabupaten/kota terdapat kegiatan-kegiatan


yang bersifat masif/terdapat pemekaran wilayah, penyusunan neraca penatagunaan
tanah revisi dimungkinkan untuk dapat dilaksanakan dalam kurun waktu tersebut.
.
2.1.2

Penyiapan data dan informasi

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyiapan data dan informasi antara lain :
1.

Jenis data dan informasi:


Data dan informasi yang disiapkan dalam penyusunan neraca penatagunaan tanah
adalah :
a)

Peta Penggunaan Tanah, dapat diperoleh dari Bidang Survey, Pengukuran dan
Pemetaan pada Kantor Wilayah Pertanahan Provinsi dan/atau Seksi Survey,
Pengukuran dan Pemetaan pada Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota yang
bersangkutan. Apabila data dimaksud belum tersedia, dilakukan kegiatan
pengumpulan data di lapang dengan bantuan citra.

b)

Peta Administrasi.

c)

Peta Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dari Pemerintah Daerah, dengan
ketentuan sebagai berikut
i.

RTRW yang dapat digunakan adalah RTRW Kabupaten/Kota yang berlaku


(telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah).

ii.

Apabila RTRW sedang direvisi, dapat digunakan RTRW lama yang masih
berlaku.

iii.

Apabila RTRW sebagaimana dimaksud pada butir i) dan ii) tidak tersedia,
dapat digunakan RTRW Provinsi yang telah ditetapkan dengan Peraturan
Daerah.

d)

Data dan Peta Gambaran Umum Penguasaan Tanah.

e)

Data dan/atau Arahan Pengembangan Komoditas Unggulan Daerah atau Rencana


Tata Ruang Pertanian dari Kementerian Pertanian RI (diperlukan untuk analisa
kesesuaian komoditas).

f)

Data pendukung lainnya, antara lain data kependudukan dan sosial ekonomi dari
Kantor Statistik dan/atau Badan Pusat Statistik (BPS).

2.

Skala input peta:

a)

1 : 25.000 untuk kabupaten di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

b)

1: 50.000 untuk kabupaten di Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi,dan Maluku.

c)

1 : 100.000 untuk kabupaten di Pulau Papua.

d)

1 : 10.000 untuk kota.

3.

Peta dasar yang digunakan adalah peta Rupa Bumi Indonesia dari
Badan Informasi Geospasial (BIG).

4.

Pengorganisasian penyusunan Neraca Penatagunaan Tanah


a)

Penyusunan rencana kerja dan penganggaran.

b)

Penyiapan bahan dan peralatan.

c)

Penerbitan Surat Perintah Kerja (SPK) / Surat Tugas untuk


pekerjaan Updating, Analisa dan Kontrol Kualitas.

d)

Pembentukan Tim Penyusunan Buku Neraca Penatagunaan


Tanah (lihat Lampiran 8).

e)

Koordinasi dengan unit kerja terkait.

1.2 Inventarisasi Data


Inventarisasi data yang dilakukan, meliputi :
1.

Data Penatagunaan Tanah


a)

Persiapan Lapang

b)

Mengolah citra

c)

Membuat peta kerja

d)

Mencetak peta kerja

e)

Melaksanakan identifikasi lapang

f)

Mengkompilasi data lapang dalam peta kerja (administrasi, penggunaan tanah


saat ini, GUPT)

2.

Data Penunjang dan Data Sosial Ekonomi


a)

Peta Rencana Tata Ruang beserta dokumen RTRW,

b)

Rencana tata ruang pertanian, e

c)

Penetapan kawasan kehutanan

d)

Data sosial ekonomi

2.3 Updating Data/Pengolahan Data


Data dan informasi yang diolah antara lain adalah data dan Peta Penggunaan
Tanah baru dan Gambaran Umum Penguasaan Tanah (GUPT) serta kompilasi data sosial
ekonomi. Klasifikasi penggunaan dan penguasaan tanah sesuai pada lampiran (lampiran 5
s/d 7).
1.

Pengolahan Data Tekstual :


Data tekstual yang disajikan antara lain adalah tabel Jumlah kepadatan penduduk
dan matapencaharian penduduk.
Contoh Tabel
Tabel 1.
No.

Luas dan Jumlah Penduduk Wilayah Administrasi (Contoh)


Kecamatan/Desa

Luas
Ha

% Wilayah

Jumlah Penduduk
Jiwa

% Wilayah

Kepadatan
Penduduk
(jiwa/km2)

1.
2.
...
Total
Sumber : Perhitungan luas Peta Administrasi, Badan Pertanahan Nasional RI (tahun
2014) dan Kantor Statistik (tahun .....).
Tabel yang lain menyesuaikan.
2.

Pengolahan Data Spasial


Data spasial yang disajikan antara lain adalah luas penggunaan tanah (lama dan
baru), luas penguasaan tanah sekala besar, peruntukkan ruang berdasarkan RTRW,
luas lereng,
Contoh Tabel :

Tabel 2.
No.

Rincian Penggunaan Tanah (Baru) Tahun .......... (Contoh)


Penggunaan Tanah (ha)

Kecamatan/
Desa

Jumlah
Luas
(ha)

%
Wilayah

1.
2.
3.
...
Jumlah
Luas (ha)
% Wilayah
Sumber

Tabel 3.

Perhitungan luas Peta Penggunaan Tanah, Badan Pertanahan


Nasional RI (tahun 2014).
Penggunaan Tanah (Baru) Tahun ...... (Contoh)

No.

Penggunaan Tanah

Luas (ha)

% Luas Wilayah

1.
2.
3.
...
Total
Sumber

Badan Pertanahan Nasional RI (tahun 2014).

Tabel 4.

Rincian Penggunaan Tanah (Lama) Tahun ..... (Contoh)


Penggunaan Tanah (ha)

No.

Kecamatan/Desa

Jumlah
Luas
(ha)

%
Wilayah

1.
2.
3.
...
Jumlah Luas (ha)
% Wilayah
Sumber

Perhitungan luas Peta Penggunaan Tanah Tahun ....., Badan


Pertanahan Nasional RI (tahun).

Tabel 5. Penggunaan Tanah (Lama) Tahun ..... (Contoh)


No.

Penggunaan Tanah

Luas (ha)

% Luas Wilayah

1.
2.
3.
...
Sumber

Tabel 6.
No.

Total
Badan Pertanahan Nasional RI tahun 2014

Rincian Gambaran Umum Penguasaan Tanah (Contoh)


Kecamatan/
Desa

Gambaran Umum Penguasaan Tanah

Jumlah
Luas
(ha)

%
Wilayah

1.
2.
3.
...
Jumlah
Luas (ha)
% Wilayah
Sumber

Badan Pertanahan Nasional RI (tahun 2014)

Tabel 7.

Gambaran Umum Penguasaan Tanah (Contoh)

No.

Gambaran Umum Penguasaan Tanah

1.
2.
3.
...
Total
Sumber

Badan Pertanahan Nasional RI (tahun 2014)

Luas (ha)

% Luas
Wilayah

Tabel 8.

Rincian Rencana Tata Ruang Wilayah Tahun .... (Contoh)


Kecamatan/
Desa

No.

Arahan Fungsi Kawasan dalam RTRW (ha)

Jumlah
Luas
(ha)

%
Wilayah

1.
2.
3.
...
Jumlah
Luas (ha)
% Wilayah
Sumber

: Peta Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota ........ Tahun ....


(Perda No. ... Tahun ....)

Tabel 9.
No.

Rencana Tata Ruang Wilayah Tahun .... (Contoh)


Arahan Fungsi Kawasan dalam
RTRW

Luas (ha)

% Luas Wilayah

1.
2.
3.
...
Total
Sumber

: Peta Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota ........ Tahun ....


(Perda No. ... Tahun ....)

2.4 Analisa Penatagunaan Tanah


Analisa penatagunaan tanah terdiri dari analisa perubahan penggunaan tanah,
analisa kesesuaian penggunaan tanah terhadap rencana tata ruang, analisa ketersediaan
tanah dan analisa ketersediaan tanah untuk komoditas tertentu.
2.4.1

Analisa Perubahan Penggunaan Tanah.


Analisa perubahan penggunaan tanah dilakukan untuk mengetahui laju perubahan

penggunaan tanah dalam kurun waktu kurang lebih 3 s/d 5 tahun. Laju perubahan
penggunaan tanah tersebut dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam
menentukan kebijakan mengenai penggunaan dan pemanfaatan tanah selanjutnya.
Analisa perubahan penggunaan tanah terdiri dari :

a. Perubahan penggunaan tanah


Melalui Analisa Perubahan Penggunaan Tanah, dapat diketahui luas dan lokasi
perubahan penggunaan tanah dalam kurun waktu tertentu. Langkah-langkah analisa
adalah sebagai berikut:
a) Melakukan overlay (tumpang-susun) Peta Penggunaan Tanah Baru dan Peta
Penggunaan Tanah Lama.

Gambar 1. Analisa Perubahan Penggunaan Tanah


b) Menginventarisasi luas, jenis, dan letak perubahan penggunaan tanah pada kurun
waktu tertentu; untuk menyederhanakan penyajian data, dilakukan reklasifikasi
jenis penggunaan tanah sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 10, Tabel 11 dan
Tabel 12.
Tabel 10. Rincian Perubahan Penggunaan Tanah Tahun .... ........... (Contoh)
Penggunaan Tanah
Penggunaan
No.
Kecamatan
Luas (ha)
Tahun ....
Tanah Tahun .
1.

2.

Sumber: Badan Pertanahan Nasional RI (tahun 2014).


Tabel 11. Rekapitulasi Perubahan Penggunaan Tanah Tahun... ....... (Contoh)

Luas (ha)
No.

Penggunaan
Tanah

Tahun .....

Perubahan Penggunaan Tanah

Tahun ....

Luas
(ha)

%
Perubahan

Ratarata/tahun
(ha)

1.
2.
3.
...
Sumber :
Tabel 12.

Badan Pertanahan Nasional RI (tahun 2014).


Perkembangan Penggunaan Tanah Tahun ..... s/d .... (Contoh)
Perubahan Penggunaan Tanah Tahun ..... s/d 2014

No.

Kelompok Penggunaan
Tanah

Luas .....
(ha)

Luas
2014 (ha)

1.

Budidaya Pertanian
a.
Sawah
b.
Perkebunan
c.
Perikanan
d.
Budidaya pertanian
lainnya
2. Budidaya Non-Pertanian
a.
Perumahan
b.
Industri
c.
Pertambangan
d.
Jasa
e.
Budidaya nonpertanian lainnya
3. Non-Budidaya
a.
Hutan
b.
Tanah terbuka
c.
Padang rumput
d.
Non Budidaya
lainnya
4. Sungai dan perairan lainnya
Sumber : Badan Pertanahan Nasional RI (tahun 2014).
b. Perubahan penggunaan tanah pada fungsi kawasan.

10

Perubaha
%
n Luas
Perubaha
(ha)
n

Ratarata/
Tahun
(ha)

Perubahan penggunaan tanah tidak selamanya berlangsung sesuai dengan arahan


tata ruang. Melalui Analisa Perubahan Penggunaan Tanah pada Fungsi Kawasan,
dapat dilihat besarnya penyusutan dan/atau penambahan luas penggunaan tanah
pada fungsi kawasan tertentu, yang selanjutnya dapat dikaji kesesuaiannya dengan
tata ruang.
Langkah-langkah analisa adalah sebagai berikut:
a)

Melakukan overlay (tumpang-susun) Peta Perubahan Penggunaan Tanah


dengan Peta Rencana Tata Ruang Wilayah.

Gambar 2. Analisa Perubahan Penggunaan Tanah pada Fungsi Kawasan


b) Menginventarisasi luas, jenis, dan letak perubahan penggunaan tanah pada kurun
waktu tertentu dalam fungsi kawasan pada RTRW dalam Tabel 13 dan Tabel 14.
Tabel 13.

Rincian Perubahan Penggunaan Tanah dalam Fungsi Kawasan


Tahun .... Tahun .... (Contoh)

No.

Kecamat
an

Penggunaan
Tanah Tahun
....

Penggunaan
Tanah Tahun
2014

Luas
Perubaha
n (ha)

1.

Sumber : Badan Pertanahan Nasional RI (tahun 2014).

11

Arahan
Fungsi
Kawasan
dalam
RTRW

Kesesuaia
n
Perubahan
Penggunaa
n Tanah

Tabel 14.

Perubahan Penggunaan Tanah dalam Fungsi Kawasan (Contoh)

Kesesuaian
Perubahan
Penggunaan Tanah

No.
1.

Sesuai

2.

Tidak Sesuai

Luas (ha)

Arahan Fungsi
Kawasan dalam
RTRW

Luas
(ha)

Sumber: BPN-RI (2014) dan RTRW Kabupaten/Kota .... Tahun .... (Perda No. ... Tahun ....).
2.4.2

Analisa Kesesuaian Penggunaan Tanah Terhadap Rencana Tata Ruang


Analisa kesesuaian penggunaan tanah terhadap RTRW dilakukan untuk

mengetahui efektivitas pemanfaatan nruang/ implementasi RTRW yang telah dilaksanakan


oleh masyarakat dan pemerintah. Semakin besar penggunaan tanah yang sesuai dengan
RTRW maka semakin baik pula pelaksanaan RTRW dalam wilayah kabupaten/kota.
Analisa Kesesuaian Penggunaan Tanah terhadap RTRW dilakukan dengan
langkah-langkah sebagai berikut:
Menyusun Matriks Kesesuaian penggunaan

a.

tanah terhadap arahan fungsi kawasan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW),
dengan klasifikasi sebagai berikut:

Sesuai; apabila penggunaan tanah yang ada telah sesuai dengan arahan
fungsi kawasan dalam dokumen dan Peta RTRW. Sebagai contoh, penggunaan
tanah sawah pada fungsi kawasan pertanian lahan basah.

Tidak Sesuai; apabila penggunaan tanah tidak sesuai dengan arahan


fungsi kawasan dalam dokumen dan Peta RTRW. Sebagai contoh, industri pada
fungsi kawasan pertanian lahan basah.

Penentuan tingkat kesesuaian sebagaimana tersebut di atas, mengacu pada peta


RTRW maupun jenis kegiatan yang diperbolehkan untuk setiap fungsi kawasan dalam
dokumen RTRW. Contoh Matriks Kesesuaian dapat dilihat pada Lampiran 2.
Melaksanakan overlay (tumpang-susun) Peta

b.

Penggunaan Tanah (baru) terhadap Peta RTRW dengan menggunakan Matriks


Kesesuaian sebagai acuan.

12

Gambar 3. Analisa Kesesuaian Penggunaan Tanah terhadap RTRW


Tabel 15. Kesesuaian Penggunaan Tanah dengan Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten/Kota .......... (Contoh)

No.

Kesesuaian Penggunaan Tanah dengan


RTRW

Arahan Fungsi Kawasan


dalam RTRW

Sesuai
Luas (ha)

%
Kawasan

Tidak Sesuai
Luas (ha)

%
Kawasan

1.
2.
3.
...
Sumber
2.4.3

Total
Badan Pertanahan Nasional RI (tahun 2014).

Analisa Ketersediaan Tanah


Analisa ketersediaan tanah terdiri dari 2 (dua) analisa, yaitu analisa prioritas

Ketersediaan Tanah dan Analisa Ketersediaan Tanah untuk Kegiatan atau Komoditas
Tertentu.
Pada prinsipnya analisa ketersediaan tanah mengacu pada penggunaan dan
penguasaan tanah. Tanah-tanah yang belum digunakan secara intensif dan belum
dikuasai dengan hak atas tanah (skala besar) dikategorikan sebagai tanah-tanah yang
tersedia untuk berbagai kegiatan sesuai dengan tata ruang. Sedangkan tanah-tanah yang
telah digunakan secara intensif dan telah dikuasai dengan hak atas tanah (skala besar)
masih dikategorikan tersedia dalam rangka penyesuaian dan optimalisasi penggunaan
tanah.

13

a.

Prioritas Ketersediaan Tanah


Langkah-langkah analisa Prioritas Ketersediaan Tanah adalah sebagai berikut:
a)

Melakukan overlay (tumpang-susun) Peta Penggunaan Tanah (baru) dan Peta


Gambaran Umum Penguasaan Tanah. Penggunaan tanah yang belum intensif
(non-budidaya) dan belum ada penguasaan tanah skala besar, dikategorikan
tersedia indikatif (lihat Gambar 4).

Gambar 4. Analisa Ketersediaan Tanah Indikatif


b) Tanah-tanah yang masih tersedia indikatif sebagai hasil analisa pada huruf a di
atas, selanjutnya dilakukan overlay (tumpang-susun) dengan Peta RTRW yang
telah dikelompokkan (reklasifikasi) menjadi kawasan lindung (kawasan
moratorium kehutanan) dan budidaya (lihat Gambar 5). Tanah-tanah tersedia
indikatif yang terletak pada kawasan lindung dikategorikan sebagai tersedia
terbatas untuk fungsi lindung. Sedangkan tanah-tanah tersedia indikatif yang
terletak pada kawasan budidaya dapat digunakan untuk berbagai kegiatan
sesuai dengan arahan tata ruang.

14

Gambar 5. AnalisaKetersediaan Tanah Indikatif dengan RTRW


c) Mendeskripsikan luas dan letak tanah-tanah yang tersedia untuk kegiatan
budidaya sesuai RTRW serta tanah-tanah yang tersedia terbatas untuk
kegiatan yang berfungsi lindung, dan menyajikannya pada Tabel 16.
d) Terhadap tanah-tanah yang sudah digunakan secara intensif dan/atau telah
ada penguasaan tanah (skala besar), dianalisa berdasarkan kesesuaiannya
dengan RTRW.Yang termasuk penguasaan tanah skala besar antara lain
tanah-tanah yang telah diberikan HGU dan HGB untuk badan hukum.
Apabila penggunaan tanahnya sudah sesuai dengan tata ruang, dapat
dilakukan berbagai kegiatan untuk optimalisasi penggunaan tanahnya. Apabila
penggunaan tanahnya belum sesuai dengan tata ruang, perlu dilakukan
berbagai kegiatan dalam rangka penyesuaian penggunaan tanah dengan tata
ruang. Dengan kata lain, tanah-tanah tersebut masih tersedia untuk berbagai
kegiatan dalam rangka penyesuaian dan optimalisasi penggunaan tanah.
Analisa ketersediaan tanah terhadap tanah-tanah ini dilakukan melalui overlay
(tumpang-susun) tanah-tanah yang dikategorikan tidak tersedia dengan Peta
Kesesuaian Penggunaan Tanah dengan RTRW (lihat Gambar 6).

15

Gambar 6. Analisa Ketersediaan Tanah Indikatif terhadap


Kesesuaian Penggunaan Tanah dengan RTRW
e) Mendeskripsikan luas dan letaktanah-tanah yang sudah ada penguasaan
tanah (skala besar) dan penggunaan tanah yang sesuai dengan tata ruang dan
yang tidak sesuai dengan tata ruang pada Tabel (lihat Lampiran 3).
f)

Untuk menyimpulkan hasil analisa dan menyajikannya secara lebih informatif,


hasil analisa pada butir c dan dapat ditampilkan seperti pada Tabel 16 dan 17.

16

Tabel 16.
No.
1.

Prioritas Ketersediaan Tanah per Kecamatan (Contoh)

Kecamatan/
Desa

Klasifikasi Ketersediaan Tanah


a. Tersedia untuk kegiatan budidaya
b. Tersedia bersyarat untuk kegiatan berfungsi
lindung
c. Sudah ada penguasaan tanah, namun
penggunaan tanah tidak sesuai dengan
fungsi kawasan
d. Sudah ada penguasaan tanah, dan
penggunaan tanah sesuai dengan fungsi
kawasan

2.

a. Tersedia untuk kegiatan budidaya


b. Tersedia bersyarat untuk kegiatan berfungsi
lindung
c. Sudah ada penguasaan tanah, namun
penggunaan tanah tidak sesuai dengan
fungsi kawasan
d. Sudah ada penguasaan tanah, dan
penggunaan tanah sesuai dengan fungsi
kawasan

...

a. Tersedia untuk kegiatan budidaya


b. Tersedia bersyarat untuk kegiatan berfungsi
lindung
c. Sudah ada penguasaan tanah, namun
penggunaan tanah tidak sesuai dengan
fungsi kawasan

d. Sudah ada penguasaan tanah, dan


penggunaan tanah sesuai dengan fungsi
kawasan
Sumber : Badan Pertanahan Nasional RI (tahun 2014).
Catatan : Rincian tabel ini dapat dilihat pada Lampiran 3.

17

Luas
(ha)

% Wilayah

Tabel 17.

Prioritas Ketersediaan Tanah (Contoh)

No.
I.

Klasifikasi Ketersediaan Tanah

Luas
(ha)

Tersedia
1.

Tersedia untuk kegiatan budidaya sesuai tata ruang

2.

Tersedia bersyarat untuk kegiatan berfungsi lindung

II. Telah ada penguasaan dan/atau penggunaan tanah


1.

Tersedia dalam rangka penyesuaian penggunaan tanah


(sudah ada penguasaan tanah, namun penggunaan tanah
tidak sesuai dengan RTRW)

2.

Tersedia dalam rangka optimalisasi penggunaan tanah


(sudah ada penguasaan tanah, dan penggunaan tanah sesuai
dengan RTRW)
Sumber : Badan Pertanahan Nasional RI (tahun 2014).
Catatan : Tabel ini merupakan ringkasan dari Tabel 16, disajikan pada batang tubuh
laporan.
g) Menyajikan Peta Prioritas Ketersediaan Tanah.
Metodologi analisa dari langkah-langkah a s/d g selengkapnya dapat dilihat pada
Gambar 7.

Gambar 7. Analisa Prioritas Ketersediaan Tanah

18

2.4.4

Analisa Ketersediaan Tanah untuk Kegiatan atau Komoditas Tertentu


Analisa Ketersediaan Tanah untuk Kegiatan atau Komoditas Tertentu merupakan

pengembangan dari analisa sebelumnya.Tanah-tanah yang tersedia dianalisa lebih lanjut


kesesuaiannya untuk pengembangan kegiatan atau komoditas tertentu yang dapat
berkontribusi untuk pengembangan wilayah dan penyesuaian penggunaan tanah dengan
tata ruang.
Langkah-langkah analisanya sebagai berikut:
a.

Memilih kegiatan dan/atau komoditas yang sesuai dengan


karakteristik wilayah dan arahan pembangunan setempat, sehingga dapat menunjang
pengembangan wilayah dan memudahkan dalam tataran implementasinya.

b.

Menyusun Peta Ketersediaan untuk kegiatan dan/atau


komoditas tertentu berdasarkan Matrik Kesesuaian pada Lampiran 4.

Apabila

tersedia, dapat digunakan Peta Pewilayahan Komoditas, Peta Arahan Tata Ruang
Pertanian, atau data kesesuaian tanah untuk komoditas tertentu dari Dinas Pertanian
setempat.
c.

Melakukan overlay (tumpang-susun) Peta Prioritas


Ketersediaan Tanah dengan Peta Kesesuaian (lihat Gambar 8).

19

Gambar 8. Analisa Ketersediaan Tanah untuk Kegiatan atau KomoditasTertentu


d.

Mendeskripsikan luas dan letak tanah-tanah yang dapat


dikembangkan untuk kegiatan atau komoditas tertentu dan menyajikannya pada Tabel
18.

Tabel 18.
No.
1.

Ketersediaan Tanah untuk Kegiatan atau Komoditas Tertentu (Contoh)

Kegiatan/
Komoditas

Klasifikasi Persediaan Tanah

Luas (ha)

a. Tersedia bersyarat
b. Tersedia sesuai tata ruang
c. Tersedia dalam rangka optimalisasi penggunaan tanah
d. Tersedia dalam rangka penyesuaian penggunaan
tanah
Jumlah

2.

a. Tersedia bersyarat
b. Tersedia sesuai tata ruang
c. Tersedia dalam rangka optimalisasi penggunaan tanah

20

%
Wilayah

d. Tersedia dalam rangka penyesuaian penggunaan


tanah
Jumlah
...

a. Tersedia bersyarat
b. Tersedia sesuai tata ruang
c. Tersedia dalam rangka optimalisasi penggunaan tanah
d. Tersedia dalam rangka penyesuaian penggunaan
tanah
Jumlah

Sumber : Badan Pertanahan Nasional RI (2014).


2.5 Kontrol Kualitas
Kegiatan kontrol kualitas dilakukan terhadap peta hasil updating dan hasil analisa.
Peta hasil updating meliputi peta administrasi, Peta penggunaan tanah baru, Peta
gambaran umum penguasaan tanah, Peta rencana tata ruang wilayah. Sedangkan peta
hasil analisis yang dilakukan kontrol kualitas adalah Peta perubahan penggunaan tanah,
Peta kesesuaian penggunaan tanah terhadap RTRW, Peta ketersediaan tanah dan Peta
ketersediaan tanah untuk Komoditas tertentu.

2.6 Konsultasi / Koordinasi


Konsultas/Koordinasi dilaksanakan dalam rangka sinkronisasi data penatagunaan
tanah dengan instansi terkait dan penajaman hasil analisa neraca penatagunaan tanah.
2.7 Pelaporan
Guna memudahkan pemantauan dan supervisi, secara berkala Kanwil BPN agar
melaporkan kemajuan kegiatan penyusunan Neraca Penatagunaan Tanah kepada Deputi
Bidang Pengaturan dan Pengendalian Pertanahan dengan tembusan kepada Direktur
Penatagunaan Tanah, baik menyangkut pencapaian fisik maupun administrasi dan
keuangan, serta permasalahan yang dihadapi.
Hasil kegiatan (output) Penyusunan Neraca Penatagunaan Tanah berupa Buku
Laporan, album peta dan data digital dalam bentuk CD.
I. BUKU LAPORAN

21

Sistematika buku Laporan sesuai dengan lampiran 1. Materi yang perlu


dikembangkan dalam penulisan Buku Laporan adalah
BAB I. PENDAHULUAN, menguraikan latar belakang, tujuan, ruang lingkup

a.

dan hasil akhir.


BAB II KEBIJAKAN DAN PENYELENGGARAAN PENATAGUNAAN TANAH,

b.

menguarikan kebijakan penatagunaan tanah dan penyelenggaraan penatagunaan


tanah.
BAB III. GAMBARAN UMUM WILAYAH, menguraikan gambaran geografi

c.

wilayah termasuk penggunaan tanah, lereng, penguasaan tanah; gambaran sosial


ekonomi wilayah dan gambaran peruntukan ruang berdasarkan tata ruang wilayah.
BAB IV. ANALISA PENATAGUNAAN TANAH, menguraikan perubahan

d.

penggunaan

tanah

(mengupas

kecenderungan/trend

perkembangan

jenis

penggunaan tanah tertentu seperti sawah, perkebunan, perumahan dan industri),


perubahan penggunaan tanah pada fungsi kawasan, kesesuaian penggunaan tanah
terhadap arahan fungsi kawasan, prioritas ketersediaan tanah.
BAB V. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI, menguraikan kesimpulan hasil

e.

analisa dan rekomendasi penatagunaan tanah dalam rangka mewujudkan


penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan tanah yang optimal dan berkelanjutan
dan rekomendasi pertanahan sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan
maupun revisi RTRW/RDTR dengan memperhatikan prioritas ketersediaan tanah
serta kenyataan penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan tanah yang telah ada.
Buku neraca penatagunaan tanah dilengkapi dengan peta format A3 (lampiran 9)
sebagai berikut :
1.

Peta Administrasi

2.

Peta Penggunaan Tanah Lama (tahun)

3.

Peta Penggunaan Tanah Baru (tahun)

4.

Peta Gambaran Umum Penguasaan Tanah

5.

Peta Rencana Umum Tata Ruang Wilayah

6.

Peta Perubahan Penggunaan Tanah Pada Fungsi Kawasan

7.

Peta Kesesuaian Penggunaan Tanah Terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah

8.

Peta Ketersediaan Tanah

9.

Peta Ketersediaan Tanah untuk Kegiatan atau Komoditas Tertentu

22

II.

ALBUM PETA
Album peta dijilid dengan didahului Ringkasan Eksekutif Buku Laporan.

III. DATA DIGITAL


Data digital terdiri dari :
1. File Buku Laporan (MS Word)
2. Data Spatial (.shp)
3. Layout peta A3 (.pdf)
4. Layout peta A0 (.pdf)
Hasil penyusunan neraca penatagunaan tanah diserahkan kepada :
1.

Kantor wilayah BPN provinsi (lokasi DIPA) untuk


dicatat sebagai aset.

2.

Direktorat Penatagunaan Tanah dalam bentuk


sopftcopy (shp file, MS Word dan layout peta dalam bentuk .pdf)

3.

Kantor Pertanahan kabupaten/kota lokasi neraca


PGT

23

BAB III
PENUTUP
Sebagai salah satu kegiatan inti (core-business) Penatagunaan Tanah dan
amanat berbagai peraturan perundang-undangan, penyusunan Neraca Penatagunaan
Tanah perlu dilaksanakan dengan standarisasi sebagaimana digariskan dalam Tata Cara
Kerja (TCK) ini. Namun demikian, tidak tertutup kemungkinan adanya bagian-bagian
dalam TCK ini yang masih dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan, misalnya
analisa kesesuaian tanah untuk pengembangan sektor tertentu, selain pengembangan
komoditas yang telah diuraikan.
Selanjutnya, dalam rangka optimalisasi hasil kegiatan Neraca, perlu
dilaksanakan sosialisasi hasil penyusunan Neraca Penatagunaan Tanah kepada seluruh
jajaran Kanwil BPN dan para pemangku kepentingan (stakeholders) terkait, seperti
Pemerintah Daerah, instansi terkait, dan masyarakat.

Hasil penyusunan

neraca

penatagunaan tanah selain dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam


penyusunan dan revisi RTRW, hasil penyusunan Neraca juga dapat menjadi acuan dalam
perencanaan kegiatan pembangunan maupun investasi yang membutuhkan tanah serta
perencanaan pembangunan lainnya, seperti pengembangan komoditas tertentu yang telah
dianalisis dalam kegiatan ini. Dalam konteks integrasi pengaturan dan pengendalian
pertanahan terhadap pelayanan pertanahan, Neraca Penatagunaan Tanah digunakan
dalam rangka Pertimbangan Teknis Penatagunaan Tanah, serta Pertimbangan Teknis
Pertanahan dalam rangka penerbitan Izin Lokasi.

24

Lampiran 1.

Sistematika Buku Laporan Neraca Penatagunaan Tanah

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
BAB I.

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Tujuan
1.3. Ruang Lingkup
1.4. Hasil Akhir

BAB II.

KEBIJAKAN DAN PENYELENGGARAAN PENATAGUNAAN TANAH


2.1. Kebijakan Penatagunaan Tanah
2.2. Penyelenggaraan Penatagunaan Tanah

BAB III.

GAMBARAN UMUM WILAYAH


3.1. Gambaran Geografi Wilayah
3.2. Gambaran Sosial-Ekonomi Wilayah
3.3. Uraian Rencana Tata Ruang Wilayah

BAB IV.

ANALISA PENATAGUNAAN TANAH


4.1. Kondisi Penggunaan Tanah Wilayah
4.2. Analisa Perubahan Penggunaan Tanah
4.3. Analisa Kesesuaian Penggunaan Tanah Terhadap Rencana Tata Ruang
Wilayah
4.4. Analisa Prioritas Ketersediaan Tanah

BAB V.

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI


5.1. Kesimpulan
5.2. Rekomendasi Penatagunaan Tanah

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

25

Lampiran 2.

Matrik Kesesuaian Penggunaan Tanah dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (Contoh)
Arahan Fungsi Kawasan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah

No.

Penggunaan Tanah

Permukima
n

Industr
i

Jas
a

Pariwisa
ta

Perikana
n

Pertambanga
n

Pertania
n Lahan
Basah

Pertania
n Lahan
Kering

Tanam
an
Tahuna
n

Kawas
an
Lindun
g

Hutan
Produk
si

Cagar
Alam

1.

Perkampungan/perumahan

2.

Industri

3.

Jasa

4.

Perdagangan

5.

Sawah 2x setahun

6.

Sawah tadah hujan

7.

Tegalan/ladang

8.

Kebun campuran

9.

Perkebunan rakyat

10. Perkebunan

11. Hutan lebat

12. Hutan belukar

13. Hutan sejenis (bakau)

14. Tambak

15. Rawa

Sumber : Badan Pertanahan Nasional RI (2010).


Keterangan : S = sesuai, T = tidak sesuai.
Catatan : - Klasifikasi Penggunaan Tanah dan RTRW disesuaikan dengan jenis penggunaan tanah saat ini dan klasifikasi fungsi kawasan dalam RTRW.
- Tingkat kesesuaian penggunaan tanah dapat disesuaikan dengan kondisi setempat dan keberadaan penggunaan tanah tersebut dalam
menunjang fungsi utama kawasan.
26

Lampiran 3.
Kecamat
No
an

Rincian Hasil Analisa Ketersediaan Tanah dalam Tata Ruang (Contoh)


Penggunaan Tanah
Klasifikasi

Pengguna
an Tanah
Budidaya
(Intensif)

Luas
(ha)

Gambaran Umum
Penguasaan Tanah
Klasifikasi

Luas
(ha)

Rencana Tata
Ruang Wilayah
(RTRW)
Klasifika
Luas
si
(ha)

Telah Ada
Penguasaan
Tanah

Tidak
Sesuai
Sesuai

Belum Ada
Penguasaan
Tanah
Pengguna
an Tanah
NonBudidaya

...

Pengguna
an Tanah
Budidaya
(Intensif)

Tidak
Sesuai
Sesuai

Telah Ada
Penguasaan
Tanah
Belum Ada
Penguasaan
Tanah
Telah Ada
Penguasaan
Tanah

Tidak
Sesuai
Lindung
Budidaya

Ketersediaan Tanah
Klasifikasi
Dikuasai, penggunaan
sesuai
Dikuasai, penggunaan tidak
sesuai
Dikuasai, penggunaan
sesuai
Dikuasai, penggunaan tidak
sesuai
Dikuasai, penggunaan
sesuai
Dikuasai, penggunaan tidak
sesuai
Tersedia Lindung
Tersedia Budidaya

Sesuai
Tidak
Sesuai
Sesuai

Belum Ada
Penguasaan
Tanah
Pengguna
an Tanah

Kesesuaian
Penggunaan Tanah
terhadap RTRW
Luas
Klasifikasi
(ha)
Sesuai

Tidak
Sesuai
Sesuai

Telah Ada
Penguasaan
27

Dikuasai, penggunaan
sesuai
Dikuasai, penggunaan tidak
sesuai
Dikuasai, penggunaan
sesuai
Dikuasai, penggunaan tidak
sesuai
Dikuasai, penggunaan
sesuai

Luas
(ha)

No

Kecamat
an

Penggunaan Tanah
Klasifikasi

Luas
(ha)

NonBudidaya

Gambaran Umum
Penguasaan Tanah
Klasifikasi

Luas
(ha)

Tanah

Belum Ada
Penguasaan
Tanah
Sumber: Badan Pertanahan Nasional RI (2010)
Lampiran 4.Matrik Kesesuaian Komoditas (Contoh)
No.

Faktor

Ketinggian

Lereng

Kedalaman
Efektif

Tekstur

Drainase

Erosi

Gradasi
0-7m
8 - 25 m
26 - 100 m
101 - 500 m
501 -1000 m
1001 -2000 m
> 2000 m
0-2%
2 - 15 %
15 - 40 %
> 40 %
> 90 cm
60 - 90 cm
30 - 60 cm
< 30 cm
Halus
Sedang
Kasar
Tidak pernah tergenang
Tergenang periodik
Tergenang
Tak ada erosi
Ada erosi

Rencana Tata
Ruang Wilayah
(RTRW)
Klasifika
Luas
si
(ha)

Pertanian Pangan
Lahan Basah
Lahan Kering
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
TS
TS
TS
TS
S
S
S
S
TS
S
TS
TS
S
S
S
S
S
S
TS
TS
S
S
S
S
TS
TS
S
S
TS
TS
TS
TS
S
S
TS
S

Kesesuaian
Penggunaan Tanah
terhadap RTRW
Luas
Klasifikasi
(ha)
Tidak
Sesuai

Lindung
Budidaya

Ketersediaan Tanah
Klasifikasi

Luas
(ha)

Dikuasai, penggunaan tidak


sesuai
Tersedia Lindung
Tersedia Budidaya

Hortikultura

Perikanan

Industri

Permukiman

S
S
S
S
S
TS
TS
S
S
S
TS
S
S
S
TS
S
S
TS
S
TS
TS
S
S

S
S
S
S
TS
TS
TS
S
S
TS
TS
S
S
TS
TS
S
S
TS
S
S
TS
S
S

S
S
S
S
TS
TS
TS
S
S
TS
TS
S
S
TS
TS
S
S
S
S
S
TS
S
S

S
S
S
S
S
TS
TS
S
S
TS
TS
S
S
TS
TS
S
S
S
S
S
TS
S
S

28

Karet
TS
S
S
S
S
TS
TS
S
S
S
TS
S
S
TS
TS
S
S
TS
S
TS
TS
S
S

Kopi
TS
TS
TS
S
S
S
TS
S
S
S
TS
S
S
TS
TS
S
S
TS
S
TS
TS
S
S

Perkebunan
Cengkeh
Sawit
TS
TS
S
S
S
S
S
S
S
TS
TS
TS
TS
TS
S
S
S
S
S
TS
TS
TS
S
S
S
S
TS
TS
TS
TS
S
S
S
S
TS
TS
S
S
TS
TS
TS
TS
S
S
S
S

Coklat
TS
TS
S
S
S
TS
TS
S
S
S
TS
S
S
TS
TS
S
S
TS
S
TS
TS
S
S

Tutupan
batuan

Air asin

Gambut

Erosi berat
Sedikit
Sedang
Banyak
Tak ada
Sedikit
Banyak
0 - 75 cm
75 - 150 cm
150 - 300 cm
> 300 cm

TS
S
S
TS
S
TS
TS
S
TS
TS
TS

TS
S
S
TS
S
TS
TS
S
TS
TS
TS

TS
S
S
TS
S
TS
TS
S
TS
TS
TS

S
S
S
TS
S
TS
TS
S
TS
TS
TS

TS
S
S
S
S
S
S
S
TS
TS
TS

TS
S
S
S
S
S
TS
S
TS
TS
TS

TS
S
S
TS
S
TS
TS
TS
TS
TS
TS

TS
S
S
TS
S
TS
TS
TS
TS
TS
TS

TS
S
S
TS
S
TS
TS
TS
TS
TS
TS

TS
S
S
TS
S
TS
TS
S
S
TS
TS

TS
S
S
TS
S
TS
TS
TS
TS
TS
TS

Sumber: Direktorat Penatagunaan Tanah BPN-RI (2010), diolah dari berbagai sumber.
Lampiran 5. Klasifikasi Penggunaan Tanah Perdesaan
Sekala < 1 : 50.000
Qcode100
1000

Qname100
Permukiman

Sekala 1 : 50.000
Qcode50
1100

1200

1300

1400

1500

2000

Industri

2100

Qname50

Sekala 1 : 25.000
Qcode25

Qname25

Qlabel

Kampung
1110
1120

Kampung Jarang
Kampung Padat

1210
1220

Perumahan Jarang
Perumahan Padat

1310
1320

Emplasemen Sementara
Emplasemen Tetap

1410
1420
1430

Komplek Olah Raga


Lapangan Golf
Taman

1510
1520
1530

Kuburan/Pemakaman Umum
Makam Pahlawan
Makam Khusus

2110

Aneka Pangan

Perumahan

Emplasemen

Lapangan Olah Raga/Taman

Kuburan/Pemakaman

Industri Pertanian

29

OR
Golf

Fitcode
KPG
KPG
KPG
KPG
KPG
KPG
KPG
KPG
KPG
KPG
KPG
KPG
KPG
KPG
KPG
KPG
KPG
IDT
IDT

Idsn
KPG100
KPG101
KPG102
KPG200
KPG201
KPG202
KPG300
KPG301
KPG302
KPG400
KPG401
KPG402
KPG403
KPG500
KPG501
KPG502
KPG503
IDT100
IDT101

2200

3000

Pertambangan

3100

Sekala < 1 : 50.000


Qcode100
4000

Qname100
Persawahan

2210
2220
2230
2240
2250

Aneka Kimia dan Serat


Aneka Bahan Bangunan
Industri Logam
Industri Kimia
Industri Kecil

3110
3120

Pertambangan Terbuka
Pertambangan Tertutup

4100

4500

IDT
IDT
IDT
IDT
IDT
IDT
IDT
PTB
PTB
PTB

Pertambangan

Qcode50

4300
4400

Pertanian Tanah
Kering Semusim

Aneka Sandang

Sekala 1 : 50.000

4200

5000

2120
Industri Non Pertanian

Qname50

IDT102
IDT200
IDT201
IDT202
IDT203
IDT204
IDT205
PTB100
PTB101
PTB102

Sekala 1 : 25.000
Qcode25

Qname25

Qlabel

Sawah Irigasi 2xpadi/th


4110
4120
4130

Sawah Irigasi 2xpadi/th atau lebih


Sawah Irigasi 2xpadi+palawija/th
Sawah Irigasi 2xpadi/th

2x+
2x,pw
2x

4210
4220
4300

Sawah Irigasi 1xpadi+palawija/th


Sawah Irigasi 1xpadi/th
Sawah Tadah Hujan

1x,pw
1x

4420
4430
4440

Sawah Pasang Surut 2xpadi/th atau lebih


Sawah Pasang Surut 2xpadi+palawija/th
Sawah Pasang Surut 2xpadi/th

2x+
2x,pw
2x

4510
4520

Sawah Pasang Surut 1xpadi+palawija/th


Sawah Pasang Surut 1xpadi/th

1x,pw
1x

Sawah Irigasi 1xpadi/th


Sawah Tadah Hujan
Sawah Pasang Surut 2x padi/th

Sawah Pasang Surut 1x padi/th

Fitcode
SWH
SWH
SWH
SWH
SWH
SWH
SWH
SWH
SWH
SWH
SWH
SWH
SWH
SWH
SWH
SWH
SWH

4800
4900

Sawah Irigasi
Sawah Non Irigasi

5100

Tegalan/Ladang

5100

Tegalan/Ladang

TGL

5200
5300

Sayuran
Bunga

5200
5300

Sayuran
Bunga

TGL
TGL

30

Idsn
SWH100
SWH101
SWH102
SWH103
SWH200
SWH201
SWH202
SWH300
SWH400
SWH401
SWH402
SWH403
SWH500
SWH501
SWH502
SWH800
SWH900
TGL100
TGL200
TGL300

6000

Kebun

7000

Perkebunan

6100
6200
7100

Kebun Campuran
Kebun Sejenis
Perkebunan Besar

6100
6200
7100
7110
7190

7200

Sekala < 1 : 50.000


Qcode100

Qname100

Perkebunan Rakyat

7200

Sekala 1 : 50.000
Qcode50

Qname50

Qcode25

7290
Padang

8100

Padang Rumput/Sabana

9000

Hutan

8200
8300
9100
9200
9300

Alang-alang
Semak
Hutan Lebat
Hutan Belukar
Hutan Sejenis

10000

Perairan Darat

10100
10200

Kolam Air Tawar


Tambak

10300
10400

Penggaraman
Waduk

KBN
KBN
PKB
PKB
PKB
PKB

KBN100
KBN200
PKB996
PKB100
PKB300
PKB996

Sekala 1 : 25.000

7210

8000

Kebun Campuran
Kebun Sejenis
Perkebunan Besar
Perkebunan Besar, sudah menghasilkan
Perkebunan Besar, tidak lagi
menghasilkan
Perkebunan Rakyat

8100
8110
8120
8200
8300
9100
9200
9300
9310
10100
10200
10211
10212
10300
10400
31

Qname25
Perkebunan Rakyat, sudah
menghasilkan
Perkebunan Rakyat, tidak lagi
menghasilkan
Padang Rumput/Sabana
Padang Rumput
Sabana
Alang-alang
Semak
Hutan Lebat
Hutan Belukar
Hutan Sejenis
Hutan Sejenis Alami
Kolam Air Tawar
Tambak
Tambak Ikan
Tambak Udang
Penggaraman
Waduk

Qlabel

Fitcod
e
PKB
PKB
PDG
PDG
PDG
PDG
PDG
HTN
HTN
HTN
HTN
AIR
AIR
AIR
AIR
AIR
AIR

Idsn
PKB400
PKB600
PDG100
PDG101
PDG102
PDG200
PDG300
HTN100
HTN400
HTN996
HTN200
AIR100
AIR200
AIR201
AIR202
AIR300
AIR400

11000

Tanah Terbuka

10500
10600
11100
11200
11300

Sungai/Danau/Situ/Telaga
Rawa
Tanah tandus
Tanah Rusak
Tanah Terbuka Sementara (Land
Clearing)

10500
10600
11100
11200
11300

Sumber : Standarisasi Basis Data Penatagunaan Tanah Tahun 2008

32

Sungai/Danau/Situ/Telaga
Rawa
Tanah tandus
Tanah Rusak
Tanah Terbuka Sementara (Land
Clearing)

AIR
AIR
TTB
TTB
TTB

AIR500
AIR600
TTB100
TTB200
TTB300

Lampiran 6. Klasifikasi Penggunaan Tanah Perkotaan


Sekala 1 : 25.000
Kode_kat Kategori
Qcode25 Qname25
100000 TANAH PERUMAHAN

Sekala 1 : 10.000/20.000
Kode_kls Kelas
Qcode10 Qname10
100100 Perumahan Teratur
100200 Perumahan Tidak Teratur
100300 Perumahan Bertingkat

100400 Makam
110000 TANAH PERUSAHAAN

110100

Pasar

110200

Perdagangan Umum

110300

Akomodasi dan Rekreasi

110400

Lembaga Usaha

33

Sekala 1 : 5.000/2.500
Kode_pgt
Qcode5
100110
100120
100130
100210
100220
100230
100310
100320
100330
100340
100410
100420
100430
110110
110120
110130
110210
110220
110230
110310
110320
110330
110340
110350
110410
110420
110430
110440

Pgt
Qname5
Kepadatan Tinggi
Kepadatan Sedang
Kepadatan Rendah
Kepadatan Tinggi
Kepadatan Sedang
Kepadatan Rendah
Rumah Susun
Apartemen
Rumah Toko
Rumah Perkantoran
Makam Umum
Makam Pahlawan
Pemakaman Khusus
Pasar Tradisional
Pasar Permanen
Pasar Khusus
Pusat Pertokoan
Pertokoan
Warung/Kios
Hotel/Motel/Penginapan
Rumah Makan/Restoran
Bioskop
Tempat Rekreasi
Hiburan Khusus
Lembaga Keuangan/Bank
Lembaga Keuangan Non Bank
Lembaga Jasa Usaha
Kantor/Perusahaan Swasta

Label
Label
RT
RS
RR
RT
RS
RR
RN
RA
RO
RK
U
P
Kh
PT
PN
PK
PP
TK
WK
H/P
RM
BS
RE
HK
LB
LK
LJ
K/Ps

Sekala 1 : 25.000
Kode_kat Kategori
Qcode25 Qname25

Kode_kls
Qcode10
110500
110600

120000 TANAH INDUSTRI/PERGUDANGAN

Sekala 1 : 10.000/20.000
Kelas
Qname10
Perkantoran Perusahaan Swasta
Prasarana Transport

120100 Industri Pengolahan Pertanian


120200 Industri Non Pertanian

120300 Perbengkelan
120400 Pergudangan
120500 Instalasi

34

Sekala 1 : 5.000/2.500
Kode_pgt
Qcode5
110510
110520
110530
110610
110620
110630
110640
110650
110660
120110
120140
120140
120210
120220
120230
120240
120250
120260
120270
120310
120320
120330
120410
120420
120430
120510
120520
120530
120540
120550

Pgt
Label
Qname5
Label
Perkantoran
KO
Perkantoran dan Perumahaan
KP
Perkantoran dan Pertokoan
KT
Terminal Umum/Bus
UM
Stasiun/Halte KA
KA
Pelabuhan Laut
PL
Bandar Udara
BU
Terminal Khusus
BK
Lapangan/Tempat Parkir
TP
Aneka Makanan dan Minuman
AM
Aneka Sandang/Tekstil
AS
Aneka Pengolahan Kayu Bahan Bangunan
AP
Aneka Kimia/Serat, Farmasi
K/S/F
Industri Logam
L&G
Industri Mesin dan Listrik
M
Industri Grafit
G
Industri Strategis
S
Industri Kerajinan Kecil
KK
Industri Minyak/Gas
MG
Angkutan Darat
BD
Angkutan Laut
BL
Angkutan Udara
BU
Pergudangan Umum
GU
Pergudangan Khusus
GK
Depo Minyak/Gas
GM
Instalasi Listrik
IL
Instalasi Air Bersih
IK
Instalasi Minyak/Gas
IM
Instalasi Telekomunikasi dan Komunikasi
IT
Instalasi lainnya
IA

Sekala 1 : 25.000
Kode_kat Kategori
Qcode25 Qname25
130000 TANAH JASA

Sekala 1 : 10.000/20.000
Kode_kls Kelas
Qcode10 Qname10
130100 Jasa Pemerintahan
130200 Jasa Pendidikan

130300 Jasa Kesehatan


130400 Jasa Peribadatan

130500 Jasa Pelayanan Umum


140000 TANAH TIDAK ADA BANGUNAN

140100 Tanah Kosong


140200 Pertanian Tanah Basah
140300 Pertanian Tanah Kering

140400 Peternakan
140500 Perikanan
140600 Hutan
35

Sekala 1 : 5.000/2.500
Kode_pgt
Qcode5
130110
130120
130210
130220
130230
130240
130310
130320
130330
130410
130420
130430
130440
130510
130520
130530
140110
140120
140210
140220
140230
140310
140320
140330
140340
140410
140420
140510
140520
140610

Pgt
Qname5
Kantor/Instansi Pemerintahan
Kantor /Bangunan Militer
Perguruan Tinggi
Pendidikan Menengah
Ppendidikan Dasar
Pusat Balai Penelitian dan Kebudayaan
Rumah Sakit Umum
Rumah Sakit Khusus
Puskesmas/Balai Kesehatan
Masjid/Langgar/Surau
Gereja
Vihara/Kuil
Pura
Kantor Pos/Telepon
Lapangan/Gedung Olahraga
Gedung Pertemuan
Tanah Kosong Sudah Diperuntukkan
Tanah Kosong Belum Diperuntukkan
Sawah Irigasi
Sawah Tadah Hujan
Sawah Pasang Surut
Ladang/Tegalan
Kebun Campuran
Kebun Khusus
Perkebunan
Peternakan Ternak Besar
Peternakan Unggas
Kolam/Empang/Tebat
Tambak Ikan/Udang
Hutan

Label
Label
1
2
PT
PM
PD
BP
1
2
3
M/L/S
G
V
P
KP
OR
GP
1
2
SwI
SwTH
SwPS
L/T
KC
KKhs
P
PTB
PU
K/E/T
TI/U
H

Sekala 1 : 25.000
Kode_kat Kategori
Qcode25 Qname25
150000 TAMAN
160000 PERAIRAN

Sekala 1 : 10.000/20.000
Kode_kls Kelas
Qcode10 Qname10
150100 Jalur Hijau
150200 Taman Kota
160100 Rawa
160200 Situ/Danau/Waduk
160300 Sungai
160400 Saluran Irigasi
160500 Bendungan

Sumber : Standarisasi Basis Data Penatagunaan Tanah Tahun 2008

36

Sekala 1 : 5.000/2.500
Kode_pgt
Qcode5
150110
150120
150210
160110
160210
160220
160230
160310
160410
160510

Pgt
Qname5
Jalur Hijau
Hutan Kota
Taman Kota
Rawa
Situ
Danau
Waduk
Sungai
Saluran Irigasi
Bendungan

Label
Label
JH
HK
TK
R
S
D
W
S
SI
B

Lampiran 7. Klasifikasi Gambaran Umum Penguasaan Tanah


NASIONAL
Ocode1 Oname1
100000 Penguasaan
Tanah Skala
Besar (PTSB)

PULAU
Ocode2 Oname2
101000 Penguasaan
Tanah Skala
Besar (PTSB)

PROVINSI
Ocode3
Oname3
101100 PTSB Pertanian

101200 PTSB Bukan


Pertanian

200000 Tanah Negara,


Badan Hukum
dan Perorangan

201000 Tanah Negara,


Badan Hukum
dan
Perorangan

201100 Tanah Negara

201400 Tanah
Perorangan

37

KABUPATEN/KOTA
Ocode4
Oname4
101110 PTSB Peternakan
101120 PTSB Perkebunan
101130 PTSB Perikanan
101210 PTSB Industri
101220 PTSB Perumahan
101230 PTSB Jasa dan Perdagangan
201110 Tanah Negara untuk
Kepentingan Umum
201120 Tanah Negara Bukan untuk
Kepentingan Umum
201130 Tanah Negara Lainnya
201410 Tanah Hak UUPA, dan
Perorangan
201420 Tanah Komunal

NASIONAL
Ocode1 Oname1
300000 Kawasan
Kehutanan

PULAU
Ocode2 Oname2
301000 Hutan Lindung

PROVINSI
Ocode3
Oname3
301100 Hutan Lindung

301200 Taman Nasional


302000 Hutan
Produksi dan
Konversi

302100 Hutan Produksi

KABUPATEN/KOTA
Ocode4
Oname4
301110 Hutan Lindung
301120 Hutan Suaka Alam dan Hutan
Wisata
301130 Hutan Suaka Alam
301140 Cagar Alam
301150 Suaka Margasatwa
301210 Taman Buru
301220 Taman Nasional
301230 Taman Wisata Alam
302110 Hutan Produksi
302120 Hutan Produksi Terbatas

302200 Hutan Konversi


303000 Hutan Lainnya

303100 Hutan Lainnya

38

302210
302220
303110
303120

Hutan Produksi Konversi


Taman Hutan Rakyat
Hutan Fungsi Khusus
Hutan Negara Bebas

Lampiran 8. Tugas Tim Penyusunan Buku Laporan Neraca Penatagunaan Tanah


NO.

JABATAN

TUGAS

1.

Koordinator

1. Mengarahkan prinsip-prinsip penyusunan buku


laporan neraca penatagunaan tanah.
2. Memberikan petunjuk teknis dan langkah-langkah
dalam menyusun buku laporan neraca
penatagunaan tanah.
3. Monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan
penyusunan buku laporan neraca penatagunaan
tanah.

2.

Korektor

Mengoreksi hasil penyusunan buku laporan


neraca penatagunaan tanah dari segi substansi
dan sistematika penulisan.

3.

Pengolah buku laporan

Menyusun buku laporan neraca penatagunaan


tanah, sistematika penulisan sesuai Lampiran 1

39

Lampiran 9. Keterangan Pada Setiap Jenis Peta


1. Peta Administrasi, warna menyesuaikan.
2. Peta Penggunaan Tanah Lama ( warna mengikuti Peraturan Menteri Negara Agraria/ Kepala
Badan Pertanahan Nasional Nomor 1 Tahun 1997).
3. Peta Penggunaan Tanah Baru ( warna mengikuti Peraturan Menteri Negara Agraria/ Kepala
Badan Pertanahan Nasional Nomor 1 Tahun 1997).
4. Peta Gambaran Umum Penguasaan Tanah, warna menyesuaikan.
5. Peta Rencana Umum Tata Ruang Wilayah, warna mengikuti RTRW yang digunakan sebagai
dasar untuk analisa.
6. Peta Perubahan Penggunaan Tanah Pada Fungsi Kawasan
a. Sesuai dengan Fungsi Kawasan

(komposisi warna R.G.B : 255,255,0)

b. Tidak Sesuai dengan Fungsi Kawasan

(komposisi warna R.G.B: 251,175,167)

7. Peta Kesesuaian Penggunaan Tanah Terhadap Tata Ruang Wilayah


Terdiri dari 2 kelas kesesuaian, yaitu :
a. Sesuai dengan RTRW

(komposisi warna R.G.B : 140,253,134)

b. Tidak Sesuai dengan RTRW

(komposisi warna R.G.B: 246,164,254)

8. Peta Ketersediaan Tanah terdiri dari 4 kelas ketersediaan, yaitu :


a. Tersedia bersyarat untuk kegiatan berfungsi lindung
(komposisi warna R.G.B : 49,146, 0)
b. Tersedia untuk kegiatan budidaya sesuai tata ruang
(komposisi warna R.G.B : 247,150,70)
c. Tersediadalam rangka optimalisasi penggunaan tanah
(komposisi warna R.G.B : 140,253,134)
d. Tersedia dalam rangka penyesuaian penggunaan tanah
(komposisi warna R.G.B : 246,164,254)
9. Peta Kesesuaian tanah untuk kegiatan atau komoditas tertentu, warna menyesuaikan.

40

Lampiran 10. Contoh Berita Acara Penyerahan Barang Hasil Penyusunan Neraca Penatagunaan
Tanah
KOP BPN
BERITA ACARA
PENYERAHAN BARANG HASIL KEGIATAN
KEGIATAN PENYUSUNAN NERACA PENATAGUNAAN TANAH
TAHUN ANGGARAN .................
KANWIL BADAN PERTANAHAN NASIONAL PROVINSI ..............
NOMOR :
Pada hari ini ............. tanggal .................. bulan .............. tahun ............., yang bertanda tangan di
bawah ini :
1. ........................................ : Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional
Provinsi .........................yang selanjutnya disebut PIHAK PERTAMA
2. ......................................... : Direktur Penatagunaan Tanah, Badan Pertanahan Nasional
Republik Indonesia yang selanjutnya disebut PIHAK KEDUA
Kedua belah pihak dengan ini menerangkan hal-hal sebagaimana dijelaskan dalam pasal-pasal
berikut ini :
Pasal 1
PIHAK PERTAMA telah menyerahkan kepada PIHAK KEDUA dan PIHAK KEDUA menyatakan
menerima dari PIHAK PERTAMA Barang Milik Negara hasil kegiatan Penyusunan Neraca
Penatagunaan Tanah Kanwil Badan Pertanahan Nasional Provinsi ............. Tahun Anggaran 2014.
Pasal 2
Hasil kegiatan penyusunan neraca penatagunaan tanah tahun anggaran 2014, sebagaimana
dimaksud pada Pasal 1, rinciannya tercantum dalam Lampiran 1 Berita Acara ini.
Pasal 3
Berita Acara ini dibuat dan ditandatangani bersama sebagai kelengkapan administrasi penyerahan
barang kepada Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia.
PIHAK KEDUA
Direktur Penatagunaan Tanah
Badan Pertanahan Nasional RI

PIHAK PERTAMA
Kepala Kantor Wilayah
Badan Pertanahan Nasional
Provinsi .........................

.....................................
NIP. .............................

..................................
NIP. ....................................

41

Lampiran : Berita Acara Penyerahan Barang Hasil Kegiatan Penyusunan Neraca Penatagunaan Tanah Tahun ...........
Nomor : .................
Tanggal : .............................

No.

Kode
Barang

Nama Barang

Merk/Ty
pe

Tahun
Pengadaa
n

Jumla
h
Baran
g

Harg
a
Satua
n
(Rp)

Total
Harg
a
(Rp)

Kondi
si

Keterangan

Jumlah

........................, Tgl
PIHAK KEDUA
Direktur Penatagunaan Tanah
Badan Pertanahan Nasional RI

PIHAK PERTAMA
Kepala Kantor Wilayah
Badan Pertanahan Nasional
Provinsi .........................

.....................................
NIP. .............................

..................................
NIP. ....................................

42