Anda di halaman 1dari 22

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Dasar Teori
Air bagi suatu industri adalah bahan penunjang baik untuk
kegiatan langsung atau tak langsung. Penggunaan air di
industri biasanya untuk mendukung beberapa

sistem, antara

lain :
1. Sistem pembangkit uap (boiler)
2. Sistem pendingin
3. Sistem pemroses (air proses)
4. Sistem pemadam kebakaran
5. Sistem air minum
Persyaratan kualitas air yang dapat digunakan dalam
industri berbeda-beda tergantung kepada tujuan penggunaan
air tersebut. Air yang berasal dari alam pada umumnya belum
memenuhi

persyaratan

yang

diperlukan

sehingga

harus

menjalaniproses pengolahan lebih dahulu.


Klasifikasi Pengolahan Air
Pengolahan air dapat diklasifikasikan dalam dua golongan,
antara lain :
1. Pengolahan eksternal
2. Pengolahan internal
Secara umum masing-masing pengolahan dapat diterangkan
sebagai berikut :
1. Pengolahan Eksternal
Pengolahan eksternal dilakukan di luar titik penggunaan air
yang

bertujuan

untuk

mengurangi

atau

menghilangkan

impurities. Jenis-jenis proses pengolahan eksternal ini antara

Demineralisasi

lain : Sedimentasi, Filtrasi, Pelunakan (softening), Deionisasi


(Demineralization), dan Deaerasi.

LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR


2
PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
FTI-ITS

II-

Demineralisasi

2. Pengolahan Internal
Pengolahan internal adalah pengolahan yang dilakukan
pada titik penggunaan

air dan bertujuan untuk menyesuaikan

(conditioning) air kepada kriteria kondisi system dimana air


tersebut

akan

digunakan.

Usaha

untuk

mencapai

tujuan

pengolahan internal dilakukan dengan penambahan berbagai


bahan kimia ke dalam air yang diolah. Bahan-bahan kimia
tersebut, akan bereaksi dengan impurities sehingga tidak
menimbulkan

gangguan

dalam

penggunaan

air

tersebut.

Oksigen, sebagai contoh, dapat diikat dengan menggunakan


sodium sulfit atau hydrazine. Sifat lumpur yang dapat melekat
pada logam peralatan proses dihilangkan dengan penambahan
bahan-bahan organik yang termasuk dalam golongan tanin,
lignin atau alginat (Setiadi, Tjandra, 2007).
PERTUKARAN ION
Menurut Dewi, Shinta Rosalia, adsorpsi dan pertukaran ion
adalah proses sorpsi, dimana komponen tertentu dari fase
cairan, yang disebut zat terlarut, ditransfer selektif ke bahan
insoluble dalam suatu wadah atau dikemas dalam kolom.
Pertukaran ion melibatkan transfer massa dari larutan ke fasa
padatan. Pada adsorpsi dan pertukaran ion, ion dari fasa larutan
tertransfer ke fasa padatan (sorbent) sampai sorbent menjadi
jenuh atau hampir jenuh. Untuk meregenerasinya dilakukan
desorb (pelepasan kembali). Ion yang dipindahkan dari larutan
dipindahkan ke penukar ion (ion exchanger) sehingga terjadi
elektronetralitas

(jumlah

muatan

yang

diserap

yang

dilepaskan) (Dewi, Shinta Rosalia, 2006).


Mekanisme
LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR
3
PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
FTI-ITS

II-

Demineralisasi

Resin mengandung kation B dipertukarkan dengan kation


+

A+ akan dalam larutan. Kation A+ dan B+ akan terdifusi karena


perbedaan konsentrasi antara resin dan larutan.

Gambar II.1 Ion-Exchange Resin


Reaksi pertukaran ion :
A+ + R- B+
Pertukaran

ion

akan

B+ + R- A+
berlangsung

sampai

kesetimbangan

dicapai.

Gambar II.2 Kesetimbangan


Pertukaran Ion
Demineralisasi
Pada langkah pertama, resin penukar kation (H +) untuk ion
kation seperti K+, Ca2+, Na+. Pada langkah kedua, resin penukar
anion (OH-) seperti ion Cl-, PO42-. Ion-ion hidrogen dan hidroksil
LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR
4
PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
FTI-ITS

II-

Demineralisasi

yang masuk ke air bergabung membentuk air. Seperti pada


Gambar II.3 di bawah ini:

LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR


5
PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
FTI-ITS

II-

Demineralisasi

Gambar II.3 Demineralizer


Penukar Ion
Penukar ion diseimbangkan oleh counterion. Counterion
inilah yang akan dipertukarkan dengan ion lain dari larutan .

Gambar II.4 Penukar Ion


Resin
Polimer organik atau anorganik yang digunakan sebagai
penukar kation atau anion dari fasa larutan. Resin penukar ion
umumnya berbentuk butiran gel yang terdiri dari:
1. Jaringan polimer.
2. Gugus fungsional ionic melekat jaringan.
3. Counter ions.
4. pelarut.
LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR
6
PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
FTI-ITS

II-

Demineralisasi

Struktur umum
1. Polymer backbone tidak terlibat dalam ikatan.
2. Gugus fungsional / sisi aktif membentuk kompleks anion
atau kation.
Resin penukar kation (asam kuat) dan penukar anion (basa
kuat) disintesis dari kopolimerisasi stirena dan divinilbenzena
(DVB).

Gambar II.5 Kopolimerisasi Stirena dan DVB


Resin penukar kation (asam lemah) kadang disintesis dari
kopolimerisasi asam akrilat dan asam metakrilat.

Gambar II.6 Kopolimerisasi Asam Akrilat dan Asam Metakrilat


Faktor penting dalam pemilihan resin penukar ion :
1. Kapasitas penukar,
2. Selektivitas,
3. Ukuran partikel dan distribusi ukuran (flow throughout
considerations).
4. Stabilitas kimia dan fisika,
LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR
7
PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
FTI-ITS

II-

Demineralisasi

5. Regenerasi (Dewi, Shinta Rosalia, 2006).

LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR


8
PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
FTI-ITS

II-

Demineralisasi

Prinsip-prinsip Pertukaran Ion


Pertukaran ion adalah sebuah proses fisika-kimia. Pada
proses tersebut senyawa yang tidak larut, dalam hal ini resin,
menerima ion positif atau negatif tertentu dari larutan dan
melepaskan ion lain ke dalam larutan tersebut dalam jumlah
ekivalen yang sama. Jika ion yang dipertukarkan berupa kation,
maka resin tersebut dinamakan resin penukar kation, dan jika
ion yang dipertukarkan berupa anion, maka resin tersebut
dinamakan resin penukar anion. Contoh reaksi pertukaran
kation dan reaksi pertukaran anion disajikan pada reaksi (II.1)
dan (II.2) di bawah ini :
Reaksi pertukaran kation :
2NaR (s) + CaCl (aq)

CaR (s) + 2 NaCl (aq)

(II. 1)
Reaksi pertukaran anion :
2RCl (s) + Na2SO4

R2SO4(s) + 2 NaCl

(II. 2)
Reaksi (II.1) menyatakan bahwa larutan yang mengandung
CaCl4 diolah dengan resin penukar kation NaR dengan R
menyatakan resin. Resin mempertukarkan ion Na 2 larutan dan
melepaskan ion Na+ yang dimilikinya ke dalam larutan. Secara
ilustratif

halini

dapat

dilihat

pada

Gambar

II.7.

Proses

penukaran kation yang diikuti dengan penukaran anion untuk


mendapatkan air demin (demineralized water). Tahap terjadinya
reaksi penukaran ion disebut tahap layanan (service). Jika resin
tersebut

telah

mempertukarkan

semua

ion

Na +

yang

dimilikinya, maka reaksi pertukaran ion akan terhenti. Pada saat


itu resin dikatakan telah mencapai titik habis (exhausted),
LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR
9
PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
FTI-ITS

II-

Demineralisasi

sehingga harus diregenerasi dengan larutan yang mengandung


ion Na+ seperti NaCl. Tahap regenerasi merupakan kebalikan
dari

tahap

layanan.

Reaksi

yang

terjadi

pada

tahap

regenerasimerupakan kebalikan reaksi (II.1). Resin penukar


kation yang mempertukarkan ion Na + tahap tersebut di atas
dinamakan resin penukar

kation dengan siklus Na. Resin

penukar kation dengan siklus H akan mempertukarkan ion H +


pada tahap layanan dan regenerasi.

Gambar II.7 Proses


Penukaran Ion Ca dengan Na
(Pelunakan)
Jenis-jenis Resin Penukar Ion

Gambar II.8 Proses


Demineralisasi

Berdasarkan jenis gugus fungsi yang digunakan, resin


penukar ion dapat
dibedakan menjadi empat jenis, yaitu :
1. Resin penukar kation asam kuat ,
2. Resin penukar kation asam lemah ,
3. Resin penukar anion basa kuat, dan
4. Resin penukar anion basa lemah.

LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR


10
PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
FTI-ITS

II-

Demineralisasi

Resin penukar kation mengandung gugus fungsi seperti


sulfonat (R-SOH),
phosphonat (R-PO3H), phenolat (R-OH), atau karboksilat (RCOOH), dengan R
menyatakan resin. Gugus fungsi pada resin penukar ion asam
kuat adalah asam kuat seperti sulfonat, phosphonat, atau
phenolat, dan gugus fungsi pada resin penukar asam lemah
adalah karboksilat. Gugus fungsi pada resin penukar anion
adalah

senyawa

amina

(primer/R-NH,

sekunder/R-N2H,

tersier/R-R'2N) dan gugus ammonium kuartener (R-NR'/tipe I, RR'3N+OH/tipe II), dengan R' menyatakan radikal organik seperti
CH. Resin anion yang mempunyai gugus fungsi ammonium
kuartener disebut resin penukar anion basa kuat dan resin
penukar anion basa lemah mempunyai gugus fungsi selain
ammonium kuartener (Setiadi, Tjandra, 2007).
1.

Resin Penukar Kation Asam Kuat


Resin penukar kation asam kuat yang beroperasi dengan

siklus H, regenerasi dilakukan menggunakan asam HCl atau


H2SO4. Reaksi pada tahap layanan adalah sebagai berikut :
(II.3)

Konsentrasi asam keseluruhan yang dihasilkan oleh reaksi (II.2)


disebut Free Mineral Acid (FMA). Jika nilai FMA turun, berarti
kemampuan resin mendekati titik-habis dan regenerasi harus
dilakukan. Reaksi pada tahap regenerasi adalah sebagai berikut
:
LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR
11
PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
FTI-ITS

II-

Demineralisasi

(II.4)
2.

Resin Penukar Kation Asam Lemah

Gugus fungsi pada resin penukar kation asam lemah adalah


karboksilat (RCOOH). Jenis resin ini tidak dapat memisahkan
garam yang berasal dari asam kuat dan basa kuat, tetapi dapat
menghilangkan kation yang berasal dari garam bikarbonat
untuk membentuk asam karbonat, atau dengan kata lain resin
ini hanya dapat menghasilkan asam yang lebih lemah dari
gugus fungsinya. Reaksi-reaksi yang terjadi pada tahap layanan
untuk resin penukar kation asam lemah dengan siklus H,
dinyatakan oleh reaksi-reaksi berikut ini :

(II.5)

Larutan

regenerasi

dan

reaksi

yang

terjadi

pada

tahap

regenerasi identik dengan resin penukar kation asam kuat.

3.

Resin Penukar Anion Basa Kuat


Resin penukar kation asam kuat siklus hidrogen akan

mengubah garam-garam terlarut menjadi asam (reaksi II.4),


dan resin penukar anion basa kuat akan menghilangkan asamasam tersebut, termasuk asam silikat dan asam karbonat.
Reaksi- reaksi yang terjadi pada tahap layanan dan regenerasi
adalah sebagai berikut :
LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR
12
PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
FTI-ITS

II-

Demineralisasi

Operasi Layanan:
(II.6)
(II.7)
Regenerasi:
(II.8)

(II.9)

LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR


13
PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
FTI-ITS

II-

Demineralisasi
4.

Resin Penukar Anion Basa Lemah.


Resin penukar anion basa lemah hanya dapat memisahkan

asam

kuat

seperti

HCl

dan

H2SO4,

tetapi

tidak

dapat

menghilangkan asam lemah seperti asam silikat dan asam


karbonat, oleh sebab itu resin penukar anion basa lemah acap
kali disebut sebagai acid adsorbers. Reaksi-reaksi yang terjadi
pada tahap layanan adalah sebagai berikut :
(II.10)
Resin penukar anion basa lemah dapat diregenerasi dengan
NaOH, NH4OH atau N2CO3 seperti ditunjukkan oleh reaksi di
bawah ini :
(II.11)
Operasi Sistem Pertukaran Ion
1. Tahap Layanan
Tahap

layanan

adalah

tahap

dimana

terjadi

reaksi

pertukaran ion, seperti


ditunjukkan oleh reaksi-reaksi (II.3), (II.5), (II.6), (II.7), dan (II.10)
di atas. Watak
tahap layanan ditentukan oleh konsentrasi ion yang dihilangkan
terhadap waktu, atau volume air produk yang dihasilkan. Hal
yang penting pada tahap layanan adalah kapasitas (teoritik dan
operasi) dan beban pertukaran ion (ion exchange load).
Kapasitas pertukaran teoritik didefinisikan sebagai jumlah ion
secara teoritik yang dapat dipertukarkan oleh resin per satuan
LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR
14
PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
FTI-ITS

II-

Demineralisasi

massa atau volume resin. Kapasitas pertukaran ion teoritik


ditentukan oleh jumlah gugus
fungsi yang dapat diikat oleh matriks resin. Kapasitas operasi
adalah kapasitas resin aktual yang digunakan untuk reaksi
pertukaran pada kondisi tertentu. Beban pertukaran ion adalah
berat ion yang dihilangkan selama tahap layanan dan diperoleh
dari hasil kali antara volume air yang diolah selama tahap
layanan dengan konsentrasi ion yang dihilangkan. Tahap
layanan ini dilakukan dengan cara mengalirkan air umpan dari
atas (down flow).
2. Tahap Pencucian Balik
Tahap pencucian balik dilakukan jika kemampuan resin
telah mencapai titik habis. Sebagai pencuci digunakan air
produk. Pencucian balik mempunyai sasaran sebagai berikut :
1. pemecahan resin yang tergumpal
2. penghilangan partikel halus yang terperangkap dalam
ruang antar resin
3. penghilangan kantong-kantong gas dalam unggun, dan
4. pembentukan

ulang

lapisan

resin

Pencucian

balik

dilakukan dengan pengaliran air dari bawah ke atas (up


flow). Pada tahap ini terjadi pengembangan unggun antara
50 hingga 70%.
3. Tahap Regenerasi
Tahap regenerasi adalah operasi penggantian ion yang
terserap dengan ion awal yang semula berada dalam matriks
resin dan pengembalian kapasitas ke tingkat awal
tingkat

yang diinginkan.

Larutan

atau ke

regenerasi harus dapat

menghasilkan titik puncak (mengembalikan waktu regenerasi


LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR
15
PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
FTI-ITS

II-

Demineralisasi

dan

jumlah

larutan

yang

digunakan).

Jika

sistem

dapat

dikembalikan ke kemampuan pertukaran awal, maka ekivalen


ion yang digantikan harus sama dengan ion yang dihilangkan
selama tahap layanan. Jadi secara teoritik, jumlah larutan
regenerasi (dalam ekivalen) harus sama dengan jumlah ion
(dalam

ekivalen)

yang

dihilangkan

(kebutuhan

larutan

regenerasi teoritik). Operasi regenerasi agar resin mempunyai


kapasitas seperti semula sangat mahal, oleh sebab itu maka
regenerasi hanya dilakukan untuk menghasilkan sebagian dari
kemampuan pertukaran awal. Upaya tersebut berarti bahwa
regenerasi ditentukan oleh tingkat regenerasi (regeneration
level) yang diinginkan. Tingkat regenerasi dinyatakan sebagai
jumlah larutan regenerasi yang digunakan per volume resin.
Perbandingan kapasitas operasi yang dihasilkan pada tingkat
regenerasi tertentu dengan kapasitas pertukaran yang secara
teoritik yang dapat dihasilkan pada tingkat regenerasi itu
disebut efisiensi regenerasi. Efisiensi regenerasi resin penukar
kation asam kuat yang diregenerasi dengan H anion basa kuat
yang diregenerasi dengan NaOH antara 20-50%, oleh sebab itu
pemakaian

larutan

regenerasi

2-5

kali

lebih

besar

dari

kebutuhan teoritik. Pada resin penukar kation asam lemah dan


resin penukar anion basa lemah efisiensi dapat mendekati
harga 100%, atau denga kata lain kebutuhan larutan regenerasi
untuk resin penukar golongan lemah lebih sedikit. Hal tersebut
dapat dijelaskan dengan dua alasan. Pertama, kekariban resin
golongan lemah
dengan ion H dan ion OH lebih besar dibandingkan dengan
resin golongan kuat. Kedua, nilai koefisien selektivitas untuk
LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR
16
PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
FTI-ITS

II-

Demineralisasi

regenerasi adalah kebalikan dari koefisien selektivitas untuk


pertukaran awal. Besaran untuk menyatakan tingkat efisiensi
penggunaan

larutan

regenerasi

adalah

nisbah

regenerasi

(regeneration ratio) yang didefinisikan sebagai berat larutan


regenerasi dinyatakan dalam ekivalen atau gram CaCO3 dibagi
dengan beban pertukaran
ion yang dinyatakan dalam satuan yang sama. Semakin rendah
nisbah

regenerasi,

semakin

efisien

penggunaan

larutan

regenerasi. Harga nisbah regenerasi merupakan kebalikan


harga efisiensi regenerasi. Operasi regenerasi dilakukan dengan
mengalirkan larutan regenerasi dari atas.
4. Tahap Pembilasan
Tahap pembilasan dilakukan untuk menghilangkan sisa
larutan regenerasi yang

terperangkap oleh resin. Pembilasan

dilakukan menggunakan air produk dengan aliran down flow


dan dilaksanakan dalam dua tingkat, yaitu :
1. Tingkat laju alir rendah untuk menghilangkan larutan
regenerasi, dan
2. Tingkat laju alir tinggi untuk menghilangkan sisa ion.
Limbah pembilasan tingkat laju alir rendah digabungkan
dengan

larutan

garam

dan

dibuang,

sedangkan

limbah

pembilasan tingkat laju alir tinggi disimpan dan digunakan


sebagai pelarut senyawa untuk regenerasi (Setiadi, Tjandra, 2007).
Analisa Air
Adanya
menyebabkan

zat-zat
air

terlarut

mempunyai

dan

tersuspensi

kualitas

atau

dalam

air

karakteristik

tertentu, yang dapat diukur dari sifat-sifat sebagai berikut :


1. Keasaman (acidity)
LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR
17
PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
FTI-ITS

II-

Demineralisasi

Keasaman menyatakan kapasitas air untuk menetralkan


basa atau alkali. Keasaman biasanya disebabkan oleh CO,
asam-asam

organik,

asam-asam

mineral

atau

hasilreaksi

hidrolisa.
2. Alkalinitas / basa (alkalinity/basidity)
Alkalinitas menyatakan kapasitas air untuk menetralkan
asam. Penyebab alkalinitas adalah bikarbonat (HCO 3-), karbonat
(CO32-). Alkalinitas dalam air ada tiga jenis yaitu: alkalinitas
hidroksida(OH-alkalinity), alkalinitas karbonat (CO3-alkalinity),
danalkalinitas
alkalinitas

bikarbonat
dilakukan

(HCO3-alkalinity).

dengan

cara

Penentuan

phenolphthalein,

menghasilkan P-alkalinitas, sedangkan bila digunakan indikator


metil orange akan dihasilkan M-alkalinitas. Reaksi yang terjadi
pada P-alkalinitas dan M-alkalinitas adalah sebagai berikut:

(II.12)

Hubungan alkalinitas dengan kesadahan dapat dilihat pada


Tabel II.1 berikut:
Tabel II.1 Alkalinitas dan Hubungannya dengan Kesadahan

Tabel II.2 Hubungan Alkalinitas dengan Kesadahan


LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR
18
PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
FTI-ITS

II-

Demineralisasi

M-alk

= alakalinitas metil orange

P-alk

= alkalinitas phenolphthalein

OH-alk

= alkalinitas hidroksida

CO3-alka = alkalinitas karbonat


HCO3-alk = alkalinitas bokarbonat
Total-alk = alkalinitas total = M
Kesadahan non-karbonat = S=M-TH
Kesadahan semu (pseudo hardness) = TH- M
3. Padatan Terlarut Total (Total Dissolved Solids / TDS)
TDS menunjukkan jumlah ion terlarut yang disajikan pada
analisis air. TDSditentukan dengan cara pemanasan secara
perlahan-lahan penguapan sejumlah kecil air sampel (50-100
ml),

kemudian

sisa

garam

kering

ditimbang.

Hasilnya

dinyatakansebagai mg/1 atau ppm. Jumlah TDS hasil evaporasi


ini biasanya lebih kecildaripada penjumlahan ion-ion yang
ditentukan pada analisis, hal ini terjadi karenaadanya zat yang
hilang pada saat terjadi evaporasi.
4. Kekeruhan (turbidity)
Turbidity merupakan sifat optik air yang berhubungan
dengan penyerapan dan penyebaran cahaya. Pengukuran
turbidity

secara

empirik

menunjukkan

seberapa

jauh

pengukuran tersebut dipengaruhi oleh jumlah dan jenis zat-zat


tersuspensi. Konsentrasi aktual dari zat yang tersuspensi tidak
LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR
19
PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
FTI-ITS

II-

Demineralisasi

dapat ditunjukkan dan tidak ada hubungan antara pembacaan


turbidity

dengan

berat

padatan

tersuspensi.

Walaupun

demikian pengukuran turbidity dapat dengan mudah dilakukan


dengan menggunakan turbiditymeter dan perubahan jenis atau
jumlah padatan tersuspensi (Setiadi, Tjandra, 2007).

LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR


20
PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
FTI-ITS

II-

Demineralisasi

II.2 Aplikasi Industri


Zeolit untuk Mengurangi Kesadahan Air
Dari
segi
pemanfaat-an,
penggunaan
air

dapat

dikatagorikan dalam 2 katagori, yaitu air rumah tangga dan air


industri yang masing-masing mempunyai persyaratan tertentu.
Persya-ratan tersebut

meliputi persyaratan fisik, kimia dan

bakteriologis, ketiga persyaratan tersebut

merupakan suatu

kesatuan, sehingga apabila ada satu parameter yang tidak


memenuhi

syarat,

digunakan.

maka

air

tersebut

tidak

layak

untuk

Salah satu parameter kimia dalam persyaratan

kualitas air adalah jumlah kandungan unsure Ca2+ dan Mg2+


dalam

air

yang

keberadaannya

biasa

disebut

dengan

kesadahan air. Bagi air industri unsur Ca dapat menyebabkan


kerak pada dinding peralatan sistem pemanasan sehingga
dapat menyebabkan kerusakan pada peralatan

industri,

disamping itu dapat menghambat proses pemanasan. Masalah


ini dapat mengakibatkan penurunan kinerja industry yang pada
akhirnya

dapat

menimbulkan

kerugian.

Oleh

karena

itu

persyaratan kesadahan pada air industry sangat diperhatikan.


Percobaan yang dilakukan hanya terbatas pada cara
pelunakan air sadah
dengan

metoda penukar ion. Bahan penukar ion yang

digunakan adalah zeolit alam, karena zeolit alam mudah


diperoleh dan harganya relatif murah. Penelitian ini bersifat
experimen, dengan menggunakan sistem penelitian pretest
posttest, yaitu penelitian

dengan melakukan pengukuran

kesadahan air sebelum dan sesudah melewati alat pelunak air


yang berupa unggun zeolit. Pengukuran dilakukan untuk
mengetahui pengaruh faktor-faktor fisik terhadap efisiensi zeolit
LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR
21
PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
FTI-ITS

II-

Demineralisasi

alam

dalam

menurunkan

tingkat

kesadahan

air

baku.

Pemeriksaan air pada beberapa ketebalan untuk mengetahui


pengaruh

ketebalan

media

zeolit

terhadap

prosentasi

pengurangan kesadahan. Untuk mengetahui pengaruh waktu


operasi zeolit atau pengaruh lamanya pemakaian media zeolit
terhadap prosentasi pengurangan kesadahan, pemeriksaan air
dilakukan setelah pemakaian media selama 24 jam, 48 jam, 72
jam dan 96 jam, dengan menggunakan kecepatan aliran yang
tetap yaitu 2,55 cm/detik. Proses pelunakan dilakukan dengan
melewatkan

air baku kedalam alat yang telah diisi dengan

bahan zeolit sebagai bahan pelunak. Proses dimulai dengan


memasukkan air baku dari titik inlet yang terletak di bagian
atas alat dan keluar melalui titik outlet di bagian bawah alat.
Hasil percobaan menunjukkan bahwa semakin tinggi
unggun zeolit yang dilalui air baku, maka semakin besar
prosentase penurunan kesadahan, dengan kecepatan aliran air
baku sebesar 2,55 cm/detik, prosentase penurunan kesadahan
tertinggi dicapai pada ketebalan 80 cm dan lama pemakaian
zeolit (waktu operasi) maksimal 24 jam, yaitu 99,56%. Dari
hasil ini dapat disimpulkan bahwa dengan ketebalan 80 cm dan
pengoperasian zeolit dibawah 24 jam, penurunan kesadahan
hampir mencapai 100%. Prosentase penurunan kesadahan
terkecilterjadi

pada

ketebalan

zeolit

20

cm,

dan

lama

pemakaian zeolit (waktu operasi) 96 jam yaitu 2,94 % . (Marsidi,


Ruliasih, 2010).

LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR


22
PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
FTI-ITS

II-