Anda di halaman 1dari 16

PROPOSAL PROJEK

TANAMAN MENTIMUN (Cucumis Sativus L)


(Menejemen Agribisnis Tanaman Horti)

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK VI
Fadli Aulia

: 20120210093

Muhamad Badri

: 20120210094

Yakub Saroni

:20120210104

Nurifatur Khasanah

: 20120210118

Ririn Ernawati

:20120210122

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2014

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sektor pertanian masih memegang peranan penting dalam tatanan pembangunan
nasional, karena selain bertujuan untuk menyediakan pangan bagi seluruh penduduk, sektor
pertanian juga merupakan sumber mata pencaharian bagi sebagian besar penduduk Indonesia.
Terlebih keadaan alam Indonesia memungkinkan untuk dilakukan pembudidayaan berbagai jenis
tanaman pangan, baik lokal maupun berasal dari luar negeri. Hal tersebut menyebabkan
Indonesia ditinjau dari aspek klimatologis sangat potensial dalam bisnis tanaman pangan dan
hortikultura (Haryanto, 1996).
Berbagai jenis sayuran yang dibudidayakan dan dihasilkan di Indonesia, memberikan
sumbangan cukup besar terhadap keanekaragaman bahan pangan bergizi bagi penduduk. Selain
itu dengan adanya keanekaragaman tersebut dapat dijadikan sebagai sumber pendapatan bagi
ekonomi rumah tangga petani dan negara. Salah satu dari berbagai jenis sayuran tersebut adalah
mentimun.
Mentimun (Cucumis sativus L.) merupakan salah satu jenis sayuran dari family
Cucurbitales yang sudah populer ditanam petani di Indonesia. Tanaman mentimun berasal dari
benua Asia, tepat-nya Asia Utara, meski sebagian ahli menduga berasal dari Asia Selatan. Para
ahli tanaman memastikan daerah asal mentimun adalah India, tepatnya di lereng gunung
Himalaya (Rukmana, 1944).
Produksi mentimun di Indonesia sesuai data BPS (2008) mencapai 3,5-4,8 ton ha,
walaupun potensi produksi tanaman mentimun dapat mencapai 20 ton ha terutama jika menanam
mentimun hibrida. Produksi mentimun Kabupaten Muna menurut data BPS (2008) hanya
mencapai 1,46 ton ha yang menunjukkan bahwa produksi mentimun masih rendah dibandingkan
dengan produksi mentimun secara nasional. Sedangkan petani dalam melakukan usahataninya
mengharapkan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan akan menghasilkan pendapatan
(keuntungan) yang tinggi.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, petani perlu menghitung untung rugi dengan
membuat analisis secara ekonomi. Dari hasil analisis tersebut petani akan dapat melihat
perkiraan besarnya biaya yang akan dikeluarkan dan berapa keuntungan yang akan diperoleh,
selain itu petani harus dapat memilih usahatani yang lebih menguntungkan serta perlu dilakukan
perbaikan tehnik budidaya tanaman mentimun. Dengan permintaan mentimun yang tinggi dan
rendahnya pasokan lokal menciptakan peluang usaha tani dalam melakukan budidayakan
mentimun. Dengan tingginya permintaan, tidak akan sulit mencari peluang pemasaran
mentimum dengan keuntungan yang menjanjikan. Oleh karena itu kami melakukan budidaya
mentimun berdasarkan analisis usaha tani yang tepat.
B. Tujuan
1. Menerapkan teknik budidaya tanaman Mentimun serta pemasaranya

2. Menganalisis usaha tani Mentimun dari berbagai aspek financial


3. Menumbuhkan jiwa wirausaha dalam usaha budidaya Mentimun.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. KLASIFIKASI MENTIMUN
Menurut klasifikasi tanaman, mentimun dimasukkan ke dalam bangsa Cucurbitales,
keluarga Cucurbitaceae, dan marga Cucumis. Marga Cucumis terdiri atas beberapa spesies yang
mempunyai arti ekonomi penting, di antaranya Cucumis sativus L. mempunyai 7 genom,
Cucumis angurial L. (pare) mempunyai 12 genom dan Cucumis melo L. (melon) mempunyai 12
genom (Sumpena, 2001).

B. MORFOLOGI MENTIMUN
1. Akar
Menurut Rukmana (1994), perakaran mentimun memiliki akar tunggang dan
bulu-bulu akar, tetapi daya tembus akar relatif dangkal, pada kedalaman sekitar 30-60
cm. Oleh sebab itu, tanaman mentimun termasuk peka terhadap kekurangan dan
kelebihan air.
2. Batang
Tanaman mentimun memiliki batang yang berwarna hijau, berbulu dengan
panjang yang bisa mencapai 1,5 m dan umumnya batang mentimun mengandung air dan
lunak. Mentimun mempunyai sulur dahan berbentuk spiral yang keluar di sisi tangkai
daun. Sulur mentimun adalah batang yang termodifikasi dan ujungnya peka sentuhan.
Bila menyentuh galah sulur akan mulai melingkarinya. Dalam 14 jam sulur itu telah
melekat kuat pada galah/ajir (Sunarjono, 2007).
3. Daun
Daun mentimun lebar berlekuk menjari dan dangkal, berwarna hijau muda sampai
hijau tua. Daunnya beraroma kurang sedap dan langu, serta berbulu tetapi tidak tajam.
Dan berbentuk bulat lebar dengan bagaian ujung yang meruncing berbentuk jantung,
kedudukan daun pada batang tanaman berselang seling antara satu daun dengan daun
diatasnya (Sumpena, 2001).
4. Bunga
Bunga mentimun berwarna kuning dan berbentuk terompet, tanaman ini berumah
satu artinya, bunga jantan dan bunga betinah terpisah, tetapi masih dalam satu pohon.
Bunga betina mempunyai bakal buah berbentuk lonjong yang membengkak, sedangkan
bunga jantan tidak. Letak bakal buah tersebut di bawah mahkota bunga (Sunarjono,
2007).
5. Buah

Buah mentimun muda berwarna antara hijau, hijau gelap, hijau muda, hijau
keputihan sampai putih, tergantung kultivar yang diusahakan. Sementara buah mentimun
yang sudah tua (untuk produksi benih) berwarna cokelat, cokelat tua bersisik, kuning tua,
dan putih bersisik. Panjang dan diameter buah mentimun antara 12-25 cm dengan
diameter antara 2-5 cm atau tergantung kultivar yang diusahakan (Sumpena, 2001).
C. JENIS MENTIMUN
Menurut Sugito (1992), jenis mentimun yang banyak dibudidayakan dan diminati
masyarakat yakni:
1. Mentimun Jepang (Japanese varietas), timun ini berasal dari Jepang dengan ciri buah panjang
antara 18-20 cm dengan berat buah 80-120 g, diameter 1,5-2,5 cm, memiliki buah berasa manis,
dan kandungan air lebih sedikit.
2. Mentimun hibrida yang disilangkan dengan dua jenis induk yang mempunyai sifat-sifat unggul
dan keturunannya memiliki sifat yang lebih baik dari induknya. Salah satu mentimun hibrida
yakni varietas Hercules 56 yang memiliki ciri buah berwarna hijau, panjang 20 cm, diameter 4
cm, umur panen 35 hari dan memiliki percabang yang banyak dan tahan terhadap penyakit downy
mildew.

3. Varietas mentimun local dari petani setempat dengan ciri tanaman memiliki umur berbunga
20-30 hst dan umur panen 30-35 hst, warna buah muda sangat beragam, yaitu putih, hijau, atau
hijau keputihan, sedangkan warna buah tua kuning atau coklat, panjang buah antara 12-19 cm
(Sumpena, 2002).

D. SARAT TUMBUH
Mentimun cocok ditanam di lahan yang jenis tanahnya lempung sampai lempung
berpasir yang gembur dan mengandung bahan organik. Mentimun membutuhkan pH
tanah di kisaran 5,5-6,8 dengan ketinggian tempat 100-900 m dpl. Mentimun juga
membutuhkan sinar matahari terbuka, drainase air lancar dan bukan bekas penanaman
mentimun dan familinya seperti melon, semangka, dan waluh. Aspek agronomi
penanaman mentimun tidak berbeda dengan komoditas sayuran komersil lainnya, seperti
kecocokan tanah dan tinggi tempat, serta iklim yang sesuai meliputi suhu, cahaya,
kelembapan dan curah hujan (Wahyudi, 2011).
Untuk pertumbuhan yang optimum diperlukan iklim kering, sinar matahari yang
cukup dengan temperatur optimal antara 21

C 30

C. sementara untuk suhu

perkecambahan biji optimal yang dibutuhkan antara 25 0 C 35 0 C Kelembapan udara


(RH) yang dikehendaki oleh tanaman mentimun agar hidup dengan baik adalah antara
80-85%. Sementara curah hujan optimal untuk budidaya mentimun adalah 200-400

mm/bln, curah hujan yang terlalu tinggi tidak baik untuk pertumbuhan apalagi pada saat
berbunga karena akan mengakibatkan menggugurkan bunga (Sumpena, 2001).
Hasil penelitian Rachmat dan Gerard (1995), mengatakan syarat tumbuh tanaman
mentimun pada ketinggian 1000 m dpl, harus menggunakan mulsa plastik perak hitam
karena di ketinggian tersebut suhu tanah 18o C dan suhu udara 25o C. sehingga
penggunaan mulsa akan meningkatkan suhu tanah dan di sekitar tanaman.
E. BUDIDAYA MENTIMUN
1. Benih
Dalam budidaya mentimun, benih Hharus memiliki mutu tinggi untuk menghasilkan
tanaman yang berproduksi maksimum. Benih dijamin kwalitasnya dan memiliki mutu
tinggi yakni benih yang bersertifikat. Benih bersertifikat pada dasarnya telah lolos tes
mutu benih yang meliputi. 1) mutu genetik, 2) mutu fisiologik, dan 3) mutu fisik (Sadjad,
1977).
Mutu benih mencangkup pengertian sebagai berikut: 1) Mutu genetik yang
merupakan penampilan benih murni dari spesies atau varietas tertentu yang menunjukan
genetik dari tanaman induknya. Dengan ciri mutu benih dan tanaman menyerupai sifat
induknya. 2) Mutu fisiologik yang mencakup kemampuan daya hidup atau viabilitas
benih seperti daya kecambah dan kekuatan benih. Dengan ciri mutu fisiologik benih
yakni, kemampuan benih dalam memecah kulit benih dalam proses perkecambahan
dengan munculnya radikel dan memanjangnya hipokotil serta kotiledon dan plumula ke
atas permukaan tanah. 3) Mutu fisik merupakan penampilan benih bila dilihat kasat mata,
antara lain ukurannya homogen, bernas, bersih dari campuran benih lain maupun dari
gulma dan bebas dari kontaminasi (Sutopo, 2002).
2. Penyemaian
Benih umumnya akan berkecambah segera pada keadaan lingkungan yang
mendukung. Syarat umum yang dibutuhkan untuk pertumbuhan benih adalah; 1) adanya
air yang cukup untuk melembabkan biji, 2) suhu yang sesuia, 3) cukup oksigen, dan 4)
adanya cahaya. Selain itu juga, dalam proses perkecambahan benih tidak lepas dari
faktor-faktor yang mempengaruhi seperti faktor dalam (internal) dan faktor luar
(external). 1) Faktor dalam (internal) meliputi tingkat kematangan benih, ukuran benih,
dormansi benih, dan penghambat perkecambahan. Sementara itu, 2) Faktor luar
(external) meliputi cahaya, air, temperatur, oksigen, dan medium tumbuh (Sutopo, 2002).
Benih mentimun yang akan ditanam sebaiknya dipersiapkan media tanam/semai
terlebih dahulu. Media semai itu berupa campuran tanah dan pupuk kandang dengan

perbandingan 7:3. Sebagai tempat media dapat menggunakan polybag atau plastik
transparan dengan dilubangi untuk drainase air. Untuk menghindari tanaman terserang
hama media harus diberi Curater (Sugito, 1992).
3. Pembuatan Bedengan
Dalam pembuatan bedeng dengan cara pencangkulan akan mempengaruhi sifat fisik
tanah yang berfungsi memperbaiki ruang pori-pori tanah yang terbentuk diantara partikelpartikel tanah (tekstur dan stuktur). Kerapatan dan rongga-rongga akibat pencangkulan
akan memudahkan air dan udara bersirkulasi di dalamnya (drainase dan aerasi). Selain
tempat untuk bersirkulasi, pori-pori tanah olahan akan memudahkan pergerakan akar
tanaman dalam penyerapan unsur hara lebih mudah dan memungkinkan tanaman tumbuh
subur (Hanafiah, 2005).
4. Pemupukan
Tanah gambut di Indonesia tidak hanya bermasalah dengan kemasaman dan kelarutan
Al yang tinggi, tetapi juga miskin hara, terutama hara makro seperti N, P, K, dan Mg.
Oleh karena itu, pengapuran bukannya satu-satunya upaya untuk memperbaiki dan
meningkatkan produktivitas lahan yang ditempati tanah bersifat asam. Pengapuran yang
tidak disertai dengan pemupukan akan sama buruknya dengan pemupukan yang tidak
didahului pengapuran (Hakim, 2006).
Pemberian pupuk bertujuan untuk mengembalikan unsur hara yang telah hilang akibat
pencucian air tanah, sehingga kebutuhan akan unsur hara tanaman dapat terpenuhi.
Dalam pengaplikasiaan pupuk meliputi beberapa cara seperti penaburan, penugalan,
pembenaman, penyemprotan dan penyiraman (Suteja, 1997).
Peranan suplai unsur hara untuk tanaman menunjukan manfaat yang sangat besar
dalam meningkatkan pertumbuhan, hasil, dan kualitas mentimun. Jenis pupuk yang dapat
digunakan pupuk organik berupa pupuk kandang ayam 10 ton/ha, dan pupuk anorganik
berupa Urea 225 kg/ha TSP 120 kg/ha, KCL 100 kg/ha dan curater. Pemupukan
dilakukan 2 kali yakni pemberian awal dan pemberian susulan. Pemberian pupuk susulan
terhadap budidaya mentimun dengan mulsa dilakukan setelah tanaman berumur 1 bulan
dengan menggunakan pupuk NPK yang dicairkan. Cara pemberiannya dengan
penyiraman dengan dosis 50 g/10 liter air lalu disiramkan disekitar tanaman. Larutan
sebanyak itu digunakan untuk 50 tanaman (Sumpena, 2002).
Hasil penelitian Yetti dan Evawani (2008), mengatakan bahwa pemberian pupuk
organik kandang ayam dengan dosis KCL 25 g/plot berpengaruh nyata pada parameter

pengamatan jumlah umbi per rumpun, tinggi tanaman, berat basa dan berat kering
perplot. Secara keseluruan perlakuan KCL 25 g/plot menunjukan perlakuan terbaik dari
semua pengamatan.
5. Penanaman
Penanaman benih dapat dilakukan jika benih telah memiliki daun 2-3 daun utama dan
benih mentimun yang sudah dikecambahkan ditanam langsung dilubang tanam yang
dibuat dengan cara penugalan sedalam 5 cm. Benih ditanam sebanyak 1 tanaman
perlubang tugal dan selanjutnya lubang tanam ditutup tanah setinggi 1 cm jarak lubang
tanam 30 cm x 60 cm (Sumpena, 2002).
6. Pemasangan Ajir
Mentimun merupakan tanaman yang bersifat memanjat (Indeterminate), sehingga
dalam pertumbuhannya mentimun membutuhkan tiang penyangga atau ajir sebagai
tempat tegak dan pembentukan buah tanaman tidak terhalang atau terhambat. Dengan
kondisi pertumbuhan seperti ini maka persentase terbentuknya buah yang normal (lurus)
akan lebih banyak dibandingkan dengan buah-buah yang terbentuk abnormal. Ajir
berfungsi untuk 1) tempat tegak tanaman, 2) mengurangi pembentukan buah abnormal, 3)
mengurangi terserang hama, dan 4) memudahkan cara pemanenan (Sumpena, 2001).
7. Pengendalihan Hama dan Penyakit
Hama dan penyakit pada mentimun sebenarnya tidak terlalu banyak. Pemberantasan
dilakukan setelah terlihat tanda-tanda serangan. Cara pemberatasannya antara lain dengan
cara mekanis (eradiksi/pemotongan daun) maupun dengan cara kimia (penyemprotan
pestisida). Hama yang sering mengganggu yakni Thrips dan Imago thripis yang merusak
tanaman dengan cara menghisap cairan sel. Tanda awal dari kerusakan ini bila daun
dihadapkan ke sinar matahari akan kelihatan bintik berwarna putih. Pengendalian
serangan hama ini dapat dilakukan dengan penyemprotan insektisida (Khotimah, 2007).
Menurut Sugito (1992), penyakit yang sering menyerang yakni Downy mildew
(Pseudomonas cubensis Berk dan Curt) di awali dengan adanya bintik hitam pada
permukaan daun yang kemudian berubah menjadi kuning, kemudian meluas menjadi
bercak. Pemberantasan penyakit ini dilakukan dengan cara penyemprotan fungisida
seperti Benlate dan Dithane. Penyakit layu sering menyerang pada musim hujan ketika
tanah tergenang dan terlalu basah. Penyebab penyakit layu diakibatkan oleh Fusarium
wilt F, dengan cara pengendalian membuat drainase atau saluran air yang baik dan
pembuatan bedeng tanaman yang tinggi 50 cm (Sumpena, 2001).
F. PANEN

Buah mentimun dapat dipanen pada umur 30-50 hst, ciri-ciri buah yang dapat dipanen,
yaitu buah masih berduri, panjang buah antara 10-30 cm atau tergantung jenis yang diusahakan
interval panen dilakukan antara 1-2 hari sekali. Panen dilakukan dengan cara memotong
tangkainya dengan pisau atau gunting. Tangkai buah yang bekas dipotong sebaiknya dicelupkan
kedalam larutan lilin untuk mempertahankan laju penguapan dan kelayuan sehingga kesegaran
buah mentimun dapat terjaga relatif lama (Sumpena, 2001).

G. PASCA PANEN
Buah yang baru dipetik disimpan di tempat penampungan seperti gudang atau
tempat lain yang teduh dan sejuk. Buah busuk, rusak mekanis dan abnormal dipisahkan
dari yang baik dan sempurna. Kriteria penyortiran tanaman mentimun adalah:
1. Kelas A: panjang=16-20 cm; diameter=1,5 cm; bentuk buah=bagus, lurus, bulat dan
mulus.
2. Kelas B: panjang=20-23 cm; diameter=2,0 cm; bentuk buah=bagus, lurus, bulat dan
mulus.
3. Kelas C: panjang=> 23 cm; diameter=< 2,0 cm; bentuk buah=buah afkiran, bengkok,
ukuran diameter tidak merata, cacat mekanis.
Setelah disortir, buah dicuci dengan air mengalir atau disemprot sampai bersih
dan ditiriskan. Buah dimasukkan ke dalam wadah sebaiknya berupa kotak karton atau
keranjang plastik. Buah diatur rapi sedemikian rupa sehingga dapat mengurangi
terjadinya pergeseran akibat pengangkutan. Di pasar tradisional, buah dikemas di dalam
karung. Untuk menghindari kerusakan mekanis, buah di dalam karung harus tersusun rapi
dan sebaiknya tidak melebihi 20 kg/karung.
H. ANALISIS USAHA TANI
A. Biaya produksi
1 Sewa lahan satu musim tanam
2 Bibit
Benih 1 kg
Turus 20.000 buah
3 Pupuk
- Pupuk kandang: 20 ton @ Rp.
150.000,- Urea: 850 kg @ Rp. 1.100,- SP-36: 500 kg @ Rp. 1.900,- KCl: 600 kg @ Rp. 1.650,4 Obat dan pestisida

Harga (Rp)
500.000,1500.000,500.000,-

3.000.000,935.000,950.000,990.000,-

B
C
D

- Insektisida: 10 kg
- Fungisida: 10 kg
5 Tenaga kerja
Pembibitan
Pengolahan tanah borongan ( traktor)
Pembuatan Bedengan
Pemupukan dasar: 20 HKP
Penanaman: 5 HKP + 10 HKW
Pemasangan turus: 30 HKP
Penyemprotan: 25 HKP
Siangan, pupuk, bumbunan:

350.000,350.000,-

30HKP+40 HKW
6 Panen: 25 HKP + 40 HKW
7 Biaya tak terduga

600.000,550.000,750.000,13.050.000,

200.000,500.000,500.000,200.000,125.000,300.000,250.000,-

Jumlah biaya produksi


Pendapatan hasil produksi: 20.000 kg @

15.000.000,

Rp. 750,Keuntungan
Parameter kelayakan usaha
Rasio Output/Input

1.950.000,1,149

Prospek agribisnis mentimun akan semakin baik karena permintaan buah ini tidak
hanya dari pasar lokal tetapi juga dari pasar internasional. Produksi mentimun di
Indonesia masih sangat rendah yaitu 3,5-4,8 ton/ha padahal potensinya bisa mencapai 20
ton/ha terutama jika menanam mentimun hibrida. Konsumen mentimun lokal kebanyakan
di dalam negeri, tetapi mentimun hibirida dikonsumsi di kebanyakan negara. Sasaran
ekspor yang potensial adalah Jepang dengan perminataan 500.000 ton/tahun. Perlu juga
diingat bahwa penanaman mentimun dalam skala produksi yang tinggi dan intensif belum
banyak dilakukan, umumnya mentimun terutama jenis lokal hanya ditanam sebagai
tanaman selingan.

BAB III PEMBAHASAN

A. ANALISIS USAHA TANI YANG AKAN DILAKUKAN


1. INVESTASI
a. Biaya Tetap (Fixed Cost)
Justifikasi

Material

Kuantitas

Pemakaian

Harga Satuan

(Rp)
3 kg
Rp. 30.000
1 buah
Rp. 10.000
3 buah
Rp. 50.000
896 buah
Rp.
250
1 buah
Rp. 116.000
2 buah
Rp. 10.000
2 buah
Rp. 15.000
1 gulung
Rp. 5.000
(TFC) Total Biaya Tetap

Mulsa
Meteran
Cangkul
Ajir
Sprayer
Parang
Ember
Tali Rafia

Jumlah
Rp. 90.000
Rp. 10.000
Rp. 150.000
Rp. 224.000
Rp. 116.000
Rp. 20.000
Rp. 30.000
Rp. 5.000
Rp. 654.000

b. Biaya Variable (Variable Cost)


Material

Justifikasi
Pemakaian

Benih
Pupuk
Pupuk kandang
KCL
Urea
PONSKA
SP-36
Material
Pestisida
Rodomil
Tenaga kerja
Survei benih
Pengolahan
lahan
(sewa traktor)
Survey pupuk
Pemasangan
mulsa
Survei peralatan
Pembibitan
Biaya tidak terduga
Penanaman
Pemasangan ajir
Pemupukan
Penyiangan
penyemprotan
Pemanenan
Sewa lahan

Kuantitas
1 kg

Harga Satuan
(Rp)
Rp 40.000

Jumlah
Rp. 40.000

1 pick up
Rp. 300.000
Rp. 300.000 c. Perja
10 kg
Rp. 1.500
Rp. 15.000
lana
10 kg
Rp. 1.300
Rp. 13.000
n
10 kg
Rp. 1.700
Rp. 17.000
10 kg Kuantitas
Rp. 1.600
Justifikasi
Harga Rp. 16.000
Jumlah
Pemakaian
2 kg
1

Satuan
Rp. 36.000
Rp. 72.000
(Rp)
1 orang
Rp. 150.000 Rp.Rp. 150.000 Rp.
25.000
25.000
22 orang Rp. 5.000 Rp.Rp. 10.000 Rp.

25.000
50.000
Rp. 25.000Rp. 75.000
Rp. 75.000
3 HOK 3 orangRp. 25.000
2 HOK 3 bulanRp. 25.000
Rp. 50.000 Rp.
2 HOK
Rp. 25.000
Rp. 50.000
100.000
3 HOK
Rp. 25.000
Rp. 75.000
TOTAL
Rp. 250.000
2 HOK
Rp. 25.000
Rp. 50.000
2 HOK
Rp. 25.000
Rp. 50.000
5 HOK
Rp. 25.000
Rp. 125.000
3 bulan
Rp. 300.000
Rp. 300.000
(TVC) Total Variable Cost

Rp. 1.333.000

B. Biaya Produksi (TC) = Total biaya tetap (TFC) +Total biaya variabel(TVC)
= (Rp. 654.000 + Rp. 1.583.000)
= Rp. 2.237.000
Panen buah mentimun bisa dilakukan setelah 90 hari setelah tanam kalau dalam 200 m2
lahan ditanami 896 tanaman. Potensi hasil yang diperoleh per tanaman adalah 3 kg, dengan harga
jual Rp. 3.000/kg, sehingga jumlah hasil yang didapat adalah 896 x 3 = 2.688 kg. Potensi
kerusakan buah saat panen adalah 15 kg.
Jumlah bobot buah yang layak jual : 2.688 15 = 2.673 kg.

Pendapatan (TR) = jumlah panen (Quantity) X harga jual (Price)


= 2.673 kg x Rp.3.000/kg
= Rp. 8.019.000

Keuntungan (TT) = Pendapatan (TR) total biaya produksi (TC)


= Rp.8.019.000 - Rp. 2.237.000
= Rp. 5.782.000
Analisis Keuntungan = TR/TC

= Rp.8.019.000 / Rp.2.237.000
= 3,58

I.

(layak)

SISTEM USAHA
A. Permodalan
Modal diambil dari uang iyuran anggota pembuat projek yang berjumlah masingmasing pemodal yaituRp. 447.400 yang di ambil dari 5 orang, sehingga modal awal
adalah Rp. 447.400 x 5 = 2.237.000.
Usaha tani ini dibentuk atas dasar pentingnya penggunaan bahan pangan yang
semakin tinggi. Selain itu Usaha ini juga berusaha untuk membina para petani yang
nantinya akan diberikan penyuluhan yang baik. Dalam Proposal ini, perencanaan
sumber daya manusia yang dibutuhkan berasal dari anggota kelompok yang mana dalam
usaha tani mandiri membutuhkan SDM sejumlah 5 orang. Mereka adalah Fadli Aulia,
Muhamad Badri, Yakub Saroni, Nurifatul Khasanah dan Ririn Ernawati. Masing -

masing anggota memiliki perannya sendiri. Tenaga tersebut yang akan mengatur semua
pengolahan tanaman kacang tanah dari mulai tanam hingga pemasaran. Pelaksanaan
usaha tani dilakukan oleh kelompok 6 dengan aspek organisasi sebagai berikut:
Nama perusahaan
: CV. Nurfabayari Peanut Jaya
Bidang usaha
: Agribisnis
Jenis produk
: buah mentimun
Kegiatan
: Produksi, pengolahan pasca panen dan pemasaran
Alamat Perusahaan : Taman Tirto, Kasihan,Bantul
Nomor Telp
: 089673920515
Status Usaha
: Usaha Milik Bersama
Nama perusahaan berasal dari gabungan nama pemilik maupun pengelola usaha
ini. Bidang usaha kami adalah kacang tanah dengan jenis produk kacang tanah berkulit
dan kacang tanah kupas. Keunggulan dari kacang tanah kami adalah berpolong besar, 1
buah berisi 3 polong, memiliki rasa yang gurih dan warna yang cerah,berumur genjah
serta tahan terhadap hama penyakit.
Selain itu kami menyediakan layanan pesan antar dalam jumlah besar maupun
kecil, dapat menghubungi 089673920515 atau langsung datang di kios kami yang berada
di pasar gamping. Berikut denah kios:

B. Bagi Hasil/ Keuntungan


II.

TATA NIAGA PRODUK


A. Rencana
B. Realisasi

III.

ANALISIS FINANSIAL
A. Rencana
B. Realisasi
C. Fisability (BEP Harga/ Produksi)

IV.
V.

PEMBAHASAN
KESIMPULAN dan SARAN

DAFTAR PUSTAKA

Haryanto, E., T. Suhartini, dan E. Rahayu. 1996. Sawi dan Selada. Penebar Swadaya, Jakarta.
Hakim, N. 2006. Pengelolaan Kesuburan Tanah Masam dengan Teknologi Pengapuran
Terpadu. Andalas University Press. Padang. Hal, 5-15.
Khotimah, N. 2007. Budi Daya Tanaman Pangan, Karya Mandiri Nusantara. Jakarta Barat.
Hal, 141-145.
Rachmat, S. dan Geraad Grubben. 1995. Pedoman Bertanam Sayuran Dataran Rendah.
Prosea Indonesia dan Balai Penelitian Hortikultura. Universitas Gadja Mada. Hal, 102104.
Reijntjes, C, B. Haverkorb, A. Waters-Bayers. 1999. Pertanian Masa Depan. Kanisius.
Yogyakarta. Hal, 44-45.
Rukmana, R. 1994. Budidaya Mentimun. Penerbit Kanisius, Yogyakarta. Hal, 5-8.
Sadjad. S. 1977. Catatan Sejarah Tentang Pengembangan Mutu Benih. Vol. 2. Penataran
Latihan Pola Beranam, LP3 IRRI, Bogor. Hal, 1-12.
Sugito, J. 1992. Sayur Komersial. Penebar Swadaya. Jakarta. Hal, 106-112.
Sumpena, U. 2001. Budidaya Mentimun Intensif dengan Mulsa Secara Tumpang Gilir.
Penebar Swadaya. Jakarta. Hal, 1-46.
Sunarjono, H, H. 2007. Bertanam 30 Jenis Sayur. Penebar Swadaya. Jakarta. Hal, 109-114.
Sutedjo, M, M dan Kartasas Poetra A, G. 1997. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta
Buana. Bandung. Hal, 14-15.
Trubus no. 341. 1998. Sayuran Kesukaan Kelas Elit.

Anda mungkin juga menyukai