Anda di halaman 1dari 12

Teratoma

Tumor sel germinal (GCT) berasal dari primordial germ cells, mempunyai beragam tipe
histologi, yaitu teratoma, seminoma (dikenal sebagai dysgerminoma pada ovarium dan
germinoma pada pineal gland), khoriokarsinoma, yolk sac tumor, embryonal cell carcinoma
dan mixed GCT, dapat terjadi pada anak-anak & orang dewasa. GCT terjadi pada jaringan
gonad atau sepanjang jalur migrasi primordial germ cells. Pada orang dewasa, GCT paling
sering terjadi pada gonad, sedangkan pada anak-anak didominasi tumor sacrococcygeal.
Teratomas merupakan bentuk tersering GCT, secara histologi mengandung jaringan yang
berasal dari 3 lapisan germ cell (ectopic pluripotent stem cells) : ektoderm, mesoderm
(banyak teratoma mengandung lemak berasal dari derifat mesodermal) dan endoderm, yang
gagal bermigrasi dari yolk sac endoderm ke urogenital ridge selama embryogenesis.
Berdasarkan derajat diferensiasinya, teratomas diklasifikasikan menjadi teratoma mature atau
immature. Pada orang dewasa, teratoma immature cenderung menunjukkan sifat maligna.
Meskipun komponen jaringan lunak sering ditemukan pada teratoma immature, sulit untuk
membedakan teratoma mature dari immature hanya menggunakan pencitraan saja. Meskipun
kemotherapi adjuvant digunakan, terapi biasanya pembedahan.
Berdasarkan lokasi, teratoma dibagi menjadi teratoma intrakranial, teratoma kepala dan leher,
teratoma mediastinum, teratoma retroperitoneal, teratoma sacrococcygeal, teratoma testikular
dan teratoma ovarium.
Teratoma intrakranial
Insiden sekitar >50% tumor intrakranial janin, 33% tumor intracranial neonatus, tetapi hanya
2%-4% tumor intrakranial usia <15years. Berasal dari pineal gland dan melibatkan Ventrikel
III. Massa kistik dengan komponen kalsifikasi. Gambaran klinis meliputi polyhydramnios,
berhubungan dengan gangguan menelan cairan amnion pada janin (Gambar 1).

Gambar 1. Potongan sagital T1 (A) menunjukkan massa kistik dan padat yang menyangat heterogen pada pasien dewasa, klinis sakit

Teratoma kepala dan leher


Kepala dan leher merupakan tempat tersering teratoma pada anak. Berasal dari area
thyrocervical, palatum atau nasopharynx (Gambar 2 dn 3). Seperti teratoma di kranial, tumor
terletak di midline, mengandung kista dan komponen kalsifikasi intramassa. Polyhydramnios
sering dijumpai karena gangguan menelan. Kematian peripartum berhubungan dengan
sulitnya bernapas setelah lahir; namun kemampuan untuk bertahan meningkat ketika jalan
napas sudah terbentuk sebelum janin lahir dan plasenta & umbilical cord dihilangkan
(Gambar 4-7).

Gambar 2. MRI janin dilakukan setelah didapatkan hasil skreening USG abnormal, menunjukkan massa kompleks kistik dan padat b

Gambar 3. MRI T2 pada anak dengan


massa di mulut menunjukkan massa
campuran kistik dan padat (panah).
Terdapat penyangatan pada komponen
padat massa. Massa melintasi banyak
ruang di wajah dan leher, menghalangi
oral airway. Hasil PA: mixed teratoma
mature dan immature.

Gambar 4. MRI T1W (A) dan CT Scan (B,C) pada anak dengan massa menonjol timbul
dari mulut menunjukkan massa kompleks, berasal dari aspek kanan rongga hidung
meluas ke posterior menuju ke fossa kranial anterior dan tengah kanan, serta
suprasellar. Massa exophytic extrafascial besar di luar bibir atas, dengan komponen
padat dan kistik, mengandung lemak (panah di A) dan kalsifikasi (panah di B). Terdapat
penyangatan di beberapa komponen padat. Hasil PA menunjukkan mukosa kolon dan
gaster.

Gambar 5. USG prenatal (A) dan postnatal (B dan C) menunjukkan massa teratoma kepala dan leher besar pada anak dengan massa m

Gambar 6. CT Scan (A, B) and MRI T1 + K menunjukkan massa campuran kistik dan padat yang menonjol di orbita kanan anak. Ma

Gambar 7. MRI Janin (A) dikerjakan apabila skrining USG abnormal, menunjukkan massa cervical kompleks multilokula

Teratoma mediastinal
Mediastinum merupakan lokasi yang tidak biasa untuk GCT. Insiden teratoma sekitar 75%
GCT mediastinal dan biasanya terletak di mediastinum anterior, dekat thymus serta
ditemukan pada pasien muda. Teratoma mediastinal tersering adalah subtipe mature, hanya
sedikit mengandung element immature. Teratoma immature di mediastinum mempunyai
potensi maligna yang rendah. Keganasan terjadi sekitar 20% kasus dan terutama laki-laki.
Karakteristiknya terdapat kista, internal fat dan kalsifikasi didalam massa (Gambar 8 & 9).

Gambar 8. CT Scan dilakukan setelah didapatkan hasil abnormal pada radiografi thorax, menunjukkan massa mediastinum anterior d

Gambar 9. Radiografi thorax PA (A) and CT Scan (B) menunjukkan massa mediastinum anterior,
mengandung jaringan lunak dan lemak. Hasil PA menunjukkan teratoma kistik matur. Massa ini
pada laki-laki dewasa dan ditemukan secara incidental.

Teratoma retroperitoneal
jarang, <10% primary retroperitoneal tumors. Sekitar 50% kasus muncul pada dekade
pertama kehidupan. Female : male ratio = 2 : 1 (Gambar 10-12). Teratoma di lokasi ini
cenderung berkembang dengan baik menyerupai elemen janin normal, disebut fetus-in-fetu
appearance.

Gambar 10. Pemeriksaan USG pada anak menunjukkan massa retroperitoneal besar dominan kistik. Hasil PA sesuai dengan teratoma

Gambar 11. Imejing USG (A) pada pasien dengan nyeri pinggang, menunjukkan massa dengan ekhogenitas campuran di posterior gi

Gambar 12. CT scan pada anak dengan ukuran lingkar perut yang bertambah menunjukkan massa retroperitoneal kistik mengandung

Teratoma sacrococcygeal
Sacrococcygeum merupakan lokasi tersering GCT pada anak-anak. Tujuh puluh lima persen
terdiagnosa pada periode neonatal, usia 4 tahun. Perempuan 4x laki-laki, Hingga 27%
teratoma sacrococcygeal maligna, dengan peluang keganasan meningkat sesuai pertambahan
umur anak, Sembilan puluh persen tumor ini jinak pada anak < 2 bulan, tetapi <50% jika
pada anak > 2 bulan(Gambar 13 dan 14). Sacrococygeal teratoma diklasifikasikan menjadi 4
tipe berdasarkan derajat keterlibatan internal oleh tumor. Tipe I tumor seluruhnya berada di
luar pasien, tipe IV dimana tumor berada di presacral space(Gambar 15 dan 16). Prognosis
janin dengan sacrococcygeal teratoma lebih buruk daripada neonates dengan baru terdiagnosa
tumor, dengan angka kematian mendekati 50% pada janin terdiagnosis sebelum 30 minggu
kehamilan.

Gambar 13. USG pada anak dengan kebiasaan buang air besar abnormal menunjukkan massa presakral mengandung septasi tebal. Ha

Gambar 14. MRI sekuens T1W (A) and T2W (B) pada anak dengan massa yang terlihat, menunjukkan adanya lemak intra massa (pa

Gambar 15. MRI janin dikerjakan setelah skreening USG abnormal (A) dan postnatal CT (B) menunjukkan Fetal MR performed afte

Gambar 16. CT Scan pada pasien dewasa


dengan nyeri perut menunjukkan massa
kompleks sebagian kistik berasal dari
adnexa dengan ascites. Hasil PA
menunjukkan tubulus saraf, tulang rawan,
epitel iris berpigmen, epitel pernapasan, dan
mukosa gastrointestinal immature.

Teratoma testikular
Teratoma merupakan tumor testis kedua terbanyak pada anak-anak. Namun pada dewasa,
teratoma murni jarang dan elemen teratomatous sering dijumpai sebagai mixed GCT.
Meskipun dapat terjadi pada anak-anak dan dewasa, riwayat penyakitnya sangatlah berbeda.
Selama dan setelah pubertas, baik teratoma testicular mature dan immature dapat metastasis
dan dianggap maligna (Gambar 17). Komponen kistik pada massa dimanapun di dalam
tubuh, karakteristik dengan teratoma, sedangkan neoplasma testis cenderung solid. Adanya
kalsifikasi didalam massa juga mendukung ke diagnosis (Gambar 18). Transformasi maligna
sangat sering pada teratoma testikular dibanding ovarium, dengan resiko recurrence 20%
pada teratoma testikular mature dan immature.

Gambar 17. Imejing USG anak 10 bulan dengan massa testikular menunjukkan massa heterogen dengan komponen kistik dan padat d

Gambar 18. (A) CT Scan Laki-laki 20 tahun dengan teratoma immature, muncul dari undescended testis. (B) CT Scan melihatkan me
Densitas lemak intalesi, juga focus kalsium (panah di A).

Teratoma ovarium
Terdiri dari teratoma mature, teratoma immature dan teratoma monodermal (satu jenis
jaringan lebih bersifat dominan). Bentuk umum teratoma monodermal adalah struma ovarii,
di mana tumor terdiri dari sebagian besar jaringan tiroid matang. Teratoma ovarium mature
dikenal sebagai kista dermoid, 10% -20% neoplasma ovarium, insiden puncak pada dekade
ketiga. Pada populasi anak merupakan neoplasma ovarium paling sering. Adanya lemak, kista
dan kalsifikasi dalam lesi pada CT atau MRI merupakan karakteristik diagnostik terpenting.
Rokitansky protuberances adalah proyeksi papiler dari dinding kista, khas teratoma mature,
cenderung mengandung komponen rambut dan kalsium (Gambar 19 dan 20). Asimptomatik,
kecuali torsi atau degenerasi maligna (jarang). Degenerasi maligna ke karsinoma sel
skuamosa jarang terjadi (Gambar 21).
Teratoma immature cenderung terjadi pada wanita lebih muda, 5% tumor ovarium. Sulit
membedakan teratoma mature dan immature menggunakan pencitraan, tetapi gambaran yang
mengarah komponen immature meliputi komponen jaringan lunak prominen pada massa
dengan kalsifikasi tersebar di seluruh lesi, berbeda dengan yang terkandung dalam
Rokitansky protuberance.

Gambar 19. Radiografi abdomen (A) pada perempuan dengan konstipasi menunjukkan kumpulan kalsifikasi menyerupai gigi di dalam

Gambar 20. (A) Imejing CT pada anak menunjukkan massa mengandung lemak, menunjukkan adanya elemen lemak, rambut dan jar

Gambar 21. Dermoid ovarium mengandung lemak pada perempuan lanjut usia dengan keluhan kembung. Hasil PA menunjukkan ada

Singkatnya, teratoma adalah neoplasma umum dengan penampilan yang khas, merupakan
germ cell tumours (GCT) yang berasal dari ectopic pluripotent stem cells yang gagal
bermigrasi dari yolk sac endoderm ke urogenital ridge selama embriogenesis. Secara definisi,
mengandung 3 lapisan embriologi : endoderm, mesoderm dan ectoderm meskipun jarang,
bisanya sering ditemukan hanya 2 lapisan. Teratoma beragam dari benign, mature, welldifferentiated cystic lesions sampai immature, poorly differentiated lesions with solid
components and transformasi maligna (paling sering komponen skuamosa). Berdasarkan
lokasi, teratoma dibagi menjadi teratoma intrakranial, teratoma kepala dan leher, teratoma
mediastinum, teratoma retroperitoneal, teratoma sacrococcygeal, teratoma testikular dan
teratoma ovarium. Keakraban dengan penampilan pencitraan khas lesi ini akan membantu
ahli radiologi dalam diagnosis entitas ini
Sebagai kesimpulan, teratoma merupakan neoplasma umum dengan penampilan yang khas.
Pengenalan gambaran khas pencitraan lesi ini membantu dalam mendiagnosis :
Pada orang dewasa, GCT terjadi paling umum pada gonad. Teratoma adalah bentuk umum
dari tumor sel germinal(GCT). Secara histologis mengandung jaringan yang berasal dari 3
lapisan sel germinal: ectoderm, mesoderm (sering teratoma mengandung lemak, ciri khas
pencitraan, merupakan derifat mesoderm) dan endoderm. Teratoma juga diklasifikasikan
sebagai mature atau immature.
Teratoma intrakranial timbul dari kelenjar pineal dan melibatkan ventrikel III. Massa
sering cystic dan berkalsifikasi.
Teratoma kepala dan leher sering pada anak. Tumor berasal dari daerah thyrocervical,
palate, atau nasofaring. Kematian peripartum sering berhubungan dengan kesulitan dalam
membangun jalan napas setelah melahirkan. Mediastinum adalah lokasi tidak biasa bagi
tumor sel germinal(GCT). Kista, internal fat dan kalsifikasi dalam massa merupakan ciri
khas.
Teratoma retroperitoneal cenderung berkembang baik dan dapat menyerupai janin normal.
Teratoma sacrococcygeal diklasifikasikan menjadi 4 jenis, tergantung tingkat keterlibatan
internal dengan tumor. Tipe I tumor sepenuhnya berada di eksternal pasien, sampai Tipe
IV tumor terbatas pada ruang presacral.
Selama pubertas teratoma testikular mature dan immature dapat metastasis dan cenderung
maligna.
Pada populasi anak, teratoma ovarium merupakan neoplasma ovarium terbanyak. Adanya
lemak, kista dan kalsifikasi dalam lesi merupakan gambaran diagnostik. Asimptomatik,
kecuali torsi atau degenerasi maligna (jarang).

Referensi
1. Peterson CM., Buckley C, Holley S and Menias CO. Teratoma: A multimodality
review. Curr Probl Diagn Radio 2012;41:210-219.
2. Jones J, Gaillard F, et al. Teratoma. Radiopaedia. Diunduh dari
http://radiopaedia.org/articles/teratoma.
3. Ueno T, Tanaka YO, Nagata M, et al. Spectrum of germ cell tumors: From head to
toe. Radiographics 2004;24:387-404.