Anda di halaman 1dari 7

TELAAH JURNAL

Long-term Follow Up Helicobacter pylori Reinfection Rate After Second-line


Treatment: Bismuth-containing Quadruple Therapy versus Moxifloxacin-based Triple
Therapy

OLEH
KELOMPOK 5
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM MALANG
2014
BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Beberapa hasil penelitian epidemiologis menunjukkan bahwa prevalensi infeksi H. pylori
di negara maju cukup rendah, sebaliknya di negara berkembang infeksi H. pylori cukup
tinggi.1Kebanyakan infeksi H.pylori terjadi pada awal masa kanak-kanak, sebuah penelitian
di Desa Linqu County, Provinsi Shandong , Cina, dari 98 anak menemukan bahwa hampir 70
persen dari mereka yang berusia 5-6 tahun terinfeksi H. Pylori.2
Penemuan Helicobacter pylori pada tahun 1982, telah mengubah tata laksana beberapa
penyakit gastroduodenalis. Hingga saat ini, H. pylori dikenal sebagai faktor patogen pada
gastritis kronis, ulkus peptikum, dan karsinoma gaster. Eradikasi H. pylori efektif untuk
gastric mucosal associated lymphoid tissue (MALT) lymphoma derajat ringan, ulkus
peptikum dengan H. pylori yang positif serta gejala dispepsia yang disebabkan olehnya.
Eradikasi ini juga berpotensi mencegah terjadinya karsinoma gaster yang disebabkan oleh
infeksi H. pylori.3
Eradikasi H. pylori yang dianjurkan kini meliputi penggunaan proton pump inhibitor (PPI)
berkombinasi dengan 2 jenis antibiotik. Hal ini yang dikenal dengan triple therapy. Akan
tetapi,penyalahgunaan (misuse) antibiotik yang luas akhir-akhir ini telah menimbulkan
masalah resistensi H. pylori terhadap beberapa jenis antibiotik yang digunakan untuk
eradikasi, sehingga diperlukan modalitas tata laksana yang lebih efektif.3
Oleh karena itu eradikasi H.pylori menjadi persoalan penting,dan beberapa tahun ini
kegagalan dari terapi eradikasi telah di arahkan pada terapi alternatif. pada sebuah hasil study
menunjukkan k bismuth-containing quadruple menjadi pengobatan pertama pada H.pylori.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana tinjauan dari penulisan judul dan penulis jurnal tersebut?
2. Bagaimana tinjauan dari penulisan abstraksi pada jurnal tersebut?
3. Bagaimana tinjauan dari metode penelitian yang digunakan pada jurnal tersebut?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui metode penulisan jurnal yang baik dan benar
1.4 Manfaat
1. Sebagai penambah ilmu penulis maupun pembaca dalam hal penulisan jurnal
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Telaah Penulisan Judul dan Penulis Jurnal


Judul pada jurnal Long-term follow up Helicobacter Pylori reinfection rate after secondline treatment: bismuth-containing quadruple theraphy versus moxifloxacin-based triple
theraphy termasuk judul yang panjang karena terdiri dari 15 kata didalamnya, tetapi judul
tersebut masih baik digunakan dikarenakan untuk judul jari jurnal sendiri maksimal tidak
lebih dari 15 kata. Dan kemungkinan pada jurnal ini menggunakan judul yang panjang bisa
dikarenakan untuk mencakup judul semua dari isi jurnal tersebut.
Judul pada jurnal ini sudah baik karena bisa menggambarkan apa inti dari penelitian yang
ada dijurnal tersebut dimana membandingkan angka reinfeksi dari Helicobacter Pylori setelah
diberikan terapi EBMT (esomeprazole, tripottasium dicitrate bismuth, metronidazole,
tetracycline) dibandingkan MEA (moxifloxacin, omeprazole, amoxicillin) dengan dikemas
menggunakan bismuth-containing quadruple therapy dan moxifloxacin-based triple
theraphy) tetapi judul tersebut sudah bisa mewakilkan dan tidak membuat ambigu
Untuk judul cukup menarik karena pengarang menggunakan bismuth-containing
quadruple therapy versus moxifloxacin-based triple theraphy) dimana adanya pembandingan
dari 2 terapi dan membuat pembaca harus membaca lebih lanjut mengenai bismuthcontaining quadruple dan moxifloxacin-based triple therapy yang dirinci lebih jelas lagi dalam
jurnal tersebut.
Pada judul jurnal ini tidak ada kata singkatan yang digunakan

dan juga tidak ada

penggunaan kata yang tidak baku, contohnya kata versus tetap ditulis lengkap tanpa disingkat
vs
Sedangkan untuk penulisan nama-nama pengarang sudah sesuai dengan aturan penulisan
pengarang pada jurnal, tidak lupa juga pengarang menyertakan corresponding author ( Kim
Nayoung) sehingga nantinya kita bisa menanyakan ataupun memberi kritik dan saran untuk
jurnal tersebut melalui co-auhtor tersebut. Dan untik penulisan institusinya menggunakaan
metode van couver dimana dengan memberikan penomeran dan penjelasan institusinya
dituliskan dicatatan kaki

2.2 Telaah Penulisan Abstraksi Jurnal

Untuk menelaah abstraksi dari jurnal tersebut, kami mengajukan beberapa pertanyaan
yang dapat digunakan sebagai acuan dalam menelaah jurnal tersebut. Berikut beberapa
pertanyaan yang kami gunakan.
1.

Apakah merupakan abstrak satu paragraf atau tersturktur?


Ya. Merupakan abstrak terstruktur, dimana dituliskan dalam poin-poin yang dicantumkan
dalam subjudul background, methods, results, dan conclusions. Apakah sudah mencakup
komponen IMRAD?
Tidak. IMRAD meliputi introduction, methods, results, discussions. Sedangkan dalam
jurnal ini hanya terdiri dari background, methods dan result. namun tidak terdapat
discussions. Background bisa disamakan dengan introduksi karena pada dasarnya sama-

2.

sama membahas penjelasan mengenai alasan dilakukannya suatu penelitian.


Apakah secara keseluruhan abstrak informatif ?
Kurang. Karena tidak mencakup keseluruhan komponen IMRAD. Sementara abstraksi
yang baik mengikutsertakan seluruh komponen termasuk diskusi dalam jurnal. Namun

3.

ditinjau dari metode dan hasil yang disebutkan sudah cukup menggambarkan isi jurnal.
Apakah abstrak lebih dari 200 atau 250 kata?
Tidak. Isi abstraksi 260, tidak termasuk kata kunci. Jika termasuk kata kunci 267 kata

2.3 Telaah Penulisan Metode Penelitian pada Jurnal


Dalam menelaah jurnal ini, kami menggunakan metode identifikasi dan pertanyaan acuan
seperti dalam menelaah abstraksi di atas. Berikut hasil telaah kami terhadap jurnal tersebut.
1. Desain penelitian, pada jurnal hanya disebutkan study population prospective, jadi
kemungkinannya jurnal ini menggunakan desaign penelitian eksperimen dengan
metode kohort prospektif.
Tempat penelitian sudah disebutkan dalam jurnal yakni di Seoul National University
Bundang Hospital, Korea.
Waktu penelitian antara 2003 dan 2010.
2. Populasi target juga sudah disebutkan dalam jurnal yakni 648 pasien dengan infeksi
persisten H.pylori setelah penggunan terapi lini pertama dengan PPI
2. Populasi terjangkau 648 pasien dengan infeksi persisten H.pylori setelah penggunan
terapi lini pertama dengan PPI di Seoul National University Bundang Hospital, Korea.
3. Kriteria inklusi dan eksklusi juga sudah disebutkan dalam jurnal, kriteria inklusi yakni
pasien yang persisten terhadap H.pylori jika tes C-Urea Breath(UBT) atau dengan tes
invasive(Giemsa histology, CLO test,dan culture) menunjukan hasil yang positif
meskipun sudah diterapi dengan obat lini pertama yakni PPI bases triple therapy.
Kriteria eksklusi yakni pasien dengan riwayat penurunan fungsi ginjal dan hati,
sebelumnya pernah operasi gaster, hamil dan menyusui, pengguna steroid atau
NSAID, atau pasien yang sedang menggunakan PPI atau antibiotik selama 4 minggu.

4. Teknik sampling dalam jurnal disebutkan tekniknya dilakukan secara random dengan
membagi menjadi dua kelompok, yang pertama dengan terapi lini kedua menggunakan
EMBT dan terapi lini kedua menggunakan MEA
5. Besar sampel, disebutkan dari 222 pasien dengan terapi EMBT setelah dilakukan CUBT atau Giemsa stain, CLO test, and culture yang bisa dijadikan sampel hanya
sebesar 169 dan pasien dengan terapi MEA dari 426 menjadi 308. Alasannya tidak
disebutkan dalm jurnal.
6. Besar sampel pada penelitian ini yaitu sebanyak 648 pasien yang sebelumnya telah
gagal dalam pemberian pemberantasan H.pylori (mengalami persisten H.pylory) pada
lini pertama (first-line) dimana terapi yang diberikan yaitu 3 terapi berdasarkan PPI
(PPI dengan dosis standar, amoksisilin 1 gram, klaritromisin 500 mg) yang diberikan
2x/ hari selama 7 hari. Dan didakatan persisten bila didapatkan positif pada C-urea
breath test.
Dalam penelitiann ini sangat suilt menghitung besar sample karena sample sendiri
telah ditentukn oleh peneliti, untuk memastikan dengan rumus-rumus yang ada juga
mengalami kesulitan karena tidak disebutkan secara rinci bagaimana cara maupun
rujukan dari penentuan sampel sendiri.
7. Observasi, pengukuran, dan intervensi dari penelitian ini dirinci dengan baik , jadi
penelitian menyebutkan didalam jurnalnya bahwa observasi yang dilakukan dengan
melakukan follow-up pada pasien yaitu melakukan gastroscopy disertai dengan tes
invasive (modifkasi pewarnaan Giemsa dan tes CLO) setelah satu tahun, bisa juga
untuk follow-up dengan melakukan

C-urea breath test . Dan untuk teknik

pengukuran yang dilakukan pada jurnal ini dirinci dengan baik dimana untuk
mengetahui tingkat infeksi ulang (presentase pertahun) dari H.pylori dengan rumus
(jumlah pasien yang terinfeksi / observasi kumulatif setahun semua pasien) x 100,
dengan menggunakan SPSS versi 18,0 untk semua analisa statistic. Varabel kategori
dianalisis menggunakan tes chi-square dan fisher exact test. Dan continous variable
dengan analisa independent sapmles t-test . Resiko terserang ulang H. pylori berdasar
waktu yaitu dengan menggunakan metode Kaplan-Meier. Untuk menemukan faktor
resiko terinfeksi ulang dengan metode tes llog-rank. Dengan hipotesa 0 (tidak terdapat
perbedaan) jika nilai p <0,05
8. Teknik pengukuran menggunakan SPSS versi 18,0 untuk semua analisa statistic dan
tidak disebutkan rujukannya.
9. Pengukuran tidak dilakukan secara tersamar karena pasien mengetahui informasi dan
efek samping dari masing-masing terapi yang dikelompokkan secara random(acak),

sehingga diperoleh

2 kelompok terapi yaitu kelompok 1 berjumlah 222 orang

mendapatkan terapi obat EMBT terdiri dari esomeprazole (20 mg b.i.d), tripotassium
dicitrate bismuthate (300 mg q.i.d), metronidazole (500 mg t.i.d), and tetracycline (500
mg q.i.d). kelompok 2 berjumlah 426 mendapatkan terapi obat MEA terdiri dari
moxifloxacin (400 mg q.d.), esomeprazole (20 mg b.i.d), and amoxicillin (1000 mg
b.i.d).
10. Uji keandalan pengukuran (kappa) tidak dilakukan pada penelitian ini. pengukuran
penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat infeksi ulang (presentase pertahun)
dari H. pylori dan peneliti tidak melakukan uji keandalan kappa pada penelitian ini.
11. Apakah definisi istilah dan variabel penting dikemukakan?
Istilah serta variable penting telah didefinisikan walaupun pada jurnal ini tidak banyak
ditemukan istilah-istilah yang sulit dipahami
12. Apakah ethical clearance diperoleh?
Iya terdapat penjelasan mengenai ethical clearance
13. Apakah persetujuan subjek diperoleh?
Persetujuan subjek disebutkan didalam jurnal
14. Apakah disebutkan rencana analisis, batas kemaknaan, dan power penelitian?
Rencana analisis dari penelitian telah disebutkan, namun batas kemaknaan dan power
penelitian tidak dijelaskan
15. Apakah disebutkan program komputer yang dipakai?
Program komputer yang dipakai disebutkan yaitu menggunakan SPSS

BAB 3
KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan

Secara umum, jurnal ini sudah cukup baik dan dapat digunakan sebagai sebuah referensi
karya tulis ilmiah yang valid dan kredibel