Anda di halaman 1dari 16

0

BIO 30271

PTA

PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI

2011/2012

Dra. SITARESMI, M.Sc.

FMIPA UI

Drs. IMAN SANTOSO, M.Phil.

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI


MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

NAMA

: MUHAMAD KHAERULLOH

NPM

: 0906632953

KELOMPOK

: III (TIGA) B

TANGGAL PRAKTIKUM : 26 OKTOBER 2011


ASISTEN

: AHMAD RIZKI
NUR AMALINA KHODIJAH

UNIVERSITAS INDONESIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
DEPARTEMEN BIOLOGI
DEPOK
2011

1
PENGECATAN STRUKTUR SEL BAKTERI

I.

TUJUAN
1. Mengamati morfologi kapang secara makroskopik dan mikroskopik.
2. Mengamati morfologi khamir secara makroskopik dan mikroskopik.

II.

TEORI
Fungi merupakan organisme multiselular dan eukariotik serta tidak
memiliki klorofil. Dinding sel fungi mengandung zat kitin atau selulosa serta
bereproduksi secara seksual maupun aseksual dengan melakukan pembelahan,
pembentukan budding atau spora yang berstruktur seperti buah dan memiliki
bentuk yang berbeda pada spesies-spesies tertentu. Selain itu fungi juga memiliki
struktur seperti filamen yang membentuk tubuhnya. Struktur tersebut dinamakan
miselium yang merupakan bagian vegetatif dan berwarna putih serta mudah
terlihat pada substrat yang busuk (Pelczar & Chan 1977: 285 -- 287; Gandjar dkk.
1999: 2).
Fungi dapat ditemukan pada berbagai jenis substrat, baik di lingkungan
darat, perairan, maupun udara dengan bentuk hifa maupun sel tunggal. Fungi juga
merupakan organisme heterotrof yang memperoleh makanannya dari sisa-sisa
senyawa organik sebagai saprofit atau sebagai parasit pada organisme inang.
Sebagai saprofit, fungi menghancurkan jasad hewan maupun tumbuhan menjadi
senyawa kimia yang lebih sederhana yang kemudian akan kembali ke tanah.
Senyawa-senyawa kimia tersebut akan diserap oleh generasi tumbuhan
selanjutnya. oleh karena itu, aktivitas fungi tersebut sangat berpengaruh pada
kesuburan tanah. Sebagai parasit, fungi menyebabkan penyakit pada tumbuhan,
hewan maupun manusia (Pelczar & Chan 1977: 285 -- 287). Bila dibandingkan
dengan bakteri, fungi memiliki sistem nutrisional yang sederhana dan sistem
metabolisme serta biosintetis yang tidak terlalu dibedakan (Brock 1991: 847).
Berdasarkan morfologinya, fungi dapat dibagi atas tiga kelompok besar,
yaitu: khamir, kapang dan cendawan. Khamir adalah fungi bersel satu yang
1

2
sangat jarang membentuk filamen, sedangkan kapang membentuk filamen
panjang dan bercabang yang disebut hifa, sehingga koloni fungi tersebut dapat
dilihat secara makroskopik. Kelompok ketiga adalah cendawan yaitu fungi yang
dapat membentuk tubuh buah yang merupakan kumpulan-kumpulan miselium
(McKane & Kandel 1996: 256).
Khamir atau yeast adalah fungi mikroskopik, namun tidak seperti tipe
fungi lain, khamir terdapat sebagai sel bebas yang sederhana. Biasanya sel-sel
tersebut berbentuk bundar atau lonjong, tetapi dapat juga ditemukan dalam bentuk
lain. Sel khamir berbeda dengan sel bakteri karena khamir adalah sel eukariot,
ukurannya lebih besar daripada rata-rata ukuran sel bakteri dan mekanisme
berkembang biaknya berbeda. Jadi, khamir adalah sel yang lebih sederhana
dibandingkan fungi lainnya, tetapi struktur selnya lebih kompleks daripada
struktur bakteri (Volk & Wheeler 1993: 189).
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pengamatan makroskopis khamir
adalah permukaan koloni, warna, tepi, dan tekstur. Secara mikroskopis yang
harus diperhatikan adalah struktur dari khamir itu sendiri. Khamir memiliki
morfologi yang lebih sederhana daripada kapang, namun ukurannya lebih besar
daripada bakteri. (North Harris College (?): 3--4; Gandjar dkk. 1992: 28; Alcamo
1998 : 161--167).
Kapang adalah fungi berbentuk filamen yang bersifat saprofit atau parasit
dan dapat bereproduksi dengan spora aseksual maupun seksual. Jaringan tubuh
(thallus) kapang memanjang, bercabang-cabang dan dapat membentuk filamen
yang seperti benang yang disebut hifa. Setiap hifa memiliki lebar 5--10 m.
Kumpulan dari hifa-hifa tersebut membentuk suatu struktur yang disebut
miselium. Struktur meselium tersebut membuat kapang lenih mudah untuk
dikenali (Volk & Wheeler 1993:185).
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan pengamatan morfologi
kapang secara makroskopis antara lain:
1. Tekstur koloni, yaitu keadaan permukaan koloni, dapat berbentuk beludru
(velvety), kapas (wooly), dan butiran (granular).
2. Warna koloni, berasal dari badan buah
3. Reverse of colony adalah warna permukaan bagian bawah kapang, dapat

3
diamati dengan melihat bagian bawah cawan petri.
4. Zonasi yaitu distribusi dari mikroorganisme pada daerah tertentu, yang
menunjukkan daerah pertumbuhan kapang, yaitu pertumbuhan hifa aerial
dan hifa substrat secara bergantian. Zonasi berupa lingkaran-lingkaran
yang menunjukkan perbedaan warna (terang dan gelap) sebagai akibat
pertumbuhan vegetatif dan generatif secara bergantian
5. Exudate drops adalah materi senyawa kimia berupa cairan berwujud
embun dan merupakan hasil metabolisme sekunder.
6. Radial furrow yaitu garis-garis radial yang berpusat pada titik
pertumbuhan dan merupakan hasil perpanjangan dari stolon.
(Pelczar dkk. 1977: 292)
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan pengamatan morfologi
kapang secara mikroskopis antara lain:
1. Hifa: bersepta atau tidak, transparan atau keruh, berwarna atau tidak.
2. Spora seksual: ditentukan bentuknya, oospora atau bentuk lain.
3. Spora aseksual: ditentukan bentuk,warna dan ukuran sporanya.
4. Badan buah; sporangium ditentukan bentuk, warna, ukuran, dan letaknya;
konidium ditentukan tipe asal, ukuran dan letak sterig mata.
5. Dasar badan buah: dapat berupa kolumela atau vesikula.
6. Tangkai badan buah: sprangiospora atau konidiospora, bercabang atau tidak.
7. Adanya bentuk khusus seperti apofisa, stolon, rhizome, foot cell.
(Jutono dkk. 1973: 24 25).

III.

HASIL PENGAMATAN
A. PENGAMATAN MAKROSKOPIK KAPANG DAN KHAMIR
Tabel hasil pengamatan mikroskopik kapang dan khamir dapa dilihat pada
lampiran.
B. PENGAMATAN MiKROSKOPIK KAPANG DAN KHAMIR
1. Pengamatan mikroskopik kapang

a.

Nama biakan

: Rhizopus oryzae

Umur biakan

: 5 hari

Reagen

: Larutan Lactofenol

Perbesaran

: 10 x 40

Keterangan

b. Nama biakan

: Aspergillus flavus

Umur biakan

: 5 hari

Reagen

: Larutan Lactofenol

Perbesaran

: 10 x 40

Keterangan

c. Nama biakan

: Penicillium chrysogenum

Umur biakan

: 8 hari

Reagen

: Larutan Lactofenol

Perbesaran

: 10 x 40

Keterangan

2. Pengamatan mikroskopik khamir

5
a. Nama biakan

IV.

: Saccharomyces cerevisiae

Umur biakan

: 2 hari

Reagen

: Methylen blue

Perbesaran

: 10 x 100 + imersi

Keterangan

PEMBAHASAN

A. PENGAMATAN MORFOLOGI KAPANG

Rhizopus oryzae
Rhizopus oryzae termasuk golongan Phycomycetes dan sering disebut sebagai
jamur tingkat rendah karena dianggap primitive dalan skala evolusi. Kelas
tersebut dibedakan atas 6 kelas yang terpisah yang meiliki ciri khas yaitu tidak
adanya sekat pada hifa (Pleczar & Chan 1986: 200).
Rhizopus oryzae mempunyai miselium seperti kapas yang tidak bersepta
(coenocytic) dengan sporangiofor muncul pada nodus tempat rhizoid berada.
Kolumela berbentuk hemispherical, tidak bulat, silindris atau berbentuk pir seperti
pada Mucor. Dasar sporangium atau apofisis berbentuk cangkir yang merupakan
perluasan sporangiofor. Spora dapat berbentuk bulat telur, polygonal, atau
melintang. Anggota genus Rhizopus biasanya berwarna abu-abu, sporangia
biasanya besar dan berwarna hitam. Kapang tersebut menghasilkan kumpulan
mirip akar yang melekat dengan kuat disebut rhizoid yang mampu berfungsi
sebagai akar (Pelczar dkk. 1977: 300--301).
Rhizopus oryzae yang digunakan berumur lima hari . Berdasarkan
pengamatan secara makroskopis, tekstur koloni pada Rhizopus oryzae membentuk

6
suatu struktur wooly berwarna putih dengan reverse colony berwarna bening.
Karakteristik seperti zonasi, radial furrow, ataupun growing zone tidak terdapat
pada koloni tersebut, sedangkan exudate drops dapat terlihat. Struktur-struktur
tersebut terlihat pada pengamatan di bawah mikroskop dengan perbesaran 1000
kali. Pengamatan mikroskopis memperlihatkan ciri khas yang dimiliki oleh
Rhizopus oryzae, yang dapat membedakannya dengan kapang lainnya yaitu
adanya rhizoid (struktur mirip akar) yang mampu berfungsi sebagai akar. Selain
itu, juga terlihat adanya struktur yang merupakan perluasan dari sporangiofor dan
terletak di dasar sporangium. Struktur tersebut dinamakan apofisis Spora pada
Rhizopus oryzae tidak langsung berhubungan dengan udara, tetapi tampak berada
dalam suatu kantung spora (sporangium) yang berada di ujung spora. Terdapat
pula sporangium yang tidak berisi spora dinamakan kolumela. Dibagian bawah
kolumela terdapat collar yang merupakan sisa/bekas sporangium yang telah pecah
(Pelczar dkk. 1977: 300).
Aspergillus flavus
Aspergillus berasal dari bahasa Latin yaitu aspergillum, yang menunjuk
pada adanya konidiospora yang berfungsi sebagai alat sporulasi aseksual. Konidia
tumbuh dari hifa substrat dan di ujungnya terjadi pembengkakan membentuk
suatu vesikel. Sejumlah hifa tumbuh dari vesikel. Hifa-hifa tersebut dapat berisi
konidia yang disebut fialid atau bercabang-cabang lagi menghasilkan suatu
struktur yang menunjang fialid yang disebut metula (Carlile & Watkinson 1995:
50).
Aspergillus flavus yang digunakan berumur lima hari. Berdasarkan
pengamatan secara makroskopis, dapat diketahui bahwa Aspergillus tersebut
memiliki tekstur koloni yang membentuk granular dan warna koloninya hijau
lumut. Terdapat zonasi dan exudate drops pada koloni Aspergillus flavus
tersebut, namun tidak terdapat radial furrow. Reverse colony dan growing zone
yang terlihat pada koloni tampak berwarna putih. Teori menyatakan bahwa
Aspergillus flavus memiliki tekstur seperti butiran atau tepung dan berwarna
kuning hingga kehijauan. Hasil pengamatan secara mikroskopis pada Aspergillus
flavus dengan perbesaran 10 x 40 menunjukkan bahwa kapang tersebut memiliki

7
striegmata uniseriate. Hal tersebut disebabkan karena fialid pada Aspergillus
flavus langsung duduk pada fesikel (tidak ditunjang oleh metula). Dibagian ujung
fialid terdapat konidia yang tidak terletak didalam konidium (Dwidjoseputro
1978: 151).
Penicillium chrysogenum
Genus Penicillium berasal dari bahasa Latin yaitu Penicillus yang berarti
kuas seniman, dan menunjuk pada percabangan konidiofor yang merupakan
tempat dihasilkannya rangkaian konidia. Pada beberapa spesies, konidia
ditunjang oleh fialid yang tumbuh pada ujung konidiofor, sedangkan pada spesies
lain, terdapat metula yang menunjang fialid. Percabangan konidiofor dapat
berupa simetri atau tidak beraturan (Carlile & Watkinson 1995: 50).
Jenis penisilium chrysogenumdapat tumbuh dengan baik pada medium
czapeks dox, diameter mencapai 4 -5 cm dalam waktu 10 hari , memilikki
permukaan beludru walaupun kadang seperti kapas dan berwarna hijau
kekuningan atau hijau agak biru pucat, sedangkan bila berumur tua warna akan
semakin gelap. Koloni menghasilkan eksudat berwarna kuning tetapi kadang
berwarna hialin atau bahkan tidak sama sekali, dan mengeluarkan aroma seperti
buah segar. Fialid berbentuk botol, berdinding tebal. Konidia berbentuk semi
bulat atau elips, kemudian menjadi bulat dan berwarna hialin atau sedikit
kehijauan, berdinding halus serta terbentuk dalam kolom-kolom yang tidak padat
(Gandjar dkk. 1999: 90).
Penicillium yang digunakan berumur delapan hari. Berdasarkan
pengamatan secara makroskopis, Penicillium chrysogenum memiliki tekstur
koloni yang velvety atau menyerupai beludru dan berwarna hijau kebiruan.
Reverse colony berwarna kuning serta terdapat growing zone yang berwarna putih,
zonasi, dan juga radial furrow. Exudate drops yang terdapat pada koloni
berwarna kuning cerah dan tersebar pada permukaan koloni. Menurut literatur,
genus Penicilium secara makroskopik memiliki permukaan yang rata, berfilamen,
seperti kapas, dengan warna sedikit keabu-abuan hingga kecoklat-coklatan dengan
tepi terdapat warna putih dan warna agak kekuning-kuningan (Mold Inspector
Laboratory International (1) 2006: 3--6).

8
Pengamatan mikroskopis pada biakan Penicillium chrysogenum dengan
perbesaran 10 x 40 menunjukkan adanya percabangan konidiofor/ stipe yang
merupakan tempat dihasilkannya rangkaian konidia. Percabangan itu disebut pula
branch. Struktur lain yang diamati adalah metula, fialid dan konidia. Konidia
pada Penicillium chrysogenum yang diamati, terlihat ditunjang oleh fialid yang
juga ditunjang oleh metula. Struktur tersebut berbeda pada beberapa spesies lain
konidianya ditunjang oleh fialid yang tumbuh pada ujung konidiofor namun tidak
ditunjang oleh metula. Percabangan konidiofor dapat berupa simetri atau tidak
beraturan. Tipe percabangan Penicillium adalah biverticillata karena memiliki
dua percabangan (Carlile & Watkinson 1995: 50).
Miselium Penicillium termasuk miselium vegetatif yang bersekat (septa)
yang masuk ke dalam substrat dan kemudian menghasilkan aerial hifa dimana
konidiofor akan tumbuh. Konidiofor dapat bercabang dan memiliki kepala
berbentuk sikat yang menghasilkan spora. Kumpulan stigmata biasanya ada di
satu tempat, dan dari masing-masing kumpulan dibentuk satu rantai konidia.
Warna dari koloni dewasa berguna untuk mengidentifikasi (Pelczar & Chan 1977 :
303).
Penggunaakan biakan dengan umur yang berbeda bertujuan agar dapat
mengamati hasil pertumbuhan biakan yang optimal. Hal tersebut dilakukan
karena tiap biakan memilki waktu yang berbeda dalam proses pertumbuhan dan
metabolisme tubuhnya. Jenis Penicilium chrysogenum dapat tumbuh dengan baik
pada medium czapeks dox, diameter mencapai 4 -5 cm dalam waktu 10 hari.
Konidia berbentuk semi bulat atau elips, kemudian menjadi bulat dan berwarna
hialin atau sedikit kehijauan, berdinding halus serta terbentuk dalam kolom-kolom
yang tidak padat (Gandjar dkk. 1999: 90).
B. PENGAMATAN MORFOLOGI KHAMIR
Pengamatan secara makroskopis pada Saccaromyces cerevisae yang
berumur dua hari menunjukkan bahwa permukaan koloninya tampak seperti lilin
mengkilat dan berwarna putih. Tepi koloninya terlihat rata sedangkan koloninya
(profil) tampak mengunung (Salle 1961: 129--130).

9
Preparat yang digunakan untuk mengamati morfologi Saccharomyces
cerevisiae secara mikroskopis terlebih dahulu diwarnai oleh larutan Methylen
blue. Hal tersebut bertujuan untuk memperjelas bagian bagian yang akan
diamati. Pengamatan melalui mikroskop tersebut juda dibantu oleh larutan imersi
yang berfungsi memperkecil indeks bias cahaya, memperjelas fokus,
memperbanyak cahaya yang masuk melalui diafragma, dan mengurangi gesekan
antara lensa dan kaca objek.
Pengamatan mikroskopis pada Saccharomyces cerevisiae menunjukkan
bahwa khamir tersebut memiliki pseudomiselium yang berbentuk bulat lonjong
dengan sel vegetatif yang terlihat jelas. Hasil pengamatan juga memperlihatkan
sel khamir yang sedang mengalami pertunasan (budding) sehingga terlihat dua sel
yaitu sel anak dan sel induk.
Ciri lain pada Saccharomyces cerevisiae menurut literatur adalah adanya
struktur pseudomiselium sempurna dan pseudomiselium tidak sempurna. Jika
khamir bereproduksi aseksual secara pertunasan, pada suatu saat terdapat
kecenderungan tunas-tunas tersebut akan menempel dengan tunas yang lain pada
sel induk dan akhirnya akan membentuk suatu rantai sel yang panjang yang
disebut pseudomiselium (Case & Johnson 1984: 88).
V.

KESIMPULAN

1. Ciri-ciri makroskopis yang diamati pada kapang adalah warna dan bentuk
permukaan koloni, reverse of colony, zonasi, radial furrow, dan exudates
drops.
2. a. Ciri-ciri makroskopis yang diamati pada khamir meliputi
warna koloni, permukaan koloni, profil, dan tepi koloni.
b. Koloni Saccaromyceses cerevisiae tampak menggunung dengan
permukaan lilin mengkilat, berwarna putih, dan tepi yang rata.

VI.

DAFTAR ACUAN

10
Alcamo, I.E. 1998. Microbiology. McGraw-Hill, New York : vi + 409 hlm.
Brock, T.D., M.T. Madigan, J.M. Martinko & J. Parker. 1991. Biology for
microorganism. Ed. Ke-7. Prentice Hall, New Jersey: xvii + 909 hlm.
Carlile, M. J. & S. C. Watkinson. 1995. The fungi. Academic Press, London: xiii
+ 482 hlm.
Dwidjoseputro, D. 1978. Pengantar mikologi. Ed. Ke-2. Penerbit Alumni,
Bandung: xvi + 321 hlm.
Gandjar, I., I.R. Koentjoro., W. Mangunwardoyo. & L. Soebagya. 1992.
Pedoman praktikum mikrobiologi dasar. Jurusan Biologi FMIPA-UI, Depok: vii +
87 hlm.
Gandjar, I., R.A. Samson, Van den Tweel-Vermeulen, K. A. Oetari & I. Santoso.
1999. Pengenalan kapang tropik umum. Yayasan Obor Indonesia, Depok:
vix + 136 hlm.
Jutono, J., S. Soedarsono, S. Hartadi, S. Kabirun, Suhadi, & Susanto. 1973.
Pedoman praktikum mikrobiologi umum. Departemen Mikrobiologi
Fakulas Pertanian UGM, Yogyakarta: xii + 232 hlm.
McKane, L. & J. Kandel. 1996. Microbiology: Essentials and applications. Ed.
ke-2. McGraw-Hill, Inc., New York: xxvii + 843 hlm.
Pelczar, M. J., R. D. Reid & E. C. S. Chan. 1977. Microbiology. Ed. Ke-4.
McGraw-Hill Book Company, Inc., New York: vii + 952 hlm.
Pelczar Jr, M. J. & E. C. S. Chan. 1986. dasar dasar mikrobiologi. Terj. Oleh
Hadioetomo, R.S., T. Imas, S.S. Tjitrosoma, & S. L. Angka. UI Press,
Jakarta: ix + 918 hlm.
Salle, A. J. 1961. Fundamental principles of bacteriology. McGraw-Hill Book
Company, Inc., New York: viii + 812 hlm.
Mold Inspector Laboratory International (2). 2006. Curvularia. 8 Maret: 6 hlm.
http://www.mold.ph/index/curvularia.htm. 7 November 2007, Pk. 12.35.
North Harris College. (?). The eukaryotes. (?): 7 hlm.
http://science.nhmccd.edu/biol/wellmeyer/lecture/fungi.doc. 7 November
2011, Pk. 12.40.
Volk, W. A. & M. F. Wheeler. 1993. Mikrobiologi. Ed.Ke-5. Terj.dari
Microbiology, oleh Markham. Penerbit Erlangga, Jakarta: xii + 396 hlm.

11

LAMPIRAN
Tabel 1. Karakteristik makroskopik kapang dengan medium PDA
Karakteristrik

Penicillium
chrysogenu

Rhizopus
Oryzae

Aspergillu
s flavus

12
m
Tekstur koloni
Warna koloni

Velvety
Hijau kebiruan

Wooly
Putih

Granuler
Hijau lumut

Zonasi
Radial furrow

+
+

+
-

Eksudate drops
Reverse of
colony
Growing zone
Umur biakan

+
Kuning

+
Putih hialin

+
8 Hari

5 Hari

+
Putih
(hialin)
+
5 Hari

Tabel 2. Karakteristik makroskopik pada khamir dengan medium PDA


Karakteristrik
Permukaan koloni
Warna
Tepi koloni
Profil

Saccharomyces
cereviciae
Kusam
Putih
Rata
Singgle coloni

Tekstur

Butyrous

Umur biakan

2 Hari

13

Gambar 1. a. Struktur Penicillium sp.; b. Penicillium sp.


[Sumber: Mold Inspector Laboratory International 2004: 2,4.]

Gambar 2. Bentuk makrokopis Penicillium chrysogenum


[Sumber: Dokumentasi pribadi]

14

Gambar 3. Bentuk mikrokopis Saccharomyces cerevisiae


[Sumber: Dokumentasi pribadi]

Gambar 4. Bentuk mikrokopis Rhizopus oryzae


[Sumber: Dokumentasi pribadi]

15

Gambar 5. Bentuk makrokopis Rhizopus oryzae


[Sumber : Dokumentasi pribadi]