Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebagaimana terjadi pada industri lainnya PLTN juga menghasilkan limbah. Penting
untuk diketahui bahwa PLTN merupakan industri pertama yang menerapkan sistem
pengelolaan limbah sejak perencanaan pembangunannya. Limbah yang paling dominan dari
pengoperasian PLTN adalah elemen bakar bekas. Elemen bakar bekas mengandung unsurunsur radioaktif dari hasil pembelahan inti atom uranium yang masih bersifat radioaktif. Sifat
keradioaktifan unsur hasil pembelahan inilah yang harus dikelola dengan sebaik-baiknya agar
tidak membahayakan manusia dan lingkungan di sekitarnya.
Penggantian elemen bakar dilakukan setelah kira-kira 4,5 tahun beradadi dalam
reaktor. Elemen bakar bekas masih mengandung unsur radioaktif dan memancarkan radiasi
dengan aktivitas tinggi. Hal ini merupakan alasan penting mengapa elemen bakar bekas harus
diolah dan disimpan di tempat yang aman.
Limbah radioaktif ditimbulkan selama beroperasinya pembangkit listrik tenaga nuklir
dan juga akibat penggunaan bahan radioaktif di industri, penelitian dan rumah sakit. Sudah
lama diketahui bahwa faktor keselamatan dalam pengelolaan limbah radioaktif yang
bertujuan untuk melindungi kesehatan manusia dan lingkungan berperan sangat penting, dan
pengalaman di bidang pengelolaan limbah radioaktif tersebut sudah cukup banyak didapat.
Sejak awal abad kedua puluh, hasil dari penelitian dan pengembangan bidang ilmu
pengetahuan dan teknologi nuklir mendorong aplikasinya di bidang penelitian, pengobatan,
industri dan pembangkitan listrik melalui reaksi fisi. Secara umum, pemanfaatan teknologi
nuklir menghasilkan limbah radioaktif yang memerlukan pengelolaan secara khusus untuk

memastikan perlindungan kesehatan manusia dan lingkungan, serta tidak membebani


generasi yang akan datang. Limbah radioaktif dapat juga diakibatkan oleh proses pengolahan
bahan baku yang secara alami berisi radionuklida. Untuk mencapai sasaran pengelolaan
limbah radioaktif yang aman memerlukan suatu pendekatan sistematis dan efektif di dalam
suatu kerangka undangundang/peraturan di masing-masing negara di mana peran dan
tanggung-jawab dari semua pihak-pihak yang terkait didefinisikan secara jelas.
Secara umum masalah yang dihadapi oleh negara-negara berkembang. termasuk
Indonesia, dalam penanganan limbah radioaktif adalah:
1. Meningkatnya pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (iptek) nuklir dalam
bidang industri, kesehatan, serta penelitian dan pengembangan (Litbang) iptek nuklir
itu sendiri, hal ini akan meningkatkan jenis maupun jumlah limbah radioaktif aktivitas
rendah dan sedang.
2. Meningkatnya pengoperasian Reaktor Riset, akan meningkatkan limbah aktivitas
rendah dan sedang. Di sisi lain kemungkinan adanya dekomisioning terhadap reaktor
riset yang telah kadaluwarsa menyebabkan perlunya pertimbangan penangan limbah
hasil dekomisioning yang umumnya bervolume besar.
3. Dekomisioning fasilitas industri yang bahan mentahnya (raw material) mengandung
unsur-unsur radioaktif alam (pabrik kaos lampu dan pabrik pupuk), akan
menghasilkan limbah aktivitas rendah dan sedang dengan volume yang cuku banyak
4. Meningkatnya tuntutan keselamatan (ratifikasi konvensi, adopsi rekomendasi
terbaru), sehingga akan meningkatkan jenis limbah yang harus ditangani seperti
limbah TENORM (technically enhanced naturally occurred radioavtive materials) dari
kegiatan industri non nuklir (pertambangan, produksi pupuk, produksi minyak dan
gas, dan produksi konsumsi).

5. Penyimpanan limbah radioaktif hasil kegiatan di atas (kecuali limbah TENORM)


memerlukan fasilitas penyimpanan sementara dan kemungkinan memerlukan
penyimpanan akhir (disposal).
Bentuk limbah radioaktif bervariasi baik kondisi fisik maupun karakteristik kimianya,
misalnya konsentrasi dan waktu paruh radionuklida. Bentuk fisik limbah radioaktif meliputi:
- gas, misalnya ventilasi exhaust dari fasilitas yang menangani bahan radioaktif;
- cairan, misalnya cairan sintilasi dari fasilitas riset sampai dengan limbah cair aktivitas tinggi
dari proses olah ulang bahan bakar bekas; atau
- padat, mulai dari alat gelas dan sampah yang tercemar dari rumah sakit, fasilitas riset
pengobatan dan laboratorium radiofarmasi sampai dengan limbah proses olah ulang yang
divitrifikasi atau bahan-bakar bekas dari reaktor daya (bila dianggap sebagai limbah aktivitas
tinggi).
Limbah di atas cakupannya luas, dimulai yang keradioaktifannya rendah, seperti yang
dihasilkan dari prosedur diagnostik dalam dunia pengobatan, sampai yang sangat radioaktif,
seperti limbah dari proses olah ulang yang divitrifikasi atau sumber radiasi bekas dari
penggunaan di radiografi, radioterapi atau aplikasi lainnya. Limbah radioaktif kemungkinan
mempunyai volume yang sangat kecil, misalnya sumber radiasi tertutup bekas, atau volume
sangat besar dan tersebar, seperti tailing hasil penambangan dan penggilingan bijih uranium,
serta limbah dari restorasi lingkungan. Prinsip dasar pengelolaan limbah radioaktif telah
dikembangkan meskipun terdapat banyak perbedaan yang besar baik asal maupun
karakteristik limbah radioaktif, misalnya, konsentrasi, volume, waktu paruh, dan
radiotoksisitasnya. Meskipun prinsip tersebut secara umum bisa diterapkan namun

implementasinya bervariasi tergantung pada jenis limbah radioaktif dan fasilitas yang
digunakan.
Limbah Radioaktif, sebagai sumber radiasi pengion, telah lama dikenal memiliki
potensi resiko bahaya bagi kesehatan manusia. Regulasi nasional serta standar dan petunjuk
(guideline) dari rekomendasi internasional yang berhubungan dengan proteksi radiasi dan
pengelolaan limbah radioaktif telah dikembangkan, hal ini berdasar pada kumpulan
pengetahuan yang bersifat sain. Sudah merupakan sifat utama dari pengelolaan limbah
radioaktif bahwasanya perhatian khusus diberikan untuk perlindungan generasi yang akan
datang. Pertimbangan terhadap generasi yang akan datang termasuk potensial paparan radiasi,
konsekuensi ekonomi, dan kemungkinan kebutuhan akan pengawasan atau pemeliharaan.
Limbah radioaktif kemungkinan mengandung pula senyawa yang berbahaya secara
kimia maupun biologi, dan adalah sangat penting diperhatikan resiko bahaya yang
berhubungan dengan senyawa-senyawa tersebut di dalam pengelolaan limbah radioaktif.
Pendekatan keselamatan fundamental untuk pengelolaan limbah radioaktif berdasar
pada pengalaman internasional. Di dalam publikasi Standar Keselamatan Limbah Radioaktif
(Radioactive Waste Safety Standards / RADWASS), IAEA menyatukan pengalaman ini ke
dalam suatu paket yang saling berkaitan diantara prinsip, standar, petunjuk (guide) dan
praktek untuk mencapai pengelolaan limbah radioaktif yang memperhatikan faktor
keselamatan.

1.2 Tujuan

Tujuan dari penulisan ini adalah agar mengetahui pengelolahan limbah radio aktif dan
dampak yang dihasilkan dari limbah tersebut, serta bagaimana peraturan internasinal dalam
penanganan limbah radioaktif.

BAB II

ISI
2.4 Limbah Radioaktif
Limbah radioaktif berdasarkan tingkat aktivitasnya diklasifikakan menjadi 3, yaitu
limbah tingkat rendah, limbah tingkat sedang dan limbah tingkat tinggi, sedangkan
berdasarkan bentuk fisiknya, limbah radioaktif dibedakan atas fasa gas, cair dan padat.
Masing-masing fasa limbah tersebut mempunyai perlakuan yang berbeda pada setiap proses
pengolahannya. Pengolahan limbah radioaktif fasa gas, cair dan padat berturut-turut adalah
melalui proses filtrasi (penyaringan), evaporasi (penguapan) dan pemampatan. Tahap
selanjutnya adalah sementasi untuk imobilisasi material limbah dalam padatan untuk
memudahkan dalam transportasi, penyimpanan dan monitoring.
Tingkat radioaktivitas limbah radioaktif akan menurun sesuai dengan umur paronya.
Selama satu tahun berada di dalam tempat penyimpanan maka tingkat keradioaktifannya akan
menjadi 100 kali lebih kecil dibandingkan pada saat keluar dari reaktor. Setelah 5 tahun akan
menjadi 1000 kali lebih kecil, dan dalam waktu 500 tahun tingkat radiasinya sudah dianggap
mendekati tingkat radiasi alam.
2.5 Pengelolahan Limbah
Secara garis besar pengelolaan limbah radioaktif mengikuti tiga prinsip utama yaitu
memperkecil volume, mengubah menjadi bentuk stabil secara fisik maupun kimia.
Selanjutnya limbah radioaktif dipindahkan ke tempat yang terisolasi dari lingkungan hidup
dan dimonitor secara terus menerus.