Anda di halaman 1dari 12

Nama Peserta : dr.

Jiemi Ardian
Nama Wahana : RSUD dr. Rehatta Kelet, Jepara
Topik
: Benign Prostatic Hyperplasia
Tanggal (kasus) : 2 Februari 2014
Nama Pasien : Tn.S
No RM : 27312
Tanggal Presentasi :
Nama Pendamping :
dr. Arief Purwanto, dr. Kurmin Hadi Darsono
Tempat Presentasi : RSUD dr Rehatta
Obyek Presentasi
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan pustaka
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Istimewa
Neonatus
Bayi
Anak
Remaja
Dewasa
Lansia
Bumil
Deskripsi :
Laki laki, 59 tahun, datang dengan kesulitan BAK sudah 1 hari yang lalu. BAK sering
menetes, perlu mengedan, frekuensi meningkat, nyeri disangkal, demam disangkal, BAK
berpasir disangkal
Tujuan :
Pengobatan BPH
Bahan bahasan :
Tinjauan pustaka
Riset
Kasus
Audit
Cara membahas :
Diskusi
Presentasi dan diskusi
Email
Pos
Data pasien :
Nama : Tn.S
Nomor registrasi : 27312
Nama klinik : RSUD Dr. Rehatta
Telepon :
Terdaftar sejak :
Data utama untuk bahan diskusi :
1. Diagnosis / Gambaran klinis :
Laki laki, 59 tahun, datang dengan kesulitan BAK sudah 1 hari yang lalu. BAK sering
menetes, perlu mengedan, frekuensi meningkat, nyeri disangkal, demam disangkal,
BAK berpasir disangkal.
2. Riwayat pengobatan :
Asam mefenamat 3x500mg
Ciprofloxacin 2x500mg
3. Riwayat kesehatan / Penyakit :
Riwayat Hipertensi disangkal, Diabetes disangkal, Riwayat BSK sebelumnya disangkal
4. Riwayat Keluarga :

Tidak ada keluarga yang menderita BPH


5. Riwayat pekerjaan dan pendidikan :
Pasien tidak bekerja
6. Kondisi Lingkungan sosial dan fisik (rumah, lingkungan, pekerjaan):
Kesehatan lingkungan baik
7. Pemeriksaan fisik yang bermakna :
TD: 150/90; Nadi: 97x/menit; RR: 18x/menit; T: 35,6oC
Pembesaran prostat tidak diperiksa
8. Pemeriksaan laboratorium :
Hasil USG bermakna
Pembesaran prostat 6x7x5 cm
9. Tambahan:
Daftar pustaka :
1. Basuki, Purnomo. (2000). Dasar-Dasar Urologi, Perpustakaan Nasional RI, Katalog Dalam
Terbitan (KTD): Jakarta.
2. Hardjowidjoto, S. (2000). Benigna Prostat Hiperplasi. Airlangga University Press: Surabaya
3. Long, Barbara C. (2006). Perawatan Medikal Bedah. Volume 1. (terjemahan). Yayasan Ikatan
Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran: Bandung.
4. Schwartz, dkk, (2000). Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah. Editor : G. Tom Shires dkk, EGC:
Jakarta.
5. Sjamsuhidayat, (2005). Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2.Jakarta: EGC
6. Soeparman. (2000). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 2. FKUI: Jakarta

Hasil pembelajaran :
1. Diagnosis BPH
2. Penatalaksanaan BPH
3. Motivasi terapi BPH
4. Komplikasi BPH dan penatalaksanaannya
Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio :
1. Subyektif :
Laki laki, 59 tahun, datang dengan kesulitan BAK sudah 1 hari yang lalu. BAK sering
menetes, perlu mengedan, frekuensi meningkat, nyeri disangkal, demam disangkal, BAK
berpasir disangkal. Gangguan BAK sudah lama dirasakan dan semakin lama semakin memberat,
1 hari terakhir BAK tidak keluar sama sekali.

2. Obyektif :
Pemeriksaan fisik didapatkan TD: 150/90; Nadi: 97x/menit; RR: 18x/menit; T: 35,6oC
Pasien tampak kesakitan, GCS E3M6V5. VU penuh. Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan laboratorium maka diagnosis yang sangat mendukung adalah BPH
Pada kasus ini diagnosis ditegakkan berdasarkan
a.

Gejala klinis

b.

USG

3. Assessment :
Definisi BPH
BPH/ Hiperplasia prostat adalah pembesanan prostat yang jinak bervariasi berupa
hiperplasia kelenjar atau hiperplasia fibromuskular. Namun orang sering menyebutnya
dengan hipertropi prostat namun secara histologi yang dominan adalah hyperplasia.
Hiperplasi prostat adalah pembesaran progresif dari kelenjar prostat (secara umum pada
pria > 50 tahun) yang menyebabkan berbagai derajat obstruksi uretra . BPH adalah suatu
keadaan

dimana

prostat

mengalami

pembesaran

memanjang

keatas

kedalam

kandungkemih dan menyumbat aliran urin dengan cara menutupi orifisium uretra. (Long,
2006; Schwartz, 2000; Hardjowidjoto, 2000).
BPH (benign prostatic hyperplasia) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh
faktor penuaan, dimana prostat mengalami pembesaran memanjang keatas kedalam
kandung kemih dan menyumbat aliran urin dengan cara menutupi orifisium uretra.
Prostatektomi adalah merupakan tindakan pembedahan bagian prostat (sebagian /
seluruh) yang memotong uretra, bertujuan untuk memeperbaiki aliran urin dan
menghilangkan retensi urinaria akut.
Etiologi
Penyebab hiperplasia prostat belum diketahui dengan pasti, ada beberapa
pendapat dan fakta yang menunjukan, ini berasal dan proses yang rumit dari androgen
dan estrogen. Dehidrotestosteron yang berasal dan testosteron dengan bantuan enzim 5reduktase diperkirakan sebagai mediator utama pertumbuhan prostat. Dalam sitoplasma
sel prostat ditemukan reseptor untuk dehidrotestosteron (DHT). Reseptor ini jumlahnya
akan meningkat dengan bantuan estrogen. DHT yang dibentuk kemudian akan berikatan

dengan reseptor membentuk DHT-Reseptor komplek. Kemudian masuk ke inti sel dan
mempengaruhi RNA untuk menyebabkan sintesis protein sehingga terjadi protiferasi sel.
Adanya anggapan bahwa sebagai dasar adanya gangguan keseimbangan hormon
androgen dan estrogen, dengan bertambahnya umur diketahui bahwa jumlah androgen
berkurang sehingga terjadi peninggian estrogen secara retatif. Diketahui estrogen
mempengaruhi prostat bagian dalam (bagian tengah, lobus lateralis dan lobus medius)
hingga

pada

hiperestrinisme,

bagian

inilah

yang

mengalami

hiperplasia

(Hardjowidjoto,2000).
Menurut Basuki (2000), hingga sekarang belum diketahui secara pasti penyebab
prostat hiperplasi, tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hiperplasi prostat erat
kaitannya dengan peningkatan kadar dehidrotestosteron (DHT) dan proses penuaan.
Beberapa hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnya hiperplasi prostat adalah :
1. Adanya perubahan keseimbangan antara hormon testosteron dan estrogen pada usia
lanjut
2. Peranan dari growth factor (faktor pertumbuhan) sebagai pemicu pertumbuhan
stroma kelenjar prostat
3. Meningkatnya lama hidup sel-sel prostat karena berkurangnya sel yang mati
4. Teori sel stem, menerangkan bahwa terjadi proliferasi abnormal sel stem sehingga
menyebabkan produksi selstroma dan sel epitel kelenjar prostat menjadi berlebihan
Pada umumnya dikemukakan beberapa teori yaitu :
Teori Sel Stem, sel baru biasanya tumbuh dari sel stem. Oleh karena suatu sebab
seperti faktor usia, gangguan keseimbangan hormon atau faktor pencetus lain. Maka sel
stem dapat berproliferasi dengancepat, sehingga terjadi hiperplasi kelenjar periuretral.
Teori kedua adalah teori Reawekering menyebutkan bahwa jaringan kembali
seperti perkembangan pada masa tingkat embriologi sehingga jaringan periuretral dapat
tumbuh lebih cepat dari jaringan sekitarnya.
Teori lain adalah teori keseimbangan hormonal yang menyebutkan bahwa dengan
bertanbahnya umur menyebabkan terjadinya produksi testoteron dan terjadinya konversi
testoteron menjadi estrogen. (Sjamsuhidayat, 2005).
Patofisiologi
Kelenjar prostat adalah salah satu organ genetalia pria yang terletak di sebelah
inferior buli-buli, dan membungkus uretra posterior. Bentuknya sebesar buah kenari
dengan berat normal pada orang dewasa 20gram. Menurut Mc Neal (1976) yang
dikutip dan bukunya Basuki (2000), membagi kelenjar prostat dalam beberapa zona,

antara lain zona perifer, zona sentral, zona transisional, zona fibromuskuler anterior
dan periuretra (Basuki, 2000). Sjamsuhidajat (2005), menyebutkan bahwa pada usia
lanjut akan terjadi perubahan keseimbangan testosteron estrogen karena produksi
testosteron menurun dan terjadi konversi tertosteron menjadi estrogen pada jaringan
adipose di perifer. Basuki (2000) menjelaskan bahwa pertumbuhan kelenjar ini sangat
tergantung pada hormon tertosteron, yang di dalam sel-sel kelenjar prostat hormon ini
akan dirubahmenjadi dehidrotestosteron (DHT) dengan bantuan enzim alfa reduktase.
Dehidrotestosteron inilah yang secaralangsung memacu m-RNA di dalam sel-sel kelenjar
prostat untuk mensintesis protein sehingga terjadi pertumbuhan kelenjar prostat.
Oleh karena pembesaran prostat terjadi perlahan, maka efek terjadinya perubahan
pada traktus urinarius juga terjadi perlahan-lahan. Perubahan patofisiologi yang
disebabkan pembesaran prostat sebenarnyadisebabkan oleh kombinasi resistensi uretra
daerah prostat, tonus trigonum dan leher vesika dan kekuatankontraksi detrusor. Secara
garis besar, detrusor dipersarafi oleh sistem parasimpatis, sedang trigonum, leher vesika
dan prostat oleh sistem simpatis. Pada tahap awal setelah terjadinya pembesaran prostat
akan terjadiresistensi yang bertambah pada leher vesika dan daerah prostat. Kemudian
detrusor akan mencoba mengatasi keadaan ini dengan jalan kontraksi lebih kuat dan
detrusor menjadi lebih tebal. Penonjolan serat detrusor kedalam kandung kemih dengan
sistoskopi akan terlihat seperti balok yang disebut trahekulasi (buli-buli balok). Mukosa
dapat menerobos keluar diantara serat aetrisor. Tonjolan mukosa yang kecil dinamakan
sakula sedangkan yang besar disebut divertikel. Fase penebalan detrusor ini disebut Fase
kompensasi otot dinding kandung kemih. Apabila keadaan berlanjut maka detrusor
menjadi lelah dan akhirnya mengalami dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk
berkontraksi sehingga terjadi retensi urin. Pada hiperplasi prostat digolongkan dua tanda
gejala yaitu obstruksi dan iritasi. Gejala obstruksi disebabkan detrusor gagal berkontraksi
dengan cukup lama dan kuat sehingga kontraksi terputus-putus (mengganggu permulaan
miksi), miksi terputus, menetes pada akhir miksi, pancaran lemah, rasa belum puas
setelah miksi. Gejala iritasi terjadi karena pengosongan yang tidak sempurna atau
pembesaran

prostat

akan

merangsang

kandung

kemih,

sehingga

sering

berkontraksiwalaupun belum penuh atau dikatakan sebagai hipersenitivitas otot detrusor


(frekuensi miksi meningkat, nokturia, miksi sulit ditahan/urgency, disuria).

Karena produksi urin terus terjadi, maka satu saat vesiko urinaria tidak mampu
lagi menampung urin,sehingga tekanan intravesikel lebih tinggi dari tekanan sfingter dan
obstruksi sehingga terjadi inkontinensia paradox (overflow incontinence). Retensi kronik
menyebabkan refluks vesiko ureter dan dilatasi. ureter danginjal, maka ginjal akan rusak
dan terjadi gagal ginjal. Kerusakan traktus urinarius bagian atas akibat dari obstruksi
kronik mengakibatkan penderita harus mengejan pada miksi yang menyebabkan
peningkatan tekanan intraabdomen yang akan menimbulkan hernia dan hemoroid. Stasis
urin dalam vesiko urinaria akan membentuk batu endapan yang menambal. Keluhan
iritasi dan hematuria. Selain itu, stasis urin dalam vesika urinariamenjadikan media
pertumbuhan mikroorganisme, yang dapat menyebabkan sistitis dan bila terjadi
refluksmenyebabkan pyelonefritis (Sjamsuhidajat, 2005).
Manifestasi Klinis
Gambaran klinis pada hiperplasi prostat digolongkan dua tanda gejala yaitu
obstruksi dan iritasi. Gejala obstruksi disebabkan detrusor gagal berkontraksi dengan
cukup lama dan kuat sehingga mengakibatkan: pancaran miksi melemah, rasa tidak puas
sehabis miksi, kalau mau miksi harus menunggu lama (hesitancy), harus mengejan
(straining), kencing terputus-putus (intermittency), dan waktu miksi memanjang yang
akhirnya menjadi retensio urin dan inkontinen karena overflow.
Gejala iritasi, terjadi karena pengosongan yang tidak sempurna atau pembesaran
prostat akan merangsang kandung kemih, sehingga sering berkontraksi walaupun belum
penuh atau dikatakan sebagai hipersenitivitasotot detrusor dengan tanda dan gejala antara
lain: sering miksi (frekwensi), terbangun untuk miksi pada malam hari (nokturia),
perasaan ingin miksi yang mendesak (urgensi), dan nyeri pada saat miksi (disuria)
(Mansjoer,2000)
Derajat berat BPH menurut Sjamsuhidajat (2005) dibedakan menjadi 4 stadium:
1. Stadium I
Ada obstruktif tapi kandung kemih masih mampu mengeluarkan urine sampai habis.
2. Stadium II
Ada retensi urine tetapi kandung kemih mampu mengeluarkan urine walaupun tidak
sampai habis, masih tersisa kira-kira 60-150 cc. Ada rasa ridak enak BAK atau disuria
dan menjadi nocturia.
3. Stadium III
Setiap BAK urine tersisa kira-kira 150 cc.
4. Stadium IV

Retensi urine total, buli-buli penuh pasien tampak kesakitan, urine menetes secara
periodik (over flowin kontinen).
Menurut Smeltzer (2002) menyebutkan bahwa :
Manifestasi dari BPH adalah peningkatan frekuensi penuh, nokturia, dorongan
ingin berkemih, anyang-anyangan, abdomen tegang, volume urine yangturun dan harus
mengejan saat berkemih, aliran urine tak lancar, dribbing (urine terus menerus setelah
berkemih), retensi urine akut. Adapun pemeriksaan kelenjar prostat melalui pemeriksaan
di bawah ini :
1. Rectal Gradding
Dilakukan pada waktu vesika urinaria kosong :
- Grade 0 : Penonjolan prostat 0-1 cm ke dalam rectum.
- Grade 1 : Penonjolan prostat 1-2 cm ke dalam rectum.
- Grade 2 : Penonjolan prostat 2-3 cm ke dalam rectum.
- Grade 3 : Penonjolan prostat 3-4 cm ke dalam rectum.
- Grade 4 : Penonjolan prostat 4-5 cm ke dalam rectum.
2. Clinical Gradding
Banyaknya sisa urine diukur tiap pagi hari setelah bangun tidur, disuruh kencing
dahulu kemudian dipasang kateter.
- Normal : Tidak ada sisa
- Grade I : sisa 0-50 cc
- Grade II : sisa 50-150 cc
- Grade III : sisa > 150 cc
- Grade IV : pasien sama sekali tidak bisa kencing
Penatalaksanaan
Menurut Sjamsuhidjat (2005) dalam penatalaksanaan pasien dengan BPH
tergantung pada stadium-stadium dari gambaran klinisa.
1. Stadium I
Pada stadium ini biasanya belum memerlukan tindakan bedah, diberikan
pengobatan konservatif, misalnya menghambat adrenoresptor alfa, seperti alfazosin
dan terazosin. Keuntungan obat ini adalah efek positif segera terhadap keluhan, tetapi
tidak mempengaruhi proses hiperplasi prostat. Sedikitpun kekurangannya adalah obat
ini tidak dianjurkan untuk pemakaian lama.
2. Stadium II
Pada stadium II merupakan indikasi untuk melakukan pembedahan biasanya
dianjurkan reseksiendoskopi melalui uretra (trans uretra).
3. Stadium III
Pada stadium II reseksi endoskopi dapat dikerjakan dan apabila diperkirakan
prostat sudah cukup besar, sehinga reseksi tidak akan selesai dalam 1 jam. Sebaiknya

dilakukan pembedahan terbuka.Pembedahan terbuka dapat dilakukan melalui trans


vesika, retropubik dan perineal.
4. Stadium IV
Pada stadium IV yang harus dilakukan adalah membebaskan penderita dari
retensi urin total dengan memasang kateter atau sistotomi. Setelah itu, dilakukan
pemeriksaan lebih lanjut amok melengkapi diagnosis, kemudian terapi definitive
dengan TUR atau pembedahan terbuka. Pada penderita yang keadaan umumnya tidak
memungkinkan dilakukan pembedahan dapat dilakukan pengobatan konservatif
dengan memberikan obat penghambat adrenoreseptor alfa. Pengobatan konservatif
adalah dengan memberikan obat anti androgen yang menekan produksi LH.
Menurut Mansjoer (2000) dan Purnomo (2000), penatalaksanaan pada BPH dapat
dilakukan dengan:
1. Observasi
Kurangi minum setelah makan malam, hindari obat dekongestan, kurangi
kopi, hindari alkohol,tiap 3 bulan kontrol keluhan, sisa kencing dan colok dubur.
2. Medikamentosa
A. Penghambat alfa (alpha blocker)
Prostat dan dasar buli-buli manusia mengandung adrenoreseptor-1, dan
prostat memperlihatkanrespon mengecil terhadap agonis. Komponen yang berperan
dalam mengecilnya prostat dan leher buli- buli secara primer diperantarai oleh
reseptor alpha blocker. Penghambatan terhadap alfa telah memperlihatkanhasil berupa
perbaikan subjektif dan objektif terhadap gejala dan tanda BPH pada beberapa pasien.
Penghambat alfa dapat diklasifikasikan berdasarkan selektifitas reseptor dan
waktu paruhnya
B. Penghambat 5-Reduktase (5-Reductase inhibitors)
Finasteride adalah penghambat 5-Reduktase yang menghambat perubahan
testosteron menjadi dihydratestosteron. Obat ini mempengaruhi komponen epitel prostat,
yang menghasilkan pengurangan ukuran kelenjar dan memperbaiki gejala. Dianjurkan
pemberian terapi ini selama 6 bulan, guna melihat efek maksimal terhadap ukuran prostat
(reduksi 20%) dan perbaikan gejala-gejala
C. Terapi Kombinasi
Terapi kombinasi antara penghambat alfa dan penghambat 5-Reduktase
memperlihatkan bahwa penurunan symptom score dan peningkatan aliran urin hanya
ditemukan pada pasien yang mendapatkan hanya Terazosin. Penelitian terapi
kombinasi tambahan sedang berlangsung.

D. Fitoterapi
Fitoterapi adalah penggunaan tumbuh-tumbuhan dan ekstrak tumbuhtumbuhan untuk tujuan medis. Penggunaan fitoterapi pada BPH telah popular di
Eropa selama beberapa tahun. Mekanisme kerjafitoterapi tidak diketahui, efektifitas
dan keamanan fitoterapi belum banyak diuji.
3. Terapi Bedah
Indikasinya adalah bila retensi urin berulang, hematuria, penurunan fungsi ginjal,
infeksi salurankemih berulang, divertikel batu saluran kemih, hidroureter, hidronefrosis
jenis pembedahan:
1. TURP (Trans Uretral Resection Prostatectomy)
Yaitu pengangkatan sebagian atau keseluruhan kelenjar prostat melalui sitoskopi atau
resektoskop yang dimasukkan malalui uretra
2. Prostatektomi Suprapubis
Yaitu pengangkatan kelenjar prostat melalui insisi yang dibuat pada kandung kemih.
3. Prostatektomi Retropubis
Yaitu pengangkatan kelenjar prostat melalui insisi pada abdomen bagian bawah
melalui fosa prostat anterior tanpa memasuki kandung kemih.
4. Prostatektomi Peritoneal
Yaitu pengangkatan kelenjar prostat radikal melalui sebuah insisi diantara skrotum
dan rektum.
5. Prostatektomi retropubis radikal
Yaitu pengangkatan kelenjar prostat termasuk kapsula, vesikula seminalis dan
jaringan yang berdekatan melalui sebuah insisi pada abdomen bagian bawah, uretra
dianastomosiskan keleher kandung kemih pada kanker prostat.
4. Terapi Invasif Minimal
1. Trans Uretral Mikrowave Thermotherapy (TUMT)
Yaitu pemasangan prostat dengan gelombang mikro yang disalurkan ke
kelenjar prostatmelalui antena yang dipasang melalui/pada ujung kateter.
2. Trans Uretral Ultrasound Guided Laser Induced Prostatectomy (TULIP)
3. Trans Uretral Ballon Dilatation(TUBD)
Pemeriksaan Penunjang
Menurut Soeparman (2000), pemeriksaan penunjang yang mesti dilakukan pada
pasien dengan BPH adalah :a. Laboratorium
1. Sedimen Urin
Untuk mencari kemungkinan adanya proses infeksi atau inflamasi saluran kemih.
2. Kultur Urin
Mencari jenis kuman yang menyebabkan infeksi atau sekaligus menentukan
sensitifitas kumanterhadap beberapa antimikroba yang diujikan. b. Pencitraan1). Foto

polos abdomenMencari kemungkinan adanya batu saluran kemih atau kalkulosa


prostat dan kadang menunjukan bayangan buii-buli yang penuh terisi urin yang
merupakan tanda dari retensi urin.
3. IVP ( Intra Vena Pielografi)
Mengetahui kemungkinan kelainan ginjal atau ureter berupa hidroureter atau
hidronefrosis,memperkirakan besarnya kelenjar prostat, penyakit pada buli-buli.
4. Ultrasonografi ( trans abdominal dan trans rektal )
Untuk mengetahui, pembesaran prostat, volume buli-buli atau mengukur sisa urin dan
keadaan patologi lainnya seperti difertikel, tumor.
5. Systocopy
Untuk mengukur besar prostat dengan mengukur panjang uretra parsprostatika dan
melihat penonjolan prostat ke dalam rektum
4. Plan :
Diagnosis : Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang
pasien ini didiagnosis BPH.
Pengobatan : Pengobatan dengan memasang kateter urin, ciprofloxacin 2x1, asam
mefenamat 3x1, diazepam 3x2mg. Konsul Sp.B
Pendidikan : Diberikan pemahaman pada pasien dan keluarganya bahwa penyakit ini
perlu ditangani secara menyeluruh oleh dokter ahli. Mungkin diperlukan
pembedahan sesuai pertimbangan dokter ahli.
Konsultasi : Perlunya konsultasi dengan spesialis Bedah. Konsultasi ini merupakan
upaya penanganan kuratif.
Rujukan : direncanakan jika proses penyakit berlanjut atau timbul komplikasi atau
penyulit operasi, dapat dirujuk ke RS yang lebih memadai yang memiliki
Spesialis Bedah Urologi.

LAPORAN KASUS PORTOFOLIO


DOKTER INTERNSHIP
BPH

Disusun oleh :
Nama :
Wahana :
Periode :

dr. Jiemi Ardian


RSUD dr. Rehatta Kelet/Donorojo Jepara
24 September 2013 23 Mei 2014

Mengetahui,
Dokter pendamping

dr. Arief Purwanto/ dr. Kurmin Hadi Darsono

Rumah Sakit Umum Daerah dr. Rehatta


Kelet, Jepara
2014

BERITA ACARA PRESENTASI PORTOFOLIO

Pada hari ini tanggal Jumat, 14 Mei 2014 di Wahana RSUD dr. Rehatta Kelet telah
dipresentasikan portofolio oleh

No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Nama

: dr. Jiemi Ardian

Kasus

: BPH

Topik

: Bedah

Nama Pendamping

: dr. Arief Purwanto/ dr. Kurmin Hadi Darsono

Nama Wahana

: RSUD dr. Rehatta Kelet/Donorojo Jepara

Nama peserta Presentasi


dr. Gita Fajar Wardhani
dr. Jiemi Ardian
dr. Yestin Diana Bakti
dr. Nur Maslahah
dr. Fitria Iqlima
dr. Ika Siti Rahmawati
dr. Atika Ayuningtyas
dr. Herdhita Galuh Kusuma A
dr. Emmanuel Mareffcita S.
dr. Fajar Solehudin Salim
dr. Nurulita Tunjung Sari

Tanda Tangan
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Berita acara ini ditulis dan disampaikan sesuai dengan sesungguhnya.


Mengetahui
Dokter Internship

Dokter Pendamping

dr. Jiemi Ardian

dr. Arief Purwanto/ dr. Kurmin Hadi Darsono