Anda di halaman 1dari 9

Teologi Pembebasan

Beberapa hal berikut ini fundamental dalam pembicaraan tentang teologi pembebasan dalam
buku Hartono Budi berjudul Teologi, Pendidikan, dan Pembebasan. Dilengkapi ulasan
Universitas Kristiani oleh Jon Sobrino SJ. Yogyakarta: kanisius, 2003:
1. teologi bukan hanya merupakan ajaran kebijaksanaan untuk kemajuan hidup
rohani perorangan saja, ataupun pengetahuan rasional untuk menjelaskan isi iman
secara metodis, sistematis, dan logis. Di hadapan situasi hidup masyarakat yang
berciri subhuman dan sangat melecehkan jerih-payah meningkatkan kebaikan
bersama, teologi harus tidak puas dengan upaya menata ajaran yang benar.
Pergumulannya adalah untuk menemukan kemungkinan berbicara (dengan bahasa)
tentang Allah secara jujur justru di tengah situasi subhuman yang disebabkan oleh
ketidakadilan dan dan ketidakpedulian. (Dinyatakan Gustavo Gutierrez untuk
menunjukkan bahwa Tuhan mencintai yang miskin dan tertindas.) Hlm. 14
2. Melalui pengamatan yang dilakukan, Ignacio Ellacuria sampai pada pemahaman
bahwa masalah kemiskinan dan penindasan yang tampak terkonsentrasi di negaranegara miskin Dunia Ketiga dan semakin meluas membuahkan banyak
penderitaan dan kematian sebelum waktunya. Hlm. 21 (Bagus untuk kutipan di
bagian refleksi, bab akhir sebelum kesimpulan.)
3. Terhadap krisis di dalam masyarakat teologi memposisikan diri untuk terlibat untuk
menanggapinya dalam tindakan iman yang nyata. Dalam situasi dimana kenyataan
didominasi oleh tidak adanya keselamatan, iman kristiani justru memandang
keselamatan sebagai masalah paling serius. (hlm. 31)
4. Karena itu, di tengah-tengah kenyataan membengkaknya jumlah orang miskin,
jurang kaya-miskin, dan krisis sosial-politik dewasa ini, refleksi teologis diarahkan
untuk tidak hanya berkubang pada rumusan ajaran benar (ortodoksi), melainkan juga
memikirkan dengan serius soal tindakan (iman) yang benar (ortopraksis). (hlm.
32)
5. Teologi kematian Allah (Death-of-God Theology) secara radikal mengkaji
gejala kematian Allah dalam dunia modern yang sekular, dan mempertanyakan serta
menunjukkan masalah keterbatasan semua definisi konseptual tentang Allah
berhadapan dengan kenyataan situasi krisi total yang dialami manusia. (hlm. 34)
6. Jika konsep tentang Allah dan teologi, seperti pada ketiga agama momoteistik:
Yudaisme, Kristianitas, dan Islam, hanya menjerumuskan manusia kepada
konflik, perpecahana, dan kehancurannya atau dengan kata lain menjadi tidak
manusiawi, bukankah menjadi tugas kita untuk menyingkirkan Allah sumber
segala kejahatan itu? (hlm. 34) Sejalan dengan itu, Thomas J. J. Altizer menjelaskan
bahwa Kristianitas yang mungkin dan cocok untuk zaman ini adalah Kristianitas yang
mengambil bentuk penyangkalan terhadap Allah. Ia kemudian mencari kaitan
antara teologi kematian Allah dan gerakan sastra dekonstruksionis. (hlm. 35)
7. Kecenderungan-kecenderungan dalam teologi: 1. Privatisasi dalam teologi, dan 2.
Politisasdi dalam teologi (buku ini menggunakan istilah teologi politik). Dalam
teologi privat, teologi atau refleksi iman telah menjadi kegiatan pribadi dan juga
diarahkan kepada pribadi-pribadi dan lingkungan individual saja. Adapun dalam

politisasi teologi, ditekankan pentingnya kesaksian iman secara publik dan tindakan
mengikuti Yesus Kristus secara politis. Dalam pandangan Moltmann, gerakan
teologi politik sama sekali tidak dimaksudkan untuk mempolitisir gereja, tetapi
pertama-tama untuk mengkristenkan eksistensi politis gereja dan umat Kristiani.
Teologi politik membawa masalah sosial ke dalam gereja dan membuat gereja
hadir dalam situasi manusia yang kontradiktif termasuk penderitaan manusia. Oleh
karena itu, menurut Moltmann, gerakan teologi politik telah mewarnai atau
menjadi keprihatinan dasar dari gerakan teologi-teologi keterlibatan sosial yang lain.
(hlm. 38)
8. Teologi politik telah melahirkan teologi-teologi keterlibatan sosial, di antaranya
adalah: (1) teologi sosialis, yang secara khusus mengangkat tema kejahatan dan
kontradiksi dalam kapitalisme dan perlunya revolusi sosial, (2) teologi perdamaian,
yaitu gerakan anti perang yang memfokuskan tindakan pada pelucutan senjata (di
Eropa), (3) teologi lingkungan hidup, gerakan yang mengedepankan kesadaran akan
lingkungan hidup yang nyata seperti pada bencana di pusat tenaga nuklir di Chernobyl
(25-26 April 1986), (4) teologi yang memperjuangkan hak-hak asasi manusia untuk
semua, gerakan ini umumnya berhadapan dengan para diktator yang represif dan
merendahkan hak warga negara, seperti di Amerika Latin dan di negara-negara Eropa
Timur, (5) teologi feminis di lingkungan Kristiani, gerakan ini dimaksudkan
sebagai gerakan untuk membebaskan perempuan dari penindasan patriarkal, dan
memperjuangkan pengakuan penuh terhadap hak asasi kaum perempuan. (hlm. 36-40)
9. ummat Allah didesak untuk melibatkan diri demi pembangunan dan pembentukan
masyarakat yang lebih manusiawi dan semakin mencerminkan situasi
keselamatan. (hlm. 41)
10. Gustavo Gutierrez mengemukakan gagasan tentang perlunya pembebasan: tidak
hanya (1) dari tirani kejahatan ekonomis dan politis yang berciri struktural, melainkan
juga (2) dari ajaran dan asumsi-asumsi yang salah, serta (3) dari dosa pribadi yang
menjadi kegagalan persaudaraan dan penindasan terhadap sesama dan lingkungan
hidupnya. (hlm. 42)
11. Penderitaan yang bermuara pada situasi kemiskinan, yang dilestarikan dan
dipaksakan oleh oligarki dan angkatan bersenjatanya tidak dapat didiamkan demikian
saja, karena menghancurkan kehidupan manusiawi dalam kebersamaan, mulai dari
kehidupan orang miskin sampai para korban yang secara harfiah: mati sebelum
waktunya. Di tengah situasi perjuangan hidup para korban b ersama dengan gerakan
solidaritas dari sesamanya yang perduli, rasa kemanusiaan kaum agamawan
ditantang dan diuji dengan pengandaian bahwa (hlm. 42) nurani dan rasa
kemanusiaannya lebih lagi sudah diterangi oleh Sabda Allah. Di Amerika Latin,
, terjadi krisis identitas dalam lingkungan Kristiani: Katolik maupun Protestan,
ketika menyadari bahwa mereka telah terkait dengan struktur-struktur ideologis
yang menindas. Melalui analisa sosial, ekonomi, dan politik yang membantu
menjelaskan situasi m asyarakat yang sebenarnya, mereka sadar akan kenaifan
ajaran teologi yang mereka miliki yang justru membutakan mereka dari
realitas sesamanya yang lemah dan tertindas. Oleh karena itu, lahirlah gerakan
teologi pembebasan yang sekaligus mulai dalam tataran popular atau sebagai

gerakan rakyat yang spontan, tataran pastoral atau yang diprakarsai oleh petugas
dan pelayan pastoral, serta tataran profesional yang diprakarsai, oleh para
teolog profesional di lingkungan akademik. (hlm. 43). sering salah dipahami
bahwa gerakan teologi pembebasan baik dari lingkungan Katolik maupun Protestan di
Amerika Latin muncul dari atas atau dari para teolog di universitas atau pusat-pusat
studi teologi, walaupun banyak di antara mereka terlibat langsung dalam
pendampingan orang miskin dan terlantar. Akhirnya, teologi menjadi fides quaerens
intellectum dan sekaligus fides quaerens liberationem, yaitu refleksi iman yang
menuntut penalaran yang masuk akal dan sekaligus menuntut tindakan
pembebasan yang konkret. Ini bukan penyangkalan terhadap tradisi teologi,
melainkan bahwa pemahaman (intellectum) sebagai unsur kunci, dimengerti secara
dialektis sebagai yang tak terisahkan dari praktek hidup umat beriman dalam sejarah.
12. Ignacio Ellacuria menyebut orang miskin dan teraniaya sebagai Rakyat yang
Tersalib (the crucified people) (hlm. 44). Dalam lingkungan Kristiani, paham
tentang umat Allah memuat unsur ajaran keselamatan (soteriologi) dan ajaran tentang
Yesus Kristus (kristologi). Pertanyaannya, apakah arti kehadiran umat Kristiani di
tengah masyarakatnya dan bagaimanakah orang Kristiani memahami misi dan
pelayanan Yesus atau apa yang diusahakan dan diperjuangkan Yesus bagi lingkungan
masyarakat-Nya dan bagi umat manusia pada umumnya. (hlm. 45)
13. Ellacuria: Realitas dunia kita ditandai oleh kehadiran orang miskin dan tertindas
yang merupakan mayoritas dari penduduk bumi, yang jumlahnya terus meningkat.
Kenyataan ini juga telah menggugah dan memaksa umat Kristiani dan semua saja
yang berkehendak baik untuk memikirkannya dan mencari jalan keluar dari
masalahnya.
14. Jika Ellacuria menuliskan kehidupan mayoritas umat manusia tersalib
oleh penindasan kodrati, tetapi khususnya oleh penindasan-penindasan historis dan
personal, maka Jon Sobrino yang melakukan refleksi teologi kritis berpandangan
bahwa Allah yang tersalib (the crucified God) masih kalah penting jika dibandingkan
dengan pembicaraan tentang rakyat yang tersalib pada alasan soteriologis dan
kristologis yang baginya dapat lebih menjelaskan realitas dunia sekarang, khususnya
dengan kehadiran orang miskin dan tertindas di belahan dunia dimana pun. (hlm. 46)
15. Tentang rakyat yang tersalib tersebut Ellacuria menjelaskannya sebagai berikut:
Pertama, sebagai badan kolektif, yang dalam sejarahnya disalibkan oleh kelompok
minoritas pemegang kekuasaan, yang menata dan menggunakan kekuasaannya untuk
menindas mereka. Kedua, Ellacuria menunjukkan bahwa realitas rakyat yang
tersalib masih perlu ditelaah secara lebih dalam, dan melebihi pola-pola penindasan
yang ada dengan cara meneliti kedua kelompok, baik yang menindas atau pun
yang tertindas. Ketiga, Ellacuria mengidentifikasi bahwa rakyat yang tersalib hanya
untuk rakyat di Dunia Ketiga; golongan kaya dan menindas tidak termasuk di
dalamnya, sedangkan golongan yang tertindas termasuk; yang mendukung
penindasajn tidak termasuk; tapi mereka yang berjuang demi keadilan, sejauh mereka
dari Dunia Ketiga dan golongan tertindas termasuk. (hlm. 49)

16. Titik tolak Kristiani adalah Yesus Kristus, khususnya kisah hidup Yesus dari
Nazaret sampai kepada peristiwa penyaliban dan wafat Yesus, dan keyakinan pada
kehidupan baru yang dilahirkan melalui kematian Yesus dalam sejarah. (hlm. 51)
17. Pertanyaan teologi pembebasan (menurut Jon Sobrino, pen) bukan pertama-tama
apakah Allah ada atau tidak ada, melainkan bagaimana Allah ada atau hadir dalam
situasi yang menderita itu; bagaimana Allah bertindak dalam dunia yang menderita
itu? Oleh karena itu, titik tolak teologi pembebasan adalah pertanyaan tentang locus
atau tempat konkret dan historis dari pewahyuan Allah. (hlm. 59) Dalam perspektif
eklesiologi atau refleksi tentang umat Allah, pada tahun 1980, Sobrino menjelaskan
bahwa Titik berangkat saya adalah kenyataan umat Allah dan bukan ajaran tentang
Gereja. (hlm. 60) Keprihatinannya selalu bercirikan pastoral dan sekaligus teologis.
Pastoral berarti bahwa eklesiologi apa pun harus berfungsi membantu umat Allah
baik untuk memahami diri sebagai orang Kristiani maupun mendalami panggilan
Kristianinya di tengah komunitas Gereja dan masyarakatnya; teologis berarti bahwa
iman yang ditanggapi dengan tindakan meneladan Yesus terbuka untuk dipahami
secara lebih mendalam lagi di tengah dunia ini. Demikianlah panggilan dasar semua
orang Kristen menurut Sobrino, yaitu menjadi sahabat-sahabat Yesus dan meneladan
cara bertindak-Nya dengan seluruh hidupnya. (hlm. 61)
18. Sobrino memberikan tiga alasan untuk lebih menjelaskan pemikiran teologisnya. Ia
berpendapat: Pertama, pada tataran faktual, kemiskinan di Dunia Ketiga ternyata
tidak hanya menyebabkan penderitaan yang tidak berkesudahan, melainkan
kematian sebelum waktunya dalam jumlah yang besar. Penindasan sistematis dan
konflik bersenjata telah memperburuk situasi mereka. Maka, salib tidak hanya berarti
kemiskinan, melainkan juga kematian. Kedua, pada tataran historis-etis, ditunjukkan
bahwa penderitaan dan kematian kaum miskin dan tertindas itu disebabkan oleh
struktur-struktur yang tidak adil baik di tingkat lokal maupun global, yang selanjutnya
menghasilkan tindakan kekerasan yang melembaga (institutionalized violence) dan
korbannya pertama-tama adalahu yang lemah dan miskin. Maka, salib menunjukkan
adanya para korban dan yang membuat mereka menjadi korban. Ketiga, pada tataran
religius/keagamaan, peristiwa kemiskinan yang mematikan itu mengungkapkan
kenyataan dasar iman akan dosa dan rahmat, kutukan dan keselamatan. Bagi orang
kristiani, salib berarti kematian yang dialami Yesus. Artinya, realitas kemiskinan
dan implikasi logisnya yaitu kematian sebelum waktunya, merupakan kisah nyata
dalam kisah hidup Yesus dan juga merupakan bagian konstitutif dari peristiwa
kebangkitan-Nya oleh Allah. (hlm. 63)
19. Yesus memilih berkarya bagi mereka yang miskin itu karena merekalah yang
diutamakan Allah Bapa-Nya, bahkan kalau pilihan tindakannya itu membawanya
kepada berbagai macam konflik dan hukuman mati. (hlm. 66)
20. Jon Sobrino menegaskan bahwa: Pertama, kita tidak berpikir dari meja kerja,
melainkan berpikir atau mencoba berpikir dari kenyataan dunia, khususnya yang
ditandai dengan penderitaan mayoritas penduduknya, yang disebabkan pada
umumnya oleh sistem dan struktur kemasyarakatan, ekonomi, dan politik yang
memeras dan menindas mereka; kedua, pemikiran dan pengetahuan hendaknya
menggerakkan orang untuk solider dan mengambil sikap memihak yang lemah

dan miskin pengetahuan, yang tidak mempunyai suara, dan juga terbuka untuk
digerakkan oleh kenyataan penderitaaan mereka. (hlm. 86)
Amaladoss, Michael. Teologi Pembebasan Asia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001
1. 20 tahun yang lalu kaum perempuan Asia mendadak bangkit menyadari duka
nestapa mereka dalam kehidupan dan masyarakat. Gerakan-gerakan perempuan
muncul dimana-mana, bahkan di kalangan rakyat biasa. (hlm. 59)
2. Kisah penindasan. Bahkan ketika seorang anak masih ada dalam kandungan,
anak yang diharap-harapkan keluarga adalah anak laki-laki. (hlm. 59)manifestasi
konkret dari sikap-sikap dan situasi-situasi ini mungkin berbeda dari negeri yang
satu ke negeri yang lain, dari kebudayaan yang satu ke kebudayaan yang lain,
tetapi struktur-struktur yang menindas serupa dimana-mana. Sekelompok
perempuan meringkaskan penindasan-penindasan itu sebagai berikut:
:Kami menjadi sadar bahwa perempuan-perempuan ini mengalami tiga lapis penindasan
(ketertindasan) sebagai warga negara sedang dalam suatu sistem ekonomi dunia yang
tak adil, sebagai pekerja, dan sebagai perempuan. Perempuan diperlakukan sebagai
orang yang lebih rendah tingkatannya dalam masyarakat, diingkari hak-haknya untuk
mengambil bagian dalam pembuatan keputusan dan untuk berkembang sebagai manusia
penuh. Kedudukan kaum perempuan yang rendah berasal dari hubungan mereka
dengan anggota-anggota keluarga yang laki-laki. Kerapkali wanita menjadi korban
perkosaan dan bentuk-bentuk kekerasan yang lain. (hlm. 62)

3. Menghadapi penindasan seperti itu, aneka ragam gerakan perempuan timbul di


Asia. Tiga di antaranya kelihatan menonjol. Ada arus yang dapat kita sebut
feminisme liberal di kalangan perempuan perkotaan kelas menengah yang
terdidik. Gerakan mereka bermodelkan gerakan-gerakan serupa di Barat.
Berfokus pada hak-hak perempuan dan persamaan gender berkenaan dengan gaji,
pekerjaan, dan kedudukan sebagai pemimpin, dan sebagainya. Arus yang
kedua diwakili oleh seksi-seksi perempuan dalam gerakan-gerakan politik kiri.
Mereka cenderung terbatas pada pekerja-pekerja perempuan. Bahkan kerja
didefinisikan secara sempit sebagai kerja di industri, tidak termasuk kerja di
rumah atau di ladang. Arus yang ketiga berupa gerakan-gerakan rakyat.
Banyak gerakan semacam ini telah muncul tahun-tahun belakangan ini: pekerja
pertanian, perempuan nelayan, penghuni daerah kumuh, pekerja pabrik, pekerja
kota yang tak terorganisasi dan sebagainya. Mereka cenderung untuk lebih
memusatkan perhatian pada soal-soal hidup yang pokok: produksi makanan dan
pemasarannya, kerusakan lingkungan, masalah-masdalah air dan tananh,
kebebasan dari kekerasan, dan tekanan dalam kehidupan pribadi dan keluarga.
(hlm. 63)
4. Kaum perempuan dan alam ciptaan tidak hanya didominasi dan dieksploitasi oleh
pendekatan laki-laki yang memandang mereka sebagai objek dan mempergunakan
mereka sebagai alat; mereka juga sama-sama bernasib sebagai kaum tertindas dan
saling berhubungan sebagai penghasil dan pembela kehidupan. (hlm. 67)
5. Yang perlu menjadi tujuan kita ialah tatanan sosial-budaya baru yang tidak
bersifat patriarkal dan juga tidak matriarkal, tetapi manusiawi semata-mata.
Manusiawi tidak berarti suatu perspektif yang netral, tak termasuk suatu jenis

tertentu, yang tidak maskulin dan juga tidak feminin. Manusiawi berarti suatu
tatanan menyeluruh yang mengakui jati diri sesungguhnya dan kebebasan baik
kaum lelaki maupun kaum perempuan dan meningkatkan hubungan hubungan
timbal balik serta kerja sama mereka dalam dalam menciptakan dan menopang
kehidupan dan masyarakat. (hlm. 67)
6. Perlakuan Kristus terhadap kaum perempuan tidak terikat pada norma-norma
budaya yang ada; Maria Magdalena adalah saksi pertama kebangkitan. (hlm. 6970)
7. Tradisi sejarah India menghormati tokoh-tokoh pemberontak seperti Andal,
Mirabhai, dan Mahadeviakka, yang menentang stereotip-stereotip budaya dan
model-model peranan perempuan dengan menentang norma-norma sosial.
Seksualitas diakui dan dijunjng sebagai sesuatu yang mulia tidak dengan
menyangkalnya, tetapi dengan mengarahkannya kepada Tuhan bukan dengan
cara yang gaib, melainkan dengan cara yang amat emosional, manusiawi. (hlm.
71)
8. Tujuan refleksi teologis ialah memberikan visi yang lain yang dapat menantang
situasi yang tak adil sekarang ini dan menjiwai praksis kita pada masa sekarang
dan pada masa yang akan datang. Seyogianya tujuan ini selalu kita camkan. (hlm.
73)
9. Di kalangan umat Katolik, khususnya, Maria juga dilihat sebagai model
perempuan baru. Bagi perempuan, lebih mudah mengidentifikasikan diri dengan
Maria daripada dengan Yesus. Dalam kesalehan umat biasa, umat kerapkali
mengaitkan semua sifat keperempuanan pada Maria pemeliharaan, pengasuhan,
dan belas kasih dan mereka enggan mengaitkan sifat-sifat itu pada Allah yang
laki-laki. Kedua, pemberian gelar seperti Bunda Gereja, Mediatrix
(Pengantara), dan Co-redemptrix (Rekan-penebus) dapat membuat kita lupa
bahwa gelar-gelar itu menyangkut peranan sekunder, tak sederajat dalam rencana
penyelamatan. Selalu ada keambiguan apakah Maria mewujudkan perempuan
yang ideal ataukah ia lambang umat manusia yang berdialog dengan yang ilahi
dalam rencana penyelamatan. Namun, citra-citra Maria dalam Magnificent dan
Kalvari, ibu yang merupakan teladan bahkan bagi Tesus ketika ia tumbuh menjadi
dewasa, dan Maria ruang atas, yang dikelilingi para murid pada hari Pantekosta,
mengilhami banyak perempuan. (hlm. 81)
10. Orang tidak dapat berpikir tentrang masyarakat manusia kalau tidak dalam
konteks persekutuan dengan dunia. Hal ini diungkapkan dengan berbagai cara
oleh agama-agama. Agama Hindu berbicara tentang cita-cita lokasamgraha atau
pemeliharaan kelestarian dunia, yang harus menjadi tanggung jawab setiap orang.
Hal ini ditunjukkan dengan secara ritual memberi makan kepada dewa-dewi,
nenek moyang, tamu-tamu, dan alam binatang sebelum makan. agama Buddha
menekankan bahwa semua makhluk saling berhubungan dan orang harus bersikap
belas kasih. Bagi agama Kristen, kasih kepada sesama tidak hanya merupakan
hukum baru, tetapi Kristus menjadi pengantara baik bagi penciptaan awali
maupun bagi pendamaian segala sesuatu. Bagi agama-agama asli dan rakyat,
seluruh semesta alam membentuk suatu ikatan dalam suatu arus hidup yang

mengalir terus-menerus. Hidup manusia berhomologi dengan hidup bumi dan


berbagai musimnya. Suatu masyarakat (persekutuan) luas yang mencakup tidak
hanya orang-orang lain tetapi juga seluruh semesta alam rupanya menjadi konteks
hidup manusia. Solidaritas kosmis ini terungkap dalam solidaritas sosial
masyarakat-masyarakat kesukuan. (hlm. 103)
11. Dalam konteks masyarakat (persekutuan, komunitas) ini, kita menjangkau orangorang lain dan dunia tidak hanya dengan pengetahuan, tetapi juga dengan emosiemosi kita, khususnya dengan cinta kasih, yakni dengan cara yang sepenuhpenuhnya manusiawi. . Tradisi-tradisi keagamaan cenderung menekankan
pengetahuan atau cinta kasih sebagai sarana pembebasan. Tradisi agama Hindu,
misalnya, berbicara tentang jnana dan nhakti-marga, cara-cara mengetahui dan
berbaktian. Agama-agama Timur seperti agama Hindu dan agama Buddha
dikatakan menekankan gnosis atau pengetahuan/kebijaksanaan, dan agama-agama
Semit menekankan agape atau cinta kasih/pelayanan sebagai jalan menuju
pembebasan. . Pengetahuan tanpa cinta kasih dapat menjadi kekerasan. Cinta
kasih tanpa pengetahuan bersifat buta. Yang diperlukan adalah menyatupadukan
keduanya. Aloysius Pieris telah memaparkannya dengan bagus.
Ilmu dan pengetahuan yang terpisah dari cinta kasih, menjadi brutal karena
bergandengan dengan kekuasaan. Jika cinta kasih tanpa pengetahuan bersifat
buta, pengetahuan tanpa cinta kasih bersifat binatang. Orang yang mengasihi
yang bersenjatakan pengetahuan mendayakuasakan orang yang dicintai; orang
yang tahu tapi tidak memiliki cint6a kasih mencuri daya kuasa dari objek yang
diketahui. Cinta kasih yang diterangi pengetahuan niscaya mengubah barang
sekalipun menjadi orang, tetapi pengetahuan tanpa cinta kasih memperlakukan
orang sekali pun sebagai barang. (hlm. 105)
12. Dalam tradisi-tradisi teistis yang menegaskan adanya kehidupan, Allah dilihat
sebagai sumber kehidupan. Hubungan antara Allah dan dunia dan manusia telah
digambarkan dengan berbagai cara. Ada yang mengilahikan bumi sebagai Ibu
Agung. Ada lagi yang berpikir tentang seorang Allah transenden yang memberi
hidup tetapi terputus dari ciptaan. Akan tetapi, tradisi-trradisi teistis seperti agama
Hindu dan agama Kristen menyatakan bahwa Allah bersifat baik imanen maupun
transenden. Visi Hindu advaita berbicara tentang kesatuan mendalam seluruh
pengada. , tradisi-tradisi yang lain berbicara tentang suatu kesatuan dalam
pluralisme (keanekaragaman) dan yang menjadi lambangnya adalah yang
manusiawi. . Tradisi Kristen berbicara menurut segi pandang persekutuan
dengan pengantaraan Sabda dan Roh. St. paulus berbicara tentang dunia sebagai
tubuh Kristus (Kol 1: 15-20) (hlm. 106)
13. Pieris menegaskan dengan kuat bahwa orang-orang miskin di Asia juga sangat
beragama. Refleksi teologis di Asia harus memperhitungkan kedua unsur itu
kemiskinan dan religiositas bersama-sama. (hlm. 191)
14. Menurut Pieris, orang-orang yang yang memilih hidup miskin harus berjabat
tangan dengan orang-orang yang ternasib hidup miskin karena struktur-struktur
ekonomi dan politik yang tak adil, dengan tujuan berjuang bersama-sama demi
pembebasan setiap orang dari hasrat keinginan mempunyai barang-barang jasmani

dan demi pembagian barang yang merata di antara semua orang. Dengan
demikian, dari memilih hidup miski9n orang kemudian memilih hidup demi
kepentingan kaum miskin dalam suatu perjuangan yang mendatangkan
pembebasan setiap orang dari kemiskinan yang dipaksakan. Apabila kemiskinan
dan religiositas bahu-membahu seperti ini, keduanya menjadi membebaskan.
Pieris menunjuk kepada hal ini sebagai kekhususan teologi pembebasan di Asia.
(hlm. 192)
15. Pieris melihat dalam diri Yesus suri teladan pilihan seperti itu (nyambung dengan
no. 14 di atas). Dalam perjuangan yang terus-menerus di dunia antara Allah dan
Mamon (Mamon sebagai kekuasaan struktur-struktur sosial yang tak adil dan
memeras), Yesus memilih menjadi miskin sejak waktu kelahiran-Nya juga. Akan
tetapi, karena beridentifikasi dan berjuang dengan kaum miskin dan terbuang pada
zaman-Nya, yang terungkap dalam tantangan profetis-Nya kepada orang-orang
kaya dan berkuasa supaya bertobat, Ia akhirnya harus disalib.
16. Orang Kristiani adalah orang yang telah menentukan pilihan yang tak dapat
dicabut untuk mengikuti Yesus, pilihan ini tidak boleh tidak bertepatan dengan
pilihan untuk hidup miskin, tetapi pilihan hidup miskin menjadi hidup
mengikuti Yesus sungguh-sungguh hanya sejauh itu juga pilihan hidup demi
kaum miskin kekuatan (teo)logis argumentasi ini bersumber dari dua aksioma
Kitab Suci: pertentangan yang tak mungkin didamaikan antara Allah dan harta
kekayaan, dan perjanjian yang tak dapat dicabut antara Allah dan orang-orang
miskin, dengan Yesus sendiri sebagai perjanjian itu. Cinta kasih Allah/Yesus
menjawab secara efektif kebutuhan-kebutuhan nyata orang-orang. Dengan
demikian, keadilan muncul dari cinta kasih. Kerajaan Allah yang diwartakan oleh
Yesus memberikan visi suatu masyarakat baru. Pemakluman Kerajaan Allah tidak
lain adalah pewahyuan cinta kasih Allah yang tak bersyarat. Jawaban yang
diperlukan adalah membuka hati kita kepada cinta kasih ini dan
mengungkapkannya dengan mengasihi sesama kita. Putaram cinta kasih inilah
yang menjadi awal mula masyarakat baru yang diangan-angankan Yesus. (198199)
17. Gerakan membebaskan sejauh membebaskan setiap orang dari kekurangankekurangan dan obsesi-obsesi yang membelenggunya. Gerakan ini
memupukkembangkan persaudaraan, sebab mendayamampukan individu-individu
yang bebas untuk saling mempedulikan dalam persekutuan atau masyarakat yang
sejati. Dan gerakan ini menuntun menuju keadilan, sebab mendorong setiap
masyarakat yang sejati untuk menggunakan struktur-struktur sosial yang adil
karena hanya inilah yang membuat kebebasan dan persaudaraan mungkin. (hlm.
199)
18. semua agama mempunyai segi-segi yang membebaskan (hlm. 270
19. Mereka semua (buddhadasa dan Ali Shariati) setuju bahwa visi masyarakat yang
baru merupakan persekutuan keadilan dan persaudaraan yang tidak mengenal
egoisme dan konssimerisme dan yang memelihara kaum miskin dan lemah secara
istimewa. (hlm. 276)

20. bahwa saya, sebagai model seorang teolog Kristiani, harus sungguh-sungguh

bersikap terbuka tidak hanya kepada realitas tetapi juga kepada visi-visi serta
keyakinan-keyakinan orang lain yang menganut tradisi-tradisi keagamaan dan
ideologi-ideologi yang lain, yang konteks ekonomi, politik, dan sosial-budayanya
sama dengan saya. Saya harus selalu berdialog dengan mereka, tetapi saya hanya
dapat berefleksi sebagai orang Kristiani, yang berakar pada tradisi keagamaan
saya sendiri, .