Anda di halaman 1dari 20

Pembunuhan Berencana pada Rekan Kerja

Kristali
102010358
B-4
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Kasus 1
Seorang laki-laki ditemukan di sebuah sungai kering yang penuh batu-batuan dalam
keadanan mati tertelungkup. Ia mengenakan kaos dalam (blong) dan celana panjang yang di bagian
bawahnya di gulung hingga setengah tungkai bawahnya. Lehernya terikat lengan baju (yang
kemudian diketahui sebagai baju miliknya sendiri) dan ujung lengan baju lainnya terikat kesebuah
dahan pohon perdu setinggi 60 cm. Posisi tubuh relative mendatar, namun leher memang terjerat
oleh baju tersebut. Tubuh mayat tersebut telah membusuk, namun masih dijumpai adanya satu luka
terbuka di daerah ketiak kiri yang memperihatkan pembuluh darah ketiak yang putus, dan beberapa
luka terbuka di daerah tungkai bawah kanan dan kiri yang memiliki cirri-ciri yang sesuai dengan
akibat kekerasan tajam.
Perlu diketahui bahwa rumah terdekat dari TKP adalah kira-kira 2 km. TKP adalah suatu
daerah perbukitan yang berhutan cukup lebat.
Thanatologi
Thanatologi mempelajari kematian dan perubahan yang terjadi setelah kematian serta faktor
yang mempengaruhi perubahan tersebut. Dalam tanatologi dikenal beberapa istilah tentang mati,
yaitu mati somatic, mati suri, mati seluler, mati serebral dan mati otak (mati batang otak).
Mati somatic (mati klinis) terjadi akibat terhentinya fungsi ketiga sistem penunjang
kehidupan, yaitu susunan saraf pusat, system kardiovaskular dan system pernafasan, yang menetap
(irreversible). Secara klinis tidak ditemukan reflkes-refleks, EEG mendatar, nadi tidak teraba,
denyut jantung tidak tidak terdengar, tidak ada gerak pernapasan dan suara nafas tidak terdengar
pada auskultasi.
________________________________________________________________________________
Alamat korespondensi:
Kristali, F-8 (10-2010-358). Mahasiswa fakultas kedokteran UKRIDA jl. Arjuna utara. Email:
hb_13@ymail.com

Mati suri (suspended animation, apparent death) adalah terhentinya ketiga sistim kehidupan
di atas yang ditentukan dengan alat kedokteran sederhana. Dengan peralatan kedokteran canggih
masih dapat dibuktikan bahwa ketiga ketiga system tersebut masih berfungsi, Mati suri sering
ditemukan pada kasus keracunan bat tidur, tersengat aliran listrik dan tenggelam.
Mati seluler (mati molekuler) adalah kematian organ atau jaringan tubuh yang timbul
beberapa saat setelah kematin somatic. Daya tahan hidup masing-masing organ atau jaringan
berbeda-beda, sehingga terjadinya kematian seluler pada tiap organ atau jaringan tidak bersamaan.
Mati serebral adalah kerusakan kedua hemisfer otak yang irreversible kecuali batang otak
dan serebelum, sedangkan kedua system ainnya yaitu system pernafasan dan kardiovaskular masih
berfungsi dengan alat bantuan.
Mati otak (mati batang otak) adalah bila telah terjadi kerusakan seluruh isi neuronal
intracranial yang irreversible, termasuk batang otak dan serebelum. Dengan diketahuinya mati otak
(mati batang otak) maka dapat dikatakan seseorang secara keseluruhan tidak dapat dinyatakan hidup
lagi, sehingga alat Bantu dapat dihentikan.
Kematian adalah proses yang dapat dikenal secara klinis pada seseorang berupa tanda
kematian, yaitu perubahan yang terjadi pada tubuh mayat. Perubahan tersebut dapat timbul dini
pada saat meninggal atau beberapa menit kemudian, misalnya kerja jantung dan peredaran darah
berhenti, pernafasan berhenti, refleks cahaya dan refleks kornea mata hialng, kulit pucat dan
telaksasi otot. Setelah beberapa waktu timbul perubahan pascamati yang jelas yang memungkinkan
diagnosis kematian lebih pasti. Tanda-tanda tersebut dikenal dengan tanda pasti kematian berupa
lebam mayat (hipostasis atau lividitas pasca-mati), kaku mayat (rigor mortis), penurunan suhu
tubuh, pembususkan mumifikasi dan adiposera.1
A. Tanda kematian tidak pasti1,2
1. Pernafasan berhenti, dinilai selama lebih dari 10 menit (inspeksi, palpasi, auskultasi)
2. terhentinya sirkulasi, dinilai selama 15 menit, nadi karotis tidak teraba.
3. kulit pucat, tetapi bukan merupakan tanda yang dapat dipercaya, karena mungkin terjadi
spasme agonal sehingga wajah tampak kebiruan.
4. Tonus otot menghilang dan relaksasi. Relaksasi dari otot-otot wajah menyebabkan kulit
menimbul sehingga kadang-kadangmembuat orang menjadi tampak lebih muda. Kelemasan
otot sesaat setelah kematian disebut relaksai primer. Hal ini mengakibatkan pendataran

daerah-daerah yang tertekan, misalnya daerah belikat dan bokong pada mayat yang
terlentang.
5. Pembuluh darah retina mengalami segmentasibeberapa menit setelah kematian. Segmensegmen tersebut bergerak ke arah tepi retina dan kemudian menetap.
6. Pengeringan kornea menimbulkan kekeruhan dalam waktu 10 menit yang masih dapat
dihilangkan dengan memeteskan air.
B. Tanda pasti kematian2
a. Lebam Mayat (livor mortis)
Setelah kematian klinis maka eritrosit akan menempati tempat terbawah akibat gaya tarik
bumi (gravitasi), mengisi vena dan venula, membentuk beercak warna merah ungu (livide) pada
bagian terbawah tubuh, kecuali pada bagian tubuh yang tertekan alas keras. Darah tetap cair
karena adanya aktivitas fibinolisin yang berasal dari endtel pembuluh darah. Lebam mayat
biasanya mulai tampak 20-30 menit setelah mati, dan intensitas nya bertambah setelah 8-12 jam.
Sebelum itu, lebam mayat masih hilang (pucat) pada penekanan dan berpindah jika posisi mayat
diubah. Memucatnya lebam akan lebih lengkap apabila penekanan perubahan posisi dilakukan 6
jam setelah mati klinis. Setelah 24 jam, darah masih cukup cair untuk membentuk lebam mayat.
Kadang dijumpai bercak perdarahan berwarna biru kehitaman akibat pecahnya pembuluh darah.
Lebam mayat digunakan untuk tanda pasti kematian, memperkirakan sebab kematian,
misalnya lebam berwarna merah terang pada keracunan CO atau CN, warna kecoklatan pada
keracunan aniline, nitrit, nitrat, sulfonal; mengetahui perubahan psoisi mayat yang dilakukan
setelah terjadinya lebam mayat dan memperkirakan saat kematian. Apabila lebam mayat
terlentang yang telah timbul lebam mayat belum menetap dilakukan perubahan posisi menjadi
telungkup, maka setelah beberapa saat akan terbentuk lebam mayat baru di daerah dada dan
perut. Lebam mayat yang belum menetap atau masih hilang pada penekanan menunjukkan saat
kematian kurang dari 8-12 jam sbelum saat pemeriksaaan. Bila pada trauma, daerah tersebut
dilakukan irisan dan kemudian disiram dengan air, maka warna merah darah akan hilang atau
pudar pada lebam mayat, sedangkan pada resapan darah tidak menghilang.
b.Kaku Mayat (rigor mortis)
Kaku mayat dibuktikan dengan memeriksa persendian. Kaku mayat mulai tampak kira-kira
2 jam setelah mati klinis, dimulai dari bagian tubuh luar (otot-otot kecil) kearah dalam
(sentripental). Teori lama menyebutkan bahwa kaku mayat ini menjalar kraniokaudal. Setelah
mati klinis 12 jam dan kemudian menghilang dalam urutan yang sama. Kaku mayat umumnya

tidak disertai pemendekan serabut otot, tetapi jika sebelum terjadi kaku mayat otot berada dalam
posisi teregang, maka saat kaku mayat terbentuk akan terjadi pemendekan otot. Faktor-faktor
yang mempercepat terjadinya kaku mayat adalah aktivitas fisik sebelum mati, suhu tubuh yang
tinggi, bentuk tubuh kurus dengan otot-otot kecil dan suhu lingkungan tinggi.
Kaku mayat dapat dipergunakan untuk menunjukkan tanda pasti kematian dan
memperkirakan saat kematian. Terdapat kekauan pada mayat yang menyerupai kaku mayat:2
1. Cadaveric spasm (instantaneuous rigor), adalah bentuk kekauan otot yang terjadi pada
saat kematian dan menetap tanpa didahului relaksasi primer.Cadaveric spasm jarang
terjadi, penyebabnya adalah akibat habisnya cadangan glikogen dan ATP yang bersifat
setempat pada mati klinis karena kelelahan atau emosi yang hebat sesaat sebelum
meninggal. Kepentingannya adalah menunjukkan sikap terakhir masa hidupnya.
Misalnya tangan yang menggenggam erat benda dan meraihnya pada kasus tenggelam.
2. Heat stiffening, adalah kekakuan otot akibat koagulasi protein otot oleh panas. Otot
berwana merah muda, kaku, tetapi rapuh (mudah robek). Keadaan ini dapat ditemukan
pada korban mati terbakar. Serabut-serabut ototnya memendek sehingga menimbulkan
fleksi leher, siku, paha dan lutut, membentuk sikap petinju (pugilistic attitude).
3. Cold stiffening, adalah kekakuan otot akibat lingkungan dingin,terjadi pembekuan cairan
tubuh, cairan sendi, pemadatan jaringan lemak subkutan dan otot.
c. Penurunan Suhu tubuh (algor mortis)2
Penurunan suhu tubuh terjadi karena proses pemindahan panas dari suatu ke benda ke benda
yang lebih dingin, melalui cara radiasi, konduksi, evaporasi dan konveksi. Penelitian akhir-akhir
ini cenderung untuk memperkirakan saat kematian melalui pengukuran suhu tubuh pada
lingkungan yang menetap di TKP. Caranya adalah dengan melakukan 4-5 kali penentuan suhu
rectal dengan interval waktu yang sama (minimal 15 menit). Suhu lingkungan diukur dan
dianggap konstan karena factor-faktor lingkungan dibuat menetap, sedangkan suhu saat mati
dianggap 37 derajat celcius bila tidak ada penyakit demam. Penelitian menunjukkan bahwa
perubahan suhu lingkungan yang kurang dari 2 derajat Celcius tidak mengakibatkan perubahan
yang bermakna.
d. Pembusukan (decomposition, putrefaction)
Proses degradasi jaringan yang terjadi akibat autolisis dan kerja bakteri. Autolisis adalah
pelunakan dan pencairan jaringan yang terjadi dalam keadaan steril. Autolisis timbul akibat
kerja digestif oleh enzim yang dilepaskan sel pascamati dan hanya dapat dicegah dengan

pembekuan jaringan. Setelah seseorang meninggal, bakteri yan ghidup dalam tubuh segera
masuk ke dalam jaringan. Darah merupakan media terbaik bagi bakteri tersebut untuk
bertumbuh. Sebagian besar bakteri berasal dari usus dan yang terutama adalah Clostridium
welchii. Pada proses pembusukan ini terbentuk gas-gas alkana, H2S dan HCN, serta asam
amino dan asam lemak.
Pembusukan baru terjadi kira-kira 24 jam pasca mati berupa warna kehijauan pada perut
kanan bawah, yaitu daerah sekum yang isinya lebih cair dan penuh dengan bakteri serta terletak
dekat dinding perut. Warna kehijauan ini disebabkan oleh terbentuknya sulf-met-hemoglobin.
Secara bertahap warna kehijauan ini akan menyebar ke seluruh perut dan dada, dan bau
busukpun mulai tercium. Pembuluh darah bawah kulit akan tampak seperti melebar dan
berwarnna hijau kehitaman. Selanjutnya kulit ari akangnya perut dan keluarnyaan terkelupas
atau membentuk gelembung berisi cairan kemerahan berbau busuk.
Pembentukan gas di dalam tubuh, dimulai di dalam lambung dan usus, akan mengakibatkan
tegangnya perut dan keluarnya cairan kemerahan dari mulut dan hidung. Gas yang terdapat di
dalam jaringan dinding tubuh akan mengakibatkan terabanya derik (krepitasi). Tubuh berada di
dalam sikap petinju (pugilistic attitude) akibat terkumpulnya gas pembusukan di dalam rongga
sendi. Rambut menjadi mudah dicabut dan kuku mudah terlepas, wajah menggembung dan
berwarna ungu kehijauan, kelopak mata membengkak, pipi tembem, bibir tebal, lidah
membengkak dan sering terjulur diantara gigi.
Luka akibat gigitan binatang pengerta khas berupa lubang-lubang dangkal dengan tepi
bergerigi. Larva lalat akan dijumpai setelah pembentukan gas pembusukan nyata, yaitu kira-kira
36-48 jam pasca mati. Telur lalat akan menetas menjadi larva dalam waktu 24 jam. Dengan
identifikasi spesies dan mengukur panjang larva, maka dapat diketahui usia larva tersebut yang
dapat dipergunakan untuk memperkirakan saat mati.
Alat dalam tubuh akan mengalami pembusukan dengan waktu yang berbeda. Perubahan
warna terjadi pada lambunng terutama di daerah fundus, usus, menjadi ungu kecoklatan.
Mukosa saluran nafas menjadi kemerahan, endokardium dan intima pembuluh darah juga
kemerahan, akibat hemolisis darah. Difusi empedu dari kandung empedu mengakibatkan warna
coklat kehijauan di jaringan sekitarnya. Tak melunak,hati menjadi berongga seperti spons,limpa
melunak dan mudah robek. Kemudian alat-alat dalam akan mengerut. Prostat dan uterus non
gravid merupakan organ padat yang paling lama bertahan terhadap perubahan pembusukan.

Pembusukan akan timbul lebih cepat bila suhu keliling optimal (26.5 derajat celcius hingga
sekitar suhu normal tubuh), kelembapan udara yang cukup, banyak bakteri pembusuk, tubuh
gemuk atau menderita penyakit infeksi dan sepsis. Media tempat mayat terdapat juga berperan.
Mayat yang terdapat di udara akan lebih cepat membusuk dibandingkan dengan yang terdapat
dalam air atau daam tanah.
e. Adiposera (lilin mayat)
Adiposera adalah terbentuknya bahan yang berwarna keputihan, lunak atau berminyak
berbau tengik yang terjadi di dalam jaringan lunak tubuh pasca mati. Adiposera terutama terdiri
dari asam-asam lemak tidak jenuh dari hidrolisis lemak. Adiposera dapat terbentuk di sebarang
lemak tubuh, bahkan di dalam hati, yang pertamakali terkena adalah lemak superficial.
Perubahan bentuk berupa bercak pada pipi, payudara atau bokong, bagian tubuh atau
ekstremitas. Adiposera akan membuat gambaran permukaan luar tubuh dapat bertahan hingga
bertahuntahun, sehingga identifikasi mayat dan perkiraan sebab kematian masih dimungkinkan.
Pembusukan akan terhambat oleh adanya adiposera, karena derajat keasaman dan dehidrasi
jaringan bertambah.
f. Mummifikasi
Merupakan proses penguapann cairan atau dehidrasi jaringan yang cukup cepat sehingga
terjadi pengeringan jaringan yang selanjutnya dapat menghentikan pembusukan. Jaringan
berubah menjadi keras dan kering, berwarna gelap, berkeriput dan tidak membusuk karena
kuman tidak dapat berkembang pada lingkungan yang kering. Mummifikasi terjadi bila suhu
hangat, kelembapan rendah, aliran udara yang baik, tubuh yang dehidrasi dan waktu yang lama
(12-14 minggu). Mummifikasi jarang dijumpai pada cuaca yang normal.

Cara mati
Cara kematian adalah macam kejadian yang menimbulkan penyebab kematian. Bila
kematian terjadi akibat suatu penyakit semata-mata maka cara kematian adalah wajar (natural
death). Bila kematian terjadi akibat cedera atau luka, atau pada seseorang yang semula telah
mengidap suatu penyakit,kematiannya dipercepat oleh adanya cedera atau luka, maka kematian
demikian adalah kematian tidak wajar (unnatural death). Kematian tidak wajar ini dapat terjadi
sebagai akibat kecelakaan, bunuh diri, atau pembunuhan.

Sebab mati
Penyebab kematian adalah penyakit atau cedera/luka yang bertanggung jawab atas
terjadinya kematian.
Luka Akibat Kekerasan Benda Tajam
Benda-benda yang dapat mengakibatkan luka dengan sifat luka seperti ini adalah benda
yang memiliki sisi tajam, baik berupa garis maupun runcing, yang bervariasi dan alat-alat seperti
pisau, golok dan sebagainya hingga keeping kaca, gelas, logam, sembilu bahkan teppi kertas atau
ruput.
Gambaran umum luka yang diakibatkannya adalah tepi dan dinding luka yang rata,
berbentuk garis, tidak terdapat jembatan jaringan dan dasar luka berbentuk garis atau titik. Luka
akibat kekerasan benda tajam dapat berupa luka iris atau sayat, luka tusuk dan luka bacok.
Selain gambaran umum luka tersebut di atas, luka iris atau sayat dan luka bacok mempunyai
kedua sudut luka lancip dan dalam luka tidak melebihi panjang luka. Sudut luka yang lancip dapat
terjadi dua kali pada tempat yang berdekatan akibat pergeseran senjata sewaktu ditarik atau akibat
bergeraknya korban. Bila dilakukan gerak memutar, luka yang dihasilkan tidak selalu berupa garis.
Pada luka tusuk, sudut luka dapat memperkirakan benda yang menyebabkannya. Bila satu
sudut luka lancip dan yang lain tumpul, berarti penyebabnya adalah benda tajam bermata satu.
Benda tajam bermata satu dapat menyebabkan dua sudut uka lancip,apabila hanya bagian ujung
benda saja yang menyentuh kulit. Bila kedua sudut luka lancip, luka tersebut dapat disebabkan oleh
benda tajam bermata dua. Kulit disekitar luka kekerasan tajam biasanya tidak menunjukkan luka
lecet atau luka memar kecuali bila bagian gagang turut membentur kulit. Umumnya luka akibat
kekerasan benda tajam pada kasus pembunuhan, bunuh diri atau kecelakaan memiliki ciri-ciri
berikut:
Lokasi Luka
Jumlah Luka
Pakaian
Luka Tangkis
Luka Percobaan
Cedera Sekunder

Pembunuhan
Sembarang
Banyak
Terkena
Ada
Tidak ada
Mungkin ada

Bunuh Diri
Terpilih
Banyak
Tidak terkena
Tidak
Ada
Tidak ada

Kecelakaan
Terpapar
Tunggal/banyak
Terkena
Tidak ada
Tidak ada
Mungkin ada

Ciri-ciri tersebut dijumpai pada kasus pembunuhan dengan perkelahian. Tetapi bila tanpa
perkelahian mungkin luka terdapat pada bagian fatal dan dapat tunggal.

Luka tangkis ditemukan akibat perlawanan korban, dan biasanya terdapat pada telapak
tangan dan punggung tangan, jari-jari tangan, punggung lengan bawah dan tungkai. Pemeriksaan
pakaian pada tubuh korban dapat digunakan untuk melihat interaksi pisau-kain-tubuh, dengan
memperhatikan letak/lokasi, bentuk robekan, adanya partikel besi, serat kain dan pemeriksaan
terhadap bercak darahnya.
Pada kasus bunuh diri, luka biasanya terdapat pada tempat yang cepat mematikan, seperti
leher, dada kiri, pergelangan tangan, perut (hara-kiri). Dan lipat paha. Lokasi kekerasan benda tajam
tentunya terdapat pada tempat yang terjangkau oleh tangan korban, serta biasanya tidak menembus
pakaian yang dikenakan karena sebelumnya korban mungkin telah menyingkap pakaiannya. Luka
percobaan khas pada kasus bunuh diri akibat gangguan kejiwaan krban, luka percobaan dapat
berupa luka sayat atau luka tusuk yang dilakukan berulang dan biasanya sejajar.

Mekanisme mati
Mekanisme kematian adalah gangguan fisiologik dan atau biokimiawi yang ditimbulkan
oleh penyebab kematian sedemikian rupa sehingga seseorang tidak dapat terus hidup.
Waktu Perkiraan Mati
Beberapa perubahan yang dapat digunakan untuk memperkirakan saat mati:
1. Perubahan pada mata.
Bila mata terbuka pada atmosfer yang kering, sclera di kiri-kanan kornea akan berwarna
kecoklatan dalam waktu beberapa jam berbentuk segitiga dengan dasar di tepi kornea (taches noires
sclerotiques). Kekeruhan kornea terjadi lapis demi lapis. Kekeruhan yang terdapat pada lapisan luar
masih dapat dihilangkan dengan meneteskan air. Kekeruhan yang menetap terjadi sejak kira-kira 6
jam pasca mati.Kira-kira 10-12 jam pasca mati dalam beberapa jam saja fundus tidak tampak jelas.
Setelah kematian distorsi pupil pada penekanan bola mata. Tidak ada hubungan diameter pupil
dengan lama mati.
Perubahan pada retina dapat menunjukkan saat kematian hingga 15 jam pasca mati. Hingga
30menit pasca mati terjadi kekeruhan macula dan mulai memucatnya discus optikus. Kemudian
hingga 1 jam pasca mati, macula lebih pucat dan tepinya tidak tajam lagi. Selama 2 jam pertama
pasca mati, retina pucat dan daerah sekitar discus menjadi kuning. Warna kuning juga tampak
disekitar macula yang menjadi lebih gelap. Pada saat itu pola vascular koroid yang tampak sebagai
bercak-bercak dengan latar belakang merah dengan pola segmentasi yang jellas, tetapi pada kirakira 3 jam pasca mati menjadi kabur dan setelah 5 jam menjadi homogen dan lebih pucat.

Pada kira-kira 6 jam pasca mati, batas discus kabur dan hanya pembuuh-pembuluh besar
yang megalami segmentasi yang dapat dilihat dengan latar belakang kuning-kelabu. Dalam waktu
7-10 jam pasca mati akan mencapai tepi retina dan batas discus akan sangat kabur. Pada 12 jam
pasca mati discus hanya dapat dikenali dengan adanya konvergensi beberapa segmen pembuluh
darah yang tersisa. Pada 15 jam pasca mati tidak ditemukan lagi gambaran pembuluh darah retina
dan discus, hanya macula saja yang berwarna coklat gelap.
2. Perubahan dalam lambung.
Kecepatan pengosongan lambung sangat bervariasi, sehingga tidak dapat digunakan untuk
memberikan petunjuk pasti waktu antara makan terakhir dan saat mati. Namun keadaan lambung
dan isinya dapat membantu dalam membuat keputusan, dengan menemukan makanan tertentu,
dapat menyimpulkan korban sebelum meninggal mengkonsumsi makanan tersebut.
3. Perubahan rambut.
Kecepatan tumbuh rambut rata-rata 0,4 mm/hari, panjang rambut kumis dan jenggot dapat
dipergunakan untuk memerkirakan saat kematian,apabila diketahui kapan terakhir ia mencukur.
4. Pertumbuhan kuku.
Pertumbuhan kuku sekitar 0,1 mm per hari dapat digunakan untuk memperkirakan kematian
sejak kuku terakhir kali dipotong.
5. Perubahan dalam cairan serebrospinal.
Kadar nitrogen asam amino kurang dari 14 mg% menunjukkan kematian belum lewat 10
jam, kadar nitrogen non-protein kurang dari 80 mg% menunjukkan kematian belum 24 jam,kadar
keratin kurang dari 5 mg% dan 10mg% masing-masing menunjukkan kematian sebelum mencapai
10 jam dan 30 jam.
6. Dalam cairan vitreus terjadi peningkatan kadar Kalium yang cukup akurat untuk memperkirakan
saat kematian antara 24 hingga 100 jam pascamati.
7. Kadar semua komponen darah berubah setelah kematian, sehingga analisersebis darah pasca mati
tidak memberikan gambaran konsentrasi zat-zat tersebut semasa hidupnya. Perubahan tersebut
diakibatkan oleh aktivitas enzim dan bakteri, serta gangguan permebealitas dari sel yang telah mati.
Selain itu gangguan fungsi tubuh selama proses kematian dapat menimbulkan perubahan dalam

darah bahkan sebelum kematian itu terjadi. Hingga saat ini belum ditemukan perubahan dalam
darah yang dapat digunakan untuk memperkirakan saat mati dengan lebih tepat.
8. Reaksi supravital, yaitu reaksi jairngan tubuh sesaat pasca mati klinis yang masih sama seperti
reaksi jaringan tubuh pada seseorang yang hidup. Beberapa uji dapat dilakukan terhadap mayat
yang masih segar, misalnya rangsang listrik masih dapat menimbulkan kontraksi otot mayat hingga
90-120 menit pasca mati dan mengakibatkan sekresi kelenjar keringat sampai 60-90 menit pasca
mati, sedangkan trauma masih dapat menimbulkan perdarahan bawah kulit sampai 1 jam pasca
mati.
Asfiksia mekanik meliputi peristiwa pembekapan, penyumbatan, pencekikan, penjeratan
dan gantung serta penekanan pada dinding dada. Pada pemeriksaan mayat, umumnya kan
ditemukan tanda kematian akibat asfiksi berupa lebammayat yang gelap dan luas, perbendungan
pada bola mata, busa halus pada lubang hidung, mulut dan saluran pernafasan, perbendungan pada
alat-alat dalam serta bintik perdarahan Tardieu.3,4
a. Mati akibat pencekikan
Pada korban pencekikan, kulit daerah leher menunjukkan tanda-tanda kekerasan yang
ditimbulkan oleh ujung jari atau kuku berupa luka memar dan luka lecet jenis tekan. Pada
pembedahan akan ditemukan pula tanda kekerasan berupa resapan bawah kulit daerah leher serta
otot atau alat leher. Tulang lidah kadang-kadang ditemukan patah unilateral.
b. Mati akibat penjeratan
Pada kasus penjeratan, kadangkala masih ditemukan jerat pada leher korban. Jerat harus
diperlakukansebagai barang bukti dan dilepaskan dari leher korban dengan jalan menggunting
secara miring pada jerat, di tempat yang paling jauh dari simpul, sehingga simpul pada jerat tetap
utuh. Pada kasus penjeratan, jerat biasanya berjalan horizontal/mendatar dan letaknya rendah. Jerat
ini meninggalkan jejas jerat berupa luka lecet jenis tekan yang melingkari leher. Catat keadaan jejas
jerat dengan teliti, dengan menyebutkan arah, lebar, serta letak jerat yang tepat. Perhatikan apakah
jejas jerat menunjukkan pola (pattern) tertentu yang sesuai dengan permukaan jerat yang
bersentuhan dengan kulit leher.
Pada umumnya dikatakan simpul mati ditemukan pada kasus pembunuhan, sedangkan
simpul hidup ditemukan pada kasus bunuh diri. Namun perkecualian selalu terjadi.

Aspek medikolegal
Prosedur medikolegal
I. Kewajiban Dokter Membantu Peradilan
Pasal 133 KUHAP
(1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka,
keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia
berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau
dokter dan atau ahli lainnya.
(2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis,
yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat
dan atau pemeriksaan bedah mayat.
(3) Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit harus
diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi
label yang memuat identitas mayat, dilak dengan cap jabatan yang dilekatkan pada ibu jari
kaki atau bagian lain badan mayat.3
Penjelasan Pasal 133 KUHAP
(2) Keterangan yang diberikan oleh ahli kedokteran kehakiman disebut keterangan ahli,
sedangkan keterangan yang diberikan oleh dokter bukan ahli kedokteran kehakiman disebut
keterangan.
Pasal 179 KUHAP
(1) Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau
ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.
(2) Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang memberikan
keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan sumpah atau janji akan
memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya menurut pengetahuan
dalam bidang keahliannya.5
II. Bentuk Bantuan Dokter Bagi Peradilan Dan Manfaatnya
Pasal 183 KUHAP
Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan sekurangkurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana
benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannnya.

Pasal 184 KUHAP


(1) Alat bukti yang sah adalah:
a. Keterangan saksi
b. Keterangan ahli
c. Surat
d. Pertunjuk
e. Keterangan terdakwa
(2) Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan.
Pasal 186 KUHAP
Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan.
Pasal 180 KUHAP
(1) Dalam hal diperlukan untuk menjernihkan duduknya persoalan yang timbul di sidang
pengadilan, Hakim ketua sidang dapat minta keterangan ahli dan dapat pula minta agar
diajukan bahan baru oleh yang berkepentingan.
(2) Dalam hal timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa atau penasihat hukum terhadap hasil
keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Hakim memerintahkan agar hal itu
dilakukan penelitian ulang.
(3) Hakim karena jabatannya dapat memerintahkan untuk dilakukan penelitian ulang sebagaimana
tersebut pada ayat (2).
(4) Penelitian ulang sebagaimana tersebut pada ayat (2) dan ayat (3) dilakukan oleh instansi
semula dengan komposisi personil yang berbeda dan instansi lain yang mempunyai wewenang
untuk itu.
III.Sangsi Bagi Pelanggar Kewajiban Dokter
Pasal 216 KUHP
(1) Barang siapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut
undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat berdasarkan
tugasnya. Demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana;
demikian

pula

barangsiapa

dengan

sengaja

mencegah,

menghalang-halangi

atau

menggagalkan tindakan guna menjalankan ketentuan, diancam dengan pidana penjara paling
lama empat bulan dua minggu atau denda paling banyak sembilan ribu rupiah.
(2) Disamakan dengan pejabat tersebut di atas, setiap orang yang menurut ketentuan undangundang terus-menerus atau untuk sementara waktu diserahi tugas menjalankan jabatan umum.
(3) Jika pada waktu melakukan kejahatan belum lewat dua tahun sejak adanya pemidanaan yang
menjadi tetap karena kejahatan semacam itu juga, maka pidanya dapat ditambah sepertiga.3

Pasal 222 KUHP


Barang siapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan pemeriksaan
mayat untuk pengadilan, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau
pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.
Pasal 224 KUHP
Barang siapa yang dipanggil menurut undang-undang untuk menjadi saksi, ahli atau
jurubahasa, dengan sengaja tidak melakukan suatu kewajiban yang menurut undang-undang ia
harus melakukannnya:
1. Dalam perkara pidana dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 9 bulan.
2. Dalam perkara lain, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 6 bulan.
Pasal 522 KUHP
Barang siapa menurut undang-undang dipanggil sebagai saksi, ahli atau jurubahasa, tidak
datang secara melawan hukum, diancam dengan pidana denda paling banyak sembilan ratus
rupiah.
Aspek Hukum
Pasal 338 KUHP
Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan,
dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
Pasal 339 KUHP
Pembunuhan yang diikuti, disertai atau didahului oleh suatu perbuatan pidana, yang dilakukan
dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah pelaksanaannya, atau untuk
melepaskan diri sendiri maupun peserta lainnya dari pidana dalam hal tertangkap tangan,
ataupun untuk memastikan penguasaan barang yang diperolehnya secara melawan hukum,
diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua
puluh tahun.
Pasal 340 KUHP
Barang siapa dengan sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain,
diancam, karena pembunuhan dengan rencana (moord), dengan pidana mati atau pidana
penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh lima tahun.
Pasal 351 KUHP

(1) Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau
pidana denda paling banyak 4500 rupiah.
(2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam dengan pidana penjara
paling lama lima tahun.
(3) Jika mengakibatkan mati, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.
(4) Dengan penganiayaan disamakan sengaja merusak kesehatan.
(5) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.
Pasal 354 KUHP
(1) Barang siapa dengan sengaja melukai berat orang lain, diancam, karena melakukan
penganiayaan berat, dengan pidana penjara paling lama delapan tahun.
(2) Jika perbuatan mengakibatkan mati, yang bersalah dikenakan pidana penjara paling lama
sepuluh tahun.5
Pemeriksaaan mayat
Pemeriksaan mayat berperan dalam identifikasi jenazah yang tidak dikenal, jenazah yang
telah membusuk, rusak hangus terbakar. Penentuan identitas personal dapat menggunakan metode
berikut ini, antara lain:
a. Pemeriksaan Sidik Jari
Membandingkan gambaran sidik jari jenazah dengan data sidik jari ante mortem. Dengan
demikian harus dilakukan penanganan yang sebaik-baiknya terhadap jari tangan jenazah untuk
pemeriksaan sidik jari.
b. Metode Visual
Cara ini hanya efektif terhadap mayat yang belum membusuuk sehingga masih mungkin
dikenali wajah dan bentuk tubuhnya dengan memperlihatkan jenazah kepada orang-orang yang
merasa kehilangangan anggota keluarga atau teman.
c. Pemeriksaan Dokumen
Pemeriksaan karti identifikasi (KTP, SIM, Paspor dan sebagainya) yang ditemukan pada
korban jenazah.
d. Pemeriksaan Pakaian dan perhiasan
Dari pakaian dan perhiasan, mungkin dapat dikenali merk atau ukuran, inisial nama atau
badge yang dapat membantu proses identifikasi.
e. Identifikasi Medik
Menggunakan data tinggi badan, berat badan, warna rambut, warna mata, cacat/kelainan
khusus, tattoo/rajah. Melalui metode ini diperoleh data tentang jenis kelamin, ras, perkiraan

umur dan tinggi badan kelainan pada tulang dan sebagainya.


f. Pemeriksaan Gigi
Meliputi pencatatan data gigi (odontogram) dan rahang yang dapat dilakukan dengan
menggunakan pemeriksaan manual, sinar-X dan pencetakan gigi serta rahang. Odontogram
memuat data tentang jumlah, bentuk,susunan, tambalan, protesa gigi dan sebagainya. Setiap
individu meiliki susunan gigi yang khas. Dengan demikian dapat dilakukan perbandingan
dengan data ante mortem.
g. Pemeriksaan Serologik
Bertujuan untuk menentukan golonga darah jenazah. Pada jenazah yang sudah membusuk
dapat dilakukan dengan memeriksa rambut,kuku dan tulang.
Visum Et Repertum
Bagian Ilmu Kedokteran Forensik
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta Barat 11510
Nomor: 7891-SK.IV/1234/3-96

Jakarta, 5 Desember 2013

Lamp : Satu sampul tersegel----------------------------------------------------------------------------Perihal: Hasil Pemeriksaan Pembedahan---------------------------------------------------------------atas jenasah Tn. X---------------------------------------------------------------------------PROJUSTITIA
Visum Et Repertum
Yang bertanda tangan di bawah ini, Devita, dokter ahli kedokteran forensik pada Bagian
Ilmu Kedokteran Forensik FakultasKedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jakarta,
menerangkan bahwa atas permintaan tertulis dari Kepolisian Resort Polisi Jakarta Barat No.Pol:
C/456/VR/XIV/96/Serse tertanggal 1 Desember 2013, maka pada tanggal satu desember dua ribu
dua belas, pukul dua puluh lewat tiga puluh menit Waktu Indonesia bagian Barat, bertempat di
ruang bedah jenazah Bagian Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana telah
melakukan pemeriksaan atas jenazah yang menurut surat permintaan tersebut adalah:
Nama

: X-----------------------------------------------------------------------------

Jenis Kelamin : Laki-laki------------------------------------------------------------------------Umur

35

tahun-------------------------------------------------------------------------

Kebangsaan : Indonesia-----------------------------------------------------------------------Agama

: Budha----------------------------------------------------------------------------

Pekerjaan

: ----------------------------------------------------------------------------

Alamat

: Jl.Subur-------------------------------------------------------------------------

Mayat telah diidentifikasi dengan sehelai label berwarna merah muda, dengan material lak merah,
terikat pada ibu jari kaki kanan-----------------------------------------Hasil Pemeriksaan
I. Pemeriksaan Luar.
1. Mayat tidak terbungkus--------------------------------------------------------------------------------2. Mayat berpakaian sebagai berikut--------------------------------------------------------------------a. Kaos oblong lengan panjang bahan katun warna putih, tidak bermerek. Kaus berlumuran
darah pada bagian ketiak sebelah kiri. Pada daerah ketiak sebelah kiri, dua puluh sentimeter
di bawah jahitan bahu sebelah kiri dan delapan sentimeter dari garis pertengahan terdapat
robekan

berbentuk

garis

melintang

sepanjang

lima

sentimeter--------------------------------------b. Celana panjang berbahan jeans bermerek Levis warna hitam dengan satu buah saku
masing-masing pada sisi kanan dan kiri. Pada bagian atas kiri celana ini terdapat bercak
darah-------------------------------------------------------------------------------------------------------c. Celana dalam dari kaus berwarna biru tua dengan karet berwarna hitam-----------------3. Kaku mayat tidak ditemukan pada seluruh tubuh. Lebam mayat terdapat pada bagian wajah,
dada, dan tungkai, berwarna merah kebiruan-gelap, tidak hilang pada penekanan------4. Mayat adalah seorang laki-laki bangsa Indonesia, umur kurang lebih tiga puluh lima tahun, kulit
berwarna sawo matang, gizi sedang, panjang badan seratus enam puluh lima sentimeter dan berat
badan enam puluh dua kilogram dan zakar disunat---------------------------------------5. Rambut kepala berwarna hitam, tumbuh lebat lurus, panjang tiga belas sentimeter. Alis berwarna
hitam, tumbuh lebat. Bulu mata berwarna hitam, tubuh kurus, panjang enam milimeter. Kumis
berwarna hitam, tumbuh lebat dengan panjang delapan milimeter-----------6. Kedua mata terbuka masing-masing lima milimeter. Selaput bening mata keruh, kedua teleng
mata bundar dengan garis tengah lima milimeter. Tirai mata berwarna coklat. Selaput bola mata dan
selaput kelopak mata kanan dan kiri berwarna putih, tampak titik-titik perdarahan dan pelebaran
pembuluh darah------------------------------------------------------------7. Hidung berbentuk biasa. Kedua daun telinga berbentuk biasa-----------------------------------8. Mulut terbuka empat milimeter. Kedua bibir tampak tebal. Lidah terjulur keluar. Gigi geligi
lengkap tiga puluh dua buah----------------------------------------------------------------------9. Dari lubang hidung dan mulut keluar busa halus berwarna putih------------------------------10. Alat kelamin setengah terangkat---------------------------------------------------------------------

11. Pada tubuh terdapat luka-luka sebagai berikut:---------------------------------------------------a. Pada daerah ketiak sebelah kiri, dua puluh sentimeter di bawah bahu, delapan sentimeter
di kiri garis pertengahan badan depan, dan seratus dua puluh lima sentimeter dari tumit,
terdapat sebuah luka terbuka melintang, tepi dan dinding luka rata, kedua sudut luka lancip,
dasar luka berbentuk garis pada sela iga ke empat kiri yang terlihat terpotong melintang,
luka bila dirapatkan berbentuk garis lurus sepanjang sepuluh sentimeter. Kulit sekitar luka
tidak

menunjukkan

kelainan------------------------------------------------------------------------------------b. Pada daerah tungkai bawah pada bagian betis sebelah kanan, sepuluh sentimeter di bawah
lipat lutut, dua puluh sentimeter diatas tumit, terdapat sebuah luka terbuka melintang, tepi
dan dinding luka rata, kedua sudut luka lancip, dasar luka berbentuk garis, pada dasar luka
tampak oto-otot yang terpotong rata, bila dirapatkan berbentuk garis lurus sepanjang lima
sentimeter.

Kulit

sekitar

luka

tidak

menunjukkan

kelainan------------------------------------------c. Pada daerah tungkai bawah pada bagian betis sebelah kiri, lima sentimeter di bawah lipat
lutut, dua puluh lima sentimeter diatas tumit, terdapat sebuah luka terbuka melintang, tepi
dan dinding luka rata, kedua sudut luka lancip, dasar luka berbentuk garis, pada dasar luka
tampak oto-otot yang terpotong rata, bila dirapatkan berbentuk garis lurus sepanjang sepuluh
sentimeter.

Kulit

sekitar

luka

tidak

menunjukkan

kelainan------------------------------------------d. Pada leher terdapat luka lecet geser berwarna kuning kecoklatan dengan perabaan seperti
kertas perkamen dengan lebar jejas berukuran satu sentimeter, dengan batas depan tepat di
garis pertengahan depan tiga sentimeter daripada jakun, lapan sentimeter dibawah liang
telinga kanan, dan lapan sentimeter dibawah liang telinga kiri. Jejas menghilang pada garis
pertengahan

belakang

satu

sentimeter

diatas

batas

tumbuh

rambut

belakang---------------------12. Tidak terdapat patah tulang--------------------------------------------------------------------------II. Pemeriksaan dalam (bedah jenazah)


13. Jaringan lemak bawah kulit daerah dada dan perut berwarna kuning kecoklatan, tebal di daerah
dada lima milimeter sedangkan di daerah perut sebelas sentimeter. Otot-otot berwarna coklat dan
cukup tebal------------------------------------------------------------------------------------14. Sekat rongga badan sebelah kanan setinggi sela iga keempat dan yang kiri setinggi sela
igakelima----------------------------------------------------------------------------------------------------15. Pada sela iga kelima kiri, delapan sentimeter dari garis pertengahan depan terdapat luka
berbentuk garis lurus melintang sepanjang tiga setengah sentimeter--------------------------------

Iga lain serta tulang dada tidak menunjukkan kelainan----------------------------------------------16. Jaringan bawah kulit daerah leher dan otot leher terdapat resapan darah---------------------17. Kandung jantung tampak tiga jari di antara kedua tepi paru. Pada kandung jantung terdapat
bintik-bintik perdarahan------------------------------------------------------------------------Rongga dada tidak terdapat perdarahan. Paru kanan dan kiri cukup mengembang--------------18. Dinding rongga perut tampak licin, berwarna kelabu mengkilat. Pada lapisan mukosa terdapat
bintik-bintik perdarahan. Tirai usus tampak menutupi sebagian besar usus------------19. Lidah terjulur berwarna kelabu, perarbaan lemas, tidak terdapat bekas tergigit maupun resapan
darah. Tonsil tidak membesar dan penampangnya tidak menunjukkan kelainan. Kelenjar gondok
berwarna

coklat

merah,

tidak

membesar

dan

terdapat

bintik-bintik

perdarahan--------------------------------------------------------------------------------------------------20. Batang tenggorok dan cabangnya berisi sedikit darah dan busa. Selaput lendirnya berwarna
putih kemerahan dan tidak menunjukkan kelainan......................................................
21. Kerongkongan kosong, selaput lendirnya berwarna putih......................................................
22. Paru kanan terdiri dari tiga baga, berwarna kemerahan gelap dan perabaan seperti karet busa.
Penampang tampak paru-paru membengkak dan terdapat bintik-bintik perdarahan------Paru kiri terdiri dari dua baga, berwarna kemerahan gelap dan perabaan agak kenyal. Paru kiri
membengkak dan terdapat bintik-bintik perdarahan---------------------------------------------23. Jantung tampak sebesar tinju kanan mayat. Selaput luar jantung tampak licin, terdapat bintik
perdarahan------------------------------------------------------------------------------------------Katup jantung tidak menunjukkan kelainan. Lingkaran katup serambi bilik kanan sebelas sentimeter
sedangkan yang kiri sembilan setengah sentimeter. Lingkaran katup nadi paru sepanjang enam
setengah sentimeter dan katup batang nadi sepanjang enam sentimeter. Tebal otot bilik jantung
kanan empat milimeter dan yang kiri dua belas milimeter otot puting cukup tebal. Pembuluh nadi
jantung tidak tersumbat dan dindingnya tidak menebal. Sekat jantung tidak menunjukkan
kelainan------------------------------------------------------------------------------.
Berat jantung tiga ratus lima puluh gram--------------------------------------------------------------24. Hati berwarna coklat gelap, permukaannya rata, tepinya tajam, dan perabaan kenyal padat.
Penampang hati berwarna merah coklat dan gambaran hati tampak jelas. Berat hati adalah seribu
empat ratus gram--------------------------------------------------------------------------25. Kandung empedu berisi cairan berwarna hijau coklat, selaput lendirnya berwarna hijau seperti
beludru. Saluran empedu tidak menunjukkan penyumbatan--------------------------------26. Limpa berwarna merah gelap, permukaannya keriput dan perabaan lembek. Penampangnya
berwarna merah hitam dengan gambaran limpa jelas. Berat limpa dua ratus sepuluh
gram------------------------------------------------------------------------------------------------

27. Kelenjar liur perut berwarna putih kekuningan, permukaan menunjukkan belah-belah dan
penampangnya tidak menunjukkan kelainan. Berat kelenjar liur perut delapan puluh lima
gram---------------------------------------------------------------------------------------------------------28. Lambung berisi makanan yang setengah tercema terdiri dari nasi dan sayur. Selaput lendirnya
berwarna putih dan menunjukkan lipatan yang biasa, tidak terdapat kelainan. Usus dua belas jari,
usus halus, dan usus besar, pada dindingnya terdapat bintik-bintik perdarahan-29. Anak ginjal kanan berbentuk trapesium dan yang kiri berbentuk bulan sabit. ....................
Gambaran kulit dan sumsum jelas, tidak menunjukkan kelainan. Berat anak ginjal kanan delapan
gram dan yang kiri sembilan gram. ......................................................................
30. Ginjal kanan dan kiri bersimpai lemak tipis. Simpai ginjal kanan dan kiri tampak rata dan licin,
berwarna coklat dan mudah dilepas. Berat ginjal kanan sembilan puluh gram dan yang kiri seratus
gram. Penampang ginjal menunjukkan gambaran yang jelas, piala ginjal dan saluran kemih tidak
menunjukkan kelainan------------------------------------------------------------31. Kandung kencing berisi cairan berwarna kekuningan dan selaput lendirnya berwarna putih,
tidak menunjukkan kelainan----------------------------------------------------------------------32. Kulit kepala bagian dalam bersih, tulang tengkorak utuh, selaput keras otak tidak menunjukkan
kelainan. Terdapat bintik-bintik perdarahan di atas dan di bawah selaput keras otak. Permukaan otak
besar menunjukkan gambaran lekuk otak yang biasa, terdapat bintik perdarahan. Penampang otak
besar tidak menunjukkan kelainan. Otak kecil dan batang otak menunjukkan bintik perdarahan baik
pada permukaan maupun penampangnya-----------------33. Selanjutnya dapat ditentukan saluran luka pada ketiak sebelah kiri, menembus kulit, jaringan
bawah kulit, otot, dan tampak pembuluh darah ketiak kiri putus, dan beberapa luka terbuka daerah
tungkai bawah kanan dan kiri akibat kekerasan benda tajam dan posisi tubuh relatif mendatar serta
ditemukan jeratan pada leher oleh baju.....................................................
Kesimpulan
Pada mayat laki-laki ini ditemukan luka terbuka di daerah ketiak kiri yang memperlihatkan
pembuluh darah ketiak yang putus, dan beberapa luka terbuka daerah tungkai bawah kanan dan kiri
akibat kekerasan benda tajam dan posisi tubuh relatif mendatar serta ditemukan jeratan pada leher
menggunakan baju-----------------------------------------------Luka terbuka pada ketiak kiri menunjukkan ciri-ciri yang sesuai dengan tusukan benda
tajam bermata dua dan jeratan pada leher memberikan gambaran luka lecet geser------Sebab mati orang ini adalah terjadinya kekerasan penjeratan pada leher menyebabkan
terjadinya tekanan pada jalan napas sehingga mengakibatkan kekurangan oksigen untuk bernafas
yaitu asfiksia--------------------------------------------------------------------------------------

Demikianlah saya uraikan dengan sebenar-benarnya berdasarkan keilmuan saya yang


sebaik-baiknya mengingat sumpah sesuai dengan KUHAP-----------------------------------------Dokter yang memeriksa,
dr. Devita
Daftar Pustaka
1. Staf Pengajar Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Teknik autopsi forensik. Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, Jakarta, 2000.
2. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, Munim TWA, Hertian S, Sampurna B, et al. Ilmu
Kedokteran Forensik. Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Jakarta, 1997.
3. Sampurna B, Syamsu Z, Siswaja TD. Bioetik dan hukum kedokteran pengantar bagi
mahasiswa kedokteran dan hukum. Pustaka Dwipar, Jakarta, 2007.
4. Idries AM. Pedoman ilmu kedokteran forensik. Edisi 1. Binarupa Aksara, Jakarta, 1997.
5. Staf Pengajar Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Peraturan perundang-undangan bidang kedokteran. Bagian Kedokteran Forensik Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, 1994.