Anda di halaman 1dari 18

Pembunuhan Anak oleh Ibu Kandung

Kristali
102010358
B-4
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
SKENARIO 2
Sesosok mayat bayi baru lahir ditemukan di suatu tempat sampah. Masyarakat melaporkannya
kepada polisi. Mereka juga melaporkan bahwa semalam melihat seorang perempuan yang
menghentikan mobilnya di dekat sampah tersebut dan berada di sana cukup lama. Seorang dari
anggota masyarakat sempat mencatat nomor mobil perempuan tersebut.
Polisi mengambil mayat bayi tersebut dan menyerahkannya kepada anda sebagai dokter direktur
rumah sakit. Polisi juga mengatakan bahwa sebentar lagi si perempuan yang dicurigai sebagai
pelakunya akan dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa. Anda harus mengatur segalanya agar semua
pemeriksaan dapat berjalan dengan baik dan akan mem-briefing para dokter yang akan menjadi
pemeriksa.
ANAK
Thanatologi
Thanatologi mempelajari kematian dan perubahan yang terjadi setelah kematian serta faktor yang
mempengaruhi perubahan tersebut. Dalam tanatologi dikenal beberapa istilah tentang mati, yaitu
mati somatic, mati suri, mati seluler, mati serebral dan mati otak (mati batang otak). Mati somatic
(mati klinis) terjadi akibat terhentinya fungsi ketiga sistem penunjang kehidupan, yaitu susunan
saraf pusat, system kardiovaskular dan system pernafasan, yang menetap (irreversible). Secara
klinis tidak ditemukan reflkes-refleks, EEG mendatar, nadi tidak teraba, denyut jantung tidak tidak
terdengar, tidak ada gerak pernapasan dan suara nafas tidak terdengar pada auskultasi.
Mati suri (suspended animation, apparent death) adalah terhentinya ketiga sistim kehidupan di atas
yang ditentukan dengan alat kedokteran sederhana. Dengan peralatan kedokteran canggih masih
dapat dibuktikan bahwa ketiga ketiga system tersebut masih berfungsi.
________________________________________________________________________________
Alamat korespondensi:
Kristali, F-8 (10-2010-358). Mahasiswa fakultas kedokteran UKRIDA jl. Arjuna utara. Email:
hb_13@ymail.com

Mati seluler (mati molekuler) adalah kematian organ atau jaringan tubuh yang timbul beberapa saat
setelah kematin somatic. Daya tahan hidup masing-masing organ atau jaringan berbeda-beda,
sehingga terjadinya kematian seluler pada tiap organ atau jaringan tidak bersamaan.
Mati serebral adalah kerusakan kedua hemisfer otak yang irreversible kecuali batang otak dan
serebelum, sedangkan kedua system ainnya yaitu system pernafasan dan kardiovaskular masih
berfungsi dengan alat bantuan.
Mati otak (mati batang otak) adalah bila telah terjadi kerusakan seluruh isi neuronal intracranial
yang irreversible, termasuk batang otak dan serebelum. Dengan diketahuinya mati otak (mati batang
otak) maka dapat dikatakan seseorang secara keseluruhan tidak dapat dinyatakan hidup lagi,
sehingga alat Bantu dapat dihentikan.
Kematian adalah proses yang dapat dikenal secara klinis pada seseorang berupa tanda kematian,
yaitu perubahan yang terjadi pada tubuh mayat. Perubahan tersebut dapat timbul dini pada saat
meninggal atau beberapa menit kemudian, misalnya kerja jantung dan peredaran darah berhenti,
pernafasan berhenti, refleks cahaya dan refleks kornea mata hialng, kulit pucat dan telaksasi otot.
Setelah beberapa waktu timbul perubahan pascamati yang jelas yang memungkinkan diagnosis
kematian lebih pasti. Tanda-tanda tersebut dikenal dengan tanda pasti kematian berupa lebam mayat
(hipostasis atau lividitas pasca-mati), kaku mayat (rigor mortis), penurunan suhu tubuh,
pembususkan mumifikasi dan adiposera.1
A. Tanda kematian tidak pasti
1. Pernafasan berhenti, dinilai selama lebih dari 10 menit (inspeksi, palpasi, auskultasi)
2. terhentinya sirkulasi, dinilai selama 15 menit, nadi karotis tidak teraba.
3. kulit pucat, tetapi bukan merupakan tanda yang dapat dipercaya, karena mungkin terjadi spasme
agonal sehingga wajah tampak kebiruan.
4. Tonus otot menghilang dan relaksasi. Relaksasi dari otot-otot wajah menyebabkan kulit
menimbul sehingga kadang-kadangmembuat orang menjadi tampak lebih muda. Kelemasan otot
sesaat setelah kematian disebut relaksai primer. Hal ini mengakibatkan pendataran daerah-daerah
yang tertekan, misalnya daerah belikat dan bokong pada mayat yang terlentang.
5. Pembuluh darah retina mengalami segmentasibeberapa menit setelah kematian. Segmen-segmen
tersebut bergerak ke arah tepi retina dan kemudian menetap.
6. Pengeringan kornea menimbulkan kekeruhan dalam waktu 10 menit yang masih dapat
dihilangkan dengan memeteskan air.

B. Tanda pasti kematian2


a. Lebam Mayat (livor mortis)
Setelah kematian klinis maka eritrosit akan menempati tempat terbawah akibat gaya tarik bumi
(gravitasi), mengisi vena dan venula, membentuk beercak warna merah ungu (livide) pada bagian
terbawah tubuh, kecuali pada bagian tubuh yang tertekan alas keras. Darah tetap cair karena adanya
aktivitas fibinolisin yang berasal dari endtel pembuluh darah. Lebam mayat biasanya mulai tampak
20-30 menit setelah mati, dan intensitas nya bertambah setelah 8-12 jam. Sebelum itu, lebam mayat
masih hilang (pucat) pada penekanan dan berpindah jika posisi mayat diubah. Memucatnya lebam
akan lebih lengkap apabila penekanan perubahan posisi dilakukan 6 jam setelah mati klinis. Setelah
24 jam, darah masih cukup cair untuk membentuk lebam mayat. Kadang dijumpai bercak
perdarahan berwarna biru kehitaman akibat pecahnya pembuluh darah.
Lebam mayat digunakan untuk tanda pasti kematian, memperkirakan sebab kematian, misalnya
lebam berwarna merah terang pada keracunan CO atau CN, warna kecoklatan pada keracunan
aniline, nitrit, nitrat, sulfonal; mengetahui perubahan psoisi mayat yang dilakukan setelah terjadinya
lebam mayat dan memperkirakan saat kematian. Apabila lebam mayat terlentang yang telah timbul
lebam mayat belum menetap dilakukan perubahan posisi menjadi telungkup, maka setelah beberapa
saat akan terbentuk lebam mayat baru di daerah dada dan perut. Lebam mayat yang belum menetap
atau masih hilang pada penekanan menunjukkan saat kematian kurang dari 8-12 jam sbelum saat
pemeriksaaan. Bila pada trauma, daerah tersebut dilakukan irisan dan kemudian disiram dengan air,
maka warna merah darah akan hilang atau pudar pada lebam mayat, sedangkan pada resapan darah
tidak menghilang.
b.Kaku Mayat (rigor mortis)
Kaku mayat dibuktikan dengan memeriksa persendian. Kaku mayat mulai tampak kira-kira 2 jam
setelah mati klinis, dimulai dari bagian tubuh luar (otot-otot kecil) kearah dalam (sentripental). Teori
lama menyebutkan bahwa kaku mayat ini menjalar kraniokaudal. Setelah mati klinis 12 jam dan
kemudian menghilang dalam urutan yang sama. Kaku mayat umumnya tidak disertai pemendekan
serabut otot, tetapi jika sebelum terjadi kaku mayat otot berada dalam posisi teregang, maka saat
kaku mayat terbentuk akan terjadi pemendekan otot. Faktor-faktor yang mempercepat terjadinya
kaku mayat adalah aktivitas fisik sebelum mati, suhu tubuh yang tinggi, bentuk tubuh kurus dengan
otot-otot kecil dan suhu lingkungan tinggi.
Kaku mayat dapat dipergunakan untuk menunjukkan tanda pasti kematian dan memperkirakan saat

kematian. Terdapat kekauan pada mayat yang menyerupai kaku mayat:2


1. Cadaveric spasm (instantaneuous rigor), adalah bentuk kekauan otot yang terjadi pada saat
kematian dan menetap tanpa didahului relaksasi primer.Cadaveric spasm jarang terjadi,
penyebabnya adalah akibat habisnya cadangan glikogen dan ATP yang bersifat setempat pada mati
klinis karena kelelahan atau emosi yang hebat sesaat sebelum meninggal. Kepentingannya adalah
menunjukkan sikap terakhir masa hidupnya. Misalnya tangan yang menggenggam erat benda dan
meraihnya pada kasus tenggelam.
2. Heat stiffening, adalah kekakuan otot akibat koagulasi protein otot oleh panas. Otot berwana
merah muda, kaku, tetapi rapuh (mudah robek). Keadaan ini dapat ditemukan pada korban mati
terbakar. Serabut-serabut ototnya memendek sehingga menimbulkan fleksi leher, siku, paha dan
lutut, membentuk sikap petinju (pugilistic attitude).
3.

Cold stiffening, adalah kekakuan otot akibat lingkungan dingin,terjadi pembekuan cairan

tubuh, cairan sendi, pemadatan jaringan lemak subkutan dan otot.


c. Penurunan Suhu tubuh (algor mortis)2
Penurunan suhu tubuh terjadi karena proses pemindahan panas dari suatu ke benda ke benda yang
lebih dingin, melalui cara radiasi, konduksi, evaporasi dan konveksi. Penelitian akhir-akhir ini
cenderung untuk memperkirakan saat kematian melalui pengukuran suhu tubuh pada lingkungan
yang menetap di TKP. Caranya adalah dengan melakukan 4-5 kali penentuan suhu rectal dengan
interval waktu yang sama (minimal 15 menit). Suhu lingkungan diukur dan dianggap konstan
karena factor-faktor lingkungan dibuat menetap, sedangkan suhu saat mati dianggap 37 derajat
celcius bila tidak ada penyakit demam. Penelitian menunjukkan bahwa perubahan suhu lingkungan
yang kurang dari 2 derajat Celcius tidak mengakibatkan perubahan yang bermakna.
d. Pembusukan (decomposition, putrefaction)
Proses degradasi jaringan yang terjadi akibat autolisis dan kerja bakteri. Autolisis adalah pelunakan
dan pencairan jaringan yang terjadi dalam keadaan steril. Autolisis timbul akibat kerja digestif oleh
enzim yang dilepaskan sel pascamati dan hanya dapat dicegah dengan pembekuan jaringan. Setelah
seseorang meninggal, bakteri yan ghidup dalam tubuh segera masuk ke dalam jaringan. Darah
merupakan media terbaik bagi bakteri tersebut untuk bertumbuh. Sebagian besar bakteri berasal dari
usus dan yang terutama adalah Clostridium welchii. Pada proses pembusukan ini terbentuk gas-gas
alkana, H2S dan HCN, serta asam amino dan asam lemak.
Pembusukan baru terjadi kira-kira 24 jam pasca mati berupa warna kehijauan pada perut kanan
bawah, yaitu daerah sekum yang isinya lebih cair dan penuh dengan bakteri serta terletak dekat

dinding perut. Warna kehijauan ini disebabkan oleh terbentuknya sulf-met-hemoglobin. Secara
bertahap warna kehijauan ini akan menyebar ke seluruh perut dan dada, dan bau busukpun mulai
tercium. Pembuluh darah bawah kulit akan tampak seperti melebar dan berwarnna hijau kehitaman.
Selanjutnya kulit ari akangnya perut dan keluarnyaan terkelupas atau membentuk gelembung berisi
cairan kemerahan berbau busuk.
Pembentukan gas di dalam tubuh, dimulai di dalam lambung dan usus, akan mengakibatkan
tegangnya perut dan keluarnya cairan kemerahan dari mulut dan hidung. Gas yang terdapat di dalam
jaringan dinding tubuh akan mengakibatkan terabanya derik (krepitasi). Tubuh berada di dalam
sikap petinju (pugilistic attitude) akibat terkumpulnya gas pembusukan di dalam rongga sendi.
Rambut menjadi mudah dicabut dan kuku mudah terlepas, wajah menggembung dan berwarna ungu
kehijauan, kelopak mata membengkak, pipi tembem, bibir tebal, lidah membengkak dan sering
terjulur diantara gigi.
Luka akibat gigitan binatang pengerta khas berupa lubang-lubang dangkal dengan tepi bergerigi.
Larva lalat akan dijumpai setelah pembentukan gas pembusukan nyata, yaitu kira-kira 36-48 jam
pasca mati. Telur lalat akan menetas menjadi larva dalam waktu 24 jam. Dengan identifikasi spesies
dan mengukur panjang larva, maka dapat diketahui usia larva tersebut yang dapat dipergunakan
untuk memperkirakan saat mati.
Alat dalam tubuh akan mengalami pembusukan dengan waktu yang berbeda. Perubahan warna
terjadi pada lambunng terutama di daerah fundus, usus, menjadi ungu kecoklatan. Mukosa saluran
nafas menjadi kemerahan, endokardium dan intima pembuluh darah juga kemerahan, akibat
hemolisis darah. Difusi empedu dari kandung empedu mengakibatkan warna coklat kehijauan di
jaringan sekitarnya. Tak melunak,hati menjadi berongga seperti spons,limpa melunak dan mudah
robek. Kemudian alat-alat dalam akan mengerut. Prostat dan uterus non gravid merupakan organ
padat yang paling lama bertahan terhadap perubahan pembusukan. Pembusukan akan timbul lebih
cepat bila suhu keliling optimal (26.5 derajat celcius hingga sekitar suhu normal tubuh),
kelembapan udara yang cukup, banyak bakteri pembusuk, tubuh gemuk atau menderita penyakit
infeksi dan sepsis. Media tempat mayat terdapat juga berperan. Mayat yang terdapat di udara akan
lebih cepat membusuk dibandingkan dengan yang terdapat dalam air atau daam tanah.
e. Adiposera (lilin mayat)
Adiposera adalah terbentuknya bahan yang berwarna keputihan, lunak atau berminyak berbau
tengik yang terjadi di dalam jaringan lunak tubuh pasca mati. Adiposera terutama terdiri dari asam-

asam lemak tidak jenuh dari hidrolisis lemak. Adiposera dapat terbentuk di sebarang lemak tubuh,
bahkan di dalam hati, yang pertamakali terkena adalah lemak superficial. Perubahan bentuk berupa
bercak pada pipi, payudara atau bokong, bagian tubuh atau ekstremitas. Adiposera akan membuat
gambaran permukaan luar tubuh dapat bertahan hingga bertahuntahun, sehingga identifikasi mayat
dan perkiraan sebab kematian masih dimungkinkan. Pembusukan akan terhambat oleh adanya
adiposera, karena derajat keasaman dan dehidrasi jaringan bertambah.
f. Mummifikasi
Merupakan proses penguapann cairan atau dehidrasi jaringan yang cukup cepat sehingga terjadi
pengeringan jaringan yang selanjutnya dapat menghentikan pembusukan. Jaringan berubah menjadi
keras dan kering, berwarna gelap, berkeriput dan tidak membusuk karena kuman tidak dapat
berkembang pada lingkungan yang kering. Mummifikasi terjadi bila suhu hangat, kelembapan
rendah, aliran udara yang baik, tubuh yang dehidrasi dan waktu yang lama (12-14 minggu).
Mummifikasi jarang dijumpai pada cuaca yang normal.2
Pemeriksaan
Pemeriksaan Luar
Pada pemeriksaan luar, perhatikan beberapa hal tersebut di bawah ini:

Bayi cukup bulan, premature atau nonviable.

Kulit, sudah dibersihkan atau belum, keadaan verniks kaseosa, warna, berkeriput atau tidak.

Mulut, adakah benda asing ang menyumbat.

Tali pusat, sudah terputus atau masih melekat pada uri. Bila terputus periksa apakah

terpotong rata atau tidak (dengan memasukkan ujung potongan ke dalam air), apakah sudah terikat
dan diberi obat antiseptic, adakah tanda-tanda kekerasan pada tali pusat, hematom atau Wharthons
Jelly berpindah tempat. Apakah terputusnya dekat uri atau pusat bayi.

Kepala, apakah terdapat kaput suksedaneum, molase tulang tulang tengkorak.

Tanda kekerasan. Perhatikan tanda pembekapan di sekitar mulut dan hidung, serta memar

pada mukosa bibir dan pipi. Tanda pencekikan atau jerat pada leher, memar atau lecet pada tengkuk,
dan lain-lain.

Sudah atau belum dirawat

Pada bayi yang telah dirawat ditemukan hal-hal sebagai berikut:2,3


1.

Tali pusat.

Telah terikat,diputuskan dengan gunting atau pisau lebih kurang 5cm dari pusat bayi dan

diberi obatt antiseptic

Pada kasus pembunuhan tali pusat terputus dekat perlekatannya pada uri atau pusat bayi

dengan ujung yang tidak rata.


Tali pusat telah terikat, diputuskan dengan gunting atau pisau lebih kurang 5 cm dari pusat bayi dan
diberi obat antiseptic. Bila talli pusat dimasukkan ke dalam air, akan terlihat ujungnya terpotong
rata. Kadang-kadang ibu menyangkal melakukan pembunuhan dengan mengatakan telah terjadi
partus presipitatis lekatannya pada uri atau pusat bayi denan ujung yang tidak rata. Hal lain yang
tidak sesuai dengan partus presipitatus adalah terdapatnya kaput suksedaneum, molase hebat dan
fraktur tulang tengkrak serta ibu yang primipara.

2.

Verniks kaseosa (Lemak bayi)

Pada yang telah dirawat ia telah dibersihkan demikian pula bekas-bekas darah
3.

Pakaian.

Perawatan terhadap bayi antara lain adalah memberi pakaian atau penutup tubuh pada bayi.
Umur bayi intra dan ekstra-uterin
Penentuan umur janin/embrio dalam kandungan rumus De Haas, adalah untuk 5 bulan pertama,
panjang kepala-tumit (cm)=kuadrat umur gestasi (bulan) dan selanjutnya = umur gestasi (bulan) x 5
Umur
1 bulan
2 bulan
3 bulan
4 bulan
5 bulan
6 bulan
7 bulan
8 bulan
9 bulan

Panjang Badan (kepala-tumit)


1x1 = 1 (cm)
2x2 = 4 (cm)
3x3 = 9 (cm)
4x4 = 16 (cm)
5x5 = 25 (cm)
6x5 = 30 (cm)
7x5 = 35 (cm)
8x5 = 40 (cm)
9x5 = 45 (cm)

Perkiraan umur janin dapat pula dilakukan dengan melihat pusat penulangan (ossification centers)
sebagai berikut:
Pusat penulangan pada:
Klavikula
Tulang panjang (diafisis)
Iskium
Pubis
Kalkaneus

1.5
2
3
4
5-6

Manubrium sterni
Talus
Sternum bawah
Distal femur
Proksimal tibia
Kuboid

6
Akhhir 7
Akhir 8
Akhir 9/setelah lahir
Akhir 9/setelah lahir
Akhir 9/setelah lahir
Bayi wanita lebih cepat

Walau dalam undangundang tidak dipersoalkan umur bai, namun kita harus menentukan apakah
bayi tersebut cukup bulan atau belum cukup bulan (premature) ataukah non-viable, karena pada
eadaan premature dan nonviable, kemungkinan bayi tersebut meninggal akibat proses alamiah besar
sekali sedangkan kemungkinan mati akibat pembunuhan anak sendiri adalah kecil.
Viable adalah keadaan bayi/janin yang dapat hidup di luar kandungan lepas dari ibunya. Kriteria
untuk itu adalah umur kehamilan lebih dari 28 minggu dengan panjang badan (kepala-tumit) lebih
dari 35 cm, panjang badan (kepala-tungging) lebih dari 23 cm, berat badan lebih dari 1000g, lingkar
kepala lebih dari 32 cm dan tidak ada cacat bawaan yang fatal. Bayi cukp bulan (matur) b ila umur
kehamilan > 36 minggu dengan panang badan kepala-tumit lebih dari 48 cm, panjang badan
kepalatungging 30-33 cm, berat badan 2500-3000 g dan lingkar kepala 33 cm.
Pada bayi cukup bulan, hamper selalu terdapat pusat penulangan pada distal femur sedangkan pada
proksimal tibia kadang-kadang terdapat atau baru terdapat sesudah lahir, juga pada tulang kuboid.
Pada bayi wanita, pusat penulangan timbul lebih cepat.2,3
Ciri-ciri lain bayi cukup bulan adalah: lanugo sedikit, terdapat pada dahi, punggung dan bahu;
pembentukan tulang rawan telinga telah sempurna (bila daun telinga dilipat akan cepat kembali ke
keadaan semula); diameter tonjolan susu 7 mm atau lebih; kuku-kuku jari telah melewati ujungujung jari; garis-garis telapak kaki telah terdapat 2/3 bagian depan kaki; testis sudah turun ke dalam
skrotum; labia minora sudah tertutup oleh labia mayora yang telah berkembang sempurna; kulit
berwarna merah muda (pada kulit putih) atau merah kebiru-biruan (pada kulit berwarna), yang
setelah 1-2 minggu berubah menjadi lebih pucat atau coklat kehitaman; lemak bawah kulit cukup
merata sehingga kulit tidak berkeriput (kulit pada bayi premature berkeriput)
Perubahan tali pusat
Setelah bayi keluar akan terjadi proses pengeringan tali pusat baik dilahirkan hidup maupun mati.
Pada tempat lekat akan terbentuk lingkaran merah setelah bayi hidup kira-kira 36 jam. Kemudian
tali pusat akan mengering menjadi seperti benang dlam waktu 6-8 hari dan akan terjadi

penyembuhan luka yang sempurna bila tidak terjadi infeksi dalam waktu 15 hari. Pada pemeriksaan
mikroskopik daaerah yang akan melepas akan tampak reaksi inflamasi yang mulai timbul setelah 24
jam berupa sebukan sel-sel lekosit berinti banyak, kemudian akan terlihat sel-sel limfosit dan
jaringan granulasi.
Pemeriksaan Dalam
Pada pemeriksaan mayat bayi yang baru dilahirkan, perlu pertama-tama ditentukan apakah bayi
lahir hidup atau lahir hidup atau lahir mati.
Seorang bayi dinyatakan lahir hidup apabila pada pemeriksaan mayatnya dapat dibuktikan bahwa
bayi telah bernafas. Bayi yang telah bernafas akan memerikan cirri di bawah ini:
a. Rongga dada yang telah mengembang
Pada pemeriksaan didapati diafragma yang letaknya setinggi iga ke 5 atau 6.
b. Paru telah mengembang
Pada bayi yang beum bernafas, kedua paru masih menguncup dan terletak tinggi dalam rongga
dada. Pada bayi yang telah bernafas, paru tampak mengembang dan telah mengisi sebagian besar
rongga dada. Pada permukaan paru dapat ditemukan gambaran mozaik dan gambaran marmer.
c. Uji apung paru memberikan hasil positif
Hasil positif jika dilakukan pemeriksaan pengapungan, potongan paru yang telah ditekan antara dua
karton sebagian besar tetap mengapung.
Uji apung paru dilakukan untuk membuktikan telah terdapatnya udara dalam alveoli paru. Tidak
terlihat projection.

Pemeriksaan Laboratorium1,2
Pemeriksaan Golongan Darah
Bila sel darah merah sudah rusak. Penentuan golongan darah dapat dilakukan dengan cara
menentukan jenis aglutinin dan antigen. Antigen mempunyai sifat yang jauh lebih stabil
dibandingkan dengan aglutinin. Di antara system-sistem golongan darah, yang paling lama bertahan
adalah antigen dari system golongan darah ABO.
Pemeriksaan DNA
Kita dapat memperlakukan DNA sebagai molekul kimiawi, memanipulasinya sesuai dengan

keinginan kita. Dengan menggunakan enzim-enzim khusus pemotong DNA.


Satu DNA panjang dapat dipotong menjadi beberapa penggalan (fragmen) yang lebih pendek.
Fragmen DNA dapat dipisahkan dengan teknik Elektroforesis gel. Fragmen pendek berjalan lebih
cepat, fragmen panjang berjalan lebih lambat, sehingga fragmen pendek berada di depan pita-pita
yang bergerak, terpisah dari fragmen yang lebih panjang.
Hasil elektroforesis (Elektroforetogram) berupa pola penyebaran pita-pita fragmen DNA yang
terpisah-pisah pada gel karena perbedaan kecepatan pergerakan DNA pada medan listrik
Elektroforesis. Kita bisa mendapatkan elektroforetrogram dari seluruh DNA kita (genom), maupun
hanya dari gen-gen tertentu yang kita pilih.
Pemilihan, pengambilan dan penggandaan gen terpilih, dapat dilakukan dengan teknik baru yang
dikenal dengan teknik PCR (Polymerase Chain Reaction). Dengan teknik ini dapat dihasilkan gen
tertentu dalam jumlah yang cukup untuk proses pemeriksaan.2,3
Cara mati
Cara kematian adalah macam kejadian yang menimbulkan penyebab kematian. Bila kematian
terjadi akibat suatu penyakit semata-mata maka cara kematian adalah wajar (natural death). Bila
kematian terjadi akibat cedera atau luka, atau pada seseorang yang semula telah mengidap suatu
penyakit,kematiannya dipercepat oleh adanya cedera atau luka, maka kematian demikian adalah
kematian tidak wajar (unnatural death). Kematian tidak wajar ini dapat terjadi sebagai akibat
kecelakaan, bunuh diri, atau pembunuhan.
Sebab mati
Penyebab kematian adalah penyakit atau cedera/luka yang bertanggung jawab atas terjadinya
kematian. Pembengkapan dan atau pencekikan merupakan cara yang paling sering digunakan dalam
kasus PAS oleh pelaku, hal ini dilakukan untuk mencegah bayi menangis agar tidak diketahui oleh
orang lain bahwa ia melahirkan bayi
Trauma lahir
-

Kaput subsedaneum

Sefal hematom

Perdarahan intracranial

Perdarahan subaraknoid atau interventrikuler

Perdarahan epidural

Pembunuhan
-

Cara tersering dijadikan adalah yang menimbulkan asfiksia: pembekapan, penyumbatan

jalan nafas, penjeratan, pencekikkan dan penenggelaman


-

Pembunuhan dengan kekerasan tumpul jarang dijumpai sekiranya ada menyebabkan patah

atau retak tulang tengkorak dan memar jaringan otak.


-

Pembunuhan dengan senjata tajam jarang ditemukan. Sekiranya ada, akan ditemukan

tusukan didaerah palatum mole melalui foramen magnum dan merusak medulla oblongata.
-

Pembunuhan dengan jalan membakar menyiramkan cairan panas, memberikan racun dan

memuntir kepala sangat jarang terjadi.


Mekanisme mati
Mekanisme kematian adalah gangguan fisiologik dan atau biokimiawi yang ditimbulkan oleh
penyebab kematian sedemikian rupa sehingga seseorang tidak dapat terus hidup
IBU
Aspek Hukum
Berdasarkan KUHP maka yang dapat dikenakan hukuman karena melakukan pembunuhan anak
adalah ibu dari anak itu sendiri, demikian pula dengan pindak pidana yang dimaksudkan dalam
pasar 308 dan pasal 306 ayat 2.
Pasal 341 KUHP4
Seorang ibu yang dengan sengaja menghilangkan jiwa anaknya pada ketika dilahirkan atau tidak
berapa lama sesudah dilahirkan, karena takut ketahuan bahwa ia sudah melahirkan anak, dihukum,
karena makar mati terhadap anak, dengan hukuman penjara selama-lamanya 7 tahun.
Pasal 342 KUHP
Seorang ibu yang dengan sengaja akan menjalankan keputusan yang diambilnya sebab takut
ketahuan bahwa ia tidak lama lagi akan melahirkan anak, menghilangkan jiwa anaknya itu pada
ketika dilahirkan atau tidak lama kemudian daripada itu, dihukum karena pembunuhan anak yang
direncanakan dengan hukuman penjara selama-lamanya 9 tahun.
Pasal 343 KUHP
Bagi orang lain yang turut campur dalam kejahatan yang diterangkan dalam pasal 341 dan 342
dianggap kejahatan itu sebagai makat mati atau pembunuhan.

Pasal 181 KUHP


Barang siapa mengubur, menyembunyikan, mengangkut, atau menghilangkan mayat dengan
maksud hendak menyembunyikan kematian atau kelahiran orang itu, dihukum penjara selamalamanya 9 bulan atau denda sebanyak-banyaknya 4500 rupiah.

Pasal 304 KUHP


Barang siapa dengan sengaja menyebabkan atau membiarkan orang dalam kesengsaraan, sedang ia
wajib memberi kehidupan perawatan atau pemeliharaan pada orang itu karena hukum yang berlaku
atasnya atau karena menurut perjanjian, dihukum penjara selama 2 tahun 8 bulan atau denda
sebanyak-banyaknya empat ribu lima ratus rupiah.
Pasal 305 KUHP
Barang siapa menaruhkan anak yang dibawah umur 7 tahun di suatu tempat supaya dipungut oleh
orang lain, atau dengan maksud akan terbebas dari pada pemeliharaan anak itu, meninggalkannya,
dihukum penjara sebanyak-banyaknya 5 tahun 6 bulan.
Pasal 306 KUHP
(1)

Kalau salah satu perbuatan yang diterangkan dalam pasal 304 dan 305 itu menyebabkan

luka berat, maka di tersalah dihukum penjara selama-lamanya 7 tahun 6 bulan


(2)

Kalau salah satu perbuatan ini menyebabkan orang lain mati, si tersalah itu dihukum

penjara selama-lamanya 9 tahun.


Pasal 307 KUHP
Kalau si tersalah karena kejahatan yang diterangkan dalam pasal 305 adalah bapak atau ibu dari
anak itu, maka baginya hukuman yang ditentukan dalam pasal 305 dan 306 dapat ditambah dengan
sepertiganya
Pasal 308 KUHP
Kalau ibu menaruh anaknya di suatu tempat supaya dipungut oleh orang lain tidak lama sesudah
anak itu dilahirkan oleh karena takut akan diketahui orang ia melahirkan anak atau dengan maksud
akan terbebas dari pemeliharaan anak itu, meninggalkannya, maka hukuman maksimum yang
tersebut dalam pasal 305 dan 306 dikurangi seperduanya.

Pemeriksaan
Pemeriksaan pada ibu tersebut ditujukan agar penyidik mendapat kejelasan dalam hal2:

Memang benar si ibu tersebut baru melahirkan anak, ini dapat diketahui dari keadaan buah

dada, rahum yang masih membesar, keluarnya cairan kemerahan dari vagina, serta tanda-tanda yang
menunjukkan bahwa si ibu masih dalam masa nifas.

Pemeriksaan golongan darah hanya akan bermakna jika laki-laki yang menyebabkan

terjadinya kehamilan pada si ibu tersebut diketahui; dengan demikian pemeriksaan golongan
darahnya dilakukan pada si ibu, anak, dan laki-laki tersebut.

Adanya barang bukti yang bisa dikaitkan atau ada hubungannnya dengan barang bukti yang

didapatkan pada tubuh korban, seperti: pembungkus mayat, kain yang berlumuran darah sewaktu
persalinan, alat penyeret serta barang-barang bukti lainnya yang beraal dari si ibu/ tempat terjadinya
persalinan
Pemeriksaan Tanda-tanda Melahirkan
1.

Perlukaan pada vagina oleh karena proses kelahiran

2.

Kadar prolaktin tinggi

3.

Tubuh gemuk

4.

Perubahan pada vulva, vagina dan perineum


Vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan yang sangat besar selama
proses melahirkan bayi, dan dalam beberapa hari pertama sesudah proses tersebut, kedua
organ ini tetap berada dalam keadaan kendur. Setelah 3 minggu vulva dan vagina kembali
kepada keadaan tidak hamil dan rugae dalam vagina secara berangsur-angsur akan muncul
kembali sementara labia manjadi lebih menonjol.
Segera setelah melahirkan, perineum menjadi kendur karena sebelumnya teregang
oleh tekanan kepala bayi yang bergerak maju. Pada post natal hari ke 5, perineum sudah
mendapatkan kembali sebagian besar tonusnya sekalipun tetap lebih kendur dari pada
keadaan sebelum melahirkan. Ukuran vagina akan selalu lebih besar dibandingkan keadaan
saat sebelum persalinan pertama.

Ukuran uterus pada masa nifas akan mengecil seperti sebelum hamil. Perubahan-perubahan normal
pada uterus selama postpartum adalah sebagai berikut:

Involusi Uteri

Tinggi Fundus Uteri

Berat Uterus

Diameter Uterus

Plasenta lahir

Setinggi pusat

1000 gram

12,5 cm

7 hari (minggu 1)

Pertengahan pusat dan simpisis

500 gram

7,5 cm

14 hari (minggu 2)

Tidak teraba

350 gram

5 cm

6 minggu

Normal

60 gram

2,5 cm

a.Involusi Uterus
Involusi uterus atau pengerutan uterus merupakan suatu proses dimana uterus kembali ke kondisi
sebelum hamil dengan bobot hanya 60 gram. Involusi uteri dapat juga dikatakan sebagai proses
kembalinya uterus pada keadaan semula atau keadaan sebelum hamil.
Involusi uterus melibatkan reorganisasi dan penanggalan decidua/endometrium dan pengelupasan
lapisan pada tempat implantasi plasenta sebagai tanda penurunan ukuran dan berat serta perubahan
tempat uterus, warna dan jumlah lochia.
b.Involusi tempat plasenta
Setelah persalinan, tempat plasenta merupakan tempat dengan permukaan kasar, tidak rata dan kirakira sebesar telapak tangan. Dengan cepat luka ini mengecil, pada akhir minggu ke-2 hanya sebesar
3-4 cm dan pada akhir nifas 1-2 cm. Penyembuhan luka bekas plasenta khas sekali.
Pada permulaan nifas bekas plasenta mengandung banyak pembuluh darah besar yang tersumbat
oleh thrombus. Biasanya luka yang demikian sembuh dengan menjadi parut, tetapi luka bekas
plasenta tidak meninggalkan parut. Hal ini disebabkan karena luka ini sembuh dengan cara
dilepaskan dari dasarnya tetapi diikuti pertumbuhan endometrium baru di bawah permukaan luka.
Endometrium ini tumbuh dari pinggir luka dan juga dari sisa-sisa kelenjar pada dasar luka.5
c.Perubahan pada Serviks
Serviks mengalami involusi bersama-sama uterus. Perubahan-perubahan yang terdapat pada serviks
postpartum adalah bentuk serviks yang akan menganga seperti corong. Bentuk ini disebabkan oleh
korpus uteri yang dapat mengadakan kontraksi, sedangkan serviks tidak berkontraksi, sehingga
seolah-olah pada perbatasan antara korpus dan serviks uteri terbentuk semacam cincin. Warna
serviks sendiri merah kehitam-hitaman karena penuh pembuluh darah.
Beberapa hari setelah persalinan, ostium externum dapat dilalui oleh 2 jari, pinggir-pinggirnya tidak
rata tetapi retak-retak karena robekan dalam persalinan. Pada akhir minggu pertama hanya dapat
dilalui oleh 1 jari saja, dan lingkaran retraksi berhubungan dengan bagian atas dari canalis

cervikallis.

2. Pemeriksaan Golongan Darah


Golongan darah adalah ciri khusus darah dari suatu individu karena adanya perbedaan jenis
karbohidrat dan protein pada permukaan membran sel darah merah. Dua jenis penggolongan darah
yang paling penting adalah penggolongan ABO dan Rhesus (faktor Rh). Di dunia ini sebenarnya
dikenal sekitar 46 jenis antigen selain antigen ABO dan Rh, hanya saja lebih jarang dijumpai.
Transfusi darah dari golongan yang tidak kompatibel dapat menyebabkan reaksi transfusi
imunologis yang berakibat anemia hemolisis, gagal ginjal, syok, dan kematian.

3. Tes DNA mitokondria


Mitokondria memiliki molekul DNA sendiri yang disebut sebagai DNA mitokondria. Pada manusia
genom mitokondria DNA mengandung sekitar 16.000 pasang basa DNA, dimana ini hanya
mewakili sebagian dari total pasang basa DNA yang terdapat pada inti sel. Yang membuat DNA ini
istimewa, tidak seperti DNA nukleus yang diwarisi secara seimbang dari ayah dan ibu, DNA ini
diwarisi hanya dari sang ibu, karena semua mitokondria manusia diturunkan dari mitokondria sel
telur ibu. Sehingga, kita bisa melakukan tes untuk membandingkan mitokondria anak dan ibu untuk
menentukan hubungan mereka.(adanya kemiripan).
Karena mitokondria merupakan struktur yang kuat dan melindungi DNA yang dikandungnya, DNA
mitokondria sangat berguna juga untuk mengidentifikasi korban-korban bencana alam dimana DNA
nukleus sudah terdegradasi ataupun rusak. Sebagian besar sel di tubuh kita mengandung antara 500
sampai 1000 copy dari molekul DNA mitokondria yang membuatnya lebih mudah untuk ditemukan
dan diekstrak daripada DNA nukleus.

Visum VeR
(Anak)
Bagian Ilmu Kedokteran Forensik
Fakultas kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 11510 Telp. 021-5694206,1 Fax. 021-5631731

Nomor

: 3456-SK.III/2345/2-95

Jakarta, 5 Desember 2013

Lamp.

: Satu sampul tersegel ---------------------------------------------------------------------------

Perihal

: Hasil Pemeriksaan Pembedahan atas jenazah An. X -------------------------------------

PROJUSTITIA
Visum Et Repertum
Yang bertanda tangan dibawah ini, Devita, dokter ahli kedokteran forensik pada Bagian Ilmi
Kedokteran Forensik Fakultas kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana, menerangkan bahwa
atas

permintaan

tertulis

dari

kepolisian

Resort

Polisi

Jakarta

Selatan

No.

Pol.

B/789/VR/XII/95/Serse tertanggal 1 Desember 2013, maka pada tanggal satu desember dua ribu
tiga belas, pukul delapan lewat tiga puluh menit Waktu Indonesia bagian Barat, bertempat di ruang
bedah jenazah Bagian Forensik Fakultas kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana telah
melakukan pemeriksaan atas jenazah yang menuruht surat permintaan terserbut adalah:
Nama

: An.X ------------------------------------------------------------------------------------

Jenis kelamin : Perempuan ----------------------------------------------------------------------------Umur

: 7 hari -----------------------------------------------------------------------------------

Kebangsaan

: Indonesia -------------------------------------------------------------------------------

Pekerjaan

: --------------------------------------------------------------------------------------------

Alamat

: --------------------------------------------------------------------------------------------

Mayat telah diidentifikasi dengan sehelasi label berwarna merah muda, dengan materai lak merah,
terikat pada ibu jari kaki kanan.
Hasil Pemeriksaan
Pemeriksaan dalam
1.

Mayat datang dengan kondisi terbungkus.

2.

Mayat berpakaian baju kaos dan celana putih dan tertutup kain.

3.

Organ genetalia yang ditemukan pada bayi ini menunjukkan bayi ini seorang perempuan

4.

Tali pusat masih melekat pada plasenta

5.

Bayi masih penuh darah dan terdapat mekonium

6.

Tanda kekuningan pada kulit bayi

7.

Tanda sianosis di ujung jari, kuku dan mulut

8.

Lebam mayat didaerah punggung dan bokong yang tidak hilang pada penekanan

9.

Permukaan dalam bibir ditemukan luka memar

10.

Berat Badan = 3500gr

11.

rambut kepala relatif kasar

12.

puting susu sudah berbatas tegas

13.

alis mata sudah lengkap

14.

kuku jari tangan melewati ujung jari

15.

labium sudah terbentuk sempurna

Pemeriksaan luar
1.

Paru sudah mengisi rongga dada dan menutupi sebagian kandung jantung, paru berwarna

merah muda tidak merata dengan pleura tegang (taut pleura), konsistensi paru seperti spons
2.

Gambaran mozaik pada paru

3.

Alveoli paru yang mengembang sempurna

4.

Edema yang luas pada jaringan paru

16.

Membrana duktus alveolaris yang tersebar dalam jaringan paru.

KESIMPULAN :
Pada mayat bayi perempuan ini ditemukan luka memar pada permukaan dalam bibir yang dapat
disebabkan oleh pembekapan bahan lunak.
Pada mayat bayi perempuan ini juga ditemukan bintik-bintik perdarahan pada mata, kelopak mata
dan kulit wajah karena pecahnya pembuluh darah kapiler yang disebabkan oleh suatu keadaan yang
ditandai dengan terjadinya gangguan pernafasan, mengakibatkan oksigen darah berkurang disertai
dengan peningkatan karbon dioksida dengan demikian organ tubuh mengalami kekurangan oksigen
dan terjadi kematian.
Demikian saya uraikan dengan sebenar-benarnya berdasarkan keilmuan saya yang sebaik-baiknya
mengingat sumpah sesuai dengan KUHAP.
Daftar pustaka
1. Budiyanto, A.,Widiatmaka, W., Sudiono, S., Winardi, T., Idries, AM., Sidhi, dkk. Ilmu
Kedokteran Forensik. Jakarta : Bagian Kedokteran Forensik Universitas Indonesia; 1997: h.
25-43.
1. Staf Pengajar Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Teknik autopsi forensik. Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, Jakarta, 2000.
2. Idries AM. Pedoman ilmu kedokteran forensik. Edisi 1. Binarupa Aksara, Jakarta, 1997.
3. Sampurna B, Syamsu Z, Siswaja TD. Bioetik dan hukum kedokteran pengantar bagi
mahasiswa kedokteran dan hukum. Pustaka Dwipar, Jakarta, 2007.
4. Wiknjosastro H, dkk. Ilmu Kebidanan. Ed. keempat. Cetakan pertama. Jakarta: Yayasan

Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo, 2008.