Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH MEKANIKA FLUIDA

FLUIDISASI

DISUSUN OLEH :
Nama
Kelas
NIM
Jurusan
Dosen Pembimbing

: Dimas Agung Budi Setyawan


: 3 KF
: 061330401057
: Teknik Kimia
: Endang Supraptiah, S.T, M.T

POLITEKNIK NEGERI
SRIWIJAYA
TAHUN AJARAN 2014-2015

BAB I
PENDAHULUAN
I.1

Latar Belakang
Fluidisasi adalah suatu fenomena berubahnya sifat suatu padatan

(bed) dalam suatu reaktor menjadi bersifat seperti fluida dikarenakan adanya
aliran fluida ke dalamnya, baik berupa liquid maupun gas.
Perkembangan industri dewasa ini telah mengalami kemajuan yang sangat
pesat. Khususnya industri pabrik yang telah banyak menggunakan teknologi
modern. Mesin-mesin produksi yang digunakan dalam sebuah industry
menggunakan metode-metode pengoperasian yang sangat bervariasi. Salah satu
contoh metode yang digunakan adalah fluidisasi. Untuk itu kami menyusun
sebuah makalah tentang fluidisasi yang bertujuan untuk memberikan pelajaran
pengetahuan, dan pemahaman tentang fluidisasi. Fluidisasi itu sendiri
adalah proses yang sama dengan pencairan dimana bahan butiran dikonversi dari
solid state seperti statis ke keadaan cairan seperti dinamis. Proses ini terjadi ketika
sebuah fluida (cairan atau gas) dilewatkan ke atas melalui bahan granular.
Dalam dunia industri, fluidisasi diaplikasikan dalam banyak hal seperti
transportasi serbuk padatan (conveyor untuk solid), pencampuran padatan halus,
perpindahan panas (seperti pendinginan untuk bijih alumina panas), pelapisan
plastik pada permukaan logam, proses drying dan sizing pada pembakaran, proses
pertumbuhan

partikel

dan

kondensai

bahan

yang

dapat

mengalami

sublimasi, adsorpsi (untuk pengeringan udara dengan adsorben), dan masih


banyak aplikasi lain.
Jika suatu aliran udara melewati partikel unggun yang ada dalam tabung,
maka aliran tersebut akan memberikan gaya seret (drag force) pada partikel dan
menimbulkan pressure drop sepanjang unggun. Pressure drop akan naik jika
kecepatan superficial naik.
Kecepatan superfisial adalah laju alir udara pada kolom yang kosong,
sedangkan kecepatan interstitial adalah kecepatan udara di antara partikel unggun.
Pada kecepatan superfisial rendah, ungun mula-mula diam. Jika kecepatan

superfisial dinaikkan maka pada suatu saat gaya seret fluida menyebabkan unggun
mengembang dan menyebabkan tahanan terhadap aliran udara mengecil, sampai
akhirnya gaya seret tersebut cukup untuk mendukung gaya berat partikel unggun.
Hal ini menyebabkan unggun terfluidisasi dan sistem solid-fluida menunjukkan
sifat-sifat seperti fluida. Kecepatan superfisial terendah yang dibutuhkan agar
terjadi fluidisasi disebut minimum fluidization velocity (Umf).
Fluidisasi berhubungan dengan banyak proses industri kimia, misalnya
dalam proses katalisasi maupun dalam proses pemurnian gas. Proses fluidisasi ini
memiliki beberapa hal penting yang harus diperhatikan, seperti jenis dan tipe
fluidisasi, aplikasi dalam industri serta spesifikasi dan cara kerja alatnya.
Aplikasi fluidisasi dalam proses industri sangat banyak. Hal ini dimulai
pada tahun 1926 untuk Gasifier Winkler berskala besar lalu Fluidized-bed
Catalytic Cracking (FCC) crude oil menjadi bensin pada tahun 1942. Aplikasi
tersebut semakin berkembang dan pada tahun 1990 dapat diklasifikasikan menjadi
proses-proses kimia katalitik (seperti FCC dan sintesis Fischer-Tropsch), prosesproses kimia nonkatalitik (seperti thermal cracking dan gasifikasi batubara), dan
proses-proses fisik (seperti pengeringan dan absorpsi). Selain itu, fluidisasi
kontinu banyak dimanfaatkan dalam pabrik pengolahan untuk memindahkan
padatan dari satu tempat ke tempat lain.
Unggun terfluidisasi memiliki aplikasi yang luas karena karakteristik
perpindahan panasnya yang sangat baik. Hal ini didukung oleh berubahnya sifat
dari unggun tersebut menjadi seperti fluida sehingga perpindahan panas yang
terjadi adalah secara konveksi. Dengan demikian, partikel dan gas yang memasuki
unggun terfluidisasi segera mencapai suhu unggun dan partikel dalam unggun
bersifat isotermal pada semua situasi. Keadaan isotermal ini disebabkan oleh
pencampuran yang merata dan area kontak yang luas antara gas dan partikel.

I.2

Tujuan

Adapun hal yang menjadi tujuan dalam pembuatan makalah ini ialah
sebagai berikut :
1. Dapat mengetahui apa yang di maksud fluidisasi.
2. Dapat menentukan jenis-jenis fluidsasi.
3. Dapat menjelaskan keadaan fluidisasi.
4. Dapat menjelaskan kegunaan dari fluidisasi.
I.3

Rumusan Masalah
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Apa itu fluidisasi?


Aplikasi sehari-hari tentang fluidisasi?
Apa jenis-jenis fluidisasi?
Apa saja parameter parameter dalam fluidisasi?
Fenomena dalam fluidisasi?
Keuntungan dan Kerugian fluidisasi?

BAB II
PEMBAHASAN

II.1

Fluidisasi
Fluidisasi merupakan salah satu cara untuk mengontakkan butiran padat

dengan fluida. Apabila kecepatan fluida relative rendah, unggun tetap diam karena
fluida hanya mengalir melalui ruang antar partikel tanpa menyebabkan terjadinya
perubahan susunan partikel tersebut. Apabila kecepatan fluida dinaikkan sedikit
demi sedikit, pada saat tertentu penurunan tekanan akan sama dengan gaya berat
yang bekerja terhadap butiran-butiran padat sehingga unggun mulai bergerak.
Peningkatan kecepatan selanjutnya akan menyebabkan butiranbutiran terpisah lepas satu sama lain sehingga bias bergerak dengan lebih mudah
( unggun tersuspensi dalam aliran fluida yang melewatiya ) dan mulailah unggun
terfluidakan. Butiran-butiran bergerak terus kearah sembarang tetapi masih dalam
batas tinggi tertentu. Isi tabung menyerupai cairan mendidih dan diberi istilah
unggun mendidih. Setelah mencapai ketinggian tertentu, butiran-butiran akan
jatuh kembali. Hanya partikel paling halus terbawa aliran fluida ( entrainment
tidak berarti ) ini disebut fluidisasi batch. Lalu, penurunan tekanan terhadap
kecepatan lebih kecil dibandingkan dengan penurunan tekanan pada unggun diam.
Pada kondisi butiran yang mobil ini. Sifat unggun akan menyerupai sifat
suatu cairan dengan viskositas tinggi, misalnya ada kecendrungan untuk mengalir,
mempunyai sifat dan sebagainya.

II.2

Kondisi Fluidisasi

Perhatikan suatu tabung vertical yang sebagian berisi bahan butiran,


sebagaimana terlihat dalam gambar. Tabung itu turbulen pada keadaan atas, dan
mempunyai plat berpori pada bagian bawah untuk menopang pasir diatasnya
untuk menyebarkan aliran secara seragam pada keseluruhan penampang. Udara
dimasukkan dibawah plat distribusi dengan laju lambat dan naik keatas dengan
hamparan tanpa menyebabkan terjadinya gerakan dalam partikel. Jika partikel itu
cukup kecil, aliran didalam saluran-saluran diantara partikel-partikel dalam
hamparan itu akan bersifat laminar. Jika kecepatan itu dinaikkan , penurunan
tekanan akan meningkat, tetapi partikel-partikel itu tetap masih tidak bergerak dan
tinggi hamparan pun tidak berubah. Pada kecepatan tertentu, penurunan tekanan
melintas hamparan itu akan mengimbangi gaya gravitasi yang dialaminya dengan
kata lain mengimbangi bobot hamparan., dan jika kecepatan masih dinaikkan lagi
partikel itu akan mulai bergerak. Jika kecepatan itu terus ditingkatkan lagi,
partikel-partikel itu akan memisahkan dan menjadi cukup berjauhan satu sama
lain sehingga dapat berpindah-pindah dalam hamparan itu, dan fluidisasi yang
sebenarnya pun mulailah terjadi. Jika hamparan itu sudfah terfluidisasi ,
penurunan tekanan melintas hamparan akan tetap konstan, akan tetapi tinggi
hamparan akan bertambah terus jika aliran ditinngkatkan lagi.
Jika laju aliran hamparan ke fluidisasi

(fluized bed) itu perlahan-lahan

diturunkan, penurunan tekanan tetap sama, tetapi tinggi hamparan berkurang.


Akan tetapi, tinggi akhir hamparan itu mungkin lebih besar dari nilainya pada
hamparan diam semula, karena zat padat yangdicurahkan dalam tabung itumenetal
lebih rapat dari zat padat yang mengendap perlahan-lahan dari keadaan fluidisasi.
Penurunan pada kecepatan rendah lebih kecil dari hamparan diam semula. Untuk
mengukur Umf hamparan itu harus difluidisasikan dengan kuat terlebih dahulu,
dibiarkan mengendap dengan mematikan aliran udara, dan laju aliran dinaikan
lagi perlahan-lahan sampai hamparan itu mengembang.

II.3

Sifat dan Karakteristik Partikel Unggun

a. Ukuran partikel
Padatan dalam unggun yang terfluidisasi tak pernah sama dalam ukuran
dan mengacu pada distribusi ukuran partikel tersebut. Untuk menghitung ukuran
partikel rata-rata dengan menggunakan diameter rata-rata permukaan (Kirk
Othmer,1994:141).
d sv

1
x
di
pi

dimana:
dp = diameter partikel rata-rata yang secara umum digunakan untuk desain
dsv = diameter dari suatu bidang
b. Densitas padatan
Padatan dapat dibedakan menjadi 3 bagian berdasarkan densitasnya yaitu
bulk, skeletel, dan particle. Densitas bulk merupakan pengukuran berat dari
keseluruhan partikel dibagi dengan volume partikel. Pengukuran ini menyertakan
faktor kekosongan dalam pori-pori partikel. Skeletel adalah densitas suatu padatan
jika porositasnya nol. Adapun densitas partikel adalah berat dari suatu partikel
dibagi dengan volumenya dengan menyertakan pori-pori. Jika tidak ada nilai
untuk densitas partikel, maka pendekatan untuk densitas partikel dapat diperoleh
dengan membagi dua densitas bulk.
c. Penurunan tekanan
Penurunan tekanan yang terjadi pada campuran dua fasa dinyatakan dalam
beragam bentuk, seperti static head, akselerasi dan kehilangan friksi untuk gas
dan padatan. Untuk aplikasi fluidisasi unggun di luar kondisi ketika akselerasi
penurunan tekanan dapat diterima, penurunan tekanan akan dihasilkan dari static
head padatan. Untuk itu, berat suatu partikel unggun jika dibagi dengan tinggi
padatan akan menghasilkan densitas sesungguhnya dari unggun yang terfluidisasi.
Salah satu aspek yang akan ditinjau dalam percobaan ini adalah
mengetahui besarnya penurunan tekanan (pressure drop) di dalam unggun padatan

yang terfluidakan. Hal tersebut mempunyai arti yang cukup penting karena selain
erat sekali hubungannya dengan besarnya energi yang diperlukan, juga bisa
memberikan indikasi tentang kelakuan unggun selama operasi berlangsung.
Penentuan besarnya hilang tekan di dalam unggun terfluidakan terutama dihitung
berdasarkan rumus-rumus yang diturunkan untuk unggun diam, terutama oleh
Balke, Kozeny, Carman, ataupun peneliti-peneliti lainnya.
Korelasi-korelasi matematik yang menggambarkan hubuangan antara
hilang tekan dengan laju alir fluida di dalam suatu sistem unggun diam diperoleh
pertama kali pada tahun 1922 oleh Blake melalui metode-metode yang bersifat
semi empiris, yaitu dengan menggunakan bilangan-bilangan tidak berdimensi.
Untuk aliran laminer dengan kehilangan energi terutama disebabkan oleh gaya
viscous, Blake memberikan hubungan :

P
kS 2
gc
L
3
dimana:
P/L = hilang tekan per satuan panjang/ tinggi unggun
gc

= faktor gravitasi

= viskositas fluida

= porositas unggun yang didefinisikan sebagai perbandingan volume ruang


kosong didalam unggun dengan volume unggun

= kecepatan alir superfisial fluida

= luas permukaan spesifik partikel

d. Sphericity
Sphericity merupakan faktor bentuk yang dinyatakan sebagai rasio dari
area permukaan volume partikel bulat yang sama dengan partikel itu dibagi
dengan area permukaan partikel.

d sv
dv

Material yang melingkar seperti katalis dan pasir bulat memiliki nilai sphericity
sebesar 0.9 atau lebih.
e. Kecepatan Fluidisasi Minimum (Umf)
Kecepatan fluidisasi minimum adalah kecepatan superficial terendah yang
dibutuhkan untuk terjadinya fluidisasi. Umf dapat dicari dengan menggunakan
persamaan
Umf = [(1135.7+0.0408Ar)0.5-33.71]/(gdp)
Untuk memprediksi Umf, Ergun menurunkan suatu korelasi dengan cara
menyamakan pressure drop pada saat Umf dengan berat unggun persatuan luas
dan diperoleh persamaan sebagai berikut.

Suku pertama persamaan Ergun dominan untuk aliran laminer sedangkan


suku kedua dominan pada aliran turbulen. Pengukuran Umf dapat diperoleh dari
grafik P vs Umf, yaitu sesuai titik potong atau antara bagian kurva yang datar.
f. Kecepatan terminal
Kecepatan terminal suatu partikel (Ut) merupakan kecepatan gas yang
dibutuhkan untuk mengatur partikel tunggal yang tersuspensi dalam aliran gas.
Kecepatan terminal suatu partikel dinyatakan dalam persamaan:
1/ 2

4 gd p ( p g )

Ut

3 g C d

Dalam aliran laminer dan mengikuti Hukum Stokes:

Cd

24
Re p

Re p

d pU g

Jadi, kecepatan terminal untuk partikel tunggal berbentuk bulat adalah

Ut

g ( p g )d p

18

untuk Rep < 0.4

Dan untuk partikel besar dengan Cd = 0.43


1/ 2

3,1( p g ) gd p

Ut

untuk Rep > 500

Persamaan ini mengindikasikan bahwa untuk partikel yang berukuran


kecil viskositas merupakan faktor dominan setiap gas dan untuk partikel
berukuran besar densitas merupakan faktor yang terpenting. Kedua persamaan di
atas mengabaikan gaya antar partikel.
g. Batas partikel
Partikel

diklasifikasikan

berdasarkan

bagaimana

partikel

tersebut

terfluidisasi dalam udara pada kondisi tertentu. Partikel tersebut dapat


diklasifikasikan menjadi:

Partikel halus

Partikel kasar

Kohesif, partikel yang sangat halus

Unggun yang bergerak


h. Gaya antar partikel
Gaya antar partikel sering kali diabaikan dalam fluidisasi meskipun dalam
banyak kasus gaya ini lebih kuat dibandingkan hydrodinamic yang digunakan
dalam banyak korelasi. Gaya antar partikel yang berhubungan atau berkaitan
dengan unggun yang terfluidisasi, misalnya van der waals, elektrostatik, dan
kapilaritas.
i. Daerah batas fluidisasi (fluidization regimes)
Pada kecepatan gas rendah, suatu padatan dalam tabung unggun akan
berada pada kondisi konstan seiring dengan bertambahnya kecepatan gas, gaya

seret, dan gaya buoyant mengalahkan berat partikel serta gaya antar partikel
tersebut ( Kirk Othmer, 1994:147). Pada fluidisasi minimum partikel
memperlihatkan pergerakan yang minimal dan secara langsung unggun akan
sedikit terangkat.
II.4

Jenis-Jenis Fluidisasi

A. Fluidisasi Partikulat
Dalam fluidisasi air dan pasir, partikel-partikel itu bergerak menjauh satu
sama lain dan gerakannya bertambah hebat dengan bertambahnya kecepatan,
tetapi densitas hamparan rata-rata pada suatu kecepatan tertentu sama disegala
arah hamparan. Proses ini disebut Fluidisasi partikulat yang bercirikan
ekspansi hamparan yang cukup besar tetapi seragam pada kecepatan yang
tinggi.
Kertika fluida cairan seperti air dan padatannya berupa kaca, gerakan
partikel pada saat terfluidisasi terjadi dalam ruanng sempit dalam
hamparanSeiring dengan bertambahnya kecepatan fluida dan penurunan
tekanan, maka hamparan akan terekspansi dan gerakan dan pergerakan partikel
semakin cepat. Jalan bebas rata-rata suatu partikel diantara tubrukan-tubrukan
dengan partikel akan bertambah besar dengan meningkatnya kecepatan fluida,
dan akibatnya porositas hamparan akan meningkat pula. Ekspansi dari
hamparan ini akan di ikuti dengan meningkatnya kecepatan fluida samapi
setiap partikel bertindak sebagai suatu individu.
Dalam fluidisasi pasir dengan air, partikel-partikel bergerak menjauh satu
sama lain dan gerakannya bertambah hebat dengan meningkatnya kecepatan,
tetapi densitas unggun rata-rata pada suatu kecepatan tertentu sama di semua
bagian unggun. Proses ini disebut fluidisasi partikulat dan bercirikan ekspansi
hamparan yang cukup besar tetapi seragam pada kecepatan tinggi. (McCabe,
1985:151)
Akan tetapi, tidak semua fluida liquid pasti menghasilkan fluidisasi
partikulat, hal ini dipengaruhi oleh perbedaan densitas. Dalam kasus dimana

densitas fluida dan solid tidak terlalu berbeda, ukuran partikel kecil, dan
kecepatan aliran fluida rendah, unggun akan terluidisasi merata dengan tiap
partikel bergerak sendiri-sendiri melewati jalur bebas rata-rata (mean free path)
yang relatif sama. Fase padat ini memiliki banyak karakteristik liquid dan
disebut fluidisasi partikulat. (Foust, 1959:643)
Pada fluidisasi partikulat, ekspansi yang terjadi adalah seragam dan
persamaan Ergun, yang berlaku untuk unggun diam, dapat dikatakan masih
berlaku untuk unggun yang agak mengembang. Andaikan aliran di antara
partikel-partikel itu adalah laminar, persamaan yang berlaku untuk hamparan
yang mengalami ekspansi adalah (McCabe, 1985:152):
150Vs
3

1 g p s 2 D p 2
B. Fluidisasi Gelembung
Hamparan zat padat yang terfluidisasi di dalam udara biasanya
menunjukan fluidisai yang dikenal sebagia fluidisasi agregativ. Fluidisasi ini
terjadi jika kecepatan superficial gas diatas kecepatan fluidisasi minimum. Bila
kecepatan superficial gas diatas kecepatan jauh lebih besar dari Umf kebanyakan
gas itu mengalir melalui hamparan dalam bentuk gelembung, dan hannya
sebagian kecil gas itu mengalir dalm saluran-saluran yang terbentuk diantara
partikel. Partikel itu bergerak tanpa aturan dan didukung oleh fluida tetapi
diruang-ruang antara gelembung fraksi kosong kira-kira sama dengan kondisi
awal fluidisasi . Gelembung yang terbentuk berperilaku hamper seperti
gelembung udara dalam air, atau gelembung uap dalam zat cair yang mendidih
(hamparan didih).
Ukuran rata-rata gelembung itu bergantung pada jenis dan ukuran partikel,
jenis plat distributor, kecepatan superficial, dan tebalnya hamparan.
Gelembung-gelembung cenderung bersatu, dan menjadi besar pada waktu naik
melalui hamparan fluidisasi itu dan ukuran maksimum gelembung stabil
berkisar antara beberapa inci sampai beberapa kaki diameternya. Gelembung-

gelembung yang beriringan lalu bergerak ke puncak terpisah oleh zat padat
yang seakan-akan sumbat. Peristiwa tersebut di kenal peristiwa penyumbatan
(slugging) dan biasanya hal ini tidak dikehendaki karena mengakibatkan
karena adanya fluktuasi tekanan dalam hamparan, meningkatkan zat padat
yang terbawa ikut dan menimbulkan kesulitan jika kita ingin memperbesar
skalanya di unit-unit yang lebih besar.
Unggun yang difluidisasikan dengan udara biasanya menunjukkan
fluidisasi agregat. Pada kecepatan superfisial yang jauh melebihi Umf,
kebanyakan gas akan melewati unggun sebagai gelembung atau rongga-rongga
kosong yang tidak berisikan zat padat dan hanya sebagian kecil gas yang
mengalir dalam saluran-saluran yang terbentuk di antara partikel. Gelembung
yang terbentuk berperilaku hampir sama dengan gelembung udara di dalam air
atau gelembung uap di dalam zat cair yang mendidih, dan karena itu fluidisasi
jenis ini sering disebut fluidisasi didih (boiling bed). (McCabe, 1985:151)
Gelembung-gelembung yang terbentuk cenderung bersatu dan menjadi
besar pada waktu naik melalui hamparan fluidisasi itu. Jika kolom yang
digunakan berdiameter kecil dengan hamparan zat padat yang tebal, gelembung
itu mungkin berkembang hingga memenuhi seluruh penampang. Gelembunggelembung yang beriringan lalu bergerak ke puncak kolom terpisah dari zat
padat yang seakan-akan tersumbat. Peristiwa ini disebut penyumbatan
(slugging). (McCabe, 1985:151)
Penyamarataan bahwa fluida gas pasti menghasilkan fluidisasi gelembung
tidak sepenuhnya benar. Perbedaan densitas merupakan parameter yang
penting. Pada kasus dimana densitas fluida dan solid berbeda jauh atau ukuran
partikel besar, kecepatan aliran fluida yang dibutuhkan lebih besar dan
fluidisasi yang terjadi tidak merata. Sebagian besar fluida melewati unggun
dalam bentuk gelembung (bubbles). Di sini, unggun memiliki banyak
karakteristik liquid dengan fasa fluida terjadi pada saat gas menggelembung
melewati unggun. Fluidisasi jenis ini disebut fluidisasi agregat. (Foust,
1959:643)

Partikel unggun yang lebih ringan, lebih halus, dan bersifat kohesif sangat
sukar terfluidisasi karena gaya tarik antarpartikel lebih besar daripada gaya
seretnya. Partikel cenderung melekat satu sama lain dan gas menembus unggun
dengan membentuk channel.
Pengembangan volume unggun dalam fluidisasi gelembung terutama
disebabkan oleh volume yang dipakai oleh gelembung uap, karena fase rapat
pada umumnya tidak berekspansi dengan peningkatan aliran. Dalam penurunan
berikut ini, aliran gas melalui fase rapat diandaikan sama dengan Umf
dikalikan dengan fraksi unggun yang diisi oleh fase rapat, ditambah sisa aliran
gas yang dibawa oleh gelembung (McCabe, 1985:154), sehingga:
Vs f b u b (1 f b )U mf

dimana:

fb = fraksi unggun yang diisi gelembung


ub = kecepatan rata-rata gelembung

Dalam fluidisasi agregat, fluida akan membuat gelembung pada padatan


unggun dalam tingkah laku yang khusus. Gelembung fluida meningkat melalui
unggun dan pecah pada permukaan unggun dan akan tejadi splashing dimana
partikel unggun akan bergerak ke atas. Seiring dengan meningkatnya kecepatan
fluida, perilaku gelembung akan bertambah besar. (Brown, 1955:269)
Keberadaan fluidisasi partikulat atau agregatif merupakan hasil dari
pengaruh gaya gravitasi pada fasa-fasa yang ada dalam unggun terfluidisasi

dan juga karena mekanika fluida ruah dari sistem. Angka Froude,

v2
Dp g

, yaitu

rasio antara kinetik dengan energi gravitasi merupakan salah satu kriteria
penentu jenis fluidisasi apa yang terjadi. (Foust, 1959:643)
C. Fluidisasi Kontinu

Bila kecepatan fluida melalui hamparan zat padat cukup besar, maka
semua partikel dalam hamparan itu akan terbawa ikut oleh fluida hingga
memberikan suatu fluidisasi kontinu. Prinsip fluidisasi ini terutama diterapkan
dalam pengangkutan zat padat dari suatu titik ke titik lain dalam suatu pabrik
pengolahan di samping ada beberapa reaktor gas zat padat lama yang bekerja
dengan prinsip ini. Contohnya adalah dalam tranportasi lumpur dan tranportasi
pneumatic. (McCabe, 1985:151)
Ketika laju alir fasa fluida melewati kecepatan terminal partikel, unggun
terfluidisasi akan kehilangan identitasnya karena partikel solid terbawa dalam
aliran fluida. Metoda pengangkutan ini sering digunakan dalam industri,
biasanya dengan udara sebagai fasa fluida, antara lain untuk mengangkut
produk dari pengering semprot (spray dryers). Keuntungan metoda ini adalah
kehilangan yang terjadi sedikit, prosesnya bersih, dan kemampuannya untuk
memindahkan sejumlah besar solid dalam waktu singkat. Tetapi kerugiannya
antara lain ada kemungkinan terjadi kerusakan partikel solid serta korosi pada
pipa mungkin besar. (Foust, 1959:647)
Dalam fluidisasi, karena sifat-sifat partikel padat yang menyerupai sifat
fluida cair dengan viskositas tinggi, metode pengontakan fluidisasi memiliki
beberapa keuntungan dan kerugian.
II.5

Penerapan Fluidisasi

a) Proses fisika

: transprtasi, penukar panas, pengeringan,

pencampuran serbuk

halus, pelapisan bahan plastik pada permukaan logam, pengecilan/pembesaran


partikel dan adsorpso.
b) Proses kimia
: oksidasi etilena, pembuatan anhidrida ftalat, cracking
hidrokarbon dan lain-lain.

II.6

Keuntungan dan Kerugian Proses Fluidisasi

Di dalam pemakaiannya, unggun terfluidakan mempunyai beberapa keuntungan


dibandingkan dengan unggun diam, antara lain :
1. Sifat unggun yang menyerupai fluida memungkinkan adanya aliran zat padat
secara kontinu
2. Kecepatan pencampuran padatan yang tinggi menyebabkan reactor selalu
berada pada kecepatan isothermal, sehingga memudahkan pengendaliannya.
3. Perpindahan massa dan panas antara fluida dan padatan lebih baik
dibandingkan dengan unggun diam.
4. Perpindahan panas antara unggun terfluidakan dengan media pemindah panas
yang baik memungkinkan pemakaian alat penukar panas yang mempunyai
luas permukaan lebih kecil.
5. Memungkinkan operasi dalam skala besar.
Beberapa kerugian pemakaian unggun terfluidakan :
1. Selama operasi partikel-partikel padat mengalami pengikisan sehingga
karakteristik fluidisasi bias berubah dari waktu ke waktu.
2. Butiran halus akan terbawa aliran fluida sehingga mengakibatkan kehilangan
sejumlah tertentu padatan.
3. Terjadinya erosi terhadap bejana dan system pendingin oleh partikel padatan.
4. Terjadinya gelembung dan kekosongan local didalam unggun seringkali tidak
bisa dihindarkan. Peristiwa ini mengakibatkan kontak antara fluida dengan
padatan tidak merata sehingga konversi reaksi menjadi kecil.
5. Pencampuran padatan yang terlau cepat akan mengakibatkan ketidak
seragaman waktu tinggal padatan didalam reactor. Untuk proses kontinu, hasil
yang didapatkan tidak seragam dan konversi rendah, khususnya untuk tingkat
konversi yang tinggi. Sedangkan untuk proses batch, pencampuran ini
menguntungkan karena diperoleh hasil yang seragam. Untuk reaksi katalitik,
gerakan partikel katalis berpoti yang menangkap dan membebaskan molekul
gas pereaksi secara kontinu akan menambah pencampuran ulang sehingga
menurunkan hasil.
II.7

Parameter-Parameter Dalam Fluidisasi

2.7.1 Densitas partikel


Penentuan densitas partikel untuk zat padat yang masih dan tidak
menyerap air atau zat cair lain, bisa dilakukan dengan memakai piknometer.
Sedang untuk partikel berpori, cara diatas akan menimbulkan kesalahan yang
cukup besar karena air atau cairan akan memasuki pori-pori didalam partikel,
sehingga yang diukur bukan lagi densitas partikel (berikut pori-porinya) seperti
yang diperlukan dalam persamaan di muka, tetapi densitas bahan padatnya (tidak
termasuk pori-pori didalamnya). Untuk partikel-artikel yang demikian ada cara
lain yang biasa digunakan, yaitu dengan metode yang diturunkan Ergun.
2.7.2 Bentuk partikel
Dalam persamaan yang telah diturunkan, partikel padatnya dianggap
sebagai butiran yang berbentuk bola dengan diameter rata-rata dp. Untuk partikel
bentuk lain, harus ada koreksi yang menyatakan bentuknpartikel sebenarnya.
Faktor koreksi tersebut dinyatakan dengan :

2.7.3 Diameter partikel


Diameter

partikel

biasanya

diukur

berdasarkan

analisa

ayakan

(ukuran mesh).
2.7.4. Porositas unggun
Porositas unggun menyatakan fraksi kosong di dalam unggun yang secara
matematika bila ditulis sebagai berikut:

II.8

Fenomena Fluidisasi

Jika suatu aliran udara melewati suatu partikel unggun yang ada dalam
tabung, maka aliran tersebut akan memberikan gaya seret (drag force) pada
partikel dan memberikan pressure drop sepanjang unggun. Pressure drop akan

naik jika kecepatan superficial naik (kecepatan superficial adalah kecepatan aliran
jika tabung kosong).
Pada kecepatan superficial rendah, unggun mula-mula diam. Jika
kecepatan superficial dinaikkan maka pada suatu saat gaya seret fluida
menyebabkan unggun mengembang dan tahanan terhadap aliran udara mengecil,
sampai akhirnya gaya seret tersebut cukup untuk mendukung gaya berat partikel
unggun dan unggun akan terfluidisasi.
Sementara itu, pressure drop akan tetap walaupun kecepatan superficial
terus dinaikkan dan sama dengan berat efektif unggun persatuan luas. Kecepatan
superficial terendah yang dibutuhkan untuk terjadinya fluidisasi disebut Minimum
Fluidization Velocity (Umf).
Konsep dasar dari suatu partikel unggun yang terfluidisasi dapat
diilustrasikan dengan fenomena yang terjadi saat adanya perubahan laju alir gas
seperti pada gambar di bawah ini:

Gambar 1. Fenomena fluidisasi dengan variasi laju alir gas


Fenomena fluidisasi pada sistem gas-padat juga dapat diilustrasikan pada
gambar berikut ini:

P2

Bed

x
P1

Gas in

Gambar 2. Fenomena fluidisasi pada sistem gas-padat


Adapun fenomena-fenomena yang dapat terjadi pada proses fluidisasi antara lain:
1.
Fenomena fixed bed, terjadi ketika laju alir fluida kurang dari laju
minimum yang dibutuhkan untuk proses awal fluidisasi. Pada kondisi ini
partikel padatan tetap diam. Kondisi ini ditunjukkan pada gambar 3.

Gambar 3. Fenomena fixed bed


2.

Fenomena minimum or incipient fluidization, terjadi ketika laju alir fluida


mencapai laju alir minimum yang dibutuhkan untuk proses fluidisasi. Pada
kondisi ini partikel-partikel padat mulai terekspansi. Kondisi ini ditunjukkan
pada gambar 4.

Gambar 4 Fenomena minimum or incipient fluidization


3.

Fenomena smooth or homogenously fluidization, terjadi saat kecepatan dan


distribusi aliran fluida merata, densitas dan distribusi partikel dalam unggun
sama atau homogen sehingga ekspansi pada setiap partikel padatan seragam.
Kondisi ini ditunjukkan pada gambar 5.

Gambar 5. Fenomena smooth or homogrnously fluidization


4.

Fenomena bubbling fluidization yang terjadi ketika gelembung


gelembung pada unggun terbentuk akibat densitas dan distribusi partikel tidak
homogen. Kondisi ini ditunjukkan pada gambar 6.

Gambar 6. Fenomena bubbling fluidization


5.

Fenomena slugging fluidization, terjadi ketika gelembung-gelembung


besar yang mencapai lebar dari diameter kolom terbentuk pada partikelpartikel padat. Pada kondisi ini terjadi penolakan sehingga partikel-partikel
padat seperti terangkat. Kondisi ini dapat dilihat pada gambar 7.

Gambar 7. fenomena slugging fluidization

6.

Fenomena chanelling fluidization, terjadi ketika dalam unggun partikel


padatan terbentuk saluran-saluran seperti tabung vertikal. Kondisi ini
ditunjukkan pada gambar 8.

Gambar 8. Fenomena chanelling fluidization


7.

Fenomena disperse fluidization, terjadi saat kecepatan alir fluida


melampaui kecepatan maksimum aliran fluida. Pada fenomena ini sebagian
partikel akan terbawa aliran fluida dan berekspansi mencapai nilai
maksimum. Kondisi ini ditunjukkan pada gambar 9.

Gambar 9. Fenomena disperse fluidization


Fenomena-fenomena fluidisasi tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor
berikut:
a. Laju alir fluida dan jenis fluida
b. Ukuran partikel dan bentuk partikel
c. Jenis dan densitas partikel serta faktor interlok antar partikel
d. Porositas unggun

e. Distribusi aliran,
f. Distribusi bentuk ukuran fluida
g. Diameter kolom
h. Tinggi unggun.
Faktor-faktor di atas merupakan variabel-variabel dalam proses fluidisasi
yang akan menentukan karakteristik proses fluidisasi tersebut.
Untuk kecepatan yang kurang dari kecepatan fluidisasi minimum (Umf)
maka unggun akan berperilaku sebagai packed bed. Namun, jika kecepatan aliran
fluida dinaikkan melebihi Umf, maka tidak hanya unggun yang terangkat, tetapi
partikel akan bergerak dan akan saling berbenturan satu sama lain dan akhirnya
keseluruhan massa partikel akan menjadi fluida.

Gambar 10. Transition from packed bed to fluidized bed


Selama fluidisasi, penurunan tekanan sepanjang unggun akan tetap
walaupun kecepatan superfisial terus dinaikkan dan sama dengan berat efektif
unggun persatuan luas:
m
p
( p f ) g
p Sb
dimana:

m = massa partikel
p = densitas partikel
Sb = luas area unggun
f = densitas fluida
g = percepatan gravitasi
Jika laju alir ke unggun terfluidisasi diturunkan bertahap, penurunan
tekanan akan tetap konstan dan tinggi unggun akan berkurang.Walaupun
demikian, tinggi unggun terakhir akan lebih besar daripada tinggi mula-mula

untuk fixed bed. Hal ini dikarenakan solid di dalam tabung cenderung berkumpul
lebih rapat daripada jika solid diam secara bertahap dari keadaan terfluidisasi.
Penurunan tekanan pada laju alir rendah lebih kecil daripada nilai awal di fixed
bed. Unggun yang terfluidisasi akan bersifat menyerupai liquid, di antaranya:
Benda yang lebih ringan akan mengapung di atas unggun (yaitu bendabenda yang densitasnya lebih kecil daripada densitas bulk unggun),

Permukaan akan tetap horizontal bahkan dalam unggun yang miring,

Solid dapat mengalir melalui bukaan di kolom sama seperti liquid,

Unggun memiliki tekanan statis karena gravitasi, nilainya sebesar ogh,

Ketinggian antara dua unggun terfluidisasi yang serupa sama dengan


tekanan statik mereka.

II.7

Kelebihan dan Kekurangan Teknik Fluidisasi

Kelebihan dari teknik fluidisasi adalah:


1. Properti transfer panas yang baik dalam gas-fluidized bed. Gelembung
yang terbentuk menjaga unggun bersifat isotermal dan laju transfer panas
yang tinggi diperoleh antara unggun dan permukaan yang dicelupkan.
2. Sifat unggun yang menyerupai fluida memungkinkan adanya aliran zat
padat secara kontinu dan memudahkan pengontrolan.
3. Perpindahan panas antara unggun terfluidakan dengan media pemindah
panas yang baik memungkinkan pemakaian alat penukar panas yang
memiliki luas permukaan kecil.
4. Perpindahan panas dan kecepatan perpindahan mass antara partikel cukup
tinggi.
5. Sirkulasi

butiran-butiran

padat

antara

dua

unggun

fluidisasi

memungkinkan pemindahan jumlah panas yang besar dalam reaktor.


Kekurangan dari teknik fluidisasi adalah:
1. Kecepatan fluida yang digunakan terbatas pada jangkauan dimana unggun
terfluidisasi. Jika kecepatan jauh lebih besar dari Umf, dapat terjadi

kehilangan material yang cukup besar akibat terbawa keluar dari unggun
serta ada kemungkinan terjadi kerusakan partikel karena kecepatan operasi
yang terlalu besar.
2. Tenaga untuk memompa fluida sehingga terjadi fluidisasi harus besar
untuk unggun yang besar dan dalam.
3. Ukuran dan tipe partikel yang dapat digunakan dalam teknik ini terbatas.
4. Karena sifat unggun terfluidisasi yang kompleks, seringkali terjadi
kesulitan dalam mengubah skala kecil menjadi skala industri.
5. Adanya erosi terhadap bejana dan sistem pendingin.
6. Butiran halus akan terbawa aliran sehingga mengakibatkan hilangnya
sejumlah tertentu padatan.

BAB III
KESIMPULAN
III.1

Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini adalah :

1.

Fluidisasi merupakan salah satu cara untuk mengontakkan butiran padat


dengan fluida. Apabila kecepatan fluida relative rendah, unggun tetap diam
karena fluida hanya mengalir melalui ruang antar partikel tanpa menyebabkan
terjadinya perubahan susunan partikel tersebut

2. Penggunaan operasi fluidisasi didalam industry

Proses fisika

: transprtasi, penukar panas, pengeringan, pencampuran

serbuk halus, pelapisan bahan plastik pada permukaan logam,

pengecilan/pembesaran partikel dan adsorpso.


Proses kimia
: oksidasi etilena, pembuatan anhidrida ftalat, cracking
hidrokarbon dan lain-lain.

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi fluidisasi

Porositas minimum terhadap fluida


Tinggi unggun terhadap fluida

kecepatan fluidisasi minimum terhadap fluida


penurunan tekanan didalam unggun terfluidisasi

DAFTAR PUSTAKA
http://aya-snura.blogspot.com/2013/05/makalah-fluidisasi.html
http://hilda-rosalina.blogspot.com/2013/03/fluidisasi.html
http://www.scribd.com/doc/193659603/fluidisasi
http://prabababulaulia.wordpress.com/2012/03/24/fluidisasi/