Anda di halaman 1dari 49

S.M.A.R.

T (5 LANGKAH MENETAPKAN TUJUAN)

Menuliskan sasaran pribadi butuh disiplin. Relatif mudah untuk menghayal,


berangan-angan atau menginginkan sesuatu dalam hidup ini, tapi menuliskannya
butuh disiplin. Mengapa banyak yang gagal dalam hidup karena gagal menuliskan
tujuan hidupnya. Kita bisa teringat ketika ada yang membicarakannya, tapi lagi-lagi
kita sering gagal untuk menuliskannya. Bahkan sekalipun sudah ditulis, masih
sering kita terjebak dalam rutinitas kehidupan sehari-hari. Kita melupakan apa
tujuan hidup kita. Jadi, diperlukan perhatian khusus dan tindakan segera untuk
menuliskan apa yang ingin dicapai.
Kita patut bersyukur pada sosok-sosok yang telah berpikir untuk membuat istilah
yang mudah diingat untuk merumuskan target yang mau dicapai. Istilah SMART
misalnya. Saya akan menyegarkan Anda mengenai istilah ini dan
memperkenalkannya bagi Anda yang baru mendengarnya.
S adalah singkatan dari specific. Artinya, sasaran pribadi Anda harus jelas.
Sulit mengambil langkah-langkah praktis bila tujuan Anda tidak jelas. Membaca
buku misalnya, dapat memberikan ide apa yang akan dilakukan, tapi masih
memberikan banyak kemungkinan. Bila sasarannya dipersempit menjadi membaca
buku sejarah- ini memberikan tindakan yang lebih jelas. Pilihan Anda dipersempit;
Anda tidak akan membaca buku Matematika, Fisika, Kimia, Biologi atau buku-buku
lain. Membaca buku sejarah Indonesia- ini lebih jelas lagi. Ini bisa berarti Anda
membaca buku Menjadi Indonesia, yang ditulis oleh Parakitri T. Simbolon, terbitan
Gramedia, yang tebalnya kira-kira 800 halaman
M adalah singkatan dari measurable. Artinya, sasaran pribadi Anda harus
terukur. Ada yang membuat ukuran berupa waktu, kualitas, uang, dan ukuran
lainnya sesuai dengan kebutuhan. Mengambil contoh sebelumnya, Anda akan
membaca buku Menjadi Indonesia sampai selesai dalam waktu satu bulan.

A adalah singkatan dari aggressive. Artinya, tujuan Anda cukup menantang dan
ada perkembangan dalam kurun waktu tertentu. Misalnya, Anda membaca buku
Menjadi Indonesia sebanyak 25 halaman setiap hari.
R adalah singkatan dari realistics. Artinya, Anda memiliki waktu untuk
membaca 25 halaman setiap hari. Bila Anda mempunyai kesibukan yang sangat
banyak- membaca buku sebanyak 25 halaman setiap hari mungkin tidak realistis.

T adalah singkatan dari time-bound. Artinya, tujuan Anda akan dicapai dalam
kurun waktu tertentu. Misalnya, Anda selesai membaca buku Menjadi Indonesia
dalam waktu satu bulan.
Dengan paparan istilah SMART di atas, saya harap Anda mempunyai gambaran
tentang bagaimana merumuskan tujuan hidup pribadi Anda.
Note Tambahan :

5 Langkah Menetapkan Tujuan Usaha SMART


Setiap atlet dan perusahaan besar memiliki tujuan dan tujuan itu disampaikan

secara jelas untuk mencapai tujuan tertentu. Namun, dalam dunia usaha kecil,
banyak usaha tidak memiliki tujuan yang menjadi fokus. "Dapatkan lebih banyak
usaha" adalah jawaban umum pemilik usaha kecil ketika ditanya rencana masa
depan. Setiap CEO yang menghargai dirinya akan keluar dari pertemuan pemegang
saham karena tanggapan yang samar-samar itu.
Apakah Anda memiliki perusahaan dengan 50 pekerja atau penguasa tunggal,
keberhasilan usaha Anda tergantung pada kemampuan Anda menetapkan dan
mencapai tujuan. Letakkan usaha Anda di jalur cepat dengan menerapkan prinsipprinsip penetapan tujuan SMART.
Apa itu Tujuan Smart?
S.M.A.R.T adalah singkatan dari 5 langkah tujuan yang spesifik, terukur, dapat
dicapai, relevan, dan berdasarkan waktu. Alat sederhana ini digunakan oleh
perusahaan untuk mengatasi perkiraan tujuan yang ditetapkan ke dalam rencana
tindak lanjut demi hasil.
Specific (khusus): Tujuan yang jelas dan fokus. Dapatkan klien perusahaan
bernilai 2 milyar dolar di pasar asuransi properti Boston" adalah lebih berarti untuk
menggerakkan bersama-sama tim Anda dari pada Usahakan lebih banyak. Ryan
Blair, Pemandu Tujuan yang fasih itu menyatakan, "Fokus menciptakan kekuatan
penuh daya: kekuatan tujuan. Saat Anda fokus pada tujuan, tujuan Anda menjadi
sebuah magnet, menarik Anda dan sumber daya Anda ke arah tujuan itu. Semakin
fokus energi Anda, semakin besar kekuatan yang Anda turunkan."
Measurable (terukur): Tujuan tanpa hasil yang terukur seperti bertanding
olahraga tanpa papan skor atau pencatat angka. Bilangan merupakan bagian
penting dari usaha. Cantumkan angka yang nyata dalam tujuan-tujuan Anda untuk
mengetahui apakah Anda berada di jalur. Papan putih yang dipasang di kantor Anda
dapat membantu sebagai ingatan harian yang menjaga diri Anda dan karyawan
Anda tetap fokus pada hasil target yang ingin Anda capai.

Attainable (dapat dicapai): Kerap kali usaha kecil menetapkan tujuan di luar
jangkauan. Tidak seorang pun pernah membangun usaha bernilai miliar dolar dalam
semalam. Modal ventura dan investor malaikat membuang rencana usaha dari
perusahaan yang tak terhitung jumlahnya dengan tujuan aneh. Mimpi besar dan
bertujuan meraih bintang-bintang tetapi tetap satu kaki yang kuat berbasis dalam
kenyataan. Periksa dengan asosiasi industri Anda untuk mendapatkan pegangan
pada pertumbuhan nyata dalam industri Anda untuk menetapkan tujuan yang
smart.
Relevant (relevan): tujuan usaha yang dapat dicapai didasarkan pada kondisi saat
ini dan kenyataan iklim usaha. Anda mungkin ingin memiliki tahun terbaik Anda
dalam usaha atau peningkatan pendapatan sebesar 50%, tetapi jika resesi yang
menukik dan 3 pesaing baru dibuka di pasar Anda, maka tujuan Anda tidak relevan
dengan realitas pasar.
Time-Based (berbasis waktu): Tujuan dan sasaran usaha tidak akan jalan ketika
tidak ada kerangka waktu terkait dengan proses penetapan-tujuan. Apakah tujuan
usaha Anda adalah untuk meningkatkan pendapatan sebesar 20% atau menemukan
5 klien baru, pilih kerangka waktu untuk mencapai tujuan Anda.
Contoh Tujuan Smart
Jadi, seperti apa tujuan yang smart? Berdasarkan akronim, contoh kita menyatakan,
"Dapatkan klien baru bernilai 2 miliar dolar korporasi di pasar asuransi properti
Boston pada akhir tahun fiskal ini melalui kegiatan jaringan dan pemasaran."
Setelah tujuan usaha SMART Anda, uraikan setiap tujuan menjadi satu ketetapan
khusus tugas dan kegiatan untuk mencapai tujuan Anda. Penting secara periodik
meninjau tujuan Anda dan melakukan penyesuaian jika perlu. Penentuan tujuan
untuk usaha kecil Anda adalah alat penting untuk keberhasilan. Ingat, pada
akhirnya menjadi SMART

TAHAPAN PROMOSI KESEHATAN


ABSTRAK
Promosi kesehatan adalah ilmu dan seni membantu masyarakat menjadikan
gaya hidup mereka sehat optimal. Kesehatan yang optimal didefinisikan
sebagai

keseimbangan

kesehatan

fisik,

emosi,

sosial,

spiritual,

dan

intelektual. Ini bukan sekedar pengubahan gaya hidup saja, namun berkaitan
dengan pengubahan lingkungan yang diharapkan dapat lebih mendukung
dalam membuat keputusan yang sehat. Proses promosi kesehatan itu sendiri
diartikan sebagai rangkaian kegiatan pemecahan masalah yang ilmiah, logis,
sistematis, dan terorganisasi bertujuan membantu klien dapat berupa
individu, keluarga, kelompok atau masyarakat untuk mencapai tingkat
kesehatan dan pemeliharaan kesehatan secara optimal sesuai dengan
kebutuhannya

melalui

langkah-langkah:

pengkajian,

perencanaan,

implementasi, dan evaluasi keperawatan.

Kata Kunci: pengkajian; perencanaan; implementasi; evaluasi; strategi;


metode; proses; tujuan; manfaat; media; komunitas; perawat; promosi
kesehatan.

DAFTAR ISI

KATA
PENGANTAR...............................................................................................i
ABSTRAK............................................................................................................
.....ii
DAFTAR
ISI.............................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.........................................................................................iv
1.2 Tujuan......................................................................................................v
1.3 Perumusan Masalah.................................................................................v
1.4 Metode Penulisan.....................................................................................vi
1.5 Sistematika Penulisan...............................................................................vi
BABA II PEMBAHASAN
2.1 Tahap
Pengkajian.................................. .........................................................1
2.2 Tahap
Perencanaan..........................................................................................6
2.3 Tahap

Implementasi........................ ...............................................................12
2.4 Tahap
Evaluasi......................... ......................................................................16
BAB III PENUTUP
3.1
Kesimpulan................................. ...................................................................2
1
3.2
Saran............................... ................................................................................
21
DAFTAR
PUSTAKA...............................................................................................22

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dewasa ini promosi kesehatan (health promotion) telah menjadi bidang yang
semakin penting dari tahun ke tahun. Dalam tiga dekade terakhir, telah
terjadi perkembangan yang signifikan dalam hal perhatian dunia mengenai
masalah promosi kesehatan. Penyelenggaraan promosi kesehatan dilakukan

dengan mengombinasikan berbagai strategi yang tidak hanya melibatkan


sektor kesehatan belaka, melainkan lewat kerjasama dan koordinasi segenap
unsur dalam masyarakat. Hal ini didasari pemikiran bahwa promosi
kesehatan adalah suatu filosofi umum yang menitikberatkan pada gagasan
bahwa kesehatan yang baik merupakan usaha individu sekaligus kolektif
(Taylor, 2003).
Bagi individu, promosi kesehatan terkait dengan pengembangan program
kebiasaan kesehatan yang baik sejak muda hingga dewasa dan lanjut usia
(Taylor, 2003). Secara kolektif, berbagai sektor, unsur, dan profesi dalam
masyarakat seperti praktisi medis, psikolog, media massa, para pembuat
kebijakan publik dan perumus perundang-undangan dapat dilibatkan dalam
program promosi kesehatan. Praktisi medis termasuk perawat dapat
mengajarkan kepada masyarakat mengenai gaya hidup yang sehat dan
membantu mereka memantau atau menangani risiko masalah kesehatan
tertentu. Para psikolog berperan dalam promosi kesehatan lewat
pengembangan bentuk-bentuk intervensi untuk membantu masyarakat
mempraktikkan perilaku yang sehat dan mengubah kebiasaan yang buruk.
Media massa dapat memberikan kontribusinya dengan menginformasikan
kepada masyarakat perilaku-perilaku tertentu yang berisiko terhadap
kesehatan seperti merokok dan mengonsumsi alkohol. Para pembuat
kebijakan melakukan pendekatan secara umum lewat penyediaan informasiinformasi yang diperlukan masyarakat untuk memelihara dan
mengembangkan gaya hidup sehat, serta penyediaan sarana-sarana dan
fasilitas yang diperlukan untuk mengubah kebiasaan buruk masyarakat.
Berikutnya, perumus perundang-undangan dapat menerapkan aturan-aturan
tertentu untuk menurunkan risiko kecelakaan seperti misalnya aturan
penggunaan sabuk pengaman di kendaraan (Taylor, 2003).
Promosi kesehatan mencakup baik kegiatan promosi (promotif), pencegahan
penyakit (preventif), pengobatan (kuratif), maupun rehabilitasi. Dalam hal
ini, orang-orang yang sehat maupun mereka yang terkena penyakit,
semuanya merupakan sasaran kegiatan promosi kesehatan. Kemudian,

promosi kesehatan dapat dilakukan di berbagai ruang kehidupan, dalam


keluarga, sekolah, tempat kerja, tempat-tempat umum, dan tentu saja
kantor-kantor pelayanan kesehatan. Dalam melaksanakan program promosi
kesehatan diperlukan suatu tahapan yang sistematis guna pencapaian
tujuan program yang ditetapkan. Tahapan promosi kesehatan meliputi tahap
pengkajian, perencanaan, implementasi dan evaluasi hasil.
1.2 Tujuan
a) Untuk memenuhi kebutuhan tugas Mata Ajar Promosi Kesehatan
b) Memahami konsep dasar promosi kesehatan secara umum
c) Memahami tahapan promosi kesehatan
d) Mampu mengimplementasikan berbagai metode yang ada pada setiap
tahapan promosi kesehatan
e) Mengetahui dan memahami konsep tahapan promosi kesehatan pada
setiap tahapan promosi kesehatan, meliputi: pengakajian, perencanaan,
implementasi dan evaluasi
1.3 Rumusan
Berdasarkan kasus pemicu pada materi, Dapat diidentifikasi beberapa
permasalahn terkait dengan tahapan promosi kesehatan diantaranya dalah
sebagai berikut:
1) Apakah pengkajian yang dilakukan pada kasus sudah tepat berdasarkan
panduan yang telah dipelajari dalam diskusi?
2) Bagaimana strategi yang digunakan dalam melakukan pengkajian agar
memperoleh data yang tepat, yang akan digunakan sebagai dasar dalam
pembuatan tujuan diadakannya promosi kesehatan?
3) Bagaimana pembuatan perencaan program promosi kesehatan yang tepat
berdasarkan data yang diperoleh dalam tahap pengkajian?
4) Strategi apa saja yang dapat digunakan dalam mengimplementasikan
rencana tindakan yang telah dibuat dalam program promosi kesehatan?
5) Bagaimana cara mengevaluasi program promosi kesehatan yang tepat?

6) Apa yang harus dilakukan jika tujuan dari program promosi kesehatan
yang telah ditetapkan tidak tercapai?
1.4 Metode Penulisan
Makalah ini disusun dengan literasi buku, internet, serta melalui diskusi
kelompok.
1.5 Sistematika Penulisan
KATA PENGANTAR
ABSTRAK
DAFTAR ISI
Bab I. Pendahuluan
Bab II. Pembahasan
2.1 Tahap Pengkajian
2.2 Tahap Perencanaan
2.3 Tahap Implementasi
2.4 Tahap Evaluasi
Bab III Penutup
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA

BAB II

PEMBAHASAN
Promosi Kesehatan adalah proses pemberdayaan masyarakat agar mampu
memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Proses pemberdayaan
tersebut dilakukan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat; artinya proses
pemberdayaan tersebut dilakukan melalui kelompok-kelompok potensial di
masyarakat, bahkan semua komponen masyarakat. Kegiatan promosi
kesehatan diselenggarakan melalui proses : pengkajian, perencanaan,
pelaksanaan, dan evaluasi, dimana disetiap proses tersebut menentukan
berjalannya suatu promosi kesehatan.
1. Tahap Pengkajian
Tahapan pertama dalam perencanaan promosi kesehatan adalah pengkajian
tentang apa yang dibutuhkan klien atau komunitas untuk menjadi sehat.
Pengkajian keperawatan adalah proses sistematis dari pengumpulan,
verifikasi, dan komunikasi data tentang klien, baik individu maupun
komunitas. Fase keperawatan ini mencakup dua langkah yaitu pengumpulan
data, dari sumber primer (klien) dan sumber sekunder (keluarga, tenaga
kesehatan), dan analisa data sebagai dasar untuk diagnosa keperawatan
(Bandman dan Bandman, 1995). Pengkajian bertujuan untuk menetapkan
dasar data tentang kebutuhan, masalah kesehatan, pengalaman yang
terkait, praktik kesehatan, tujuan, nilai dan gaya hidup yang dilakukan klien.
Informasi yang terkandung dalam dasar data adalah dasar untuk
menetapkan proses asuhan keperawatan selanjutnya.
Pengkajian komunitas merupakan suatu proses; merupakan upaya untuk
dapat mengenal masyarakat. Warga masyarakat merupakan mitra dan
berkontribusi terhadap keseluruhan proses. Tujuan keperawatan dalam
mengkaji komunitas adalah mengidentifikasi faktor-faktor (baik positif
maupun negatif) yang mempengaruhi kesehatan warga masyarakat agar
dapat mengembangkan startegi promosi kesehatan. Hancock dan Minkler
(1997), mengemukakan bahwa bagi profesional kesehatan yang peduli

tentang membangun masyarakat yang sehat, ada dua alasan dalam


melakukan pengkajian kesehatan komunitas, yaitu sebagai informasi yang
dibutuhkan untuk perubahan dan sebagai pemberdayaan.
1. Menentukan Kebutuhan Manusia
Saat melakukan pengkajian promosi kesehatan, perawat perlu menentukan
prioritas. Hirarki Maslow (1970) tentang kebutuhan merupakan metode yang
sangat berguna untuk menetukan prioritas. Hirarki tentang kebutuhan
manusia mengatur kebutuhan dasar dalam lima tingkat. Tingkat pertama
atau tingkat paling dasar mencakup kebutuhan seperti udara, air, dan
makanan. Tingkat kedua mencakup kebutuhan keselamatan dan keamanan.
Tingkat ketiga mengandung kebutuhan dicintai dan memiliki. Tingkat
keempat mengandung kebutuhan dihargai dan harga diri. Tingkat kelima
adalah kebutuhan untuk aktualisasi diri.
Lain halnya dengan Bradshaw (1972), Bradshaw secara umun mengunakan
suatu taksonomi yang membedakan kebutuhan kesehatan dan sosial
menjadi empat tipe, yaitu:
1. Normative needs
Ini merupakan kebutuhan yang ditetapkan oleh seorang ahli atau kelompok
profesional. Contohnya perencanaan karir, keuangan, asuransi, dan liburan.
2. Felt needs
Felt needs adalah apa yang sebenarnya kita inginkan. Ini dapat diidentifikasi
oleh masing-masing klien yang dapat dihubungkan dengan pelayanan,dan
informasi.
3. Expressed needs
Expressed needs hampir sama dengan felt needs, yang membedakannya
adalah expressed needs dibuat berdasarkan keinginan klien.
4. Comparative needs
Comparative needs kebutuhan yang diperlukan berdasarkan situasi tertentu.
Yang dapat dibandingkan dengan kelompok yang sama atau individual.

Hirarki Kebutuhan Maslow


Pada promosi kesehatan perawat lebih banyak berperan sebagai fasilitator
self-care dibandingkan pemberi asuhan keperawatan. Proses pengkajian
ditujukan untuk mengkaji klien, termasuk individual client, keluarga atau
komunitas dan untuk mengidentifikasi kebutuhan dan kekuatan serta sesuai
dengan hasil (Roberta Hunt, 2005). Adapun beberapa tahap dalam
pengkajian yaitu
a. Mengidentifikasi prioritas masalah kesehatan yang terdiri dari
Melakukan Konsultasi
Mengumpulkan data
Membuat penyajian penemuan
Menentukan prioritas masalah
b. Menganalisis masalah kesehatan yang terdiri dari
Membuat tinjauan pustaka( literature review)
Mengambarkan group yang akan di berikan promosi kesehatan
Mengeksplor lebih jauh mengenai masalah kesehatan
Menganalisa faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi timbulnya
masalah kesehatan
2. Tujuan pengkajian keperawatan dalam promosi kesehatan
1. Untuk membantu intervesi langsung dengan sewajarnya
2. Untuk mengidentifikasi respon tentang kebutuhan spesifik dari grup
minoritas, komunitas, atau populasi yang membutuhkan promosi kesehatan.
Misalnya promosi kesehatan yang dilakukan pada komunitas mantan
penderita kusta tentu berbeda dengan promosi yang dilakukan pada orang

normal.
3. Untuk menentukan risiko dari suatu komunitas, apa yang akan terjadi jika
komunitas tersebut diberi promosi kesehatan dan apa yang akan terjadi jika
kelompok tersebut tidak diberi promosi kesehatan.
4. Alokasi sumber dana, prioritas dana dinas kesehatan diharapkan
digunakan untuk proses pencegahan penyakit melalui promosi kesehatan
bukan untuk biaya pengobatan.
3. Proses pengkajian dalam promosi kesehatan
Proses dimulai dari pengkajian kualitas hidup, masalah kesehatan, masalah
perilaku, faktor penyebab, sampai keadaan internal dan eksternal. Output
pengkajian ini adalah pemetaan masalah perilaku, penyebabnya, dan lainlain.
Informasi Kualitas Kehidupan : diperoleh dengan melihat data sekunder
(Strata keluarga) informasi ini hanya berfungsi sebagai latar belakang
masalah saja.
Informasi tentang perilaku sehat : diperoleh dari kunjungan rumah atau di
Pos Yandu
Informasi tentang faktor penyebab (pre desposing, enabling dan
reenforcing factors) diperoleh melalui survei cepat etnografi (Rapid
etnography assesment) yang dilakukan oleh tingkatan kabupaten atau kota.
Informasi tentang faktor internal (tenaga, sarana, dana promosi kesehatan)
dan eksternal (peraturan, lingkungan di luar unit) diperoleh dari
lapangan/tempat.
Proses pengkajian dalam promosi kesehatan dapat dilakukan dengan
memberikan beberapa pertanyaan, yaitu tentang:
a. Apa yang ingin saya ketahui?
b. Mengapa saya ingin mengetahui hal ini?
c. Bagaimana saya bisa menemukan informasi ini?
d. Apa yang akan saya lakukan dengan informasi ini?
e. Apa kesempatan saya di sini untuk melakukan tindakan dengan informasi
ini?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut berguna untuk mengetahui secara lebih


detail tentang:
a. Kebutuhan individu
Untuk seorang perawat pemberi promosi kesehatan yang bekerja dengan
klien individu, ini sangat penting untuk diketahui agar dapat meningkatkan
partisipasi klien dalam proses keperawatan.
b. Riwayat komunitas
Perawat komunitas selauntuk mengidentifikasi kebutuhan mereka.lu bekerja
dengan kelompok atau komunitas pengetahuan tentang profil komunitas
dapat menjadikan pengkajian lebih sistematik daripadanmelakukan
pengamatan subjektif.
c. Pandangan masyarakat
Perawat pemberi promosi kesehatan perlu mendengarkan pandangan
masyarakat. Hal ini penting untuk dilakukan karena pertama, perawat perlu
mendorong masyarakat lokal untuk terlibat secara langsung dalam proses.
Kedua, perawat perlu memeberi keyakinan bahwa perawat menyediakan
informasi yang berguna dalam memenuhi kebutuhan dalam aktivitas
masyarakat. Proses ini dapat dikatakan tida berhasil jika masyarakat psif
dalam penyediaan informasi dan tidak berpartisipasi secara langsung dalam
proses promosi kesehatan. Untuk membuat masyarakat mau berpartisipasi
dalam proses promosi kesehatan, perawat dapat meminta bantuan dengan
cara melakukan pendekatan kepada tokoh-tokoh masyarakat, seperti:
Tokoh yang memiliki pengetahuan tentang isu umum dalam mayarakat,
misalnya guru.
Pemuka agama
Tokoh yang penting dalam jaringan informal dan memiliki peranan dalam
local communication seperti shopkeepers dan bookmakers.
Dalam melakukan pengkajian dibutuhkan suatu metode yang bertujuan
untuk mengumpulkan data yang terdiri dari
a) Survey Langsung, dengan survey langsung kita dapat melihat
karakteristik tentang gaya hidup, tempat tinggal dan tipe rumah dan

lingkungan rumah.
b) Informant Interviews, informasi yang diperoleh dari informan adalah kunci
melalui wawncara atau focus group discussion sangat menolong dalam
mengatasi masalah
c) Participant Observation, kita dapat mengkaji dat objektif berdasarkan
orang, tempat dan social system yang ada di komunitas. Informasi ini dapat
membantu mengidentifikasi tren, kestabilan dan perubahan yang member
dampak kesehatan individu di komunitas.
d) Menggunakan media seperti telephone
e) Diskusi panel pada komunitas promotor berdiskusi bersama masyarakat
mengenai maslah yang sedang terjadi.
4. Menentukan tindak lanjut dalam pengjkajian promosi kesehatan lokal,
seperti:
National targets, misalnya Indonesia sehat 2010
a national theme, misalnya Hari AIDS Se-Dunia
a major determinant of health in the area, misalnya umur
Pragmatism on the basis of available skills and intercest
Cost and staffing
Longer-term strategy
Existing activity
Cost- effectiveness and what is amenable to change and evaluation
Client choice
Professionals views
2. Tahap Perencanaan
a. Definisi Perencanaan Promosi Kesehatan
Tahap perencanaan penting untuk memastikan bahwa promosi
kesehatan yang akan dilakukan terfokus pada prioritas kerja yang
sesuai dengan tujuan/goal yaitu memberikan layanan keperawatan
terbaik pada klien meliputi individu, kelompok maupun masyarakat.
Model perencanaan diperlukan dalam promosi kesehatan karena

perencanaan menyediakan cara untuk memandu pilihan sehingga


keputusan yang dibuat mewakili cara terbaik untuk mencapai hasil
yang diinginkan. Pendekatan rasional menunjukkan bahwa seluruh
jajaran atau option harus diidentifikasi dan dipertimbangkan
sebelum program komprehensif disusun. Model perencanaan
rasional (Rational planning model) memberika pedoman pilihan
dalam mengambil keputusan yang mewakili langkah terbaik untuk
mencapai tujuan yang akan dicapai. Perencanaan memeiliki
keuntungan supaya tujuan yang akan dicapai jelas oleh karena itu
dalam tahap perencanaan memerlukan
1) Pengkajian kebutuhan promosi kesehatan
2) Penentuan tujuan mengenai apa yang akan dicapai
3) Penentuan taget berhubungan dengan tepat hasil. Target harus
SMART; Sesific, Measurable, Achieveable, Realistic, Time-limited
4) Pemilihan metode atau strategi yang akan digunakan dalam
pencapaian tujuan
5) Evaluasi hasil
Beberapa perecanaan diperkenalkan dalam bentuk linier, namun ada
juga model perencanaan yang ditampilkan dalam bentuk circular
(melingkar), yang mengindikasi bahwa pada hasil evaluasi akan
dijadikan feedback (umpan balik) pada tahap perencanaan
berikutnya. Contoh bentuk model perencanaan bentuk circular
adalah sebagai berikut:
b. Perencanaan Strategis Promosi Kesehatan
Strategis menjelaskan hasil yang diinginkan dan cara dalam
pencapaian tujuan yang akan dicapai pada hasil pelaksanaan tetapi
tidak selalu masuk ke detail tentang metode atau mengukur hasil.
Perencanaan strategis mengacu pada perencanaan sebuah kegiatan
berskala besar yang melibatkan berbagai intervensi pada patner
yang berbeda dan bertahap. Pada English white paper on Public

Health disebutkan bahwa perencanaan strategis mengacu pada


kebutuhan yang telah digabungkan dan kebijakan yang terkait.
Simnett (1995) menggambarkan beberapa tingkat/taraf dalam
pengembangan strategi meliputi:
1) Identifikasi kegemaran patner
2) Diagnose, yaitu identifikasi kemana dan bagaimana kita
menginginkan sesuatu yang berbeda
3) Visi, yaitu terkait dengan hasil yang diharapkan
4) Pembangunan, kebutuhan untuk merubah permintaan sesuai
dengan apa yang dicitakan dan apakah program yang ada sejalan
dengan harapan
5) Rencana pelaksanaan, yaitu rencana mengenai apa yang akan
dilakukan selanjutnya
c. Model Perencanaan Promosi Kesehatan
Menurut Elwes dan Simnett (1999), kerangka kerja perencanaan
promosi kesehatan dapat meliputi:
Stage 1: Identifikasi kebutuhan dan prioritas
Identifikasi kebutuhan dan prioritas memerlukan penelitian dan
penyelidikan, atau mungkin dengan menyeleksi sebagian klien
dilihat dari kasus yang menjadi problem. Identifikasi kebutuhan
dapat dilakukan dengan melakukan penyelidikan/penelitian secara
berurutan terhadap keadaan klien, bertanya langsung kepada klien
tentang topik terkait informasi dan nasehat yang mereka perlukan.
Selain itu, identifikasi dapat juga melihat pada cataan kasus untuk
dapat mengidentifikasi topik yang bersifat umum. Contoh: tim
kesehatan mungkin mengetahui bahwa banyak orangtua
bermasalah dengan pola tidurnya, oleh karena itu pimpin atau beri
arahkan kepada mereka untuk melakukan set up di klinik masalah
tidur.
Model perencanaan lainnya dimulai dari perbedaan pint, contoh:
pada Model perencanaan Tones (Tones, 1974) memulai dengan

menetapkan tujuan promosi kesehatan yang kemudian dianalisa


untuk menetukan intervensi pendidikan/promosi kesehatan yang
tepat. Intervensi yang dilakukan dimodifikasi dengan merujuk
karakteristik pada kelompok target, dan detail rencana program
prendidikan. Model perencanaan Tones fokus pada intervensi
pendidikan, keberlangsungan dari strategi nasional pada promosi
kesehatan melengkapi tujuan promosi kesehatan dalam
pelaksanaan. Menurut Berry (1986) model perencanaan dimulai
dengan menyusun atau mengatur sebuah kelompok kerja untuk
mengkaji ulang (review) masalah dan identifikasi proyek promosi
kesehatan yang sesuai dengan kasus/masalah yang ada.
Stage 2: Mementukan tujuan dan target
Tujuan mengacu pada goal dengan meningkatkan kesehatan di
beberapa area, contoh: mengurangi konsumsi alcohol karena
berhubungan dengan terjadinya gangguan kesehatan. Objek atau
sasaran membuhkan pernyataan spesifik dan harus merupakan
pernyataan yang mengaktifkan objek bekerjasama dalam
pencapaina tujuan yang dicita-citakan bersama. Objek atau sasaran
kemudian diarahkan untuk diberi pendidikan, menciptakan
kebiasaan yang sehat, mengacu pada kebijakan yang terkait, dan
menganalisa proses serta hasil kelingkunga. Pendidikan
objek/sasaran mungkin memutuskan beberapa kategori meliputi:
1) Level pengetahuan klien (objek) bertambah, terkait dengan
masalah yang dibahas dalam promosi kesehatan
2) Affektif klien (objek) mengalami perubahan menuju pola hidup
lebih sehat, yang dapat dilihat pada perubahan tingkah laku dan
kepercayaan
3) Kebiasaan atau ketrampilan klien bertambah/ semakin mahir
pada kompetensi dan ketrampilan baru
Target promosi kesehatan dapat meliputi tambaha sebagai berikut:
1) Perubahan kebiasaan, meliputi perubahan gaya hidup dan

peningkatan pelayanan. Contoh: mengurangi kebiasaan merokok


2) Perubahan pada kebijakan kesehatan klien
3) Peningkatan partisipan dalam proses pelaksanaan dan
kemampuan untuk bekerjasama. Contoh:
meningkatkan/menggerakkan komunitas (partisipan) da sector
dalam guna mendukung program Indonesia sehat 2010
4) Perubahan lingkungan menjadi lebih sehat, contoh
membudayakan membuang sampah pada tempatnya.
Stage 3: Identifikasi metode yang tepat dalam pencapaian tujuan
Pemilihan metode disesuaikan dengan tujuan promosi kesehatan
yang akan dicapai dan memperhatikan segi objek, artinya metode
yang digunakan mampu memberi reflek pada objek/target yang
dituju. Berikut adalah contoh dari pemilihan metode promosi
kesehatan:
Tujuan: untuk menugari resiko bunuh diri pada klien ganguan jiwa
Objek :
1) untuk menjamin bahwa dalam jangka waktu 2tahun pasien
dengan schizopherinia mampu mengatur diri dalam komunitas yang
dimonitor setiap bulan sekali
2) untuk membangun konsep koping addaptif terhadap stress pada
masa muda dengan mengadakan konseling bersama
Metode tertentu terkadang tidak cukup efektif digunakan pada
objek tertentu. Misalnya, pada promosi kesehatan yang diadakan
pada sekelompok kecil akan lebih efektif dalam memberikan
pendidikan dan melihat terjadinya perubahan perilaku pada objek
sebagai hasil dari pelaksanaan sehingga metode pengajaran dapat
dilakukan oleh individu atau sekelompok kecil tim kesehatan.
Sedangkan, pada taraf komunitas, metode promosi keehatan akan
lebih efektif apabila dilakukan dengan cara beerjasama dengan
pemerindah daerah yang terkait guna mendukung pelaksanaan

promosi kesehatan yang akan dijalankan. Media massa juga dapat


menjadi metode promosi kesehatan pada cakupan objek yang lebih
kompleks lagi. Melalui media massa akan lebih efektif untuk
meningkatkan pengetahuan terhadap topic kesehatan, akan tetapi
kurang efektif untuk mengukur atau menilai terjadinya perubahan
perilaku dari objek sasaran. Oleh karena itu, dalam pemilihan
metode promosi kesehatan harus selalu menghubungkan antara
tujuan, objek yang menjadi sasaran, pengetahuan dan juga
ketrampilan dari tim kesehatan sehingga topic kesehatan tidak
hanya dimengerti tetapi mampu diterapkan dalam kehidupan
sehingga diperoleh perubahan perilaku menuju kearah kebiasaan
pola hidup sehat.
Satge 4: Identifikasi sumber yang terkait
Ketika objek dan metode telah diputuskan, tingkat perencanaan
selanjutnya adalah mempertimbangkan mengenai sumber spesifik
yang dibutuhakan dalam mengimplementasi strategi pelaksanaan.
Sumber dapat berupa dana, ketrampilan dan keahlian, bahan
seperti selebaran atau kotak pembelajaran, kebijakan yang menarik,
rencana, fasilitas dan pelayanan.
Stage 5: Menyusun metode rencana evaluasi
Evaluasi harus berhubungan tujuan/sasaran yang telah disusun
sebelumnya tetapi dapat diusahakan lebih dari tujuan yang telah
ditapkan atau kurang dari yang dicita-citakan. Evaluasi dapat kita
lakukan dengan menanyakan pada partisipan mengenai pemahaman
informasi pada akhir sesi atau dapat juga dalam bentuk lebih formal
seperti dengan menbagikan kuisioner kepeda peserta/partisipan
untuk diisi sesuai apa yang dipahami atau dimengerti setelah
pelaksanaan promosi keehatan.
Stage 6: Menyusun rencana pelaksanaan
Penyusunan rencana pelaksanaan merupakan tindakan yang
meliputi penulisan detail rencana pelaksanaan, seperti identifikasi

topik/masalah, orang yang akan menyampaikan informasi terkait


dengan topic, sumber yang akan digunakan, rentang waktu hingga
tahap rencana evaluasi.
Stage 7: Pelaksanaan atau Implementasi dari perencanaan
Merupakan tahap yang penting untuk selalu diperhatikan mengenai
hal yang harus dan tidak harus dilakukan, sehingga tidak terjadi
masalah yang tidak diharapkan. Pelaksanaan atau implementasi
promosi kesehatan perlu direncanakan supaya dalam kenyataannya
partisipan diharapkan mampu menyerap atau menerima, mengerti,
memahami dan mau serta mampu menerapkan dalam kehidupan
sehari-hari sehingga diperoleh perubahan perilaku menjadi lebig
sehat. hasil atau out-put yang ditunujukkan oleh partisipan setelah
dilaksanakan promosi keehatan menjadi bahan dalam penusunan
evaluasi.
3. Tahap Implementasi
Tahap implementasi atau pelaksanaan adalah tindakan penyelesaian
yang diperlukan untuk memenuhi tujuan yakni untuk mencapai
kesehatan yang optimal, implementasi merupakan pelaksanaan dari
rencana perawatan terhadap perilaku yang digambarkan dalam
hasil individu yang diusulkan. Pemilihan intervensi keperawatan
tergantung pada beberapa faktor:
(1) hasil yang diinginkan klien
(2) karakteristik dari diagnosa keperawatan
(3) penelitian yang berkaitan dengan intervensi
(4) kelayakan pelaksanaan intervensi
(5) penerimaan intervensi oleh individu
(6) kemampuan perawat (Carpenito-Moyet, 2003).
Promosi Kesehatan ini dapat diimplementasikan dalam berbagai
tatanan, yaitu sebagai berikut:
1. Promosi kesehatan melalui pengorganisasian dan pengembangan

masyarakat.
Pelaksanaan Promosi Kesehatan di masyarakat adalah sebagai
berikut:
a. Persiapan Pelaksanaan, dalam tahapan ini pelaksana menyusun
jadwal ulang apabila dalam melaksanakan kegiatan tidak sesuai lagi
dengan kondisi terkini, menyusun organisasi pelaksanaan promosi
kesehatan, berdasar atas rencana yang telah disusun, mendapatkan
media komunikasi yang diproduksi oleh Dinas Kesehatan (apabila
ada).
b. Fasilitasi, petugas promkes melaksanakan pelatihan kepada LKM
(seksi kesehatan) melalui pelatihan sambil bekerja (on the job
training), agar mampu melaksanakan kegiatan promosi kesehatan,
kemudian melakukan pemantauan terhadap perkembangan hasil.
c. Implementasi Kegiatan, merupakan tahap pelaksanaan kegiatan
pelatihan yang berkaitan dengan promosi kesehatan.
2. Promosi kesehatan di sekolah
Promosi kesehatan di sekolah pada prinsipnya adalah menciptakan
sekolah sebagai komunitas yang mampu meningkatkan
kesehatannya (Health Promoting School). Oleh karena itu,
pelaksanaan promosi kesehatan di sekolah mencakup 3 kegiatan
pokok, yaitu:
a. Menciptakan lingkungan yang sehat (Healthful School Living),
dalam hal ini tidak hanya lingkungan fisik yang bersih, akan tetapi
juga lingkungan sosialnya juga harus harmonis dan kondusif ,
sehingga perilaku sehat dapat tumbuh dengan baik.
b. Pendidikan kesehatan (Health Education), dilakukan untuk
menanamkan kebiasaan hiddup sehat agar dapat bertanggung
jawab terhadap kesehatan diri sendiri dan lingkungannya serta ikut
aktif dalam usaha0usaha kesehatan.
c. Pemeliharaan dan pelayanan kesehatan di sekolah, penyuluhan
kesehatan juga dapat dijadikan salah satu cara untuk

mempromosikan kesehatan di sekolah.


3. Promosi kesehatan di Tempat Kerja
Promosi Kesehatan di tempat kerja diartikan oleh Li dan Cox
sebagai kesempatan pembelajaran terencana yang ditujukan
kepada masyarakat di tempat kerja dan dirancang untuk
memfasilitasi pengambilan keputusan dan memelihara kesehatan
yang optimal. Pengimplementasian dari promosi kesehatan ini
dapat dilakukan dengan:
a. Pemberian informasi, misalnya dengan membuat media cetak
atau menyelenggarakan pameran kesehatan di tempat kerja.
b. Penjajakan risiko kesehatan, pelaksanaannya berupa
pemeriksaan kesehatan secara rutin.
c. Pemberian resep, misalnya dengan melakukan pelayanan
konseling bagi pekerja agar mampu berperilaku sehat.
d. Membuat system dan lingkungan yang mendukung.
4. Promosi kesehatan di rumah sakit
Pelaksanaan promosi kesehatan di rumah sakit dilakukan dalam
rangka membantu orang sakit atau pasien dan keluarganya agar
mmereka dapat mengatasi masalah kesehatannya, khususnya
mempercepat kesembuhan dari penyakitnya. Promosi kesehatan di
rumah sakit sebaiknya harus menciptakan kesan rumah sakit
tersebut menjadi tempat yang menyenagkan, tempat untuk
beramah tamah, dan sebagainya. Oleh karena itu, pelaksanaan
promkes yang dapat dilakukan adalah:
a. Pemberian contoh
b. Penggunaan media. Media promosi atau penyuluhan kesehatan di
rumah sakit merupakan alat bantu dalam menyampaikan pesanpesan kesehatan pada para pasien dan pengunjung rumah sakit
lainnya.
Tahapan intervensi antara lain
1. Persiapan

Mencari baseline data dan penjajagan kebutuhan mengenai topiktopik kesehatan


Informan: Pekerja - Manajer - Direktur
2. Pelaksanaan
Pendidikan peer educator oleh outreach worker
Penyuluhan secara berkala di pabrik, mess karyawan, masjid,
radio
Penyebaran materi KIE
Pameran kesehatan
Pemutaran film
3. Tahap Monitoring dan Evaluasi
Melihat pencapaian apakah sesuai target
Begitu banyak perhatian dapat ditujukan untuk tujuan-tujuan, isi,
strategi, dan metode program promosi keperawatan sehingga
'proses' pelaksanaan sering kali diabaikan. Parkinson (1982)
mengklasifikasikannya dengan tiga pendekatan;
1. The pilot approach. Ini adalah langkah pertama yang penting
dalam melaksanakan program promosi kesehatan. Green (1986)
menyebutnya sebagai site response, yaitu mendapatkan umpan
balik dari para peserta yang terlibat dalam program, serta dari staf
perencana, pada kualitas program dalam semua dimensi-dari bahanbahan pendidikan (misalnya, pamflet atau menampilkan ) dari
kelayakan staf yang dipilih untuk menyampaikan program. Umpan
balik yang berharga dari fase pilot ini juga dikenal sebagai proses
evaluasi, evaluasi dari suatu proses termasuk kedalam fase
pelaksanaan.
2. The phased-in approach. Hal ini terjadi ketika program tersebut
dilaksanakan di berbagai tempat, daerah atau wilayah. Sebuah
program percontohan mungkin menghasilkan proses evaluasi yang
positif, dan / atau evaluasi mungkin telah menghasilkan
penyesuaian program. Keputusan ini kemudian dibuat untuk

membuat atau memfasekan program tersebut menjadi berbagai


pengaturan dari waktu ke waktu karena keterbatasan sumber daya,
kebutuhan akan bahan-bahan yang lebih tepat, atau timelinenya.
3. Immediate implementation of the total program. Program yang
telah efektif di masa lalu, atau program yang mempunyai
pendekatan yang standar, sering diimplementasikan secara
totalitas.
Secara keseluruhan suatu pendekatan pilot pada setiap program
yang baru dikembangkan adalah suatu keharusan. Pendekatan ini
berfungsi untuk melibatkan komunitas Anda dalam desain, proses
evaluasi dan pelaksanaan, sehingga memastikan komitmen dari
masyarakat itu sendiri.
4. Tahap Evaluasi
Tahap evaluasi pada promosi kesehatan pada dasarnya memiliki
kesamaan dengan tahap evaluasi pada proses keperawatan secara
umum.. Didalam tahapan evaluasi hal penting yang harus
diperhatikan adalah standar ukuran yang digunakan untuk dijadikan
suatu pedoman evaluasi. Standar ini diperoleh dari tujuan dan hasil
yang diharapkan diadakannya suatu kegiatan tersebut. Kedua
standar ini selalu dirumuskan ketika kegiatan ataupun tindakan
keperawatan belum diberikan. Selain itu, dalam tahapan evaluasi
juga dilakukan pengkajian lagi yang lebih dipusatkan pada
pengkajian objektif dan subjektif klien atau objek kegiatan setelah
dilakukan tindakan promosi kesehatan. Tujuan evaluasi diantarnya
adalah sebagai berikut:
Tujuan umum :
1. Menjamin asuhan keperawatan secara optimal
2. Meningkatkan kualitas asuhan keperawatan.
Tujuan khusus :
1. Mengakhiri rencana tindakan program promosi kesehatan

2. Menyatakan apakah tujuan program promosi kesehatan telah


tercapai atau belum
3. Meneruskan rencana tindakan keperawatan terkait program
promosi
4. Memodifikasi rencana tindakan promosi
5. Dapat menentukan penyebab apabila tujuan promosi kesehatan
belum tercapai.
Standar evaluasi pada promosi kesehatan yang mencakup tujuan
serta hasil yang diharapakan selalu dibuat berdasarkan latar
belakang kegiatan. Tujuan dari kegiatan promosi kesehatan selalu
ditetapkan berdasarkan apa yang hendak dicapai dengan kegiatan
promosi kesehatan. Hal ini menjadi penting karena segala tujuan
dari kegiatan promosi kesehatan memiliki aspek yang sangat
penting dari suatu kegiatan promosi kesehatan.
Tahapan evaluasi dalam kegiatan promosi kesehatan dapat
dilakukan dalam berbagai tinjauan. Hal ini meliputi
a. Evaluasi terhadap input
Tahap evaluasi promosi kesehatan dalam hal ini mencakup evaluasi
terhadap segala input untuk mendukung terlaksananya kegiatan
promosi kesehatan. Evaluasi pada komponen input sangat penting
karena input itu sendiri mencakup:
- jumlah ketersediaan sumber daya manusia sebagai pelaksana
kegiatan promosi kesehatan
- banyaknya waktu yang dibutuhkan untuk mempersiapkan atau
melaksanakan kegiatan
- banyaknya materi dan juga uang yang digunakan untuk mendanai
kegiatan.
Segala komponen input tersebut dapat diibaratkan sebagai bahan
bakar dalam kegiatan. Oleh karena itu evaluasi pada aspek ini
sangat perlu karena baik buruknya suatu kegiatan promosi

kesehatan sangat ditentukan seberapa besar input yang ada.


b. Evaluasi terhadap proses
Evaluasi terhadap proses penyelenggaraan promosi kesehatan
meliputi:
- Seberapa banyak orang yang memiliki komitmen tinggi untuk
melakukan kegiatan promosi kesehatan
- Teori dan konsep dalam pemberian promosi kesehatan
- Dimana kegiatan promosi kesehatan dan dilakukan dan sasarannya
- Media dalam pemberian promosi kesehatan
Evaluasi terhadap proses akan memberikan manfaat yang besar
dalam promosi kesehatan. Evaluasi ini akan memperlihatkan
bagaimana berjalannya proses promosi kesehatan dari awal hingga
akhir. Dari evaluasi ini diharapkan akan diketahui sejauh mana
keberhasilan dan kendala dalam suatu kegiatan promosi kesehatan.
c. Evaluasi terhadap hasil dari kegiatan
Evaluasi terhhadap hasil dari suatu kegiatan promosi kesehatan
lebih dipusatkan pada pengamatan pada obkjek kegiatan. Dalam hal
ini, evaluasi dilakukan untuk mengetahui seberapa berhasilkah
promosi kesehatan terhadap pengetahuan, tingkah laku, dan sikap
klien dalam menjalankan pola hidup sehat. Evaluasi hasil juga dapat
digunakan sebagai sarana untuk mengetahui seberapa jauh tujuan
diadakannnya promosi kesehatan dapat tercapai.
d. Impact evaluation
Evaluasi terhadap dampak kegiatan promosi kesehatan meliputi
melakukan pengkajian terhadap seberapa berhasilkah
penyelenggara promosi kesehatan mempengaruhi klien. Selain itu,
dengan evaluasi terhadap dampak kegiatan promosi kesehatan kita
akan mengetahui seberapa besar dampak suatu kegiatan
dilakukan.
Selain itu tindakan evaluasi dapat dilakuak melalui 2 cara yaitu:

1. Evaluasi formatif
Hasil observasi dan analisa promotor terhadap respon segera
pada saat / setelah dilakukan tindakan keperawatan atau promosi
kesehatan
Ditulis pada catatan perawatan
Contoh: membantu pasien dudukajarkan klien pencucian tangan
yang benar dan latihan senam hamil.
2. Evaluasi Sumatif
Rekapitulasi dan kesimpulan dari observasi dan analisa status
kesehatan sesuai waktu pada tujuan
Ditulis pada catatan perkembangan
Dari evaluasi kegiatan atau tindakan evaluasi yang dilakukan baik
formati maupun sumatif. Promotor dapat mengindikasikan apakah
evaluasi bersifat posistif (hasil yang diinginkan terpenuhi) atau
negatif (hasil yang tiadak diinginkan menandakan bahwa masalah
tidak terpecahkan atau terdapat masalah potensial yang belum
diketahui) dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai
berikut:
Apakah rumusan masalah (diagnosa keperawatan) dan masalahmasalah kolaboratif akurat?
Apakah masyarakat mencapai hasil yang diharapkan?
Apakah masyarakat menunjukkan perubahan perilaku dan
peningkatan kesadaran berdasarkan kegiatan promosi yang
dijalankan?
Apakah masalah-masalah yang dijadikan sebagai diagnosa sudah
dapat teratasi?
Apakah kebutuhan masyarakat terkait program promosi
kesehatan sudah dipenuhi?
Apakah intervensi yang dilaksanakan harus dipertahankan, diubah

atau dihentikan?
Apakah ada masalah yang timbul dimana intervensi yang belum
direncanakan atau diimplementasikan?
Faktor-faktor apa yang mempengaruhi pencapaian tujuan atau
kurang tercapainya tjuan?
Apakah prioritas yang harus disusun kembali?
Apakah perubahan-perubahan harus dibuat pada tujuan dan hasil
yang diperkirakan?
Pertanyaan-pertanyaan diatas bermanfaat sebagai parameter dalam
:
1. Untuk menentukan perkembangan kesehatan masyarakat terkait
dengan promosi yang telah dilaksanakn
2. Untuk menilai efektifitas, efisiensi dan produktifitas asuhan atau
program promosi kesehatan.
3. Untuk menilai pelaksanaan asuhan promosi yang telah
dilksanakan
4. Sebagai umpan balik untuk memperbaiki atau menyusun siklus
baru dalam proses keperawatan.
5. Menunjang tanggung gugat dan tanggung jawab dalam
pelaksanaan keperawatan
Sehingga dapat diperoleh data objektif untuk menentukan rencana
tindak lanjut, apakah intervesi akan terus dilanjutkan (hasil evaluasi
positif), diubah (modifikasi tindakan berdasarkan pengkajian
terhadap hambatan-hambatan yang muncul selama proses promosi
kesehatan) atau dihentikan.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Promosi kesehatan merupakan suatu bentuk kegiatan yang dijalankan yang
bertujuan untuk mencegah potensi terjadinya penyakit, mempertahankan
kondisi tetap dalam keadaan baik dan mengatasi berbagai permasalahan
yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan kesehatan individu, keluarga,

kelompok, komunitas termasuk masyarakat. Proses pencapaian tujuan dari


program promosi kesehatan sangat ditentukan oleh berbagai tahapan dalam
promosi kesehatan, terdiri dari pengakjian, perencanaan, implementasi dan
evaluasi. Dimana setiap tahap memiliki hubungan dan saling keterkaitan
yang saling mempengaruhi hasil dari pencapaian tujuan program promosi
kesehatan.
3.2 Saran
Pencapaian program promosi kesehatan sangat ditentukan oleh kerjasama
dari berbagai fihak yang terkait. Terdiri dari : promotor dalam hal ini tim
kesehatan (perawat, dokter, ahli gizi, pegawai puskesmas dan lainnya),
individu, keluarga, keolmpok, komunitas, masyarakat serta pemerintah. Jadi
diperlukannya kesadaran yang tinggi dari berbagai pihak yang terkait untuk
dapat mewujudkan tujuan ditunjukkan dengan peningkatan kesadaran dan
perubahan pola perilaku hidup sehat ( tidak hanya pribadi tapi juga
lingkungan).

DAFTAR PUSTAKA
Edelman, Mandle. 2006. Health Promotion: Throughout the life span 6th ed.
Mosby Inc: United State of America
Hawe, P., Degeling, D. dan Hall, j. (1999) Evaluating Health Promotion,
Sydney; McLennan and Petty.

Mary Louise OConnor-Fleming, Elizabeth Parker. 2001. Health Promotion 2nd


edition. Allen & Unwin: Australia.
Minkler, M. Ed. (1997). Community Organizing & Community Building for
Health. Rutgers State University Press.
Naidoo dan Wills. (2000). Health Promotion, Foundation for Practice. London:
Bailliere Tindall
Naidoo dan Wills. (2000). Practising Health Promotion: Dilemmas and
Challenges. London: Bailliere Tindall
Notoatmodjo, Soekidjo dkk.(2005) Promosi Kesehatan - Teori dan Aplikasi.
Jakarta: Rineka Cipta.
O'Donnell, Michael, MBA, MPH. "Definition of Health Promotion: Part III:
Expanding the Definition." American Journal of Health Promotion. Winter
1989, Vol. 3, No. 3. p. 5.
Oliver. (1993). Psycology and Health Care. London: Bailliere Tindal
PPNI. Tim Departemen Kesehatan RI. 1994. Jakarta : PPNI
Potter, P.A & Perry, A.G.(2005). Fundamental Of Nrsing: Concepts, Process,
and Practice. Eds 4. Jakarta: EGC
Potter dan Perry. (2006). Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses, dan
Praktik. Jakarta: EGC
Siswanto, Memahami Evolusi Teori Manajemen untuk Menjadi Manajer yang
Efektif, Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol.09 Hal. 168-176 Nomor
04 Desember 2006.
Stanhope, M. dan Lancaster, J (1998) Community Health Nursing: Process
and Practice for promoting Health , St. louis: The CV. Mosby Company
Tarwoto, Wartonah. 2005. Kebutuhan dasar Manusia. Jakarta : Salemba
Medika
Wass, Andrea.(2003).Promoting Health- The Primary Health Care Approach.
2nd Ed. Elsevier Australia.
Ayubi , Dian. (2009). Promosi Kesehatan pada Berbagai Tatanan.
http://staff.ui.ac.id/internal/132161167/material/05PromkesPadaTatanan.ppt.
(29 Oktober 2009, pukul 15.45 WIB)

Pedoman Promosi Kesehatan Masyarakat dalam Program Penyediaan Air


Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas).
http://www.pamsimas.org/index.php?
option=com_phocadownload&view=category&id=48:pedum-strategiclts&download=202:pedum-promkes-masyarakat&Itemid=10 (29 Oktober
2009, pukul 16.00)
Http://depkes.co.id. Indikator Indonesia Sehat 2010. (diakses 27 Oktober
2009, 13.45 WIB)
http://tutorialkuliah.blogspot.com/2009/05/pengkajian-kebutuhanbelajar.html.(diakses 27 Oktober 2009, 10.24 WIB)
http://puskesmasbamban.blogspot.com/2009/09/apa-promosi-kesehatanitu_8572.html.(diakses 27 Oktober 2009, 11.35 WIB

LANGKAH-LANGKAH MEMBUAT PERENCANAAN KESEHATAN


PENDAHULUAN

Manajemen kesehatan adalah suatu kegiatan atau suatu seni untuk


mengatur para petugas kesehatan dan non-kesehatan guna meningkatkan
kesehatan masyarakat melalui program kesehatan.

Dengan kata lain manajemen kesehatan adalah penerapan manajemen


umum dalam sistem pelayanan kesehatan sehingga menjadi objek atau
sasaran manajemen adalah sistem pelayanan kesehatan masyarakat. Sistem
adalah suatu kesatuan yang utuh, terpadu dari berbagai elemen (sub-sistem)
yang saling menghubungkan dalam suatu proses atau struktur dalam upaya
menghasilkan sesuatu atau mencapai suatu tujuan tertentu.

Sistem pelayanan kesehatan adalah sturktur atau gabungan dari suatu sub
sistem dalam suatu unit atau dalam suatu proses untuk mengupayakan
pelayanan kesehatan masyarakat baik preventif, kuratif, promotif dan
rehabilitatif. Sistem pelayanan kesehatan ini dapat berbentuk Puskesmas,
Rumah sakit, Balkesmas, dan unit-unit atau organisasi lain yang
mengupayakan peningkatan kesehatan.

Perencanaan merupakan kegiatan inti manajemen, karena semua kegiatan


manajemen diatur dan diarahkan oleh perencanaan tersebut. Dengan
perencanaan tersebut memungkinkan para pengambil keputusan atau
manajer untuk menggunakan sumber daya mereka secara berhasil guna dan
berdaya guna. Di bidang kesehatan, proses perencanaan ini pada umumnya
menggunakan pendekatan pemecahan masalah (problem solving).

Perencanaan menjadi keterampilan yang utama dalam manajemen modern.


Tetapi banyak kemudian orang frustrasi dengan perencanaan karena
kegiatan yang sudah direncanakan gagal dilaksanakan karena dana dan
sumber lain tidak tersedia dan tidak cukup orang yang termotivasi untuk
pelaksanaan. Dalam konteks Indonesia, setiap orang yang terlibat dalam
perencanaan seperti diberi harapan bahwa kegiatan mereka akan dibiayai.

Tetapi kemudian kenyataannya biaya tidak cukup dan pelaksanaan kegiatan


yang direncanakan tetap sebagai rencana.

Perencanaan merupakan suatu fungsi penganalisaan tujuan yang telah di


tetapkan terlebih dahulu menjadi urutan tindakan yang sistematis.
Perencanaan merupakan suatu organisasi adalah suatu proses yang
berkesinambungan, tidak akan pernah berhenti, karena organisasi akan terus
menghasilkan tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh unit-unit pelaksanaan.

Perencanaan kegiatan yang dianggap efektif untuk memecahkan masalah


sendiri bisa tidak masalah. Yang bermasalah adalah ketika kegiatan dana itu
tidak disetujui atau birokrasi tidak mampu melaksanakan rencana. Untuk
bisa melihat hal itu, kita bisa memahami perencanaan dari kacamata
lingkungan pendukungnya. Lingkungan disini mencakup birokrasi
perencanaan, pelaksanaan kegiatan, ketersediaan dana, dan komitmen
politik. Yang masalah bagi kita adalah bahwa kita berada dilingkungan yang
buruk. Baik atau buruk perencanaan kita menjadi tidak ada artinya. Situasi
yang ideal adalah perbaikan dalam perencanaan dan perbikan dalam
lingkungan perencanaan. Jadi kita tidak perlu kecewa jika kita menyadari
posisi kita dalam lingkungan yang lebih besar.

Yang penting lagi adalah perencanaan juga menjadi basis kegiatan bersama
dari seluruh unsur masyarakat. Kerena program kesehatan menggunakan
dana publik, maka perencanaan menjadi syarat agar dana program dapat
disetujui dulu. Karena setiap program memerlukan persetujuan dari bupati
dan kemudian dimintakan lagi ke DPRD, maka perencanaan menjadi
semacam bentuk cara menjustifikasi pengeluaran dana publik sebelum
kegiatan betul-betul dilaksanakan. Kepastian dana yang tersedia untuk

program kesehatan. Perencanaan adalah alat untuk menolong kita memiliki


kepastian dalam langkah-langkah kegiatan, besar sumber dan kapan dana
tersedia.

Kegagalan pelaksanaan tidak harus membuat kita melupakan perencanaan.


Perencanaan adalah wajib karena program-program itu menyangkut
kegiatan-kegiatan yang kompleks dengan banyak orang yang terlibat.
Perencanaan merupakan kegiatan-kegiatan yang disiapkan agar pada waktu
program dilaksanakan, kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan sudah tersedia
dan kegiatan-kegiatan dari pihak-pihak yang saling tergantung satu sama
lain dapat terlaksana. Perencana mengelola timing sumber-sumber program
harus tersedia. Perencanaan menjadi sangat penting karena ia terkait
dengan dana yang diperlukan untuk membeli alat, mengontrak atau
membuat tenaga kerja tersedia, dan kontrak-kontrak dengan pihak lain yang
terlibat dalam kegiatan.
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa perencanaan berperan dalam
suatu proses yang menghasilkan suatu uraian yang terinci dan lengkap
tentang program atau kegiatan yang akan dilaksanakan.

Perencanaan kesehatan yang di maksud adalah sebuah proses untuk


merumuskan masalah-masalah kesehatan yang berkembang di masyarakat,
menentukan kebutuhan dan sumber daya yang tersedia, menetapkan tujuan
program yang paling pokok, dan menyusun langkah-langkah praktisuntuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan tersebut.

Perencanaan akan menjadi efektif jika perumusan masalah sudah dilakukan


berdasarkan fakta-fakta. Fakta-fakta diungkapkan dengan menggunakan

data untuk menunjang perumusan masalah. Perencnaan juga merupakan


proses pemilihan alternatif tindakan yang terbaik untuk mencapai tujuan
organisasi. Perencanaan juga merupakan suatu keputusan untuk
mengerjakan sesuatu di masa yang akan datang yaitu suatu tindakan yang
akan di proyeksikan di masa yang akan datang. Salah satu tugas manajer
yang paling penting adalah menetapkan tujuan jangka panjang dan pendek
organisasi berdasarkan analisis situasi diluar (eksternal)dan didalam
(internal) organisasi.

Macam macam perencanaan


1. Dilihat dari jangka waktu berlakunya rencana
Rencana jangka panjang (long term planning), yang berlaku antara 10-25
tahun.
Rencana jangka menengah (medium range planning), yang berlaku antara 57 tahun.
Rencana jangka pendek (short range planning), umumnya berlaku hanya
untuk 1 tahun.
2. Dilihat dari tingkatannya
Rencana induk (masterplan), lebih menitik beratkan uraian kebijakan
organisasi.
Rencana operasional (opertional planning), lebih menitik beratkan pada
pedoman atau petunjuk dalam melaksanakan suatu program.
Rencana harian (day to day planning), adalah rencana harian yang bersifat
umum.
3. Ditinjau dari ruang lingkupnya

Rencana strategi (strategic planning), beriikan uraian tentang kebijakan


tujuan jangka panjang dan waktu pelaksanaan yang lama. Model rencana ini
sulit untuk dirubah.
Rencana taktis (tactical planning), rencana yang berisi uraian yang bersifat
jangka pendek, mudah menyesuaikan kegiatan-kegiatannya, asalkan tujuan
tidak berubah.
Rencana menyeluruh (comprehensive planning), rencana yang mengandung
uraian secara menyeluruh dan lengkap.
Rencana terintegrasi (intergrated planning), rencana yang mengandung
uraian, yang menyeluruh bersifat terpadu, misalnya dengan program lain
diluar kesehatan.
Ciri-ciri suatu perencanaan kesehatan
1. Bagian dari sistem administrasi.
2. Dilaksanakan secara terus menerus dan berkesinambungan.
3. Berorientasi pada masa depan.
4. Mampu menyelesaikan masalah.
5. Mempunyai tujuan.
6. Bersifat mampu kelola.

Manfaat sebuah perencanaan


Ada beberapa manfaat yang dapat diperoleh oleh staf dan pimpinan jika
organisasi memiliki sebuah perencanaan. Mereka akan mengetahui :
1. Tujuan yang ingin dicapai organisasi dan cara mencapainya
2. Jenis dan struktur organisasi yang dibutuhkan

3. Jenis dan jumlah staf yang diinginkan, dan uraian tugasnya


4. Sejauh mana efektivitas kepemimpinan dan pengarahan yang diperlukan
5. Bentuk dan standar pengawasan yang akan dilakukan

Selain itu, dengan perencanaan akan diperoleh keuntungan sebagai berikut:


Perencanaan akan menyebabkan berbagai macam aktivitas orgnisasi untuk
mencapai tujuan tertentu dan dapat dilakukan secara teratur
Perencanaan akan mengurangi atau menghilangkan jenis pekerjaan yang
tidak produktif
Perencanaan dapat dipakai untuk mengukur hasil kegiatan yang telah
dicapai karena dalam perencanaan ditetapkan berbagai standar.
Perencanaan memberikan suatu landasan pokok fungsi manajemen lainnya,
terutama untuk fungsi pengawasan.

Sebaliknya, pimpinan dan staf organisasi juga perlu memahami bahwa


perencanaan juga memiliki kelemahan yaitu:
Perencanaan mempunyai keterbatasan mengukur informasi dan fakta-fakta
dimasa yang akan datang dengan tepat.
Perencanaan yang baik memerlukan sejumlah dana.
Perencanaan mempunyai hambatan psikologis dari pimpinan dan staf karena
harus menunggu dan melihat hasil yang akan dicapai.
Perencanaan menghambat timbulnya inisiatif. Gagasan baru untuk
mengadakan perubahan harus ditunda ampai tahap perencanaan
berikutnya.

Perencanaan juga akan menghambat tindakan baru yang harus diambil oleh
staf.

Langkah-langkah perencanaan kesehatan


1. Analisis situasi
Langkah analisis situasi dimulai dengan menganalisis data laporan yang
telah dimiliki oleh organisasi (data primer) atau mengkaji laporan lembaga
lain (data sekunder) yang datanya dibutuhkan, observasi dan wawancara.
Langkah analisis situasi bertujuan untuk mengumpulkan jenis data atau fakta
yang berkaitan dengan masalah kesehatan yang dijadikan dasar penyusunan
perencanaan. Data yang diperlukan terdiri dari:
a. Data tentang penyakit dan kejadian sakit (diseases and illnesess).
b. Data kependudukan.
c. Data potensi organisasi kesehatan.
d. Keadaan lingkungan dan geografi.
e. Data sarana dan prasarana.

Proses pengumpulan data untuk analisis situasi dapat dilakukan dengn cara:
Mendengarkan keluhan masyarakat melalui pengamatan langsung
kelapangan.
Membahas langsung masalah kesehatan dan kebutuhan pelayanan
kesehatan yang dikembangkan bersama tokoh-tokoh formal dan informal
masyarakat setempat.

Membahas program kesehatan masyarakat dilapangan bersama petugas


lapangan kesehatan, petugas sektor lain, atau bersama dukun bersalin yang
ada diwilayah kerja puekesmas.
Membaca laporan kegiatan program kesehatan pada pusat0pusat pelayanan
kesehatan di suatu wilayah.
Mempelajari peta wilayah, sensus penduduk, statistik kependudukan,
laporan khusus, hasil survei, petunjuk pelaksanaan (jutlak) program
kesehatan, dan laporan tahunan
2. Identifikasi masalah
Mengidentifikasi masalah kesehatan dapat diperoleh dari berbagai cara
antara lain:
a. Laporan kegiatan dari program kesehatan yang ada.
b. Survailance epidemilogi atau pemantauan penyebaran penyakit
c. Survei kesehatan yang khusus diadakan untuk memperoleh masukan
perencanaan kesehatan.
d. Hasil kunjungan lapangan supervisi dan sebagainya.

3. Menetapkan prioritas masalah


Kegiatan identifikasi masalah menghasilkan banyak masalah kesehatan yang
menunggu untuk ditangani. Karena keterbatasan sumber daya baik biaya,
tenaga dan teknologi, maka tidak semua masalah tersebut dapat
dipecahkansekaligus (direncanakan pemecahannya). Untuk itu maka harus
dipilih masalah yang mana yang feasible untuk dipecahkan. Proses
pemilihan prioritas masalah dapat dilakukan melalui dua cara, yakni:

a. Melalui teknik skoring, yakni memberikan nilai (scor) terhadp masalah


tersebut dengan menggunakan ukuran (parameter) antara lain:
Prevelensi penyakit (prevelence) atau besarnya masalah.
Berat ringannya akibat yang ditimbulkan oleh masalah tersebut (severity).
Keinginan masyarakat untuk menyelesaikan masalah tersebut (degree of
umeet need).
Keuntungan sosial yang diperoleh bila masalah tersebut diatasi (social
benefit).
Teknologi yang tersedia dalam mengatasi masalah (technical feasibility).
Sumber daya yang tersedia yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah
(reseources availability).
Masing-masing ukuran tersebut diberi nilai berdasarkan justifikasi kita, bila
masalahnya besar diberi 5 paling tinggi, dan bila sangat kecil diberi nilai 1.
Kemudian nilai-nilai tersebut dijumlahkan. Masalah yang mempunyai nilai
tertinggi (terbesar) adalah yang di prioritaskan, masalah yang memperoleh
nilai terbesar kedua dan selanjutnya.

b. Melalui teknik non skoring


Dengan menggunakan teknik ini masalah dinilai melalui diskusi kelompok,
oleh sebab itu, juga disebut nominal group technique (NGT). Ada dua NGT,
yakni:
Delphi technique: yaitu masala-masalah didiskusikan oleh sekelompok orang
yang mempunyai keahlian yang sama. Melalui diskusi tersebut akan
menghasilkan prioritas masalah yang disepakati bersama.

Delbeg technique: menetapkan prioritas masalah menggunakan teknik ini


adalah juga melalui dikusi kelompok, namun peserta diskusi terdiri dari para
peserta yang tidak sama keahliannya, maka sebelumnya dijelaskan dulu,
sehingga mereka mempunyai persepsi yang sama terhadap masalahmasalah yang akan dibahas. Hasil diskusi ini adalah prioritas masalah yang
disepakati bersama.

4. Menentukan tujuan
Menentukan tujuan perencanaan pada dasarnya adalah membuat ketetapanketetapan tertentu yang ingin dicapai oeh perencanaan tersebut. Semakin
jelas rumusan masalah kesehatan maka akan semakin mudah menentukan
tujuan. Penetapan tujuan yang baik apabila dirumuskan secar kongkret dan
dapat diukur.

Perumusan sebuah tujuan operasional program kesehatan harus bersifat


SMART: spesific (jelas sasarannya dan mudah dipahami oleh staf pelaksana),
measurable (dapat diukur kemajuannya), appropriate (sesuai dengan
strategi nasional, tujuan program dan visi/misi institusi, dan sebagainya),
realistic (dapat dilaksanakan sesuai dengan fasilitas dan kapasitas organisasi
yang ada), time bound (sumber daya dapat dialokasikan dan kegiatan dapat
direncanakan untuk mencapai tujuan program seuai dengan target waktu
yang telah ditetapkan).

Hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun tujuan program:


Tujuan adalah hasil akhir dari sebuah kegiatan.

Tujuan harus sesuai dengan masalah, terget ditetapkan sesuai dengan


kemampuan organisasi, dan dapat diukur.
Tujuan operasional basanya ditetapkan dengan batas waktu (batas
pencapaiannya) dan hasil akhir yang ingi dicapai pada akhir kegiatan
program (dead line).
Berbagai macam kegiatan altrnatif dipilih untuk mencapai tujuan.
Masalah, faktor penyebab masalah, dan dampak masalah yang telah dan
akan mungkin terjadi dimsa depan sebaiknya dikaji terlebih dahulu.

Kriteria penyusunan masing-masing tujuan sesuai dengan hierarkinya adalah


sebagai berikut:
Goal (tujuan umum): bersifat jangka panjang, masih umum, abstrak, dan
tidak terpengaruh oleh perubahan situasi.
Tujuan kebijaksanaan: merupakan bagian dari goal, sasaran populasinya
belum ada. Tujuan ini sudah bersifat spesifik karena bersifat sektoral dan
ditujukan untuk masyarakat di desa.
Tujuan program: target populasinya sudah lebih jelas, ada identifikasi
dampak khusus yang dapat diukur jika tujuan program tercapai.
Tujuan pelayanan: tujuan ini sudah memiliki kejelasan atau spesialisasi jenis
dan tingkat pelayanan yang perlu dilaksanakan.
Tujuan sumber: tujuan di sini memerlukan identifikasi masukan spesifik
(input atau sumber daya tertentu) untuk mencapai tujuan pelayanan.
Tujuan implementasi: tujuan di sini menjelaskan produk spesifik yang ingin di
capai dan juga dapat di ukur.

Pada umumnya tujuan dibagi menjadi dua, yakni:


Tujuan umum : suatu tujuan bersifat umum, dan masih dapat di jabarkan ke
dalam tujuan-tujua khusus, dan umumnya masih abstrak.
Tujuan khusus : tujuan-tujuan yng di jabarkan dari tujuan umum.

5. Mengkaji hambatan dan kelemahan program


Jenis hambatan atau kelemahan dapat di kategorikan ke dalam:
a. Hambatan yang bersumber pada kemampuan organisasi
Motivasi kerja staf rendah.
Pengetahuan dan keterampilan kurang.
Arus informasi tentang pelaksaaan program lamban.
Peralatan belum tersedia.
Laporan kegiatan tidak di manfaatkan untuk menyusun rencana kegiatan.
Jumlah dana operasional kurang.
Waktu yang tersedia tidak digunakan untuk menyuun rencana kerja.
b. Hambatan yang terjadi pada lingkungan
Hambatan geografi (jalan rusak).
Iklim atau musim hujan.
Tingkat penddikan masyarakat rendah.
Sikap dan budaya masyarakat yang tidak kondusif.
Prilaku masyarakat yang kurang partisipatif.

6. Menyusun rencana kegiatan


Rencana kegiatan adalah uraian tentang kegiatan-kegiatan yang akan
dilakukan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Pada
umumnya kegiatan mencakup 3 kegiatan pokok, yakni:
Kegiatan pada tahap persiapan, yakni kegiatan-kegiatan yang di lakukan
sebelum kegiatan pokok dilaksanakan. Misalnya: perizinan, rapat koordinasi.
Kegiatan pada tahap pelaksanaan yakni kegiatan pokok program yang
bersangkutan.
Kegiatan pada tahap penilaian yakni kegiatan untuk mengevaluasi seluruh
kegiatan dalam rangka pencapaian program tersebut.
Langkah-langkah sebelum menetapkan rencana kegiatan:
a. Alasan utama disusun rencana kegiatan.
b. Tujuan yang ingin dicapai.
c. Kegiatan program (bagaimana cara mengerjakannya).
d. Pelaksana dan sasarannya (siapa yang akan mengerjakan dan siapa
sasaran kegiatan).
e. Sumber daya pendukung.
f. Tempat (dimana kegiatan akan dilaksanakan).
g. Waktu pelaksanaan (kapan kegiatan akan dikerjakan).

7. Menetapkan sasaran (target group).

Sasaran (target group) adalah kelopmpok mayarakat tertentu yang akan


digarap oleh program yang direncanakan tersebut. Sasaran progrm
kesehatan biasanya dibagi dua, yakni:
a. Sasaran langsung, yaitu kelompok yang langsung dikenal oleh program.
b. Sasaran tidak langsung, yakni kelompok yang menjadi sasaran antara
program tersebut, namun berpengaruh sekali terhadap sasaran langsung.

8. Menyusun jadwal pelaksanaan


Waktu yang ditetapkan dalam perencanaan adalah sangat tergantung
dengan jenis perencanaan yang dibuat serta kegiatan-kegiatan yang
ditetapkan dalam rangka mencapai tujuan.

9. Organisasi dan staf


Dalam bagian ini digambarkan atau diuraikan organisasi dan sekaligus staf
yang akan melaksanakan kegiatan atau program tersebut. Dismping itu juga
diuraikan tugas (job description) masing-masing staf pelaksana tersebut.

10. Rencana anggaran


Adalah uraian tentang biaya-biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan
kegiatan, mulai dari persiapan sampai dengan evaluasi. Biasanya rincian
rencana biaya ini dikelompokan menjadi:
a. Biaya personalia
b. Biaya operasianal
c. Biaya sarana dan fasilitas

d. Biaya penilaian

11. Pelaksanaan
Melaksanakan semua kegiatan yang sudah direncanakan untuk mencapai
tujuan yang telah disepakati.

12. Evaluasi
Rencana evalusi adalah suatu uraian tentang kegiatan yang akan dilakukan
untuk menilai sejauh mana tujuan-tujuan yang telah ditetapkan tersebut
telah dicapai.

Daftar Pustaka
1. Notoatmodjo, Soekidjo. 2007. Kesehatan Masyarakat : Ilmu dan
Seni.Jakarta. PT Rineka Cipta.
2. Muninjaya, Gde. 2004.Manajemen Kesehatan : Edisi 2.jakarta. EGC