Anda di halaman 1dari 4

NAMA

: WINDY CHRISTIN GIRSANG

NPM

: 19211164

KELAS

: 4EA27

KASUS-KASUS DALAM ETIKA BISNIS

1. KASUS SUAP KPPU


Mencermati kasus suap menyuap yang melibatkan anggota KPPU M. Iqbal dan Presdir First
Media Billy Sindoro dapat membuka mata kita bahwa begitu kotornya etika bisnis di Indonesia.
Jika etika bisnis seperti itu masih dipertahankan maka jangan harap korupsi dapat hilang dari
negara kita. Oleh karena itu, jangan ada lagi pengusaha-pengusaha di Indonesia yang memiliki
etika bisnis seperti Lippo. Lippo Group yang dikenal sebagai perusahaan besar di Indonesia saja
ternyata memiliki etika bisnis yang sangat buruk. Dengan kasus Suap KPPU sangat jelas telihat
bahwa Billy Sindoro (tangan kanan Bos Lippo Group) menyuap M. Iqbal untuk mempengaruhi
putusan KPPU dalam kasus dugaan monopoli Siaran Liga Inggris. Lippo ingin Astro
Malaysia tetap menyalurkan content ke PT Direct Vision (operator Astro Nusantara) meski Astro
Malaysia tengah bersiteru dengan Lippo Group.

2. KASUS BANK LIPPO


Kasus Bank Lippo bermula dari terjadinya perbedaan laporan keuangan kuartal III Bank Lippo,
antara yang dipublikasikan di media massa dan yang dilaporkan ke Bursa Efek Jakarta (BEJ).
Dalam laporan yang dipublikasikan melalui media cetak pada 28 November 2002 disebutkan
total aktiva perusahaan sebesar Rp 24 triliun dengan laba bersih Rp 98 miliar. Sementara dalam
laporan ke BEJ tanggal 27 Desember 2002, total aktiva berkurang menjadi Rp 22,8 triliun dan
rugi bersih (yang belum diaudit) menjadi Rp 1,3 triliun.

Rekayasa laporan keuangan dilakukan keluarga karena mereka memiliki agenda terselubung
yaitu untuk kembali menguasai kepemilikan Bank Lippo. Rekayasa laporan keuangan tersebut
dilakukan dengan cara melaporkan kerugian yang tidak terjadi, kerugian bank itu direkayasa
melalui 2 cara yakni menurunkan nilai aset melalui valuasi yang dirancang sangat merugikan
bank dan transfer aset kepada pihak terkait untuk menciptakan kerugian di pihak bank, tetapi
menguntungkan pemilik lama.
Lippo Goup juga memiliki trik licik dalam bisnis yaitu dengan melakukan goreng saham. Selain
penurunan nilai aset yang tidak rasional, manajemen Lippo juga merekayasa secara sistematis
untuk menurunkan harga saham Bank Lippo di BEJ dengan cara menggorengnya. Akibatnya,
harga saham turun drastis dari Rp 540 di bulan Agustus 2002 menjadi Rp 230 pada Februari
2003 (turun 50 persen lebih).

Cara goreng saham dilakukan untuk memperbesar kepemilikan saham dari pemilik lama
melalui right issue yang dipaksakan dalam harga pasar sangat rendah karena mereka mengetahui
pemerintah tidak bersedia membeli saham right issue (rekapitalisasi kedua) karena bertentangan
dengan UU Propenas. Saham pemerintah menjadi terdilusi, sehingga kepemilikan saham menjadi
dominan kembali hanya dengan dana yang kecil.

3.DUGAAN PENGGELAPAN PAJAK IM3


IM3 diduga melakukan penggelapan pajak dengan cara memanipulasi Surat Pemberitahuan
Masa Pajak Pertambahan Nilai ( SPT Masa PPN) ke kantor pajak untuk tahun buku Desember
2001 dan Desember 2002. Jika pajak masukan lebih besar dari pajak keluaran, dapat direstitusi
atau ditarik kembali. Karena itu, IM3 melakukan restitusi sebesar Rp 65,7 miliar.
750 penanam modal asing (PMA) terindikasi tidak membayar pajak dengan cara melaporkan
rugi selama lima tahun terakhir secara berturut-turut. Dalam kasus ini terungkap bahwa pihak
manajemen berkonspirasi dengan para pejabat tinggi negara dan otoritas terkait dalam
melakukan penipuan akuntansi.

Manajemen juga melakukan konspirasi dengan auditor dari kantor akuntan publik dalam
melakukan manipulasi laba yang menguntungkan dirinya dan korporasi, sehingga merugikan
banyak pihak dan pemerintah. Kemungkinan telah terjadi mekanisme penyuapan (bribery) dalam
kasus tersebut.
Pihak pemerintah dan DPR perlu segera membentuk tim auditor independen yang kompeten dan
kredibel untuk melakukan audit investigatif atau audit forensik untuk membedah laporan
keuangan dari 750 PMA yang tidak membayar pajak. Korporasi multinasional yang secara
sengaja terbukti tidak memenuhi kewajiban ekonomi, hukum, dan sosialnya bisa dicabut izin
operasinya dan dilarang beroperasi di negara berkembang.

4. ETIKA BISNIS ANTARA PERSAINGAN DAN PELANGGARAN SULE XL VS SULE AS


Perang provider cellular paling seru saat ini adalah antara XL dan Telkomsel berkali-kali kita
dapat melihat iklan-iklan kartu XL dan Kartu Ass/Simpati/Telkomsel. Namun pada perang iklan
yang satu ini, tergolong parah. Biasanya tidak ada bintang iklan yang pindah ke produk
kompetitor selama jangka waktu kurang dari 6 bulan, namun pada kasus ini saat penayangan
iklan XL masih diputar di televisi. Intinya mengenai kasus Sule yang menjadi bintang iklan pada
dua produk kompetitor ada kesan bajak membajak model dan materi iklan

5. BENCI TAPI BELI: KASUS TIMOR (MOBNAS)


Benci tapi beli, proyek mobil Timor yang dikenal dengan proyek Mobnas (mobil nasional) oleh
sebagian besar masyarakat Indonesia dianggap sebagai proyek penyelundupan hukum yang
dilakukan secara terang-terangan, dan tentunya melakukan pelanggaran di berbagai bidang
hukum, mulai dari perpajakan sampai kaedah hukum internasional yang terdapat di komitmen
Indonesia di WTO (World Trade Organization). Namun, tidak dapat disangkal bahwa dibalik itu
mobil Timor termasuk mobil yang laku di pasar.

6. EKSPLOITASI ANAK DALAM BISNIS IKLAN, HIBURAN, FILM


Sementara hampir semua orang berteriak tentang perlindungan anak-anak, di televisi iklan yang
menggunakan anak-anak semakin gencar. Eksploitasi anak masih merupakan hal yang sangat
jarang diperhatikan di Indonesia, apalagi bagi para pelaku bisnis. Semakin maraknya iklan di
televisi yang menggunakan anak, bahkan bayi, sebagai penarik konsumen, menandakan
rancunya jalan pemikiran masyarakat dalam kaitannya dengan etika. Sebagian besar masyarakat
belum dapat membedakan eksploitasi dengan pengejaran keuntungan yang tidak melanggar etika
bisnis.

7. KONTES KAPANLAGI.COMS FRIENDS


Sekitar

bulan

Juli

2008, Kapanlagi.com mengadakan

kontes

yang

bertajuk, Kapanlagi.coms Friends, (ikon Luna Maya) dengan hadiah total Rp. 50 juta bagi
pemenang kontes, dan mengajak para blogger untuk memasang Banner Kapanlagi di blog
masing-masing,

maka

banyak

sekali

blogger

yang

tertarik

dan

memasang

bannerKapanlagi.coms Friends, for free tentunya dengan harapan akan mendapatkan hadiah.
Tapi sampai pada detik-detik terakhir dan lewat dari janji pengumuman pemenenang tanggal 20
desember 2008, tidak ada sedikit pun informasi yang dikeluarkan Kapanlagi.commengenai
kontes tersebut, maka timbulah kekecewaan dari para blogger, karena mereka telah
kehilangan opportonity cost, bayangkan saja dengan menempel banner diblog selama 6 bulan,
dengan banner yang cukup besar tentunya mereka kehilangan kesempatan mendapatkan uang
dari pengiklan lain dengan jumlah lebih dari seratu

Anda mungkin juga menyukai