Anda di halaman 1dari 7

Sistem vagal (N IX, X, dan XI)

Duus Hal. 172-181


Nervus Glossofaringeus (N IX)
Nervus Glossofaringeus memiliki berbagai fungsi yang sama dengan nervus intermedius,
nervus vagus, dan pars kranialis nervus asesorius, yang secara bersama-sama nervus-nervus ini
disebut sebagai system vagal untuk menghindari penyebutannya secara berulang-ulang. Sarafsaraf tersebut semuanya merupakan saraf campuran (motorik dan sensorik), dan beberapa
komponennya muncul dari nuklei batang otak yang sama (nucleus ambiguous dan nucleus
solitarius).
Perjalanan dan distribusi anatomis
Nervus glossofaringeus, nervus vagus, dan nervus aksesorius keluar dari tangkorak
bersama-sama melalui foramen jugulare yang juga merupakan lokasi kedua ganglia nervis
glossofaringeus, ganglion superius (intrakraniale) dan ganglion interferius (ekstrakraniale).
Setelah meninggalkan foramen, nervus glosofaringeus berjalan di antara arteri karotis interna dan
vena jugularis ke arah m.stiloglosus dan kemudian mempersyarafi pangkal lidah, mukosa faring,
tonsil, dan sepertiga posterior lidah. Di sepanjang perjalanannya, saraf ini membentuk cabangcabang sebagai berikut:

Ramus timpanikus berjalan dari ganglion inferius ke ruang timpanik dan pleksus
timpanikus (Jacobson), dan kemudian berjalan ke nervus petrosus minor, melalui
ganglion ganglion otikum, ke glandula paratidea. Saraf ini mempersyarafi sensasi di
mukosa ruang timpani dan tuba eustachius.
Ramus stilofaringeus ke m. stilofaringeus
Ramus faringeus, yang bersama-sama dengan cabang nervus vagus membentuk pleksus
faringeus. Pleksus ini mempersyarafi otot-otot lurik faring.
Ramus sinus karotikus, yang berjalan bersama dengan arteri karotis ke sinus karotikus
dan glomus karotikum
Ramus lingualis menghantarkan impuls gustatorik dari sepertiga posterior lidah.

Lesi Nervus Glosofaringeus


Lesi nervus glosofaringeus terisolasi jarang terjadi; nervus vagus dan nervus aksesorius
biasanya juga terkena.
Penyebab lesi nervus glosofaringeus antara lain adalah fraktur basis kranii, thrombosis
sinus sigmoideus, tumor pars kaudal fosa posterior, aneurisma arteri vertebralis atau arteri

basilaris, lesi iatrogenic (disebabkan oleh, misalnya, tindakan pembedahan), meningitis, dan
neuritis.
Sindrom klinis lesi nervus glosofaringeus ditandai oleh :

Gangguan atau hilangnya pengecapan (ageusia) pada sepertiga posterior lidah


Berkurang atau hilangnya reflex muntah dan reflex palatal
Anestesia dan analgesia pada bagian atas faring dan area tonsil serta dasar lidah
Gangguan ringan saat menelan (disfagia)
Gangguan salvias dari glandula paratiroidea
Neuralgia glosofaringeal kira-kira 1% sesering neuralgia trigeminalis; seperti neuralgia
trigeminalis, gangguan ini ditandai oleh nyeri proksismal yang hebat. Serangan nyeri
biasanya dimulai secara tiba-tiba di faring, leher, tonsil, atau lidah, dan berlangsung
selama beberapa detik atau menit. Nyeri ini dapat dicetuskan oleh menelan, menyunyah,
batuk, atau berbicara. Pasien takut untuk makan karena nyeri dan terjadi penurunan berat
badan dengan cepat. Sindrom ini biasanya membaik secara spontan dalam 6 bulan setelah
onset. Gejala yang persisten menunjukkan kemungkinan penyebab anatomis, seperti
tumor di faring, yang harus disingkirkan melalui pemeriksaan radiologis. Secara analog
dengan neuralgia trigeminalis, keadaan ini biasanya diterapi secara medis dengan
karbamazepin atau gabapentin pada awalnya. Pada kasus-kasus refrakter, tindakan
pembedahan saraf yang disebut dekompresi mikrovaskular dapat dipertimbangkan
(Janetta 1977); tindakan ini meliputi pembukaan fossa posterior dan memindahkan
lengkung arteri vertebralisatau arteri inferior posterior serebeli menjauhi saraf kranial
kesembilan.
Nervus Vagus (IX)
Seperti nervus glosofaringeus, nervus vagus juga memiliki dua ganglia, ganglion
superius (jugulare) dan ganglion inferius (nodosum), keduanya ditemukan di region
foramen jugulare.
Perjalanan anatomis. Nervus vagus berasal dari lengkung brankhial empat ke
bawah. Di bawah ganglion inferius (nodosum), saraf ini mengikuti arteri karotis interna
dan arteria karotis komunis ke bawah, dan kemudian berjalan melewati aperture toracis
superior ke mediastinum. Di sini, trunkus vagalis dextra menyilang arteri subklavia,
sedangkan trunkus kiri berjalan di belakang hilus dan melewati arkus aorta. Keduanya
kemudian melekat ke esophagus, dengan serabut trunkus vagalis dextra berjalan ke sisi
posterior, dan trunkus vagalis sinistra di sisi anteriornya. Cabang vagal terminal
kemudian menyertai esophagus melalui hiatus esophagus diafragma ke dalam rongga
abdomen.
Cabang nervus vagus. Sepanjang perjalanannya ke rongga abdomen, nervus vagus
membentuk cabang-cabang sebagai berikut

Ramus duralis: berjalan dari ganglion superius kembali melalui foramen jugulare
ke dura mater fosa posterior
Ramus aurikularis: dari ganglion superius nervus vagus ke kulit permukaan
posterior telinga luar dari pars inferioposterior meatus akustikus eksternus. Ini
merupakan satu-satunya cabang kutaneus nervus vagus
Ramus faringeus: cabang-cabang ini menyertai serabut nervus glosofaringeus dan
rantai simpatis ke pleksus faringeus untuk mempersyarafi otot-otot faring dan
palatum mole.
Ramus laringeus superior: dari ganglion inferius ke laring. Serabut ini bercabang
menjadi dua. Cabang eksternal bercabang ke m. krikotiroideus. Cabang internal
adalah saraf sensorik yang mempersyarafi mukosa laring ke bawah hingga
mencapai plika vokalis, serta mukosa epiglottis. Cabang ini juga mengandung
serabut pengecapan untuk epiglottis dan serabut parasimpatis yang mepersyarafi
kelenjar mukosa.
Nervus laringeus rekurens: cabang ini berjalan mengelilingi arteri subklavia pada
sisi kanan dan arkus aorta pada sisi kiri, kemudian melanjutkan ke atas di antara
trakea dan esophagus menuju ke laring. Saraf ini memberikan parsarafan motorik
ke otot-otot laring internal, kecuali m. krikotiroideus, serta persarafan sensosrik
ke mukosa laring di bawah plika vokalis.
Rami kardiaci servikales superiors dan rami kardiaci thoracici: cabang ini
menyertai serabut simpatis ke jantung, melalui pleksus kardiakus
Rami bronkiales: cabang-cabang ini membentuk pleksus pulmonalis di dinding
bronkus
Rami gastric posteriors dan anteriores, dan rami hepatici, soeliaci, dan renales:
serabut-serabut ini berjalan, melalui pleksus mesentrikus superior dan soeliakus,
dan bersama dengan serabut simpatis, ke visera abdomen (gaster, hepar, pancreas,
limpa, renal, kelenjar adrenal, intestine, dan bagian proksimal, kolon). Di rongga
abdomen, serabut nervus vagus kanan dan kiri menjadi sangat berdekatan dengan
system saraf simpatis dan tidak dapat lagi dipisahkan satu dengan lainnya.

Sindrom lesi nervus vagus unilateral

Palatum mole pada sisi lesi jatuh, reflex muntah menghilang, dan pasien berbicara dari
hidung karena rongga hidung tidak dapat tertutup lagi dari rongga mulut. Paresis m.
konstriktor faring menyebabkan mukosa palatal terdorong ke sisi normal ketika pasien
berfonasi
Suara serak terjadi akibat paresis plika vokalis (lesi nervus laringeus rekuren dengan
paresis otot-otot internal laring, kecuali m. krikotiroideus)

Komponen lainnya pada sindrom ini adalah disfagia dan kadang-kadang takikardi, serta
aritmia jantung.

Penyebab. Banyak penyakit dapat menyebabkan lesi vagal sentral, termasuk malformasi
(malformasi Chiari, sindrom Dandy-Walker, dll), tumor, perdarahan, thrombosis,
infeksi/inflamasi, sklerosis aminotrofik lateral, dan aneurisma. Lesi vagal perifer dapat
disebabkan oleh neuritis, tumor, gangguan kelenjar, trauma dan aneurisma aorta.

Radiks Kranialis Nervus Asesorius (N XI)


Nervus asesorius memiliki dua pasang radiks, kranialis dan spinalis. Neuron yang
membentuk radiks kranialis terletak di dalam nucleus ambiguous bersebelahan dengan neuron
yang prosesusnya berjalan di dalam nervus vagus. Bagian nervus kranialis kesebelas ini lebih
baik dianggap sebagai komponen fungsional nervus vagus, karena pada dasarnya memiliki
fungsi yang sama dengan bagian nervus vagus yang yang muncul dari nucleus ambiguous.
(Radiks spinalis nervus asesorius, sebaliknya, memiliki fungsi yang sangat berbeda). Radiks
kranialis terpisah dari radiks spinalis di dalam foramen jugulare untuk bergabung dengan nervus
vagus. Bagian nervus asesorius ini dengan demikian dimiliki oleh system vagal. Radiks
spinalis dan fungsi-fungsinya akan dibahas dibawah ini.

Area Nuklear Bersama dan Distribusi N IX dan X


Nukleus ambiguous
Nucleus ambiguus adalah nucleus motorik bersama nervus glosofaringeus dan nervus
vagus dan pars kranialis nervus asesorius. Nucleus ini menerima impuls desendens dari korteks
serebri kedua hemisfer melalui traktus kortikonukleares. Karena persarafan bilateral ini,
gangguan unilateral pada serabut desendens sentral iini tidak menimbulkan deficit besar pada
distribusi motorik nucleus ambiguous.
Akson yang berasal dari nucleus ambiguous berjalan did lama nervus glosofaringeus dan
vagus serta pars kranialis nervus asesorius ke otot-otot palatum mole, faring, dan laring, dan ke
otot-otot lurik bagian atas esophagus. Nucleus ambiguous juga menerima input aferen dari
nucleus spinalis nervus trigeminusdan dari nucleus traktus solitaries. Impuls tersebut merupakan
lengan aferen lengkung reflex yang penting yang memicu reflex batuk, tersedak, dan muntah jika
terjadi iritasi pada mukosa saluran nafas dan aluran cerna.

Nucleus parasimpatis N IX dan X

Nucleus dorsalis nervus vagus dan nucleus salivatorius inferior adalah dua nucleus
parasimpatis yang mengirimkan serabut ke nervus glosofaringeus dan nervus vagus. Nucleus
salivatorius superior adalah nucleus parasimpatis untuk nervus intermedius, sepertu yang telah
dibahas sebelumnya

Nucleus dorsalis nervus vagus


Akson eferen nucleus dorsalis nervus vagus berjalan sebagai serabut preganglionik
dengan nervus vagus ke ganglia parasimpatis kepala, toraks, dan abdomen. Setelah relay
sinaptik, serabutpostganglionik yang pendek menghantarkan impuls viseromotor ke otot-otot
polos saluran pernafasan dan saluran cerna ke bawah jauh hingga mencapai fleksura koli sinistra,
serta oto-otot jantung. Stimulasi pada serrebut parasimpatis vagal menyebabkan perlambatan
denyut jantung, konstriksi otot polos bronkus, dan sekresi dari kelenjar bronchial. Peristaltic di
saluran cerna meningkat, begitu juga sekresi dari kelenjar gaster dan pancreas.
Nucleus dorsalis nervus vagus menerima input aferen dari hipotalamus, system
olfaktorius, pusat otonomik di formasio retikularis, dan nucleus traktus solitarius. Hubunganhubungan ini merupakan komponen penting lengkung reflex untuk mengontrol fungsi
kardiovaskular, respirasi, dan pencernaan, impuls dari baroreseptor di dinding sinus karotikus,
yang mencapai nucleus dorsalis nervus vagus melalui nervus glosofaringeus, berfungsi untuk
mengukur tekanan darah arterial. Kemoreseptor di glomus karotikum berpartisipasi dalam
regulasi tekanan parsial oksigen di dalam darah. Reseptor lain di arkus aorta dan korpus para
aorta mengirimkan impuls aferen ke nucleus dorsalis nervus vagus melalui nervus vagus, dan
memiliki fungsi yang sama.
Nucleus salivatorius inferior. Serabut parasimpatis yang muncul dari nucleus salivatorius
inferior dan berjalan melalui nervus glosofaringeus ke glandula paratidea

Serabut aferen visceral n IX dan N X


Serabut aferen visceral khusus. Perikardion (badan sel) serabut aferen gustatorik nervus
glosofaringeus (neuron pseudounipolar) ditemukan di ganglion superius (ekstrakraniale),
sedangkan perilaron serabut aferen gustatorik nervus vagus ditemukan di ganglion inferius
(nodosum). Kedua kelompok serabut menghantarkan impuls gustatorik dari epiglottis dan
sepertiga posterior lidah. Nervus glosofaringeus merupakan saraf pengecap yang utama. Prosesus
sentralnya berjalan di traktus solitaries ke anterior lidah, yang dihantarkan oleh nervus
intermedius. Dari nucleus traktus solitarius, impuls gustatorik berjalan ke atas ke nucleus
ventralisposteromedialis talami (VPM) dan kemudian menuju korteks guststorius pada ujung
terbawah girus post-sentralis.

Serabut aferen somatic N IX dan X


Serabut nyeri dan suhu. Impuls nosiseptif dan mungkin juga impuls yang berkaitan dengan suhu
dari sepertiga posterior lidah, bagian atas faring, tuba eustachius, dan telinga tengah berjalan
melalui nervus glosofaringeus dan ganglion superius (intracranial) ke nucleus traktus spinalis
nervus trigeminus. Impuls jenis ini dari bagian bawah faring, kulit di belakang telinga dan
sebagian meatus akustikus eksternus, membrane timpanika, dan duramater fosa posterior masuk
ke nucleus batang otak yang sama melalui nervus vagus dan ganglion superiusnya (ganglion
jugulare)
Serabut untuk persepsi raba (serabut somatosensorik) dari area yang baru saja disebutkan
kemungkinan berakkhir di nucleus prinsipalis sensorius nervus trigeminus. Impuls
somatosensorik berjalan naik dari nucleus ini di dalam lemniskus medialis ke thalamus, dan
kemudian ke korteks postsentralis.

Radiks spinalis nervus asesorius (N IX)


Bagian spinal nervus asesorius merupakan motorik murni dan muncul di kolumna sel yang
berada di bagian ventraolateral kornu anterius, membentang dari C2 hingga C5 atau C6. Serabut
radiks berjalan naik satu atau dua segmen di funikulus lateralis dan kemudian keluar dari
medulla spinalis di antara radiks anterior dan radiks posterior, tepat di dorsal ligamentum
dentikulatum. Kemudian serabut ini berjalan naik di ruang subaraknoid dan bergabung dengan
radiks saraf dari level yang lebih tinggi untuk membentuk trunkus komunis, yang memasuki
tengkorak melalui foramen magnum dan bergabung, setelah sedikit teregang, dengan radiks
kranialis nervus asesorius. Ketika nervus asesorius berjalan melewati foramen jugulare, pars
spinalis bercabang lagi membentuk cabang eksternal (ramus eksternus), sedangkan pars kranialis
bergabung dengan nervus vagus. Ramus eksternus nervus asesorius kemudian berjalan ke bawah
menuju regio leher untuk mempersarafi muskulus sternokleidomastoideus dan muskulus
trapezius. Serabut ini bergabung di sepanjang perjalanannya dengan serabut eferen somatic
spinalis dari C2 hingga C4.
Literature memeberikan gambaran yang kontroversial mengenai kepentingan relatif
nervus asesorius dan nervus spinalis C2-C4 ndalam mempersarafi m. trapezius. Beberapa penulis
menyatakan bahwa nervus asesorius terutama mempersyarafi bagian bawah otot, sedangkan
penulis lain menyatakan bahwa saraf ini terutama mempersarafi bagian atas. Lesi nervus
asesorius diikuti oleh atrofi terutama mengenai bagian atas m. trapezius.
Ramus eksternus juga mengandung beberapa serabut aferen yang menghantarkan impuls
proprioseptif menuju batang otak.

Lesi yang mengenai radiks spinalis nervus asesorius


Penyebab. Penyebab tersering kelumpuhan nervus asesorius perifer ekstrakranial adalah
cedera iatrogenic sebagai komplikasi tindakan pembedahan di segitiga lateral leher (misalnya,
biopsy kelenjar limfe), diikuti oleh lesi yang dicetuskan oleh tekanan dan radiasi. Penyebab
lainnya meliputi trauma dengan atau tanpa fraktur basis kranii, tumor basis kranii (terutama di
region foramen magnum), dan anomaly taut kranioservikal.
Lesi intramedular medulla spinalis jarang cukup luas untuk merusak substansia grisea
kornu anterius satu sisi dari C1 hingga C4, yang menyebabkan kelumpuhan nervus asesorius
sentral ekstrakranial (siringomielia, sklerosis amiotrofik lateral, poliomyelitis, penyebab lain)
Defisit khas. Kerusakan ramus eksternus unilateral setelah keluar dari foramen jugulare
memiliki efek yang berbeda pada m. sternokleimdomastoideus dan m. trapezius; m.
sternokleidomastoideus paralisis seluruhnya (flaxid), sedangkan m. trapezius hanya terkena
separuh bagian atasnya saja, karena otot ini juga mendapatkan persyarafan dari nervus spinalis
segmen C2 hingga C4. Cakra pada nervus asesorius di distal muskulus sternokeidomastoideus
hanya menyebabkan kelemahan pada m. trapezius saja; cedera seperti ini kadang-kadang terjadi
saat biopsi kelenjar limfe di tepi posterior m. sternokeidomastoideus. Tidak terjadi defisit
sensorik, karena pars spinalis nervus asesorius merupakan motorik murni.
Pada kelemahan unilateral m. sternokleidomastoideus, pasien kesulitan mennolehkan
kepala ke sisi kontralateral. Kelemahan bilateral menyebabkan kepala tidak dapat dipertahankan
pada posisi tegak, atau tidak dapat mengangkat kepala ketika berbaring terlentang. Kelemahan
m. trapezius menyebabkan pundak terjatuh dengan penggeseran scapula ke bawah dan ke luar.
Gerakan mengangkat tangan ke lateral lebih dari 90% terganggu, karena m. trapezius normalnya
membantu muskulus serratus anterior pada pergerakan ini. Inspeksi visual sederhana pada pasien
dengan kelumpuhan nervus asesorius menunjukkan atrofi muskulus sternokleidomastoideus serta
posisi pundak yang jatuh.