Anda di halaman 1dari 11

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam menjalankan bisnisnya, pelaku bisnis harus melakukan kegiatan bisnisnya
sesuai dengan aturan, norma dan etika yang berlaku. Oleh karena itu etika bisnis
sangatlah diperlukan dalam dunia bisnis agar terjadinya persaingan yang sehat antar
pelaku bisnis. Etika bisnis merupakan standard moral yang diterapkan dalam kebijakan,
institusi dan perilaku bisnis. Perusahaan meyakini bahwa prinsip bisnis yang baik adalah
bisnis yang memiliki etika, artinya bisnis yang dijalankan dengan mentaati aturan-aturan
atau kaidah-kaidah etika sesuai dengan peraturan dan hukum yang berlaku. Ketika suatu
perusahaan tidak melakukan kegiatannya sesuai dengan norma, aturan dan etika maka
akan mendapatkan citra yang buruk di masyarakat, cepat atau lambat akan merugikan
perusahaan itu sendiri.
Pada kenyataannya dalam dunia bisnis tidak jarang belaku konsep tujuan
menghalalkan segala cara, sehingga ada beberapa perusahaan yang melanggar etika
bisnis. Seperti pelanggaran etika bisnis yang dilakukan oleh PT Megasari Makmur dalam
komposisi produk obat nyamuk yang mereka produksi. Oleh karena itu penulis ingin
membahas mengenai pelanggaran yang dilakukan dan bagaimana cara mengatasinya.
B. Rumusan Masalah
Dari penjelasan latar belakang diatas, maka dapat merumuskan masalah sebagai
berikut :
1. Apakah PT Megasari Makmur menggunakan etika dalam menjalankan bisnisnya?
2. Jika PT Megasari Makmur tidak menggunakan etika bisnis, apakah bentuk
pelanggarannya, faktor penyebabnya dan bagaimana cara mengatasinya?

LANDASAN TEORI
A.

Definisi Etika Bisnis


Pengertian etika berasal dari bahasa Yunani Ethos berarti adat istiadat atau
kebiasaan. Hal ini berarti etika berkaitan dengan nilai-nilai, tata cara hidup baik, atauran
hidup yang baik, kebiasaan yang dianut dan diwariskan dari satu orang ke orang lain atau
dari satu generasi ke generasi lainnya.
Dalam bahasa Kant, etika berusaha menggugah kesadaran manusia untuk
bertindak secara otonom dan bukan secara heteronom. Etika bermaksud membantu
manusia untuk bertindak secara bebas, tetapi dapat dipertanggungjawabkan.
Sehingga etika bisnis adalah studi yang dikhususkan mengenai moral yang benar
dan salah. Studi yang berkonsentrasi pada standard moral sebagaimana diterapkan dalam

kebijakan, institusi, dan perilaku bisnis (Velasquez,2005).


B. Hal-Hal yang Harus Diketahui dalam Menciptakan Etika Bisnis
Menurut Richard De George, bila perusahaan ingin sukses/berhasil memerlukan 3
hal pokok yaitu :
1. Produk yang baik
2. Managemen yang baik
3. Memiliki Etika
Dalam menciptakan etika bisnis, ada hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain:
1. Pengendalian diri
2. Pengembangan tanggung jawab social (social responsibility
3. Mempertahankan jati diri dan tidak mudah untuk terombang-ambing oleh pesatnya
perkembangan informasi dan teknologi.
4. Menciptakan persaingan yang sehat
5. Menerapkan konsep pembangunan berkelanjutan
6. Menghindari sifat KKN (Kolusi, Korupsi dan Nepotisme) yang dapat merusak tatanan
moral
7. Harus mampu untuk menyatakan hal yang benar itu adalah benar.
8. Membentuk sikap saling percaya antara golongan pengusaha kuat dan golongan
pengusaha ke bawah.
9. Konsekuen dan konsisten dengan aturan main yang telah disepakati bersama.
10. Menumbuhkembangkan kesadaran dan rasa memiliki terhadap apa yang telah
disepakati.
11. Perlu adanya sebagian etika bisnis yang dituangkan dalam suatu hukum positif yang
berupa peraturan maupun perundang-undangan.
Ada 3 jenis masalah yang dihadapi dalam Etika yaitu :
1. Sistematik

Masalah-masalah sistematik dalam etika bisnis pertanyaan-pertanyaan etis yang


muncul mengenai sistem ekonomi, politik, hukum, dan sistem sosial lainnya dimana
bisnis beroperasi.
2. Korporasi
Permasalahan korporasi dalam perusahaan bisnis adalah pertanyaan-pertanyaan yang
dalam perusahaan-perusahaan tertentu. Permasalahan ini mencakup pertanyaan
tentang moralitas aktivitas, kebijakan, praktik dan struktur organisasional perusahaan
individual sebagai keseluruhan.
3. Individu
Permasalahan individual dalam etika bisnis adalah pertanyaan yang muncul seputar
individu tertentu dalam perusahaan. Masalah ini termasuk pertanyaan tentang
moralitas keputusan, tindakan dan karakter individual.
C. Prinsip-Prinsip Etika Bisnis
Menurut Sonny Keraf (1998) prinsip-prinsip etika bisnis adalah sebagai berikut:
1. Prinsip otonomi
Otonomi adalah sikap dan kemampuan manusia untuk mengambil keputusan dan
bertindak berdasarkan kesadaran sendiri tentang apa yang dianggapnya baik untuk
dilakukan.
2. Prinsip Kejujuran
a) Kejujuran dalam pemenuhan syarat-syarat perjanjian dan kontrak
b) Kejujuran dalam penawaran barang dan jasa dengan mutu dan harga sebanding
c) Kejujuran dalam hubungan kerja intern dalam suatu perusahaan
3. Prinsip Keadilan
Prinsip keadilan menuntut agar setiap orang diperlakukan secara sama sesuai
dengan aturan yang adil dan sesuai dengan kriteria yang rasional objektif dan dapat
dipertanggung jawabkan.
4. Prinsip saling menguntungkan
Menuntut agar bisnis menguntungkan semua pihak.
5. Prinsip Integritas moral
Prinsip ini dihayati sebagai tuntutan internal dalam pelaku bisnis.
D. Perlindungan Konsumen dalam Etika Bisnis
Azas dan Tujuan Perlindungan Konsumen, yaitu :
1. Asas Manfaat
Mengamanatkan bahwa segala upaya dalam penyelenggaraan perlindungan
konsumen harus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kepentingan konsumen
dan pelaku usaha secara keseluruhan.
2. Asas Keadilan

Partisipasi seluruh rakyat dapat diwujudkan secara maksimal dan memberikan


kesempatan kepada konsumen dan pelaku usaha untuk memperoleh haknya dan
melaksanakan kewajibannya secara adil.
3. Asas Keseimbangan
Memberikan keseimbangan antara kepentingan konsumen, pelaku usaha, dan
pemerintah dalam arti materiil ataupun spiritual.
4. Asas Keamanan dan Keselamatan Konsumen
Memberikan jaminan atas keamanan dan keselamatan kepada konsumen dalarn
penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang dikonsumsi atau
digunakan;
5. Asas Kepastian Hukum
Baik pelaku usaha maupun konsumen mentaati hukum dan memperoleh keadilan
dalam penyelenggaraan perlindungan konsumen, serta negara menjamin kepastian
hukum.
Menurut Undang-undang no. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen :
Pasal 1 butir 1,2,dan 3 :
1. Perlindungan konsumen adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian
hukum untuk memberi perlindungan kepada konsumen
2. Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam
masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain maupun
makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.
3. Pelaku usaha adalah setiap orang perseorangan atau badan usaha, baik yang
berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan
berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik
Indonesia,

baik

sendiri

maupun

bersamasama

melalui

perjanjian

menyelenggarakan kegiatan usaha dalam berbagai bidang ekonomi.


Tanggung Jawab Pelaku Usaha :
Dalam Pasal 19 mengatur tanggung jawab kesalahan pelaku usaha terhadap
produk yang dihasilkan atau diperdagangkan dengan memberi ganti kerugian atas
kerusakan, pencemaran, kerusakan, kerugian konsumen.
Bentuk kerugian konsumen dengan ganti rugi dengn pengembalian uang,
penggantian barang dan/atau jasa yang sejenis atau setara nilainya, perawatan kesehatan
dan/atau pemberian santunan yang sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.
Sesuai dengan Pasal 4 Undang-undang Perlindungan Konsumen (UUPK), Hakhak Konsumen adalah:

1. Hak atas kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang


dan/atau jasa;
2. Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa
tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan;
3. Hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan
barang dan/atau jasa;
4. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang
digunakan;
5. Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan dan upaya penyelesaian sengketa
perlindungan konsumen secara patut;
6. Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen;
7. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak
diskriminatif;
8. Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi/penggantian, apabila barang
dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak
sebagaimana mestinya;
9. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.
Hak pelaku usaha dalam pasal 6 UUPK adalah :
1. Hak untuk menerima pembayaran yang sesuai dengan kesepakatan mengenai
kondisi dan nilai tukar barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;
2. Hak untuk mendapat perlindungan hukum dari tindakan konsumen yang beritikad
tidak baik;
3. Hak untuk melakukan pembelaan diri sepatutnya di dalam penyelesaian hukum
sengketa konsumen;
4. Hak untuk rehabilitasi nama baik apabila terbukti secara hukum bahwa kerugian
konsumen tidak diakibatkan oleh barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;
5. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.

PEMBAHASAN
A. Profil PT Megasari Makmur
PT. Megasari Makmur didirikan pada tahun 1996, dengan pabrik yang berlokasi
di daerah Gunung Putri, Bogor Jawa Barat, Indonesia. Perusahaan ini merupakan
produsen berbagai produk rumah tangga: Air Freshener, Basah Organ, Produk Perawatan
Bayi, Aluminium Foil & Plastik Wrapping untuk Makanan, Kitchen Kain, Kaleng LPG,
Tiriskan Pembuka, Mobil & motor Produk Perawatan, Metal Polisher, Fly & Rat Lem,
Insektisida, dll.
A Foreign Direct Investment (FDI) perusahaan di Indonesia, PT. Megasari
Makmur selalu berusaha untuk unggul dalam kegiatan operasional, dan telah memperluas
pasar ke negara-negara asing di beberapa benua. Di negara asalnya sendiri, PT. Megasari
Makmur menghasilkan banyak pemimpin pasar seperti: STELLA, FOGO, WETTIES,
Mitu, KLINPAK, POLYTEX, WONDER BAKAR, SHOCK, CARRERA, Autosol, CAP
GAJAH, HIT, dll. Mereka telah menerima beberapa penghargaan untuk produk bermerek
terkemuka.

Melalui

perbaikan

terus-menerus,

PT.

Megasari

Makmur

terus

mempertahankan produk dan layanan terbaik untuk memenuhi kebutuhan pelanggan


besok.
B. Permasalahan
Peristiwa inspeksi mendadak Badan Pupuk dan Obat-obatan Departemen
Pertanian di PT. Megasari Makmur, Rabu (7/6), menemukan produsen pembasmi nyamuk
HIT ini menggunakan pestisida berbahan aktif klorpirifos dan diklorvos. Pihak
manajemen perusahaan di Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat, masih menggunakan kedua
zat berbahaya dengan alasan belum menerima izin baru dari Departemen Pertanian.
Deptan telah mengeluarkan larangan pemakaian klorpirifos dan diklorvos sejak
April 2004.Namun, dengan dalih belum mendapat izin baru, perusahaan ini memproduksi
obat pembasmi nyamuk dengan zat berbahaya itu hingga awal tahun ini. Diklorvos sangat
berpotensi menyebabkan kanker hati, menghambat pertumbuhan organ, serta kematin
janin. Diklorvos juga merusak kemampuan reproduksi dan merusak produksi dan kualitas
air susu ibu. Deptan menerbitkan larangan pemakaian pestisida jenis klorpirifos dan
diklorvos sesuai surat edaran Komisi Pestisida Nomor 166 Tahun 2004. Kedua zat ini
dapat menimbulkan pengaruh negatif terhadap kesehatan manusia dan lingkungan hidup.

Sehingga atas pelanggaran ini, PT Megasari diminta menarik seluruh produknya


dalam waktu dua bulan. Walau pemerintah telah meminta PT Megasari Makmur,
produsen HIT, untuk menarik seluruh produknya, hingga Kamis (8/6) ini pembasmi
nyamuk berbahan berbahaya itu ternyata masih beredar di pasaran. Adapun pembasmi
nyamuk HIT menggunakan bahan klorpirifos dan diklorvos. Padahal kedua bahan
pestisida ini telah dilarang digunakan oleh Departemen Pertanian sesuai surat edaran
Komisi Pestisida Nomor 166 Tahun 2004 . Adapun masyarakat tampaknya belum
mengetahui dampak penggunaan klorpirifos dan diklorvos.
Sementara itu, Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Husniah
Rubiana Thamrin Akib mengaku pihaknya hingga kini belum mengetahui laporan adanya
kandungan pestisida berbahaya pada obat nyamuk HIT. Ditemukannya penggunaan
klorpirifos dan diklorvos pada obat nyamuk HIT setelah Badan Pupuk dan Obat-obatan
Deptan melakukan inspeksi mendadak ke PT Megasari Makmur di kawasan Gunungputri,
Bogor, Jawa Barat. Dengan temuan tersebut, PT Megasari terancam sanksi berupa denda
sebesar Rp 2 miliar dan atau kurungan penjara lima tahun.
C. Analisa Masalah
Pada kasus diatas diketahui bahwa PT. Megasari Makmur sudah melakukan
perbuatan yang melanggar etika bisnis dengan menggunakan 2 zat berbahaya pada
komposisi produk mereka yaitu produk obat anti-nyamuk HIT. 2 zat berbahaya tersebut
adalah Propoxur dan Diklorvos yang dapat berbahaya bagi kesehatan. Seharusnya
kejadian ini tidak perlu terjadi bahkan sampai menimbulkan korban jiwa, karena sudah
ada undang-undang yang mengatur hak konsumen yaitu UU No.8 tahun 1999 mengenai
perlindungan konsumen. Larangan penggunaan Diklorvos untuk pestisida dalam rumah
tangga juga telah dikeluarkan Deptan sejak awal tahun 2004. Jika dilihat dari undangundang yang telah mengatur tentang perlindungan konsumen obat anti-nyamuk HIT telah
menyalahi aturan yang telah tercantum dalam undang-undang tersebut. Pasal-pasal yang
telah dilanggar oleh PT. Megasari Makmur, yaitu:
1. Pasal 4, hak konsumen adalah:
Ayat 1: hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam
mengkonsumsi barang dan/atau jasa
Ayat 3: hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan
jaminan barang dan/atau jasa

PT Megasari tidak memberikan peringatan kepada konsumennya tentang adanya


zat-zat berbahaya yang terkandung pada produk mereka (obat anti-nyamuk HIT).
Sehingga membahayakan kesehatan konsumen demi keuntungan semata.
2. Pasal 7, kewajiban pelaku usaha adalah:
Ayat 2: memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi
dan jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan,
perbaikan dan pemeliharaan
PT Megasari tidak memberikan indikasi penggunaan pada produk mereka (obat
anti-nyamuk HIT) bagaimana cara penggunaan yang benar, sehingga konsumen
mendapat

pengetahuan

tentang

penggunaanya

yaitu

jika

sebuah

ruangan

disemprotkan HIT harus didiamkan dulu selama setengah jam lalu baru boleh
dimasuki.
3. Pasal 8
Ayat 1: Pelaku usaha dilarang memproduksi dan/atau memperdagangkan
barang dan/atau jasa yang tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan standar yang
dipersyaratkan dan ketentuan peraturan perundang-undangan
Ayat 4: Pelaku usaha yang melakukan pelanggaran pada ayat (1) dan ayat (2)
dilarang memperdagangkan barang dan/atau jasa tersebut serta wajib menariknya
dari peredaran
PT Megasari tetap mengedarkan produk mereka walaupun mengetahui bahwa
produk HIT tersebut tidak memenuhi standar dan ketentuan yang berlaku. Produk
HIT tersebut sudah ditarik dari peredaran agar tidak terjadi hal-hal yang tidak
diinginkan.
4. Pasal 19
Ayat 1: Pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas
kerusakan, pencemaran, dan/atau kerugian konsumen akibat mengkonsumsi
barang dan/atau jasa yang dihasilkan atau diperdagangkan
Ayat 2: Ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa
pengembalian uang atau penggantian barang dan/atau jasa yang sejenis atau
setara nilainya, atau perawatan kesehatan dan/atau pemberian santunan yang
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku
Ayat 3 : Pemberian ganti rugi dilaksanakan dalam tenggang waktu 7 (tujuh) hari
setelah tanggal transaksi

PT Megasari harus bertanggung jawab atas pelanggaran yang dilakukan sehingga


membuat konsumen dirugikan bahkan ada yang sudah menjadi korban. PT Megasari
harus memberikan ganti rugi kepada konsumen sesuai dengan pasal diatas.
Solusi yang diberikan dalam hal pelanggaran etika bisnis PT Megasari:
Untuk PT Megasari sebagai pelanggar etika bisnis :
1. PT Megasari harus memperbaiki etika dalam berbisnisnya dengan transparan terhadap
kandungan-kandungan apa saja yang terkandung dalam produk yang mereka produksi
agar tidak ada permasalah dan keresahan yang terjadi akibat informasi yang kurang
bagi para konsumen tentang produk yang akan mereka konsumsi yaitu
menguju/meniliti kembali kandungan produk dan mengganti kandungan produk yang
berbahaya dengan bahan-bahan yang aman bagi manusia serta ramah bagi
lingkungan.
2. Jangan hanya mementingkan kepentingan bisnis tetapi mengabaikan keselamatan
konsumen.
Untuk konsumen yang menjadi korban:
1. Berhati hati dalam memilih produk dan jangan terlalu gampang terpengaruh dengan
produk-produk yang harganya murah
2. Gunakan sedikit mungkin. Untuk itu hindari obat antinyamuk yang wangi. Aroma
wangi akan mendorong kita untuk menjjadikannya pengharum ruangan. Ini bisa
berbahaya.
3. Saat menggunakan obat antinyamuk bakar, biarkanlah ventilasi udara didalam kamar
terbuka Ini untuk mencegah terjadinya keracunan pada penghuni kamar.
4. Jika menggunakan obat antinyamuk semprot, cukup semprotkan pada semua dinding
tempat nyamuk biasa hinggap dan berpijak. Obat antinyamuk akan meresap ke dalam
sistem tubuh nyamuk melalui kakinya. Dan semprotkan antinyamuk beberapa jam
sebelum tidur. Semakin lama jarak waktu semprot dengan waktu tidur, akan semakin
baik bagi kesehatan.

PENUTUP
A. Kesimpulan
Etika bisnis sangat diperlukan dalam berbisnis. Dengan memiliki etika bisnis
dalam menjalankan suatu perusahaan sehingga tidak akan merugikan konsumen atau
perusahaan tersebut, tidak akan ada yang dirugikan dan tidak akan ada yang menjadi
korban. Tetapi jika tidak menggunakan etika bisnis maka akan merugikan perusahaan
tersebut seperti pada kasus obat anti-nyamuk HIT yang melakukan pelanggaran etika
bisnis dengan memasukkan zat berbahaya untuk kesehatan pada produknya sehingga
perusahaan tersebut mendapatkan citra buruk di masyarakat dan menyebabkan dampak
buruk juga bagi konsumen. PT Megasari Makmur telah membohongi publik, dimana
perusahaan mempromosikan produknya obat anti-nyamuk ampuh dan murah tetapi tidak
memberi peringatan bahaya yang terkandung di dalamnya. Inspeksi dadakan yang
dilakukan seperti kepada PT Megasari sangat diperlukan, agar dapat mengetahui
kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh suatu perusahaan yang dapat merugikan
masyarakat, dan membantu pemerintah mengetahui pelanggaran yang dilakukan oleh
perusahaan tersebut sehingga pemerintah dapat mengambil suatu tindakan hukum yang
diberikan untuk perusahaan tersebut.
B. Saran
1. Bagi perusahaan yang melanggar etika bisnis seperti kasus pada PT Megasari
Makmur, sebaiknya membenahi perusahaan nya agar prinsip-prinsip etika bisnis
dapat berjalan dengan baik sehingga tidak timbul pelanggaran-pelanggaran lain.
2. Keselamatan konsumen sangat penting. Dengan mementingkan keselamatan
konsumen perusahaan maka perusahaan itu sendiri akan mendapatkan keuntungan
yang lebih besar karena konsumen akan lebih percaya terhadap produk perusahaan
tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Agus Arijanto. 2011. Etika Bisnis bagi Pelaku Bisnis: Cara Cerdas dalam Memahami Konsep
dan Faktor-Faktor Etika bisnis dengan Beberapa Contoh Praktis. Jakarta: Grafindo
DR.A. Sonny Keraf. 1998. Etika Bisnis; tuntutan dan Relevansinya. Jakarta: Kanisius
http://www.megasari.co.id/index.aspx?id=2
http://eka-piaoliang.mhs.narotama.ac.id/2012/10/01/makalah-pelanggaran-etika-bisnis/
http://inibahrulum.blogspot.com/2013/02/kasus-pelanggaran-etika.html
http://citrarestuanggari.blogspot.com/2013/10/pelanggaran-etika-bisnis.html
http://deni-dheevo.mhs.narotama.ac.id/2013/12/28/perlindungan-konsumen-dalam-etika-bisnis/

Anda mungkin juga menyukai