Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM FITOFARMASI

Nama

: Inna Asyari Rozalina

NIM

: 201110410311133

Kelas / Kel.Praktikum: Farmasi C / Kelompok IV


Judul

: Pembuatan Kapsul Ekstrak Kencur dan Penetapan


Kadar Senyawa Marker EPMS Dalam Kapsul

Tanggal

: 16-18 September 2014

Dosen Pembimbing

: 1. Drs. Herra Studiawan, MSi., Apt


2. Siti Rofida, S.Si., M. Farm., Apt
3. Ahmad Firdiansyah, S. Farm., Apt
4. Dian Retno Ayuning Tyas, S. Farm., Apt

TUJUAN
o Mahasiswa mampu melakukan dan memahami pembuatan kapsul ekstrak
kencur dengan benar.
o Untuk mengetahui proses pembuatan kapsul ekstrak kencur.
o Mahasiswa mampu melakukan penetapan kadar senyawa marker EPMS
dalam kapsul.

ALAT DAN BAHAN


ALAT :
- Vial
- Corong gelas dan kertas saring
- Labu ukur
- Mesin Ultrasonik
- Plat KLT
- Beaker Glass
- Chamber
- Botol timbang
- Pipa kapiler
- Pipet Tetes
- Densitometer
- Pipet Volume
- Labu ukur 5 ml dan 10 ml
BAHAN :
-

Cab-o-sil 709,7675 mg
Ethanol 96%
Avicel 2129,30 mg
Standar EPMS 910,93 mg
EPMS 50 mg
Cangkang kapsul 15 buah
n-Heksan 90 ml

- Asam Formiat 1 ml
- Etil Asetat 10 ml

TINJAUAN PUSTAKA
KAPSUL
Menurut Farmakope Indonesia IV kapsul adalah sediaan padat yang terdiri dari
obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut. Cangkang umumnya terbuat
dari gelatin atau dari pati atau bahan lain yang sesuai.
Di dalam kapsul terdapat campuran serbuk yang bisa berupa bahan aktif saja
ataupun bahan aktif dengan bahan pengisinya. Bahan pengisi yang biasa digunakan
adalah Avicel 101.
KENCUR (Kaempferia galangal L.)
Kencur (Kaempferia galangal L.) merupakan tanaman tropis yang banyak
tumbuh diberbagai daerah di Indonesia sebagai tanaman yang dipelihara. Tanaman
ini banyak digunakan sebagai ramuan obat tradisional dan sebagai bumbu dalam
masakan sehingga para petani banyak yang membudidayakan tanaman kencur
sebagai hasil pertanian yang diperdagangkan dalam jumlah besar. Bagian dari
tanaman kencur yang diperdagangkan adalah buah akar yang tinggal di dalam tanah
yang disebut dengan rimpang kencur atau rizoma (Soeprapto, 1986). Secara empiris
kencur bermanfaat sebagai ramuan untuk mengurangi sakit kepala, radang lambung,
radang anak telinga, batuk, keseleo, influenza, badan terasa lelah, masuk angin,
membersihkan darah kotor, dan memperlancar haid.
Rimpang kencur terdapat di dalam tanah bergerombol dan bercabang-cabang
dengan induk rimpang di tengah. Kulit ari berwarna coklat dan bagian dalam putih
berair dengan aroma yang tajam. Rimpang yang masih muda berwarna putih
kekuningan dengan kandungan air yang lebih banyak dan rimpang yang lebih tua
ditumbuhi akar pada ruas-ruas rimpang berwarna putih kekuningan.
Ekstrak kental rimpang kencur adalah ekstrak yang dibuat dari rimpang kencur
tumbuhan Kaempferia galangal L., suku Zingiberaceae mengandung minyak atsiri
tidak kurang dari 37,9% dan etil-p-metoksisinamat tidak kurang dari 4,3%. Bentuk
ekstrak kental, berwarna coklat tua, bau yang khas, dan mempunyai rasa yang pedas
menimbulkan rasa tebal di lidah. Kandungan kimia ekstrak kencur yaitu minyak
atsiri dengan komponen utama etil-p-metoksisinamat dan etil sinamat (Depkes RI,
2004). Tanaman kencur (Kaempferia galangal L.) mempunyai kandungan kimia
antara lain minyak atsiri 2,4 3,9% yang terdiri atas etil para metoksi sinamat,

kamfer, borneol, sineol, dan pentadekan. Adanya kandungan etil para metoksi
sinamat dalam kencur yang merupakan senyawa turunan sinamat berfungsi sebagai
pengeblok kimia antiultraviolet B yang berguna sebagai tabir surya (Soerartri dan
Tutiek, 2004).
Berikut identifikasi dan klasifikasi dari tanaman kencur.

Gambar 1 : Kaempferia galanga L


Kalsifikasi
Divisi
Sub divisi
Kelas
Bangsa
Suku
Marga
Jenis
Nama Umum / dagang
Nama Daerah

: Spermatophyta
: Angiospermai
: Monocotyledone
: Zingiberales
: Zingiberaceae
: Kaempferia
: Kaempferia galanga L
: Kencur
: Ceuku (Aceh), Cakue (Minangkabau), Cikur (Sunda),
Kencur (Jakarta, Jawa Tengah).

Deskripsi
Habitus
Batang
Daun

: Semak, tahunan, tinggi 20 cm.


: Semu, pendek, membentuk rimpang, coklat keputih-putihan.
: Tunggal, bentuk lonjong, panjang 7 15 cm, lebar 2 8 cm,

Bunga

ujung runcing, pangkal berlekuk, tepi rata, hijau.


: Tungga, bentuk terompet, panjang 2,5 5 cm, benang sari

Akar
Kandungan Kimia

panjang 4 mm, kuning, putik putih, puti keunguan.


: Serabut, coklat kekuningan.
: Terdapat dalam rimpang kencur diantaranya saponin, flavonoid,
polifenol, pati, mineral, minyak atsiri, asam anisic, alkaloid, gom,
asam cinnamic, ethyl aster, borneol, khampene, dan paraeuamarin.

MARKER

Senyawa penanda merupakan senyawa yang terdapat dalam bahan alam


dan dideteksi untuk keperluan khusus (contoh untuk tujuan identifikasi atau
standardisasi) melalui penelitian (Patterson, 2006). Senyawa atau zat penanda juga
dapat dipakai untuk menandai atau sebagai senyawa identitas suatu simplisia tanaman
tertentu. Untuk memenuhi syarat ini, zat atau senyawa tersebut tidak dimiliki oleh
simplisia tanaman lain (Sutrisno, 1986).
Marker dapat digunakan untuk identifikasi denganbenar dan autentik sumber
bahan alam, mencapai kualitas yang konsisten, mengkuanifikasi senyawa farmakologik
aktif pada produk akhir, atau memastikan efikasi produk. Marker sangat penting dalam
evaluasi jaminan kualitas produk.
Senyawa marker tidak harus memiliki aktivitas farmakologi. Senyawa marker
dapat digolongkan menjadi 4 kategori berdasarkan bioaktivitasnya.
Klasifikasi marker :
1. Zat aktif (senyawa kimia dengan aktivitas klinik yang diketahui)
2. Marker aktif (zat kimia yang mempunyai efek farmakologi, tapi belum
tentu mempunyai efikasi klinik)
3. Marker analisis (zat kimia yang dipilih untuk determinasi kuantitatif,
belum tentu punya aktifitas biologi dan efikasi klinis. Selain itu, marker ini juga
berguna untuk identifikasi positif bahan baku dan ekstrak untuk standardisasi.
4. Marker negatif ( senyawa aktif dengan zat aktif toksik atau allergenik).
Etil Para-metoksisinamat (EPMS)
Kandungan kimia utama kencur yang banayk dimanfaatkan adalah eil sinamat
dan etil p-metoksisinamat (EPMS) yang etrdapat didalam minyak atsiri kencur.
Kandungan ini banyak digunakan dalam industri kosmetika dan dimanfaatkan dalam
bidang farmasi sebagai obat asma dan anti jamur (Eko dkk., 2012).

Gambar 2. Etil p-Metoksisinamat

EPMS termasuk dalam golongan senyawa ester yang mengandung cincin


benzena dan gugus metoksi yang bersifat nonpolar dan juga gugus karbbonil yang
mengikat etil yang bersifat sedikit polar sehingga dalam ekstraksinya dapat
menggunakan pelarut-pelarut yang mempunyai variasi kepolaran seperti etanol, etil
asetat, metanol, air, dan heksana. Pelarut yang digunakan untuk ekstraksi harus
mempunyai kepolaran yang berbeda. Ekstraksi EPMS dari kencur menggunakan suhu
yang kurang dari titik lelehnya yaitu 48 50 C. pemanfaatan dan pengolahan kencur
yang dilakukan oleh masyarakat masih menggunakan cara ekstraksi sederhana yaitu
mengekstrak sari kencur dengan pelarut air. Hal ini menyebabkan kualitas ekstrak yang
didapatkan masih rendah (Eko dkk., 2012).
KLT Densitometri
Densitometri adalah metode analisis instrumental yang didasarkan pada interaksi
radiasi elektromagnetik dengan analit yang merupakan bercak atau noda pada lempeng
KLT. Interaksi radiasi elektromagnetik dengan noda pada lempeng KLT yang ditentukan
oleh adsorbsi, transmisi, pantulan (refleksi) pendar fluor atau pemadaman pendar fluor
dari radiasi semula. Pada analisis densitometri dibutuhkan standar dan sampel yang
cukup murni. Syarat keberhasilan densitometri adalah penempatan standar dan sampel
yang akurat dan konsisten ke atas lempeng dalam jumlah kecil serta ukuran bercak yang
kecil dan hampir sama. Keunggulannya dititik beratkan untuk analisis analit-analit
dengan kadar sangat kecil yang perlu dilakukan pemisahan terlebih dahulu dengan KLT.
Metode ini banyak digunakan dalam analisis kualitatif maupun kuantitatif di bidang
farmasi terutama di bidang analisis obat bahan alam.
Avicel
Avicel atau dengan nama lain selulosa mikrokristal. Derivat selulosa merupakan
eksipien yang penting dalam farmasi. Salah satu turunan selulosa adalah selulosa
mikrokristal (Fechner, et al, 2003; Gohel dan Jogani, 2005). Selulosa mikrokristal
diperkenalkan pada awal tahun 1960-an merupakan eksipien terbaik dalam pembuatan
tablet secara cetak langsung(Bimte dan Tayade, 2007). Selulosa mikrokristal dibuat
dengan cara hidrolisis terkontrol alfa selulosa, suatu pulp dari tumbuhan yang berserat
dengan larutan asam mineral encer (Rowe, et al., 2009). Selulosa mikrokristalin dapat

diperoleh secara komersial dari berbagai kualitas dan merek dagang. Salah satu produk
selulosa mikrokristalin di perdagangan dikenal dengan merek dagang Avicel. Ada
beberapa macam jenis avicel, salah satunya avicel pH 101 (Siregar dan Wikarsa, 2010).
Avicel atau selulosa kristal mikro yaitu zat yang diperoleh dari selulosa kayu
melalui hidrolisis asam dan merupakan bahan hasil pemurnian dan pemutihan produk
dari lignin, hemiselulosa dan bahan pengantar lainnya. Avicel pH 101 merupakan
produk aglomerasi dengan distribusi ukuran partikel yang besar dan menunjukkan sifat
alir dan kompresibilitas yang baik. Berupa kristal putih, tidak larut dalam air atau asam
dan hampir semua pelarut organik, tidak reaktif, free flowing dan kompresibel, pada
kelembapan tinggi akan melunak tapi bersifat reversible ketika lingkugan berubah
kelembabannya (Banker, et. Al., 1980).
Cab-o-sil
Cab-o-sil adalah sebuah fumed silica submicroscopic dengan ukuran partikel 15
nm. Cab-o-sil berwarna putih kebiru-biruan, terang, tidak berbau, tidak berasa, serbuk
amorf tidak berpasir. Cab-o-sil digunakan secara luas dalam farmasi, kosmetik dan
produk makanan. Cab-o-sil memiliki ukuran partikel kecil dan luas area permukaan
spesifiknya besar sehingga memberikan karakter aliran yang diinginkan yang
dieksplorasi untuk memperbaiki aliran serbuk kering pada proses pembuatan tablet.
Mempunyai rumus molekul SiO2 (BM = 60,08). Cab-o-sil adalah aditif yang umum
dalam produksi makanan dimana iya digunakan terutama sebagai agen aliran dalam
makanan bubuk, atau untuk menyerap air dalam aplikasi higroskopik. Fungsi lain Cabo-sil antara lain : adsorbent; anticaking agent; emulsion stabilizer; glidant; suspending
agent; tablet disintegrant; thermal stabilizer; viscosity-increasing agent. Penggunaan
Cab-o-sil sebagai : Aerosol (0,5 2,0 %), emulsion stabilizer (1,0 5,0 %), gllidant (0,1
1,0 %), suspending dan thickening agent (2,0 10,0 %).

PROSEDUR
1. Timbang masing- masing berat cangkang kapsul kosong.
2. Timbang seluruh bahan yang dibutuhkan sesuai perhitungan sebelumnya.
3. Campur semua bahan ad homogen.
4. Timbang hasil akhir campuran sebelumdimasukkan kedalam kapsul ( hitung
berapa % kesalahan dibandingkan dengan berat teoritis).

5. Kemudian dibagi menjadi 3 bagian dengan penimbangan masing-masing 1,250


mg. kemudian setiap bagian tadi dibagi kembali masing-masing menjadi 5
bagian secara visual.
6. Masukkan setiap bagian serbuk ke dalam masinh-masing cangkang kapsul.
7. Timbang masing-masing kapsul yang sudah berisi serbuk tadi lalu dikurangi
dengan bobot kapsul kosong tadi (hitung 10% dari berat kapsul yang
direncanakan).
8. Hitung kadar EPMS pada 3 kapsul yang diambil secara random. Hitung berapa
% kesalahan dibandingkan dengan kadar EPMS yang direncanakan dengan
cara :
- Keluarkan isi dari cangkang kapsul larutkan dengan etanol 96% ad 10 ml.
- Jika masih keruh, disaring terlebih dahulu. Lalu, dipipet 1 ml dan di adkan
-

dengan etanol 96% ad 4 ml pada vial yang berbeda.


Lalu totolkan pada plat KLT sebanyak 5l.
Densitometer.

HASIL DAN PEMBAHASAN