Anda di halaman 1dari 12

BAB I

DASAR TEORI

1.1.

Pompa
Pompa adalah peralatan yang berfungsi untuk memindahkan fluida cair dari satu tempat ke tempat
lain yang dikehendaki. Pompa memberikan energi kepada fluida sehingga dapat dipindahkan melalui
saluran perpipaan. Impeller dikopel dengan poros motor penggerak, motor penggerak dipasang
sedemikian supaya dapat berotasi secara bebas dalam batasan tertentu. Cara kerja akan dijelaskan pada
Gambar 1.

Gambar 1. Cara Kerja Impeller


Sumber : (Church,Austin H.1993.Pompa dan Blower Sentrifugal, Jakarta. Penerbit Erlangga Hal 77)
Daya dari luar diberikan pada poros pompa untuk memutarkan impeller di dalam zat cair. Maka zat
cair yang ada di dalam impeller, oleh dorongan sudu-sudu ikut berputar. Karena timbul gaya sentrifugal
maka zat cair mengalir dari tengah impeller ke luar melalui saluran di antara sudu-sudu. Di sini head
tekanan zat cair menjadi lebih tinggi. Demikian pula head kecepatannya bertambah besar karena zat cair
mengalami percepatan. Zat cair yang keluar dari impeller ditampung oleh saluran berbentuk volut (spiral)
di keliling impeller dan disalurkan ke luar pompa melalui nosel. Di dalam nosel ini sebagian head
kecepatan aliran diubah menjadi head tekanan. (pompa dan kompresor, Ir. Sularso). Faktor utama penentu
kinerja pompa sentrifugal adalah disain impeller dan casing. Pada grafik di bawah ini menunjukkan
hubungan antara kapasitas (Q) dengan head dengan beberapa data yang berbeda. Grafik yang ada
tersebut berasal dari data pompa sentrifugal. Grafik tersebut memperlihatkan kurva kinerja pompa yang
dipasok penjual untuk pompa sentrifugal dimana cairan yang akan dipompa adalah air bersih. Titik
Efisiensi Terbaik/ Best Efficiency Point (BEP) merupakan kapasitas pemompaan pada diameter impeler
maksimum, dimana efisiensi pompanya adalah yang paling tinggi. Seluruh titik kesebelah kanan atau kiri
BEP memiliki efisiensi lebih rendah. BEP terpengaruh jika pompa yang terpilih ukurannya berlebih.
Alasannya adalah bahwa aliran pompa dengan ukuran berlebih harus dikendalikan dengan metoda yang
berbeda, seperti kran penutup atau jalur by-pass. Keduanya memberikan tahanan tambahan dengan
meningkatnya gesekan. Sebagai akibatnya kurva sistim bergeser ke kiri dan berpotongan dengan kurva
pompa pada titik lainnya. Sekarang BEP nya juga menjadi lebih rendah. Dengan kata lain, efisiensi pompa
berkurang sebab aliran keluar berkurang akan tetapi pemakaian dayanya tidak. Ketidak efisiensian pompa
dengan ukuran berlebih dapat diatasi dengan, sebagai contoh, VSD, penggerak dua kecepatan, rpm lebih
rendah, impeler yang lebih kecil atau yang seimbang (BEE, 2004).

1.2.

Impeller
Impeller merupakan salah satu jenis pompa yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Impeller dikopel dengan poros motor penggerak, motor penggerak dipasang sedemikian hingga ia dapat
berotasi secara bebas dalam batasan tertentu. Ketika motor berotasi dan impeller memompa fluida, motor
akan cenderung berputar yang berlawanan arah dengan arah putar impeller. Batang besi dengan panjang
tertentu dipasang pada bodi motor, batang ini akan ditahan oleh weight hanger ketika motor akan berotasi
sehingga motor dalam kondisi balance. Energi yang dibutuhkan untuk mencapai keseimbangan ini disebut
Torsi yang diberikan motor.

1.2.1.

Karakteristik Impeller

Impeller adalah salah satu komponen dalam pompa yang berputar. Impeller menerima energi
mekanik berupa putaran dari motor yang ditransfer oleh poros, impeller memberikan energi pada fluida
yang melaluinya sehingga fluida mengalami peningkatan kecepatan aliran. Karakteristik-karakteristik
impeller antara lain :
1. Pada kecepatan aliran tinggi di daerah stabil dari kurva karakteristik head dekat titik efesiensi,
propeller dengan lima sudu menghasilkan head yang besar dari pada empat impeller.
2. Semakin besar diameter impeller semakin besar energi yang dihasilkan sehingga energi mekanik
yang diberikan pada fluida semakin besar.
3. Semakin luas penampang sudu-sudu propeller, semakin luas pula daerah yang memberikan energi
pada fluida tetapi beban yang didapat juga semakin besar.
4. Semakin banyak sudu pada impeller maka beban sudu akibat tumbukan fluida dapat distribusikan
secara merata, tetapi kecepatan semakin menurun.
5. Impeller dengan sudu lengkung digunakan untuk menghasilkan gaya sentrifugal pada fluida,
sedangkan pada sudu lurus digunakan untuk mempercepat aliran (energi kinetik).
1.2.2.

Jenis jenis Impeller

Jenis jenis impeller menurut konstruksinya :


a.

Impeller Tertutup
Impeler yang tertutup memiliki baling-baling yang ditutupi oleh mantel (penutup) pada kedua
sisinya. Biasanya digunakan untuk pompa air, dimana baling-baling seluruhnya mengurung air. Hal ini
mencegah perpindahan air dari sisi pengiriman ke sisi penghisapan, yang akan mengurangi efisiensi
pompa. Dalam rangka untuk memisahkan ruang pembuangan dari ruang penghisapan, diperlukan
sebuah sambungan yang bergerak diantara impeler dan wadah pompa.

Gambar 2. Impeler Tertutup


(Sumber : www.uripgumulya.com)

b. Impeller Terbuka
Impeler terbuka dan semi terbuka kemungkinan tersumbatnya kecil. Akan tetapi untuk
menghindari terjadinya penyumbatan melalui resirkulasi internal, volute atau back-plate pompa harus
diatur secara manual untuk mendapatkan setelan impeler yang benar.

Gambar 3. Impeller Terbuka


(Sumber: www.eulermethod.com)
c.

Impeller Semi Terbuka


Semi-open impeller dibangun dengan pelat bundar (web) yang melekat pada satu sisi dari
pisau (blade). Impeller telah terpasang pada pelat melingkar kedua sisi dari pisau (blade).

Gambar 3. Impeller Semi Terbuka


(Sumber : www.jensenengineeredsystems.com/impellers)

Impeller berdasarkan arah aliran :


a. Aliran Radial
Impeller ini digunakan untuk memompakan cairan dengan kapasitas besar dengan total head
yang relatif rendah
b. Aliran Aksial
Impeller ini digunakan untuk memompakan cairan dengan kapasitas besar dengan total head
yang relatif tinggi

Gambar 4. Impeller Aksial


(Sumber : www.uripgumulya.com)

c. Kombinasi Aksial dan Radial


Impeller ini digunakan untuk memompakan cairan dengan kapasitas besar dengan total head
yang relatif rendah dibandingkan dengan radial impeller tapi lebih tinggi daripada aksial impeller.
Impeller ini dapat terbuka dan tertutup

Gambar 5. Mixed Flow Impeller (kombinasi tertutup dan terbuka /radial dan aksial)
(Sumber : www.ksbforblog.blogspot.com)

Impeller berdasarkan isapannya :


a. Tunggal
Impeller isap tunggal memungkinkan cairan untuk memasuki pusat baling-baling hanya dari
satu arah.
b. Ganda
Sebuah double-suction impeller memungkinkan cairan masuk ke tengah impeller blades dari
kedua belah pihak secara bersamaan

Gambar 6. Impeller Isap Tunggal dan Ganda


(Sumber : http://www.engineersedge.com/pumps/impellar_classification)

Seperti yang telah disebutkan pada paragraph sebelumnya bahwa factor utama penentu kinerja
pompa sentrifugal adalah impeller dan casing. Dalam mendisain sebuah impeller, diperlukan konstantakonstanta disain yang secara langsung berhubungan dengan target total head dan debit pada titik
pengoperasian terbaiknya. Penggunaan konstanta disain yang tepat untuk impeller dapat meminimumkan
kehilangan yang terjadi pada impeller yang besarnya mencapai 2-10% dari total debit yang dihasilkan
pompa. Total head yang dihasilkan oleh impeller bergantung pada permukaan sudu dan besaran sudut
keluaran impeller.

1.3.

Head
Head seringkali dinyatakan dalam energi spesifik Y, yaitu energi mekanik yang dikandung oleh
aliran per satuan massa (1kg) zat cair.

Gambar 7. Head Statis


(Sumber : Ir. Sularso, Pompa dan Kompresor 1999)
Apabila aliran pompa dianggap tunak, pompa itu pada dasarnya memperbesar hulu Bernouli
alirannya antara titik 1 dan titik 2. Persamaan perubahan hulu dinyatakan dengan rumusan sebagai
berikut :
2

P P (V V1 )
H losses 2 1 2
Z 2 Z1 H

2g
(Ir. Sularso, Pompa dan Kompresor 1999)
Dimana :
P1

V1
g
Z1

= tekanan atmosfir di titik suction (N/m^2)


= berat jenis air (N/ m)
= kecepatan di titik suction(m/s)
= percepatan gravitasi (m/s)
= ketinggian di titik suction (m)

P2 = tekanan di titik discharge (N/m^2)


V2 = kecepatan di titik discharge (m/s)
Z2 = ketinggian di titik discharge (m)

Selain itu dalam system terdapat Head total yang dapat dihitung dari :
Beda head pressure
Dimana :

Hp = P discharge - Pin
Hp = Perbedaan head tekanan (m)
Pdischarge= Tekanan discharge manifold (m)
Pin = Tekanan inlet (m)

P1 V1
P V

Z1 2 2 Z 2
2g
2g
(Sumber : Fank M White, Mekanika Zalir)
Dimana:
P1 = tekanan atmosfir di titik suction (N/m^2)

P2 = tekanan di titik discharge ( N/m^2)

= berat jenis air (N/m3)


V1 = kecepatan di titik suction (m/s)
g = percepatan gravitasi (m/s2)
Z1 = ketinggian di titik 1 /suction (m)

V2 = kecepatan di titik dischrge (m/s)


Z2 = ketinggian di titik 2/discharge (m)

Terdapat empat komponen yang berpengaruh terhadap head, yaitu :

a. Head Statik (Static Head)


Merupakan head karena perbedaan ketinggian antara 2 permukaan sisi inlet dan outlet.
Hs = z2-z1
Dimana :

(Ir. Sularso, Pompa dan Kompresor 1999)

z2 = ketinggian dititik 2 (m) discharge


z1 = ketinggian dititik 1 (m) suction
Hs = head statik (m)

b. Head Tekanan (Pressure Head)

HP

P2 P1

Merupakan head karena perbedaan tekanan didalam aliran fluida antara inlet

dan outlet.
(Ir. Sularso, Pompa dan Kompresor 1999)
Dimana :

c.

P2 = tekanan di titik discharge (N/m^2)


P1 = tekanan atmosfir di titik suction (N/m^2)
= berat jenis air (N/m3)

Head Kecepatan (Velocity Head)


Merupakan head yang ditimbulkan karena adanya perbedaan kecepatan aliran antara inlet dan
outlet.
2

Hv

v2 v1
2g

(Ir. Sularso, Pompa dan Kompresor 1999)


Dimana :

V2 = kecepatan di titik dischrge (m/s)


V1 = kecepatan di titik suction (m/s)
g = percepatan gravitasi (m/s2)

d. Head gesekan ( friction head)


Merupakan head yang diperlukan untuk mengatasi kerugian gesekan pada pipa, katup maupun
perlengkapan pipa ( outfittings). Head ini juga dipengaruhi besarnya faktor-faktor lainnya seperti
kerugian head (head losses) yang terjadi baik karena gesekan dengan permukaan pipa maupun
karena adanya pemasangan fittings (perlengkapan pipa) pada instalasinya. Head losses yang
disebabkan oleh gesekan pada pipa (semakin panjang pipa maka head mayor semakin besar)

disebut head losses mayor sedang head losses yang disebabkan karena adanya fittings disebut head
losses minor.
Head losses Mayor untuk pipa panjang panjang dimana fluida mengalir secara penuh maka
dapat dirumuskan :

H lossesmayor x

l
v2
x
D 2g
(Ir. Sularso, Pompa dan Kompresor 1999)

Dimana:

Hlosses mayor = head karena gesekan dengan pipa (m)


= koefisien gesekan
v = kecepatan aliran fluida (m/s)
D = diameter pipa (m)
l = panjang pipa (m)

H lossesmin or

v2
f x
2g
Head losses Minor untuk perubahan jalur pipa dimana fluida mengalir

dapat dirumuskan :
(Ir. Sularso, Pompa dan Kompresor 1999)
Dimana :

1.4.

Hlosses minor = head karena gesekan dengan pipa (m)


f = koefisien gesekan
v = kecepatan aliran fluida (m/s)
g = percepatan gravitasi (m/s2)"

Torsi Pompa
Torsi Pompa adalah torsi yang dimiliki oleh impeller pompa sedangkan definisi torsi itu sendiri yaitu
perkalian antara gaya dengan lengan atau jarak tegak lurus gaya dengan benda yang menyebabkan
benda berputar.
T=Fxl
Dimana :

1.5.

(Sumber : Dosen-dosen FMIPA ITS,Fisika dasar I,2008)


F = gaya (N)
T = torsi (Nm)
l = lengan (m)

Daya Air
Daya air merupakan energi yang diterima oleh air dari pompa per-satuan waktu. Daya air sama
dengan daya poros dikurangi kerugian daya dalam pompa,ditunjukkan dengan rumus :
WHP = .Q.H
Dimana :

1.6.

Daya Pompa

(Sumber : Petunjuk praktikum mesin fluida, 2008)


= gravitasi spesifik air (kN/m3)
Q = Kapasitas air ( m/s )
H = head (m)

Daya Pompa Adalah daya yang dibutuhkan oleh pompa untuk memutar impeller.
BHP = 2..n.T
Dimana :

1.7.

(Sumber : Petunjuk praktikum mesin fluida, 2008)


BHP = daya pompa ( watt )
n
= putaran
T
= Torsi ( N . m )

Efisiensi Pompa
Pw
WHP
x100%
x100%
P
BHP
Adalah perbandingan antara daya air dengan daya pompa dalam
bentuk persen.
=

(Sumber : Petunjuk praktikum mesin fluida, 2008)


Dimana :

1.8.

Pw = daya air ( watt )


P = daya pompa (watt)
= efisiensi pompa

Efisiensi
Pw
WHP
x100%
x100%
P
BHP
Secara umum efisiensi adalah perbandingan antara output dengan
input. Daya poros yang diperlukan untuk menggerakkan sebuah pompa adalah sama dengan daya air
ditanbah kerugian daya didalam pompa. Sedangkan perbandingan antara daya air dengan daya poros
adalah efisiensi pompa, dapat ditunjukkan dengan rumusan berikut :
(Sumber : Petunjuk praktikum mesin fluida, 2008)
Dimana :

p
WHP
BHP

= efisiensi pompa (%)


= daya air (kW)
= daya poros (kW)

BAB II
TAHAPAN PRAKTIKUM

2.1. Tujuan Praktikum


Pada praktikum impeller ini bertujuan untuk mengetahui efisiensi sebuah pompa.

2.2. Peralatan Praktikum


Tabel 1. Peralatan Praktikum
No.

Nama

Gambar

Fungsi

Pompa

Flow meter

Untuk memindahkan fluida

Untuk mengukur kapasitas fluida


dalam bak

Tachometer
Untuk mengukur putaran dari motor

Indikator
beban

Untuk mengetahui beban pada


pompa

Katup
Untuk mengatur besar kecil aliran
fluida

Motor listrik
Untuk menggerakkan pompa

Untuk mengukur ketinggian fluida

Penggaris

Untuk mengukur tekanan

8 Pressure
Gauge

2.3. Gambar Rangkaian Praktikum

Gambar 8. Rangkaian Praktikum

2.4. Prosedur Praktikum


Langkah percobaan (putaran rendah) :
1.
2.
3.
4.
5.

6.
7.

Rem prony dilepaskan dan Spear dibuka, supaya tidak ada pembebanan pada pompa, sehingga
dapat digunakan untuk percobaan pompa impeller.
Pompa di set pada putaran rendah.
Pompa dinyalakan.
Kapasitas aliran fluida yang mengalir ke bak diatur.
Pada kapasitas tertentu yang telah ditentukan, diamati:
- Tekanan discharge pada pressure gauge .
- Putaran poros pompa.
- Tinggi permukaan air di bak.
- Besar beban/gaya pompa
Langkah-langkah 1-5 diulangi dengan kapasitas yang telah ditentukan.
Pompa dimatikan.
Langkah percobaan (putaran tinggi) :

1. Rem prony dilepaskan dan Spear dibuka, supaya tidak ada pembebanan pada pompa, sehingga
dapat digunakan untuk percobaan pompa impeller.
2. Pompa di set pada putaran rendah.
3. Pompa dinyalakan.
4. Kapasitas aliran fluida yang mengalir ke bak diatur.
5. Pada kapasitas tertentu yang telah ditentukan, diamati:
- Tekanan discharge pada pressure gauge
.
- Putaran poros pompa.
- Tinggi permukaan air di bak.
- Besar beban/gaya pompa
6. Langkah-langkah 1-5 diulangi dengan kapasitas yang telah ditentukan.
7. Pompa dimatikan.

DAFTAR PUSTAKA

Church,Austin H.1993.Pompa dan Blower Sentrifugal, Jakarta. Penerbit Erlangga


Dosen FMIPA ITS,Fisika Dasar 1,2003,Surabaya
Petunjuk Praktikum Mesin Fluida Dan System,Tim Laboraturium Mesin Fluida Dan Sistem, 2008.
Sularso, Pompa dan Kompresor, Pradnya Paramita. Jakarta.1999
www.engineersedge.com/pumps/impellar_classification, diakses pada Oktober 2014
www.eulermethod.com, diakses pada Oktober 2014
www.ksbforblog.blogspot.com, diakses pada Oktober 2014
www.uripgumulya.com, diakses pada Oktober 2014