Anda di halaman 1dari 20

VERTIGO

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Kepaniteraan Klinik


Bagian Ilmu Penyakit Saraf
RSUD dr. Adhyatma, M. Kes Semarang

Oleh :
Retno Aptriwinasih
01.208.5760

Pembimbing :
dr. Noorjanah P, Sp.S
dr. Istiqomah, Sp.S

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. Bahwa penulis telah menyelesaikan
tugas Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Penyakit Saraf dengan membahas Vertigo dalam bentuk
referat.
Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi.
Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat
bantuan, dorongan dan bimbingan orang tua, sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi
teratasi. Oleh karena itu penulis mengucapakan terima kasih kepada :
1. dr. Noorjanah P, Sp.S dan dr. Istiqomah, Sp.S selaku pembimbing yang telah memberikan
tugas, petunjuk, kepada penulis sehingga penulis termotivasi dan menyelesaikan tugas
ini.
2. Orang tua yang telah turut membantu, membimbing, dan mengatasi berbagai kesulitan
sehingga tugas ini selesai.
Semoga materi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang
membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai, Amin.

BAB I
PENDAHULUAN

Vertigo merupakan keluhan yang sering dijumpai dalam praktek yang sering
digambarkan sebagai rasa berputar, rasa oleng, tak stabil (giddiness, unsteadiness) atau rasa
pusing (dizziness) deskripsi keluhan tersebut penting diketahui agar tidak dikacaukan dengan
nyeri kepala atau sefalgia, terutama karena di kalangan awam kedua istilah tersebut (pusing dan
nyeri kepala) sering digunakan secara bergantian.
Vertigo berasal dari bahasa Latin vertere yang artinya memutar merujuk pada sensasi
berputar sehingga mengganggu rasa keseimbangan seseorang, umumnya disebabkan oleh
gangguan pada sistim keseimbangan. Vertigo merupakan subtipe dari dizziness (pusing yang
merupakan suatu keluhan yang terjadi akibat perasaaan disorientasi. Biasanya dipengaruhi oleh
persepsi posisi terhadap lingkungan. Dizziness sendiri mempunyai empat subtipe yaitu vertigo,
disekuilibrum tanpa vertigo, presinkop dan pusing psikofisiologis.
Dari keempat subtipe dizziness vertigo terjadi 32% kasus dan sampai dengan 56,4 %
pada populasi orang tua. Sementara itu angka vertigo pada anak-anak tidak diketahui tetapi pada
studi terbaru pada populasi anak sekolah di skotlandia dilaporkan sekitar 15% anak paling tidak
pernah merasakan sekali serangan pusing dalam periode satu tahun. sebagian besar hampir 50%
diketahui sebagai paroxysmal vertigo yang disertai dengan gejala-gejala migren (pucat,
mual,fotofobia).
Vertigo merupakan keadaan pusing yang dirasakan luar biasa. Seseorang yang menderita
vertigo merasakan sekelilingnya seolah-olah berputar, ini disebabkan oleh gangguan
keseimbangan yang berpusat di area labirin atau rumah siput di daerah telinga. Perasaan tersebut

kadang disertai dengan rasa mual dan ingin muntah, bahkan penderita merasa tak mampu berdiri
dan kadang terjatuh karena masalah keseimbangan.Keseimbangan tubuh dikendalikan oleh otak
kecil yang mendapat informasi mengenai posisi tubuh dari organ keseimbangan di telinga tengah
dan mata. Vertigo biasanya timbul akibat gangguan telinga tengah dan dalam atau gangguan
penglihatan.
Dalam menegakan diagnosis diperlukan sebuah pendekatan menggunaakan pengetahuan
dari kunci anamnesis, pemeriksaan fisik, dan temuan hasil pemeriksaan penunjang. Untuk
mendapatkan diagnosis dan memberikan terapi yang tepat untuk pasien.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. Vertigo
i. Definisi
Vertigo adalah perasaan seolah-olah penderita bergerak atau berputar, atau
seolah-olah benda di sekitar penderita bergerak atau berputar, yang biasanya disertai
dengan mual dan kehilangan keseimbangan. Vertigo bisa berlangsung hanya
beberapa saat atau bisa berlanjut sampai beberapa jam bahkan hari. Penderita

kadang merasa lebih baik jika berbaring diam, tetapi vertigo bisa terus berlanjut
ii.

meskipun penderita tidak bergerak sama sekali.


Etiologi
Penyebab Vertigo secara umum adalah
1. Keadaan lingkungan
iii. Motion sickness (mabuk darat, mabuk laut)
2. Obat-obatan
Alkohol
Gentamisin
3. Kelainan sirkulasi
Transient ischemic attack (gangguan fungsi otak sementara karena
berkurangnya aliran darah ke salah satu bagian otak) pada arteri vertebral
dan arteri basiler.
4. Kelainan ditelinga
Endapan kalsium pada salah satu kanalis semisirkularis di dalam telinga
bagian dalam (menyebabkan benign paroxysmal positional vertigo)
Infeksi telinga bagian dalam karena bakteri
Herpes zoster
Labirintitis (infeksi labirin di dalam telinga)
Peradangan saraf vestibuler
Penyakit Meniere
5. Kelainan neurologis
Sklerosis multipel
Patah tulang tengkorak yang disertai cedera pada labirin, persarafannya
atau keduanya
Tumor otak
Tumor yang menekan saraf vestibularis

iv.

Klasifikasi
PSIKOGENIK

VERTIGO

SINDROM
FOBIA
SENTRAL

BPPH
MENIERE

PATOGENIK
PERIFER
FISIOLOGIK

KETINGGIAN
MABUK UDARA

INFEKSI
TRAUMA
ISKEMIK

Vertigo diklasifikasikan menjadi dua kategori berdasarkan saluran vestibular


yang mengalami kerusakan, yaitu vertigo perifer dan

vertigo sentral. Saluran

vestibular adalah salah satu organ bagian dalam telinga yang senantiasa
mengirimkan informasi tentang posisi tubuh ke otak untuk menjaga keseimbangan.
Vertigo periferal terjadi jika terdapat gangguan di saluran yang disebut kanalis
semisirkularis,

yaitu

telinga

bagian

tengah

yang

bertugas

keseimbangan.

Gejala

Vertigo Vestibuler

Vertigo Non Vestibuler

Rasa berputar (true

Melayang, hilang

vertigo)

keseimbangan, light

Sifat Vertigo

headedness

Serangan

Episodik

Kontinyu

Mual/muntah

Gangguan

pendengaran
Pencetus

Situasi
pencetus

Gerakan kepala

Gerakan obyek visual

Ramai orang, lalulintas


macet, supermarket

mengontrol

v.

Patogenesis

Bangkitan

Tipe Perifer

Tipe Sentral

Lebih mendadak

Lebih lambat

Derajat

Berat

Ringan

Pengaruh

Gejala autonom

pendengaran

(tinitus, tuli)
Tanda fokal otak

vertigo

gangguan alat
keseimbangan
tubuh

(mual, muntah,
berkeringat)
Gangguan

atau

oleh

gerakan kepala

pusing

disebabkan

vertigo

Rasa

yang

mengakibatkan ketidakcocokan antara posisi tubuh yang sebenarnya dengan apa


yang dipersepsi oleh susunan saraf pusat.
Ada beberapa teori yang berusaha menerangkan kejadian tersebut :
1. Teori rangsang berlebihan (overstimulation)
Teori ini berdasarkan asumsi bahwa rangsang yang berlebihan menyebabkan
hiperemi kanalis semisirkularis sehingga fungsinya terganggu; akibatnya akan
timbul vertigo, nistagmus, mual dan muntah.
2. Teori konflik sensorik
Menurut teori ini terjadi ketidakcocokan masukan sensorik yang berasal dari
berbagai reseptor sensorik perifer yaitu antara mata/visus, vestibulum dan
proprioseptik, atau ketidak-seimbangan/asimetri masukan sensorik dari sisi kiri dan
kanan.
Ketidakcocokan tersebut menimbulkan kebingungan sensorik di sentral sehingga
timbul respons yang dapat berupa nistagmus (usaha koreksi bola mata), ataksia atau
sulit berjalan (gangguan vestibuler, serebelum) atau rasa melayang, berputar (yang
berasal dari sensasi kortikal).
Berbeda dengan teori rangsang berlebihan, teori ini lebih menekankan gangguan
proses pengolahan sentral sebagai penyebab.
3. Teori neural mismatch
Teori ini merupakan pengembangan teori konflik sensorik; menurut teori ini otak
mempunyai memori/ingatan tentang pola gerakan tertentu; sehingga jika pada suatu
saat dirasakan gerakan yang aneh/tidak sesuai dengan pola gerakan yang telah
tersimpan, timbul reaksi dari susunan saraf otonom.

Jika pola gerakan yang baru tersebut dilakukan berulang-ulang akan terjadi
mekanisme adaptasi sehingga berangsur-angsur tidak lagi timbul gejala.
4. Teori otonomik
Teori ini menekankan perubahan reaksi susunan saraf otonom sebaga usaha adaptasi
gerakan/perubahan posisi; gejala klinis timbul jika sistim simpatis terlalu dominan,
sebaliknya hilang jika sistim parasimpatis mulai berperan.
5. Teori neurohumoral
Di antaranya teori histamin (Takeda), teori dopamin (Kohl) dan terori serotonin
(Lucat) yang masing-masing menekankan peranan neurotransmiter tertentu dalam
mempengaruhi sistim saraf otonom yang menyebabkan timbulnya gejala vertigo.
6. Teori sinap
Merupakan pengembangan teori sebelumnya yang meninjau peranan neurotransmisi
dan perubahan-perubahan biomolekuler yang terjadi pada proses adaptasi, belajar
dan daya ingat. Rangsang gerakan menimbulkan stres yang akan memicu sekresi
CRF (corticotropin releasing factor); peningkatan kadar CRF selanjutnya akan
mengaktifkan susunan saraf simpatik yang selanjutnya mencetuskan mekanisme
adaptasi berupa meningkatnya aktivitas sistim saraf parasimpatik.
Teori ini dapat menerangkan gejala penyerta yang sering timbul berupa pucat,
berkeringat di awal serangan vertigo akibat aktivitas simpatis, yang berkembang
menjadi gejala mual, muntah dan hipersalivasi setelah beberapa saat akibat
dominasi aktivitas susunan saraf parasimpatis.

vi.

Manifestasi klinis

Vertigo akut sering disertai gejala otonom (mual, muntah, keringat


dingin,muka pucat), ketidakseimbangn badan dan nistagmus (sehingga pandangan
vii.

kabur.
Diagnosis
b.
Anamnesis
Pertama-tama ditanyakan bentuk vertigonya: melayang, goyang, berputar,
tujuh keliling, rasa naik perahu dan sebagainya. Perlu diketahui juga keadaan yang
memprovokasi timbulnya vertigo: perubahan posisi kepala dan tubuh, keletihan,
ketegangan. Profil waktu: apakah timbulnya akut atau perlahan-lahan, hilang
timbul, paroksimal, kronik, progresif atau membaik. Beberapa penyakit tertentu
mempunyai profil waktu yang karakteristik Apakah juga ada gangguan
pendengaran yang biasanya menyertai/ditemukan pada lesi alat vestibuler atau n.
vestibularis. Penggunaan obat-obatan seperti streptomisin, kanamisin, salisilat,
antimalaria dan lain-lain yang diketahui ototoksik/vestibulotoksik dan adanya
penyakit sistemik seperti anemi, penyakit jantung, hipertensi, hipotensi, penyakit
paru juga perlu ditanyakan. Juga kemungkinan trauma akustik.
c.Pemeriksaan Fisik
Ditujukan untuk meneliti faktor-faktor penyebab, baik kelainan sistemik,
otologik atau neurologik vestibuler atau serebeler; dapat berupa pemeriksaan
fungsi pendengaran dan keseimbangan, gerak bola mata/nistagmus dan fungsi
serebelum.
Pendekatan klinis terhadap keluhan vertigo adalah untuk menentukan
penyebab apakah akibat kelainan sentral yang berkaitan dengan kelainan susunan
saraf pusat korteks serebri, serebelum,batang otak, atau berkaitan dengan sistim

vestibuler/otologik;

selain

itu

harus

dipertimbangkan

pula

faktor

psikologik/psikiatrik yang dapat mendasari keluhan vertigo tersebut.


Faktor sistemik yang juga harus dipikirkan/dicari antara lain aritmi
jantung, hipertensi, hipotensi, gagal jantung kongestif, anemi, hipoglikemi.
Dalam menghadapi kasus vertigo, pertama-tama harus ditentukan bentuk
vertigonya, lalu letak lesi dan kemudian penyebabnya, agar dapat diberikan terapi
kausal yang tepat dan terapi simtomatik yang sesuai. Pemeriksaan Fisik Umum
Pemeriksaan fisik diarahkan ke kemungkinan penyebab sistemik; tekanan
darah diukur dalam posisi berbaring,duduk dan berdiri; bising karotis, irama
(denyut jantung) dan pulsasi nadi perifer juga perlu diperiksa. Pemeriksaan
Neurologis
Pemeriksaan neurologis dilakukan dengan perhatian khusus pada:
1. Fungsi vestibuler/serebeler
1 a. Uji Romberg penderita berdiri dengan kedua kaki dirapatkan,
mula-mula dengan kedua mata terbuka kemudian tertutup. Biarkan
pada posisi demikian selama 20-30 detik. Harus dipastikan bahwa
penderita tidak dapat menentukan posisinya (misalnya dengan bantuan
titik cahaya atau suara tertentu). Pada kelainan vestibuler hanya pada
mata tertutup badan penderita akan bergoyang menjauhi garis tengah
kemudian kembali lagi, pada mata terbuka badan penderita tetap tegak.
Sedangkan pada kelainan serebeler badan penderita akan bergoyang
baik pada mata terbuka maupun pada mata tertutup.

b. Tandem Gait: penderita berjalan lurus dengan tumit kaki kiri/kanan


diletakkan pada ujung jari kaki kanan/kiri ganti berganti. Pada
kelainan vestibuler perjalanannya akan menyimpang, dan pada
kelainan serebeler penderita akan cenderung jatuh.
c. Uji Unterberger.
Berdiri dengan kedua lengan lurus horisontal ke depan dan jalan
di tempat dengan mengangkat lutut setinggi mungkin selama satu
menit.

Pada

kelainan

vestibuler

posisi

penderita

akan

menyimpang/berputar ke arah lesi dengan gerakan seperti orang


melempar cakram; kepala dan badan berputar ke arah lesi, kedua lengan
bergerak ke arah lesi dengan lengan pada sisi lesi turun dan yang
lainnya naik. Keadaan ini disertai nistagmus dengan fase lambat ke arah
lesi.

d. Past-pointing test (Uji Tunjuk Barany)


Dengan jari telunjuk ekstensi dan lengan lurus ke depan, penderita
disuruh mengangkat lengannya ke atas, kemudian diturunkan sampai
menyentuh telunjuk tangan pemeriksa. Hal ini dilakukan berulangulang dengan mata terbuka dan tertutup.
Pada kelainan vestibuler akan terlihat penyimpangan lengan penderita
ke arah lesi.
e. Uji Babinsky-Weil

Pasien dengan mata tertutup berulang kali berjalan lima langkah ke


depan dan lima langkah ke belakang selama setengah menit; jika ada
gangguan vestibuler unilateral, pasien akan berjalan dengan arah
berbentuk bintang.
Pemeriksaan Khusus Oto-Neurologis
Pemeriksaan ini terutama untuk menentukan apakah letak lesinya di
sentral atau perifer.
1. Fungsi Vestibuler
a. Uji Dix Hallpike
Secara cepat gerakkan pasien ke belakang (dari posisi duduk ke posisi
terlentang) Kepala putar ke samping Perhatikan adanya nistagmus;
lakukan uji ini ke kanan dan kiri Kepala harus menggantung ke bawah.
Dari posisi duduk di atas tempat tidur, penderita dibaring-kan ke
belakang dengan cepat, sehingga kepalanya meng-gantung 45 di
bawah garis horisontal, kemudian kepalanya dimiringkan 45 ke kanan
lalu ke kiri. Perhatikan saat timbul dan hilangnya vertigo dan
nistagmus, dengan uji ini dapat dibedakan apakah lesinya perifer atau
sentral.
Perifer (benign positional vertigo): vertigo dan nistagmus timbul
setelah periode laten 2-10 detik, hilang dalam waktu kurang dari 1
menit, akan berkurang atau menghilang bila tes diulang-ulang beberapa
kali (fatigue).

Sentral: tidak ada periode laten, nistagmus dan vertigo ber-langsung


lebih dari 1 menit, bila diulang-ulang reaksi tetap seperti semula (nonfatigue).
b. Tes Kalori
Penderita berbaring dengan kepala fleksi 30, sehingga kanalis
semisirkularis lateralis dalam posisi vertikal. Kedua telinga diirigasi
bergantian dengan air dingin (30C) dan air hangat (44C) masingmasing selama 40 detik dan jarak setiap irigasi 5 menit. Nistagmus
yang timbul dihitung lamanya sejak permulaan irigasi sampai hilangnya
nistagmus tersebut (normal 90-150 detik).
Dengan tes ini dapat ditentukan adanya canal paresis atau directional
preponderance ke kiri atau ke kanan.Canal paresis ialah jika
abnormalitas ditemukan di satu telinga, baik setelah rangsang air hangat
maupun air dingin, sedangkan directional preponderance ialah jika
abnormalitas ditemukan pada arah nistagmus yang sama di masingmasing telinga.
Canal paresis menunjukkan lesi perifer di labirin atau n. VIII,
sedangkan directional preponderance menunjukkan lesi sentral.
c. Elektronistagmogram
Pemeriksaan ini hanya dilakukan di rumah sakit, dengan tujuan untuk
merekam gerakan mata pada nistagmus, dengan demikian nistagmus
tersebut dapat dianalisis secara kuantitatif.
2. Fungsi Pendengaran

a. Tes garpu tala


Tes ini digunakan untuk membedakan tuli konduktif dan tuli perseptif,
dengan tes-tes Rinne, Weber dan Schwabach. Pada tuli konduktif tes
Rinne negatif, Weber lateralisasi ke sisi yang tuli, dan Schwabach
memendek.
b. Audiometri
Ada beberapa macam pemeriksaan audiometri seperti Loudness
Balance Test, SISI, Bekesy Audiometry, Tone Decay. Pemeriksaan
saraf-saraf otak lain meliputi: acies visus, kampus visus, okulomotor,
sensorik wajah, otot wajah, pendengaran, dan fungsi menelan. Juga
fungsi motorik (kelumpuhan ekstremitas),fungsi sensorik (hipestesi,
parestesi) dan serebeler (tremor, gangguan cara berjalan).
d.

Pemeriksaan Penunjang
1.Pemeriksaan laboratorium rutin atas darah dan urin, dan pemeriksaan lain
sesuai indikasi.
2. Foto Rontgen tengkorak, leher, Stenvers (pada neurinoma akustik).
3.Neurofisiologi:Elektroensefalografi(EEG),Elektromiografi(EMG),
Brainstem Auditory Evoked Pontential (BAEP).
4. Pencitraan: CT Scan, Arteriografi, Magnetic Resonance Imaging (MRI).

i.

Penatalaksanaan
vertigo bukan suatu penyakit tersendiri, melainkan gejala dari penyakit
yang letak lesi dan penyebabnya berbeda-beda. Oleh karena itu, pada setiap
penderita vertigo harus dilakukan anamnesis dan pemeriksaan yang cermat dan
terarah untuk menentukan bentuk vertigo, letak lesi dan penyebabnya .

Tujuan pengobatan vertigo, selain kausal (jika ditemukan penyebabnya),


ialah untuk memperbaiki ketidak seimbangan vestibuler melalui modulasi transmisi
saraf; umumnya digunakan obat yang bersifat antikolinergik.
Selain itu dapat dicoba metode Brandt-Daroff sebagai upaya desensitisasi
reseptor semisirkularis
Pasien duduk tegak di tepi tempat tidur dengan tungkai tergantung; lalu
tutup kedua mata dan berbaring dengan cepat ke salah satu sisi tubuh, tahan selama
30 detik, kemudian duduk tegak kembali. Setelah 30 detik baringkan tubuh dengan
cara yang sama ke sisi lain, tahan selama 30 detik, kemudian duduk tegak kembali.
Latihan ini dilakukan berulang (lima kali berturut-turut) pada pagi dan petang hari
sampai tidak timbul vertigo lagi. Latihan lain yang dapat dicoba ialah latihan visualvestibular; berupa gerakan mata melirik ke atas, bawah, kiri dan kanan me

ngikuti gerak obyek yang makin lama makin cepat; kemudian diikuti dengan
gerakan fleksiekstensi kepala berulang dengan mata tertutup, yang makin lama
makin cepat.
Terapi kausal tergantung pada penyebab yang (mungkin) ditemukan.
Beberapa penyebab vertigo yang sering ditemukan antara lain:
Benign paroxysmal positional vertigo
Dianggap merupakan penyebab tersering vertigo; umumnya hilang sendiri (self
limiting) dalam 4 sampai 6 minggu.
Saat ini dikaitkan dengan kondisi otoconia (butir kalsium di dalam kanalis
semisirkularis) yang tidak stabil.
Terapi fisik dan manuver Brandt-Daroff dianggap lebih efektif daripada
medikamentosa.
Penyakit Meniere
Dianggap disebabkan

oleh

pelebaran

dan

ruptur

periodik

kompartemen

endolimfatik di telinga dalam; selain vertigo, biasanya disertai juga dengan tinitus
dan gangguan pen-dengaran.
Belum ada pengobatan yang terbukti efektif; terapi profilaktik juga belum
memuaskan; tetapi 60-80 % akan remisi spontan.
Dapat dicoba pengggunaan vasodilator, diuretik ringan bersama diet rendah garam;
kadang-kadang

dilakukan

tindakan

operatif

berupa

dekompresi

ruangan

endolimfatik dan pe-motongan n.vestibularis.


Pada kasus berat atau jika sudah tuli berat, dapat dilakukan labirintektomi atau
merusak saraf dengan instilasi aminoglikosid ke telinga dalam (ototoksik lokal).
Pencegahan antara lain dapat dicoba dengan menghindari kafein, berhenti merokok,
membatasi asupan garam.
Obat diuretik ringan atau antagonis kalsium dapat meringankan gejala.
Simtomatik dapat diberi obat supresan vestibluer.
Neuritis vestibularis
Merupakan penyakit yang self limiting, diduga disebabkan oleh infeksi virus; jika
disertai gangguan pendengaran disebut labirintitis.
Sekitar 50% pasien akan sembuh dalam dua bulan.

Di awal sakit, pasien dianjurkan istirahat di tempat tidur, diberi obat supresan
vestibuler dan anti emetik. Mobilisasi dini dianjurkan untuk merangsang
mekanisme kompensasi sentral.
Vertigo akibat obat
Beberapa obat ototoksik dapat menyebabkan vertigo yang disertai tinitus dan
hilangnya pendengaran.Obat-obat itu antara lain aminoglikosid, diuretik loop,
antiinflamasi nonsteroid, derivat kina atau antineoplasitik yang mengandung
platina..
Streptomisin lebih bersifat vestibulotoksik, demikian juga gentamisin; sedangkan
kanamisin, amikasin dan netilmisin lebih bersifat ototoksik.
Antimikroba lain yang dikaitkan dengan gejala vestibuler antara lain sulfonamid,
asam nalidiksat, metronidaziol dan minosiklin.
Terapi berupa penghentian obat bersangkutan dan terapi fisik; penggunaan obat
supresan vestibuler tidak dianjurkan karena jusrtru menghambat pemulihan fungsi
vestibuler.
Obat penyekat alfa adrenergik, vasodilator dan antiparkinson dapat menimbulkan
keluhan rasa melayang yang dapat dikacaukan dengan vertigo.
ii.

Prognosis
Prognosis pasien dengan vertigo vestibular tipe perifer umumnya baik,
dapat terjadi remisi sempurna. Sebaliknya pada tipe sentral, prognosis tergantung
dari penyakit yang mendasarinya.

DAFTAR PUSTAKA
1. Joesoef AA. Tinjauan umum mengenai vertigo. Dalam: Joesoef AA,
Kusumastuti K.(eds.). Neurootologi klinis:Vertigo. Kelompok Studi Vertigo
Perdossi, 2002.
2. KAMUS KEDOKTERAN DORLAND, Penerbit Buku Kedokteran
3. Mengenal Pusing dalam Praktek Umum. Seri edukasi, Duphar
4. GP, Korn, RS Doriqueto, MM Gananca, and HH Cauvilla. 2007. Epleys
maneuver in the same session in benign paroxysmal positional vertigo
5. Harsono, Kapita Selekta Neurologi Edisi Kedua, Yogyakarta: Gajah Mada
University Press, 2000
6. Price A Sylvia dan Loraine Wilson M, 2006, Patofisiologi : Konsep Klinik
Proses Penyakit 5th, EGC

BAB III
KESIMPULAN

1. Vertigo merupakan gejala dari berbagai kelainan, baik pada organ pendengaran maupun otak
(medulla, pons, dan serebelum),sehingga secara umum dikelompokkan atas vertigo sentral dan
perifer.

2. Diagnosis dan penatalaksanaan vertigosecara umum dapat dilakukan di pusat layanan


kesehatan primer. Beberapa tindakan pemeriksaan keseimbangan sederhana (tes Romberg, tes
salah tujuk) dapat dilakukan
pada praktik sehari-hari.
3.

Terapi

medikamentosa

(obat

antivertigo)

sangat

dipertimbangkan antara manfaat dan risiko penggunaannya.

banyak

pilihannya,

dan

harus