Anda di halaman 1dari 27

Feminisme muncul dalam politik dunia pada

pertengahan 1980s. Feminisme berkembang


dalam politik pembangunan dan penelitian
perdamaian. Tetapi menjelang akhir 1980s
muncul berbagai gelombang gerakan Feminisme

Secara

umum
Maggie
Humm
(1990)
menjelaskan feminisme sebagai sebuah ideologi
pembebasan perempuan karena yang melekat
dalam semua keyakinan bahwa perempuan
mengalami
ketidakadilan
karena
jenis
kelaminnya,
karena
ia
terlahir
sebagai
perempuan.

Feminisme memperjuangkan kemanusiaan kaum


perempuan, memperjuangkan perempuan sebagai
manusia merdeka seutuhnya.
Secara prinsip feminisme berakar pada posisi
perempuan dalam dunia (filsafat, politik, ekonomi,
budaya, sosial) patriarki dan berorientasi pada
perubahan pola hubungan kekuasaan.
Feminisme ada karena berjalannya penindasan yang
berasal dari ideologi bernama patriarki, yaitu ideologi
yang berdasarkan kekuasaan laki-laki dan mengakar
secara sistemik pada lembaga sos-eko-pol-bud.
Feminisme mendasarkan diri pada realitas sosial
kultural dan kenyataan sejarah yang kongkret.
Karena realitas tidak seragam, maka feminisme juga
tidak berwajah tunggal.

Feminisme dapat dipahami melalui fase/tahapan


kebangkitan kesadaran wanita tentang kedudukan dan
hak mereka dalam berbagai bidang dan dimensi
perubahan sosial.
First Wave: menekankan aspek perbedaan biologi
perempuan dan lelaki sebagai elemen fundamental
yang menjadi dasar kelemahan dan penindasan
perempuan
khususnya
budaya
patriarkhi
yang
dianggap sebagai aspek yang bertanggung jawab
terhadap penindasan tersebut.
Feminisme ini muncul terkait dengan hak istimewa lakilaki dan munculnya pencerahan di Eropa.
Dipengaruhi juga oleh gagasan filsafat dan perubahan
politik abad ke-17 dan 18 (John Locke, John s. Mill, JJ.
Rousseau)

Menjelang Abad ke-19 feminisme lahir dan


berkembang sebagai sebuah gerakan yg mendapat
simpati dari para kulit putih di Eropa.
Dikumandangkan Universal Sisterhood untuk
menyatukan gerakan feminisme dan persaudaraan
wanita keseluruh belahan dunia.
Aktivis Gel. Pertama ini berusaha membangkitkan
kesadaran perempuan untuk tidak menjadikan
alasan seks sebagai batasan untuk melibatkan diri
dalam sektor, ditekankan juga konsep persamaan
hak dalam bidang politik
Gelombang pertama ini menjadi kemenangan
perempuan sebagai upaya untuk sederajat dengan
laki-laki

Second Wave: perubahan mendasar pemikiran


feminisme gel ini adalah perubahan arah gerakan dari
kesetaraan atau meminimalisasi perbedaan antara
perempuan dan laki-laki menuju arah pemujaan
terhadap perempuan atau perspektif yang berpusat
pada perempuan.
Feminis gelombang ini memfokuskan gerakan pada
egalitarianisme secara radikal yang berbasiskan pada
ketertindasan dalam pembagian gender.
Muncul setelah PD II, lahir negara merdeka yang
terbebas dari belenggu penjajahan
Di AS, feminisme dipicu oleh kekecewaan masyarakat
thd politik hak-hak sipil (civil rights), gerakan anti
perang serta demokratisasi

Feminis gel kedua ini terkait dengan berbagai


situasi yang terjadi di seputar kehidupan wanita,
berkembang dan meluasnya kesempatan kerja dan
memperoleh pendidikan tinggi bagi kaum wanita
dan tingginya kesenjangan domestik para wanita.
Pada akhirnya gel ini membongkar berbagai proses
segregasi wanita secara vertikal (glass-ceiling)
khususnya dalam sektor ekonomi.

Third Wave: berkembang pada rentang waktu tahun


1980-90an yang memandang feminis 2nd wave terlalu
bertendensi pembentukan teori feminis yang bersifat
total dan mengabaikan berbagai pengalaman kultural
wanita yang termarjinalisasi dan terkolonisasi.
Berbagai kritikan muncul thd pemikiran feminisme gel.
Kedua yang dianggap terlalu memandang wanita dari
sisi universalistik
Terjadi perubahan Perspektif memandang bahwa akar
diskriminasi dan penindasan waita tidak hanya
bersumber dari cara pandang laki-laki, tetapi juga cara
pandang wanita itu sendiri. Dan persoalan penting
dalam gel ini adalah persoalan Gender.

Istilah gender biasanya mengacu pada konstruksi


sosial tentang perbedaan laki-laki dan perempuan.
Istilah Gender pertama kali diperkenalkan oleh Robert
Stoller (1968) untuk memisahkan pencirian manusia
yang didasarkan pada pendefinisian yang bersifat
sosial-budaya dengan pendefinisian yang berasal dari
ciri-ciri fisik biologis.
Ann Oakley (1972) gender sebagai konstruksi sosial
atau atribut yang dikenakan pada manusia yang
dibangun oleh kebudayaan manusia.
Gender sebagai perbedaan yang bukan biologis dan
bukan kodrat Tuhan. Perbedaan biologis merupakan
perbedaan jenis kelamin (sex) yang merupakan kodrat
Tuhan secara permanen.

Uraian singkat diatas menjelaskan adanya


perbedaan antara gender dan sex. Perbedaan
ini menimbulkan perbedaan gender (gender
differences) dimana kaum perempuan itu tidak
rasional, emosional, dan lemah lembut,
sedangkan laki-laki itu memiliki sifat rasional,
kuat atau perkasa
Gender Differences sebenarnya bukan suatu
masalah sepanjang tidak menimbulkan gender
inequalities (ketidakadilan gender). Namun,
yang menjadi masalah adalah ternyata gender
differences ini telah menimbulkan berbagai
ketidakadilan, baik bagi kaum laki-laki dan
utamanya terhadap kaum perempuan

Gender inequalities (ketidakadilan gender)


merupakan sistem dan struktur dimana kaum
laki-laki dan perempuan menjadi korban dari
sistem tersebut.
Feminis selalu tertarik dengan bagaimana
pemahaman gender mempengaruhi kehidupan
laki-laki dan perempuan.

Gender

adalah sebuah istilah yang memiliki


konotasi psikologi dan budaya. Jika istilah yang
tepat adalah laki-laki dan perempuan maka istilah
yang berhubungan dengan gender adalah
maskulin dan feminin, kedua istilah tersebut sama
sekali tidak terikat dengan jenis seks (secara
biologis).

Dengan kata lain, tidak ada hubungannya antara

menjadi wanita dengan menjadi feminin, dan


menjadi laki-laki dengan menjadi maskulin; anak
perempuan tidak harus lemah lembut dan
mempesona, dan anak laki-laki tidak harus agresif
dan kompetitif.

Menurut

Stoller
dan
Oakley,
budaya
suatu
masyarakatlah yang menentukan prilaku berdasarkan
seks di dalamnya. Sehingga peran gender merupakan
produk dari budaya daripada biologi.
Dengan kata lain, manusia mempelajari prilaku yang
diharapkan dari laki-laki dan perempuan dalam
masyarakatnya. Apapun perbedaan antara laki-laki
dan perempuan, budaya masyarakatlah yang paling
mempengaruhi penciptaan prilaku maskulin dan
feminin. Jika ada tendensi biologi untuk laki-laki dan
perempuan untuk berprilaku berbeda, ini pastinya
diciptakan oleh faktor-faktor budaya.

Perbedaan antara laki-laki dan perempuan

inilah yang menjadi dasar munculnya


ketidakadilan
di
antara
keduanya.
Perkembangan Gerakan Pembebasan Wanita
(feminisme)
muncul
menyikapi
posisi
subordinat wanita dalam masyarakat. Ada
tiga aliran feminis yang utama, yaitu
feminisme radikal, feminisme marxis dan
sosialis, dan feminisme liberal.

Feminisme Radikal memberikan perhatian pada hal hal


yang berhubungan dengan masalah reproduksi dan
seksualitas
Feminisme
Radikal
menyalahkan
eksploitasi
perempuan oleh laki-laki. Bagi feminis radikal, lakilaki telah diuntungkan dari subordinasi atas
perempuan. Perempuan tereksploitasi karena mereka
dijadikan buruh gratis oleh laki-laki dengan menjaga
anak dan mengurus rumah, dan karena mereka
menyangkal akses ke posisi kekuasaan.
Feminis radikal melihat masyarakat sebagai patriarkal
dimana masyarakat didominasi dan diatur oleh lakilaki.

Dari pandangan ini, laki-laki merupakan kelas

penguasa, dan perempuan merupakan obyek


kelas. Keluarga sering dilihat sebagai institusi kunci
yang menyebabkan penindasan terhadap
perempuan dalam masyarakat modern.
Feminis radikal cenderung meyakini bahwa
perempuan
selalu
dieksploitasi
dan
hanya
perubahan
revolusioner
yang
bisa
membebaskannya.
Meskipun demikian, sebagian penganut feminisme
radikal seperti Shulamith Firestone, yakin bahwa
penindasan terhadap perempuan berasal dari
kondisi biologi, terutama
karena mereka bisa
melahirkan anak. Sedangkan yang lain tidak
melihat biologi menjadi hal yang penting.

Karena
laki-laki
dilihat
sebagai
musuh
pembebasan wanita, banyak feminis radikal
menolak
bantuan
laki-laki
dalam
memperjuangkan haknya. Feminis separatis
berargumen bahwa perempuan harus diatur
bebas dari laki-laki dalam masyarakat yang
didominasi laki-laki. The Leeds Revolutionary
Feminist Group berpendapat bahwa hanya
kelompok lesbian yang merupakan feminis
sebenarnya karena mereka yang sepenuhnya
bebas dari laki-laki.

Mengatakan bahwa penindasan terhadap


perempuan berasal dari instrumen ekonomi,
sosial dan politik yang berazaskan sistem
kapitalis.
Ajaran
marxis
memandang
penindasan perempuan adalah bagian dari
penindasan kaum kapitalis dan borjuis atas
kelas proletar yang harus segera dirombak
untuk
membebaskan
perempuan
dari
dominasi
laki-laki.
Feminis
sosial
menempatkan penekanan yang lebih besar
pada
eksploitasi
perempuan
dalam
pekerjaan

Meskipun feminisme marxis dan sosialis setuju


dengan feminisme radikal bahwa perempuan
adalah kelompok yang dieksploitasi, terutama
dengan kemajuan kapitalisme, keduanya lebih
sensitif dengan perbedaan antara wanita yang
dimiliki oleh kelas penguasa dan keluarga
proletar.
Keduanya sama-sama menyarankan perubahan
revolusioner. Tetapi feminis marxis dan sosialis
menginginkan
pembentukan
masyarakat
komunis agar ketidakadilan gender bisa hilang.
Hal ini berbeda dengan feminis radikal yang
yakin bahwa penindasan terhadap perempuan
berasal dari hal yang beragam sehingga
memerlukan solusi yang berbeda pula.

Aliran ini menekankan pada keadilan gender


dengan membuat aturan permainan yang adil bagi
laki-laki maupun perempuan serta memastikan
bahwa semua dibagikan sama rata, baik berupa
fasilitas maupun jasa.
Feminisme
Liberal
beranggapan
bahwa
peningkatan kedudukan perempuan dilakukan
melalui industrialisasi dan modernisasi seperti
kapitalisme liberal menghendaki persamaan hak
bagi laki-laki dan perempuan di berbagai bidang.
Feminisme radikal memandang penindasan atas
kaum perempuan disebabkab oleh ideologi
patriarkal yang mendasari pengaturan hubungan
antara laki-laki dan perempuan.

Feminisme liberal banyak mendapat dukungan


karena penawarannya yang moderat. Kelompok
ini berjuang untuk perubahan dalam bidang
politik, ekonomi dan sosial dalam masyarakat
Barat.
Bagi kelompok ini, tidak seorangpun yang
diuntungkan dalam ketidakadilan gender, baik
laki-laki maupun perempuan dirugikan karena
keduanya berpotensi untuk ditindas
Sosialisasi dalam peran-peran gender memiliki
konsekuensi pengharapan yang tidak fleksibel
dan kaku tentang laki-laki dan perempuan.
Diskriminasi mencegah perempuan memperoleh
posisi yang seimbang.

Penciptaan posisi yang seimbang atau

sama, terutama dalam pendidikan dan


pekerjaan,
menjadi
tujuan
utama
feminisme liberal. Mereka mengejar tujuan
ini melalui pengenalan legislasi dan
berusaha mengubah prilaku.

Feminisme PostAliran ini berlangsung intersection terhadap


Colonialism
kelas, ras, dan gender dalam skala ekonomi
politik global dan terutama menganalisis efek
budaya transnasional pada gender dan
pembagian kerja yang tidak seimbang.
Menurut Perspektif ini tidak cukup hanya
dengan memenuhi keinginan permintaan
wanita setara dengan laki-laki (seperti Liberal)
Akan tetapi melihat kondisi kemiskinan yang
mewarnai belahan selatan sebagai akibat dari
sistem ekonomi global

Feminis Post_Colonialisme mengkritik

keistimewaan intelektual barat (Baik laki-laki


atau perempuan) yang mampu menekan
imperialisme budaya.
Gayatri Spivak mengkombinasi (Marxism,
Feminism, dan Deconstruction) menganalisis
bahwa Feminisme Liberal mengabaikan
keinginan dan opini perempuan di belahan
selatan (Subaltern)
Subaltern : kelompok subordinat yang
terabaikan di wilayah selatan, mengalami
ketidakadilan gender sebagai akibat warisan
kolonialisme. Kelompok ini juga menjadi dasar
kritikan kaum postmodernisme

Selain 4 varian feminis di atas, masih

terdapat varian feminisme lainnya:


Feminisme Psikoanalis
Feminisme Eksistensialis
Feminisme post-modernism
Feminisme Global
Ekofeminisme

Kesimpulan:
Kesenjangan antara Gender dan Sex
Power, Legalitas, Rasionalitas, menjadi

isu yang dominan dalam Feminisme


sekarang
Feminisme menyingkirkan konstruksi
Marginalitas Gender
Dengan feminisme: Teori HI menjadi bias
gender

Ahyar Anwar, 2009, Geneologi Feminis-Dinamika Pemikiran


Referensi:

Feminis, Jakarta: Republika


Baylis, John, 2001, The Globalization of World Politics 3rd
edition, New York: Oxford University Press
Jennifer Sterling Folker. 2005. Making Sense of International
Relations Theory. London: Lynne Rienner Publisher.
Putnam Tong, Rosemary, 2008. Feminist Thought,
Yogyakarta: Jalasutra
Riant Nugroho, 2008, Gender dan Strategi pengarusutamaannya di Indonesia, Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Siti Hariti S, 2009, Gender and Politics, Yogyakarta: PSWUGM-Tiara Wacana
Scott Burchill, et.al. 1996. Theories of International
Relations. London: Macmillan Press.