Anda di halaman 1dari 9

MODUL XII

MOMENTUM LINIER (bagian 1)


Hukum kekekalan energy, yang kita bahas pada bab sebelumnya, merupakan salah
satu dari beberapa hukum-hukum kekekalan energi fisika yang penting. Di antara
besaran kekal lainnya terdapat momentum linier, momentum sudut (angular), dan
muatan listrik. Pada bab ini, kita membahas momentum linier dan kekekalannya. Kita
kemudian menggunakan hukum-hukum kekekalan momentum linier dan energi untuk
menganalisis tumbukan. Dan memang, hukum kekekalan momentum terutama
berguna ketika menangani masalah dua atau lebih benda yang berinteraksi, seperti
pada tumbukan.
1. Momentum dan Hubungannya dengan Gaya
Momentum linier (atau momentum untuk singkatnya) dari sebuah benda
didefinisikan sebagai hasil kali massa dan kecepatannya. Momentum (jamaknya
adalah momenta) biasanya dinyatakan dengan symbol p. Jika kita tentukan m
menyatakan massa sebuah benda dan v kecepatannya, maka momentum p dari
benda tersebut adalah
P = mv

(7-1)

Karena kecepatan merupakan vector maka momentum dinyatakan dalam bentuk


vector. Arah momentum adalah arah kecepatan, dan besar momentum adalah p =
m. Karena v bergantung pada kerangka acuan, kerangka ini harus ditentukan.
Satuan momentum adalah sederhana yaitu massa x kecepatan, yang dalam satuan
SI adalah kg.m/s. Tidak ada nama khusus untuk satuan ini.
Untuk merubah momentum benda dibutuhkan sebuah gaya, baik untuk
menaikkan momentum, menurunkannya (misalnya memberhentikan benda yang
sedang bergerak), atau untuk merubah arahnya. Newton pada awalnya menyatakan
hokum keduanya dalam bentuk momentum (walaupun ia menyebut hasil kali m
sebagai kuantitas gerak). Pernyataan Newton mengenai hukum gerak kedua, jika
diterjemahkan ke bahasa modern, adalah sebagai berikut :
Laju perubahan momentum sebuah benda sama dengan gaya total yang
diberikan padanya.
Kita dapat menuliskan pernyataan ini dalam bentuk persamaan,

F t
PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

(7-2)

'

Dian Widiastuti

FISIKA I

di mana

adalah gaya total yang diberikan kepada benda (jumlah vektor dari

semua gaya yang bekerja padanya) dan p adalah hasil perubahan momentum
yang terjadi selama selang waktu t. Kita dapat langsung menurunkan bentuk yang
lebih kita kenal dari hukum kedua,

F ma ,

dari Persamaa 7-2 untuk kasus

massa konstan. Jika v0 adalah kecepatan awal benda dan v adalah kecepatannya
setelah waktu t telah berlalu, maka
p mv mv 0 m( v v 0 )

t
t
t
v
m
t
ma

karena, menurut definisi,

a v t .

[massa konstan]

Pernyataan Newton, Persamaan 7-2,

sebenarnya lebih umum dari persamaan yang lebih kita kenal karena mencakup
situasi di mana massa bisa berubah. Hal ini penting pada keadaan tertentu, seperti
pada roket yang kelihangan massanya pada waktu membakar bahan bakarnya.
Contoh :
1. Air keluar dari selang dengan debit 1,5 kg/s dan laju 20 m/s, dan diarahkan
pada sisi mobil, yang menghentikan gerak majunya. (Artinya, kita abaikan
percikan air kebelakang.) Berapa gaya yang diberikan air pada mobil?
Jawab :
Kita ambil arah x positif ke kanan. Pada setiap detik, air dengan momentum
p x m x 1,5 20 30 kg.m/s berhenti pada saat mengenai mobil. Besar

gaya (dianggap konstan) yang harus diberikan mobil untuk merubah


momentum air sejumlah ini adalah

p p akhir p awal 0 30

30 N
t
t
1

Tanda minus menunjukkan bahwa gaya pada air berlawanan arah dengan
kecepatan asal air. Mobil memberikan gaya sebesar 30 N ke kiri untuk
menghentikan air, sehingga dari hukum Newton ketiga, air memberikan gaya
sebesar 30 N pada mobil.
2. Bagaimana jika air memercik kembali dari mobil pada contoh soal 1. Apakah
gaya pada mobil lebih besar atau lebih kecil ?
Jawab :
Jika air memercik kembali ke arah selang, perubahan momentum akan lebih
besar, berarti gaya pada mobil akan lebih besar. Perhatikan bahwa pakhir
sekarang akan menunjuk ke arah x negatif, sebagaimana ditunjukkan oleh

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Dian Widiastuti

FISIKA I

gambar 1. Sehingga hasil untuk F, akan sebesar angka minus yang lebih
kecil dari 30 N (yaitu, 35 sampai 40 N, bergantung pada laju percikan air).
Untuk

mudahnya,

mobil

tidak

hanya

memberikan

gaya

untuk

memberhentikan air, tetapi juga gaya tambahan untuk memberinya


momentum pada arah yang berlawanan.

pawal
Pakhir
p = pakhir pawal
Gambar 1 : Contoh konseptual 7-2. momentum air
sebelum dan sesudah memercik kembali, dan p.
2.

Kekekalan Momentum

Konsep momentum sangat penting karena, pada keadaan-keadaan tertentu,


momentum merupakan besatan yang kekal. Sebagai contoh tumbukan berhadapan
dari dua bola bilyar, seperti terlihat pada Gambar 2.

m1v1

m2v2

x
Gambar 2 : Momentum kekal pada tumbukan dua bola.
Kita anggap gaya eksternal total sistem dua bola ini sebesar nolartinya, gaya yang

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Dian Widiastuti

FISIKA I

signifikan hanyalah gaya yang diberikan tiap bola ke bola lainnya ketika tumbukan.
Walaupun momentum dari tiap bola berubah akibat terjadi tumbuhan jumlah
momentum mereka ternyata sama pada waktu sebelum dan sesudah tumbukan. Jika
m1v1 adalah momentum bola nomor 1 dan m2v2 merupakan momentum bola 2,
keduanya diukur sebelum tumbukan, maka momentum total kedua bola sebelum
tumbukan adalah m1v1 dan m2v2. Setelah tumbukan, masing-masing bola memiliki
kecepatan dan momentum yang berbeda, yang akan kita beri tanda aksen pada
kecepatan: m1v1 dan m2v2. Momentum total setelah tumbukan adalah m1v1 + m2v2.
Tidak peduli berapapun kecepatan dan massa yang terlibat, ternyata momentum
total sebelum tumbukan sama dengan sesudahnya, apakah tumbukan tersebut dari
depan atau tidak, selama tidak ada gaya eksternal total yang bekerja:
momentum sebelum tumbukan = momentum sesudah tumbukan

m1 v 1 m2 v 2 m1 v '1 m2 v ' 2

(7-3)

Jadi jumlah vektor momentum pada sistem dua bola tersebut kekal : tetap konstan.
Dengan demikian, pernyataan umum hukum kekekalan momentum adalah
Momentum total dari suatu sistem benda-benda yang terisolasi tetap
konstan.
Dengan istilah sistem, yang dimaksud adalah sekumpulan benda yang
berinteraksi satu sama lain. Sistem terisolasi adalah suatu sisten di mana gaya
yang ada hanyalah gaya-gaya di antara benda-benda pada sistem itu sendiri. Jumlah
semua gaya ini akan nol dengan berlakunya hukum Newton ketiga. Jika ada gaya
luaryang dimaksud adalah gaya-gaya yang diberikan oleh benda di luar sistem
dan jumlahnya tidak nol (secara vektor), maka momentum total tidak kekal.
Contoh :
3. Sebuah gerbong kereta 10.000 kg yang berjalan dengan laju 24 m/s
menabrak gerbong lain yang sejenis yang sedang dalam keadaan diam. Jika
kedua gerbong tersebut tersambung sebagai akibat dari tumbukan, berapa
kecepatan bersama mereka?
Jawab :
Momentum total awal adalah
m11 m2 2 10.000 24 10.000 0
2,4 10 5

dan menuju ke kanan, ke arah +x. Setelah tumbukan, momentum total akan
sama, dan dimiliki bersama oleh kedua gerbong. Karena kedua gerbong
tersebut menyatu, laju mereka akan sama, kita sebut saja . Maka :

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Dian Widiastuti

FISIKA I

m1 m2 ' 2,4 10 5
'

2,4 10 5
12
2 10 4

ke kanan. Laju bersama mereka setelah tumbukan adalah setengah dari laju
awal gerbong 1.
4. Lihat Lihat Contoh Soal No 8 di modul 14.
3. Tumbukan dan Impuls
Pada tumbukan dua benda biasa, karena gaya-gaya besar yang terlibat. Ketika
terjadi tumbukan, gaya biasanya melonjak dari nol pada saat kontak menjadi nilai
yang sangat besar dalam waktu yang sangat singkat, dan kemudian dengan drastis
kembali ke nol lagi. Grafik besar gaya yang diberikan satu benda pada yang lainnya
pada saat tumbukan, sebagai fungsi waktu, kita-kira sama dengan yang ditunjukkan
oleh kurva pada Gambar 3. Selang waktu t biasanya cukup nyata dan sangat
singkat.
Dari hukum newton kedua, Persamaan 7-2, gaya total pada sebuah benda
sama dengan laju perubahan momentumnya :
F

p
t

(Kita telah menuliskan F dan bukan

untuk gaya total, yang kita anggap

disebabkan oleh gaya yang singkat tetapi besar yang bekerja pada waktu
tumbukan.) Tentu saja, persamaan ini berlaku untuk masing-masing benda pada
tumbukan.. Jika kita kalikan kedua ruas persamaan ini dengan selang waktu t, kita
dapatkan
Impuls = Ft = p

Gaya, F

(7-4)

t
Waktu,
t pada saat tumbukan.
Gambar 3 : 0Gaya sebagai fungsi
waktu

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Dian Widiastuti

FISIKA I

F
t
0

t1

t2

Gambar 4 : Gaya rata-rata F yang bekerja selama selang


waktu t menghasilkan impuls yang sama ( Ft ) dengan
gaya yang sebenarnya.
Besaran di ruas kiri, hasil kali gaya F dengan waktu t pada waktu gaya bekerja,
disebut impuls. Kita lihat bahwa perubahan total momentum sama dengan impuls.
Konsep impuls terutama membantu ketika menangani gaya yang bekerja dalam
waktu yang singkat, seperti ketika tongkat bisbol memukul bola. Gaya biasanya tidak
konstan dan seringkali perubahannya terhadap waktu seperti yang digambarkan
pada Gambar 4. Gaya yang bervariasi seperti itu biasanya cukup diperkirakan
dengan mengambil gaya rata-rata F yang bekerja selama waktu t, sebagaimana
ditunjukkan oleh garis putus-putus pada Gambar 4. F dipilih sedemikian sehingga
area yang diarsir pada Gambar 4 (sama dengan F t ) sama dengan luas area di
bawah kurva F vs. t (yang menyatakan impuls). Perhatikan dari persamaan 7-4
bahwa impuls yang sama, dan perubahan momentum yang sama, dapat diberikan
kepada sebuah benda oleh gaya F yang lebih kecil jika waktu t selama gaya
tersebut bekerja lebih lama, selama hasil kali, F t tetap sama.
Contoh :
5. (a) Hitung impuls yang dialami ketika seseorang dengan massa 70 kg
mendarat di tanah yang padat setelah melompat dari ketinggian 3 m.
Kemudian perkirakan gaya rata-rata yang diberikan pada kaki orang tersebut,
jika pendaratannya (b) dengan kaki yang lurus, dan (c) dengan kaki yang
tertekuk. Pada kasus yang pertama, anggap tubuh orang itu bergerak 1 cm
pada waktu pandaratan, dan pada kasus kedua, dengan kaki tertekuk, tubuh
bergerak 50 cm.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Dian Widiastuti

FISIKA I

Jawab :
(a) Walaupun kita tidak mengetahui F dan dengan demikian tidak bisa
menghitung impul Ft secara langsung, kita dapat menggunakan fakta bahwa
impuls sama dengan perubahan momentum benda yang bersangkutan. Kita
perlu menentukan kecepatan orang tersebut persis sebelum mengnai tanah,
yang dapat kita lakukan dengan menggunakan kekekalan energi (Persamaan
6-11a) :

EK EP
1
2

m 2 0 mg ( y y 0 )

di mana kita menganggap ia mulai dari keadaan diam (0 = 0), dan y0 = 3 m


dan y = 0. Dengan demikian, setelah jatuh sejauh 3 m, kecepatan orang itu
persisi sebelum mendarat adalah

2 g y 0 y 2 9,8 3 7,7 m/s.


Pada waktu orang itu mendarat, momentum dengan cepat menjadi nol.
Impuls orang tersebut adalah
F t p p p 0
0 70 7,7 540 Ns

Tanda negatif menunjukkan bahwa gaya berlawanan dengan momentum


awalyaitu, gaya bekerja dengan arah ke atas.
(b) Pada waktu berhenti, tubuh diperlambat dari 7,7 m/s menjadi nol dalam
jarak d 1cm 1 10 2 m. Laju rata-rata selama periode singkat ini adalah

7,7 0
3,8 m/s
2

sehingga tumbukan terjadi selama


t

1 10 2
2,6 10 3 s.
3,8

Karena besar impuls adalah F t 540 Ns, dan t 2,6 10 3 s, gaya


total rata-rata F memiliki besar
F

540
2,1 10 5 N.
3
2,6 10

mg

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Fgrd

Dian Widiastuti

FISIKA I

Gambar 5 : Ketika orang tersebut mendarat di tanah, gaya


total rata-rata selama tumbukan adalah F Fgrd mg ,
dimana Fgrd adalah gaya yang diberikan tanah dengan
arah ke atas terhadap orang tersebut.
Gaya F merupakan gaya total ke atas pada orang tersebut (kita hitung dari
hukum Newton kedua). F sama dengan jumlah vektor dari gaya rata-rata ke
atas pada kaki yang diberikan oleh tanah, Fgrd, yang kita ambil positif,
ditambah gaya gravitasi ke bawah, mg, (lihat Gambar 5):
F Fgrd mg

Karena mg 70 9,8 690 N, maka


Fgrd F mg 2,1 10 5 0,690 10 3 2,1 10 5 N

(c) Ini sama saja dengan (b), kecuali d = 0,5 m, sehingga t 0,5 3,8 0,13
s, dan
F

540
4,2 10 3 N.
0,13

Gaya ke atas yang diberikan oleh tanah pada kaki orang tersebut adalah,
seperti pada bagian (b):
Fgrd F mg 4,2 10 3 0,69 10 3 4,9 10 3 N

Jelas, gaya pada kaki jauh lebih kecil jika kaki ditekuk. Pada kenyataannya,
kekuatan tulang kaki tidak cukup kuat untuk menahan gaya yang terhitung
pada (b), sehingga kaki mungkin akan patah pada pendaratan dengan kaki
lurus seperti itu, sementara pada (c) kemungkinannya tidak.
4. Kekekalan Energi dan Momentum pada Tumbukan
Pada sebagain besar tumbukan, kita biasanya tidak mengetahui bagaimana gaya

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Dian Widiastuti

FISIKA I

tumbukan berubah menurut waktu, dan dengan demikian analisis dengan


menggunakan hukum Newton kedua menjadi lebih sulit atau bahkan tidak mungkin.
Tetapi kita tetap bisa menentukan banyak hal mengenai gerak setelah tumbukan, jika
diketahui gerakan awal, dengan menggunakan hukum kekekalan untuk momentum
dan energi. Kita lihat pada subbbab 2 bahwa pada tumbukan dua benda seperti bola
bilyar, momentum totalnya kekal. Jika kedua benda tersebut sangat keras dan tidak
ada panas yang dihasilkan oleh tumbukan, maka energi kinetiknya juga kekal.
Dengan hal ini, yang dimaksud adalah jumlah energi kinetik kedua benda setelah
tumbukan sama seperti sebelumnya. Tentu saja, selama waktu yang singkat pada
waktu kedua benda bersentuhan, beberapa (atau semua) energi disimpan sesaat
dalam bentuk energi potensial elastik. Tetapi jika kita bandingkan energi kinetik total
sebelum tumbukan dengan total setelah tumbukan, ternyata sama. Tumbukan
seperti ini, di mana energi kinetik total kekal, disebut tumbukan lenting. Jika kita
gunakan indeks 1 dan 2 untuk mereprentasikan kedua benda, kita dapat menuliskan
persamaan untuk kekekalan energi kinetik total sebagai berikut
1
2

2
2
'2
'2
m11 12 m2 2 12 m1 2 12 m2 2 [tumbukan lenting] (7-5)

Di sini, besaran dengan tanda aksen () berarti setelah tumbukan dan yang tidak
bertanda berarti sebelum tumbukan, seperti pada persamaan 7-3 untuk kekekalan
momentum.
Tumbukan di mana energi kinetik tidak kekal disebut sebagai tumbukan
tidak lenting. Energi kinetik yang hilang diubah menjadi energi bentuk lain,
seringkali energi panas, sehingga energi total (sebagaimana biasanya) tetap kekal.
'

'

Dalam kasus ini, bisa kita tuliskan bahwa EK 1 EK 2 EK 1 EK 2 energi panas


dan bentuk lainnya.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Dian Widiastuti

FISIKA I