Anda di halaman 1dari 10

PENGAJARAN REMEDI

MAKALAH
disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Strategi Belajar Mengajar
yang dibina oleh Bapak Drs. Triastono Imam Prasetyo, M.Pd

Oleh : Kelompok 9 dan 10/Offering D

1.
2.
3.
4.

Annisa Rachma
Dianti Wulandari
Elsa Dewi Nur Bawati
Nariya Ulfa Ali

(120341421944)
(120341421955)
(120341421937)
(120341421933)

The Learning University

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
September 2014

A. Pendahuluan
Dalam rangka membantu peserta didik mencapai standar isi dan standar
kompetensi lulusan, pelaksanaan atau proses pembelajaran perlu diusahakan agar
interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk

berpartisipasi aktif, serta memberikan kesempatan yang cukup bagi prakarsa,


kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik
serta psikologis peserta didik. Kendati demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa untuk
mencapai tujuan dan prinsip-prinsip pembelajaran tersebut pasti dijumpai adanya
peserta didik yang mengalami kesulitan atau masalah belajar. Untuk mengatasi
masalah-masalah tersebut, setiap satuan pendidikan perlu menyelenggarakan program
pembelajaran remidial atau perbaikan.
B. Hakikat Pembelajaran Remidial
Pembelajaran remidial merupakan layanan pendidikan yang diberikan kepada
peserta didik untuk memperbaiki prestasi belajarnya sehingga mencapai kriteria
ketuntasan yang ditetapkan. Untuk memahami konsep penyelenggaraan model
pembelajaran remidial, terlebih dahulu perlu diperhatikan bahwa Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP) yang diberlakukan berdasarkan Permendiknas 22, 23, 24
Tahun 2006 dan Permendiknas No. 6 Tahun 2007 menerapkan sistem pembelajaran
berbasis kompetensi, sistem belajar tuntas, dan sistem pembelajaran yang
memperhatikan perbedaan individual peserta didik. Sistem dimaksud ditandai dengan
dirumuskannya secara jelas standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD)
yang harus dikuasai peserta didik. Penguasaan SK dan KD setiap peserta didik diukur
menggunakan sistem penilaian acuan kriteria. Jika seorang peserta didik mencapai
standar tertentu maka peserta didik dinyatakan telah mencapai ketuntasan.
Pelaksanaan pembelajaran berbasis kompetensi dan pembelajaran tuntas, dimulai
dari penilaian kemampuan awal peserta didik terhadap kompetensi atau materi yang
akan dipelajari. Kemudian dilaksanakan pembelajaran menggunakan berbagai metode
seperti ceramah, demonstrasi, pembelajaran kolaboratif/kooperatif, inkuiri, diskoveri,
dsb. Melengkapi metode pembelajaran digunakan juga berbagai media seperti media
audio, video, dan audiovisual dalam berbagai format, mulai dari kaset audio, slide,
video, komputer, multimedia, dsb. Di tengah pelaksanaan pembelajaran atau pada
saat kegiatan pembelajaran sedang berlangsung, diadakan penilaian proses

menggunakan berbagai teknik dan instrumen dengan tujuan untuk mengetahui


kemajuan belajar serta seberapa jauh penguasaan peserta didik terhadap kompetensi
yang telah atau sedang dipelajari. Pada akhir program pembelajaran, diadakan
penilaian yang lebih formal berupa ulangan harian. Ulangan harian dimaksudkan
untuk menentukan tingkat pencapaian belajar peserta didik, apakah seorang peserta
didik gagal atau berhasil mencapai tingkat penguasaan tertentu yang telah
dirumuskan pada saat pembelajaran direncanakan.
Apabila dijumpai adanya peserta didik yang tidak mencapai penguasaan
kompetensi yang telah ditentukan, maka muncul permasalahan mengenai apa yang
harus dilakukan oleh pendidik. Salah satu tindakan yang diperlukan adalah pemberian
program pembelajaran remidial atau perbaikan. Dengan kata lain, remidial diperlukan
bagi peserta didik yang belum mencapai kemampuan minimal yang ditetapkan dalam
rencana pelaksanaan pembelajaran. Pemberian program pembelajaran remidial
didasarkan atas latar belakang bahwa pendidik perlu memperhatikan perbedaan
individual peserta didik.
Dengan diberikannya pembelajaran remidial bagi peserta didik yang belum
mencapai tingkat ketuntasan belajar, maka peserta didik ini memerlukan waktu lebih
lama daripada mereka yang telah mencapai tingkat penguasaan. Mereka juga perlu
menempuh penilaian kembali setelah mendapatkan program pembelajaran remidial.
C. Prinsip Pembelajaran Remidial
Pembelajaran remidial merupakan pemberian perlakuan khusus terhadap peserta
didik yang mengalami hambatan dalam kegiatan belajarnya. Hambatan yang terjadi
dapat berupa kurangnya pengetahuan dan keterampilan prasyarat atau lambat dalam
mecapai kompetensi. Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran
remidial sesuai dengan sifatnya sebagai pelayanan khusus antara lain:
1. Adaptif
Setiap peserta didik memiliki keunikan sendiri-sendiri. Oleh karena itu
program pembelajaran remidial hendaknya memungkinkan peserta didik untuk
belajar sesuai dengan kecepatan, kesempatan, dan gaya belajar masing-masing.

Dengan kata lain, pembelajaran remidial harus mengakomodasi perbedaan individual


peserta didik.
2. Interaktif
Pembelajaran remidial hendaknya memungkinkan peserta didik untuk secara
intensif berinteraksi dengan pendidik dan sumber belajar yang tersedia. Hal ini
didasarkan atas pertimbangan bahwa kegiatan belajar peserta didik yang bersifat
perbaikan perlu selalu mendapatkan monitoring dan pengawasan agar diketahui
kemajuan belajarnya. Jika dijumpai adanya peserta didik yang mengalami kesulitan
segera diberikan bantuan.
3. Fleksibilitas dalam Metode Pembelajaran dan Penilaian
Sejalan dengan sifat keunikan dan kesulitan belajar peserta didik yang
berbeda-beda, maka dalam pembelajaran remidial perlu digunakan berbagai metode
mengajar dan metode penilaian yang sesuai dengan karakteristik peserta didik.
4. Pemberian Umpan Balik Sesegera Mungkin
Umpan balik berupa informasi yang diberikan kepada peserta didik mengenai
kemajuan belajarnya perlu diberikan sesegera mungkin. Umpan balik dapat bersifat
korektif maupun konfirmatif. Dengan sesegera mungkin memberikan umpan balik
dapat dihindari kekeliruan belajar yang berlarut-larut yang dialami peserta didik.
5. Kesinambungan dan Ketersediaan dalam Pemberian Pelayanan
Program pembelajaran reguler dengan pembelajaran remidial merupakan satu
kesatuan, dengan demikian program pembelajaran reguler dengan remidial harus
berkesinambungan dan programnya selalu tersedia agar setiap saat peserta didik dapat
mengaksesnya sesuai dengan kesempatan masing-masing.
D. Pelaksanaan Pembelajaran Remidial
Pembelajaran remidial pada hakikatnya adalah pemberian bantuan bagi
peserta didik yang mengalami kesulitan atau kelambatan belajar. Sehubungan dengan
itu, langkah-langkah yang perlu dikerjakan dalam pemberian pembelajaran remidial
adalah sebagai berikut :

Pemberian pembelajaran ulang dengan metode dan media yang berbeda.

Pembelajaran ulang dapat disampaikan dengan cara penyederhanaan materi,


variasi cara penyajian, penyederhanaan tes/pertanyaan. Pembelajaran ulang
dilakukan bilamana sebagian besar atau semua peserta didik belum mencapai
ketuntasan belajar atau mengalami kesulitan belajar. Pendidik perlu
memberikan penjelasan kembali dengan menggunakan metode dan/atau media
yang lebih tepat.

Pemberian bimbingan secara khusus, misalnya bimbingan perorangan. Dalam


hal pembelajaran klasikal peserta didik mengalami kesulitan, perlu dipilih
alternatif tindak lanjut berupa pemberian bimbingan secara individual.
Pemberian bimbingan perorangan merupakan implikasi peran pendidik
sebagai tutor. Sistem tutorial dilaksanakan bilamana terdapat satu atau
beberapa peserta didik yang belum berhasil mencapai ketuntasan.

Pemberian tugas-tugas latihan secara khusus. Dalam rangka menerapkan


prinsip pengulangan, tugas-tugas latihan perlu diperbanyak agar peserta didik
tidak mengalami kesulitan dalam mengerjakan tes akhir. Peserta didik perlu
diberi latihan intensif (drill) untuk membantu menguasai kompetensi yang
ditetapkan.

Pemanfaatan tutor sebaya. Tutor sebaya adalah teman sekelas yang memiliki
kecepatan belajar lebih. Mereka perlu dimanfaatkan untuk memberikan
tutorial kepada rekannya yang mengalami kelambatan belajar. Dengan teman
sebaya diharapkan peserta didik yang mengalami kesulitan belajar akan lebih
terbuka dan akrab.

E. Peranan Pengajaran Remidial dalam Penilaian Berbasis Kelas (authentic


assessment)
1. penilaian berbasis kelas
Penilaian berbasis kelas adalah proses pengumpulan dan penggunaan
informasi oleh guru melalui sejumlah bukti untuk membuat keputusan tentang
pencapaian hasil belajar atau kompetensi siswa yang dilaksanakan secara terpadu
dalam pembelajaran atau kegiatan belajar dan mengajar. Ciri-ciri penilaian berbasis
kelas adalah belajar tuntas, autentik, berkesinambungan, berdasarkan acuan patokan
atau kriteria, dan menggunakan berbagai instrumen penilaian.

Yang dimaksud belajar tuntas (mastery learning) adalah siswa tidak


diperkenankan mengerjakan pekerjaan berikutnya, sebelum ia mampu menyelesaikan
pekerjaan dengan prosedur yang benar, dan hasil yang baik sesuai dengan kompetensi
dasarnya. Kemudian, siswa yang belajar lambat perlu waktu lebih lama untuk materi
yang sama sehingga diperlukan remidial. Kemudian, siswa yang telah tuntas
diberikan tambahan materi yang disebut dengan pengayaan.
Kriteria ketuntasan belajar setiap indikator berkisar antara 0%--100% dan
idealnya kriteria masing-masing indikator di atas 60 %. Berkaitan dengan ketuntasan,
sekolah dapat menetapkan sendiri kriteria tersebut sesuai dengan kondisi masingmasing. Harapannya sekolah makin lama akan meningkatkan kriteria ketuntasan
mendekati sempurna (100%). Jika semua indikator dalam suatu KD telah memenuhi
kriteria, siswa dianggap telah menguasai KD, dan pada akhirnya menguasai standar
kompetensi dan mata pelajaran. Sebaliknya, jika beberapa indikator atau KD tidak
dikuasai siswa, guru diperlukan melaksanakan remidial sampai siswa bersangkutan
mencapai KKM.
Autentik artinya siswa belajar mengaplikasikan pengetahuan dan
keterampilannya ke dalam tugas-tugas yang autentik. Penilaian autentik merupakan
penilaian alternatif yang memungkinkan siswa dapat mendemonstrasikan
kemampuannya dalam menyelesaikan tugas-tugas dan menyelesaikan masalah.
Berkesinambungan mempunyai makna pemantauan guru tentang proses,
kemajuan, dan perbaikan hasil terus menerus seorang siswa dalam bentuk ulangan
harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas.
Berikut ini acuan yang digunakan dalam melaksanakan penilaian berkesinambungan
tersebut.
1

Ulangan Harian: selesai satu atau beberapa Indikator (tertulis, observasi,


penugasan, atau lainnya).

Ulangan Tengah Semester: selesai beberapa KD pada semester yang bersangkutan.

Ulangan Akhir Semester: selesai semua KD pada semester yang bersangkutan.

Ulangan Kenaikan Kelas: selesai semua KD pada semester ganjil dan genap,
dengan penekanan pada kompetensi dasar semester genap.

Berdasarkan acuan patokan atau kriteria artinya prestasi kemampuan siswa


tidak dibandingkan dengan siswa lain atau kelompok lain. Prestasi siswa memang

berdasarkan kemampuan yang dimiliki dan patokan yang ditetapkan sehingga


dimungkinkan siswa yang mendapatkan skor 100 atau skor maksimal dapat lebih dari
satu.
Dengan menggunakan berbagai instrumen penilaian, berarti guru
mendapatkan informasi hasil belajar siswa dengan lengkap. Berbagai jenis instrumen
tentunya akan menggairahkan siswa dalam belajar dan melibatkan diri sepenuh hati.

2.

Fungsi pengajaran remidial dalam penilaian berbasis kelas


Fungsi pengajaran remedial dalam keseluruhan proses belajar mengajar antara
lain sebaik berikut :
Fungsi korektif, artinya bahwa melalui pengajaran remedial dapat diadakan
pembetulan atau perbaikan terhadap sesuatu yang dipandang masih belum
mencapai apa yang diharapkan dalam keseluruhan proses belajar mengajar.
Fungsi pemahaman, yaitu peluang guru, anak didik, dan pihak-pihak lainya
dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap pribadi anak yang
mengalami kesulitan belajar. Sedangkan pada anak yang bersangkutan kiranya
dapat memahami dirinya dengan segala aspek yang mendasari kekurangannya
dalam belajar. Demikianya juga pihak-pihak yang berkompoten dengan hal ini
akan dapat memahami keadaan anak dan segala kendala yang dihadapinya.
Fungsi penyesuaian, yaitu membentuk anak didik untuk dapat lebih
menyesuaikan dirinya dengan lingkungan dimana dia berada. Dalam
pengajaran remedial dapat mengarahkan anak pada proses pembelajaran
sesuai yang diharapkan, anak dapat belajar dengan keadaan dan
kemampuanya, sehingga dia akan mampu memperoleh prestasi belajar yang
lebih baik.
Fungsi pengayaan, yaitu memperkaya proses belajar mengajar. Materi yang
tidak disampaikan dalam pengajaran regular, dapat diperoleh melalui
pengajaran remedial. Pengayaan ini adalah juga terletak dalam segi metoda
dan alat yang dipergunakan dalam pengajaran remedial dengan demikian hasil
yang diperoleh anak dapat lebih banyak, lebih dalam, dan lebih luas, sehingga
prestasi beajarnya lebih meningkat.
Fungsi akselerasi, yaitu bahwa pengajaran remedial dapat mempercepat
proses belajar baik dalam arti waktu maupun materi. Misalnya anak yang
tergolong lambat dalam belajar, dapat dibantu dipercepat proses belajarnya
melalui pengajaran remedial.

Fungsi terapeutik. Secara langsung ataupun tidak langsung, pengajaran


remedial dapat menyembuhkan atau memperbaiki kondisi-kondisi kepribadian
anak yang dperkirakan menunjukan adanya penyimpangan. Penyembuhan
kondisi kepribadian dapat menunjang pencapaian prestasi belajar, dan
demikian pula sebaiknya.
Berdasarkan hal tersebut, fungsi pembelajaran remedial dalam proses belajar
mengajar di sekolah adalah sebagai penunjang terlaksananya kegiatan belajar siswa
ke arah yang lebih baik. Untuk itu sangat perlu siswa diberikan bantuan serta
bimbingan dalam mengatasi kesulitan belajarnya. Dengan jalan ini guru
menggunakan suatu bentuk pengajaran mengatasi kekeliruan-kekeliruan yang
menjadi penyebab kesulitan belajar sehingga ia dapat memahami kembali konsepkonsep pelajaran yang pernah didapatkannya.
F. Kelebihan
1. Siswa dapat mengenali diri dari kesulitan yang dihadapi
2. Metode yang digunakan pada pengajaran remedial bersifat diferensial, artinya
disesuaikan dengan sifat, jenis dan latar belakang kesulitan belajarnya
3. Alat-alat yang dipergunakan dalam pengajaran remedial lebih bervariasi
4. Dalam pengajaran remedial, alat evalusi yang dipergunakan disesuaikan dengan
kesulitan belajar yang dihadapi siswa
5. Peserta didik dapat menunjukkan kemampuan melakukan usahausaha
perbaikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya, sesuai dengan dasar
pertimbangan dan keputusan yang telah diambilnya
6. Guru dapat memperbaiki cara mengajarnya
G. Kekurangan
1. Siswa memiliki ketergantungan terhadap pembelajaran remidial
2. Penilaian tingkat keberhasilan siswa terkesan berorientasi pada hasil saja
3. Menyita banyak waktu
4. Guru terkesan harus bekerja dua kali

DAFTAR RUJUKAN

Balitbang Depdiknas. 2006. Panduan Penilaian Berbasis Kelas. Jakarta:Depdiknas


Depdiknas. 2008. Sistem Penilaian KTSP: Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran
Remedial. Jakarta

Ischak SW. & Warji R. 1987. Program remedial dalam proses belajarmengajar.Yogyakarta: Liberty
Syaiful Sagala. Konsep dan Makna Pembelajaran untuk Membantu Memecahkan
Problematika Belajar Mengajar (Cet. VII; Bandung: Alfabeta, 2009)
Slamet. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka
Cipta