Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pendidikan adalah hal yag penting dan harus diberikan kepada setiap insan
manusia, agar mampu untuk mampu bertahan hidup di muka bumi. Pendidikan
umumnya diperoleh dari sekolah, baik formal maupun informal. Biasanya pola
pendidikan pada sekolah-sekolah ini menekankan pada kemampuan kognitif yang
mengutamakan kemampuan logika dan penguasaan bahasa. Pola pemikiran
tradisional yang menekankan pada kemahiran berbahasa dan berlogika dalam
proses pembelajaran di kelas sudah saatnya diubah dengan kecerdasan majemuk
yang pada dasarnya merupakan gabungan dari kecerdasan otak (IQ), kecerdasan
emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ).
Teori kecerdasan majemuk pertama kali dikenalkan oleh Howard Gardner
pada tahun 1983. Gardner memetakan kecerdasan individu menjadi sembilan
kecerdasan. Kecerdasan tersebut antara lain adalah kecerdasan linguistic,
kecerdasan logis-matematis, kecerdasan spasial, kecerdasan kinestetik, kecerdasan
musikal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan naturalis,
kecerdasan ekstensial. Pembelajaran yang berbasis pada multiple intelligence
diharapkan dapat lebih mengeksplorasi masing-masing kemampuan individu.
Pembelajaran dengan metode multiple intelligence ini bertujuan untuk
meningkatkan kemampuan siswa, sesuai dengan bakat dan karakteristik yang
dimilikinya. Karena pada dasarnya pembelajaran berbasis multiple intelligence
lebih bervariasi dan sesuai dengan bakat yang dimiliki oleh siswa. Sehingga
diharapkan penerapan konsep kecerdasan majemuk dalam pembelajaran akan
meningkatkakn kemampuan siswa belajar.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengertian multiple intelligence?
2. Bagaimana cara aplikasi multiple intelligence dalam pembelajaran?
3. Bagaimana pengaruh multiple intelligence terhadap proses pembelajaran?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui pengertian multiple inteligensi.
2. mengetahui cara aplikasi multiple inteligensi dalam pembelajaran.
3. Mengetahui pengaruh multiple inteligensi terhadap proses pembelajaran.

BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian multiple intelligence
Kecerdasan adalah karunia dari Tuhan Yang Maha Esa yang harus kita
syukuti. Dulu kecerdasan diartikan sebagai kemampuan untuk menyelesaikan soal
di sekolah dan nilai-nilai yang memuaskan. Namun akhir-akhir ini paradigma
tentang kecerdasan yang demikian sudah bergeser. Menurut Budiningsih (2005)
kecerdasan adalah kemampuan untuk memecahkan masalah dan menghasilkan
sesuatu yang dibutuhkan didalam latar budaya tertentu .
Howard Gadner (2006) mengatakan bahwa kecerdasan adalah 1.
kemampuan untuk memecahkan masalah, dan 2. menciptakan produk-produk dan
karya-karya dalam sebuah konteks yang kaya akan keadaan naturalistik. Dengan
demikian jelaslah bahwa kecerdasan bukanlah hal yang hanya berkaitan dengan
kemampuan akademis namun juga psikomotor dan afektif.
Gardner memetakan kecerdasan manusia menjadi sembilan kelompok,
yaitu :
a) Kecerdasan Linguistic
Kecerdasan linguistic adalah kecerdasan dalam mengolah kata-kata. Orang yang
cerdas dalam bidang ini dapat berargumentasi, meyakinkan orang, menghibur,
mengajar dengan efektif lewat kata-kata yang diucapkan. Mereka senang bermain
dengan bunyi bahasa melalui teka-teki kata, permainan kata, dantongue twister.
Kadang-kadang merekapun mahir dalam hal kecil sebab mereka gemar sekali
membaca, dapat menulis dengan jelas dan dapat mengartikakan bahasa tulisan
secara luas (Amstrong, 2002). kecerdasan ini erdiri dari beberapa komponen
termasuk fonologi (bunyi bahasa), sintaksis (struktur/susunan kalima), semantik
(pemahaman mendalam tenang makna), dan pragmatika (penggunaan bahasa
untuk mencapai sasaran praktis ) (Amstrong, 2002:20-21)
b) Kecerdasan Logis-Matematis
Kecerdasan logis-matematis adalah merupakan kecerdasan dalam hal angka dan
logika. Ciri-ciri orang yang cerdas secara logis-matematis mencakup kemampuan
dalam penalaran, mengurutkan, berpikir dalam pola sebab-akibat menciptakan

hipotesis, mencari keteraturan konseptual atau pola numerik dan pandangan


hidupnya bersifat rasional. (Amstrong, 2002: 3).
Berdasarkan pendapat Amstrong (2002:179) keterampilan kerja yang didukung
oleh kecerdasan ini diantaranya: mengurus keuangan, membuat anggaran,
melakukan penelitian ekonomi, menyusun hipotesis, melakukan estimasi,
melakukan kegiatan akuntansi, berhitung, mengadakan kalkulasi, menggunakakn
statistik

melakukan

audit,

membuat

penalaran,

menganalisa,

menyusun

sistematika, mengelompokan dan mengurutkan


c) Kecerdasan Spasial
Kecerdasan Spasial adalah kecerdasan yang mencakup kemampuan berpikir
dalam gambar, serta kemampuan untuk menyerap, mengubah, dan menciptakan
kembali berbagai macam aspek dunia visual-spasial. Orang dengan kecerdasan
spasial yang tinggi mempunyai kepekaan yang tinggi terhadap deteil visual dan
membuat sketsa ide secara jelas, serta dengan mudah menyesuaikan orientasi
dalam ruang tiga dimensi (Amstrong, 2002:4).
Menurut Amstrong (2002:179) keterampilan kerja yang mendukung kecerdasan
seperti ini seperti: melukis, menggambar, membayangkan menciptakan penyajian
visual, berkhayal, memberi ilustrasi, mewarnai, fotografi, membuat dekorasi.
Profesi yang cocok dengan orang yang memiliki kecerdasan seperti ini
diantaranya: insinyur, ahli survei arsitek, perencana koa, seniman grafis, desainer,
fotografer, guru kesenian, penemu, kartografer, pilot, seniman.
d) kecerdasan musikal
Anak dengan kecerdasan musical yang menonjol mudah mengenali dan
mengingat nada-nada. Ia juga dapat mentranformasikan kata-kata menjadi
lagu, dan menciptakan berbagai permainan musik. Mereka pintar melantunkan
beat lagu dengan baik dan benar. Mereka pandai menggunakan kosakata
musical, dan peka terhadap ritme, ketukan, melodi atau warna suara dalam
sebuah komposisi musik (Susanto, 2005).
Amstrong (2002:179-180) menyaakan bahwa keterampillan kerja yang didukung
oleh kecerdasan ini diantaranya adalah: bernyanyi, memainkan alatmusi,
merekam, menjadi dirigen, melakukan improvisasi, mengaransemen lagu,

membuat transkip, membedakan nada-nada, menganalisis dan mengkrtik gaya


musik.
e) kecerdasan kinestetik-jasmani
Anak-anak dengan kecerdasan bodily kinesthetic di atas rata-rata, senang
bergerak dan menyentuh. Mereka memiliki kontrol pada gerakan, keseimbangan,
ketangkasan, dan keanggunan dalam bergerak. Mereka
mengeksplorasi dunia dengan otot-ototnya (Susanto.2005).
Keterampilan kerja yang didukung oleh kecerdasan ini adalaj: menyortir,
menyeimbangkan, mengangka, membawa sesuatu, berjalan, berlari, membuat
kerajinan, tangan, memerbarui, menjadi seorang model, menari, berolahraga,
mengkoordinasi kegiatan luar rumah dan bepergian. Contoh profesi yang cocok
untuk orang-orang yang memiliki kemampuan ini diantaranya: ahli tereapi fisik,
pekerja reaksi, penari, aktor, model, petani, ahli mekanik, pengrajin, guru
pendidikan jasmani, atlet profesional (Amstrong,2002:180).
f) kecerdasan antarpribadi (interpersonal)
Anak dengan kecerdasan interpersonal yang menonjol memiliki interaksi yang
baik dengan orang lain, pintar menjalin hubungan sosial, serta mampu mengetahui
dan menggunakan beragam cara saat berinteraksi. Mereka juga mampu merasakan
perasaan, pikiran, tingkah laku dan harapan orang lain, serta mampu bekerja sama
dengan orang lain (Susanto, 2005).
Orang yang memiliki kecerdasan ini mempunyai kecerdasan ini memiliki
kemampuan untuk pemahamanya untuk bernegosisasi dengan orang lain,
meyakinkan orang lain untuk mengikuti tindakan terentu, menyelesaikan konflik
individu, mendapat informasi penting dari rekan sejawat. Salah satu ciri individu
yang mahir dalam pergaulan antar pribadi adalah kemampuan untuk menemukan
individu utama dalam sebuah kelompok yang mampu menolognya mencapai
sasaran (Amstrong, 2002: 104-105)
g) kecerdasan intrapersonal
Anak dengan kecerdasan intra personal yang menonjol memiliki kepekaan
perasaan dalam situasi yang tengah berlangsung, memahami diri sendiri, dan
mampu mengendalikan diri dalam situasi konflik. Ia juga mengetahui apa yang

dapat dilakukan dan apa yang tidak dapat dilakukan dalam lingkungan sosial.
Mereka mengetahui kepada siapa harus meminta bantuan saat memerlukan
(Susanto, 2005).
Menurut Amstrong (2002, 181), keterampilan kerja yang memerlukan kecerdasan
ini antaralain melaksanakan keputusan, bekerja sendiri, memromosikan diri,
menentukan sasaran, mencari sasaran, mengambil inisiatif, mengevaluasi, menilai,
merencanakan,

mengorganisasi,

membedakan

peluang,

bermeditasi,

dan

memahami diri sendiri.


h) Kecerdasan Naturalis
Kecerdasan naturalis berkaitan dengan mengenali dan mengklasifikasi banyak
spesies

flora

kecerdasan

dan fauna dalam lingkungannya,


inicenderung

memiliki

Orang

kemahiran

yang

dalam

memiliki
berkebun,

memeliharatanaman di dalam rumah,menggarap taman yang indah, atau


memperlihatkansuatu perhatian alami terhadaptanaman dengan cara cara
lain (Armstrong, 2002: 212).
Anak-anak dengan kecerdasan naturalist yang menonjol memiliki ketertarikan
yang besar terhadap alam sekitar, termasuk pada binatang, di usia yang sangat
dini. Mereka menikmati benda-benda dan cerita yang berkaitan dengan fenomena
alam, misalnya terjadinya awan dan hujan, asal usul binatang, pertumbuhan
tanaman, dan tata surya (Susanto, 2005).
i) Kecerdasan Eksistensial
Anak yang memiliki kecerdasan ini memiliki ciri-ciri yaitu cenderung bersikap
mempertanyakan segala sesuatu mengenai keberadaan manusia, arti kehidupan,
mengapa manusia mengalami kematian, dan realitas yang
dihadapinya (Susanto, 2005).
Kecerdasan

ini

merupakan

kecerdasan

yang

menaruh

perhatian

pada

masalahhidup yang paling utama. Dr. Gardner merumuskan kemampuan inti


kecerdasaneksistensial ke dalam dua bagian (Armstrong, 2002: 218-219)
yaitu:
1) Menempatkan diri sendiri dalam jangkauan wilayah kosmos yang terjauh
yang tak terbatas maupun yang amat kecil.
2) Menempatkan diri sendiri dalam ciri manusiawi yang paling eksistensial

makna hidup,
danpsikologi,

makna

kematian,

pengalaman batin

keberadaan
seperti

kasih

akhir

dari dunia

jasmani

kepada manusia lain, atau

terjunsecara total ke dalam suatu karya seni. Menurut Armstrong (2002: 223)
setiap masyarakat telah menciptakan peranformal bagi orang-orang yang
berperan

dalam

dipegang

oleh

pembinaan
pemimpin

kehidupan eksistensial anggotanya.


formal

Peran ini

atau konvensional lembagakeagamaan:

pendeta, pastor, imam, uskup, ulama, rabi, guru, dan ulama.


2. Aplikasi Multiple Intelligence terhadap Pembelajaran
Penerapan multiple Intelligences didalam proses belajar mengajar
tidak harus menunggu perintah dari atasan. Guru yang mencoba menerapkan
Multiple Intelligences, berinisiatif untuk mencoba keluar dari zona nyaman
agar pengajaran dapat dilakukan seefektif mungkin dan sesuai dengan
kebutuhan siswa. Hal ini didasari oleh pemikiran bahwa guru adalah orang
yang langsung terlibat di lapangan yang mengetahui secara jelas kebutuhan dan
keunikan dari setiap siswa.
Upaya menerapkan Mulitiple Intelligences bukan hanya tanggung jawab
guru dan kepala sekolah saja, tetapi pihak orang tua pun perlu dilibatkan. Kita
harus bersinergi dengan pihak orang tua. Orang tua pun memiliki andil dalam
menentukan cara belajar anaknya. Masih banyak orang tua yang memiliki pola
pikir tradisional dalam memandang kemampuan yang harus dicapai oleh
anaknya. Salah satu bentuk peran serta orang tua dalam pengembangan
Multiple Intelligences adalah dengan tidak memaksakan anak untuk hanya
menguasai kemampuan matematika dan bahasa, tetapi mereka pun dapat
membimbing dan mengarahkan anaknya sesuai dengan keunikannya masingmasing.
3. Pengaruh Multiple Intelligence Terhadap Proses Pembelajaran
Penerapan teori multiple inteligensi pada saat pembelajaran akan
memberikan banyak dampak positif bagi siswa maupun bagi guru yang
mengajar. Guru dapat menggunakan kerangka multiple inteligensi dalam
menjalankan proses pembelajaran. Pengajar diharapkan mampu merancang
aktifitas yang dapat menggugah kreatifitas anak didiknya. Berdasarkakan teori
multiple inteligensi anak didik memiliki hak untuk mengeksplorasi

kemampuanya sesuai dengan bakat yang ia miliki, sehingga dia mampu untuk
mengoptimalkan kemampuan, minat dan bakat yang dimiliki. Siswa juga akan
lebih termotivasi karena mampu menunjukan dan berbagi tentang kemampuan,
pengetahuan dan kelebihanya. Siswa akan mendapatkan pengalaman belajar
yang positif dan meningkatkan kemampuan untuk mencari solusi dalam
memecahkan persoalan yang dihadapinya (Susanto, 2005).

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Mulitiple ineligensi adalah kemajemukan kecerdasan yang dimiliki oleh
setiap individu. Howard Gardner memetakan kecerdasan manusia menjadi
sembilan yaitu: kecerdasan linguistik, kecerdasan logis-matematis,
kecerdasan spasial, kecerdasan kinestetik-jasmani, kecerdasan musikal,
kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan naturalis,

kecerdasan eksistensial.
2. Pengaplikasian teori multiple inteligensi ini dengan cara mengguanakan
berbagai kegiatan yang mengugugah kreatifitas murid berdasarkan
kemampuan dan kecerdasan yang dimiliki dengan cara yang sinergis
antara satu kecerdasan dengan kecerdasan yang lainpenelusuran.
3. Penerapan teori ini memiliki banyak pengaruh bai untuk pengajar dan
untuk anak didik.

TEORI KECERDASAN GANDA DAN PENERAPANNYA


PADA PEMBELAJARAN
MAKALAH
disusun untuk memenuhi tugas matakuliah belajar dan pembelajaran yang
dibina oleh Bapak Dr. Hadi Suwono M, Si.

oleh:
Badriyatur Rahma Fidiya
Khoirum Mawarti
Nadian Y

120341421934
120341421965
1203414219

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Agustus 2014