Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Genetika adalah ilmu yang mempelajari tentang materi genetik, juga
hereditas (sifat turun temurun) sifat induk dan variasi sifat karakteristik mikrobia.
Hereditas adalah pengawetan sifat-sifat struktur dan fungsi pada keturunanketurunan berikutnya. Perkecualian atau penyimpangan yang terjadi pada
keturunan suatu organisme berbeda dalam satu atau beberapa sifat induknya.
Penyimpangan-penyimpangan dan pengawetan sifat-sifat semacam itu dikenal
dengan variasi. Variasi dapat terjadi karena perubahan genetik dan evolusi.
Diduga peristiwa perkawinan tidak terjadi pada bakteri. Mikrobia hanya
berkembang biak dengan mekanisme aseksual melalui peembelahan diri. Maka
para ahli menggolongkan mikrobia bersama-sama dengan alga biru dalam
schizophyta.
Kemudian timbul pertanyaan kalau mikrobia berkembang dengan
mekanisme yang monoton seperti di atas maka terbentuk individu seragam tetapi
pada kenyataannya tidak, sehingga terjadi variasi mikroba. Sifat mikroba sangat
bervariasi karena masing-masing mikroba mempunyai kemampuan untuk
beradaptasi terhadap pengaruh lingkungan sekitarnya. Mikroba contohnya bakteri
mempunyai populasi yang berkembang cepat dan beraneka ragam variasinya.
Bakteri untuk memperoleh variasi yang beragam dapat melalui mutasi. Peristiwa
seksual yang semula diduga tidak terjadi, dapat dibuktikan oleh para ahli. Bahkan
perpindahan bahan genetik dapat didemontrasikan dari satu mikroba ke mikroba
lain.
2.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah struktur DNA dan RNA pada mikroba?
2. Bagaimanakah penyusun materi genetik pada bakteri?
3. Bagaimanakah penyusun materi genetik pada virus?

2.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui struktur DNA dan RNA pada mikroba?
2. Untuk mengetahui penyusun materi genetik pada bakteri?
3. Untuk mengetahui penyusun materi genetik pada virus?

BAB II
PEMBAHASAN
1.1 Struktur DNA dan RNA
A. Struktur DNA
Pada tahun 1953, Frances Crick dan James Watson menemukan model
molekul DNA sebagai suatu struktur heliks beruntai ganda, atau yang lebih
dikenal dengan heliks ganda Watson-Crick. Informasi genetika disimpan
sebagai suatu urutan basa pada DNA. Kebanyakan molekul DNA adalah rantai

ganda, dengan basa-basa komplementer (A-T; G-C) berpasangan menggunakan


ikatan hidrogen pada pusat molekul. Sifat komplementer dari basa
memungkinkan satu rantai (rantai cetakan, template) menyediakan informasi
untuk salinan atau ekpresi informasi pada suatu rantai yang lain (rantai
penyandi). Pasangan-pasangan basa tersusun dalam bagian pusat double helix
DNA dan menentukan informasi genetiknya. Setiap empat basa diikatkan pada
phosphor-2-deoxyribose membentuk suatu nukleotida. Setiap nukleotida
dibentuk dari tiga bagian yaitu:
1. Sebuah senyawa cincin yang mengandung nitrogen, disebut basa
nitrogen. Dapat berupa purin atau pirimidin.
2. Sebuah gugusan gula yang memiliki lima karbon (gula pentosa),
disebut deoksiribosa.
3. Sebuah molekul fosfat. Bagian-bagian tersebut terhubungkan
bersama-sama dalam urutan basa nitrogen-deoksiribosa-fosfat.

Purin dan pirimidin yang membentuk nukleotida, masing-masing memiliki dua


macam basa:
1. Purin yaitu adenine dan guanine
2. Pirimidin yaitu cytosine dan thymine.
Karena ada empat jenis basa, maka pada DNA dijumpai empat jenis nukleotida
1) Deoksiadenosin-5-monofosfat (adenine + deoksiribosa + fosfat),
2) Deoksiguanosin-5-monofosfat (guanine + deoksiribosa + fosfat),
3) Deoksitidin-5-monofosfat (cytosine + deoksiribosa + fosfat),
4) Timidin-5-monofosfat (thymine + deoksiribosa + fosfat).
Keempat jenis nukleotida ini dihubungkan menjadi utasan polinukleotida

DNA oleh ikatan-ikatan fosfodiester, yaitu setiap gugusan fosfat


menghubungkan atom karbon nomor 3 pada deoksiribosa sebuah nukleotida
dengan atom karbon nomor 5 pada deoksiribosa nukleotida berikutnya, dengan
gugusan fosfat terletak di luar rantai. Hasilnya ialah suatu rantai yang
mengandung gugusan fosfat berselang-seling dengan gugusan deoksiribosa dan
basa-basanya yang mengandung nitrogen menonjol dari gugusan. Ikatan-ikatan
hidrogen menghubungkan basa dari satu rantai ke rantai yang lain. Muatan
negatif phosphodiester backbone dari DNA berhadapan dengan pelarut, dan
muatan ini tersusun sepanjang struktur linear dari molekul. Panjang molekul
DNA pada umumnya tersusun dalam ribuan pasang DNA ribuan pasang basa,
atau kilobase pavis (kbp). Suatu kromosom Eshericia coli memiliki 4639 kbp.
Panjang keseluruhan kromosom E.coli diperkirakan I nm. Oleh karena
keseluruhan dimensi sel bakteri diperkirakan 1000 kali lebih kecil dari pada
panjangnya tersebut sehingga terbentuk lipatan yang melipat lagi atau
supercoiling, menyusun struktur fisik dari molekul in vivo.

Antara setiap pasangan Adenin-Timin terbentuk dua ikatan hidrogen (A=T),


sedangkan antara setiap pasangan Guanin-Sitosin terbentuk tiga ikatan
hidrogen (GC). Akibat dari pembentukan pasangan-pasangan tersebut ialah
bahwa kedua utasan heliks DNA bersifat anti-paralel, yang berarti bahwa setiap
utas menuju arah yang berlawanan sehingga yang satu diakhiri dengan gugusan
hidroksil-3 bebas dan yang lain dengan gugusan fosfat-5.

1.2 Genetika Bakteri


Ada dua fenomena biologi pada konsep hereditas yaitu:
1. Hereditas yang bersifat stabil di mana generasi berikut yang terbentuk
dari pembelahan satu sel mempunyai sifat yang identik dengan
induknya.
2. Variasi genetik yang mengakibatkan adanya perbedaan sifat generasi
berikut dari sel induknya akibat peristiwa genetik tertentu, misalnya
mutasi.
Pada bakteri, unit herediternya disebut genom bakteri. Genom bakteri
lazimnya disebut sebagai gen saja. Gen bakteri biasanya terdapat dalam
molekul DNA (asam deoksiribonukleat) tunggal, meskipun dikenal pula
adanya materi genetik di luar kromosom (ekstra kromosomal), yang di sebut
plasmid, yang tersebar luas dalam populasi bakteri. Meskipun bakteri bersifat
haploid, transimisi gen dari satu generasi ke generasi berikutnya berlangsung
secara linier, sehingga pada setiap siklus pembelahan sel, sel anaknya
menerima satu set gen yang identik dengan sel induknya.
Kromosom bakteri yang terdiri dari DNA mempunyai berat lebih kurang 2-3%
dari berat kering satu sel. Dengan mikroskop elektron, DNA tampak sebagai
benang-benang fibriler yang menempati sebagian besar dari volume sel.
Molekul DNA bila diekstraksi dari sel bakteri biasanya mempunyai bentuk
yang sirkuler, dengan panjang kira-kira 1 mm. DNA ini mempunyai berat
molekul yang tinggi karena terdiri dari heteropolimer dari deoksiribonukleotida
purin yaitu Adenin dan Guanin dan deoksiribonukleotida pirimidin yaitu
Sitosin dan Timin. Watson dan Crick, dengan sinar X menemukan bahwa
struktur DNA terdiri dari dua rantai poliribonukleotida yang dihubungkan satu
sama lain oleh ikatan hidrogen antara purin di satu rantai dengan pirimidin di
rantai lain, dalam keadaan antiparalel, dan disebut sebagai struktur double
helix. Ikatan hidrogen ini hanya dapat menghubungkan Adenin (6 aminopurin)
dengan Timin (2,4 dioksi 5 metil pirimidin) dan antara Guanin (2 amino 6
oksipurin) dengan Sitosin (2 oksi 4 amino pirimidin). Singkatnya pasangan
basa pada suatu sekuens DNA adalah A-T dan S-G. Karena adanya sistem

berpasangan demikian, maka setiap rantai DNA dapat dijadikan


cetakan/template untuk membangun rantai DNA yang komplementer. Waktu
terjadinya proses replikasi DNA dalam pembelahan sel, molekul DNA dari sel
anaknya terdiri dari satu rantai DNA yang komplememter tapi dibuat baru,
dengan kata lain, pemindahan materi genetik dari satu generasi ke generasi
berikutnya adalah dengan cara semikonservatif. Fungsi primer DNA pada
hakikatnya adalah sebagai sumber perbekalan informasi genetik yang dimiliki
oleh sel induk. Proses replikasi di kerjakan dengan amat lengkap sehingga sel
anaknya mendapatkan pula informasi genetik yang lengkap, sehingga terjadi
kesetabilan genetik dalam suatu populasi mikroorganisme. Satu benang
kromosom biasanya terdiri dari lima juta pasangan basa dan terbagi atas
segmen atau sekuens asam amino tertentu yang akan membentuk stuktur
protein. Protein ini kemudian menjadi enzim-enzim, komponen membran sel
dan struktur sel yang lain yang secara keseluruhan menentukan karakter dari
sel itu.

1.2.1 Struktur DNA dan RNA


A. DNA (Asam Deoksiribonukleat)
DNA/ Kromosom bakteri lebih banyak diteliti dari pada kromosom
organisme lain. DNA bakteri mampu mengkode 1000-3000 polipeptida yang
berbeda-beda. DNA bakteri merupakan molekul berantai ganda yang sirkuler.
Struktur Dna bakteri tidak merupakan bentuk sederhana tetapi merupakan
belitan yang tidak teratur dalam sitoplasma. James Watson dan Francis Crick
(1953) telah menemukan struktur DNA yang berupa dua untai pita DNA
terpilin. Penemuan ini merupakan titik awal revolusi biologi karena merupakan
penemuan struktur DNA ini sangat penting untuk mempelajari dan memahami
bagaimana informasi genetik dapat dipindahkan dari satu generasi ke generasi
berikutnya serta bagaimana DNA dapat mengendalikan replikasinya.
Replikasi informasi herediter di dalam sel melibatkan sintesis molekul
DNA baru yang mempunyai urutan nukleotida sama seperti genom sel

inangnya. Molekul DNA adalah makromolekul yang mempunyai informasi


herediter suatu sel. DNA ini tersusun oleh sub unit-sub unit yang disebut
dengan nukleotida atau deoksiribonukleotida. Urutan nukleotida menentukan
kespesifikan suatu informasi herediter dan berisi mekanisme untuk
mengendalikan eksperi genetik.
Masing-masing deoksiribonukleotida terdiri dari basa nitrogen (asam
nukleat), gula deoksiribosa, dan gugus fosfat. Basa asam nukleat terdiri dari
basa purin terdiri : Adenin (A) dan guanin (G) yang mempunyai dua cincin.
Dan pirimidin terdiri atas : timin (T) dan sitosin (C) yang hanya mempunyai
satu cincin. Purin dan pirimidin merupakan molekul heterosiklis karena
mengandung dua macam atom C dan N. Basa asam nukleat menempel pada
deoksiribosa membentuk deoksiribonukleosida. Deoksiribonukleosida ini
bergabung dengna gugus fosfat pada atom C5 membentuk subunit
deoksiribonukleotida DNA.

B. RNA (Asam Ribonukleat)


Asam nukleat lainnya yang dijumpai secara alamiah ialah asam ribonukleat
(RNA). Bedaanya dari DNA ialah :
1. Biasanya berutasan tunggal
2. Komponen gula pada nukloetida yang membentuk RNA adalah ribosa, dan
bukan deoksiribose. Ribose adalah sama dengan deoksiribose kecuali adanya
gugusan hidroksil pada atom karbon nomor 2
3. Basa bernitrogen pirimidin yang dijumpai pada nukleotida yang membentuk
RNA ialah urasil bukan timin.

1.3 GENETIKA BAKTERI


1.3.1 Materi Genetik
A. Unit Herediti bakteri
a. Kromosom
Kromosom terletak dalam pusat sitoplasma/daerah nuklear. Gen bakteri
terdapat dalam molekul DNA tunggal (haploid). Berbentuk sirkuler, panjangnya +
1mm, beratnya 2-3% dari berat kering satu sel, disusun sekitar 4 juta kpb DNA,
makromolekul yang sangat banyak. Jumlah nukleoid dalam sel bakteri dapat lebih
dari satu, tergantung kecepatan pertumbuhan dan ukuran sel. Nukleoid berisi gen
yang penting untuk pertumbuhan bakteri (Kusnadi, dkk. 2003)
b. Plasmid
Plasmid merupakan materi genetik di luar kromosom (ekstra
kromosomal). Tersebar luas dalam populasi bakteri. Terdiri dari beberapa -100
kpb, beratnya + 1-3 % dari kromosom bakteri. Berada bebas dalam sitoplasma
bakteri. Dapat berpindah dan dipindahkan dari satu spesies ke spesies lain.
Jumlahnya dapat mencapai 30 atau dapat bertambah karena mutasi. (Kusnadi,
dkk. 2003)
Macam-Macam Plasmid dan Peranannya
Pili F dan I, terlibat dalam transfer plasmid dari sel ke sel. Dua
kelompok faga RNA diketahui menginfeksi sel yang membawa plasmid yang
dapat dipindahkan. Faga ini dapat digunakan untuk melihat adanya pili F dan I
pada sel. Pili F dilibatkan dalam transfer F dan beberapa plasmid resisten
antibiotik. Pili F juga terdapat pada sel Hfr. Pili I dilibatkan dalam transfer
plasmid resisten antibiotik, plasmid yang menentukan colicin, dan lainnya.
(Kusnadi, dkk. 2003)

DNA kromosomsirkulerbakteriE. coli sedangmengalamireplikasi (sumber:


Randall K. Holmes & Michael G. Jobling,2001)
Faktor R pertama kali ditemukan di Jepang pada strain bakteri enterik
yang mengalami resistensi terhadap sejumlah antibiotik. Sejumlah perbedaan gengen resitensi antibiotik dapat dibawa oleh faktor R. Plasmid R100 disusun oleh 90
kpb yang membawa gen resisten untuk sulfonamid, streptomisin/spektinomisin,
asam fusidat, kloramfeniko, tetrasiklin dan pembawa gen resisten terhadap
merkuri. R100 dapat berpindah diantara bakteri enterik dari genus Eschercia,
Klebsiella, Proteus, Salmonella, dan Shigella, tetapi tidak akan berpindah ke
bakteri nonenterik pseudomonas. Gen- gen untuk sifat yang tidak berhubungan
dengan resistensi antibiotik juga dibawa oleh faktor R. Yang terpenting
diantaranya menghasilkan pili untuk transfer konjugatif, tetapi faktor R juga
membawa gen untuk replikasi dirinya sendiri dan gen untuk mengatur produksi
protein yang mencegah pengenalan plasmid lain. Selanjutnya adanya satu faktor R
yang menghambat pengenalan dari tipe plasmid lain yang sama, suatu fenomena
yang diketahui sebagai ketidakcocokan. Faktor R dapat mengalami rekombinasi
genetik, gen dari dua faktor R dapat bergabung menjadi satu. Rekombinasi
plasmid merupakan suatu alat yang mungkin pertama kali ditimbulkan oleh
pembiakan organisme resisten obat. Plasmid dapat membawa gen yang
berhubungan dengan fungsi-fungsi khusus lain, misalnya pada :

Rhizobium berperan dalam fiksasi nitrogen


Streptococcus (grup N) berperan dalam penggunaan laktosa, sistem

galaktosa, fosfotransferase, metabolisme sitrat


Rhodospirillum rubrum berperan dalam sintesis pigmen fotosintesis
Escherchia coli berfungsi dalam pengambilan dan metabolisme sukrosa
Pseudomonas sp. berfungsi dalam degradasi komfor, toluena, oktana, asam

salisilat
Bacillus stearothermophilus berfungsi menghasilkan enzim -amilase

Alcaligenes eutrophus berperan dalam penggunaan H2 sebagai energi


oksidasi

1.1.2 Elemen Genetik Bergerak


Elemen genetik ini dikelompokkan berdasarkan kemampuannya
untuk menyisip sebagai segmen DNA baru pada lokasi genom secara acak.
Kemampuan elemen ini untuk mengubah urutan, ditemukan sebagai sifat
alami pada kromosom prokariot, plasmid dan genom bakteriofag. Dua
kelompok besar elemen yang berkemampuan mengubah urutan DNA.
(Kusnadi, dkk. 2003)
1. Pertama: insertion sequences (IS) adalah elemen urutan sisipan yang
merupakan unsur genetik yang mampu menyisip ke tempat baru pada
replikon yang sama maupun berbeda. IS tidak dapat mereplikasi
dirinya sendiri. Urutan dari kelompok IS sederhana biasanya hanya
mengandung gen tunggal yang mengkode satu enzim, transposase,
yang penting untuk transposisi elemen IS. Urutan IS yang benar
mempunyai persamaan struktur dan berisi kira-kira 1000 pasangan
basa duplex DNA. Berbagai perbedaan IS ditemukan pada genom
bakeri dan plasmid, beberapa mungkin ditemukan sebagai cetakan
multipel dalam replikon tunggal.
2. Kedua: transposon adalah unsur genetik yang mengandung beberapa
kpb DNA, termasuk informasi yang diperlukan untuk migrasi dari satu
lokus genetik ke lokus genetik lain, terutama untuk fungsi khusus
misalnya resistensi terhadap antibiotik. Lingkaran DNA (kromosom
dan plasmid), berisi infirmasi genetik yang diperlukan untuk replikasi
dirinya sendiri yang disebut replikon. Replikon pada prokariota
diyakini berhubungan dengan selaput sel dan pemisahan kromosom
anak, serta plasmid diduga berkaitan dengan perpanjangan dan
pembuatan sekat pada selaput sel.

Transposon tidak berisi informasi genetik yang diperlukan utuk


replikasi dirinya sendiri. Seleksi transposon bergantung pada replikasinya
sebagai bagian dari suatu replikon. Untuk mendektesi transposon atau
mengutak atiknya secara genetik dilakukan seleksi terhadap informasi genetik
khusus (biasanya resistensi terhadap suatu antibiotika) yang dibawanya.
(Kusnadi, dkk. 2003)
I.

Transfer Materi Genetik pada Bakteri


Dewasa ini muncul keanekaragaman dan variasi genetik pada
bakteri disebabkan oleh proses rekombinasi gen antara jenis bakteri yang satu
dengan bakteri yang lain. Rekombinasi atau pertukaran gen ini melalui
berbagai cara yaitu:
Transfer gen
Materi genetik dan plasmid dapat berpindah atau dipindahkan
melalui berbagai mekanisme sebagai berikut:
1. Transduksi
Dna dari plasmid masuk ke dalam genom bakteriofag, oleh bakteriofag
plasmid ditransfer ke populasi bakteri lain.
Jika pada transformasi materi genetik (DNA) langsung memasuki sel
bakteri kompeten, maka pada transduksi materi genetic diinjeksikan oleh
bakteriofage (virus) ke dalam sel host-nya.

2. Transformasi
Fragmen DNA bebas dapat melewati dinding sel dan kemudian bersatu
dalam genom sel tersebut sehingga mengubah genotipnya. Hal ini biasanya
dikerjakan di laboratorium dalam penelitian rekayasa gentika, tapi dapat pula
terjadi secara spontan meskioun dalam frekuensi yang kecil.
Transformasi adalah ekspresi materi genetic asing yang masuk melalui
dinding sel. Padadasarnya dinding sel berfungsi melindungi sel dari masuknya
benda-benda asing termasuk DNA, tapi dalam kondisi tertentu, dinding sel ini

bias memiliki semacam celah atau lubang yang bias dimasuki DNA. Sebetulnya
ada lebih dari 1% spesies bakteri mampu melakukan transformasi secara alami.
Dimana mereka memproduksi protein-protein tertentu yang dapat membawa DNA
menyeberangi dinding sel. Sedangkan di laboratorium, kita dapat membuat suatu
bakteri menjadi kompeten (istilah untuk bakteri yang siap bertransformasi),
misalnya dengan mendinginkannya pada larutan yang mengandung kation
divalent seperti Ca2+ untuk membuat dinding sel menjadi permeable dan dapat
dilalui oleh DNA plasmid. Dengan melakukan teknik heat-shock
mendinginkan, memanaskan dan mendinginkan kembali bakteri, maka DNA
dapat masuk ke dalam sel. Teknik ini ditemukan oleh trio peneliti Stanley Cohen,
Annie Chang, Leslie Hsu padatahun 1972.

Chemical Transformation (image from biochem.arizona.edu)

Selain teknik heat-shock, sejak tahun 1980 telah digunakan teknik


elektroforasi yaitu dengan mengejutkan selbakteri dengan medan listrik
berkekuatan tinggi (10-20 kV/cm). Saking terkejutnya, akan terbentuk lubanglubang pada dinding sel yang bias diterobos DNA plasmid berukuran besar dan
kemudian lubang tersebut akan tertutup dengan sendirinya.

Electrophoretic Transformation (image from biochem.arizona.edu)


Transformasi alami biasanya melibatkan DNA rantailurus (linear)
sedangkan transformasi artificial melibatkan DNA rantai melingkar (plasmid).
3. Cara Gen Ditransformasi
Umumnya transformasi bertujuan mengekspresikan suatu gen tertentu di dalam
sel inang. Agar gen yang berupa fragmen DNA (biasa disebut insert) ini dapat
masuk, ia harus dibuat menjadi DNA plasmid dulu dengan menyisipkannya pada
suatu DNA vektor. Berikut ini tahapan-tahapan insersi gen keplasmid/vektor.

Bagaimana Memastikan Transformasi Berhasil?


Setiap sel termasuk bakteri memiliki system pertahanan diri terhadap
benda asing termasuk DNA. Jika sel bakteri menemukan adanya DNA asing,
maka enzim restriksi sebagai penjaga benteng akan memotong-motong DNA
tersebut hingga menjadi pendek dan tak berfungsi lagi. Agar DNA plasmid yang

ditransformasi tidak dipotong oleh enzim restriksi, maka ia harus memiliki bagian
yang dinamakan ori atau origin of replication yang dikenali oleh bakteri yang
bersangkutan. Ori ini berfungsi mengelabui bakteri agar tidak menganggapnya
sebagai DNA asing. Ori juga merupakan signal agar bakteri tersebut melakukan
replikasi alias penggandaan DNA plasmid secara independen seiring dengan
replikasi DNA genomnya. Untuk membedakan antara bakteri yang sudah
dimasuki DNA plasmid dan mana yang tidak. Cara yang paling umum adalah
dengan seleksi antibiotik. Pada umumnya bakteri tidak dapat hidup pada media
yang mengandung antibiotik. Untuk itu pada DNA plasmid yang kita
transformasikan harus ada gen penyandi anti biotic resisten agar bakteri hostnya
menjadi tahan hidup di media yang mengandung antibiotik. Jadi bakteri yang
tidak berhasil disusupi oleh plasmid akan mati dengan sendirinya.
Jika gen Lac Zini masih utuh, maka koloni bakteri akan berwarna biru
akibat pengaruh zat warna indigo yang dihasilkan. Tetapi jika insert berhasil
disisipkan (diligasikan) dengan vektor, otomatis gen lacZ-nya akan terdisrupsi
alias rusak dan ujung-ujungnya tidak mampu menghasilkan indigo yang berwarna
biru, sehingga koloni bakteri akan berwarna putih. Jadi hanya koloni putih yang
tumbuh pada media yang mengandung antibiotic dan X-Gal sajalah yang
kemungkinan mengandung gen yang kita transformasikan. Inilah yang dinamakan
seleksi biru-putih.

Teknik dalam transfer materi genetik

4. Konjugasi
Transfer unilateral materi genetik antara bakteri sejenis maupun
dengan jenis lain melalui kawin. Hal ini dimungkinkan karena adanya
faktor F yang menentukan adanya pili seks pada virus bakterial tertentu.
Kuman yang memiliki phili seks disebut kuman F+, dan melalui philinya
materi genetik dari sel donor (F+) termasuk plasmid DNA nya dapat
berpindah kedalam sel resipien. Jadi gen-gen tertentu yang membawa sifat
resistensi pada obat dapat berpindah dari populasi kuman yang resisten ke
dalam kuman yang sensitif. Dengan cara inilah sebagian besar dari sifat
resisten obat tersebar dalam populasi kuman dan menimbulkan apa yang
disebut multi drug resistance.
Konjugasi melibatkan kontak langsung antara dua bakteri berbeda
sehingga terjadi transfer materi genetic dari satu bakteri ke bakteri lainnya.
Boleh dibilang ini semacam perkawinan seksual pada bakteri
5. Transposisi
Transposisi adalah pemindahan rantai DNA pendek (hanya
beberapa urutan saja) antara satu plasmid ke plasmid lain, atau dari
kromosom ke plasmid dalam sel tersebut.
1.3 GENETIKA VIRUS

Virus berasal dari bahasa latin venom yang berarti racun. Apabila virus
berada diluar sel hidup maka virus dianggap sebagai makhluk tak hidup, tetapi
bila berada didalam sel hidup, virus dikatakan sebagai makhluk hidup. Virus
dikatakan tidak hidup karena virus dapat dikristalkan dan tidak memiliki
protoplasma. Virus dikatakan hidup karena virus dapat berkembangbiak dan
memiliki materi genetic (RNA/DNA) yang menyusun tubuhnya.
Replikasi genom virus tergantung pada energy metabolic dan mesin
sintesis makromolekul pada inang. Selain itu, asam nukleat genom virus dapat
berbentuk linear tunggal atau sirkuler.Virus terdiri dari genom (kumpulan gen)
mungkin terdiri dari DNA untai ganda, DNA untai tunggal, RNA untai ganda atau
RNA untai tunggal, tergantung dari tipe virusnya. Suatu virus dapat diebut sebagai
virus DNA atau virus RNA tergantung dari asam nukleat yang menyusun
genomnya. Materi genetik kebanyakan virus hewan dan manusia berupa DNA,
dan pada virus tumbuhan kebanyakan adalah RNA yang beruntai tunggal. Pada
beberapa jenis virus, seperti TMV dan influenza, RNA berperan sebagai materi
genetic utama, sebab virus-virus dari golongan ini tidak memiliki DNA sebagai
materi genetiknya (Suryo, 2004). RNA yang terdapat di dalam virus-virus tersebut
dinamakan sebagai RNA genom dikarenakan RNA inilah yang berperan sebagai
penyimpan informasi genetic dan mempengaruhi sifat-sifat dari virus tersebut.
Pada masing-masing kasus, genomnya biasanya tersusun menjadi molekul asam
nukleat linear tunggal atau sirkuler. Virus yang terkecil hanya memiliki 4 gen
sedangkan yang terbesar memiliku ratusan.
Materi genetik virus diselubungi oleh suatu lapisan pelindung. Protein
yang menjadi lapisan pelindung tersebut disebut kapsid. Tergantung dari tipe
virunya, kapsid dapat benbentuk batang, polyhedral, atau bentuk lain yang lebih
kompleks. Kapsid terbentuk dari banyak subunit protein yang disebut kapsomer,
tetapi jumlah jenis proteinnya biasanya sedikit. Virus mosaic tembakau misalnya
memiliki kapsid batang yang kaku yang terbuat lebih dari seribu molekul tetapi
dari satu jenis protein saja. Virus terdiri dari asam nukleat (DNA atau RNA) yang
terbungkus di dalam satu lapisan protein (kapsid) dan kadangkala masih
terbungkus lagi didalam suatu selubung membrane. Partikel lengkap virus disebut

virion. Virion berfungsi sebagai alat transportasi gen, sedangkan komponen


selubung dan kapsid bertanggung jawab dalam mekanisme penginfeksian sel
inang.

BAB III

PENUTUPAN

3.1 Kesimpulan
Kebanyakan molekul DNA adalah rantai ganda, dengan basa-basa
komplementer (A-T; G-C) berpasangan menggunakan ikatan hidrogen pada
pusat molekul. Sifat komplementer dari basa memungkinkan satu rantai (rantai
cetakan, template) menyediakan informasi untuk salinan atau ekpresi informasi
pada suatu rantai yang lain (rantai penyandi). Pasangan-pasangan basa tersusun
dalam bagian pusat double helix DNA dan menentukan informasi genetiknya.
Setiap empat basa diikatkan pada phosphor-2-deoxyribose membentuk suatu
nukleotida. Setiap nukleotida dibentuk dari tiga bagian yaitu:
1. Sebuah senyawa cincin yang mengandung nitrogen, disebut basa
nitrogen. Dapat berupa purin atau pirimidin.
2. Sebuah gugusan gula yang memiliki lima karbon (gula pentosa), disebut
deoksiribosa.
3. Sebuah molekul fosfat. Bagian-bagian tersebut terhubungkan bersamasama dalam urutan basa nitrogen-deoksiribosa-fosfat.
DNA bakteri mampu mengkode 1000-3000 polipeptida yang berbedabeda. DNA bakteri merupakan molekul berantai ganda yang sirkuler. Struktur
Dna bakteri tidak merupakan bentuk sederhana tetapi merupakan belitan yang
tidak teratur dalam sitoplasma. James Watson dan Francis Crick (1953) telah
menemukan struktur DNA yang berupa dua untai pita DNA terpilin. Penemuan
ini merupakan titik awal revolusi biologi karena merupakan penemuan struktur
DNA ini sangat penting untuk mempelajari dan memahami bagaimana informasi
genetik dapat dipindahkan dari satu generasi ke generasi berikutnya serta
bagaimana DNA dapat mengendalikan replikasinya.
Materi genetik virus diselubungi oleh suatu lapisan pelindung. Protein
yang menjadi lapisan pelindung tersebut disebut kapsid. Tergantung dari tipe
virunya, kapsid dapat benbentuk batang, polyhedral, atau bentuk lain yang lebih
kompleks. Kapsid terbentuk dari banyak subunit protein yang disebut kapsomer,

tetapi jumlah jenis proteinnya biasanya sedikit. Virus mosaic tembakau misalnya
memiliki kapsid batang yang kaku yang terbuat lebih dari seribu molekul tetapi
dari satu jenis protein saja. Virus terdiri dari asam nukleat (DNA atau RNA)
yang terbungkus di dalam satu lapisan protein (kapsid) dan kadangkala masih
terbungkus lagi didalam suatu selubung membrane. Partikel lengkap virus
disebut virion.

Daftar Pustaka

Anonimous. Tanpa Tahun. Virus Genomic. (Online)


(http://www.mcb.uct.ac.za/virusgenomic) diakses tanggal 7 November
2014.
Randall K. Holmes & Michael G. Jobling.2001.transformasi ekspresi gen asing
dalam sel bakteri (Online) (http://sciencebiotech.net/transformasiekspresi-gen-asing-dalam-sel-bakteri/ ) diakses tanggal 7 November
2014.
Suryo. 1994. Genetika. Yogyakarta: UGM Press
Tortora, Gerard J., Funke, Berdell R., Case, Christine L. 2010. Microbiology an
Introduction. San Fransisco: United Stated of America

GENETIKA MIKROBA

UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH


Mikrobiologi
yang dibina oleh Ibu Dr. Endang Suarsini, M.Ked dan
Bapak Agung Witjoro, S.Pd, M.Kes

oleh
Kelompok 8/ Offering C
Alifah Cholifah

(120341421964)

Delonix Regia

()

Destik Widyawati

()

Febrinia Tika M.S

()

The Learning University

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
November 2014