Anda di halaman 1dari 15

BAB I

Pendahuluan
Surgery (bedah) merupakan cabang ilmu kedokteran yang menangani penyakit, luka, dan
deformitas dengan cara memotong atau mengiris bagian tubuh yang sakit secara manual atau
operasi yang dilakukan di rumah sakit ataupun ruangan dokter/dokter gigi. Tujuan dari
pembedahan ini adalah: 1) Kuratif. Pada umumnya tujuan inilah menjadi harapan banyak pasien
yang menjalani operasi. Biasanya berhubungan dengan pengangkatan bagian tubuh yang tidak
normal, rusak atau benda asing yang tersangkut di dalam tubuh pasien, misalnya operasi
pengangkatan usus buntu, pengangkatan tumor jinak, pengambilan batu saluran kemih,
mengeluarkan gumpalan darah, mengeluarkan material logam yang tertusuk ke dalam tubuh,
memotong penyakit ambeyen dan lain-lain. 2) Diagnostik. Tidak selamanya operasi itu
bertujuan untuk menyembuhkan. Bahwa ada kondisi tertentu dalam tahap mengetahui suatu
penyakit yang kurang jelas, seseorang pasien diharuskan menjalani operasi. Dengan kata lain,
operasi yang dilakukan bertujuan untuk menegakkan diagnose penyakit. 3) Penyelamatan nyawa
(life saving). Merupakan operasi yang bertujuan untuk menyelamatkan nyawa seorang pasien
tanpa mempertimbangkan hal lain, bahkan bila perlu dengan mengorbankan sebagian organ
penderita tersebut. Biasanya operasi dengan tujuan ini termasuk golongan operasi emergensi dan
melibatkan salah satu dari tiga system fungsi tubuh, yakni jalan nafas, alat pernafasan dan system
jantung pembuluh darah (cardiovascular). 4) Refungsi. Pengembalian fungsi system organ akibat
kerusakan atau penyakit menjadi tujuan utama, entah dilakukan secara emergensi ataupun secara
berencana. Kelainan tersebut misalnya seperti sumbatan pada saluran pencernaan, saluran
kencing, gangguan fungsi penglihatan, fungsi pendengaran dan lain-lain. 5) Preventif. Operasi
bertujuan untuk mencegah terjadi sesuatu yang lebih buruk atau kambuh kembali akibat
gangguan sebelumnya. 6) Rekontruksi. Merupakan operasi yang bertujuan untuk memperbaiki
struktur tubuh yang mengalami kerusakan atau yang mengalami kelainan bentuk (malformasi).
7) Estetika. Operasi dengan tujuan untuk memperbaiki penampilan demi kecantikan atau
ketampanan seseorang digolongkan sebagai pembedahan estetik. Meskipun ada berbagai tujuan
operasi seperti yang disebutkan di atas, namun dalam aplikasinya tidak menutup kemungkinan
satu tahap pembedahan bisa mencakup lebih dari satu tujuan.(1)

BAB II
Laporan Kasus
Seorang laki-laki berusia 16 than datang ke UGD dengan keluhan nyeri seluruh perut. Penderita
mengalami neyri perut di daerah sekitar pusat sehari sebelumnya, nyerinya tumpul dan sulit
ditentukan lokasinya. Penderita mual-mual, tidak muntah, badan sedikit panas. Penderita
kemudian berobat keklinik untuk mendapatkan obat maag, tetapi keluhan tidak berkurang.
Delapan jam kemudian nyeri berpindah ke perut kanan bawah di titik Mc.Burney. Nyeri tajam
seperti ditusuk dan terus menerus.
Sejak 3 jam lalu penderita merasakan nyeri bertambah hebat dan meluas ke seluruh perut.
Penderita demam, perut kembung dan muntah 1 kali.
Keadaan umum lemah, tampak kesakitan, dengan tanda-tanda dehidrasi.
Pada pemeriksaan fisik diagnostic ditemukan tanda-tanda rigiditas dan nyeri tekan seluruh
abdomen.

BAB III
Pembahasan
Anatomi Regio Abdomen
Abdomen atau lebih dikenal dengan perut
berisi berbagai organ penting dalam sistem
pencernaan, endokrin dan imunitas pada tubuh
manusia. Dari gambar dibawah ini kita
mengetahui bahwa ada 9 pembagian kuadran
(daerah) di abdomen, yaitu:
Hypochondrium

dextra

(sebagian

hati,

kantung empedu dan bagian atas ginjal


2

dextra), Epigastrium (ginjal dextra dan sinistra, sebagian hati dan lambung serta sebagian
kantung empedu), Hypochondrium sinistra (limpa, sebagian lambung, bagian atas ginjal sinistra,
sebagian usus besar (colon), Lumbalis dexta (sebagian hati dan usus besar serta bagian bawah
ginjal dextra), Umbilicalis (sebagian besar usus halus (duodenum), pankreas, ureter bagian atas,
usus besar(colon), serta bagian bawah kantung empedu), Lumbalis sinistra (sebagian kecil usus
besar (colon decendens) dan bagian bawah ginjal sinistra), Inguinalis dextra (sebagian kecil usus
besar (caecum), Hypogastrium (sebagian usus halus (ileum, jejunum) dan usus besar, ureter
kanan dan kiri, serta sebagian kantung kemih), Inguinalis sinistra (sebagian kecil usus besar). (2)
Nyeri Abdomen
Nyeri yang dirasakan di abdomen dapat berasal dari dalam abdomen, dinding abdomen, atau
merupakan nyeri alih dari suatu sumber di luar abdomen, pada tulang belakang atau thorak.
Sifat Nyeri Abdomen, antara lain terdapat Nyeri Alih (terjadi jika suatu segmen persarafan
melayani lebih dari 1 daerah, misal, persarafan diafragma berasal dari regio leher C 3-5 pindah
ke bawah pada masa embrional, sehingga rangsangan pada diafragma oleh perdarahan atau
peradangan akan dirasakan dibahu), Nyeri Radiasi ( Nyeri menyebar dalam system atau jalur
anatomi yang sama, misal, kolik ureter atau kolik pielum ginjal, biasanya dirasakan sampai ke
alat kelamin luar (labium mayor (wanita) atau testis). Kadang sukar dibedakan dari nyeri alih),
Nyeri Proyeksi (disebabkan rangsangan saraf sensorik akibat cedera/peradangan saraf), Nyeri
Kontinyu (akibat rangsangan pada peritoneum parietal yang terus menerus, misal, pada reaksi
radang. Pada pemeriksaan penderita peritonitis, ditemukan nyeri setempat. Otot dinding perut
menunjukkan defans muskuler secara refleks melindungi bagian meradang dan menghindari
gerakan atau tekanan setempat), Nyeri Kolik (nyeri visceral akibat spasme otot polos berongga
dan biasanya disebabkan hambatan pasase/obstruksi dalam organ tersebut (obstruksi usus, batu
ureter, batu empedu, peningkatan tekanan intraluminer). Nyeri timbul karena hipoksia yang
dialami jaringan dinding saluran. Karena kontraksi ini berjeda maka kolik dirasakan hilang
timbul. Fase awal gangguan perdarahan dinding usus juga berupa nyeri kolik. Biasanya disertai
perasaan mual bahkan muntah. Saat serangan, penderita sangat gelisah, kadang berguling-guling
ditempat tidur atau jalan. Trias kolik, tanda khas yang terdiri dari serangan nyeri perut yang
kumatan disertai mual atau muntah yang disertai gerak paksa) dan Nyeri Iskemik (Nyeri yang
3

hebat, menetap, dan tidak menyurut. Merupakan tanda jaringan terancam nekrosis. Lebih lanjut,
tampak tanda intoksikasi umum seperti takikardia, merosotnya keadaan umum, dan syok karena
resorbsi toksin dari jaringan nekrosis)
Macam Nyeri Abdomen

Nyeri Viseral (Nyeri Sentral)

Terjadi bila terdapat rangsangan pada organ/struktur dalam rongga perut. Peritoneum viseral
yang menyelimuti organ perut dipersarafi oleh sistem saraf autonom dan tidak peka terhadap
rabaan atau pemotongan. Sehingga, sayatan/jahitan pada usus dapat dilakukan tanpa dirasakan
pasien. Akan tetapi, bila dilakukan tarikan/regangan organ atau kontraksi otot berlebih
menyebabkan iskemia (misal, kolik atau radang, akan timbul nyeri). Nyeri ini tidak dapat
ditunjukkan secara tepat letak nyerinya. Pola khas dengan persarafan embrional organ yang
terlibat, yaitu:
Saluran cerna yang berasal dari usus depan (foregut) yaitu lambung, duodenum,
sistem hepatobilier dan pankreas menyebabkan nyeri di ulu hati (epigastrium).
Saluran cerna usus tengah (midgut) yaitu usus halus sampai pertengahan kolon
transversum menyebabkan nyeri disekitar umbilikus.
Saluran cerna bagian usus belakang (hindgut) yaitu pertengahan kolon sampai kolon
sigmoid menimbulkan nyeri di perut bagian bawah. Demikian juga nyeri dari bulibuli dan rectosigmoid. Karena tidak disertai rangsang peritoneum, nyeri ini tidak
dipengaruhi oleh gerakan, sehingga penderita biasanya dapat aktif bergerak.

Nyeri Somatik

Terjadi karena rangsangan pada bagian yang dipersarafi oleh saraf tepi, misal, regangan
peritoneum parietal dan luka pada dinding perut. Nyeri dirasakan seperti ditusuk/disayat dan
nyeri dapat ditunjukkan secara tepat letaknya dengan jari, biasanya dekat dengan organ sumber
nyeri. Rangsang yang menimbulkan nyeri ini dapat berupa rabaan, tekanan, rangsang kimiawi
atau proses radang. Gesekan antara visera yang meradang akan menimbulkan rangsangan
peritoneum dan menyebabkan nyeri. Peradangannya sendiri maupun gesekan antara kedua
peritoneum dapat menyebabkan perubahan intensitas nyeri. Gesekan inilah yang menjelaskan
4

nyeri kontralateral pada appendicitis akut. Setiap gerakan penderita, baik berupa gerak tubuh
maupun gerak napas yang dalam atau batuk, juga akan menambah rasa nyeri.(3)
Metode Kerja
Metode kerja yang sistematis diperlukan oleh seorang dokter dalam menegakkan diagnosis.
Adapun langkah-langkah yang harus dilakukan, yaitu:
A. Anamnesis
Pada kasus ini didapatkan seorang pasien laki-laki dengan umur 16 tahun. Dari kasus diatas,
masalah yang didapat dari anamnesis yaitu:
-

Nyeri seluruh perut sekitar pusat sehari sebelumnya, nyerinya tumpul dan sulit ditentukan

lokasinya. Penderita mual-mual, tidak muntah, badan sedikit panas.


Penderita kemudian berobat keklinik untuk mendapatkan obat maag, tetapi keluhan tidak

berkurang.
Delapan jam kemudian nyeri berpindah ke perut kanan bawah di titik Mc.Burney. Nyeri

tajam seperti ditusuk dan terus menerus.


Sejak 3 jam lalu penderita merasakan nyeri bertambah hebat dan meluas ke seluruh perut.
Penderita demam, perut kembung dan muntah 1 kali.

Pada anamnesis penting untuk diketahui:


Identitas, Riwayat penyakit terdahulu, Riwayat penyakit sekarang, Riwayat penyakit keluarga,
dan Kebiasaan pasien.
Untuk menegakkan diagnosis, anamnesis tambahan yang diperlukan untuk mendapatkan datadata lain, antara lain:
Pada Muntah :
-

Apakah yang dimuntahkan ?


Pada saat kapan muntah?
Bagaimana dengan baunya?

Pada Nyeri pada perut :


5

Pada saat kapan nyeri perutnya?


Pada saat melakukan apa?
Nyeri perut terus menerus atau hanya sementara?

Pada penggunaan obat :


-

Apakah ada obat yang sudah dikonsumsi selain obat maag?

Penting juga ditanyakan,


-

Apakah pernah operasi usus buntu (appendicitis)?


Bagaimana nafsu makan pasien? Apakah menurun atau tetap?

B. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dimulai dengan inspeksi (melihat), palpasi (pemeriksaan dengan meraba),
perkusi (periksa ketuk), auskultasi (pemeriksaan dengan mendengar). Dari kasus di atas, hasil
pemeriksaan fisik menunjukkan:
-

Keadaan umumnya lemah, tampak kesakitan dan tanda-tanda dehidrasi.

Kemungkinan penyebabnya antara lain nyeri yang bertambah hebat dan meluas ke perut, demam,
perut kembung dan muntah satu kali.
-

Pada pemeriksaan fisik ditemukan tanda-tanda rigiditas dan nyeri tekan seluruh abdomen.

Tanda rigiditas menunjukkan adanya rangsangan peritoneum parietale. Rangsangan ini


disebabkan antara lain oleh regangan pada peritoneum parietale, luka dinding abdomen, rabaan,
tarikan, tekanan, dan rangdangan kimiawi atau proses radang yang terjadi.

C. Diagnosis Kerja
Berdasarkan gejala yang telah diketahui pada kasus
di atas, maka kami simpulkan bahwa diagnosis kerja
kami adalah appendicitis.
6

Appendix adalah suatu pipa tertutup yang sempit yang melekat pada caecum. Bentuknya seperti
cacing putih. Secara anatomi appendix sering disebut juga dengan appendix vermiformis atau
umbai cacing. Appendix terletak di bagian kanan bawah dari abdomen. Tepatnya di ileosecum
dan merupakan pertemuan ketiga taenia coli. Muara appendix berada di sebelah postero-medial
caecum. Dari topografi anatomi, letak pangkal appendix berada pada titik Mc.Burney, yaitu titik
pada garis antara umbilicus dan SIAS kanan yang berjarak 1/3 dari SIAS kanan.(4)
Secara ringkas patofisiologi dari appendicitis dapat di cetuskan oleh obstruksi lumen appendix
disebabkan oleh penyempitan lumen akibat hyperplasia jaringan limpoid submukosa. Feses yang
terperangkap dalam lumen appendix mengalami penyerapan air dan terbentuklah fechalit yang
akhirnya sebagai penyebab sumbatan. Sumbatan lumen appendix menyebabkan keluhan sakit
disekitar umbilicus dan epigastrium, nausea dan muntah. Proses selanjutnya ialah invasi kuman
dari lumen ke lapisan mukosa, submukosa, lapisan muskularis dan akhirnya ke peritoneum
parietalis terjadilah peritonitis local kanan bawah. Suhu tubuh mulai naik. Ganggren dinding
appendix disebabkan oleh oklusi pembuluh darah dinding appendix akibat distensi lumen
appendix. Bila tekanan intra lumen terus meningkat terjadi perforasi dengan ditandai kenaikan
suhu tubuh meningkat.
Gambaran klinis yang sering dikeluhkan oleh penderita, antara lain:
-

Nyeri abdominal. Nyeri ini


merupakan

gejala

klasik

appendicitis. Mula-mula nyeri


dirasakan samar-samar dan
tumpul yang merupakan nyeri
viseral di daerah epigastrium
atau sekitar umbilicus. Setelah
beberapa jam nyeri berpindah
dan

menetap

di

abdomen

kanan bawah (titik Mc. Burney). Nyeri akan bersifat tajam dan lebih jelas letaknya
sehingga berupa nyeri somatik setempat. Bila terjadi perangsangan peritoneum biasanya
penderita akan mengeluh nyeri di perut pada saat berjalan atau batuk.
7

Mual-muntah biasanya pada fase awal.


Nafsu makan menurun.
Demam, terjadi bila sudah ada komplikasi, bila belum ada komplikasi biasanya tubuh
belum panas. Suhu biasanya berkisar 37,5o-38,5o C.

Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik, ditemukan demam biasanya ringan dengan suhu sekitar 37,5o-38,5o C,
bila suhu lebih tinggi, mungkin sudah terjadi perforasi. Bila terdapat perbedaan suhu aksilar dan
rectal sampai 1C. Pada inspeksi perut, tidak ditemukan gambaran spesifik. Kembung sering
terlihat pada penderita dengan komplikasi perforasi. Penonjolan perut kanan bawah bisa dilihat
pada massa atau periapendikuler. Pada palpasi, didapatkan nyeri yang terbatas pada regio iliaka
kanan, bisa disertai nyeri lepas.defans muscular menunjukkan adanya rangsangan peritoneum
parietale. Nyeri tekan perut kanan bawah ini merupakan kunci diagnosis. Pada penekanan perut
kiri bawah, akan dirasakan nyeri di perut kanan bawah yang disebut tanda Rovsing. Pada
apendisitis retrosekal atau retroileal, diperlukan palpasi dalam untuk menentukan adanya rasa
nyeri. Pada auskultasi abdomen, peristaltis usus sering normal tetapi juga dapat menghilang
akibat adanya ileus paralitik pada peritonitis generalisata yang disebabkan oleh apendisitis
perforata. (4,5)
Pemeriksaan colok dubur
Pemeriksaan colok dubur menyebabkan nyeri bila daerah infeksi dapat dicapai dengan jari
telunjuk, misalnya pada apendisitis pelvika. Pada apendisitis pelvika, tanda perut sering
meragukan; maka, kunci diagnosis adalah nyeri terbatas sewaktu dilakukan colok dubur.(5)
Tanda-tanda khusus
Rovsings sign

Dilakukan palpasi pada seluruh kuadran abdomen, dimulai dari


sisi yang tidak nyeri. Positif jika dilakukan palpasi dengan tekanan
pada kuadran kiri bawah dan timbul nyeri pada sisi kanan.

Psoas sign

Dengan rangsangan musculus psoas lewat hiperekstensi sendi


panggul kanan atau fleksi aktif sendi panggul kanan, kemudian
paha kanan ditahan. Positif jika terdapat nyeri.

Obturator sign

Pada pasien dilakukan gerakan fleksi dan endorotasi sendi panggul


pada posisi terlentang. Positif jika menimbulkan nyeri pada
apendisitis pelvika.

Blumberg sign

Disebut juga dengan nyeri lepas. Palpasi pada kuadran kanan


bawah kemudian dilepaskan tiba-tiba

D. Diagnosis Banding
Diagnosis banding adalah penyakit-penyakit lain yang dipikirkan selain penyakit yang ditetapkan
sebagai diagnosis kerja berdasarkan kesamaan atau kemiripan gejala atau hasil pemeriksaan yang
telah dilakukan. Diagnosis banding yang pertama adalah gastroenteritis. Pada gastroenteritis,
mual-muntah dan diare mendahului rasa sakit. Sakit perut lebih ringan dan tidak berbatas tegas.
Hiperperistaltik sering ditemukan. Panas dan leukositosis kurang menonjol dibandingkan dengan
appendicitis. Selanjutnya, diagnosis banding yang kedua adalah limfadenitis mesenterica.
Limfadenitis mesenterica biasanya didahului oleh enteritis atau gastroenteritis. Ditandai dengan
nyeri perut yang samar-samar terutama disebelah kanan, dan disertai dengan perasaan mual dan
muntah. Pada kasus ini, gastroenteritis dan limfadenetis mesenterica dapat disanggah sebagai
diagnosis kerja kami dimana pada kasus tidak terdapat diare pada pasien selain itu nyeri dirasa
bertambah hebat, tidak ringan seperti yang terdapat pada diagnosis banding kami.(6)

E. Diagnosis Pasti
Diagnosis pasti adalah diagnosis definitif yang ditegakkan berdasarkan bukti-bukti hasil
pemeriksaan yang lengkap sesuai dengan kriteria diagnostik baku atau yang dipersyaratkan
untuk penyakit itu. Kadang-kadang, diagnosis telah dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis
saja, atau cukup hanya dengan anamnesis dan pemeriksaan jasmani. Tetapi seringkali untuk
dapat menegakkan diagnosis yang tepat perlu dilakukan semua upaya sekaligus.
F. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang perlu dilakukan dalam rangka menegakkan diagnosis. Pemeriksaan


penunjang yang dapat dilakukan pada kasus ini, antara lain:
-

Tes laboratorium

Pemeriksaan darah Pada pasien dengan appendicitis akut, 70-90% hasil laboratorium
mengalami leukositosis dan neutrofil meningkat walaupun ini bukan hasil yang karateristik.
Jumlah leukosit berkisar antara 10.000 dan 16.000 / mm 3 . Pada 96 % penderita apendisitis
diantaranya mengalami leukositosis. Tetapi beberapa pasien dengan apendisitis memiliki jumlah
leukositosis yang normal.
Pemeriksaan urin Pemeriksaan urinalisa dapat digunakan sebagai konfirmasi dan
menyingkirkan kelainan urologi yang menyebabkan nyeri abdomen. Apendiks yang mengalami
inflamasi akut dan menempel pada ureter atau vesika urinaria, pada pemeriksaan urinalisis
ditemukan jumlah sel lekosit 10-15 sel/ lapang pandang
-

Ultrasonografi

Ultrasonografi telah banyak digunakan untuk diagnosis appendicitis akut maupun appendicitis
dengan abses. Apendiks yang normal jarang tampak dengan pemeriksaan ini. Pemeriksaan
dengan Ultrasonografi (USG) pada appendicitis akut, ditemukan adanya fekalit, udara
intralumen, diameter apendiks lebih dari 6 mm, penebalan dinding apendiks lebih dari 2 mm dan
pengumpulan cairan perisekal. Apabila apendiks mengalami ruptur atau perforasi maka akan
sulit untuk dinilai, hanya apabila cukup udara maka abses apendiks dapat diidentifikasi. USG
dapat mengidentifikasi appendik yang membesar atau abses. Walaupun begitu, appendik hanya
dapat dilihat pada 50% pasien selama terjadinya appendicitis. Oleh karena itu, dengan tidak
terlihatnya apendiks selama USG tidak menyingkirkan adanya appendicitis. Hasil USG
dikatakan kemungkinan appendik jika ada pernyataan curiga atau jika ditemukan dilatasi
appendik di daerah fossa iliaka kanan, atau dimana USG di konfirmasikan dengan gejala klinik
dimana kecurigaan appendicitis.
-

CT-Scan

Dapat menunjukkan tanda-tanda dari appendicitis. Selain itu juga dapat menunjukkan komplikasi
dari appendicitis seperti bila terjadi abses.
10

Laparoskopi

Suatu tindakan dengan menggunakan kamera fiberoptic yang dimasukkan dalam abdomen,
appendix dapat divisualisasikan secara langsung.Tehnik ini dilakukan di bawah pengaruh
anestesi umum. Bila pada saat melakukan tindakan ini didapatkan peradangan pada appendix
maka pada saat itu juga dapat langsung dilakukan pengangkatan appendix. (7)
G. Penatalaksanaan
Bila diagnosis appendicitis akut telah ditegakkan, maka harus segera dilakukan appendektomi.
Hal ini disebabkan perforasi dapat terjadi dalam waktu < 24 jam setelah onset appendicitis.
Penundaan tindakan pembedahan ini sambil diberikan antibiotik dapat mengakibatkan terjadinya
abses atau perforasi. Appendektomi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cara terbuka
dan laparoscopi. Dengan cara terbuka, dapat dilakukan langkah-langkah sebagai berikut,
Pra operatif
Bila pasien muntah-muntah, masukkan selang nasogastrik dan lakukan aspirasi isi
lambung.
Pemasangan kateter untuk control produksi urin.
Rehidrasi bila terjadi dehidrasi
Antibiotik dengan spektrum luas, dosis tinggi dan diberikan IV
Bila demam, harus diturunkan sebelum diberi anestesi

Operatif
Buat tanda pada kulit pasien di atas titik McBurney atau di atas titik nyeri tekan paling
hebat.
Berikan anastesi umum, lalu lakukan tindakan asepsis antisepsis.
Insisi kulit 8-10 cm sesuai dengan lipatan kulit pada titik yang telah dibuat pada kulit

11

Perdalam insisi sampai aponeurosis obliqus externus, obliqus internus dan tranversus,
buka secara tumpul sesuai dengan seratnya menggunakan gunting atau klem arteri lurus.
Insisi sampai tampak lemak ekstraperitoneal dan peritoneum.
Angkat peritoneum memakai 2 klem arteri membentuk tenda dan dijepit dengan jari-jari
untuk mencegah perlukaan dengan organ visera di bawahnya. Lalu insisi peritoneumnya.
Aspirasi cairan peritoneum bebas yang ada.
Untuk mengetahui letak apendiks, ikuti taenia coli ke basis caecum lalu angkat caecum
dan apendiks keluar luka.
Mesoapendiks yang mengandung arteri apendikularis dipotong lalu ikat dengan catgut
kromik 0.
Basis apendiks diklem untuk merusak dindingnya, dan jepit kembali klem tadi agak lebih
distal, lalu ikat basis apendiks yang sudah dirusak tadi dengan catgut kromik 2/0
Lakukan jahitan purse-string mengelilingi basis apendiks dengan catgut kromik 2/0
Potong apendiks diantara ikatan dan klem dan puntungnya diinvaginasi sambil
mengencangkan jahitan pulse-string tadi dan diikat.
Tutup luka lapis demi lapis dengan menggunakan jahitan kontinyu; dengan catgut kromik
2/0 untuk peritoneum, jahitan terputus dengan catgut kromik 0 untuk otot dan jahitan
terputus dengan nilon 2/0 untuk kulit.
Bila apendiks mengalami perforasi, maka setelah apendiks dibuang, abdomen irigasi aspirasi
dengan garam fisiologis dan antibiotika. (8)
Tehnik-tehnik insisi yang lain, antara lain:
Insisi Grid Iron (McBurney Incision)
Insisi Gridiron pada titik McBurney. Garis insisi
parallel dengan otot oblikus eksternal, melewati
titik McBurney yaitu 1/3 lateral garis yang
menghubungkan spina liaka anterior superior kanan
dan umbilikus.

12

Lanz transverse incision


Insisi dilakukan pada 2 cm di bawah pusat, insisi
transversal pada garis miklavikula-midinguinal.
Mempunyai keuntungan kosmetik yang lebih baik
dari pada insisi grid iron.

Rutherford

Morissons

incision

(insisi

suprainguinal)
Merupakan insisi perluasan dari insisi McBurney.
Dilakukan jika apendiks terletak di parasekal atau
retrosekal dan terfiksir.
Low Midline Incision
Dilakukan jika apendisitis sudah terjadi perforasi
dan terjadi peritonitis umum.
Insisi paramedian kanan bawah
Insisi vertikal paralel dengan midline, 2,5 cm di
bawah umbilikus sampai di atas pubis.

Tindakan laparoskopi merupakan suatu tehnik baru untuk mengangkat appendix dengan
menggunakan laparoskop. Tindakan ini dilakukan pada kasus-kasus yang meragukan dalam
menegakkan diagnosis appendicitis.(8)
H. Prognosis
Mortalitas adalah 0,1% jika apendisitis akut tidak pecah dan 15% jika pecah pada orang tua.
Kematian biasanya dari sepsis, emboli paru, atau aspirasi. Prognosis membaik dengan diagnosis
dini sebelum rupture dan antibiotic yang lebih baik. Morbiditas meningkat dengan ruptur dan
usia tua. Komplikasi dini adalah septik. Infeksi luka membutuhkan pembukaan kembali insisi
kulit yang merupakan predisposisi terjadinya robekan.

13

I. Kesimpulan
Apendisitis adalah terjadinya inflamasi dari appendiks. Appendix adalah suatu pipa tertutup yang
sempit yang melekat pada caecum. Bentuknya seperti cacing putih. Secara anatomi appendix
sering disebut juga dengan appendix vermiformis atau umbai cacing. Appendisitis merupakan
kasus intraabdominal tersering yang memerlukan tindakan bedah. Bila diagnosis sudah
ditegakkan, harus segera dilakukan appendektomi. Hal ini disebabkan perforasi dapat terjadi
dalam waktu kurang dari 24 jam setelah onset appendicitis.

DAFTAR PUSTAKA
1. Spesialis

Bedah.

Tujuan

Pembedahan.

[Update:

28

November

2009].

http://spesialisbedah.com/2009/11/tujuan-pembedahan. Acessed on 31 May 2011.


2. R.Schrock, Theodore. Ilmu Bedah. Edisi 7. Jakarta: ECG. 2005. p. 276-8.
3. Bedah Digestif. Apendicitis akut. [Update: May 22, 2010] http://bedahugm.net/ BedahDigesti/Apendicitis-akut.html. Acessed on 31 May 2011.
4. Russell RCG, Williams NS. In: Bulstrode CJK, editors. Short Practice of Surgery. 24 th
Ed. London: Arnold. 2004. p.256-7.
5. Mansjoer A, Suprohaita, Wardani WI, Setiowulan W. Bedah Digestif, dalam Kapita
Selekta Kedokteran, Edisi Ketiga, Jilid 2, Cetakan Kelima. Media Aesculapius, Jakarta,
2005, hlm. 307-13.

14

6. Skandalakis JE, Colborn GL, Weidman TA, et al. Surgical Anatomy. USA: McGrawHill.
2004. p.176-7.
7. Sjamsuhidajat R, Jong W.D. Usus Halus, Apendiks, Kolon, Dan Anorektum, dalam
Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 2. EGC, Jakarta, 2005. p. 639-45.
8. Cook, John. Penatalaksanaan Bedah umum di Rumah sakit. Jakarta: EGC. p. 118-22.

15