Anda di halaman 1dari 5

Latihan Soal Ujian Etika

Profesi
Posted on February 26, 2014
1. Jelaskan hubungan antara etika, filsafat dan ilmu pengetahuan.
2. Jelaskan hubungan antara etika, moral, norma dan hukum.
3. Jelaskan hubungan antara etika, agama dan adat.
4. Jelaskan isu-isu pokok etika komputer
5. Sebutkan dan jelaskan empat perspektif pendekatan standar profesional
6. Jelaskan perbedaan antara profesi, profesional dan profesionalisme
7. Jelaskan perbedaan norma-norma dalam masyarakat ( norma agama, norma
kesusilaan, norma kesopanan dan norma hukum ).
8. Jelaskan dan berikan contoh isu-isu etika moral dan isu-isu etika bisnis.
JAWABAN :
1.
Hubungan
Etika,
Filsafat,
dan
dan
ilmu
pengetahuan
:
Filsafat adalah bagian dari ilmu pengetahuan yang berfungsi sebagai interpretasi
tentang
hidup
manusia.

Etika
merupakan
bagian
dari
filsafat,
yaitu
filsafat
moral.
Filsafat moral adalah cabang dari filsafat tentang tindakan manusia
Filsafat mempersoalkan istilah-istilah terpokok dari ilmu pengetahuan dengan
suatu cara yang berada di luar tujuan dan metode ilmu pengetahuan. Dalam hubungan
ini Harold H. Titus menerangkan: Ilmu pengetahuan mengisi filsafat dengan sejumlah
besar materi yang faktual dan deskriptif, yang sangat perlu dalam pembinaan suatu
filsafat. Banyak ilmuwan yang juga filsuf..
2.
Hubungan
etika,
norma,
dan
hukum
Jika kita membahas tentang norma, etika, dan hukum tentunya kita tidak dapat
melepaskannya dari segi moral. Dari arti kata, etika dapat disamakan dengan moral.
Moral berasal dari bahasa latin mos yang berarti adat kebiasaan.
Beberapa ahli memiliki pendapat yang berbeda-beda tantang hubungan antara moral
dan etika. Menurut Lawrence Konhberg terdapat hubungan antara moral dengan
etika. Menurut Lawrence Konhberg pendidikan moral merupakan dasar dari
pembangunan etika. Pendidikan moral itu sendiri terdiri dari ilmu sosiologi, budaya,
antropologi, psikologi, filsafat,pendidikan, dan ilmu poitik. Pendapat Lawrence
Konhberg berbeda dengan pendapat Sony Keraf. Soni Keraf membedakan antara
moral dengan etika. Nilai-nilai moral mengandung nasihat, wejangan, petuah,
peraturan, dan perintah turun temurun melalui suatu budaya tertentu. Sedangkan etika

merupakan refleksi kritis dan rasional mengenai nilai dan norma manusia yang
menentukan dan terwujud dalam sikap dan perilaku hidup manusia.
Karena etika dan moral saling mempengaruhi, maka keduanya tentu memiliki
hubungan yang erat dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Norma
sebagai bentuk perwujudan dari etika dan moral yang tumbuh dan berkembang di
masyarakat. Norma tersebut dapat berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah
lainnya. Meski tiap daerah memiliki norma yang berbeda-beda namun tujuannya
tetap sama yaitu mengatur kehidupan bermasyarakat agar tercipta suasana yang
mendukung dalam hidup bermasyarakat. Sedangkan hukum merupakan suatu bagian
yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan bermasyarakat yang memiliki etika,
moral, dan norma-norma didalamnya Hukum berperan sebagai `penjaga` agar etika,
moral, dan norma-norma dalam masyarakat dapat berjalan dengan baik. Apabila
terjadi pelanggaran terhadap etika,moral, dan norma maka hukum akan berperan
sebagai pemberi sanksi. Sanksi tersebut dapat berupa sanksi sosial sebagai akibat dari
pelanggaran norma-norma sosial masyarakat dan sanksi hukum apabila norma-norma
yang dilanggar juga termasuk dalam wilayah peraturan hukum yang berlaku.
3.
Hubungan
antara
ETIKA,
AGAMA
dan
ADAT-ISTIADAT
Adat istiadat adalah kumpulan tata kelakuan yang paling tinggi kedudukannya karena
bersifat kekal dan terintegrasi sangat kuat terhadap masyarakat yang memilikinya.
Adat istiadat dapat dimaksudkan dengan Etika perangai yang diartikan sebagai
kebiasaan yang menggambarkan perangai manusia dalam kehidupan bermasyarakat
di daerah-daerah tertentu, pada waktu tertentu pula. Etika perangai tersebut diakui
dan berlaku karena disepakati masyarakat berdasarkan hasil penilaian perilaku.
(Sumaryono (1995))
Hubungan
antara
ETIKA
dan
AGAMA
Etika tidak dapat menggantikan agama. Agama merupakan hal yang tepat untuk
memberikan orientasi moral. Pemeluk agama menemukan orientasi dasar kehidupan
dalam agamanya. Akan tetapi agama itu memerlukan ketrampilan etika agar dapat
memberikan
orientasi,
bukan
sekadar
indoktrinasi.
Etika mendasarkan diri pada argumentasi rasional semata-mata sedangkan agama
pada wahyunya sendiri. Oleh karena itu ajaran agama hanya terbuka pada mereka
yang mengakuinya sedangkan etika terbuka bagi setiap orang dari semua agama dan
pandangan dunia.
4.

Kejahatan
Komputer
Kejahatan yang dilakukan dengan computer sebagai basis teknologinya. Virus, spam,
penyadapan, carding, Denial of Services ( DoS ) / melumpuhkan target

Cyber
ethics
Implikasi dari INTERNET ( Interconection Networking ), memungkinkan pengguna
IT semakin meluas, tak terpetakan, tak teridentifikasi dalam dunia anonymouse.

Diperlukan
adanya
aturan
tak
tertulis
Netiket,
Emoticon.

E-commerce
Otomatisasi bisnis dengan internet dan layanannya, mengubah bisnis proses yang
telah ada dari transaksi konvensional kepada yang berbasis teknologi, melahirkan
implikasi negative; bermacam kejahatan, penipuan, kerugian karena ke-anonymousean
tadi.

Pelanggaran
HAKI
Masalah pengakuan hak atas kekayaan intelektual. Pembajakan, cracking, illegal

software
dst.

Tanggung
jawab
profesi
Sebagai bentuk tanggung jawab moral, perlu diciptakan ruang bagi komunitas yang
akan saling menghormati. Misalnya IPKIN ( Ikatan Profesi Komputer & Informatika1974 ).
5. Untuk mengukur sebuah profesionalisme, tentunya perlu diketahui terlebih dahulu
standar profesional. Secara teoritis menurut Gilley dan Enggland (1989), standar
profesional dapat diketahui dengan empat perspektif pendekatan, yaitu:
a.
Pendekatan
Berorientasi
Filosofis.
b.
Pendekatan
Perkembangan
Bertahap.
c.
Pendekatan
Berorientasi
Karakteristik.
d. Pendekatan Berorientasi Non-Tradisional.
A.
PENDEKATAN
ORIENTASI
FILOSOFI
Pendekatan orientasi filosofi ini melihat tiga hal pokok yang dapat digunakan untuk
mengetahui
tingkat
profesionalisme
sebagai
berikut:
a.
Pendekatan
Lambang
Profesional
Lambang profesional yang dimaksud antara lain seperti sertifikat, lisensi, dan
akreditasi. Sertifikasi merupakan lambang bagi individu yang profesional dalam
bidang tertentu. Misalnya, seseorang yang ahli dalam menjalankan suatu program
komputer tertentu berhasil melalui ujian lembaga sertifikasi tersebut sehingga akan
mendapatkan sertifikat berstandard internasional. Adapun lisensi dan akreditasi
merupakan lambang profesional untuk produk ataupuun institusi. Sebagai contoh,
lembaga pendidikan yang telah dianggap profesional oleh umum adalah lembaga
pendidikan yang telah memiliki status terakreditasi, dan lain-lain. Akan tetapi,
penggunaan lambang ini kurang diminati karena berkaitan dengan aturan-aturan
formal.
b.
Pendekatan
Sikap
Individu
Pendekatan ini melihat bahwa layanan individu pemegang profesi diakui oleh umum
dan bermanfaat bagi penggunanya. Sikap individu tersebut antara lain adalah
kebebasan personal, pelayanan umum, pengembangan sikap individual dan aturanaturan yang bersifat pribadi. Orang akan melihat bahwa individu yang profesional
adalh individu yang memberikan layanan yang memuaskan dan bermanfaat bagi
pengguna
jasa
profesi
tersebut.
c.
Pendekatan
Electic
Pendekatan ini meihat bahwa proses profesional dianggap sebagai kesatuan dari
kemampuan, hasil kesepakatan dan standar tertentu. Hal ini berarti bahwa pandangan
individu tidak akan lebih baik dari pandangan kolektif yang disepakati bersama.
Pendekatan electic ini merupakan pendekatan yang menggunakan prosedur, teknik,
metode dan konsep dari berbagai sumber, sistem, dan pemikiran akademis. Dengan
kesatuan item-item tersebut di atas, masyarakat akan melihat kualitas profesionalisme
yang dimiliki oleh seseorang individu ataupun yang mewakili institusi.
B.
PENDEKATAN
PERKEMBANGAN
BERTAHAP
Di bagian depan telah dijelaskan bahwa proses profesionalisme adalah proses evolusi
yang menggunakan pendekatan organisasi dan sistematis untuk mengembangkan
profesi kearah status profesional. Orientasi perkembangan menekankan pada enam
langkah
dalam
proses
berikut:
a. Berkumpulnya individu-individu yang memiliki minat yang sama terhadap suatu

profesi.
b. Melakukan identifikasi dan adopsi terhadap ilmu pengetahuan tertentu untuk
mendukung profesi yang dijalaninya. Hal ini tentu saja disesuaikan dengan latar
belakang
akademis
para
pelaku
profesi
tersebut.
c. Setelah individu-individu yang memiliki minat yang sama berkumpul, selanjutnya
para praktisi akan terorganisasi secara formla pada suatu lembagayang diakui oleh
pemerintah
dan
masyarakat
sebagai
sebuah
organisasi
profesi.
d. Membuat kesepakatan mengenai persyaratan profesi berdasarkan pengalaman atau
kualifikasi tertentu. Hal ini sesuai dengan hakikat sebuah profesi, yang mengharuskan
pelakunya memiliki pengetahuan tertentu yang diperoleh melalui pendidikan formal
dan atau ketrampilan tertentu yang didapat melalui pengalaman kerja pada orang
yang
terlebih
dahulu
menguasai
ketrampilan
tersebut.
e. Menentukan kode etik profesi yang menjadi aturan main dalam mmenjalankan
sebuah profesi yang harus ditaati oleh semua anggota profesi yang bersangkutan.
f. Revisi persyaratan berdasarkan kualifikasi tertentu seperti syarat akademis dan
pengalaman melakukan pekerjaan di lapangan. Hal ini berkembang sesuai tuntutan
tingkat pelayanan yang diberikan kepada para pengguana jasa profesi tersebut.
C.
PENDEKATAN
BERORIENTASI
KARAKTERISTIK
Orientasi ini melihat bahwa proses profesional juga dapat ditinjau dari karrakteristik
profesi/pekerjaan. Ada delapan karakteristik pengembangan proses profesional yang
saling
terkait,
yaitu:
a. Kode etik profesi yang merupakan aturan main dalam menjalankan sebuah profesi
b. Pengetahuan yang terorganisir yang mendukung pelaksanaan sebuah profesi.
c.
Keahlian
dan
kompetensi
yang
bersifat
khusus.
d.
Tingkat
pendidikan
minimal
dari
sebuah
profesi.
e. Sertifikasi keahlian yang harus dimiliki sebagai salah satu lambang profesional.
f. Proses tertentu sebelum memangku profesiuntuk bisa memikul tugas dan tanggung
jawab dengan baik. Proses tersebut misalnya adalah riwayat pekerjaan, pendidikan
atau
ujian
yang
dilakukan
sebelum
memangku
sebuah
profesi.
g. Adanya kesempatan untuk menyebarluaskan dan bertukar ide diantara anggota.
h. Adanya tindakan disiplin dan batasan tertentu jika terjadi malapraktik dan
pelanggaran kode etik profesi.
D.
PENDEKATAN
ORIENTASI
NON-TRADISIONAL
Pendekatan orientasi non-tradisional menyatakan bahwa seseorang dengan bidang
tertentu diharapkan mampu melihat dan merumuskan karakteristik yang unik dan
kebutuhan sebuah profesi. Orientasi ini memandang perlunya dilakukan identifikasi
elemen-elemen penting untuk sebuah profesi, misalnya standarisasi profesi untuk
menguji kelayakannya dengan kebutuhan lapangan, sertifikasi profesional, dan
sebagainya.
6. ketiga pengertian mengenai profesi, profesional dan profesionalisme tersebut,
maka dapat dibedakan bahwa profesi adalah sebutan untuk sebuah pekerjaan yang
telah dikhususkan, profesional adalah sebutan untuk orang yang menjalankan sebuah
profesi tersebut, sendangkan profesionalisme adalah pemahaman seorang profesional
dalam menjalankan profesinya.
7. Norma agama adalah suatu norma yang berdasarkan ajaran atau kaidah suatu
agama.

Norma kesusilaan didasarkan pada hati nurani atau akhlak manusia. Norma
kesusilaan bersifat universal. Artinya, setiap orang di dunia ini memilikinya, hanya
bentuk dan perwujudannya saja yang berbeda.
Norma kesopanan adalah norma yang berpangkal dari aturan tingkah laku yang
berlaku di masyarakat seperti cara berpakaian, cara bersikap dalam pergaulan, dan
berbicara.
Norma hukum adalah himpunan petunjuk hidup atau perintah dan larangan yang
mengatur tata tertib dalam suatu masyarakat (negara).
8.
.
Cakupan
Etika
Bisnis
1.Isu-isu yang dicakup oleh etika bisnis meliputi topik-topik yang luas. Isu-isu ini
dapat dikelompokkan ke dalam 3 dimensi atau jenjang, yaitu: (1) sistemik, (2)
organisasi, dan (3) individu.
2.Isu-isu sistemik dalam etika bisnis berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan etika
yang timbul mengenai lingkungan dan sistem yang menjadi tempat beroperasinya
suatu bisnis atau perusahaan: ekonomi, politik, hukum, dan sistem-sistem sosial
lainnya.
3.Isu-isu organisasi dalam etika bisnis berkenaan dengan pertanyaan-pertanyaan etika
tentang perusahaan tertentu.
4.Sementara itu, isu-isu individu dalam etika bisnis menyangkut pertanyaanpertanyaan etika yang timbul dalam kaitannya dengan individu tertentu di dalam
suatu perusahaan.
Contoh : tanggung jawab sosial apabila suatu perusahaan yang kegiatan bisnisnya
menyangkut hidup orang banyak maka perlu legalitas bisnis dilingkungan setempat.