Anda di halaman 1dari 42

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Lingkungan

kita

sedang

terancam

dengan

frekuensi

yang

mengkhawatirkan. Udara yang kita hirup, air yang kita minum, dan tanah kita
gunakan untuk media tumbuh tanaman yang dimakan semua terkontaminasi
sebagai akibat langsung dari aktivitas manusia. Amerika rata-rata menghasilkan
sekitar 5 Pounds sampah per hari lebih dari 1.700 pon sampah dalam satu tahun
per orang, mengarah ke total sekitar 250 juta ton sampah setiap tahun. Hanya
sekitar sepertiga (83 juta ton sebagian) sampah ini didaur ulang atau menjadi
kompos, sisanya masuk ke tempat pembuangan sampah. Polusi dari limbah
industri manufaktur serta dari tumpahan bahan kimia, produk rumah tangga, dan
pestisida telah menyebabkan pencemaran lingkungan. Peningkatan jumlah bahan
kimia beracun yang menyebabkan ancaman serius bagi kesehatan lingkungan di
seluruh dunia dan organisme yang hidup di sana. Sama seperti bioteknologi yang
dianggap sebagai kunci untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah
kesehatan manusia, juga merupakan alat yang ampuh untuk mempelajari dan
memperbaiki kesehatan yang buruk dari lingkungan tercemar. Dalam hal ini kita
mempertimbangkan bagaimana bioteknologi dapat membantu memecahkan
beberapa masalah polusi dan menciptakan lingkungan yang bersih bagi manusia
dan satwa liar melalui bioremediasi.
Salah satu daerah yang paling mungkin dari kemajuan substansial akan
upaya global dalam prospek biologi untuk menemukan mikroba metabolisme
yang belum ditemukan dan mempelajari genomik mikroba untuk merancang
degradasi polusi bakteri dan tanaman. Misalnya, dalam

bahasan ini kita

membahas bagaimana para ilmuwan menganalisis degradasi minyak mikroba


ditemukan di Teluk Meksiko di lokasi tumpahan minyak Deepwater Horizon.
Menciptakan mikroba rekayasa genetik dan tanaman untuk menurunkan polutan
beracun dan sangat berbahaya seperti logam berat dan senyawa radioaktif akan
terus menjadi fokus bioremediasi, seperti menggunakan mikroba bioremediasi
sebagai sumber energi. Juga, mengawasi keluar untuk aplikasi biologi sintetis

untuk artifisial menciptakan jenis baru dari metabolisme mikroba dengan genom
sintetik termasuk gen disesuaikan untuk mendegradasi polutan tertentu.
Untuk itu pada kesempatan ini kami akan membahas mengenai bagaimana
penggunaan bioteknologi dalam bidang lingkungan.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, ada beberapa permasalahan yang akan
dibahas dalam makalah ini antara lain:
1. Apa yang dimaksud dengan Bioremidiasi dan apa arti penting
Bioremidiasi bagi lingkungan?
2. Bagaimanakah dasar Bioremidiasi?
3. Bagaimanakah strategi dalam pembersihan lingkungan tercemar?
4. Bagaimanakah aplikasi strategi perencanaan secara genetic untuk
membersihkan lingkungan?
5. Bagaimanakah studi kasus pada bioremidiasi?
6. Adakah tantangan bagi bioremidiasi?
7. Bagaimanakah penerapan bioremidiasi di Negara Indonesia dan Negara
barat?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan penyusunan makalah ini antara lain:
1. Untuk mengetahui dan memahami pengertian dan Arti Penting
Bioremidiasi bagi lingkungan.
2. Untuk mengetahui dasar Bioremidiasi
3. Untuk mengetahui strategi dalam pembersihan lingkungan tercemar
4. Untuk mengetahui aplikasi strategi perencanaan secara genetic untuk
membersihkan lingkungan
5. Untuk mengetahui studi kasus pada bioremidiasi
6. Untuk mengetahui tantangan bagi bioremidiasi
7. Untuk mengetahui penerapan bioremidiasi di Negara Indonesia dan
Negara barat

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian dan Arti Penting Bioremidiasi
Bioremediasi adalah penggunaan organisme hidup seperti bakteri, jamur
dan tanaman untuk memecah atau mendegradasi senyawa kimia di lingkungan.
Organisme tersebut mengambil keuntungan dari reaksi kimia alami dan proses di
mana organisme memecah senyawa untuk memperoleh gizi dan memperoleh
energi. Bakteri, misalnya metabolisme gula untuk membuat adenosin triphosphat
(ATP) sebagai sumber energi untuk sel. Namun dalam mendegradasi senyawa
alami untuk memperoleh energi, banyak mikroba mempunyai reaksi metabolisme
yang unik yang dapat digunakan untuk mendegradasi bahan kimia polutan dari
manusia. Bioremediasi membersihkan lingkungan terkontaminasi dengan polutan
dengan menggunakan organisme hidup untuk menurunkan bahan berbahaya
menjadi zat yang kurang beracun.
Mengambil keuntungan dari apa yang sudah dilakukan banyak mikroba
adalah hanya satu dari aspek bioremediasi. Salah satu tujuan utamanya adalah
untuk meningkatkan mekanisme alami dan meningkatkan biodegradasi untuk
mempercepat proses pembersihan. Aspek penting lain dari bioremediasi adalah
penerapan biodegradasi material limbah lingkungan, yang dapat melibatkan
penggunaan mikroorganisme tanaman rekayasa genetika.
Kita tahu bahwa polusi adalah masalah yang dapat mempengaruhi
kesehatan manusia. Namun, ada banyak cara untuk membersihkan polutan, jadi
mengapa menggunakan bioremediasi? Kami secara fisik bisa menghapus materi
yang terkontaminasi seperti tanah atau kimia mengobati daerah tercemar, namun
proses ini bisa sangat mahal dan, dalam kasus perawatan kimia, dapat
menciptakan lebih banyak polutan yang memerlukan pembersihan tersendiri
.
2.2 Dasar Bioremediasi
Polutan

memasuki

lingkungan

dengan

cara

yang

berbeda

dan

mempengaruhi komponen beragam lingkungan. Dalam beberapa kasus, polutan


memasuki lingkungan melalui tumpahan kapal tanker, kecelakaan truk, atau

tangki kimia pecah di lokasi industri. Tentu saja tergantung pada lokasi
kecelakaan, jumlah bahan kimia dilepaskan, dan durasi dari tumpahan (jam
dibandingkan minggu atau tahun), perbedaan daerah atau zona dari lingkungan
mungkin berpengaruh. Gambar 2.1 memberikan contoh dari tangki kimia bocor di
pabrik industri. Awalnya dapat mencemari permukaan saja dan tanah bawah
permukaan. Sejumlah besar bahan kimia yang dilepaskan dan kebocoran tidak
terdeteksi untuk waktu yang lama, bahan kimia dapat bergerak lebih dalam masuk
ke dalam tanah. Setelah hujan lebat, bahan kimia dapat larut dan mempengaruhi
pasokan air permukaan yang berada didekatnya seperti kolam, danau, dan sungai.
Bahan kimia juga bisa bocor melalui tanah, meluruhkan garam mineralnya yang
dapat menyebabkan kontaminasi air tanah, termasuk kantong akuifer dalam air
bawah tanah yang biasanya menjadi sumber air minum.

Gambar 2.1 Treatment lingkungan dan zona kontaminan. Tumpahan kimia dapat
mempengaruhi lingkungan dan zona kontaminan yang ditargetkan untuk
dibioremediasi. Tumpahan dari tank bahan kimia akan mengkontaminasi
permukaan tanah, air dan tanah bagian dalam. Pada gambar, tumpahan bahan
kimia akan mengkontaminasi air yang dikonsumsi manusia.
Bahan kimia juga bisa memasuki lingkungan melalui pelepasan polutan ke
udara, dapat terperangkap dalam awan dan mencemari air permukaan dan air
tanah saat hujan. Inilah yang menyebabkan hujan asam, misalnya. Polutan dari
industri manufaktur, tempat pembuangan sampah, tempat pembuangan ilegal,
pestisida yang digunakan untuk pertanian, pertambangan dan proses-proses yang

berkontribusi terhadap pencemaran lingkungan. Karena pendekatan bioremediasi


yang digunakan untuk membersihkan polusi tergantung pada lingkungan,
membersihkan tanah sangat berbeda dari membersihkan air. Bioremediasi
digunakan juga tergantung pada jenis bahan kimia yang perlu dibersihkan.
2.2.1 Kimia di Lingkungan
Bioremediasi untuk mendegradasi limbah manusia sangat berbeda dari
yang digunakan untuk mendegradasi berbagai bahan kimia yang ada di
lingkungan. Material rumah tangga sehari-hari seperti bahan pembersih, deterjen,
parfumes, pengusir nyamuk, pestisida, obat-obatan. Peneliti juga menemukan
bahwa perairan AS terkontaminasi obat termasuk kontrasepsi, obat penghilang
rasa sakit, antibiotik, kolesterol, obat yang dapat menurunkan, antidepresan,
antikonvulsan, dan obat antikanker. Bahan kimia lain yang membuat jalan mereka
ke lingkungan adalah produk dari proses manufaktur industri atau, seperti yang
dibahas sebelumnya hasil dari kelalaian.
Banyak bahan kimia dari berbagai sumber yang umumnya menjadi
polutan di lingkungan. Banyak bahan kimia ini dikenal sebagai potensial
mutagent dan karsinogen senyawa yang menyebabkan cancer. Meskipun kita tidak
membahas dampak kesehatan dari polusi kimia secara rinci, sebagian besar bahan
kimia ini diketahui menyebabkan penyakit mulai dari ruam kulit, kelahiran cacat
dan berbagai jenis kanker, dan mereka dapat meracuni hewan dan tumbuhan.
Cukup mudah, kehadiran polutan dalam lingkungan mengarah ke penurunan
keseluruhan lingkungan bersama dengan kesehatan organisme hidup di dalamnya.
Selain jenis tumpahan dan lingkungan yang dibersihkan. Jenis bahan kimia juga
mempengaruhi jenis organisme pembersih yang dapat digunakan untuk
bioremediasi.
2.2.2 Dasar-dasar Reaksi Pembersihan
Mikroba dapat mengkonversi banyak bahan kimia menjadi senyawa tidak
berbahaya baik melalui metabolisme aerobik (reaksi yang membutuhkan oksigen
[C02]) atau metabolisme anaerobik (reaksi di mana oksigen tidak diperlukan).
Kedua jenis proses melibatkan reaksi oksidasi dan reduksi. Karena reaksi

oksidatif dan reduksi sering terjadi bersama-sama, reaksi transfer elektron sering
disebut reaksi redoks (lihat Gambar 2.2). Selama reaksi redoks, molekul yang
disebut oksidator juga dikenal sebagai akseptor elektron, karena mereka memiliki
daya tarik kuat bagi elektron selama proses transfer. Ketika Oksidator menerima
elektron. Oksigen (02), besi (Fe), sulfat (SO42-), dan nitrat (NO3) sering terlibat
dalam reaksi redoks bioremediasi. Reaksi redoks yang penting bagi banyak fungsi
selular. Sebagai contoh, sel-sel manusia dan banyak jenis sel menggunakan reaksi
oksidasi dan reduksi untuk menurunkan gula dan memperoleh energi.
a. Peranan Mikroba
Ilmuwan

dapat

menggunakan

mikroba

khususnya

bakteri

untuk

membersihkan lingkungan. Kemampuan bakteri untuk mendegradasi bahan kimia


efektif tergantung pada banyak kondisi. Macam dari bahan kimia, temperatur,
zona kontaminasi (air, tanah, permukaan dan bagian dalam), nutrisi dan banyak
faktor berpengaruh pada efektifitas dan laju degradasi.
Bioremediasi meliputi kombinasi reaksi aerobik dan anaerobik untuk
dekontaminasi di daerah yang terkontaminasi. Anaerob biasanya reaksi
biodegradasi yang bercampur dengan sumber kontaminasi, di mana oksigen
cenderung sangat langka, tetapi sulfat, nitrat, zat besi, dan metana yang hadir
untuk digunakan sebagai akseptor elektron anaerob. Jika jauh dari sumber
kontaminasi, oksigen cenderung lebih berlimpah, bakteri aerobik biasanya terlibat
dalam biodegradasi.

Gambar 2.2 Bakteri aerob dan anaerob berperan dalam biodegradasi

Pencarian untuk mikroorganisme yang berguna untuk bioremediasi sering


dilakukan di lokasi tercemar. Organisme yang hidup di sebuah situs tercemar akan
mengembangkan beberapa perlawanan terhadap bahan kimia polusi dan mungkin
berguna untuk bioremediasi. Mikroba Indigen yang ditemukan secara alami di
daerah tercemar diisolasi, tumbuh, dan dipelajari di lab dan kemudian dilepaskan
kembali ke lingkungan dalam jumlah besar. Mikroba yang paling umum dan
mempunyai "metabolisme" efektif untuk bioremediasi, misalnya strain bakteri
disebut Pseudomonas, yang melimpah di tanah, diketahui menurunkan ratusan
bahan kimia yang berbeda. Strain tertentu dari Escherichia coli juga cukup efektif
menurunkan banyak polutan. Sejumlah besar bakteri kurang dikenal telah
digunakan dan saat ini sedang diteliti potensinya.
Banyak bakteri yang telah digunakan dan dipelajari untuk mendegradasi.
Contohnya aplikasi Deinococus radiodurans, mikroba yang menunjukkan
kemampuan untuk mentolerir efek radiasi. Begitu juga Pseudomonas putida yang
diteliti mampu mendegradsi styrene, komponen beracun pada plastik.
Para ilmuwan percaya bahwa banyak mikroba yang efektif untuk
bioremediasi belum teridentifikasi. Para ilmuwan juga bereksperimen dengan
strain alga dan jamur yang mungkin mampu berperan sebagai biodegradasi. Jamur
degradasi limbah seperti Phanerochaete chrysosporium dan Phanerochaete
sordida

dapat

mendegradasi

bahan

kimia

beracun

seperti

creosote,

pentaklorofenol, dan lainnya yang tidak didegradasi bakteri. Asbes dan logam
berat didegradasi Fusarium oxysporuni dan Mortierella hialin. Jamur juga mampu
melakukan pengomposan dan mendegradasi minyak pada pengolahan limbah
padat dan limbah cair, PCBs dan komponen lain.
b. Program Genomik Bioremediasi
Bukan hal yang baru untuk dipelajari banyak peneliti tentang genom yang
dapat digunakan di masa depan untuk bioremediasi. Melalui genom,
dimungkinkan untuk mengidentifikasi gen baru dan jalur metabolisme dari
organisme bioremediasi menghilangkan bahan kimia. Ini membantu ilmuwan
lebih mengembangkan pembersih yang efektif. Termasuk peningkatan organisme
bioremediasi melalui rekayasa genetika. Hal ini juga dimungkinkan untuk

menggabungkan detoksifikasi gen dari mikroba yang berbeda ke dalam bakteri


rekombinan yang berbeda mampu menurunkan beberapa kontaminan pada saat
yang sama misalnya, PCB dan merkuri. Ada berbagai cara di mana molekul
teknik-teknik dan genomik yang digunakan untuk menganalisis genom mikroba di
lokasi yang terkontaminasi sebagai cara untuk mengidentifikasi gen dan protein
yang terlibat dalam bioremediasi. Departemen Energi mendirikan Program
Genome Mikroba (MGP), yang telah sequencing lebih dari 200 genom mikroba,
termasuk banyak mikroba yang mungkin berguna dalam bioremediasi. Lihat
gambar 2.3 untuk beberapa contoh proyek genomik baru saja melibatkan
organisme bioremediasi.

Gambar 2.3 Contoh proyek genom bioremediasi yang sedang dan telah dilakukan
Menstimulasi Bioremediasi
Penambahan nutrisi, disebut juga fertilisasi. Penambahan fosfor dan
nitrogen pada rumput yang terkontaminasi untuk merangsang pertumbuhan
mikroorganisme indigen yang dapat menurunkan polutan. Karena organisme
hidup membutuhkan kelimpahan elemen kunci seperti karbon, hidrogen, nitrogen,
oksigen, dan fosfor untuk makromolekul bagi tubuh. Dengan menambahkan lebih
banyak nutrisi, mikroorganisme bereplikasi, meningkat dalam jumlah (biomassa),
dan tumbuh pesat, sehingga meningkatkan laju biodegradasi.

Gambar 2.4 Fertilisasi dapat menstimulasi pertumbuhan dan replikasi bakteri


indigen, yang mendegradasi minyak hingga menjadi bahan yang tidak berbahaya
seperti CO2 dan air.
Bioaugmentation, atau pembibitan, adalah pendekatan lain yang
melibatkan penambahan bakteri ke lingkungan yang tercemar untuk membantu
mikroba indigen dengan proses biodegradative. Dalam beberapa kasus,
pembibitan mungkin melibatkan mikroorganisme rekayasa genetika dengan sifat
biodegradasi unik. Bioaugmentation tidak selalu merupakan solusi yang efektif,
karena strain laboratorium mikroba jarang tumbuh dan tidak mendegradasi sebaik
bakteri indigen, dan ilmuwan harus yakin bahwa bakteri unggulan tidak akan
mengubah ekologi lingkungan setelah polutan didegradasi.
Fitoremediasi
Semakin banyak pendekatan yang memanfaatkan tanaman untuk
membersihkan bahan kimia dalam tanah, air, dan udara disebut fitoremediasi.
Diperkirakan 350 spesies tumbuhan alami mengambil bahan beracun. Poplar dan
juniper pohon telah berhasil digunakan dalam fitoremediasi, sama seperti rumput
dan alfalfa tertentu. Dalam fitoremediasi, polutan kimia yang diambil melalui akar
tanaman saat menyerap air yang terkontaminasi dari tanah (Gambar 2.5). Sebagai
contoh, tanaman bunga matahari secara efektif mendegradasi radioaktif caesium
dan strontium dari kolam di pembangkit listrik tenaga nuklir Chernobyl di
Ukraina. Water hyacinth telah digunakan untuk menghilangkan arsenik dari air di

10

Bangladesh, India. Ini adalah teknologi yang signifikan, mengingat bahwa


konsentrasi arsenik melebihi standar kesehatan 60% dari air tanah di Bangladesh.

Gambar 2.5 Tanaman dapat ditambahkan pada proses bioremediasi. Beberapa tanaman dapat
mendegradasi polutan secara langsung, yang lain menyerap selanjutnya dibuang.

Setelah bahan kimia beracun masuk ke pabrik, sel-sel tumbuhan dapat


menggunakan enzim untuk mendegradasi bahan kimia. Dalam kasus lain, bahan
kimia terakumulasi di dalam sel tanaman yang disebut plant sponge untuk
pembersihan polutan. Tanaman yang terkontaminasi dijadikan sebagai limbah dan
dapat dibakar atau dengan cara lain. Karena konsentrasi tinggi polutan sering
membunuh kebanyakan tanaman, fitoremediasi cenderung bekerja terbaik di mana
jumlah kontaminasi rendah pada tanah dangkal atau air tanah.
2.3 Strategi dan Pembersihan Lingkungan
Ada berbagaimacam strategi perlakuan bioremidiasi, strategi dilakukan
tergantung pada beberapa factor. Pertimbangan utama adalah tipe bahan kimia
yang terlibat, perlakuan lingkungan, dan ukuran area yang dibersihkan.
a. Pembersihan Tanah
Strategi perlakuan untuk tanah dan air selalu melibatkan pemindahan
materi kimia dari tempat terkontaminasi menuju tempat lain selama penanganan,
diketahui sebuah pendekatan seperti bioremidiasi ex situ, atau pembersihan dari
tempat terkontaminasi tanpa pemusnahan yang disebut Bioremidiasi in situ.

11

Bioremidiasi in situ sering disebut metode bioremidiasi, yang biasanya sedikit


lebih mahal daripada pendekatan ex situ. Juga, karena tanah atau air tidak
memiliki galian atau pompa yang keluar dari tempat tersebut, area tanah yang
terkontaminasi lebih besar dapat ditangani pada satu waktu. Pada pendekatan in
situ mengandalikan stimulasi mikroorganime pada tanah atau air yang
terkontaminasi. Pendekatan in situ tersebut memerlukan metode degradasi aerob
yang sering melibatkan bioventing, atau memompakan air atau hidrogen
peroksida (H2O2) kedalam tanah yang terkontaminasi. Hidrogen peroksida sering
digunakan karena mudah didegradasi menjadi air dan oksigen untuk menyediakan
sumber oksigen mikroba. Rabuk juga ditambahkan pada tanah selama bioventing
untuk menstimulasi pertumbuhan dan aktivitas degradasi dari bakteri indigenus.
Dari beberapa tanah yang dibersihkan, bioremidiasi ex situ dapat lebih
cepat dan lebih efektif daripada pendekatan in situ. Sebagaimana ditunjukkan
pada gambar 2.6, bioremidiasi ex situ dari tanah dapat melibatkan beberapa
macam teknik, tergantung tipe dan jumlah tanah yang terancam dan bahan-bahan
kimia yang dibersihkan. Secara umum teknik ex situ disebut bioremidiasi fase
slurry. Pendekatan ini melibatkan gerakan tanah yang terkontaminasi menuju
tempat lain dan kemudian tanah bercampur dengan air dan rabuk (sering juga
ditambahkan oksigen) pada bioreactor yang luas, dimana kondisi dari
biodegradasi oleh mikroorganisme pada tanah dapat secara hati-hati dipantau dan
dikontrol. Bioremidiasi fase slurry adalah sebuah proses yang bekerja cepat secara
wajar ketika sejumlah kecil dari tanah perlu dibersihkan dan komposisi dari
polutan kimia diketahui dengan baik (gambar 2.6).

12

Gambar 2.6 Strategi Bioremidiasi ex situ untuk membersihkan tanah


Beberapa tanah dibersihkan dengan pendekatan bioremidiasi ek situ, dimana tanah
terkontaminasi dihilangkan dan kemudian memperlakukan beberapa macam
pendekatan pembersihan.
Strategi pembersihan untuk beberapa tanah yang lain, teknik bioremidiasi
fase solid dibutuhkan. Proses fase solid lebih memakan waktu daripada
pendekatan fase slurry dan secara khusus membutuhkan jumlah ruang yang besar,
namun mereka seringkali strategi yang terbaik untuk mendegradasi bahan-bahan
kimia tertentu. Tiga teknik fase solid yang secara luas digunakan: pengomposan
(komposting), landfarming, dan biopiles (tumpukan makhluk hidup).
Komposting dapat digunakan untuk degradasi sampah rumah tangga
seperti sisa-sisa makanan dan potongan rumput, pendekatan yang sama digunakan
untuk degradasi polutan kimia pada tanah yang terkontaminasi. Dalam sebuah
tumpukan kompos, rumput kering, jerami, atau bahan-bahan lain yang
ditambahkan

pada tanah untuk menyediakan nutrisi bakteri yang membantu

bakteri mendegradasi bahan-bahan kimia. Strategi landfarming melibatkan


penyebaran tanah terkontaminasi pada lapisan air dan leachates bisa bocor
sehingga air yang terpolusi tidak dapat lagi mencemari lingkungan. Karena tanah
yang terpolusi tersebar keluar pada lapisan pengencer kemudian akan menuju
bawah tanah, landfarming juga menyediakan bahan-bahan kimia untuk menguap

13

dari tanah dan mengisi gas tanah sehingga mikroba mendegradasi polutan dengan
labih baik.
Biopiles tanah digunakan terutama ketika bahan-bahan kimia pada tanah
diketahui menguap dengan mudah dan mikroba pada tanah yang menumpuk
secara cepat mendegradasi polutan. Pada pendekatan ini,

tanah yang

terkontaminasi menumpuk pada ketinggian beberapa meter. Biopile-biopile


berbeda dari tumpukan kompos yang secara relative mencurahkan agen yang
ditambahkan pada tanah dan menghembuskan angin serta system pemimpaan
digunakan untuk memompa air menjadi atau lebih besar. Sebagaimana bahanbahan kimia pada evaporasi pile, vacuum udara mengalir menarik bahan kimia
uap air dari tumpukan dan melepas mereka menuju atmosfer atau merangkapnya
pada saringan untuk dibuang, tergantung pada tipe bahan kimianya. Hampir
semua strategi ex situ untuk membersihkan tanah melibatkan tilling dan
mencampur tanah untuk menyebarkan nutrient, pemberian oksigen pada tanah,
dan meningkatkan interaksi mikroba dengan bahan yang terkontaminasi untuk
meningkatkan biodegradasi.
b. Bioremidiasi Air
Keberadaan air yang terkontaminasi merupakan sejumlah pekerjaan yang
menantang. Limbah air dan air permukaan tanah yang terkontaminasi dapat
diterapi dengan

bebagaimacam cara, tergantung pada polutan yang ingin

dihilangkan.
Penerapan bioremidiasi terbaik yang diketahui adalah pada penanganan
limbah air untuk menghilangkan sampah manusia (bahan fecal dan sampah
kertas), sabun, detergen, dan bahan kimia rumahtangga lain. Kedua system septic
dan penanganan limbah air pada perkotaan bergantung pada bioremidiasi
tanaman. Pada sejenis system septic,sampah yang dihasilkan manusia dan limbah
air dari satu rumahtangga dibuang melalui system luar pemimpaan untuk
kemudian diendapkan dalam penampungan (septic tank) bawah tanah pada rumah.
Pada tangki, material-material padat seperti tinja dan sampah kertas menempati
bagian bawah untuk didegradasi oleh mikroba, sementara cairan mengalir keluar
dari atas tangki dan menyebar menuju area bawah tanah dan batu kerikil sebagai

14

alas septic. Dalam alas tersebut, mikroba indigenous mendegradasi komponen


sampah dalam air.
Satu aplikasi komersial bioremidiasi direkomendasikan untuk menjaga
penampungan (septic tank) dari datangnya sumbatan pada penambahan beberapa
produk seperti Rid-X (pembersih) (gambar 2.7), yang membilas sampai beberapa
waktu tertentu. Produk ini berisi pengering udara beku (freeze-dried) bakteri yang
kaya akan enzim seperti lipase, protease, amylase, dan selulase, yang mampu
mendegradasi lemak, protein, gula, dan selulosa pada bahan kertas dan sayuran ,
berturut-turut. Penambahan mikroba pada cara ini adalah contoh dari
bioaugmentasi dan penanganan ini membutuhkan system septic menurunkan
lemak minyak goreng dan oli, sampah manusia, jaringan tipis, dan materialmaterial yang dapat menyumbat system.

Gambar 2.7 Penambahan RIDx menstimulasi Bioremidiasi septic tank dari


limbah rumah tangga
Treatmen tanaman pada limbah air cukup kompleks dan operasinya
diorganisasi dengan baik (gambar 2.8). Air dari rumahtangga yang memasuki
saluran pompa menuju fasilitas perlakuan, dimana tinja dan produk kertas diatas
tanah dan disaring menjadi pertikel-partikel kecil, yang keluar menempati tangki
untuk membuat material mudlike yang disebut lumpur.

15

Gambar 2.9 Treatment Limbah air. Treatment Limbah air atau fasilitas limbah
kotoran yang direncanakan dengan baik menggunakan bakteri aerob dan anaerob
untuk mendegradasi bahan-bahan organic seperti faces manusia dan detergen
rumahtangga pada lumpur dan air.
Aliran air yang keluar dari tanki ini disebut pembuangan. Pembuangan
mengirimkan gas/udara tangki, dimana bakteri aerob dan mikroba lain
mengoksidasi bahan-bahan dalam pembuangan. Pada tangki ini, air lebih banyak
disebar pada batuan atau plastic yang dibungkus dengan biofilm dari mikroba
pendegradasi sampah yang secara aktif mendegradasi material-material organic
dalam air.
Kemungkinan lain,pembungan berubah menjadi system tangki-lumpur
yang berisi sejumlah besar mikroba pendegradasi sampah yang secara hati-hati
mengontrol lingkungan. Biasanya mikroba ini mengapung secara bebas dalam air,
tetapi pada beberapa kasus mereka tumbuh pada saringan/rembesan selama air
yang terkontaminasi mengalir. Scepatnya pembuangan membasmi kuman dengan
penggunaan klorin sebelum air dilepaskan kembali pada sungai atau laut.
Lumpur dipompa menuju tangki penguraian anaerob dimana bakteri
anaerob kemudian mendegradasinya. Produksi metana dan karbondioksida bakteri
umumnya pada tangki ini. Gas metana seringkali dikumpulkan dan digunakan

16

sebagai bahan bakar untuk peralatan lubang pada penggunaan tanaman


pembuangan kotoran. Cacing kecil, yang umumnya ada pada lumpur, juga
membantu menguraikan lumpur menjadi partikel-pertikel kecil. Lumpur tidak
pernah secara penuh terurai, tetapi salah satu material toksik telah dihilangkan,
semua itu dikeringkan dan dapat digunakan sebagai pupuk.
Para ilmuwan telah menemukan bakteri yang disebut Candidatus
Brocadia anammoxidans yang memiliki kemampuan unik untuk mendegradasi
ammonium, sebagian besar sampah pembuangan dihasilkan pada urin (gambar
2.9). Penghilangan ammonium dari limbah air sebelum air dilepas kembali
menuju lingkungan adalah sangat penting karena ammonium dalam jumlah besar
dapat memberi efek pada lingkungan yang menyebabkan peledakan alga dan
mengurangi konsentrasi oksigen dalam aliran air. Secara khas, limbah air tanaman
bergantung

pada

bakteri

aerob

seperti

Nitrosomonas

europaea

untuk

mengoksidasi ammonium pada satu set reaksi multistep. Namun, Candida


Brocadian anammoxidans mampu mendegradasi ammonium pada tahap tunggal
dibawah kondisi anaerob, sebuah proses yang disebut proses annamox.
Penggunaan tanaman limbah air di Belanda menggunakan jenis ini dan
penggunaan tanaman pada Negara lain menggunakan Candidatus Brocadia
anammoxidans untuk menghilangkan ammonium dari limbah air dengan lebih
efisien.

17

Gambar 2.9 Bioreactor berisi Candisatus Brocadia anammoxidans, bakteri


anaerob yang dapat mendegradasi ammonium. Pengaturan metabolisme novel
yang memungkinkan bakteri anaerob mendegradasi ammonium dari limbah air
dalam tahapan tunggal
Penerapan bioremidiasi berikutnya adalah pada bagaimana penanganan
dalam membersihkan air tanah. Dengan pengecualian tumpahan dari daerah
pantai, sebagian besar bahan-bahan kimia tumpah seperti tumpahan-tumpahan
minyak oli pada lingkungan laut, seringkali jauh dari area populasi. Namun,
polusi air segar secara khusus terjadi mendekati area populasi dan menyikapi
ancaman serius pada kesehatan manusia karena mengkontaminasi sumber air
minum, salah satu dari air tanah atau air permukaan tanah seperti waduk.
Kombinasi

pendekatan

ex

situ

dan

in

situ

sering

digunakan.

Misalnya,ketika tanah terkontaminasi oleh oli atau minyak gas dapat secara
langsung dipompa keluar, tetapi porsi campuran dengan air tanah harus di pompa
menuju permukaan dan terlewati melalui bioreactor (gambar 2.10). Disamping
bioreactor, bakteri pada biofilm tumbuh lebih banyak atau menghubungkan
degradasi polutan-polutan. Pupuk dan oksigen seringkali ditambahkan pada
bioreactor. Air bersih dari bioreactor yang berisi pupuk, bakteri, dan oksigen
dipompa kembali mennuju aquifer salama bioremidiasi in situ.

18

Gambar 2.10 Bioremidiasi in situ dan ek situ air tanah. Mengantarkan


gasoline menuju air bawah tanah dapat dibersihkan menggunakan system
permukaan tanah (ek situ) yang dikombinasi dengan bioremidiasi in situ.
c. Mengubah limbah menjadi Energi
Landfills diseluruh dunia ditekan oleh keterbatasannya, secara harfiah
meluap dengan sampah yang berasal dari rumah dan perusahaan. Bagian terbesar
dari sampah rumah tangga kita berisi sisa makanan, kotak, sampah kertas, kardus
pembungkus makanan, lainnya yang sejenis. Berbagaimacam limbah kimia seperti
detergen, pembersih cairan dan gas, cat, paku yang diplitur, dan pernis juga
membuat mereka menjadi sampah, meskipun kenyataannya sebagian besar
pemerintah mencoba untuk mengurangi jumlah sampah kimia yang dapat dibuang
sebagai sampah biasa.
Para ilmuwan mencari cara untuk mengurangi sampah, melibatkan
bioreactor yang berisi bakteri anaerob yang dapat mengubah sampah makanan dan
sampah lainnya menjadi nutrisi tanah dan gas metana. Gas metana dapat
digunakan untuk memproduksi listrik, dan nutrisi tanah dapat dijual secara
komersial sebagai pupuk yang digunakan oleh para petani, taman-taman, dan
industry pertanian lainnya. Para ilmuwan juga mencari cara menabur benih yang
mungkin digunakan untuk mengurangi bahan-bahan kimia dalam landfills yang
sebaliknya akan menembus melalui tanah dan mengkontaminasi sekitar tanah dan
permukaan air. Jika berhasil, aplikasi dari bioteknologi ini dapat membantu untuk

19

mengurangi sejumlah sampah dan sangat membantu maningkatkan pemakaian


ruang pada beberapa lindfills.
Para ilmuwan bioremidiasi juga mempelajari pengendapan polutan pada
lumpur sampah dan pada bagian bawah dasar laut serta danau sebagai sumber
energy yang belum dimanfaatkan. Endapan dalam danau dan dasar laut
merupakan daerah yang kaya akan materi-materi organik yang berasal dari
penguraian benda-benda yang membusuk seperti daun dan organism-organisme
yang mati. Dalam kotoran ada penggunaan molekul-molekul organic anaerob
pada pengendapan untuk menghasilkan energy. Istilah electrigens digunakan
untuk mendeskripsikan mikroba penghasil elektrik yang memiliki kemampuan
untuk mengoksidasi kemponen-komponen organic menjadi karbondioksida dan
transfer electron menjadi elektroda. Dibawah kondisi tertentu, electrigens bisa
mengelompok dan saling berhubungan untuk membentuk nanowires (aliran arus)
yang bertindak sebagai electron-elektron. Beberapa regangan mungkin dapat
digunakan untuk membuat listrik dari pupuk dan limbah rumah tangga umum.
Desulfuromonas

acetoxidans

adalah

bakteri

laut

anaerob

yang

menggunakan besi sebagai akseptor electron untuk mengoksidasi molekulmolekul organic dalam endapan. Para peneliti menyelidiki cara bagaimana
electron dapat dihasilkan dari Desulfuromonas acetoxidans dan bakteri lain seperti
Geobacter metallireducens dan Rhodoferax ferrireducens sebagai teknik untuk
menangkap energy dalam bacterial biobatteries, juga disebut sel-sel bahan bakar
mikroba (microbial fuel cells), yang dapat digunakan untuk menyediakan sumber
listrik (ganbar 2.11).Para peneliti pada Universitas Massachusetts telah
mendemonstrasikan tegangan listrik dari mikroba dapat menghasilkan listrik
dengan efisiensi tinggi; meskipun kajian pendahuluan mengusulkan bahwa teknik
ini memiliki harapan, membutuhkan penelitian lanjutan (gambar 2.12).

20

Gambar 2.11 Endapan pengotor mungkin belum dimanfaatkan sebagai


sumber energy Para ilmuwan menemukan bakteri anaerob dalam endapan yang
memungkinkan sebagai sumber energy. Karena bakteri ini menggunakan reaksi
redoks untuk mendegradasi molekul-molekul dalam sedimen, electron-elektron
dapat ditangkap oleh electrode, yang dapat mengganti electron-elektron menjadi
generator untuk menghasilkan listrik.

Gambar 2.12 Sel-sel mikroba bertenaga bahan bakar Para peneliti pada
Universitas Massachusetts telah mendemonstrasikan bahwa sel-sel bahan bakar
dari Geobacter secara efektif mengubah gula menjadi listrik.
Meskipun strategi bioremidiasi

secara efektif membersihkan sebagian

besar polutan lingkungan, bioremidiasi bukan solusi untuk semua tempat


terpolusi. Misalnya bioremidiasi tidak efektif ketika lingkungan terpolusi
memiliki konsentrasi tinggi dari substansi yang sangat toksik seperti logam-logam

21

berat,senyawa radioaktif, molekul organic yang kaya klorin, karena senyawasenyawa ini secara khas membunuh mikroba. Olehkarena itu strategi baru harus
ditemukan dan diaplikasikan untuk melakukan beberapa pembersihan yang
menantang ini. Beberapa strategi bioremidiasi baru seperti perencanaan
melibatkan mikroorganisme secara genetic.
2.4 Aplikasi Strain Perencanaan Secara Genetic Untuk Membersihkan
Lingkungan
Bioremidiasi secara tradisional bersandar pada stimulasi secara alami dari
mikroorganime, namun, beberapa mikroba indigenus tidak dapat mendegradasi
jenis-jenis tertentu dari bahan-bahan kimia, khusunya senyawa yang sangat
toksik. Misalnya, beberapa bahan kimia organic diproduksi selama pabrik plastic
dan damar resisten pada biodegradasi dan dapat bertahan pada lingkungan selama
beberapa ratus tahun. Sebagian besar senyawa radioaktif juga membunuh
mikroba, maka dicegah dengan biodegradasi. Untuk membersihkan beberapa dari
polutan yang sangat toksik dan susah dihilangkan, kita membutuhkan penggunaan
bakteri dan tanaman yang telah secara genetic diubah. Perkembangan dari
teknologi rekombinan DNA dapat memungkinkan para ilmuwan untuk
menciptakan modifikasi organism secara genetic (GM) dengan potensi untuk
meningkatkan proses bioremidiasi.
a. Bakteri Pemakan Petrolium
Keefektifan GM mikroba untuk bioremidiasi pertama kali di ciptakan pada
tahun 1970 oleh Ananda Chakrabarty dkk pada listrik umum. Pekerjaan ini
dilakukan sebelum teknologi rekombinan DNA dan cloning DNA tersebar secara
luas. Dia mengisolasi strain Pseudomonas dari tanah yang terkontaminasi dengan
berbagaimacam tipe bahan kimia, termasuk pestisida dan minyak mentah. Dia
kemudian mengidentifikasi strain yang menunjukkan kemampuan untuk
mendegradasi beberapa senyawa kimia organic seperti naftalen, oktana,dan
xylena. Sebagian dari strain ini dapat tumbuh pada keberadaan senyawa-senyawa
ini karena mereka memiliki plasmid yang mengkode gen untuk menguraikan tiaptiap komponen.

22

Chakrabarty mengawinkan berbagai macam strain ini dan secepatnya


menghasilkan strain yang mengandung berbagaimacam plasmid. Bersama-sama,
menghasilkan kombinasi protein dengan plasmid ini yang secara efektif
mendegradasi beberapa senyawa kimia dari minyak mentah. Selama dia bekerja,
Chakrabarty medapat hadiah hak paten pertama di U.S untuk GM organisme
hidup. Namun, keputusan hak apten ini sangat controversial ditetapkan di
pengadilan selama 10 tahun. Persoalan utama yang menjadi perdebatan apakah
bentuk bentuk yang hidup dapat dipatenkan dan apakah bakteri rekombinan
milik Chakrabarty dianggap sebagai produk alam ataukah sebuah penemuan.
Secepatnya mahkamah agung U.S membuat aturan bahwa pengembangan
rekombinan Pseudomonas telah ditemukan yang layak mendapatkan hak paten.
Pendekatan Chakrabarty belum seefektif yang dilihat. Minyak mentah
yang mengandung ribuan senyawa, dan bakteri GM nya dapat mendegradasi
hanya beberapa saja dari ini. Sebagian besar bahan-bahan kimia dalam minyak
mentah secara luas merupakan sisa yang tidak dipengaruhi oleh organism
rekombinan.

Sebagai

konsekuensi,

pengembangan

bakteri

GM

dengan

berbagaimacam kekayaan degradatif adalah area penelitian yang besar. Dimasa


mendatang, menggunakan pendekatan untuk membersihkan minyak mentah
mungkin dengan menggunakan berbagai strain bakteri, masing-masing dengan
kemmapuan mendegradasi yang senyawa yang berbeda pada minyak. Sampai saat
ini, wilayah aplikasi dari mikroba GM untuk bioremidiasi cukup terbatas,
karenayang berkaitan dengan penghambat dan perhatian lebih masyarakat pada
pembebasan bakteri GM. Tetapi mikroorganisme GM juga sering tidak efektif
pada lingkungan karena mikroba indigenus mampu bersaing.
b. Teknik E. coli untuk membersihkan logam berat
Logam berat meliputi tembaga, timah, cadmium, kromium, dan merkuri
dapat dengan kritis mengganggu manusia dan kehidupan hewan. Merkury adalah
sangat beracun yang dapat mengkontaminasi lingkungan, Merkuri digunakan
pabrik tanaman, baterai, sakelar listrik, alat-alat pengobatan, dan banyak lagi
produk lainnya. Merkuri dan berikatan dengan senyawa disebut metilmerkuri
(MeHg), bisa mengumpul dalam organism selama proses yang disebut

23

bioakumulasi. Pada bioakumulasi, organisme tinggi pada rantai makanan berisi


bahan-bahan kimia dengan konsentrasi yang lebih tinggi daripada organism
tingkat rendah. Misalnya, dalam air, merkuri mungkin dicerna oleh ikan kecil,
kemudian ikan dimakan burung, ikan yang lebih besar, anjing air, binatang serupa
dan binatang lainnya, termasuk manusia. Ikan besar dan burung membutuhkan
ikan kecil sebagai makanan, oleh karena itu, mereka mengakumulasi merkuri
yang lebih dalam system mereka daripada pada ikan kecil dan burung yang lebih
sedikit makan. Dengan cara yang sama, jika seseorang memakan ikan besar
sebagai sumber makanan pokok, orang tersebut akan mengakumulasi merkuri
dalam jumlah tinggi beberapa waktu. Konsumsi yang terus-menerus dari ikan dan
shallfish yang terkontaminasi merkuri dan metalmerkuri mengancam kesehatan
manusia

secara serius, menimbulkan

kerusakan dan sumber

kerugian.

Berdasarkan alasan ini, beberapa wilayah U.S, para pejabat kesehatan meyakini
bahwa wanita hamil dan anak-anak muda hanya makan sejumlah kecil dari tipe
tertentu ikan, beberapa swordfish dan tuna segar, dan membatasi daging-daging
ini untuk tidak lebih dari satu porsi seminggu.
Karena merkuri bersifat toksik pda dosis yang sangat rendah, strategi yang
lebih mutakhir untuk menghilangkan merkuri dari air yang terkontaminasi belum
cukup bisa menghilangkan dari standart yang dapat diterima. Para ilmuwan telah
mengembangkan rencana strain E. coli yang mungkin dapat digunakan untuk
membersihkan mercuri dan logam berat lainnya. Mereka juga mengidentifikasi
secara alami protein pengikat logam pada tanaman dan organism lainnya. Dua
dari tipe karakteristik protein terbaik yang lain-matalotionin dan fitoselatinmemiliki kapasitas tinggi untuk mengikat logam. Selama protein ini berfungsi,
bagaimanapun, logam pasti masuk kedalam sel. Para ilmuwan merencanakan E.
coli untuk mengungkap protein transport yang menyediakan selama merkuri
mengalir terus menuju sitoplasma sel-sel bakteri, dimana merkuri dapat berikatan
pada protein pengikat logam.
Beberapa alternative secara genetic ini bakteri dapat menyerap merkuri
secara langsung; lainnya yang mengikat merkuri dapat tumbuh pada biofilms
untuk bertindak sebagai spon untuk merfendam merkuri dari air. Biofilms harus
diubah secara periodic untuk menghilangkan bakteri yang berisi merkuri. Dengan

24

cara yang sama, perencanaan secara genetic disebut alga tunggal yang berisi gen
metalotionin dan bakteri yang disebut cianobakteria telah menunjukkan
kemampuannya untuk mengadsobsi cadmium, logam berat yang sangat toksin
lainnya dapat menyebabkan masalah serius pada manusia.
c. Biosensor
Para peneliti telah merencanakan pengembangan secara genetic strain dari
bactreri Pseudomonas fluoroscens, yang dapat secara efektif mendegradasi
struktur kompleks dari karbon dan hydrogen yang disebut polisiklik aromatic
hidrokarbon (PAHs) dan bahan kimia toksik lainnya. Penggunaan teknologi
rekombinan lainnya, para ilmuwan telah mampu menyambung gen bakteri
pengkode enzim spesifik (yang dapat menmetabolisme kontaminan ini) pada gen
reporter seperti gen lux yang sering digunakan sebagai gen reporter karena
mereka mengkode pengeluaran cahaya pada enzim luciferase (lihat bab 5).
Sebagai PAHs terdegradasi, bakteri melepaskan cahaya yang dapat digunakan
untuk memonitor dasar biodegradasi. Teknik yang sama, digunakan untuk
mengembangkan biosensor dari bakteri rekombinan yang mengandung gen lux.
Beberapa biosensor telah terbukti menjadi berharga pada assasment polutan
lingkungan seperti logam berat. Pada masa mendatang, mikroba GM diharapkan
berperan

lebih

besar

sebagai

biosensor.

Pada

sesi

berikutnya,

kita

mempertimbangkan dua kajian terbaik dan sering dipublikasikan sebagai contoh


dari bioremidiasi.
d. Modifikasi Tanaman Secara Genetik dan Fitoremidiasi
Baru-baru ini para ilmuwan telah bekerja pada memodifikasi tanaman
secara genetic untuk meningkatkan kemampuan fitoreidiasi mereka. Saat ini,
penggunaan fitoremidiasi untuk membersihkan methilmercury (MeHg) adalah
sebuah area penelitian yang sangat aktif. Merkuri mengkontaminasi sebagian
besar ikan yang menghasilkan akumulasi MeHg; diseluruh dunia ini
mengingatkan kesehatan dan membatasi untuk mengkonsumsi ikan yang
terkontaminasi mercuri. Gen tanaman direncanakan untuk menahan racun merkuri

25

dari bakteri telah menunjukkan beberapa potensi untuk mengakumulasi MeHg;


secepatnya mereka dapat digunakan untuk fitoremidiasi.
Peluang lain dari penelitian ini telah dikembangkan dari tanaman yang
mampu menghilangkan bahan-bahan kimia dari bahan peledak dan mengatur jarak
penembak yang mengkontaminasi tanah dan air bawah tanah. Heksahidro-1,3,4trinitro-1,3,5-triazine (secara umum disebut royal demolition explosive, atau
RDX) dan 2,4,6-trinitrotoluena (TNT) adalah dua bahan kimia umum kontaminan
yang dihasilkan dari produksi, penggunaan, dan pembuangan dari bahan yang
mudah meledak. Bahan kimia ini siap berpindah selama tanah dan air tanah
terkontaminasi. RDX dan TNT beracun tinggi pada sebagian besar organism dan
mengancam kesehatan secara signifikan pada manusia dan Hewan.
Pembentukan TNT adalah satu dari 20 bahan kimia pada table 2.2 dan
bahwa daftar EPA pada TNT dan RDX sebagai bahan kimia utama yang
dihilangkan dari lingkungan. Kontaminan ini adalah masalah polusi besar
diseluruh dunia. Dengan tidak dipercaya ada ratusan ton senyawa ini pada seluruh
tempat didunia dan puluhan hingga ribuan dianggap menghasilkan tanah yang
tidak aman.
Sedikit bakteri dan tanaman telah menunjukkan dapat mendegradasi
dengan lemah TNT dengan efisiensi rendah, degradasi dari RDX terjadi sedikit
efektif karena struktur bahan kimianya. Pada beberapa tahun yang lalu,
bagaimanapun, para ilmuwan telah menggunakan rencana genetic untuk
menciptakan tanaman trasngenik strain tobacco berisi gen nitroreduktase dari
Enterobacter cloacae yang secara efektif mengubah TNT untuk bahan-bahan
kimia yang kurang toksik (gambar 9.16). Baru-baru ini, para ilmuwan
menyetukan sebuah gen yang disebut xplA dari bakteri Rhodococcus rhodochorus
menjadi Arabidopsis thaliana. Gen xplA memproduksi sebuah enzim yang
mendegradasi RDX yang disebut sitokrom P450, yang dapat mendegradasi RDS
kemudian diserap menuju tanaman (gambar 2.14 /9.16). Semua itu saat ini
mungkin menggunakan tanaman yang dapat mendegradasi TNT dan RDX. Selain
itu, sejak genom semacam pohon telah disekuensing, ilmuwan melakukan
bioremiasi secara genetic pada tanaman dengan sangat antusias dengan
kemungkinan membuat pohon transgenic dan pertumbuhan lain yang cepat, akar

26

pohon yang panjang yang dapat meremidiasi TNT dan RDX baik dibawah
maupun permukaan tanah. Pada sesi berikutnya, kita memikirkan berbagaimacam
kajian terbaik dan publikasi contoh aplikasi bioremidiasi.

Gambar 2.14 /9.16 Fitoremidiasi dari bahan peledak yang toksik


menggunakan tanaman transgenic Merencanakan tanaman transgenic dengan
gen XplA
atau NR untuk mendegradasi RDX dan TNT, secara cepat,
mengabsorbsi bahan-bahan kimia yang mudah meledak melalui akar-akar mereka
dan kemudian mendegradasi menjadi senyawa yang kurang toksik
(aminodinitrotoluenes (ADNTs), atau senyawa non toksik (NH3, CO2). Tanaman
direncanakan dengan menggunakan gen XplA mendegradasi produk-produk dari
RDX untuk merangsang pertumbuhan mereka).
2.5 Bencana Lingkungan: Studi Kasus pada Bioremediasi
Pendekatan bioremediasi kebanyakan melibatkan pembersihan daerah
yang terkontaminasi yang relatif kecil, mungkin dalam ukuran beberapa ratus
hektar. Namun demikian, banyak yang telah dipelajari tentang efektivitas strategi
bioremediasi yang berbeda dengan mempelajari bencana lingkungan dalam skala
yang besar yang telah dibantu oleh bioremediasi.
a. Tumpahan minyak Exxon Valdez
Dunia sangat bergantung pada minyak mentah dan produk minyak bumi
yang dapat diproduksi dari minyak. Ketika minyak mentah diangkut, kebocoran
hampir selalu terjadi. Tumpahan minyak memiliki dampak yang luar biasa
terhadap lingkungan, khususnya pada sejumlah besar satwa liar. Biasanya
tumpahan besar tidak memiliki pengaruh besar pada kehidupan manusia secara
langsung. Hal ini karena tumpahan paling besar terjadi di lautan terbuka atau teluk
jauh dari pantai dan pasokan air. Manusia lebih dipengaruhi oleh tumpahan lokal

27

kecil, seperti bocornya tangki bawah tanah sebuah pompa bensin yang dapat
mengancam pasokan air minum setempat.
Pada tahun 1989, kapal minyak tanker Exxon Valdez kandas di Prince
William Sound di lepas pantai Alaska, mengeluarkan sekitar 42 juta liter (11 juta
galon atau sekitar 260.000 barel) minyak mentah dan mencemari lebih dari 1.000
mil dari garis pantai Alaska. Banyak pendekatan eksperimental untuk
bioremediasi yang diterapkan untuk membersihkan tumpahan ini. Seperti yang
dilakukan pada tumpahan minyak

yang cukup besar, langkah-langkah

pembersihan fisik yang pertama kali digunakan untuk menampung dan


menghapus volume besar minyak. Langkah-langkah ini termasuk penggunaan
penahan ledakan atau skimmer-jaring permukaan, pagar, atau perangkat karet
seperti pelampung yang mengambang pada permukaan yang tetap di tempat atau
ditarik di belakang perahu untuk mengumpulkan dan menampung minyak.
Kemudian vacum digunakan untuk memompa minyak dari permukaan ke dalam
tangki pembuangan. Pantai dan batu dicuci dengan air segar pada tekanan tinggi
untuk membuang minyak. Dengan mengencerkan dan melarutkan minyak di laut,
minyak secara bertahap dipecah. Salah satu aplikasi bioteknologi pembersihan
digunakan citrus-berbasis produk untuk mengikat minyak mentah dan
memungkinkan untuk dikumpulkan pada bantalan penyerap. Tetapi setelah
menggunakan semua pendekatan secara fisik untuk menghapus sebagian besar
minyak, jutaan galon minyak masih tetap melekat pada pasir, batu, dan kerikil
baik di permukaan dan di bawah permukaan garis pantai yang terkontaminasi.

Gambar 2.15 Menerapkan pupuk untuk merangsang mikroba pembersih


pendegradasi minyak dengan penyemprotan pupuk yang kaya nitrogen ke pantai

28

yang terendam minyak di Alaska menyusul tumpahan minyak Exxon Valdez.


Pupuk mempercepat pertumbuhan bakteri alami yang akan mendegradasi minyak.
Sebagai langkah pertama dalam proses bioremediasi, nitrogen dan fosfor
pada pupuk yang diterapkan pada garis pantai untuk merangsang bakteri
pendegradasi minyak (kebanyakan strain Pseudomonas) yang hidup di pasir dan
batu (Gambar 2.1). Bakteri indigen segera menunjukkan tanda-tanda bahwa
mereka mendegradasi minyak. Ketika mikroba mendegradasi produk minyak
bumi, PAHs terbentuk dan akhirnya teroksidasi menjadi rantai karbon yang dapat
dipecah menjadi karbon dioksida dan air. Seiring waktu, tes secara kimiawi pada
minyak di tanah pantai menunjukkan perubahan signifikan dalam komposisi
kimia, menunjukkan bahwa degradasi alami oleh bakteri indigen bekerja. Namun,
minyak meresap ke dalam sedimen dan lapisan lain rendah-oksigen di bawah
batuan pantai, di mana biodegradasi relatif lambat. Mungkin butuh ratusan tahun
untuk minyak tumpahan Exxon Valdez untuk sepenuhnya dibersihkan, dan
beberapa lingkungan Alaska mungkin tidak akan pernah kembali seperti sebelum
terjadi tumpahan minyak.
b. Minyak Kuwait
Gurun pasir Kuwait secara harfiah merupakan laboratorium hidup untuk
meneliti bioremediasi. Sepuluh tahun setelah Perang Teluk, sebagian besar
kawasan gurun Kuwait tetap direndam dalam minyak. Selama pendudukan Irak
atas Kuwait 1990-1991, ladang minyak yang tak terhitung jumlahnya hancur dan
dibakar, diperkirakan melepaskan 950 juta liter minyak ke gurun lebih dari 20 kali
lipat jumlah minyak yang tumpah dalam kecelakaan Exxon Valdez. Berbeda
dengan tumpahan Exxon Valdez, ion bioremediat tanah gurun memiliki sejumlah
masalah yang berbeda. Berbeda dengan tumpahan di Alaska, tidak ada gelombang
untuk membantu memecahkan dan melarutkan minyak. Kondisi tanah kering dari
gurun juga cenderung memendam beberapa strain mikroba untuk memetabolis
minyak, dan adhesi minyak dengan pasir dan batu memperlambat proses
degradasi alami. Studi awal menunjukkan bahwa strain baru dari bakteri
pendegradasi minyak secara perlahan bekerja untuk memecah minyak di bawah
permukaan pasir.

29

c. Tumpahan Minyak Lepas Pantai Horizon


Pada tanggal 20 April 2010 pengeboram minyak lepas pantai British
Petroleum (BP) Horizon meledak, melepaskan jutaan galon minyak mentah ke
Teluk Mexico sekitar 65 kilometer di lepas pantai Louisiana. Bioremediasi
memainkan peran besar untuk degradasi yang diperkirakan 50% dari minyak yang
dilepaskan. Studi yang dilakukan oleh ahli kelautan dari Institut Oseanografi
Woods Hole di Massachusetts melaporkan bahwa selama 5 hari pertama
tumpahan, degradasi minyak oleh mikroba kurang signifikan. Seiring waktu, bulubulu bawah laut dideteksi pada panjang setidaknya 22 mil (gambar 2.2). Dalam
beberapa minggu, mikroba tampaknya berbondong-bondong ke bulu-bulu dan
mereplikasi dengan cepat, sehingga bakteri dua kali lebih padat dalam bulu-bulu
dibandingkan di luar bulu-bulu. Dari penelitian tersebut, terungkap bahwa
mikroba indigen mengekspresikan lebih dari 1.500 gen pengkodean protein yang
dirancang untuk mendegradasi hidrokarbon. Jelas bahwa mikroba pendegradasi
hidrokarbon sangat diperkaya dalam bulu-bulu, dan mikroba ini secara aktif
menurunkan minyak. Ditemukan juga bahwa mikroba mendegradasi sekitar
200.000 ton metana yang dimuntahkan ke Teluk Meksiko selama tumpahan.
Hidrokarbon etana dan propana juga dilepaskan dan ini juga terdegradasi oleh
mikroba.
Perairan hangat 'dari Teluk dan komponen pada bulu-bulu-seperti gas
alam, yang berisi propana dan etana menstimulasi biodegradasi oleh mikroba
indigen. Pupuk seperti besi, nitrogen, dan fosfor yang diterapkan di lokasi untuk
merangsang tingkat biodegradasi. Gradien dalam oksigen terlarut dalam bulu-bulu
juga memberikan kontribusi terhadap perbedaan tingkat biodegradasi dan
panjangnya bulu-bulu. Perkiraan menunjukkan bahwa mikroba ini mengurangi
jumlah minyak di bulu-bulu setengahnya hampir setiap 3 hari.
Bakteri pendegradasi minyak telah ada selama ribuan tahun, berkembang
pada minyak yang merembes secara alami melalui dasar laut. Setiap tahun sekitar
79 juta liter kebocoran minyak ke lantai Teluk Meksiko melalui rembesan alami.
Dalam bulu-bulu Horizon Deepwater, peneliti telah mendeteksi lebih dari 900
subfamili bakteri, termasuk spesies yang baru ditemukan. Hal ini juga
kemungkinan bahwa bahan kimia dispersan yang digunakan untuk memecah

30

aliran minyak memancar dari sumur yang rusak mungkin telah menciptakan
partikel mikroskopis yang meningkatkan luas permukaan antara tetesan minyak
dan air, memungkinkan untuk kontak yang lebih besar minyak dengan bakteri
pendegradasi.

Gambar 2.16 Letak bulu-bulu (Plume) yang merupakan senyawa hidrokarbon


2.6 Tantangan untuk Bioremediasi
a. Memulihkan logam berharga
Pemulihan logam berharga seperti tembaga, nikel, boron, dan emas adalah
bidang lain dari bioremediasi yang belum mencapai potensi penuh. Melalui reaksi
oksidasi, banyak mikroba dapat mengkonversi produk logam menjadi zat larut,
yang disebut oksida logam atau bijih, yang akan terakumulasi dalam sel bakteri
atau menempel pada permukaan sel bakteri. Beberapa bakteri laut yang hidup di
laut dalam lubang angin hidrotermal juga telah menunjukkan potensi untuk
mempercepat logam mulia. Menggunakan bakteri sebagai cara untuk memulihkan
logam berbahaya sebagai bagian dari proses industri manufaktur adalah salah satu
aplikasi yang potensial, tetapi para ilmuwan tertarik untuk menemukan cara-cara
di mana bakteri ini dapat digunakan untuk memulihkan logam mulia yang
berharga. Misalnya, proses manufaktur banyak menggunakan teknik penyepuhan
perak dan emas, proses ini menghasilkan cairan limbah dengan partikel perak dan
emas.

31

Mikroba dapat digunakan untuk memulihkan beberapa logam dari cairan


limbah. Demikian pula, mikroba juga dapat digunakan untuk memanen partikel
emas dari persediaan air bawah tanah dan air dalam gua yang ditemukan di
tambang emas. Banyak jenis bakteri yang hidup di lingkungan tersebut secara
aktif sedang dipelajari untuk tujuan ini. Tanaman juga dapat memberikan cara
untuk memanen logam dari lingkungan. Mustard liar Thlaspi goesingense, asli
Pegunungan Alpen Austria, dikenal untuk mengakumulasi logam dalam vakuola
penyimpanannya.
b. Bioremediasi Limbah Radioaktif
Bidang lain penelitian yang aktif melibatkan pendekatan bioremediasi
berkembang untuk menghilangkan bahan radioaktif dari lingkungan. Uranium,
plutonium, dan komponen radioaktif lainnya ditemukan di air dari tambang di
mana uranium alami diproses. Limbah radioaktif dari pembangkit listrik nuklir
juga menyajikan masalah pembuangan di seluruh dunia. Departemen Energi AS
(DOE) telah mengidentifikasi lebih dari 100 lokasi di 30 negara yang telah
terkontaminasi oleh produksi senjata dan pengembangan reaktor nuklir. Situs
limbah radioaktif sering memiliki campuran kompleks unsur-unsur radioaktif
seperti plutonium. cesium, dan uranium serta campuran logam berat dan polutan
organik seperti toluena.
Meskipun sebagian besar bahan radioaktif membunuh mayoritas mikroba,
beberapa strain bakteri telah menunjukkan potensi untuk mendegradasi bahan
kimia radioaktif. Sebagai contoh, para peneliti di University of Massachusetts
telah menemukan bahwa beberapa spesies Geobacter dapat mengurangi uranium
larut dalam air tanah menjadi uranium larut, efektif melumpuhkan radioaktivitas.
Sampai saat ini, bagaimanapun, tidak ada bakteri yang telah ditemukan yang
benar-benar dapat memetabolisme unsur-unsur radioaktif menjadi produk
berbahaya. Satu strain bakteri pada khususnya, yang disebut Deinococcus
radiodurans (Gambar 2.17), terutama menarik. Namanya secara harfiah berarti
berry aneh dalam radiasi.
Dinamakan bakteri terberat di dunia oleh Guinness Book of World
Records, D. radiodurans pertama diidentifikasi dan diisolasi sekitar 50 tahun yang
lalu dari daging sapi yang rusak, meskipun telah disterilkan dengan radiasi.

32

Selanjutnya, ilmuwan menemukan bahwa D. radiodurans dapat bertahan dosis


radiasi lebih dari 3.000 kali lebih tinggi dibandingkan organisme lain, termasuk
manusia. Radiasi dosis tinggi membuat untaian gandanya istirahat dalam struktur
DNA dan menyebabkan mutasi, namun D. radiodurans menunjukkan ketahanan
yang luar biasa terhadap efek radiasi. Meskipun, mekanisme resistensi tidak
sepenuhnya diketahui, mikroba ini jelas memiliki sistem yang rumit untuk
melipatnya genom untuk meminimalkan kerusakan dari radiasi, dan juga
menggunakan mekanisme perbaikan DNA baru untuk menggantikan salinan dari
genom yang rusak. Penemuan baru dari peta genom D. radiodurans diharapkan
dapat memberikan pemahaman yang berharga tentang gen yang unik untuk
perbaikan DNA

Gambar 2.17 Bakteri Deinococcus radiodurans ini sangat tahan terhadap


kerusakan oleh radiasi
DOE sangat tertarik menggunakan D. radiodurans dan bakteri lain,
Desulfovibrio desulfuricans, untuk bioremediasi situs radioaktif. Baru-baru ini
para peneliti di DOE dan University of Minnesota menciptakan strain mikroba
rekombinan ini dengan penggabungan urutan gen promotor D. radiodurans
dengan gen pengkode enzim toluene dioxygenase yang terlibat dalam
metabolisme toluena. Strain ini menunjukkan kemampuan untuk mendegradasi
toluena dalam lingkungan radiasi tinggi. Dalam upaya untuk melumpuhkan unsur
radioaktif, para ilmuwan berharap dapat menggunakan strategi yang sama untuk
melengkapi D. radiodurans dengan gen dari mikroba lain yang dikenal untuk
mengkodekan protein pengikat logam.
Akhirnya, adalah penting bahwa biodegradasi ilmuwan terus melihat ke
depan sehingga mereka dapat dipersiapkan untuk memprediksi bagaimana bahan

33

kimia baru dapat mempengaruhi lingkungan dan dengan demikian dapat


mengembangkan teknologi untuk membersihkan polutan baru. Bioremediasi akan
bisa menyingkirkan semua polutan dari lingkungan, tetapi pendekatan
bioremediasi terencana adalah komponen penting dari upaya pembersihan.
2.7 Penerapan Bioremediasi di Negara Indonesia dan Negara Barat
1. Bioremediasi dengan Bakteri Indigen
Mikroorganisme yang dapat bertahan pada tanah tercemar menunjukkan
kemampuan metabolisme yang dapat memanfaatkan sumber pencemar tersebut
sebagai sumber karbon. Isolasi konsorsium bakteri indigenous pada tanah
tercemar hidrokarbon minyak bumi dilakukan untuk meningkatkan kemampuan
bakteri dalam mendegradasi senyawa hirokarbon minyak bumi total (TPH).
Langkah-langkah isolasi bakteri indigen (Pseudomonas sp.) dari tanah yang
tercemar minyak sebagai berikut.
1. Pengambilan sampel bakteri dalam tanah yang terkontaminasi.
2. Penambahan sumber karbon, sumber karbon yang ditambahkan untuk
pertumbuhan mikroorganisme adalah hidrokarbon minyak bumi berupa
pelumas bekas yang di dalamnya terkandung TPH (Total Petroleum
Hydrocarbon). TPH ini merupakan parameter, konsorsium bakteri petrofilik
yang mampu menurunkan kadar TPH terbesar merupakan konsorsium bakteri
terpilih.
3. Ditumbuhkan pada media, misalnya pada Media Standard Basal Salts (SBS)
cair, SBS padat, dan NA. SBS cair merupakan media yang digunakan untuk
seleksi kultur bakteri, penambahan bacto agar bertujuan agar media SBS dapat
menjadi padat, serta NA digunakan untuk isolasi dan karakterisasi bakteri
dominan.
4. Isolasi Kultur pada Media SBS Cair. Pada tahap awal, isolasi kultur yang
terdapat di dalam sampel tanah dilakukan dengan mencampurkan sampel
tanah ke dalam erlenmeyer berisi media SBS cair yang telah disterilisasi, dan
ke dalam media ini ditambahkan minyak pelumas bekas sebagai sumber
karbon kedua. Kemudian erlenmeyer berisi media SBS cair, sampel tanah, dan
pelumas bekas diaduk dengan rotary shaker pada temperatur ruangan dengan

34

kecepatan 120 rpm. Pengadukan dilakukan hingga

kekeruhan (Optical

Density) larutan meningkat dan lapisan minyak hilang (6 hari).


5. Pada tahap selanjutnya, kultur yang terdapat pada tahap awal diinokulasi ke
dalam media.
6. Karakterisasi Bakteri Dominan, bersamaan dengan pengukuran OD dilakukan
proses karakterisasi bakteri dominan dengan mengiinokulasikan pada media
NA yang pada bagian atasnya ditambahkan minyak pelumas bekas. Bakteri
yang tumbuh diuji dengan uji pendahuluan (first stage) sehingga diperoleh
genus dari bakteri dominan tersebut.
2. Bioremediasi dengan Biokompos
Limbah minyak bumi dapat terjadi di semua lini aktivitas perminyakan
mulai dari eksplorasi sampai ke proses pengilangan dan berpotensi menghasilkan
limbah berupa lumpur minyak bumi (Oily Sludge). Salah satu kontaminan minyak
bumi yang sulit diurai adalah senyawa hidrokarbon. Ketika senyawa tersebut
mencemari permukaan tanah, maka zat tersebut dapat menguap, tersapu air hujan,
atau masuk ke dalam tanah kemudian terendap sebagai zat beracun. Akibatnya,
ekosistem dan siklus air juga ikut terganggu. Secara alamiah lingkungan memiliki
kemampuan untuk mendegradasi senyawa-senyawa pencemar yang masuk ke
dalamnya melalui proses biologis dan kimiawi. Namun, sering kali beban
pencemaran di lingkungan lebih besar dibandingkan dengan kecepatan proses
degradasi zat pencemar tersebut secara alami. Akibatnya, zat pencemar akan
terakumulasi sehingga dibutuhkan campur tangan manusia dengan teknologi yang
ada untuk mengatasi pencemaran tersebut.
Penanggulangan pencemaran minyak dapat dilakukan secara fisik, kimia
dan biologi. Penanggulangan secara fisik umumnya digunakan pada langkah awal
penanganan, terutama apabila minyak belum tersebar ke mana-mana. Namun cara
fisika memerlukan biaya yang sangat tinggi untuk pengangkutan dan pengadaan
energi guna membakar materi yang tercemar. Penanggulangan secara kimia dapat
dilakukan dengan bahan kimia yang mempunyai kemampuan mendispersi
minyak, sehingga minyak tersebut dapat terdispersi. Terutama ketika zat pencemar
tersebut dalam konsentrasi tinggi. Namun cara ini memiliki kelemahan, yaitu

35

mahal pengoprasiannya karena memakan biaya yang cukup besar dan metode
kimia memerlukan teknologi dan peralatan canggih untuk menarik kembali bahan
kimia dari lingkungan agar tidak menimbulkan dampak negatif yang lain.
Mengingat dampak pencemaran minyak bumi baik dalam konsentrasi
rendah maupun tinggi cukup serius, maka manusia terus berusaha mencari
teknologi yang paling mudah, murah dan tidak menimbulkan dampak lanjutan.
Salah satu alternatif penanggulangan lingkungan tercemar minyak adalah dengan
teknik bioremediasi, yaitu suatu teknologi yang ramah lingkungan, efektif dan
ekonomis dengan memanfaatkan aktivitas mikroba seperti bakteri. Melalui
teknnologi ini diharapkan dapat mereduksi minyak buangan yang ada dan
mendapatkan produk samping dari aktivitas tersebut. Bioremediasi merupakan
salah satu teknologi inovatif untuk mengolah kontaminan, yaitu dengan
memanfaatkan mikroba, tanaman, enzim tanaman atau enzim mikroba, salah satu
contohnya adalah bioremediasi limbah lumpur minyak bumi dengan biokompos
menggunakan teknik langsung dan teknik landfarming. Teknik landfarming adalah
teknik bioremediasi ex situ yang memanfaatkan tanah sebagai media dan
menanami tanaman, langkah singkat dari teknik landfarming sebagai berikut.
1. Kompos dicampur dengan inokulan (biokompos)
2. Kemudian biokompos dicampurkan dengan lumpur minyak bumi yang
sebelumnya sudah ditambahkna urea sesuai rasio C/N yang digunakan
3. Dilakukan pengadukan agar campuran menjadi rata
4. Kemudia tempatkan pada pot

5. Mengamati kemampuan biokompos dalam menurunkan kadar TPH (Total


Petroleum Hidrokarbon).

3. Bioremediasi Limbah Nuklir

36

Limbah binatu nuklir merupakan limbah yang berasal dari air limbah hasil
pencucian pakaian kerja pada instalasi nuklir. Selama ini limbah nuklir dilepas ke
lingkungan yang ternyata masih memiliki kadar COD (Chemical Oxigen
Demand) diatas baku mutu limbah cair yang dibuang ke lingkungan sehingga
perlu dilakukan upaya untuk menanggulanginya. Bioremediasi merupakan
aplikasi prinsip proses biologi pada pengolahan air limbah. Tetapi pada
perkembangan proses bioremediasi sudah mencakup pengolahan lumpur yang
terkontaminasi B-3, air tanah, tanah clan lain sebagainya. Proses biologi pada
dasarnya terbagi 2 (dua) kelompok, proses pertumbuhan tersuspensi dan proses
pertumbuhan melekat. Yang termasuk pertumbuhan tersuspensi adalah proses
lumpur aktif standar, step terasi, extended activation dan sebagainya. Sedangkan
yang termasuk pertumbuhan melekat adalah Trickling Filter atau Biofilter,
Rotating Biological Contactor (RBC) dan sebagainya.
Trickling filter merupakan salah satu proses pengolahan limbah secara
biologi dengan menggunakan media berupa satu kali, plastik (sarang tawon), kayu
dan sebagainya. Limbah cair akan mengalir melalui media tersebut, dalam
beberapa hari akan timbul lapisan lendir yang menyelimuti kerikil. Lapisan lendir
inilah yang mengandung mikro organisme yang akan mengolah/mendegradasi
limbah tersebut. Berikut akan dijelaskan secara singkat tentang teknik pengolahan
limbah nuklir menggunakan Bioreaktor yaitu Trickling Filter.
1. Mengalirkan air limbah nuklir ke dalam trickling filter.
2. Dalam beberapa hari dilihat sampai terbentuk lapisan lendir
3. Setelah terbentuk lapisan lendir, baru dilakukan proses pengolahan
sebenarnya.

37

Gambar 2.18 Trickling filter skala laboratorium

4. Bioremediasi Logam
Keberadaan logam berat di lingkungan dalam konsentrasi tinggi
merupakan pencemar dan problem lingkungan yang sangat penting sehingga dapat
menimbulkan permasalahan ekologi yang serius. Logam timbal, merkuri,
kromium, arsen, tembaga, dan lain-lain merupakan logam berat yang sangat
toksik.

Mendegradasi

dan

menghilangkan

logam

berat

tidak

semudah

mendegradasi limbah organik sebab logam berat bersifat nonbiodegradable tetapi


degradasi dan reduksi logam berat tetap dilakukan yaitu dengan cara fisik dan
kimia melalui pertukaran ion, presipitasi, koagulasi, inverse osmosis dan adsorpsi.
Semua metode di atas cukup efisien, tetapi akan sangat merugikan jika digunakan
untuk mengolah limbah industri, karena relatif mahal, membutuhkan energi dan
bahan kimia cukup besar.
Pendekatan secara bioteknologi dengan menggunakan bakteri merupakan
alternatif yang dapat dilakukan untuk masa yang akan datang. Bioremediasi
menggunakan bakteri lebih feasible sebab bakteri dapat melakukan mekanisme
degradasi dan transformasi logam berat, salah satu mekanisme tersebut adalah
biobsorbsi dan bioakumulasi yang tidak akan mempengaruhi daya hidup bakteri,
berikut ini langkah-langkahnya:
1. Isolasi bakteri dari sampel air.
2. Skrining bakteri resisten Hg, Pb, Cu, dan Cd menggunakan metode streak
plate dengan media NA.

38

3. Inkubasi dan penentuan isolat yang resisten terhadap logam.


5.

Phytoremediation for Purifying Urban Wastewaters in order to Decrease


Oxygen, Chemical, Biochemical and Microbial Pollution of Choliforms
Untuk melakukan tes, 2 bidang tanah (indikator dan treatment) dengan

dimensi 4x6m dari 3m dari kolam air (air limbah perkotaan) dipilih tanah Kota di
Kerman St. Setelah penggalian tanah itu digunakan pipa 6PVC dengan pori-pori
2mm untuk drainase dan kemudian pipa diarahkan air dengan menggunakan
stopkontak.

Gambar 2.19. Model sistem fitoremediasi


Sebelum menanam tanaman itu digunakan pupuk hewan dan kemudian itu
digunakan dari campuran pasir-tanah, tanah liat dan mineral. Perlu dicatat bahwa
itu digunakan dari kantong plastik dalam jarak antara baris dan antara pipa
drainase, kemudian di tanaman darat fitoremediasi ditanam di 9 baris dengan jarak
25cm dalam mode bibit, namun tidak ada tanaman yang ditanam di lahan
indikator. Tanaman diirigasi dengan air kolam kotor 2 kali sehari yaitu 7:00 dan
6:00 dan dikuras mingguan (gambar 2.20 menunjukkan sistem percontohan).

39

Tersebut di atas 3 tanaman diuji secara kelompok dalam 2 plot (indikator


dan treatment), maka untuk membandingkan kinerja mereka, ini 3 tanaman
ditanam di 3 pot yang berbeda dan untuk mengkonfirmasikan jawaban tes, itu
digunakan dari 3 ulangan dalam 3 tanah yang berbeda sebagai indikator dan
sampel pengobatan. Tingkat Choliforms, BOD dan COD ditentukan pada air
kolam renang untuk menentukan efisiensi eliminasi mereka. Tes laboratorium
untuk menentukan Choliforms sudah termasuk:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Mempersiapkan lingkungan kultur 2 minggu (lactose broth)


Sterilisasi semua peralatan dan lingkungan kultur
Kultur semua sampel dengan EMB lingkungan
Menggunakan inkubator
Menentukan jenis bakteri yang berbeda
Menghitung koloni untuk menentukan COD di kromat kalium dengan
kehadiran sulphoric asam sebagai oksidator. Digunakan merkuri sulfida
untuk menetralkan efek klorida dan sulfida. Setelah menyelesaikan reaksi
jumlah tetap dari di kromat kalium dan fero aluminium sulfida dengan

6.

adanya feroine sebagai indikator diukur.


Phytoremedition: green technology for the clean up of toxic metals in the
environment

Tanaman transgenik versus hyperacumulator alami


Tanaman yang ideal digunakan sebagai fitoremediator adalah tanaman
yang mempunyai sifat dapat menyerap logam dan mempunyai kemampuan
mendegradasi. Tanaman hyperakumulator biasanya berasal dari keluarga tanaman
berpembuluh. Tanaman hyperakumulator relatif tumbuh lambat, biomassanya
sedikit dan hanya digunakan pada habitat alaminya. Tanaman transgenik
mempunyai kelebihan dapat menyerap logam, mengakumulasi, dan toleran

40

terhadap racun. Seperti akumulasi metal dan toleransi dapat ditambahkan dengan
expresi alami atau modifikasi gen yang mengkode enzim antioksidan.

Gambar 2.20. Aplikasi green technology untuk membersihkan racun, logam dan
radionucleotida pada lingkungan.

Gambar 2.21 Penggunaan genetik engineering untuk mengawinkan tanaman


dengan potensi fitoremediasi superior.
7.

Produk baru dari tanaman

41

Tanaman Arabidopsis thaliahas, menjadi pilihan populer untuk produksi


spesies rekombinan. Salah satu seperti rekombinan adalah tanaman minyak,
komposisi asam lemak dalam benih yang telah dimodifikasi. Sekarang
memproduksi trigliserida yang mengandung kadar asam trierucinic cocok untuk
digunakan dalam industri polimer (bahan baku plastik biodegradable).

BAB III

42

PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
1. Bioremidiasi adalah penggunaan organisme hidup seperti bakteri, fungi,
dan tanaman untuk memecah/mendegradasi senyawa kimia di lingkungan,
dan apa arti penting bioremidiasi adalah untuk membantu manusia agar
menjaga lingkungan tetap sehat.
2. Reaksi metabolism bakteri, jenis lingkungan dan karakter bahan kimia
adalah dasar untuk menentukan bagaimana strategi bioremediasi.
3. Strategi bioremediasi dilakukan berbeda-beda sesuai dengan daerah yang
akan diremediasi, contohnya pada tanah dapat dilakukan bioventing,
composting, landfarming; pada air digunakan wastewater treatment.
4. Beberapa aplikasi rekayasa genetika pada bioremediasi adalah bakteri
pemakan petroleum, E coli untuk logam berat, biosensor, dan tanaman
modifikasi untuk fitoremediasi.
5. Studi kasus bioremidiasi yang telah dipelajari adalah tumpahan oli pada
Exxon Valdez yang berdampak pada ekosistem lingkungan; kebocoran
minyak di Kuwait.
6. Pemurnian logam dan bioremediasi sampah radioaktif adalah tantangan
bioremediasi yang akan datang.
7. Banyak sekali penerapan bioremediasi yang telah dilakukan diantaranya
adalah bioremediasi bakteri indigen, fitoremediasi untuk wastewater
treatment, bioremediasi dengan biokompos, bioremediasi limbah nuklir,
bioremediasi limbah logam, dsb.