Anda di halaman 1dari 24

RESUME

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

DISUSUN OLEH :
NAMA
NIM
DOSEN

: SURAYA ATIKA
:
06141281419062
:
EMIL ELFAISAL

PENDIDIKAN ANAK USIA DINI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
2014
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL...........................................................................................................
1

DAFTAR ISI........................................................................................................................
2
BAB 1

Pendidikan Kewarganegaraan Sebagai Mutu Politik........................................


3

BAB 2

Identitas Nasional.............................................................................................
5

BAB 3

Negara dan Konstitusi.......................................................................................


7

BAB 4

Hubungan Negara dan Warga Negara...............................................................


10

BAB 5

Demokrasi Negara............................................................................................
13

BAB 6

Negara Hukum dan Hak Asasi Manusia...........................................................


15

BAB 7

Wawasan Nusantara sebagai Geopolitik Indonesia..........................................


17

BAB 8

Ketahanan Nasional Indonesia.........................................................................


20

BAB 9

Integrasi Nasional.............................................................................................
22

DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................................
25

Pendidikan Kewarganegaraan

BAB 1
PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
SEBAGAI MUTU POLITIK
Menurut Malik Fajar (2004: 6-8) bahwa PKn sebagai wahana untuk
mengembangkan kemampuan, watak dan karakter warganegara yang demokratis
dan bertanggungjawab, PKn memiliki peranan yang amat penting. Mengingat
banyak permasalahan mengenai pelaksanaan PKn sampai saat ini, maka arah baru
PKn perlu segera dikembangkan dan dituangkan dalam bentuk standar nasional,
standar materi serta model-model pembelajaran yang efektif dalam mencapai
tujuannya. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan sebagai arah baru yaitu:
1. PKn merupakan bidang kajian kewarganegaraan yang ditopang berbagai
disiplin ilmu yang relevan, yaitu: ilmu politik, hukum, sosiologi,
antropologi, psikologi, dan disiplin ilmu lainnya, yang digunakan sebagai
landasan untuk melakukan kajian-kajian terhadap proses pengembangan
konsep, nilai, dan perilaku demokrasi warganegara.
2. PKn mengembangkan daya nalar (state of mind) bagi para peserta didik.
Pembangunan karakter bangsa merupakan proses pengembangan warga
negara yang cerdas dan berdaya nalar tinggi. PKn memusatkan
perhatiannya

pada pengembangan

kecerdasan

(civic

intelligence),

tanggungjawab (civic responsibility), dan partisipasi (civic participation)


warga negara sebagai landasan pengembangan nilai dan perilaku
demokrasi.

Pendidikan Kewarganegaraan

3. PKn sebagai suatu proses pencerdasan, maka pendekatan pembelajaran


yang digunakan adalah yang lebih inspiratif dan pertisipatif dengan
menekankan pada pelatihan penggunaan logika dan penalaran. Untuk
memfasilitasi pembelajaran PKn yang efektif dikembangkan bahan belajar
interaktif yang dikemas dalam berbagai bentuk paket seperti bahan belajar
tercetak, terekam, tersiar, elektronik, dan bahan belajar yang digali dari
lingkungan masyarakat sebagai pengalaman langsung.
4.

Kelas PKn sebagai laboratorium demokrasi. Melalui PKn, pemahaman,


sikap, dan perilaku demokratis dikembangkan bukan semata-mata melalui
mengajar demokrasi (teaching democraty),
Visi Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan:
Adapun visi pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan adalah menghindari
sistim pemerintahan otoriter yang memasung hak-hak warga negara untuk
menjalankan prinsip-prinsip demokrasi dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara. (Depdiknas, 2006)
Misi Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan:
Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan adalah merupakan mata
pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warganegara yang mampu
melaksanakan hak-hak dan kewajiban untuk menjadi warganegara indonesia
yang cerdas, terampil berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan
Undang-Undang

Dasar

1945

(Depdiknas,

2006)

Landasan yuridis pendidikan Indonesia dapat juga diartikan sebagai


seperangkat konsep peraturan perundang-undangan yang menjadi titik tolak
system pendidikan Indonesia, yang meliputi :
1. UUD 1945 sebagai Landasan Yuridis Pendidikan Indonesia.
2. Pancasila sebagai Landasan Idiil Sistem Pendidikan Indonesia.
3. Ketetapan MPR sebagai Landasan Yuridis Pendidikan Nasional

Pendidikan Kewarganegaraan

4. Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah sebagai Landasan Yuridis


Pendidikan Nasional
5. Keputusan Presiden sebagai Landasan Yuridis Pelaksanaan Pendidikan
Nasional
6. Keputusan Menteri sebagai Landasan Yuridis Pelaksanaan Pendidikan
Nasional
7. Instruksi Menteri sebagai Landasan yuridis Pelaksanaan Pendidikan
Nasional
BAB 2

IDENTITAS NASIONAL
Identitas adalah sifat khas yang menerangkan dan sesuai dengan kesadaran
diri pribadi sendiri, golongan sendiri, kelompok sendiri, komonitas sendiri, atau
Negara sendiri. Mengacu kepada pengertian ini, identitas tidak terbatas pada
individu semata tetapi berlaku pula pada suatu kelompok. Sedangkan kata
nasional merupakan identitas yang melekat pada kelompok-kelompok yang lebih
besar yang diikat oleh kesamaan-kesamaan, baik pisik seperti budaya, agama dan
bahasa maupun non fisik seperti keinginan, cita-cita, dan tujuan.
Identitas nasional adalah suatu ciri yang dimiliki suatu bangsa, secara
fisiologi yang membedakan bangsa tersebut dengan bangsa yang lainnya.
Berdasarkan pengertian tersebut maka setiap bangsa di dunia ini akan memiliki
identitas sendiri-sendiri sesuai dengan keunikan, sifat, ciri-ciri serta karakter dari
bangsa tersebut. Demikian pula dengan hal ini sangat ditentukan oleh proses
bagaimana bangsa tersebut terbentuk secara historis.
Unsur-unsur pembentuk identitas yaitu:
1.

Suku bangsa: adalah golongan sosial yang khusus yang bersifat askriptif
(ada sejak lahir), yang sama coraknya dengan golongan umur dan jenis

Pendidikan Kewarganegaraan

kelamin. Di Indonesia terdapat banyak sekali suku bangsa atau kelompok


etnis dengan tidak kurang 300 dialeg bangsa.
2.

Agama: bangsa Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang agamis.


Agama-agama yan tumbuh dan berkembang di nusantara adalah agama Islam,
Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Kong Hu Cu. Agama Kong H Cu pada
masa orde baru tidak diakui sebagai agama resmi negara.

3.

Kebudayaan: adalah pengetahuan manusia sebagai makhluk social yang


isinya adalah perangkat-perangkat atau model-model pengetahuan yang
secara kolektif digunakan oleh pendukung-pendukungnya untuk menafsirkan
dan memahami lingkungan yang dihadapi dan digunakan sebagi rujukan dan
pedoman untuk bertindak (dalam bentuk kelakuan dan benda-benda
kebudayaan) sesuai dengan lingkungan yang dihadapi.

4.

Bahasa: sebagai system perlambang yang secara arbiter dibentuk atas


unsure ucapan manusia dan yang digunakan sebgai sarana berinteraksi antar
manusia.
Dari unsur-unsur Identitas Nasional tersebut dapat dirumuskan pembagiannya

menjadi 3 bagian sebagai berikut : Identitas Fundamental, yaitu pancasila


merupakan falsafah bangsa, Dasar Negara, dan Ideologi Negara Identitas
Instrumental yang berisi UUD 1945 dan tata perundangannya, Bahasa Indonesia,
Lambang Negara, Bendera Negara, Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Identitas
Alamiah, yang meliputi Negara kepulauan (Archipelago) dan pluralisme dalam
suku, bahasa, budaya, dan agama, sertakepercayaan.
Identitas Nasional Indonesia :
1.

Bahasa Nasional atau Bahasa Persatuan yaitu Bahasa Indonesia

2.

Bendera negara yaitu Sang Merah Putih

3.

Lagu Kebangsaan yaitu Indonesia Raya

Pendidikan Kewarganegaraan

4.

Lambang Negara yaitu Pancasila

5.

Semboyan Negara yaitu Bhinneka Tunggal Ika

6.

Dasar Falsafah negara yaitu Pancasila

7.

Konstitusi (Hukum Dasar) negara yaitu UUD 1945

8.

Bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat

9.

Konsepsi Wawasan Nusantara

10.

Kebudayaan daerah yang telah diterima sebagai Kebudayaan Nasional

Contoh dari Implementasi Identitas nasional yaitu

Kewajiban diadakanya upacara bendera setiap hari senin pada seluruh instansi
sekolah maupun non sekolah. Dalam upacara bendera, terdapat banyak sekali
unsur identitas negara. Seperti pengibaran sang saka merah putih, menyanyikan
lagu Indonesia Raya, menyanyikan lagu nasional lain, pembacaan UUD 1945,

pembacaan Pancasila, dan pada penutup di akhiri dengan doa (agama).


Merealisasikan dasar negara indonesia yaitu pancasila, atau menjadikan
pancasila sebagai pandangan hidup.

BAB 3
NEGARA DAN KONSTITUSI
a. Pengertian Negara dan Konstitusi
Negara merupakan suatu organisasi di antara sekelompok atau beberapa
kelompok manusia yang secara bersama-sama mendiami suatu wilayah tertentu
dengan mengakui adanya suatu pemerintahan yang mengurus tata tertib dan
keselamatan sekelompok atau beberapa kelompok manusia yang ada di
wilayahnya. Negara adalah suatu organisasi kekuasaan yang terdiri atas unsur
rakyat (penduduk), wilayah, pemerintah dan kedaulatan. Pemerintahlah yang
menyelenggarakan dan melaksanakan tugas-tugas demi terwujudnya tujuan
negara.

Pendidikan Kewarganegaraan

Konstitusi berasal dari istilah bahasa Prancis constituer yang artinya


membentuk. Konstitusi bisa berarti pula peraturan dasar (awal) mengenai
pembentukan Negara.
Undang-undang dasar ialah hukum dasar yang tertulis , sedang disamping
Undang-Undang Dasar tersebut berlaku juga hukum dasar yang tidak tertulis,
yaitu

aturan-aturan

dasar

yang

timbul

dan

terpelihara

dalam

praktik

penyelenggaraan Negara, meskipun tidak tertulis. Hukum dasar tidak tertulis


disebut Konvensi
b. Kedudukan Konstitusi
Konstitusi menempati kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan
ketatanegaraan suatu Negara karena konstitusi menjadi barometer kehidupan
bernegara dan berbangsa yang sarat dengan bukti sejarah perjuangan para
pendahulu.
Adapun fungsi konstitusi :
1. Fungsi penentu atau pembatas kekuasaan Negara
2. Fungsi pengatur hubungan kekuasaan antar lembaga Negara.
3. Fungsi pengatur hubungan kekuasaan antara lembaga dengan warga
Negara.
4. Fungsi pemberi atau sumber legitimasi terhadap kekuasaan ataupun
kegiatan penyelnggaraan kekuasaan Negara.
5. Fungsi penyalur atau pengalih kewenangan dari sumber kekuasaan yang
asli (dalam demokrasi adalah rakyat) kepada organ Negara.
6. Fungsi simbolik yaitu sebagai sarana pemersatu (symbol of unity), sebagai
rujukan identitas dan keagungan kebangsaan (identitu of nation) serta
sebagai center of ceremony.
7. Fungsi sebagai sarana pengendalian masyarakat (social control), baik
dalam arti sempit yaitu bidang politik dan dalam arti luas mencakup
bidang social ekonomi.

Pendidikan Kewarganegaraan

8. Fungsi sebagai sarana perekayasaan dan pembaruan masyarakat.


c. UUD 1945 Sebagai Konstitusi Negara Republik Indonesia
Konstitusi Negara Indonesia adalah Undang-Undang Dasar 1945 yang untuk
pertama kali disahkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI)
1. Konstitusi yang Pernah Berlaku di Indonesia
Dalam sejarahnya, sejak proklamasi 17 Agustus 1945 hingga sekarang di
Indonesia telah berlaku tiga macam undang-undang dasar dalam empat
periode, yaitu sebagai berikut :
Periode 18 Agustus 1945 27 Desember 1949 berlaku UUD 1945.
Periode 27 Desember 1949 - 17 Agustus 1950 berlaku UUD RIS.

UUD RIS terdiri atas 6 bab, 197 pasal dan beberapa bagian.
Periode 17 Agustus 1950 5 Juli 1959 berlaku UUDS 1950 yang
terdiri atas 6 bab, 146 pasal dan beberapa bagian.
Periode 5 Juli 1959 sekarang kembali berlaku UUD 1945.
UUD 1945 yang belum diamandemen
UUD 1945 yang sudah diamandemen

2. Sistem Ketatanegaraan Indonesia


Sistem ketatanegaraan Indonesia menurut UUD 1945 adalah sebagai
berikut :
Bentuk Negara adalah kesatuan
Negara kesatuan adalah Negara yang bersusunan tunggal. Negara
kesatuan

dengan

asas

desentralisasi

menyerahkan

sebagian

kekuasaannya kepada daerah-daerah yang ada di wilayah Negara


tersebut.
Bentuk pemerintahan adalah republik
Secara teoritis , ada dua klasifikasi bentuk pemerintahan di era
modern, yaitu republik dan monarki atau kerajaan. Bentuk Negara
Indonesia pernah mengalami perubahan , yaitu dari Negara kesatuan
menjadi Negara serikat. Adapun untuk bentuk pemerintahan,
Indonesia belum pernah berubah menjadi Negara kerajaan atau
monarki.
Sistem pemerintahan adalah presidensiil

Pendidikan Kewarganegaraan

Sistem pemerintahan disebut presidensiil apabila badan eksekutif


berada di luar pengawasan langsung badan legislatif. Dalam sisitem
pemerintahan presidensiil , badan eksekutif dan legislative memiliki
kedudukan yang independen. Kedua badan tersebut tidak berhubungan
secara langsung seperti dalam system pemerintahan parlementer.
Mereka dipilih oleh rakyat secara terpisah.
Sistem politik adalah demokrasi atau kedaulatan rakyat.
Sistem politik yang dianut Negara Indonesia adalah system politik
demokrasi. Adapun system politik disebut demokrasi apabila
kewenangan pemerintah terhadap kehidupan warga Negara amat
terbatas. Pemerintah Negara tidak turut campur atas semua aspek
kehidupan warganya. Warga Negara dapat mengatur sendiri
kehidupannya.

BAB 4
HUBUNGAN NEGARA DAN WARGA NEGARA
Hubungan negara dengan warga negara sangat erat kaitannya dengan hak dan
kewajiban Negara serta warga Negara.
Hak negara Kewajiban negara
1. Melindungi segenap bangsa, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia (Pembukaan UUD
1945, alinea IV)
2. Perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia
adalah tanggung jawab negara, terutama pemerintah (Pasal 28I, ayat 4).
3. menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya
masing-masing dan untuk beribadat menurut agamnya dan kepercayaannya
itu (Pasal 29, ayat 2)
4. Untuk pertahanan dan keamanan negara dilaksanakan melalui sistem
pertahanan dan keamanan rakyat semesta oleh Tentara Nasional Indonesia
dan Kepolisian Negara Republik Indonesia, sebagai kekuatan utama, dan
rakyat, sebagai kekuatan pendukung (Pasal 30, ayat 2)

10

Pendidikan Kewarganegaraan

5. Tentara Nasional Indonesia terdiri atas Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan
Angkatan Udara sebagai alat negara bertugas mempertahankan, melindungi,
dan memelihara keutuhan dan kedaulatan negara (Pasal 30, ayat 3).
6. Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai alat negara yang menjaga
keamanan dan ketertiban masyarakat bertugas melindungi, mengayomi,
melayani masyarakat, serta menegakkan hukum (Pasal 30, ayat 4).
7. membiayai pendidikan dasar (Pasal 31, ayat 2)
8. mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang
meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa (Pasal 31, ayat 3)
9. memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen
dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan
dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan
nasional (Pasal 31, ayat 4).
10. memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilainilai agama dan

persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta

kesejahteraan umat manusia (Pasal 31, ayat 5)


11. memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia
dengan

menjamin

kebebasan

masyarakat

dalam

memelihara

dan

mengembangkan nilai-nilai budayanya (Pasal 32, ayat 1).


12. menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya
nasional (Pasal 32, ayat 2).
13. mempergunakan bumi dan air dan kekayaan alam untuk sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat (Pasal 33, ayat 3).
14. memelihara fakir miskin dan anak-anak yang terlantar (Pasal 34, ayat 1)
15. mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan
memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan
martabat kemanusiaan (Pasal 34, ayat 2)
16. bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan
fasilitas pelayanan umum yang layak (Pasal 34, ayat 3)
Hak warga negara
1. Pekerjaan dan penghidupan yang layak (Pasal 27 ayat 2)
2. Berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan
(Pasal 28)

11

Pendidikan Kewarganegaraan

3. Membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang


sah (Pasal 28B ayat 1)
4. hak anak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas
perlindungan dari kekerasan dan diskriminsasi (Pasal 28 B ayat 2)
5. mengembangkan diri melelui pemenuhan kebutuhan dasarnya, mendapat
pendidikan dan memperoleh manfaat dari IPTEK, seni dan budaya (Pasal
28C ayat 1)
6. memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk
membangun masyarkat, bangsa dan negaranya (Pasal 28C ayat 2)
7. pengakuan, jaminan, pelindungan dan kepastian hukum yang adil serta
perlakuan yang sama dihadapan hukum (Pasal 28D ayat 1)
8. bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam
hubungan kerja (Pasal 28D ayat 2)
9. memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan (Pasal 28D ayat 3)
10. status kewarganegaraan (Pasal 28D ayat 3)
11. memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan
pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat
tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali (Pasal
28E ayat 1)
12. kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap sesuai
dengan hati nuraninya (Pasal 28E ayat 2)
Kewajiban warga negara
1. menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya (Pasal
27 ayat 1)
2. menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara (Pasal 28J, ayat 1).
3. tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan
maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas
hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai
dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban
umum dalam suatu masyarakat demokratis (Pasal 28J, ayat 2)
4. ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara (Pasal 30, ayat 1).
5. Untuk pertahanan dan keamanan negara melaksanakan sistem pertahanan dan
keamanan rakyat semesta (Pasal 30, ayat 2).
6. mengikuti pendidikan dasar (Pasal 31, ayat 2)

12

Pendidikan Kewarganegaraan

BAB 5
DEMOKRASI NEGARA
a. Pengertian Demokrasi
Demokrasi berasal dari kata Yunani demos dan kratos. Demos artinya rakyat.
kata kratos berarti pemerintahan. Jadi, demokrasi berarti pemerintahan
rakyat,yaitu pemerintahan yang rakyatnya memegang peranan yang sangat
menenentukan. Demokrasi adalah bentuk pemerintahan yang berasal dari
rakyat, dilakukan oleh rakyat, dan dipergunakan untuk kepentingan rakyat.
1. Manfaat Demokrasi
a. Kesetaraan sebagai warga Negara.
b. Memenuhi kebutuhan-kebutuhan umum.
c. Pluralisme dan kompromi.
d. Menjamin hak-hak dasar.
e. Pembaruan kehidupan social.
2. Ciri-ciri sistem demokrasi
Dimaksudkan untuk membedakan penyelenggaraan pemerintahan Negara
yang demokratis, yaitu:
a. Memungkinkan adanya pergantian pemerintahan secara berkala;
b. Anggota masyarakat memiliki kesempatan yang sama
c. Adanya pengakuan dan anggota masyarakat terhadap kehadiran tokohtokoh yang sah
d. Dilakukan pemilihan lain untuk memilih pejabat-pejabat pemerintah
e. adanya hak menyatakan pendapat (lisan, tertulis, pertemuan, media
elektronik dan media cetak, dsb);
f. Pengakuan terhadap anggota masyarakat yang tidak ikut serta dalam
pemilihan umum.

3. Pelaksanaan Demokrasi di Indonesia

13

Pendidikan Kewarganegaraan

Dalam perjalanan sejarah bangsa, ada empat macam demokrasi di bidang


politik yang pernah diterapkan dalam kehidupan ketatanegaraan Indonesia,
yaitu:
a. Demokrasi Parlementer (liberal)
Pada masa berlakunya demokrasi parlementer (1945-1959), kehidupan
politik dan pemerintahan tidak stabil, sehingga program dari suatu
pemerintahan

tidak

dapat

dijalankan

dengan

baik

dan

berkesinambungan. Timbulnya perbedaan pendapat yang sangat


mendasar diantara partai politik yang ada pada saat itu.
b. Demokrasi Terpimpin
Berdasarkan pokok pikiran demokrasi terpimpin tidak bertentangan
dengan Pancasila dan UUD 1945 serta budaya bangsa Indoesia. Namun
dalam

praktiknya,

konsep-konsep

tersebut

tidak

direalisasikan

sebagaimana mestinya, sehingga seringkali menyimpang dan nilai-riilai


Pancasila, UUD 1945, dan budaya bangsa. Penyebabnya adalah selain
terletak pada presiden, juga karena kelemahan legislative sebagai patner
dan pengontrol eksekutiI serta situasi social poltik yang tidak menentu
saat itu.
c. Demokrasi Pancasila Pada Era Orde Baru
Demokrasi Pancasila mengandung arti bahwa dalam menggunakan hakhak demokrasi haruslah disertai rasa tanggung jawab kepada Tuhan
Yang Maha Esa menurut agama dan kepercayaan masing-masing,
menjunjung tinggi nilal-nilal kemanusiaan sesuai dengan martabat dan
harkat manusia, haruslah menjamin persatuan dan kesatuan bangsa,
mengutamakan musyawarah dalam menyelesaian masalah bangsa, dan
harus dimanfaatkan untuk mewujudkan keadilan social. Demokrasi
Pancasila berpangkal dari kekeluargaan dan gotong royong. Semangat
kekeluargaan itu sendiri sudah lama dianut dan berkembang dalam
masyarakat Indonesia, khususnya di masyarakat pedesaan.

BAB 6
NEGARA HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA

14

Pendidikan Kewarganegaraan

1. Pengertian Negara Hukum dan Hak Asasi Manusia


Negara Hukum adalah negara yang penyelenggaraan kekuasaan
pemerintahannya didasarkan atas hukum. Di dalamnya pemerintah dan
lembaga-lembaga lain dalam melaksanakan tindakan apa pun harus dilandasi
oleh hukum dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Dalam negara
hukum, kekuasaan menjalankan pemerintahan berdasarkan kedaulatan hukum
(supremasi hukum) dan bertujuan untuk menyelenggarakan ketertiban
hukum.
Hak asasi manusia merupakan hak dasar yang melekat dan dimiliki setiap
manusia sebagi anugerah tuhan yang maha esa.kesadaran akan hak asasi
manusia didasaarkan pada pengakuan bahwa semua manusia sebagai
makhluk tuhan memilki drajat dan martabat yang sama,maka setiap manusia
memiliki hak dasar yang disebut hak asai manusia.jadi kesadaran akan adanya
hak asai manusia tumbuh dari pengakuan manusia sendiri bahwa mereka
adalah sama dan sederajat.
Unsur-unsur Negara Hukum
a. Hak asasi manusia dihargai sesuai dengan harkat dan martabatnya
sebagai manusia
b. Adanya pemisahan atau pembagian kekuasaan untuk menjamin hakhak itu
c. Pemerintahan dijalankan berdasarkan peraturan perundang-undangan
d. Adanya peradilan administrasi dalam perselisihan antara rakyat
dengan pemerintahannya
Ciri-ciri Negara Hukum
a. Kekuasaan dijalankan sesuai dengan hukum positif yang berlaku
b. Kegiatan negara berada dibawah kontrol kekuasaan kehakiman yang
efektif
c. Berdasarkan sebuah undang-undang yang menjamin HAM
d. Menuntut pembagian kekuasaan
2. Dasar Hukum Hak Asasi Manusia di Indonesia
Negara Hukum haruslah memiliki ciri atau syarat mutlak bahwa negara itu
melindungi dan menjamin Hak Asasi Manusia setiap warganya. keterkaitan

15

Pendidikan Kewarganegaraan

antara Negara hukum dan Hak Asasi Manusia, dimana Negara Hukum wajib
menjamin dan melindungi Hak Asasi Manusia setiap warganya.
Berbagai instrumen hak asasi manusia yang dimiliki Negara Republik
Indonesia,yakni:
1. Undang Undang Dasar 1945
2. Ketetapan MPR Nomor XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia
Ketetapan MPR RI yang diharapkan memuat secara adanya HAM itu
dapat diwujudkan dalam masa Orde Reformasi, yaitu selama Sidang
Istimewa MPR yang berlangsung dari tanggal 10 sampai dengan 13
November 1988. Dalam rapat paripurna ke-4 tanggal 13 November 1988,
telah diputuskan lahirnya Ketetapan MPR RI No. XVII/MPR/1988 tentang
Hak Asasi Manusia.
3. Undang Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.
Adapun hak-hak yang ada dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 199
tersebut antara lain sebagai berikut :
a. Hak untuk hidup (Pasal 4)
b. Hak untuk berkeluarga (Pasal 10)
c. Hak untuk mengembangkan diri (Pasal 11, 12, 13, 14, 15, 16)
d. Hak untuk memperoleh keadilan (Pasal 17, 18, 19)
e. Hak atas kebebasan pribadi (Pasal 20-27)
f. Hak atas rasa aman (Pasal 28-35)
g. Hak atas kesejahteraan (Pasal 36-42)
h. Hak turut serta dalam pemerintahan (Pasal 43-44)
i. Hak wanita (Pasal 45-51)
j. Hak anak (Pasal 52-66)

BAB 7
WAWASAN NUSANTARA SEBAGAI
GEOPOLITIK INDONESIA
1. Pengertian Wawasan Nusantara dan Geopolitik Indonesia
Wawasan Nusantara yang merupakan wawasan nasional yang bersumber
pada Pancasila dan berdasarkan Undang-undang Dasar 1945, yaitu cara
pandang dan sikap bangsa Indonesia mengenai diri dan lingkungannya
dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa serta kesatuan wilayah
dalam

menyelenggarakan

kehidupan

bermasyarakat,

berbangsa,

dan

bernegara untuk menccapai tujuan nasional.

16

Pendidikan Kewarganegaraan

Geopolitik berasal dari dua kata yaitu geo dan politik. Maka
membicarakan pengertian geopolitik tidak terlepas dari pembahasan
mengenai masalah geografi dan politik. geopolitik dapat diartikan sebagai
sistem politik atau peraturan-peraturan dalam wujud kebijaksanaan nasional
yang didorong oleh aspirasi nasional geografik (kepentingan yang titik
beratnya terletak pada pertimbangan geografi, wilayah atau territorial dalam
arti luas) suatu negara, yang apabila dilaksanakan dan berhasil akan
berdampak langsung kepada system politik suatu negara.
2. Wawasan Geopolitik
a. Wawasan Benua
b. Wawasan Bahari
c. Wawasan Dirgantara
d. Wawasan Kombinasi
3. Wawasan Nusantara Sebagai Geopolitik Indonesia
a. Wawasan Nasional RI
Hakikat dari wawasan nusantara adalah kesatuan bangsa dan keutuhan
wilayah Indonesia. Cara pandang bangsa Indonesia tersebut mencakup :
1. Perwujudan kepulauan Nusantara sebagai Satu Kesatuan Politik
2. Perwujudan kepulauan Nusantara sebagai Satu Kesatuan Ekonomi
3. Perwujudan kepulauan Nusantara sebagai Satu Kesatuan Sosial
Budaya
4. Perwujudan kepulauan Nusantara sebagai Satu Kesatuan Pertahanan
Keamanan
4. Implementasi Wawasan Nusantara
a. Implementasi wawasan nusantara

pada

kehidupan

politik

akan

mencipatkan iklim penyelenggaraan Negara yang sehat dan dinamis. Hal


tersebut nampak dalam wujud pemerintahan yang kuat aspiratif, dan
terpercaya yang dibangun sebagai penjelmaan kedaulatan rakyat.
b. Implementasi wawasan nusantara dalam kehidupan ekonomi dan
menciptakan tatanan ekonomi yang benar-benar menjamin pemenuhan dan
peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat secara merata dan adil.

17

Pendidikan Kewarganegaraan

c. Implementasi wawasan nusantara dalam kehidupan sosial budaya akan


menciptakan sikap gatiniah dan sikap jahiriah yang mengakui menerima
dan menghormati segala perbedaan atau kebhinekaan sebagai penyataan
hidup sekaligus sebagai karunia sang pencipta implementasi ini juga akan
menciptakan kehidupan masyarakat dan bangsa yang rukun dan bersatu
tanpa membeda-bedakan suku, asal usul daerah, agama dan kepercayaan
serta golongan berdasarkan status sosialnya.
d. Implementasi wawasan nusantara dalam kehidupan bankan akan
menumbuhkan kesadaran cinta tanah air dan bangsa yang lebih lanjut akan
membentuk sikap beda Negara pada setiap warga Negara Indonesia.
5. Batas Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia
a. Wilayah Daratan
Wilayah daratan adalah daerah dipermukaan bumi dalam batas-batas
tertentu dan di dalam tanah di permukaan bumi.
b. Wilayah Perairan
Wilayah perairan Indonesia meliputi laut territorial, perairan kepulauan,
dan peraran pendalaman.
c. Wilayah Udara
Wilayah udara adalah wilayah yang berada di atas wilayah daratan dan
lautan (perairan) negara itu. Seberapa jauh kedaulatan negara terhadap
wilayah udara di atasnya, terdapat beberapa aliran, yaitu :
1) Teori Udara Bebas
2) Teori Negara Berdaulat di Udara
5.

Unsur Dasar Wawasan Nusantara


Konsepsi Wawasan Nusantara mengandung tiga unsur dasar, yaitu :
a. Wadah (Contour
b. Isi (Content)
c. Tata Laku (Conduct)

6.

Tujuan dan Mamfaat Wawasan Nusantara


a. Tujuan Wawasan Nusantara
Tujuan ke dalam, yaitu menjamin perwujudan persatuan kesatuan
segenap aspek kehidupan nasional, yaitu politik, ekonomi, social
budaya, pertahanan keamanan.

18

Pendidikan Kewarganegaraan

Tujuan ke luar, yaitu terjaminnya kepentingan nasional dalam dunia


yang serba berubah, dan ikut serta dalam melaksanakan ketertiban
dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan
social

serta

mengembangkan

suatu

kerja

sama

dan

saling

menghormati.
b. Mamfaat Wawasan Nusantara
Diterima dan diakuinya konsepsi Nusantara di forum internasional.
Pertambahan luas wilayah teritorial Indonesia.
Pertambahan luas wilayah sebagai ruang hidup memberikan potensi
sumber daya yang besar bagi peningkatan kesejahteraan rakyat.

BAB 8
KETAHANAN NASIONAL INDONESIA
a. Pengertian Ketahanan Nasional
Ketahanan Nasional (Tannas) Indonesia adalah kondisi dinamis bangsa
Indnonesia yang meliputi segenap aspek kehidupan nasional yang
terintegrasi. Ketahanan nasional berisi keuletan dan ketangguhan yang
mengandung kemampuan untuk mengembangkan kekuatan nasional dalam
menghadapi dan mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan, dan
gangguan baik yang datang dari luar maupun dari dalam dan untuk menjamin
identitas, integritas, kelangsungan hidup bangsa dan Negara, serta perjuangan
mencapai tujuan nasional.
a. Kedudukan
ketahanan nasional berkedudukan sebagai landasan konseptual, yang
didasari oleh Pancasil sebagai landasan ideal dan UUD sebagai landasan
konstisional dalam paradigma pembangunan nasional.
b. Fungsi
Ketahanan nasional nasional dalam fungsinya sebagai doktrin dasar
nasional perlu dipahami untuk menjamin tetap terjadinya pola pikir, pola
sikap, pola tindak dan pola kerja dalam menyatukan langkah bangsa yang
bersifat inter - regional (wilayah), inter - sektoral maupun multi disiplin.

19

Pendidikan Kewarganegaraan

Konsep doktriner ini perlu supaya tidak ada cara berfikir yang terkotakkotak (sektoral).
c. Tujuan ketahanan nasional
Ketangguhan
Keuletan
Identitas
Integritas
Ancaman
Hambatan dan gangguan
b. Asas-Asas Ketahanan Nasional
Asas ketahanan Nasional Indonesia adalah tata laku berdasarkan nilai-nilai
Pancasila, UUD 1945, dan Wawasan Nusantara yang terdiri dari:
1. Asas Kesejahteraan dan Keamanan
Kesejahteraan dan keamanan dapat dibedakan tetapi tidak dapat
dipisahkan dan merupakan kebutuhan manusia yang mendasar. Dengan
demikian, kesejahteraan dan keamanan merupakan asas dalam system
kehidupan nasional. Tanpa kesejahteraan dan keamanan, system
kehidupan nasional tidak akan dapat berlangsung.
2. Asas Komprehensif Integral atau Menyeluruh Terpadu
System kehidupan nasional mencakup segenap aspek kehidupan bansa
dalam bentuk perwujudan persatuan dan perpaduan yang seimbang,
serasi, dan selaras pada seluruh aspek kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara. Ketahanan Nasional mencakup ketahanan
segenap aspek kehidupan bangsa secara utuh, menyeluruh, dan terpadu.
3. Asas Mawas ke Dalam dan Mawas Keluar
System kehidupan nasional merupakan perpaduan segenap aspek
kehidupan bangsa yang saling berinteraksi. Di samping itu, system
kehidupan nasional juga berinteraksi dengan lingkungan sekelilingnya.
Dalam proses interaksi tersebut dapat timbul berbagai dampak, baik yang
bersifat positif maupun negative.
4. Asas Kekeluargaan
Asas kekeluargaan mengandung keadilan, kearifan, kebersamaan,
kesamaan, gotong royong, tenggang rasa, dan tanggung jawab dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Asas ini mengakui
adanya perbedaan. Perbedaan tersebut harus dikembangkan secara serasi

20

Pendidikan Kewarganegaraan

dalam hubungan kemitraan agar tidak berkembang menjadi konflik yang


bersifat saling menghancurkan.

BAB 9
INTEGRASI NASIONAL
a. Pengertian Integrasi Nasional
Integrasi nasional adalah usaha dan proses mempersatukan perbedaan
perbedaan yang ada pada suatu negara sehingga terciptanya keserasian dan
keselarasan secara nasional.
b. Faktor-faktor pendorong integrasi nasional sebagai berikut:
1. Faktor sejarah yang menimbulkan rasa senasib dan seperjuangan.
2. Keinginan untuk bersatu di kalangan bangsa Indonesia sebagaimana
dinyatakan dalam Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928.
3. Rasa cinta tanah air di kalangan bangsa Indonesia, sebagaimana
dibuktikan perjuangan merebut, menegakkan, dan mengisi kemerdekaan.
4. Rasa rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan Negara, sebagaimana
dibuktikan oleh banyak pahlawan bangsa yang gugur di medan
perjuangan.
5. Kesepakatan atau konsensus nasional dalam perwujudan Proklamasi
Kemerdekaan, Pancasila dan UUD 1945, bendera Merah Putih, lagu
kebangsaan Indonesia Raya, bahasa kesatuan bahasa Indonesia.
c. Faktor-faktor penghambat integrasi nasional sebagai berikut:
1. Masyarakat Indonesia yang heterogen (beraneka ragam) dalam faktorfaktor kesukubangsaan dengan masing-masing kebudayaan daerahnya,
bahasa daerah, agama yang dianut, ras dan sebagainya.
2. Wilayah negara yang begitu luas, terdiri atas ribuan kepulauan yang
dikelilingi oleh lautan luas.
3. Besarnya kemungkinan ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan
yang merongrong keutuhan, kesatuan dan persatuan bangsa, baik yang
berasal dari dalam maupun luar negeri.

21

Pendidikan Kewarganegaraan

4. Masih besarnya ketimpangan dan ketidakmerataan pembangunan dan


hasil-hasil pembangunan menimbulkan berbagai rasa tidak puas dan
keputusasaan di masalah SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan), gerakan separatisme dan kedaerahan, demonstrasi dan unjuk
rasa.
5. Adanya paham etnosentrisme di antara beberapa suku bangsa yang
menonjolkan kelebihan-kelebihan budayanya dan menganggap rendah
budaya suku bangsa lain.
d. Upaya Meningkatkan Nasionalisme dan Integrasi Nasional
Meningkatkan integrasi nasional secara vertical (pemerintah dengan
masyarakat). Cara-cara yang dapat ditempuh adalah:

Menerapkan rezim terbaikk bagi Indonesia Ramlan Surbakti (1999: 32), yaitu
rezim yang sebagaiman terdapat dalam UUD 1945 dan Pancasila. Dimana dalam
UUD 1945 dinyatakan 4 tujuan negara yaitu: melindungi seluruh golongan
masyarakat dan seluruh tumpah darah Indonesia, mencerdaskan kehidupan
bangsa, meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan ikut serta menciptakan ketertiban
dunia berdasarkan kemerdekaan, keadilan dan perdamaian abadi, dan Pancasila

sebagai sumber filsafat negara


Menciptakan kondisi dan membiasakan diri untuk selalu membangun konsensus.
Kompromi dan kesepakatan adalah jiwa musyawarah dan sesungguhnya juga
demokrasi. Iklim dan budaya yang demikian itu, bagi Indonesia yang amat
majemuk, sangat diperlukan. Tentunya, penghormatan dan pengakuan kepada
mayoritas dibutuhkan, tetapi sebaliknya perlindungan terhadap minoritas tidak
boleh diabaikan.
Merumuskan kebijakan dan regulasi yang konkret, tegas dan tepat dalam segala
aspek kehidupan dan pembangunan bangsa, yang mencerminkan keadilan semua
pihak, semua wilayah. Kebijakan otonomi daerah, desentralisasi, keseimbangan
pusat daerah, hubungan simetris mayoritas-minoritas, perlindungan kaum
minoritas, permberdayaan putra daerah, dan lain-lain pengaturan yang sejenis

amat diperlukan.
Upaya bersama dan pembinaan integrasi nasional memerlukan kepemimpinan
yang arif dan efektif. Setiap pemimpin di negeri ini, baik formal maupun

22

Pendidikan Kewarganegaraan

informal, harus memilikim kepekaan dan kepedulian tinggi serta upaya sungguhsungguh untuk terus membina dan memantapkan integrasi nasional. Kesalahan
yang lazim terjadi, kita sering berbicara tentang kondisi objektif dari kurang
kukuhnya integrasi nasional di negeri ini, serta setelah itu bermimpi tentang
kondisi yang kita tuju (end state), tetapi kita kurang tertarik untuk membicarakan
prose dan kerja keras yang harus kita lakukan. Kepemimpinan yang efektif di
semua ini akhirnya merupakan faktor penentu yang bisa menciptakan iklim dan
langkah bersama untuk mengukuhkan integrasi nasional.
Meningkatkan Intergrasi wilayah Ramlan Surbakti (1999:53), dengan membentuk
kewenangan nasional pusat terhadap wilayah atau daerah politik yang lebih kecil.
Indonesia membentuk konsep wilayah yang jelas dalam arti wilayah yang
meliputi darat, laut, udara, dan isinya degan ukuran tertentu. Maupun dengan
aparat pemerintah dan sarana kekuasaan untuk menjaga danmempertahankan
kedaulatan wilayah dari penetrasi luar. Nmun, kenyataannya masih banyak
wilayah Indonesia yang kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah, sehingga
seringkali diaku oleh Negara lain.
Membangun dan menghidupkan terus komitmen, kesadaran, dan kehendak untuk
bersatu.
Membangun kelembagaan (pranata) di masyarakat yang berakarkan pada nilai dan
norma yang menyuburkan persatuan dan kesatuan bangsa tidak memandang
perbedaan suku, agama, ras, keturunan, etnis dan perbedaan-perbedaan lainnya
yang sebenarnya tidak perlu diperdebatkan.
Meningkatkan integrasi nilai di antara masyarakat. Integrasi nilai Ramlan Surbakti
(1999: 54), adalah persetujuan bersama mengenai tujuan-tujuan dalam prinsip
dasar politik, dan prosedur-prosedur lainnya.

DAFTAR PUSTAKA
Bastari, Romzie A., dkk. 2010. Pendidikan Kewarganegaraan. Universitas
Sriwijaya.

23

Pendidikan Kewarganegaraan

Guna Darma. 2010. Latar Belakang Pendidikan Kewarganegaraan. Diakses


http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/02/latar-belakang-pendidikankewarganegaraan-17/ diakses 10 November 2014
Ghozaliash,
Achmad.
2012.
Identitas
Nasional.
http://achmadghozaliash.blogspot.com/ diakses 11 November 2014

Diakses

Ilham.
2011.
Negara
dan
Konstitusi.
Diakses
http://tugaskuliahilham.blogspot.com/2011/03/negara-dan-konstitusi.html diakses 11 November
2014
Yuanita, Mandayuanita. 2012. Pendidikan Kewarganegaraan. Diakses
http://mandayuanita-fisip12.web.unair.ac.id/artikel_detail-76702-Pendidikan
%20Kewarganegaraan-Hubungan%20Negara%20dan%20Warga%20Negara.html
diakses 11 November 2014
Ayu,
Bidari.
2014.
Demokrasi
Pancasila.
Diakses
http://bidariayu92.blogspot.com/2014/01/makalah-demokrasi-pancasila.html
diakses 12 November 2014
Nurtina,
2013.
Demokrasi
Indonesia.
Diakses
http://thynaituthya.wordpress.com/2013/11/23/makalah-pkn-tentang-demokrasiindonesia/http://thynaituthya.wordpress.com/2013/11/23/makalah-pkn-tentangdemokrasi-indonesia/ diakses 15 November 2014

24

Pendidikan Kewarganegaraan